cover
Contact Name
Agung Suharyanto
Contact Email
suharyantoagung@gmail.com
Phone
+628126493527
Journal Mail Official
suharyantoagung@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan Universitas Negeri Medan, Jalan Willem Iskandar, Pasar V, Medan Estate, Sumatera UtaraUniversitas Negeri Medan, Jalan Willem Iskandar, Pasar V, Medan Estate, Sumatera Utara, 20221, Telp.(061) 6625973 Fax. (061) 6614002, Mobile: 08126493527 E-mail:anthropos@unimed.ac.id
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
ANTHROPOS: JURNAL ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA (JOURNAL OF SOCIAL AND CULTURAL ANTHROPOLOGY)
ISSN : 24604585     EISSN : 24604593     DOI : 10.24114
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya(Journal of Social and Cultural Anthropology) is a Journal of Social and Cultural Anthropology for information and communication resources for academics, and observers of Social and Cultural Anthropology, Educational Social and Cultural Anthropology/Sociology, Methodology of Social and Cultural Anthropology/Sociology. The published paper is the result of research, reflection, and actual critical study with respect to the themes of Social and Cultural Anthropology/Sociology. All papers are blind peer-review. The scope of Anthropos is the Science of Social and Cultural Anthropology/Sociology. Published twice a year (Juli and January) and first published for print and online edition in July 2015
Articles 206 Documents
Analisis Tingkat Kemiskinan di Sumatera Utara dan Hubungannya dengan Indeks Pembangunan Manusia Marahamah Marhamah; Dadang Sukandar; Bakhrul Khair Amal
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 9, No 1 (2023): Anthropos Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v9i1.52359

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara, dan kaitannya dengan Indeks Pembangunan Manusia. Penelitian menggunakan desain cross-sectional, memanfaatkan data sekunder dari BPS tahun 2022. Analisis tingkat kemiskinan digunakan data persentasi penduduk miskin, Indeks kedalaman dan Keparahan Kemiskinan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dihitung berdasarkan komponen IPM yang terdiri atas umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan dan standar hidup layak. Analisis bivariat dilakukan untuk mengamati hubungan persentase kemiskinan, tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentasi kemiskinan (P0), tingkat kedalaman (P1), tingkat Keparahan (P2) Kemiskinan berkorelasi negatif signifikan terhadap IPM di Provinsi Sumatera Utara; sedangkan rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, umur harapan hidup dan besar pengeluaran ril perkapita yang disesuaikan berkorelasi positif signifikan terhadap IPM. Terdapat hubungan negatif meskipun tidak signifikan antara kemiskinan (P0), tingkat kedalaman (P1) dan keparahan (P2) kemiskinan terhadap stunting, namun tidak ada hubungan dengan BBLR. Kemiskinan dan ketimpangan secara bersama-sama berkontribusi sebesar 77.4 % terhadap IPM di Provinsi Sumatera Utara.
Manuba: Praktik Pemanfaatan Alam Berkelanjutan pada Masyarakat Mandailing di Desa Hajoran Kabupaten Labuhan Batu Selatan Rambe, Rahmadani; Ritonga, Sakti
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.58379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik memanfaatkan alam secara berkelanjutan melalui ritual manuba pada masyarakat Mandailing di Desa Hajoran Kecamatan Sungai Kanan. Fokus studi memperlihatkan bagaimana praktik pendidikan memanfaatkan alam dan hubungannya dengan keberlanjutan ekologi melalui ritual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, dokumentasi, dan pengamatan berperan serta tentang isu yang diteliti selama penelitian berlangsung di lapangan. Informan dipilih dari kalangan tokoh adat, pemuka masyarakat dan agama, serta masyarakat Desa Hajoran pada konteks studi. Studi ini menemukan bahwa masyarakat Hajoran mengenal ritual manuba di mana praktik ini mengajarkan pesan bagaimana manusia mengelola dan memanfaatkan alam, khususnya sungai, secara terbatas dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekologi. Studi menunjukkan bahwa ritual manuba fungsional dan dipertahankan dalam kaitannya dengan praktik pengelolaan alam secara keberlanjutan. Praktik ritual ini menanamkan nilai-nilai pendidikan bahwa masyarakat mesti mampu memanfaatkan, mengelola serta melestarikan alam dengan baik tanpa harus merusak ekologi sungai. Alam mesti dimanfaatkan masyarakat untuk menaikkan kualitas kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang. This research aims to describe the practice of using nature sustainably through the manuba ritual in the Mandailing community in Hajoran Village, Sungai Kanan District. The focus of the study shows how educational practices utilize nature and its relationship with ecological sustainability through rituals. This research uses descriptive qualitative research methods. Data collection was carried out through in-depth interview techniques, documentation, and participant observation regarding the issues studied during the research in the field. Informants were selected from among traditional leaders, community and religious leaders, as well as the Hajoran Village community in the study context. This study found that the Hajoran people know the manuba ritual where this practice teaches the message of how humans manage and utilize nature, especially rivers, in a limited and sustainable manner while still paying attention to ecological sustainability. Studies show that manuba rituals are functional and maintained in relation to sustainable nature management practices. This ritual practice instills educational values that people must be able to utilize, manage and preserve nature well without having to damage the river ecology. Society must use nature to improve the quality of life now and in the future.
Peranan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Semarang dalam Mendukung Pengobatan Anak Penderita Kanker dan Keluarga Tresandya, Noven; Husain, Fadly
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.57547

Abstract

Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Semarang sebagai simbol kepedulian terhadap isu kesehatan hadir dalam rangka membantu keluarga pra sejahtera dengan anak pengidap kanker.Penelitian ini bertujuan untuk merinci peran Yayasan tersebut dalam mendukung keluarga anak-anak penderita kanker, menyoroti aspek-aspek budaya dan sosial. Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi dan wawancara yang mendalam terhadap para staff dan guru YKAKI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) memainkan peran krusial dalam mendukung keluarga prasejahtera yang memiliki anak penderita kanker. Analisis program dan layanan yang disediakan di “Rumah Kita” dan “Sekolah-Ku” mengungkap kontribusi signifikan Yayasan ini dalam aspek emosional dan sosial. Studi ini menyoroti pentingnya dukungan komunitas dan jaringan sosial dalam meningkatkan kesejahteraan pasien dan keluarga mereka. Temuan ini merekomendasikan agar YKAKI Semarang terus memperkuat perannya dalam menyediakan dukungan yang holistik dan komprehensif bagi keluarga prasejahtera dari seluruh Indonesia selama masa perawatan dan pengobatan di YKAKI Semarang. Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Semarang as a symbol of concern for health issues, it is present in order to help underprivileged families with children suffering from cancer. This research aims to detail the role of the Foundation in supporting families of children suffering from cancer, highlighting cultural and social aspects. This research design uses qualitative methods with in-depth observations and interviews with YKAKI staff and teachers. The research results show that the Indonesian Cancer Children's Love Foundation (YKAKI) plays a crucial role in supporting underprivileged families who have children with cancer. An analysis of the programs and services provided at “Rumah Kita” and “Sekolah-Ku” reveals the Foundation's significant contribution in emotional and social aspects. This study highlights the importance of community support and social networks in improving the well-being of patients and their families. These findings recommend that YKAKI Semarang continues to strengthen its role in providing holistic and comprehensive support for underprivileged families from all over Indonesia during the care and treatment period at YKAKI Semarang.
Analisis User Experience pada Produk EDC (Electronic Data Capture) BRI Merchant di Kota Jakarta Mahmuda, Aisyah; Hermawati, Rina
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 9, No 2 (2024): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v9i2.55743

Abstract

Mesin EDC (Electronic Data Capture) menjadi alat/perangkat tambahan yang sangat dibutuhkan dalam memfasilitasi transaksi pembayaran antara merchant dan customer. Ini sejalan dengan penggunaan kartu non-tunai (cashless) sebagai alat pembayaran yang semakin berkembang pesat. Bank BRI menjadi salah satu bank penyedia layanan mesin EDC tersebut, dengan sebutan EDC BRI Merchant. Terdapat fakta data di lapangan bahwa EDC BRI seringkali tidak digunakan ketika customer bertransaksi pada merchant tersebut. Maka dari itu, penelitian dalam bidang User Experience (UX) pada EDC BRI menjadi penting untuk mengetahui kebutuhan, preferensi, serta kendala yang dialami pengguna EDC BRI, baik bagi merchant maupun customer sehingga perancangan dan pengembangan EDC BRI dapat dilakukan dengan lebih baik untuk meningkatkan user experience dan memenuhi harapan pengguna. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil analisis user experience pada penggunaan EDC BRI menunjukkan bahwa terdapat dua faktor penyebab seringkali EDC BRI tidak digunakan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Namun, faktor yang lebih dominan disebabkan oleh keunggulan mesin EDC yang ditawarkan oleh bank kompetitor dan juga karena penggunaan mesin EDC di beberapa merchant didominasi oleh bank kompetitor.The EDC (Electronic Data Capture) machine is an additional tool/equipment that is really needed to facilitate payment transactions between merchants and customers. This is in line with the rapidly growing use of non-cash cards as a means of payment. BRI Bank is one of the banks providing EDC machine services, with the name EDC BRI Merchant. There are data facts in the field that BRI's EDC is often not used when customers make transactions at these merchants. Therefore, research in the field of User Experience (UX) on BRI EDC is important to find out the needs, preferences and obstacles experienced by BRI EDC users, both for merchants and customers. An anthropological perspective is used to analyze this phenomenon because anthropology views society as an entity bound by culture and social norms. An anthropological perspective can help explain how culture and social norms in a particular region or community influence the use of BRI EDC machines. Are there local preferences regarding cash payments or specific payment methods that influence EDC adoption? The research method used is a qualitative method with data collection techniques through observation, interviews and literature study. The results of user experience analysis on the use of BRI EDC show that there are two factors that cause BRI EDC to often not be used, namely internal factors and external factors. These two factors intersect with cultural values, symbols and cultural icons.
Manfaat Melukat Dalam Kebudayaan Bali Pada Perspektif Psikologi Sharmistha, Ni Nyoman Pritha; Yuwanto, Listyo
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.56025

Abstract

Melukat adalah bagian dari pelaksanaan upacara manusa yadnya, yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan individu secara fisik dan spiritual dengan menggunakan air. Tujuannya adalah untuk membersihkan segala hal negatif dan menghilangkan dampak buruk dari tindakan-tindakan masa lalu yang masih memengaruhi kita sekarang. Metode yang digunakan adalah studi literatur, yaitu metode penelitian yang mengutamakan penelusuran pustaka, seperti buku-buku, artikel berita dan jurnal dan pendekatan psikologi indigenous digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang budaya melukat dan karakteristiknya yang asli. Proses ritual melukat diyakini bisa menyembuhkan luka batin maupun trauma yang dialami oleh individu tersebut akibat masa lalu dengan menggunakan air. Melakukan melukat biasanya dalam setahun 2-3x atau setiap 6 bulan sekali, hal tersebut tergantung situasi setiap individu. Melukat dilakukan saat hari raya Bali, seperti di hari raya galungan, rahinan, kuningan, hari ulang tahun Bali, hari purnama atau tilem, siwaratri dan masih banyak lagi. Temuan data menunjukkan hanya ada beberapa dimensi psychological well-being yang menggambarkan individu setelah melukat. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat melukat apa yang dirasakan oleh setiap individu tergantung pada tujuan awal sebelum prosesi ritual melukat. Melukat is part of the manusa yadnya ceremony, which aims to cleanse and purify individuals physically and spiritually using water. The goal is to cleanse all negativity and eliminate the adverse effects of past actions that still affect us today. The method used is literature study, which is a research method that prioritizes literature search, such as books, news articles and journals and indigenous psychology approaches are used to answer questions about melukat culture and its original characteristics. The ritual process of melukat is believed to heal mental wounds and trauma experienced by the individual due to the past by using water. Doing hugging is usually in a year 2-3x or every 6 months, it depends on the situation of each individual. Melukat is done during Balinese holidays, such as galungan, rahinan, kuningan, Balinese birthday, full moon or tilem, siwaratri and many more. The data findings suggest there are only a few dimensions of psychological well-being that describe individuals after injury. This shows that the benefits of what each individual feels depends on the initial goal before the ritual procession.
Robhong Holo: Migrasi, Diferensiasi Kebudayaan dan Deteriorasi pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Kabupaten Jayapura Lekitoo, Brayon Virgil; Yuwono, Pujo Semedi Hargo
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.56945

Abstract

Kerusakan lingkungan merupakan fenomena global yang saat ini sedang dihadapi oleh seluruh umat manusia sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dan terbatasnya sumber daya alam yang tersedia. Salah satu faktor utama yang mendukung terjadinya kerusakan lingkungan adalah migrasi dan perbedaan budaya antara pendatang dan penduduk asli yang menempati wilayah tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnograf. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara antropologis hubungan antara populasi pendatang dari Pegunungan Tengah Papua yang memiliki konstruksi budaya yang berbeda dengan masyarakat Sentani di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura, yang menyebabkan perbedaan konsepsi pemanfaatan lahan. Para Migran memiliki model ekonomi tradisional perladangan berpindah dengan cara membabat dan membakar daerah potensial yang adalah hutan, berdampak signifikan terhadap perubahan lanskap dan deteriorasi lingkungan yang terjadi di daerah pegunungan Cycloop. Dampak dari pemanfaatan lahan yang berlebihan di kawasan cagar alam ini menyebabkan perubahan bentang alam dan kerusakan lingkungan, yang manifestasinya terlihat pada bencana banjir bandang di tahun 2019. Environmental degradation is a global phenomenon that is currently being faced by all mankind as a result of uncontrolled population growth and limited natural resources available. One of the main factors supporting environmental deterioration is migration and cultural differentiation of migrants and indigenous people who occupy the area. This research is qualitative research with an ethnographic approach This article aims to describe anthropologically the relationship between population migration from the Central Mountains of Papua who have different cultural constructions and the Sentani people in the Sentani area, Jayapura Regency, which causes differences in conceptions of land use. Migrants have a traditional economic model of shifting cultivation by clearing and burning potential forest areas, which has a significant impact on landscape changes and environmental deterioration that occurs in the Cycloop mountain area.  The impact of excessive land use in this nature reserve area has caused landscape changes and environmental deterioration, the manifestation of which was seen in the flash flood disaster in 2019.
Keseimbangan Peran Purusha dan Pradana: Kajian Teoritis Kesetaraan Gender di Bali Wardani, Kadek Putri Lestari; Yunanto, Taufik Akbar Rizqi
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.55904

Abstract

Perkembangan budaya Bali dilandasi oleh nilai-nilai agama Hindu, yang seharusnya menciptakan keselarasan antara tradisi dan ajaran keagamaan. Kenyataan budaya patriarki di Bali, terutama dalam hal sistem waris dan struktur kekerabatan, menunjukkan ketidaksetaraan gender yang masih berlangsung. Penelitian ini menggunakan metode literature review untuk menggali perbedaan antara ajaran agama Hindu yang menekankan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan dengan realitas budaya patriarki di Bali. Analisis difokuskan pada aspek hukum waris, peluang karir, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan akses pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun ada peningkatan kesetaraan dalam pendidikan, ketidaksetaraan gender masih terasa dalam aspek-aspek lainnya. Perempuan Bali mengalami keterbatasan dalam mengambil bagian dalam pengambilan keputusan, terutama dalam konteks adat istiadat. Pada sektor karir, upah perempuan masih jauh dari setara dengan laki-laki. Kesenjangan ini menciptakan ketidakcocokan antara ajaran agama Hindu yang menegaskan kesetaraan gender dan realitas budaya Bali yang masih dipengaruhi oleh pola pikir patriarki. Penelitian ini menekankan pentingnya perubahan norma-norma budaya Bali untuk sejalan dengan ajaran agama Hindu yang menganjurkan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. The development of Bali's culture is grounded in the values of Hinduism, which ideally should create harmony between tradition and religious teachings. The reality of patriarchal culture in Bali, particularly in terms of inheritance systems and kinship structures, indicates gender inequality that still persists. This research employs a literature review method to explore the disparities between Hindu teachings emphasizing gender equality and the patriarchal cultural reality in Bali. The analysis focuses on aspects of inheritance laws, career opportunities, participation in decision-making, and access to education. The research findings indicate that, despite improvements in educational equality, gender disparities are still evident in other aspects. Balinese women face limitations in participating in decision-making, particularly in customary contexts. In the career sector, women's wages still lag far behind those of men. This gap creates a mismatch between Hindu teachings that emphasize gender equality and the cultural reality in Bali that remains influenced by patriarchal attitudes. The study underscores the importance of changing Bali's cultural norms to align with Hindu teachings advocating for gender equality.
Contestation of Javanese Culture and Identity in Deli: An Analysis of Jawa Deli Wedding Ceremonies Using the Bergerian Approach Khairani, Leylia
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 9, No 2 (2024): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v9i2.52968

Abstract

This paper aims to demonstrate that Javanese culture is not uniform. According to several research findings, there are numerous cultural variances among Javanese people, who regard themselves as different from other Javanese. In the Deli Serdang Regency, the marriage ceremony analyzed in this study does not only see a rich parade of a Javanese Deli cultural tradition. On the other hand, the Javanese Deli's marriage ceremony procession in Deli Serdang depicts identity that is produced through a historical process tailored to their socio-cultural environment. In this study, the building of the Javanese Deli identity during the wedding ceremony is examined from a Bergerian perspective, in which the Javanese Deli identity is constantly transformed and shaped socially and culturally. When in Deli, the essence of Java Deli is significantly influenced by changing situations and conditions that continue to evolve. As a result of the externalization, objectification, and internalization processes, Java Deli's manufactured identity is situational.
Produksi Ruang pada Makam Kembang Kuning sebagai Tempat Lokalisasi Waria Surabaya Riswari, Aninditya Ardhana; Albhar, Yuanita; Triana, Dina Rizki; Adabbiyah, Nadiyatul; Lestari, Suci Dwi
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.50902

Abstract

Sebuah wilayah bernama Kembang Kuning di Surabaya mulanya dikenal sebagai daerah sakral karena di dalamnya terdapat Masjid dan Pondok Pesantren yang dibangun oleh Sunan Ampel. Di sisi lain, Kembang Kuning turut dikenal sebagai wilayah pemakaman bagi pemeluk agama Kristen dan Katolik. Namun, seiring berjalannya waktu terdapat anggapan “negatif” ketika menyebut nama Kembang Kuning, yang kini disebut sebagai salah satu tempat prostitusi bagi kalangan waria. Untuk itu, penelitian ini disusun dengan tujuan menganalisis produksi ruang pada makam Kembang Kuning sebagai tempat lokalisasi waria Surabaya. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif yang dibarengi dengan penggunaan teori ruang atau space yang disampaikan oleh Lefebvre. Peneliti turut melakukan wawancara dengan waria dan masyarakat sekitar Kembang Kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Kembang Kuning sebagai sebuah wilayah telah menghasilkan “ruang” baru yang berbeda. Artinya, terjadi pergeseran makna akibat proses produksi-reproduksi, di mana sebelumnya Kembang Kuning dianggap sebagai wilayah sakral, tetapi kini dikenal sebagai daerah kumuh dan tempat prostitusi. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa representasi ruang atas Kembang Kuning telah berbeda dari masa ke masa. Tentu hal ini dilandasi oleh realita kemasyarakatan dan gejala sosial yang timbul, yang turut membentuk wilayah tersebut sebagai sebuah ruang yang tidak hampa hingga mewujudkan pemaknaan baru yang tidak sama. An area called Kembang Kuning in Surabaya was originally known as a sacred area because it contained a mosque and Islamic boarding school built by Sunan Ampel. Kembang Kuning is also known as a burial area for Christians and Catholics. However, as time went by, there was a "negative" perception of the area, which is now said to be a place of prostitution for transgender people. This research was prepared with the aim of analyzing the production of space at the Kembang Kuning tomb as a place for the localization of transgender women in Surabaya. The research method used is qualitative combined with the use of space theory presented by Lefebvre. Researchers also conducted interviews with shemale and the community around Kembang Kuning. The research results show that the presence of Kembang Kuning as an area has produced a new "space" related to the shift in meaning due to the production-reproduction process, where previously Kembang Kuning, which was known as a sacred area, is now referred to as a slum area and place of prostitution. Therefore, it can be concluded that the spatial representation of Kembang Kuning has been different from time to time. Of course, this is based on social realities and emerging social phenomena, which help shape the region as a space that is not empty and creates new, different meaningKeywords: kembang kuning, funerals, prostitution, shemale.
Tetap Muda Tanpa Menjadi Orang Tua: Melihat Childfree dalam Wacana Awet Muda di Media Sosial Kananda, Khairani Fitri
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 10, No 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.58052

Abstract

Era modern telah menyumbang semakin banyak tekanan karena perhitungan materialistis dan psikologis. Hal ini dilakukan guna mendapatkan kualitas hidup yang layak dan sejahtera, bahkan di usia tua sekalipun. Modernitas merekonstruksi usia sebagai fenomena kultural, bukan biologis. Orang-orang berlomba untuk tetap berada di usia muda, dan salah satu yang dilakukan adalah menghindari kepemilikan anak yang dianggap punya resiko dan potensi besar kedepannya. Anak dalam hal ini disubjektifikasi dalam nilai tertentu, sehingga orang-orang menghindarinya untuk menjaga kesejahteraan dan tetap dalam diri yang “awet muda”. Penelitian ini akan melihat bagaimana wacana awet muda melebur dalam pilihan seseorang yang tidak memiliki anak (childfree) dengan melakukan observasi digital di media sosial Instagram. Dari pengamatan ini, ditemukan bahwa wacana awet muda membawa pemahaman baru dalam melihat orang tua dan nilai anak meski dalam prakteknya gerakan ini masih mengalami banyak pertentangan. Meski demikian, ruang digital telah meleburkan citra-citra semu tentang awet muda dalam gerakan childfree dan melihatnya sebagai realitas nyata dari dirinya. The modern era has contributed to a lot of pressure due to materialistic and psychological consideration. This is aimed at obtaining a decent and prosperous quality of life, even in old age. Modernity reconstructs age as a cultural rather that biological phenomenon. People compete to stay young, and one way to achieve this is to avoid having children who are assumed having a great risks and potentials in the future. Children in this case are subjectified in a certain value, so people avoid them to maintain well-being and stay in a “ageless” self. This research will look at how the discourse of agelessness melts into the choice of someone who does not having children (childfree) by conducting digital observation on social media Instagram. From this observation, its found that the ageless discourse brings a new understanding in seeing parents and value of the children even though in practice this movement still experiences a lot of opposition. However, the digital space has dissolved the false images of youth in the childfree movement and seen it as the real reality of self.