cover
Contact Name
Agung Suharyanto
Contact Email
suharyantoagung@gmail.com
Phone
+628126493527
Journal Mail Official
suharyantoagung@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan Universitas Negeri Medan, Jalan Willem Iskandar, Pasar V, Medan Estate, Sumatera UtaraUniversitas Negeri Medan, Jalan Willem Iskandar, Pasar V, Medan Estate, Sumatera Utara, 20221, Telp.(061) 6625973 Fax. (061) 6614002, Mobile: 08126493527 E-mail:anthropos@unimed.ac.id
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
ANTHROPOS: JURNAL ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA (JOURNAL OF SOCIAL AND CULTURAL ANTHROPOLOGY)
ISSN : 24604585     EISSN : 24604593     DOI : 10.24114
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya(Journal of Social and Cultural Anthropology) is a Journal of Social and Cultural Anthropology for information and communication resources for academics, and observers of Social and Cultural Anthropology, Educational Social and Cultural Anthropology/Sociology, Methodology of Social and Cultural Anthropology/Sociology. The published paper is the result of research, reflection, and actual critical study with respect to the themes of Social and Cultural Anthropology/Sociology. All papers are blind peer-review. The scope of Anthropos is the Science of Social and Cultural Anthropology/Sociology. Published twice a year (Juli and January) and first published for print and online edition in July 2015
Articles 206 Documents
Peranan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Semarang dalam Mendukung Pengobatan Anak Penderita Kanker dan Keluarga Tresandya, Noven; Husain, Fadly
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.57547

Abstract

Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Semarang sebagai simbol kepedulian terhadap isu kesehatan hadir dalam rangka membantu keluarga pra sejahtera dengan anak pengidap kanker.Penelitian ini bertujuan untuk merinci peran Yayasan tersebut dalam mendukung keluarga anak-anak penderita kanker, menyoroti aspek-aspek budaya dan sosial. Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi dan wawancara yang mendalam terhadap para staff dan guru YKAKI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) memainkan peran krusial dalam mendukung keluarga prasejahtera yang memiliki anak penderita kanker. Analisis program dan layanan yang disediakan di œRumah Kita dan œSekolah-Ku mengungkap kontribusi signifikan Yayasan ini dalam aspek emosional dan sosial. Studi ini menyoroti pentingnya dukungan komunitas dan jaringan sosial dalam meningkatkan kesejahteraan pasien dan keluarga mereka. Temuan ini merekomendasikan agar YKAKI Semarang terus memperkuat perannya dalam menyediakan dukungan yang holistik dan komprehensif bagi keluarga prasejahtera dari seluruh Indonesia selama masa perawatan dan pengobatan di YKAKI Semarang. Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Semarang as a symbol of concern for health issues, it is present in order to help underprivileged families with children suffering from cancer. This research aims to detail the role of the Foundation in supporting families of children suffering from cancer, highlighting cultural and social aspects. This research design uses qualitative methods with in-depth observations and interviews with YKAKI staff and teachers. The research results show that the Indonesian Cancer Children's Love Foundation (YKAKI) plays a crucial role in supporting underprivileged families who have children with cancer. An analysis of the programs and services provided at œRumah Kita and œSekolah-Ku reveals the Foundation's significant contribution in emotional and social aspects. This study highlights the importance of community support and social networks in improving the well-being of patients and their families. These findings recommend that YKAKI Semarang continues to strengthen its role in providing holistic and comprehensive support for underprivileged families from all over Indonesia during the care and treatment period at YKAKI Semarang.
Tetap Muda Tanpa Menjadi Orang Tua: Melihat Childfree dalam Wacana Awet Muda di Media Sosial Kananda, Khairani Fitri
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.58052

Abstract

Era modern telah menyumbang semakin banyak tekanan karena perhitungan materialistis dan psikologis. Hal ini dilakukan guna mendapatkan kualitas hidup yang layak dan sejahtera, bahkan di usia tua sekalipun. Modernitas merekonstruksi usia sebagai fenomena kultural, bukan biologis. Orang-orang berlomba untuk tetap berada di usia muda, dan salah satu yang dilakukan adalah menghindari kepemilikan anak yang dianggap punya resiko dan potensi besar kedepannya. Anak dalam hal ini disubjektifikasi dalam nilai tertentu, sehingga orang-orang menghindarinya untuk menjaga kesejahteraan dan tetap dalam diri yang œawet muda. Penelitian ini akan melihat bagaimana wacana awet muda melebur dalam pilihan seseorang yang tidak memiliki anak (childfree) dengan melakukan observasi digital di media sosial Instagram. Dari pengamatan ini, ditemukan bahwa wacana awet muda membawa pemahaman baru dalam melihat orang tua dan nilai anak meski dalam prakteknya gerakan ini masih mengalami banyak pertentangan. Meski demikian, ruang digital telah meleburkan citra-citra semu tentang awet muda dalam gerakan childfree dan melihatnya sebagai realitas nyata dari dirinya. The modern era has contributed to a lot of pressure due to materialistic and psychological consideration. This is aimed at obtaining a decent and prosperous quality of life, even in old age. Modernity reconstructs age as a cultural rather that biological phenomenon. People compete to stay young, and one way to achieve this is to avoid having children who are assumed having a great risks and potentials in the future. Children in this case are subjectified in a certain value, so people avoid them to maintain well-being and stay in a œageless self. This research will look at how the discourse of agelessness melts into the choice of someone who does not having children (childfree) by conducting digital observation on social media Instagram. From this observation, its found that the ageless discourse brings a new understanding in seeing parents and value of the children even though in practice this movement still experiences a lot of opposition. However, the digital space has dissolved the false images of youth in the childfree movement and seen it as the real reality of self.
Jaringan Sosial Kelompok Perempuan Muara Tanjung dalam Konservasi Hutan Mangrove Baiduri, Ratih; Harahap, Nur Ainun
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 9 No. 2 (2024): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v9i2.58314

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis: (1) jaringan sosial yang terbentuk didalam kelompok perempuan Muara Tanjung dalam konservasi hutan mangrove; (2) struktur jaringan yang ada baik itu didalam maupun diluar kelompok. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan etnografi. Informan dalam penelitain ini ialah ketua kelompok perempuan Muara Tanjung, penggurus dan anggota kelompok yang aktif, anggota kelompok jaringan sosial luar yang bekerjasama dengan kelompok perempuan Muara Tanjung. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ialah teknik analisis wawancara etnografis, analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap bahwasannya dalam sebuah kelompok diperlukannya jaringan sosial yang mengikat didalamnya baik itu secara internal maupun ekternal. Bagi kelompok perempuan Muara Tanjung sendiri jaringan sosial merupakan satu hal yang penting di miliki oleh sebuah kelompok. Melalui jaringan sosial ini terbentuk sebuah kerjasama yang tentunya mampu meningkatkan kinerja anggota kelompok Muara Tanjung sendiri. Kelompok perempuan Muara Tanjung merupakan kelompok yang memiliki struktur keanggotaan yang unik. Struktur keanggotaan yang ada didalam kelompok perempuan Muara Tanjung hanya terdiri dari anggota keluarga saja. Fenomena ini merupkan fenomena yang jarang terlihat dalam sebuah organisasi. Fenomena ini jugalah yang menjadikan kelompok perempuan Muara Tanjung memiliki kelebihan sekaligus kekurangan dalam organisasi kelompoknya. Adapun kelebihannya yaitu kelompok perempuan Muara Tanjung ini memiliki ikatan kekerabatan yang kuat sehingga anggota kelompok memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan organisasi. Adapun kekurangannya adalah kelompok ini sulit menerima keanggotaan di luar lingkar keluarga. This article aims to explain the social network that is formed within the Muara Tanjung women™s group as well as the network structure that exists both inside and outside the group. This reaserch is included in qualitative research using an ethnographic approach method.  The informant in this research was the Muara Tanjung Womens™s Group where the group leader, Mrs. Jumiati, was the key informant. Apart from that, other additional informants were external network groups that collaborated with the Muara Tanjung Women™s Group. This research also use data collection techniques through participant observation, in-depth interviews, documentation and field notes. The data collection techniques used in the research are ethnographic interview analysis techniques, domain analysis and taxonomic analysis techniques. The result obtained from this research show at in a group a social network is needed that binds it both internally and externally. For the Muara Tanjung women™s group, social network are an important thing for a group to have. Thourgh social networks, a collaboration will be formed which will certainly be able to improve the quality of the members of the Muara Tanjung itself. Apart rom that, the Muara Tanjung women™s group is also a group that has a uniqe membership structure. The membership structure in the Muara Tanjung Womens™s group only consists of family members. This phenomenon is a phenomenon that is rarely seen in organization. This is what makes the Muara Tanjung Women™s group different from other women™s groups.
Manuba: Praktik Pemanfaatan Alam Berkelanjutan pada Masyarakat Mandailing di Desa Hajoran Kabupaten Labuhan Batu Selatan Rambe, Rahmadani; Ritonga, Sakti
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.58379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik memanfaatkan alam secara berkelanjutan melalui ritual manuba pada masyarakat Mandailing di Desa Hajoran Kecamatan Sungai Kanan. Fokus studi memperlihatkan bagaimana praktik pendidikan memanfaatkan alam dan hubungannya dengan keberlanjutan ekologi melalui ritual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, dokumentasi, dan pengamatan berperan serta tentang isu yang diteliti selama penelitian berlangsung di lapangan. Informan dipilih dari kalangan tokoh adat, pemuka masyarakat dan agama, serta masyarakat Desa Hajoran pada konteks studi. Studi ini menemukan bahwa masyarakat Hajoran mengenal ritual manuba di mana praktik ini mengajarkan pesan bagaimana manusia mengelola dan memanfaatkan alam, khususnya sungai, secara terbatas dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekologi. Studi menunjukkan bahwa ritual manuba fungsional dan dipertahankan dalam kaitannya dengan praktik pengelolaan alam secara keberlanjutan. Praktik ritual ini menanamkan nilai-nilai pendidikan bahwa masyarakat mesti mampu memanfaatkan, mengelola serta melestarikan alam dengan baik tanpa harus merusak ekologi sungai. Alam mesti dimanfaatkan masyarakat untuk menaikkan kualitas kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang. This research aims to describe the practice of using nature sustainably through the manuba ritual in the Mandailing community in Hajoran Village, Sungai Kanan District. The focus of the study shows how educational practices utilize nature and its relationship with ecological sustainability through rituals. This research uses descriptive qualitative research methods. Data collection was carried out through in-depth interview techniques, documentation, and participant observation regarding the issues studied during the research in the field. Informants were selected from among traditional leaders, community and religious leaders, as well as the Hajoran Village community in the study context. This study found that the Hajoran people know the manuba ritual where this practice teaches the message of how humans manage and utilize nature, especially rivers, in a limited and sustainable manner while still paying attention to ecological sustainability. Studies show that manuba rituals are functional and maintained in relation to sustainable nature management practices. This ritual practice instills educational values that people must be able to utilize, manage and preserve nature well without having to damage the river ecology. Society must use nature to improve the quality of life now and in the future.
Eksistensi Sistem Tenurial Tradisional Masyarakat Adat Cipta Gelar Menghadapi Deagrarianisasi Delazenitha, Regina Aura; Pujiriyani, Dwi Wulan; Lestari, Novita Dian
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.59533

Abstract

Masyarakat Adat Cipta Gelar merupakan masyarakat yang sebagian besar mengusahakan pertanian. Tanah pertanian menjadi penopang kehidupan yang sangat penting bagi mereka. Meskipun demikian, pada tahun 2001 sampai dengan 2022, terjadi perubahan lahan pertanian secara drastis menjadi permukiman dan homestay.  Berkurangnya lahan pertanian merupakan gejala deagrarianisasi yang bisa menjadi ancaman serius bagi Masyarakat Adat Cipta Gelar. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan eksistensi sistem tenurial tradisional Masyarakat Adat Ciptagelar di tengah ancaman deagrarianisasi akibat alih fungsi lahan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode etnografi cepat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi dan wawancara. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan melakukan visualisasi lanskap dan kategorisasi praktik budaya pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deagrarianisasi tidak mengubah sistem tenurial tradisional Masyarakat Adat Cipta Gelar. Dari empat gejala yang menandai terjadinya deagrarianisasi yaitu: dislokasi nafkah, penurunan kemampuan untuk berswasembada pangan dan memenuhi kebutuhan dasar, dis-eksistensi agraris, dan relokasi spasial, hanya relokasi spasial yang ditemukan. Situasi ini menunjukkan bahwa sistem tenurial tradisional Masyarakat Adat Cipta Gelar masih lestari dan masih memberikan jaminan keberlanjutan bagi generasi berikutnya. Cipta Gelar Indigenous Community is a community that mostly practices agriculture. Agricultural land is a ver important life support for them. However, from 2001 to 2022, there was a drastic change in agricultural land into residential areas and homestays.  The reduction in agricultural land is a symptom of deagrarianization which could be a serious threat to the Cipta Gelar Indigenous Community. This article aims to explain the existence of the traditional tenure system of the Ciptagelar Indigenous Community amidst the threat of deagrarianization due to land conversion. This research was conducted using rapid ethnographic methods. Data collection techniques were carried out through participant observation and interviews. Data analysis was carried out qualitatively by visualizing the landscape and categorizing agricultural cultural practices. The research results show that deagrarianization does not change the traditional tenure system of the Cipta Gelar Indigenous People. Of the four symptoms that mark the occurrence of deagrarianization, namely: dislocation of livelihood, decreased ability to be self-sufficient in food and fulfill basic needs, agrarian dis-existence, and spatial relocation, only spatial relocation was found. This situation shows that the traditional tenure system of the Cipta Gelar Indigenous People is still sustainable and still provides a guarantee of continuity for the next generation.
Akses Lapangan Pekerjaan Bagi Penyandang Disabilitas Di Kota Medan Siregar, Hairani; Berlianti, Berlianti; Dalimunthe, Ritha; Supsiloani, Supsiloani
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.62640

Abstract

Penyandang disabilitas masih banyak yang tidak dapat memiliki akses atau kesempatan seperti masyarakat non-disabilitas lainnya, salah satunya akses dalam memperoleh pekerjaan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis peran pemerintah dalam mengupayakan ketersediaan akses lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas di Kota Medan serta untuk melihat apa saja yang menjadi faktor penghambat tersedianya lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas baik dari sektor pemerintah maupun swasta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, FGD, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan kondisi tersebut, masih terdapat permasalahan yang dihadapi oleh para disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan. Diperlukan pemberdayaan masyarakat penyandang disabilitas guna meningkatkan skill dan kemampuan para disabilitas dengan tujuan dapat mencari pekerjaaan sesuai dengan keahlian para disabilitas, sangat dibutuhkan data berdasarkan jenis kedisabilitasan serta keahlian para disabilitas. Disamping itu perlu sosialisasi tentang kebijakan/ program dari Pererintah Kota Medan untuk pencari kerja disabilitas. There are still many people with disabilities who do not have access or opportunities like other non-disabled people, one of them is access to employment. The study aims to analyze the role of the government in ensuring the availability of access to employment for people with disabilities in Medan City and to see what factors hinder the availability of employment for people with disabilities, both from the government and private sectors. This research uses qualitative research methods with a descriptive approach. Data collection techniques were carried out using interviews, FGD, observation and documentation. Based on these conditions, there are still problems faced by people with disabilities in getting work. It is necessary to empower people with disabilities to improve the skills and abilities of people with disabilities with the aim of being able to find work according to the skills of people with disabilities. Data is really needed based on the type of disability and the skills of people with disabilities. Apart from that, there is a need to socialize policies/programs from the Medan City Government for job seekers with disabilities.