cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 846 Documents
VISUALISASI IBU DAN AYAH DALAM KARYA PATUNG ASSEMBLING Taufik Ivan Irwansyah Hidayatulloh
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39923

Abstract

This research is a study of the creation of sculptures by raising the issue of parents as the main idea carried out by assembling techniques using found materials. Where in the process tried to develop concepts, techniques, and materials for the creation of this work in the form of three statues of Mother and one statue of Father. Aside from the desire to develop this, this creation study seeks to affirm that the figure of both parents becomes very important in the side of life including in its various roles and sacrifices. This creation research is designed as exploratory development research. Therefore, the experimental tendency is to look for possibilities of novelty both in terms of form, technique, and exploration of the material and its medium. Data collection techniques carried out in the form of literature studies include observation as material for empirical studies to obtain relevance between theoretical concept study and the form of experience as a form of reflection in their work. Creating this work broadly carries out several stages including exploration, improvisation, and formation. Various new findings in the process were encountered, and all forms of adjustment between mediums that include materials and techniques were explored with the concept of shape. The medium used includes found material items that are considered non-artistic objects processed through assembling techniques, explored and combined with a concept of creating a work of three sculptures of Mother and one statue of Father into findings from the process so that it becomes an alternative in the study of the creation of this work.Keywords: assembling, found object, Mother, Father. AbstrakPenelitian ini merupakan studi penciptaan karya seni patung dengan mengangkat isu orang tua sebagai gagasan utama yang dikerjakan dengan teknik assembling menggunakan material barang temuan. Di mana dalam prosesnya berusaha mengembangkan konsep, teknik dan material pada penciptaan karya ini dengan wujud tiga patung Ibu dan satu patung Ayah. Selain dari rasa ingin mengembangkan hal tersebut, studi penciptaan ini berusaha menegaskan bahwa figur kedua orang tua menjadi sangat penting dalam sisi kehidupan termasuk dalam berbagai peran dan pengorbanannya. Penelitian penciptaan ini didesain sebagai penelitian pengembangan yang bersifat eksploratif. Oleh karena itu, kecenderungan eksperimentatif untuk mencari kemungkinan-kemungkinan kebaruan baik dari segi bentuk, teknik, eksplorasi material dan mediumnya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan berupa studi literatur termasuk observasi sebagai bahan kajian empiris demi memperoleh relevansi antara penelaahan konsep secara teori dengan bentuk pengalaman sebagai wujud refleksi dalam berkaryanya. Proses penciptaan karya ini secara garis besar melakukan beberapa tahapan diantaranya eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Berbagai temuan baru dalam prosesnya dijumpai, segala bentuk penyesuaian antara medium yang meliputi material dan teknik dieksplorasi dengan konsep kebentukan. Medium yang digunakan meliputi material barang temuan yang dianggap sebagai benda non-seni diproses melalui teknik assembling, dieksplorasi dan dipadukan dengan sebuah konsep penciptaan karya tiga patung Ibu dan satu patung Ayah menjadi temuan dari prosesnya sehingga menjadi alternatif dalam studi penciptaan karya ini.Kata Kunci: assembling, barang temuan, Ibu, Ayah. Author:Taufik Ivan Irwansyah Hidayatulloh : Institut Seni Indonesia Yogyakarta References:Isnanta, S. D. (2015). Penciptaan Karya Seni Mixed Media Berbasis Ekperimentasi Dengan Teknik Assemblage. Abdi Seni : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 66–75. https://doi.org/https://doi.org/10.33153/abdiseni.v6i1.2269.Kartika, D. S. (2017). Seni Rupa Modern (Revisi). Yogyakarta: Penerbit Rekayasa Sains.Kelly, J. (2008). The anthropology of assemblage. Art Journal, 67(1), 24–30. https://doi.org/10.1080/00043249.2008.10791291.Marianto, M. D. (2019). Seni & Daya Hidup dalam Perspektif Kuantum. Scritto Book dan BP ISI Yogyakarta.Selly, A. (2019). Galeri Seni Daur Ulang Sampah di Jakarta. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa), I(1), 1–10.Soedarso, S. (2006). Trilogi Seni (Cetakan Pe). Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.Susanto, M. (2011). Diksi Rupa: Kumpulan Istilah & Gerakan Seni Rupa (Revisi). Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagad Art House.
DIFUSI KEBUDAYAAN PADA KESENIAN TULO-TULO DI KOTA SABANG Haria Nanda Pratama; Nadra Akbar Manalu; Abdul Rozak
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.38329

Abstract

Tulo-tulo is an art created by the people of Nias who transmigrated to Sabang City. The people of Nias settled and lived in the area and then presented their culture in the form of Tulo-tulo art. Tulo-tulo became an art that was adopted by the people of Sabang City and was able to survive in a new area. The existence of Tulo- tulo is a cultural attribute that is able to play a role as an element of building the identity of the people of Sabang City. The occurrence of this did not escape the process of cultural diffusion where it was possible that a group of people brought their culture to a new area. This process can be seen through the history of the birth of tulo-tulo art, until its existence in the midst of the people of Sabang City, it can be identified through the concept of performance and the form of presentation of the art of Tulo-tulo. To dissect the diffusion process in Tulo-tulo art, the researcher uses the diffusion theory according to Koentjaraningrat. The purpose of this study is to identify the process of cultural diffusion in Tulo-tulo art as a form of community identity in Sabang City. The workings of this research use qualitative methods with the following stages: Literature Study, Observation, Interview and Documentation. The source of the data is direct observation with the performers of the tulo-tulo art in the city of Sabang. To help collect data in this study, the researcher used an ethical and emic approach. Where the results of this study will discuss the origin of the art of Tulo- tulo; the concept and form of presentation of the Tulo-tulo art performance; and Tulo-tulo as a result of cultural diffusion. Thus, the diffusion process in the art of tulo-tulo which is seen in the concept of the performance is a blend of the culture of the people of Nias and Aceh. The occurrence of this combination in acculturation can be seen from the performers of the arts, the use of language, and the accompaniment of music.Keywords: tulo-tulo, cultural diffusion, Sabang city. AbstrakTulo-tulo merupakan sebuah kesenian yang diciptakan oleh masyarakat Nias yang bertransmigrasi ke Kota Sabang. Masyarakat Nias menetap dan tinggal di wilayah tersebut dan kemudian menghadirkan kebudayaannya dalam bentuk kesenian Tulo-tulo. Tulo-tulo menjadi kesenian yang diadopsi oleh masyarakat Kota Sabang dan mampu bertahan di wilayah yang baru. Keberadaan Tulo-tulo menjadi atribut budaya yang mampu berperan sebagai unsur pembangun identitas masyarakat Kota Sabang. Terjadinya hal tersebut tidak luput dari proses difusi kebudayaan di mana kemungkinan karena adanya sekelompok masyarakat membawa budayanya ke wilayah yang baru. Proses tersebut dapat dilihat melalui sejarah lahirnya kesenian tulo-tulo, hingga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Kota Sabang, hal tersebut dapat diidentifikasi melalui konsep pertunjukan dan bentuk penyajian kesenian Tulo-tulo. Untuk membedah proses difusi pada kesenian Tulo-tulo, peneliti menggunakan teori difusi menurut Koentjaraningrat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi proses difusi kebudayaan dalam kesenian Tulo-tulo sebagai bentuk identitas masyarakat di Kota Sabang. Cara kerja dari penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahapan antara lain: Studi Pustaka, Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Sumber data yang dilakukan adalah pengamatan lansung dengan pelaku kesenian tulo-tulo yang berada di kota Sabang. Untuk membantu pengumpulan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan Etik dan Emik. Di mana hasil dari penelitian ini akan membahas asal usul kesenian Tulo-tulo; konsep dan bentuk penyajian pertunjukan kesenian Tulo-tulo; dan Tulo-tulo sebagai hasil difusi kebudayaan. Dengan demikian, proses difusi pada kesenian tulo-tulo yang terlihat pada konsep pertunjukannya merupakan perpaduan kebudayaan masyarakat Nias dan Aceh. Terjadinya perpaduan ini secara akulturasi terlihat dari pelaku kesenian, penggunaan bahasa, dan musik iringan.Kata Kunci: tulo-tulo, difusi kebudayaan, kota Sabang. Authors:Haria Nanda Pratama : Institut Seni Budaya Indonesia AcehNadra Akbar Manalu : Institut Seni Budaya Indonesia AcehAbdul Rozak : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Koentjaraningrat, K. (1990). Pengantar Ilmu Antrologi (Edisi Baru). Jakarta: PT. Penerbit Rineka Cipta.Maghfirah, A. M., & Erlinda, E. (2019). Transformasi Pencak Silat Parian Menjadi Tari Garigiak di Istano Tuan Gadang Batipuah Kecamatan Batipuah Kabupaten Tanah Datar. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(1), 137-142. https://doi.org/10.24114/gr.v8i1.12931.Manalu, N. A., & Sukman, F. F. (2020). Tari Seudati Inong sebagai Wujud Representasi Kesetaraan Gender Dikabupaten Aceh Besar. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 367-376. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.20673.Moleong, J. L. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.Rahayu, T. (2022). “Kebudayaan Masyarakat Nias”. Hasil Wawancara Pribadi: 15 Juli 2022, Medan.Safitri, W. (2022). “Asal-usul Kesenian Tulo-tulo”. Hasil Wawancara Pribadi: 26 Juli 2022, Kota Sabang.Siswantari, H., & Setyaningrum, F. (2018). Rampak Kendang Patimuan Cilacap Sebagai Wujud Difusi Kesenian Jawa Barat. Jurnal Kajian Seni, 4(2), 103-113. https://doi.org/10.22146/jksks.46449.Ulfa, M. (2021). Rekonstruksi Tari Tulo-tulo di Kota Sabang. Skripsi tidak diterbitkan. Banda Aceh: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.
ELEMEN ESTETIS RUMAH PERANAKAN JAMBLANG SEBAGAI RUANG EDUKASI SEJARAH DAN BUDAYA Krismanto Kusbiantoro; Tessa Eka Darmayanti; Elliati Djakaria; Latifah Nur Azizah; Fellicia Lodhita
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39273

Abstract

Aesthetic elements are frequently viewed as embellishments that can affect perception, thereby enriching the quality of a building or space. Aesthetic elements are also closely related to the course of history and culture, therefore this article aims to introduce history and culture through the presence of aesthetic elements in a Peranakan house in Jamblang, Cirebon. Based on this, data collection techniques are needed through direct observation, in-depth interviews, and literature exploration. This qualitative research is also supported by a phenomenological approach because the concept is related to culture, space, and perception. The findings of this study reveal that the introduction of history and culture can be done by "reading" the embodiment of aesthetic elements, so that become an educational space. This knowledge and learning process is one way to maintain culture and maintain local culture as a national identity.Keywords: elements, aesthetic, houses, jamblang, culture. AbstrakElemen estetis seringkali dilihat sebagai hiasan yang dapat mempengaruhi persepsi, sehingga memperkaya kualitas bangunan atau ruang. Elemen estetis juga erat kaitannya dengan perjalanan sejarah dan budaya. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan sejarah maupun budaya melalui keberadaan elemen estetis pada rumah Peranakan di Jamblang, Cirebon. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam serta eksplorasi literatur. Penelitian kualitatif ini juga didukung dengan pendekatan fenomenologi karena konsep tersebut berkaitan dengan budaya, ruang dan persepsi. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa pengenalan sejarah maupun budaya dapat dilakukan dengan “membaca” kewujudan elemen estetis sehingga menjadi ruang edukasi. Pengetahuan dan proses pembelajaran tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga budaya dan mempertahankan budaya lokal sebagai identitas bangsa.Kata Kunci: elemen, estetis, rumah, jamblang, budaya. Authors:Krismanto Kusbiantoro : Universitas Kristen MaranathaTessa Eka Darmayanti : Universitas Kristen MaranathaEliati Djakaria : Universitas Kristen MaranathaLatifah Nur Azizah : Universitas Kristen MaranathaFellicia Lodhita : Universitas Kristen Maranatha References: Caco, A. (2019). Pengembangan Desain Ornamen Berbasis Kearifan Lokal pada Elemen Estetis Eksterior Masjid Imaduddin Tancung Kabupaten Wajo. Prosiding Seminar Nasional LP2M UNM, 881-886.Darmayanti, T. E., & Bahauddin, A. (2019). Rebuilding Space in Peranakan House in Lasem, Indonesia: Perceived Space Concept. 651, 661.Darmayanti, T. E. (2021). Ruang Ketiga pada Gerbang Rumah Peranakan Pecinan, Lasem, Jawa Tengah, Indonesia. Kajian Kes: Rumah Peranakan Kidang Mas. PhD Dissertation:  Penang: Universiti Sains Malaysia.Darmayanti, T. E., Drajat, R. P., & Isfiaty, T. (2022). Membaca Visual Wayang Beber Sebagai Ide Perancangan Ruang. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya, 4(3), 309-317.Gustami, G. (1980). Nukilan Seni Ornamen Indonesia. Yogyakarta: ASRI.Hardjasaputra, A. S. (2011). Cirebon dalam Lima Zaman. Jawa Barat: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov. Jabar.Hastuti, D. L. (2012). Struktur dan Fungsi Desain Interior Rumah Peranakan Tionghoa di Surakarta pada Awal Abad ke-20. Pendhapa, 3(2), 64-81.Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Djambatan.Kusbiantoro, K et al. (2021). Hybrid Approaches in Cultural Heritage Reconstruction of Chinese Liutenant Tomb in Bandung: A Multidisciplinary Surve dalam Innovation Research in the Era of MBKM. Maharashtra: Novateur Publication.Kustedja, S. (2018). Jejak Budaya Komunitas Tionghoa di Bandung. Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung.Levebfre, H. (1991). The Production of Space. New Jersey: Wiley.Lombard, D. (2000). Nusa Jawa Silang Budaya jilid II: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia.Marcella, B. S. (2014). Bentuk dan Makna Atap Kelenteng Sam Poo Kong Semarang. Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, 10(5), 349-359.Pallasmaa, J., & Space, P. (2012). On Atmosphere: Peripheral Perception and Existential Experience. Encounters, 2, 237-251.Pelzang, R., & Hutchinson, A. M. (2018). Establishing Cultural Integrity in Qualitative Research: Reflections From a Cross-Cultural Study. International Journal of Qualitative Methods, 17(1). https://doi.org/10.1177/1609406917749702.Pratiwo, P. (1990). Ph.D. Thesis: The Transformation Of Traditional Chinese Architecture: A Way to Interpret Issues on Modernization and Urban Development on the North-Eastern Coast of Central Java – Indonesia. German: Aachen, Technische Hochschule.Reid, A. (1999). Dari Ekspansi Hingga Krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680 jilid II. Jakarta: Yayasan Obor.Royandi, Y., Gunawan, I. V., & Halim, E.A. (2022). Analisa Bangunan dengan Pengaruh Tionghoa pada Pecinan Indramayu Jawa Barat. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 67-73.Rusyanti, R. (2012). Interaksi Budaya pada Bentuk Rumah Pecinan Cirebon. PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 1(2), 309-324.Sunaryo, S. (2009). Ornamen Nusantara : Kajian khusus tentang ornamen Indonesia. Semarang: Dahaga Price.Susanto, M . ( 2002 ) . Diksi Rupa, Kumpulan Istilah Seni Rupa. Yogyakarta: Kanisius.Tjahyono, G. (2002). Indonesian Heritage: Arsitektur. Jakarta: Grolier International.
CITRA PEREMPUAN DALAM LUKISAN KARYA PERMADI LYOSTA Hatmi Negria Taruan; Susandro Susandro; Rika Wirandi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.40086

Abstract

This study aims to understand the ethnographic and gender aspects and values in the visual use of women, themes about women, and the representation of gender injustice towards women in paintings by Permadi Lyosta in 2000-2007.This study uses a descriptive qualitative research method using data collection techniques through observation, interviews, and visual data collection methods in the form of physical works and works in catalogs. Ethnographic and gender approaches are the perspectives used in this study. The results of this study show that Permadi Lyosta's post-New Order works are more dominant in using women's visuals with themes of women's backwardness and marginalization in social life through paintings of women who are depicted as manual laborers as farmers, traders in traditional markets. As women, wives and housewives with cultural burdens and gender roles as women who raise children at home. There is almost no image of women depicted as figures who fill strategic roles in the public sphere. On the other hand, Permadi's works are a kind of criticism of the gender injustice experienced by women. Keywords: woman, painting, permadi lyosta. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami aspek dan nilai etnografis dan gender dalam penggunaan visual perempuan, tema-tema tentang perempuan, serta representasi ketidakadilan gender terhadap perempuan dalam lukisan karya Permadi Lyosta tahun 2000-2007. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskripstif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta metode pengumpulan data visual berbentuk karya-karya fisik dan karya-karya dalam katalog. Pendekatan etnografi dan gender adalah perspektif yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan karya-karya Permadi Lyosta pasca orde baru lebih dominan memakai visual perempuan dengan tema-tema keterbelakangan dan ketermajinalan perempuan dalam kehidupan sosial melalui lukisan-lukisan perempuan yang digambarkan sebagai pekerja kasar sebagai petani, pedagang di pasar tradisional. Sebagai perempuan, istri, dan ibu rumah tangga dengan beban kultural serta peran gender sebagai perempuan yang mengasuh anak-anak di rumah. Hampir tidak ada gambaran citra perempuan yang tergambar sebagai sosok-sosok yang mengisi peranan strategis di ruang publik. Di sisi lain, karya-karya Permadi tersebut semacam kritik terhadap ketidakadilan gender yang dialami perempuan. Kata Kunci: perempuan, karya lukis, permadi lyosta. Authors:Hatmi Negria Taruan : Institut Seni Budaya Indonesia AcehSusandro : Institut Seni Budaya Indonesia AcehRika Wirandi : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Fitryona, N., & Kharisma, M. (2021). Darvies Rasjidin dan Perubahan Karyanya Sebuah Kajian Sosiohistoris. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 35-44. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.23677.Khairi, A. I., & Hafiz, A. (2022). Kajian Estetika Lukisan Realis Kontemporer Drs. Irwan, M. Sn. yang Berjudul di Ujung Tanduk. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 138-146.Rostiyati, A. (2019). Memaknai Lukisan Perempuan dalam Konteks Budaya Visual. Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya., 20(2), 187-202.Yulianto, N., & Yuliastuti, N. (2019). Dinamika Citra Tubuh Perempuan dalam Lukisan KARYA Luna Dian Setya. Imajinasi: Jurnal Seni, 13(1), 27-34.
KAJIAN BUDAYA JEPANG PADA PROSES DAN TEKNIK SENI LUKIS TAKASHI MURAKAMI Dwi Yunizal
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39802

Abstract

Contemporary artist Takashi Murakami from Japan works in painting, sculpture, and commercial media including fashion, merchandise and animation with the superflat theory. The creative process combines traditional culture with contemporary culture, this study aims to understand Murakami's background in managing the dynamics of traditional culture with critical and genius visual discourse. The superflat theory was finally able to lead Murakami to become a well-known artist, due to the meeting of the dynamics of traditional and capitalist culture in the global market. The use of kawaii elements which mean cute and sweet, both as a style and a way of life can be found in Murakami's art. Symbolism plays an important role in attracting people's attention and working to elevate otaku culture's status as a representation of Japan. Murakami's mythical sensibility presents traditional Japanese, Chinese, and Buddhist myths giving mythopoeic achievements. This study uses library research with a semi-systematic approach that originates from journals, dissertations, theses, and internet media, based on the results of data and information processing, the works of artist Murakami are influenced by Japanese cultural structures such as Soga Shohaku, kawaii, and otaku. Murakami's awareness in understanding art discourse by incorporating a kawaii style, so that it is easily accepted in the global art market. Understanding how Murakami's formula manages traditional culture to become today's art, can be analyzed in a work entitled “Dragon in Clouds – Indigo Blue”. The conclusion of Murakami's work is the symbolism influenced by his personal experience.Keywords: soga shohaku, kawaii, otaku, superflat. AbstrakSeniman kontemporer Takashi Murakami dari Jepang mengerjakan karya lukisan, patung, dan media komersial termasuk fashion, barang dagang, dan animasi dengan teori superflat. Proses kreatif memadukan budaya tradisional dengan budaya kontemporer. Penelitian ini bertujuan memahami latar belakang Murakami mengelola dinamika budaya tradisional dengan wacana visual yang kritis dan jenius. Teori superflat akhirnya mampu mengantarkan Murakami menjadi seniman ternama, karena pertemuan dinamika budaya tradisional dan kapitalis di pasar global. Penggunaan unsur kawaii yang berarti imut dan manis, baik sebagai gaya maupun gaya hidup dapat ditemukan dalam karya seni Murakami. Simbolisme memainkan peran penting untuk menarik perhatian orang, dan berupaya mengangkat status budaya otaku sebagai representasi Jepang. Kepekaan mitis Murakami menghadirkan mitos tradisional Jepang, Cina, dan Buddha memberikan pencapaian mythopoeic. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan semi-sistematik yang bersumber dari jurnal, disertasi, tesis, dan media internet. Berdasarkan hasil pengolahan data dan informasi, karya seniman Murakami dipengaruhi oleh struktur budaya Jepang seperti soga shohaku, kawaii, dan otaku. Kesadaran Murakami dalam memahami wacana seni dengan memasukkan gaya kawaii, sehingga mudah diterima di pasar seni global. Memahami bagaimana formula Murakami mengelola budaya tradisional menjadi seni masa kini, dapat dianalisis dalam karya berjudul “Dragon in Clouds – Indigo Blue”. Kesimpulan dari karya Murakami adalah simbolisme yang dipengaruhi pengalaman pribadinya.Kata Kunci: soga shohaku, kawaii, otaku, superflat. Author:Dwi Yunizal : Institut Seni Indonesia Yogyakarta References:Birlea, O. M. (2021). “Cute Studies”. Kawaii (“Cuteness”) – A New Research Field. Philobiblon, 26(1), 83–100. https://doi.org/10.26424/philobib.2021.26.1.05.Borggreen, G. (2011). Cute and Cool in Contemporary Japanese Visual Arts. The Copenhagen Journal of Asian Studies, 29(01), 39–60. https://doi.org/10.22439/cjas.v29i1.4020.Hashimoto, M. (2007). Visual Kei Otaku Identity - An Intercultural Analysis. Intercultural Communication Studies, XVI(1), 87–99. https://www.researchgate.net/publication/239576790_Visual_Kei_Otaku_Identity-An_Intercultural_Analysis.Hu, X. (2021). Is Takashi Murakami’s Art an Exploration of Symbolism ?. Proceedings of the 2021 6th International Conference on Modern Management and Education Technology,  582, 560–564. https://doi.org/10.2991/assehr.k.211011.101.Khairi, I. A ., & Hafiz, H. (2022). Kajian Estetika Lukisan Realis Kontemporer Drs. Irwan, M.Sn. yang Berjudul di Ujung Tanduk. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(01), 138-146. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.34129.    Mamat, R., Rashid, R. A., Paee, R., & Ahmad, N. (2022). VTubers and anime culture: A case study of Japanese learners in two public universities in Malaysia. International Journal of Health Sciences, 6(S2), 11958–11974.  https://doi.org/10.53730/ijhs.v6nS2.8231.Pellitteri, M. (2018). Kawaii Aesthetics from Japan to Europe: Theory of the Japanese “Cute” and Transcultural Adoption of Its Styles in Italian and French Comics Production and Commodified Culture Goods. Arts, 7(3), 24. https://doi.org/10.3390/arts7030024.Raman, K., Othman, A. N., Idris, M. Z., & Muniady, V. (2021). Kawaii-Style Pedagogical Agents Designs in Virtual Learning Environment: A Research Conceptual Framework. International Journal of Academic Research in Progressive Education and Development, 10(01), 154-170. https://doi.org/10.6007/IJARPED/v10-i1/8489.Raubenheimer, L. (2006). Blandness and the digital sublime in Takashi Murakami’s designs for Louis Vuitton. South African Journal of Art History, 21(2), 74–88. http://hdl.handle.net/2263/10629.Rupadha, I. K. (2016). Memahami Metode Analisis Pasangan Bibliografi (Bibliographic Coupling) dan Ko-Sitasi (Co-Citation) Serta Manfaatnya untuk Penelitian Kepustakaan. Lentera Pustaka,  2(1), 58–69. https://doi.org/10.14710/lenpust.v2i1.12358.    Sanjaya, B. & Citra, P. A. C. (2022). Fenomena Aku Setelah Pandemi Covid-19 sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(01), 107-113. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.33867.Sari, M. (2020). Penelitian Kepustakaan (Library Research) dalam Penelitian Pendidikan IPA. NATURAL SCIENCE: Jurnal Penelitian Bidang IPA dan Pendidikan IPA.  6(1). 41-53. https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/naturalscience/article/view/1555.Sharp, K. (2007). Superflatlands : The global cultures of Takashi Murakami and superflat art. ACCESS: Critical Perspectives on Communication, Cultural & Policy Studies, 26(1), 32–42. https://search.informit.org/doi/10.3316/informit.665904534038717.  Uzelac. G. (2022). Harnessing The Myths of Now :Restoring Social Harmony Through Mythic Art. The University of Sydney, 1-69. https://hdl.handle.net/2123/27724.Yazovskaya, O., (2018). Artistic Language of Mass Culture As Illustrated By Takashi Murakami (On Materials From “Under The Radiation Falls” Exhibit, 2017-2018, Moscow).  IJASOS-International E-Journal of Advances in Social Sciences, IV(11), 516-520. https://doi.org/10.18769/ijasos.455682.         
MENGGAMBAR ILUSTRASI KARTUN DENGAN TEKNIK SCRIBBLE Ani Masruroh; Adek Cerah Kurnia Azis
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39108

Abstract

Keywords: abillity, drawing illustration, scribble technique. AbstrakPermasalahan bermula pn latihan menggambar sehingga siswa tidak terampil. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui  peningkatan kemampuan siswa menggambar  mpakan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Simpang Kiri Kota Subulussaokumentasi. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif menggunakan statistik uji T. Berdasarkan hasil dari perhitungan uji T dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan menggambar ilustrasi kartun siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Simpang Kiri Kota Subulussalam dengan menggunakan teknik scribble dibandingkan sebelum diberi perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik pretest sebesar 68,44 dan post test sebesar 81, 83.Kata Kunci: kemampuan, menggambar ilustrasi, teknik scribble. Authors:Ani Masruroh : Universitas Negeri MedanAdek Cerah Kurnia Azis : Universitas Negeri Medan References:Adrian, A. (2000). Bagaimana Menggambar. Jakarta: Angkasa.Anwar, K. (2018). Portrait Scribble. Jakarta: Transmedia Pustaka.Gaol, D. U. L., & Mesra, M. (2020). Analisis Proporsi dan Gelap Terang pada Gambar Wajah. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 342-346.Ginting, J., & Triyanto, R. (2020). Tinjauan Ketepatan Bentuk, Gelap Terang, dan Warna pada Gambar Bentuk Media Akrilik. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 300-308.Graha, G., & Idris, I. (1982). Pendidikan Seni Rupa. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.Halawa, W. E., Triyanto, R., Budiwiwaramulja, D., & Azis, A. C. K. (2020). Analisis Gambar Ilustrasi Hombo Batu Nias Gunungsitoli. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(1), 193-203.Masida, N., & Irawan, I. (2021). Upaya Meningkatkan Pemahaman ISI Dongeng Ditunjukkan dalam Gambar Ilustrasi Siswa Kelas V SD Negeri 32 Kota Ternate. JURNAL DODOTO, 2(01), 39-46.Masnuna, M. (2018). Pengantar Ilustrasi. Jakarta: Indonesia Pustaka.Purnomo, E., & dkk. (2007). Seni Budaya Kelas VIII. Jakarta: Kementrian Dinas Pendidikan.Seragih, Y. G., & Azis, A. C. K. (2021). Tinjauan Hasil Gambar Ilustrasi Kartun dengan Objek Binatang. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 23(2), 302-318.Sumardi, S., Mukaddas, A. B., & Faisal, M. (2021). Transformasi Seni Menggambar dengan Teknik Scribble pada Karya Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur. BALOLIPA: Jurnal Pendidikan Seni Rupa, 1(1), 24-35.Surbakti, T. I. P., Zulkifli, Z., Atmojo, W. T., & Mesra, M. (2019). Analisis Kreativitas Siswa Kelas III SD Swasta Yayasan Wanita Kereta Api “YWKA” Medan dalam Pembelajaran Menggambar Binatang. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(1), 182-186.Sutandur, S., & dkk. (2008). Seni Rupa 2. Jakarta: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.Ulfah, T., & Budiwiwaramulja, D. (2019). Analisis Karya Gambar Ilustrasi Teknik Arsir Siswa Kelas VIII di SMP Swasta Tunas Karya Batang Kuis. Gorga: Jurnal Seni Rupa,  8(1), 279-283.  
PERANCANGAN CORPORATE IDENTITY CV ARYA WASA SEBAGAI CITRA PERUSAHAAN Ritsa Ephipania Toding; Poerbaningtyas E; Rina Nurfitri
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.37300

Abstract

The purpose of this research is to produce a corporate identity for CV Arya Wasa as a corporate image. CV Arya Wasa is a goods and service procurement company that has just been born but has considerable potential to develop. In tis study, CV Arya Wasa already has a logo and company values, but this is not enough to meet the criteria for a good corporate identity. This type of research uses a qualitative method with a development model with data collection techniques using interview techniques, field observation and literature studies both offline and online. The design method that uses is design thingking with the test method using SUS (System Usability System). The results of tests conducted on 25 respondents proved that the design of CV Arya Wasa’s corporate identity is acceptable, easy to implement and provides a good image for the company and its potential target market with an average value of 70,90 (above average).Keywords: logo, Arya Wasa, identity, company.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan corporate identity bagi CV Arya Wasa sebagai citra perusahaan. CV Arya Wasa merupakan perusahaan pengadaan barang dan jasa yang baru saja lahir namun memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang. CV Arya Wasa telah memiliki logo dan nilai-nilai perusahaan, namun belum cukup memenuhi kriteria corporate identity yang baik. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model pengembangan dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi lapangan dan studi literatur secara offline maupun online. Metode perancangan yang digunakan yaitu design thinking dengan metode pengujian menggunakan SUS (System Usability System). Hasil pengujian yang dilakukan kepada 25 responden membuktikan bahwa dengan adanya perancangan corporate identity CV Arya Wasa ini dapat diterima, mudah pengimplementasiannya dan memberikan citra yang baik bagi perusahaan maupun calon target pasarnya dengan nilai rata-rata 70,90 (di atas rata-rata).Kata Kunci: logo, Arya Wasa, identitas, perusahaan. Authors:Ritsa Ephipania Toding : STIKI MalangPoerbaningtyas E : STIKI MalangRina Nurfitri : STIKI Malang References:Banjaŕnahor, A. R., Purba, B., Sudarso, A., Sahir, S. H., Munthe, R. N., Kato, I., Gandasari, D., Purba, S., Muliana, M., & Ashoer, M. (2021). Manajemen Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Yayasan Kita Menulis.Dewi, S. K., Haryanto, E. K., & De Yong, S. (2018). Identifikasi Penerapan Design Thinking Dalam Pembelajaran Perancangan Desain Interior Kantor. Seminar Nasional Seni Dan Desain 2018, 33–38.Gunalan, S., Haryono, H., & Yasa, I. N. M. (2022). Analisis Pemaknaan dan Tanda Pada Desain Logo GP Mandalika Series. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 212-219.Justin, M. R., Rohiman, R., & Darmawan, A. (2022). Desain Identitas Visual pada UMKM Ruang Keramik Studio Kota Metro Lampung. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 156-164.Lubis, S. K., Retnowati, T. H., & Syawalina, S. (2020). Predictive Power of Intellectual Ability Test Score on Students’ Fine Art Learning Outcomes. 3rd International Conference on Arts and Arts Education (ICAAE 2019, 41–44. https://doi.org/10.2991/assehr.k.200703.009.Safanayong, Y. (2006). Desain Komunikasi Visual Terpadu, Arte Intermedia. Jakarta: Intermedia.Sanyoto, S. E. (2010). Nirmana: Elemen-elemen Seni dan Desain. Yogyakarta: Jalasutra.Yuda, R., Sucipto, F. D., & Ghifari, M. (2022). Perancangan Maskot ISBI Aceh sebagai Upaya Penguatan Brand Awareness. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 36–44.
IDENTIFIKASI ORNAMEN RUMAH ADAT ACEH DI GAMPONG REUBEE KECAMATAN DELIMA DI KABUPATEN PIDIE Reza Sastra Wijaya; Saniman Andi Kafri; Nisa Putri Rachmadani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.1023

Abstract

Pidie is one of the districts in Aceh Province. Pidie has a rich culture that can be enjoyed until now, starting from dance, music, carving, ornaments, crafts, kasab embroidery, kupiah meuketop, kupiah riman, artifacts, and architecture. In this study, the object of research is the Aceh house belonging to King Husein in Reubee Village, Delima District, Pidie Regency. Rumoh Aceh basically consists of 3 types, of houses: ordinary people's houses, noble houses, and Ulee Balang (king) houses. The typological can be easily identified through their structures and ornaments. The higher the social strata of the homeowner, the more diverse and complex the ornaments will be. The identification of ornaments in this research object aims to see, search for, find, and classify Acehnese house ornaments with the ulee balang ones. In identifying research ornaments, the research method uses a qualitative method with a descriptive analysis approach. The selected types of data are primary data and secondary data, with data collection carried out through observation, interviews, and documentation. The data analysis technique was carried out by means of data reduction, data presentation, and drawing conclusions from the data that had been collected. The results of the identification show that the ornaments found in Raja Husein's house consist of natural, geometric, and calligraphic motifs, namely the tendril motif, Bungong Mawo, Bungong Meulu, Bungong Tobue, Awan Meucanek, Puta Taloe Oun Pula, Pucuk Rebung, Bungong Seulanga, Oun Ranub, Bungong Taboe, Bungong Seulupo, Bungong Kipah, Bungong Chandelier, Cloud Si Tangke, Triangle, Bulen, Star, Geometric, Calligraphy with Lafadz (Allah), Lafadz (Muhammad), and address calligraphy (Kuta Baro Reube). Keywords: rumoh Aceh, decorations. AbstrakPidie merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Aceh. Pidie memiliki kekayaan budaya yang dapat dinikmati sampai saat ini mulai dari tarian, musik, ukiran, ornamen, kerajinan, sulam kasab, kupiah meuketop, kupiah riman, serta berbagai artefak, dan arsitektur. Pada penelitian ini, objek penelitian yang dikaji adalah rumoh Aceh milik Raja Husein di Gampong Reubee Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Rumoh Aceh yang terdapat di daerah Aceh Pidie pada dasarnya terdiri dari 3 jenis, yaitu rumah masyarakat biasa, bangsawan, dan Ulee Balang (Raja). Perbedaan tipologi ketiga jenis rumah Aceh tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi melalui bentuk rumah dan ornamennya. Semakin tinggi strata sosial pemilik rumah, semakin beragam dan rumit ornamen yang dimiliki. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi ornamen pada objek penelitian guna melihat, mencari, menemukan dan mengelompokan ornamen rumah Aceh dengan tipe ulee balang. Dalam mengidentifikasi ornamen penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisa deskriptif. Jenis data yang dipilih berupa data primer dan data sekunder dengan pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ornamen yang terdapat pada rumoh Aceh Raja Husein terdiri dari motif alam, geometris dan kaligrafi, yaitu motif sulur, Bungong Mawo, Bungong Meulu, Bungong Tobue, Awan Meucanek, Puta Taloe Oun Pula, Pucuk Rebung, Bungong Seulanga, Oun Ranub, Bungong Taboe, Bungong Seulupo, Bungong Kipah, Bungong Lampu Gantung, Awan Si Tangke, Segitiga, Bulen, Bintang, Geometris, Kaligrafi Lafadz (Allah), Kaligrafi Lafadz (Muhammad), dan kaligrafi bertuliskan alamat (Kuta Baro Reube).Kata Kunci: rumoh Aceh, ornamen. Authors:Reza Sastra Wijaya : Institut Seni Buday Indonesia AcehSaniman Andi Kafri : Institut Seni Buday Indonesia AcehNisa Putri Rachmadani : Institut Seni Buday Indonesia Aceh References:Afriadi, D. (2022). “Penamaan Ornamen Pada Rumoh Aceh Pidie”. Hasil Wawancara Pribadi: 2 Oktober 2022, Aceh Pidie.Aiyub, H. (2017).  Perubahan Tata Nilai dan Bentuk pada Arsitektur Tradisional Rumoh Aceh di Pidie. Laporan Tugas Akhir tidak diterbitkan. Medan: Pascasarjana Universitas Sumatra Utara.Andriyanti, S., Sinaga, R., & Lubis, R. (2022). Aplikasi Ornamen Sumatera Utara Kreasi Kekinian pada Desain Busana Ready-To-Wear dengan Teknik Sablon Printing. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 25-35. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.28791.Guntur, G. (2004). Ornamen Sebuah Pengantar. Surakarta: P2AI Bekerjasama dengan STSI Press.Haikal, R., & Syam, H. M. (2019). Makna Simbolik Arsitektur Rumoh Adat Aceh (Studi Pada Rumah Adat Aceh Di Pidie). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, 4(4). https://jim.unsyiah.ac.id/FISIP/article/view/12973.Hasibuan, A. T., & Misgiya, M. (2020). Penerapan Ornamen Tradisional pada Rumah Adat Mandailing. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 455-461. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.22119.Inagurasi, L. H. (2017). Ragam Hias Batu Nisan Tipe Aceh pada Makam-Makam Kuno di Indonesia Abad ke 13-17. Kalpataru Majalah Arkeologi, 26(1), 37-52. https://doi.org/10.24832/kpt.v26i1.259.Kafri, S. A., & Wijaya, R. S. (2020). Perkembangan Bentuk Kerajinan Rencong di Desa Baet Kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 326-335. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.Kumsatun, K. (2002). Ragam Hias dan Motif Aceh. Darussalam: Dekranas Provinsi Nanggroe Aceh.Maulana, I., Akmal, A., & Yulika, F. (2018). Estetika Ornamen Rumoh Aceh Lubuk Sukon Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 7(2), 205-211.Moleong, L. J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Muttaqin, K. (2022). “Fase Arsitektur Rumoh Aceh, Pidie”. Hasil Wawancara Pribadi: 22 Juni 2022, Gampong Reubee Kabupaten Pidie.Natasya, N. (2020). Tipologi Motif Ornamen pada Arsitektur Rumah Vernakular Desa Lubuk Sukon dan Lubuk Gapuy Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi, 18(2), 170-183. http://dx.doi.org/10.35760/dk.2019.v18i2.2648.Oetomo, R. W. (2016). Metamorfose Nisan Aceh, dari Masa ke Masa. Berkala Arkeologi Sangkhakala, 19(2), 130-148. https://doi.org/10.24832/sba.v19i2.32.Rahmat, R. (2022). “Pengelompokan dan pengkategorian Rumoh Aceh di Pidie”. Hasil Wawancara Pribadi: 2 Juli  2022, Gampong Reubee Kabupaten Pidie.Sugiyono, S. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
YOUTH CYBERBULLYING SEBAGAI TEMA PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS Arum Wilis Kartika Ayuningtari
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39164

Abstract

The background of this research is based on the occurrence and emergence of cyberbullying cases that afflict Indonesian teenagers. Youth are considered unable to filter bad messages that they get, so they are vulnerable to negative impacts such as depression to suicide. This writing aims to create works of art with ideas originating from the phenomenon of cyberbullying that is rife in this digital era, especially for teenagers or youth. . The method used in this artistic creation is a combination of two methods, namely the practice-based research method and practice-led research method. This research produces three works of two-dimensional painting that are representational deformative and have symbolic meanings with acrylic on plywood media. The data is obtained through document studies and literature studies. These three artworks have the titles (1) Your Words Killed Me, (2) Hate Comments, and (3) Burdened. This creation is useful as a medium of criticism and as a medium of education to the public related to the phenomenon or topic of cyberbullying. This phenomenon should be aware of and must be stopped immediately to reduce the negative impact that harms its victims.Keywords: youth, cyberbullying, painting. AbstrakLatar belakang penciptaan ini didasari atas keprihatinan dan kekhawatiran akan maraknya kasus cyberbullying yang menimpa remaja Indonesia. Remaja dinilai belum dapat melakukan filter atas pesan buruk yang mereka dapatkan, sehingga mereka rentan terkena dampak negatif seperti depresi hingga bunuh diri. Penciptaan ini bertujuan untuk menciptakan karya seni lukis dengan ide bersumber dari fenomena cyberbullying yang marak terjadi pada era digital ini, khususnya kepada remaja. Penciptaan karya seni lukis ini menggunakan kombinasi dua metode, metode practice-based research dan practice-led research. Proses mengumpulkan data diperoleh melalui studi pustaka dan studi dokumen. Hasil penciptaan ini berupa tiga karya seni lukis dua dimensi yang representasional deformatif serta memiliki makna simbolik dengan media acrylic on plywood. Ketiga karya seni lukis ini memiliki judul (1) your words killed me, (2) hate comments, dan (3) burdened. Penciptaan ini berguna sebagai media kritik dan sebagai media edukasi kepada masyarakat berkaitan dengan fenomena atau topik cyberbullying. Fenomena ini patut untuk diwaspadai dan harus segera dihentikan untuk mengurangi dampak negatif yang merugikan para korbannya.Kata Kunci: remaja, cyberbullying, seni lukis.Author:Arum Wilis Kartika Ayuningtari : Institut Seni Indonesia Yogyakarta References:Anwar, F. (2017). Perubahan dan permasalahan media sosial. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 1(1), 137-144.Asa, F. O., Ahdi, S., & Elapatsa, A. (2021). Fenomena Korupsi: Tikus sebagai Inspirasi Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 508-514.doi: 10.24114/gr.v10i2.28059.Sanjaya, B., & Citra, Y. P. A. (2022). Fenomena Aku Setelah Pandemi Covid-19 sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 107-113.Diananda, A. (2019). Psikologi remaja dan permasalahannya. Istighna: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, 1(1), 116-133.Fitri, N. F., & Adelya, B. (2017). Kematangan emosi remaja dalam pengentasan masalah. JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia), 2(2), 30-39.Ginting, J., & Triyanto, R. (2020). Tinjauan Ketepatan Bentuk, Gelap Terang, dan Warna pada Gambar Bentuk Media Akrilik. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 300-308.Harris, I. M., Beese, S., & Moore, D. (2019). Predicting Repeated Self-harm or Suicide in Adolescents and Young Adults Using Risk Assessment Scales/tools: a Systematic Review Protocol. Systematic reviews, 8(1), 1-6. 10.1186/s13643-019-1007-7.Hidayati, K. B., & Farid, M. (2016). Konsep diri, adversity quotient dan penyesuaian diri pada remaja. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 5(02), 137-144.Imani, F. A., Kusmawati, A., & Tohari, M. A. (2021). Pencegahan Kasus Cyberbullying Bagi Remaja Pengguna Sosial Media. KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services, 2(1), 74-83.Jalal, N. M., Idris, M., & Muliana, M. (2021). Faktor-faktor Cyberbullying Padaremaja. IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial dan Humaniora, 5(2), 1-9.Muannas, M., & Mansyur, M. (2020). Model Literasi Digital untuk Melawan Ujaran Kebencian di Media Sosial (Digital Literacy Model to Counter Hate Speech on Social Media). JURNAL IPTEKKOM (Jurnal Ilmu Pengetahuan & Teknologi Informasi), 22(2), 125-142.Ningrum, D. J., Suryadi, S., & Wardhana, D. E. C. (2018). Kajian ujaran kebencian di media sosial. Jurnal Ilmiah Korpus, 2(3), 241-252. 10.33369/jik.v2i3.6779.Rafiq, A. (2020). Dampak Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial Suatu Masyarakat. Global Komunika, 1(1), 18-29.Rajudin, R., Miswar, M., & Muler, Y. (2020). Metode Penciptaan Bentuk Representasional, Simbolik, dan Abstrak (Studi Penciptaan Karya Seni Murni di Sumatera Barat, Indonesia). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 261-272. 10.24114/gr.v9i2.19950.Riswanto, D., & Marsinun, R. (2020). Perilaku cyberbullying remaja di media sosial. Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA, 12(2), 98-111. 10.31289/analitika.v12i2.3704.Rumra, N. S., & Rahayu, B. A. (2021). Perilaku Cyberbullying pada Remaja. Jurnal Ilmiah Kesehatan Jiwa, 3(1), 41-48.Kumala, A. P. B., & Sukmawati, A. (2020). Dampak Cyberbullying Pada Remaja. Alauddin Scientific Journal of Nursing, 1(1), 55-65.Tarigan, T., & Apsari, N. C. (2021). Perilaku Self-Harm atau Melukai Diri Sendiri yang Dilakukan oleh Remaja (Self-Harm or Self-Injuring Behavior by Adolescents). Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 4(2), 213-224.Ybarra, M. L., & Mitchell, K. J. (2004). Youth Engaging in Online Harassment: Associations with Caregiver–Child Relationships, Internet Use, and Personal Characteristics. Journal of adolescence, 27(3), 319-336. 10.1016/j.adolescence.2004.03.007.Yetri, I. T. S., Munaf, Y., & Dharsono, D. (2018). Fenomena Urban dan Budaya Merantau sebagai Rangsang Cipta dalam Karya Seni Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 7(2), 192-197. 10.24114/gr.v7i2.11058.
MAKNA MOTIF BATIK DI KABUPATEN SOLOK SELATAN STUDI KASUS PADA SANGGAR AZYANU BATIK 1000 RUMAH GADANG Sri Zulfia Novrita; Mailani Pratiwi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39652

Abstract

Sanggar Azyanu Batik 1000 Rumah Gadang is a batik handicraft business in Lundang village, Sungai Pagu District, South Solok Regency. Batik 1000 Rumah Gadang, both in terms of the name, shape of the motif and the meaning of batik motif there are still many people who do not know about it, due to a lack of information about the shape of the batik motif. Therefore, this study aimed to describe the study of meaning of the batik motif 1000 Rumah Gadang. This research used qualitative methods, data sources were primary and secondary data obtained from observation, interviews and documentation. The results of the research on the meaning of batik motifs had various meanings, namely: 1) gerbang nagari 1000 rumah gadang motif  means to be suave or good 2) bungo rancak di nagari 1000 rumah gadang motif  means beauty 3) semarak nigari 1000 rumah gadang motif  means festive, beautiful and magnificent 4) rangkiang motif in tangah rimbo means symbolizes prosperity and abundance of treasures 5) rusa di nagari nagari 1000 rumah gadang motif means the nature and attitude of a leader 6)burung merak dan rembulan motif means traits and attitudes one in leading 7) carano motif has the meaning of respect 8) daun balimbiang wuluh motif means to use the plants in our environment 9) Menara songket motif means advice 10) tanduak kabau motif means the symbol of respect 11) daun siriah motif means simplicity 12) mahkota motif means a leader who has power.Keywords: craft, batik, meaning, motifs. AbstrakSanggar Azyanu Batik 1000 Rumah Gadang ialah berupa usaha dalam segi kerajinan membatik yang ada di desa Lundang, kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan. Batik 1000 Rumah Gadang, dari segi nama, bentuk motif dan makna motif batik masih banyak masyarakat yang belum mengetahui, dikarenakan kurangnya informasi tentang bentuk motif batik tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsiskan sebuah kajian untuk makna motif batik 1000 Rumah Gadang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sumber data berupa data primer dan sekunder yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian teknik analisis data yang dipakai yaitu model Miles and Huberman yaitu: pengumpulan data, reduksi data (data reduction), penyajian data, dan menarik kesimpulan. Selanjutnya hasil dari penelitian menunjukan bahwa terdapat berbagai makna motif batik yaitu: 1) gerbang nagari 1000 rumah gadang bermaknakan bersikap ramah tamah atau baik 2) motif bungo rancak di nagari 1000 rumah gadang bermakna kecantikan 3) motif semarak nagari 1000 rumah gadang bermakna meriah, elok dan megah 4) motif rangkiang di tangah rimbo bermakna melambangkan suatu kemakmuran dan kelimpahan harta 5) motif rusa di nagari 1000 rumah gadang motif ini bermakna sifat dan sikap sosok seorang pemimpin 6) motif burung merak dan rembulan bermakna sifat dan sikap seorang dalam memimpin 7) motif carano memiliki makna penghormatan 8) motif daun balimbiang wuluh bermakna memanfaatkan tumbuhan dilingkungan kita 9) motif menara songket bermakna nasehat 10) motif tanduak kabau bermakna simbol penghormatan 11) motif daun siriah bermakna kesederhanaan 12) motif mahkota motif bermakna seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan.Kata Kunci: kerajinan, batik, makna, motif. Authors:Sri Zulfia Novrita : Universitas Negeri PadangMailani Pratiwi : Universitas Negeri Padang References:Ari, W. (2011). Batik Nusantara Makna Filosofis. Cara Pembuatan dan Industri. Bandung: Gramedia.Asti, M., & Arini, A. B. (2011). Batik, Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta: Alfabeta.Biramul, Z. (2012). Mengenal Tenun Songket Sumatera Barat. Padang: Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Sumatera Barat.Couto, N. (1998). Makna dan Unsur-unsur Visual pada Bangunan Tradisonal Minang Kabau: Suatu Kajian Semiotik. Master Dissertation. Bandung:  ITB.Djajasudarma, T. F. (1999). Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: PT Refika Aditama.Oktora, N., & Adriani, A. (2019). Studi Batik Tanah Liek Kota Padang (Studi Kasus di Usaha Citra Monalisa). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 08(1), 129-136.Suhersono, H. (2004). Desain Bordir Motif Flora dan Dekoratif. Bandung: Gramedia Pustaka Utama.Sulchan, Y. (1997). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Amanah.Wulandari, A. (2011). Batik Nusantara Makna Filosofis, Cara Pembuatan dan Industri Batik. Yogyakarta: Andi Offset.