cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 846 Documents
DAMPAK EKSISTENSI MOTIF BATIK WALANG JATI KENCONO TERHADAP PENINGKATAN EKONOMI DAN SOSIAL PENGRAJIN BATIK DI GUNUNGKIDUL I Made Sukanadi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39026

Abstract

This research aims to answer the problem of the impact of the existence of the Walang Jati Kencono batik motif on the social and economic changes of the community and batik craftsmen of Gunungkidul Regency. The existence of regulation from the Regional Government of Gunung Kidul Regency regarding the use of batik uniforms for elementary, junior high, and high school / vocational schools has strengthened the existence of batik products and the sustainability of batik production by batik craftsmen in Gunungkidul. This research uses the qualitative descriptive method. The data collection method uses observation, interview, and documentation techniques. Data validation by triangulation and data analysis used the stages of data reduction, data presentation, and creating conclusions. The results of this study explain that: (1) The existence of the Walang Jati Kencono batik motif, which has been designated as a school uniform in Gunungkidul Regency, has a very impact on social changes in the batik craftsmen, which increases and as the economy improves. (2) The policy of the Gunungkidul Regency government through the Regent's Regulation that raises the Walang Jati Kencono batik motif as a school uniform in the Gunungkidul area strongly supports economic progress and the existence of batik craftsmen in Gunungkidul. (3) The skills of batik makers in Gunungkidul as batik producers can meet the needs of the local market both from the official, school, and tourism sectors.Keywords: batik, walang jati kencono, gunungkidul. AbstrakPenelitian  ini  memiliki tujuan menjawab permasalahan dampak eksistensi motif batik Walang Jati Kencono terhadap perubahan sosial dan ekonomi masyarakat dan pengrajin batik Kabupaten Gunungkidul. Adanya peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten Gunung Kidul tentang penggunaan seragam batik bagi sekolah SD, SMP, SMA/SMK telah memperkuat eksistensi produk batik hasil dan keberlangsungan produksi batik oleh pengrajin batik di Gunungkidul. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validasi data dengan triangulasi dan analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil  penelitian  ini  menjelaskan bahwa:  (1)  Eksistensi motif batik Walang Jati Kencono yang telah ditetapkan sebagai seragam sekolah di  Kabupaten Gunungkidul sangat memberikan dampak terhadap perubahan sosial jumlah pengrajin batik yang meningkat dan seiring dengan peningkatan ekonomi. (2) Kebijakan pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Peraturan Bupati yang mengangkat batik motif Walang Jati Kencono sebagai seragam sekolah di wilayah Gunungkidul sangat mendukung kemajuan ekonomi dan eksistensi pengrajin batik di Gunungkidul. (3) Keterampilan para pembatik di Gunungkidul sebagai produsen batik mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal baik dari sektor dinas, sekolah, dan pariwisata.Kata Kunci:batik, walang jati kencono, gunungkidul. Author :I Made Sukanadi : Institut Seni Indonesia Yogyakarta References :Amidjaja, N. T. (1966). Batik. Jakarta: Djambatan.BAPPEDA, B. (2018). Informasi Pembangunan Kabupaten Gunungkidul. Informasi BAPPEDA, Gunungkidul Yogyakarta: BAPPEDA.Bolaffi, G., & Raffaele, B. (2003). Dictionary of Race, Ethnicity and Culture. London-Thousand Oaks-New Delhi: Sage Publications.Dharsono, D. (2016). Kreasi Artistik Perjumpaan Tradisi Modern Dalam Paradigma Kekaryaan Seni. Karanganyar: Citra Seni Lembaga Pengkajian dan Konservasi Budaya Nusantara.Erawati, N. V., & Kahono, S. (2010). Keanekaragaman dan kelimpahan belalang dan kerabatnya (Orthoptera) pada dua ekosistem pegunungan di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Jurnal Entomologi Indonesia, 7(2), 100-100.Erniwati, E. (2017). Pola Aktivitas dan Keanekaragaman Belalang (Insecta: Orthoptera) di Taman Naasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Jurnal Biologi Indonesia, 5(3).Gustami, S. P. (2008). Nukilan Seni Ornamen Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia, Arindo.Hadiwijiono, H. (2001). Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.Helmiati, H., Misgiya, M., Atmojo, W. T., & Silaban, B. (2020). Eksperimen Pewarnaan Batik Dengan Bahan Alami Buah Naga (Hylocereus Undatus). Gorga : Jurnal Seni Rupa, 9(1), 22. https://doi.org/10.24114/gr.v9i1.16973.Langsing, M. K. (1974). Art, Artist, and Art Education. New York: Mc Graww-Hill Book Company.Mpapa, B. L. (2016). Analisis kesuburan tanah tempat tumbuh pohon jati (Tectona grandis L.) pada ketinggian yang berbeda. Jurnal Agrista, 20(3), 135-139.Natanegara, E. A., & Djaya, D. (2015). Batik Indonesia. In Yayasan Batik Indonesia: Harapan Prima Printing.Nasution, S, and Kaelan, K. (2005). Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi, Disertasi. Jakarta: Bumi Aksara.Pebriyeni, E. (2019). Perkembangan Fungsi Seni Kerajinan Tenun Songket Silungkang. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 8(1), 214. https://doi.org/10.24114/gr.v8i1.13585.Rahayu, S. (2017). Ensiklopedia Keanekaragaman Belalang (Acrididae) Taman Hutan Raya Bunder Gunungkidul Sebagai Sumber Belajar Biologi. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Biologi UIN Sunan Kalijaga.Sembiring, S. B., & Guntur. (2018). Fungsi Topeng Tembut-Tembut Desa Seberaya Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 07(01).Supriono, P. (2016). Ensiklopedia The Heritage of Batik Identitas Pemersatu Kebanggaan Bangsa karya Supriono. Andi Yogyakarta.Turner, V. W. (1982). From Ritual to Theatre (the human seriousness of play). New York: PAJ Publications.Wansaka, A., Hidayah, H. N., & Bakhittah, H. A. (2019). Kampung Batik Manding Siberkreasi sebagai Model Pelestarian Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia, 2(2), 122-140.Wardoyo, S., Wulandari, T., Guntur, Dharsono, & Zularnain. (2021). Penciptaan Selendang Batik Sri Kuncoro Khas Budaya Samin Margomulyo Bojonegoro. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 10(November).Williams, R. (1989). Resources of Hope : Culture, Democracy, Socialism. R. Gable (ed): Verso.Wulandari, T. (2021). Eksistensi Batik Encim Dalam Arena Produksi Kultural Di Pekalongan. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 10(1), 164–171. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.25255.
TARI ASYEIK NITI MAHLIGAI DALAM KARYA RELIEF LOGAM Marten Agung Laksono; Asril Asril
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39069

Abstract

The primary steps of the asyeik niti mahligai ritual are where relief works are produced. Asyeik Niti Mahligai is performed on stage as a test by Bilian Saleh to reach the pinnacle of mysticism. The asyeik niti mahligai dance is being introduced to the public, especially the people of Kerinci, through the creation of this relief. Particularly important is the comprehension of the variations in the asyeik niti mahligai dance that is discussed in the work. The artist's version of the Asyeik Niti Mahligai  dance captures the spirit of the dance that Bilian Saleh did during the traditional procession. The second is created so that it can serve as a resource for other artists, for example, in the production of art that requires the shape of regional customs. Exploration, design, and embodiment were the strategies employed in the creation of this piece. The engraving and pressing process is employed. This two-dimensional piece uses metal reliefs to depict the procession of Bilian Saleh during the asyeik niti mahligai ceremony. Using the right-to-left reading technique, the reliefs are back in two pieces. Asyeik niti mahligai's creator relief ritual serves as a means of conserving local culture and making it accessible to future generations through artistic creations.Keywords: dance, asyeik, niti, mahligai, relief. AbstrakPenciptaan karya relief logam bersumber dari tahapan inti dalam ritual asyeik niti mahligai. Tahapan inti tersebut ialah tari asyeik niti mahligai sebagai ujian yang ditempuh bilian saleh sebagai puncak tertingi ilmu kebatinan. Tujuan penciptaan karya relief ini adalah memperkenalkan kepada masyarakat khususnya masyarakat Kerinci tentang tari asyeik niti mahligai, terutama pemahaman tentang perbedaan tari asyeik niti mahligai yang diangkat dalam karya. Tari yang angkat oleh pengkarya yaitu esensi tari asyeik niti mahligai yang dilaksanakan oleh bilian saleh pada prosesi ritual. Kedua yang diciptakan agar dapat menjadi acuan seniman lainya khususnya pada penciptaan seni rupa yang mengambil bentuk dari tradisi lokal. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini ialah melalui tahapan eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Teknik yang digunakan yaitu teknik ukir tatah dan tekan. Karya yang dihasilkan merupakan karya dua dimensi menguraikan prosesi pengangkatan bilian saleh dalam ritual asyeik niti mahligai dalam bentuk relief logam. Relief berjumlah dua karya dengan teknik membaca dari kanan ke kiri. Penciptaan relief ritual asyeik niti mahligai sebagai salah satu cara terhadap pelestarian budaya lokal agar dapat dikenal sampai generasi selanjutnya dalam bentuk karya seni rupa.Kata kunci: tari, asyeik, niti, mahligai, relief. Authors:Marten Agung Laksono : Institut Seni Indonesia Padangpanjang          Asril : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Beardsley, M. (1958). Aesthetics Problem In The Philosophy Of Criticism. United states Of America: Harcourt Brace & World.Damono, S. D. (2018). Alih Wahana. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.Gustami, S. (2007). Butir-Butir Mutiara Estetika Timur: Ide Dasar Penciptaan Seni Kriya Indonesia. Yogyakarta: Parisista.Helmiati, H., Misgiya, M., Atmojo, W. T., & Silaban, B. (2020). Eksperimen Pewarnaan Batik dengan Bahan Alami Buah Naga (Hylocereus Undatus). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(1), 22-26.Daniati, N., Sastra, A. I., & Dharsono, D. (2018). Perempuan Kerinci sebagai Ide dalam Penciptaan Karya Seni Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 7(2), 129-133.Nopia, R., Akmal, A., & Munaf, Y. (2018). KuloukKerinci dalam Karya Mahkota Putai. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 7(2), 123-128.Putra, Eva Bramanti. (2022), “Sejarah Prosesi Ritual Asyeik Niti Mahlagi”. Hasil Wawancara Pribadi: 12 Januari 2022, Kerinci.
PERANCANGAN TAS MODULAR SEBAGAI PRODUK ECO LIFESTYLE Terbit Setya Pambudi; Pandu Arliando; Teuku Zulkarnain Muttaqin
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39752

Abstract

Eco lifestyle is a lifestyle that emerges as a response to global environmental problems whose mission is to help nature return to its original state and reduce environmental pollution. This lifestyle is achieved by consuming environmentally friendly products, recycling waste, utilizing waste so that it can be reused, and using sustainable products. Therefore, from this lifestyle comes the demand for products that are following the concept of an ecological lifestyle. One of them is the need for bags that can be used for various activities and are environmentally friendly. The bag design is also one of the answers to the problem of plastic bag waste which is one of the most common problems in the world today. The design theme is an ecological lifestyle, aiming to make products that can help save the earth. The research method used in this design uses qualitative methods while the design method uses product differentiation methods. The purpose of this research is to design a modular bag product as a substitute for plastic bags as one of the eco-lifestyle products in its mission to reduce waste and environmental pollution. The product resulting from the research is a bag design with a modular concept so that it can be used in various activities, without having to use different types of separate bags. The modular bag is designed in the form of a bag consisting of several modules that can be disassembled, with the function of being a traveling bag out of the house and a shopping bag.Keywords: ecolifestyle, bags, modular, sustainable. AbstrakGaya hidup ekologis adalah gaya hidup yang muncul sebagai respon terhadap permasalahan lingkungan global yang misinya membantu alam kembali ke keadaan semula dan mengurangi pencemaran lingkungan. Gaya hidup ini dicapai dengan mengkonsumsi produk ramah lingkungan, mendaur ulang sampah, memanfaatkan sampah agar dapat digunakan kembali dan menggunakan produk yang berkelanjutan. Oleh karena itu, dari gaya hidup inilah muncul tuntutan akan produk yang sesuai dengan konsep gaya hidup ekologis. Salah satunya adalah kebutuhan tas yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas dan ramah lingkungan. Desain tas juga menjadi salah satu jawaban atas permasalahan sampah kantong plastik yang menjadi salah satu permasalahan paling umum di dunia saat ini. Tema perancangan ini adalah gaya hidup ekologis, bertujuan untuk membuat produk yang dapat membantu misi penyelamatan bumi. Metode penelitian yang dipakai dalam perancangan ini menggunakan metode kualitatif, sedangkan metode perancangannya menggunakan metode differensiasi produk. Tujuan dari penelitian ini dari penelitian ini adalah merancang produk tas modular sebagai pengganti tas kantong plastik sebagai salah satu produk eco lifestyle dalam misinya puntuk mengurangi sampah dan pencemaran lingkungan. Produk  yang dihasilkan dari penelitian adalah  rancangan tas dengan konsep modular agar mampu digunakan pada berbagai kegiatan, tanpa harus menggunakan berbagi jenis tipe tas yang terpisah. Tas modular yang dirancang berupa tas yang terdiri dar beberapa modul yang dapat dibongkar pasang, dengan fungsi sebagai tas bepergian keluar rumah dan tas belanja.Kata Kunci: ekologis, tas, modular, berkelanjutan. Authors:Terbit Setya Pambudi : Universitas TelkomPandu Arliando : Universitas TelkomTeuku Zulkarnain Muttaqin : Universitas Telkom References:Charter, M. (Ed.). (2018). Designing for the Circular Economy. New York: Routledge.Kotler, P. (2002). Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Jakarta: PT. Prehallindo.Lorenzen, J.A. (2012) Going Green: Proses Perubahan Gaya Hidup 1. Sociological Forum, 27(1), 94–116.McLennan, J. F. (2004). Filosofi Desain Berkelanjutan: Masa Depan Architure. Kota Kansas: Ecotone LLC.Tanner, C., & Kast, S. W. (2003). Mempromosikan Konsumsi Berkelanjutan: Determinan Pembelian Hijau oleh Konsumen Swiss. Psikologi & Pemasaran, 20(10), 883–902. Tilikidou, I., & Delistavrou, A. (2008). Jenis dan Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Ekologis Konsumen yang Tidak Membeli. Strategi Bisnis dan Lingkungan, 17(1), 61–76.Van der Ryn, S., & Cowan, S. (2013). Ecological Design. Washinton DC: Island Press.
MY CHILDHOOD MEMORIES: PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS DEKORATIF Rezi Ilfi Rahmi; Asril Asril
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.33871

Abstract

The creation of art painting entitled “my childhood memories” it based on the moments of the artist childhood memories that visualized into art painting. The childhood has deep impression in artist live. A natural environment, a nice playmate leaving a sweet memories that unforgetable. The traditional situation and a lot of game in nature. The children activity in the hometown located in Marapi’s mountain area, West Sumatera. The artist represent the childhood experience by using decorative style with pointilis technique as the filler or decoration. The aim of the creation is to express the feeling related to the impressive childhood memories. The methods used consist of data collecting, the contemplation and remembering the past and re-visit the place that uses as playground in the childhood. Watching and picking up the documentation, arrange the concept of art planning then copy the sketch into canvas the process the painting on the canvas until art finishing. This creation be viewed into three art painting, in two dimension, which are; the journey to the pond, catching the dragonflies and the favorite tree; which every painting have different side, from visual side that stated and also the feeling that want to tell. Overall all of the art express the childhood in the hometown.Keywords: childhood memories, decorative painting. AbstrakPenciptaan karya seni lukis dengan judul “My Childhood Memories” ini didasari oleh moment-moment pengalaman masa kecil pengkarya yang divisualisasikan ke dalam karya seni lukis. Masa kecil memilki kesan yang mendalam dalam kehidupan pengkarya, lingkungan yang asri dan teman bermain yang menyenangkan meninggalkan kenangan indah yang tidak dapat terlupakan. Kehidupan yang masih tradisinonal dan permainan lebih banyak di alam bersama kawan sebaya. Aktivitas masa anak-anak di kampung halaman, berada di kawasan daerah gunung Marapi, Sumatra Barat. Pengkarya merepresentasikan pengalaman masa kecil itu menggunakan gaya dekoratif dengan teknik pointilis sebagai isian atau hiasan. Tujuan penciptaan karya untuk mengekspresikan perasaan terkait kenangan masa lalu yang berkesan. Metode yang digunakan terdiri dari persiapan pengumpulan data, melakukan perenungan dan mengingat kembali masa lalu dan mendatangi tempat bermain di waktu kecil, mengamati dan mengambil dokumentasi, menyusun konsep dan rancangan karya. Realisasi konsep diawali dengan pembuatan sketsa, kemudian pemindahan sketsa ke kanvas, proses melukis di atas bidang kanvas hingga finishing karya. Karya ini diwujudkan menjadi tiga karya lukisan dalam bentuk dua dimensi, yaitu: Perjalanan Menuju Telaga, Menangkap Capung, dan Pohon Favorit; yang masing-masingnya memiliki perbedaan, baik dari segi bentuk visual yang dimunculkan, maupun perasaan yang ingin disampaikan. Secara keseluruhan karya mengungkapkan bagaimana kenangan masa kecil di kampung halaman.Kata Kunci: kenangan masa kecil, lukisan dekoratif. Authors:Rezi Ilfi Rahmi : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAsril : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Kartika, D. S., & Perwira, N. G. (2004). Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.Marianto, D. (2006). Quantum Seni. Semarang: Dahara Prize.Mustofa, B. (2015). Psikologi Pendidikan. Yokyakarta: Parama Ilmu.Soedarso, SP. (2006). Trilogi Seni. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yokyakarta.Supratman, L. P., & Mahadian, A. B. (2016). Psikologi Komunikasi. Yogyakarta: Deepublish.Susanto, M. (2011). Diksi Rupa. Yogyakarta: DictiArt.Sujanto, A. (1982). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Aksara Baru.Sujanto, A. L. H., & Hadi, T. (1980). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Aksara Baru.Sutrisno, M., & Verhaak, C. (1993). Estetika. Yokyakarta:  Kanisius.
ANALISIS KARYA SENI LUKIS YASRUL SAMI Prety Chia; Nessya Fitryona
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39582

Abstract

Yasrul Sami is one of the West Sumatran artists who is consistent with his work with the abstract expressionism genre. His work is quite unique by featuring unusual elements, such as symbolic letters and numbers. The problem in this research is how the journey of Yasrul Sami's works and the characteristics of his paintings. This research is a qualitative research in the form of descriptive analysis, using the sociological approach of Vera L. Zolberg and art criticism by Edmund Burke Feldman. Data were obtained by using observation, interview, and documentation techniques by Milles and Huberman. The data analysis technique uses data triangulation by Mathinson, namely triangulation of sources, techniques and time. Based on the results of the research, Yasrul Sami's creative journey began when he was little, there were several people involved and became Yasrul's motivation to become an artist as well as a lecturer. Yasrul's work when he was young was in the form of geometric lines, during his junior high school years he painted realistic landscapes. During his high school years, he stopped painting and continued at the SMSR school and continued his education in abstract expressionism until now. Characteristic of Yasrul Sami's work based on an art criticism approach, it was found that the use of symbols of numbers, letters, repeated triangular geometric elements, water droplets and colors that were classified as gloomy matched Yasrul Sami's character. The conclusion of this study is based on sociological theory and art criticism in Yasrul's work is influenced by social and community institutions that shape Yasrul Sami's character. Keywords: Yasrul Sami, abstract, sociology, critic.AbstrakYasrul Sami merupakan salah seorang seniman Sumatera Barat yang konsisten dengan karyanya beraliran abstrak ekspresionisme. Karyanya cukup unik dengan menampilkan elemen yang tidak biasa, seperti huruf dan angka yang simbolik. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana perjalanan karya Yasrul Sami dan ciri khas dari karya lukisnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berupa analisis deskriptif, dengan pendekatan sosiologi Vera L. Zolberg dan kritik seni oleh Edmund Burke Feldman. Data diperoleh dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi oleh Milles dan Huberman. Teknik analisis data menggunakan triangulasi data oleh Mathinson yaitu triangulasi sumber, teknik dan waktu. Berdasarkan hasil penelitian, perjalanan kekaryaan Yasrul Sami dimulai ketika ia kecil, ada beberapa orang yang terlibat dan menjadi motivasi Yasrul untuk menjadi seorang seniman sekaligus dosen. Karya Yasrul ketika kecil berupa goresan garis geometris, masa SMP melukis pemandangan realis, masa SMA berhenti melukis dan dilanjutkan kembali pada sekolah SMSR dan melanjutkan pendidikan kuliah dengan karya abstrak ekspresionisme sampai sekarang. Ciri khas karya Yasrul Sami berdasarkan pendekatan kritik seni didapatkan bahwa penggunaan simbol angka, huruf, elemen geometris segitiga berulang, tetesan air dan warna yang tergolong suram sesuai dengan karakter Yasrul Sami. Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan dari teori sosiologi dan kritik seni dalam berkarya Yasrul dipengaruhi oleh instusi sosial dan masyarakat yang membentuk karakter Yasrul Sami.Kata Kunci: Yasrul Sami, abstrak, sosiologi, kritik. Authors:Prety Chia : Universitas Negeri PadangNessya Fitryona : Universitas Negeri Padang References:Donny, P. (2022). “Menganalisis Unsur-Unsur Karya”. Hasil Wawancara Pribadi: 3 Oktober 2022, Kota Padang.Dita, D. (2022).  “Menganalisis Unsur-Unsur Karya”. Hasil Wawancara Pribadi: 3 Oktober 2022, Kota Padang.Fauzie, M. (2017). Prosedur Kritik Seni Rupa.   Makalah tidak diterbitkan. Pendidikan Seni Rupa UNP Padang.Fitryona, N., & Erfahmi, S. (2013). Eksistensi Nurdin BS dalam Berkarya Seni Lukis. Serupa The Journal of Art Education, 1(3).Jasrizal, R. (2022). “Kajian Seni Rupa”. Hasil Wawancara Pribadi: 02 Agustus 2022, SMK Negeri 4 Padang.Katalog, K. (2004). Mempertimbangkan Tradisi Kampung dan Rantau. Jakarta: Panitian Pameran.Katalog, K. (2018). Japuik Tabao Jilid 3. Jakata: Bentara Budaya Jakarta.Muklisin, M., & Triyanto, R. (2020). Analisis Formal Lukisan Andi Ian Surya. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 292-299.Salam, S. (2020). Pengetahuan Dasar Seni Rupa. Makassar: Badan Penerbit      UNM.Soedarso, S. P. (2002). Pengantar Apresisasi Seni. Yogyakarta: STSRI.Sami, Y. (2022). “Warna Terang dalam Karyanya”. Hasil Wawancara Pribadi:  02 Februari 2022, Kota Padang.Hazry, Z. (2022). “Bersama Teman Sesenimannya”. Hasil Wawancara Pribadi: 02 Agustus 2022, SMK Negeri 4 Padang.Zolberg, V. L. (1990). Constructing a Sociology of The Arts. New York : Cambridge University Press.
IMPLEMENTASI RAGAM HIAS SONGKET PALEMBANG PADA RUANG PUBLIK SEBAGAI REPRESENTASI ESTETIK BUDAYA LOKAL PALEMBANG Husni Mubarat; Saaduddin Saaduddin; Muhsin Ihaq
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39818

Abstract

The Goverment of Palembang has shown their efforts on introducing "songket"  to public this movement can be seen from several buildings (public area) decorated with "songket" traditional pattern adding up the beauty and the image of Palembang local culture. However, as can be seen in some of its application are not stipulate the aesthetic rules, such as shape, color combination from "songket" pattern  and the building are not consistent and looks forced. This research has been done to analyze the form, meanings, and the presentation of "songket" Palembang traditional pattern in public area with aesthetic approach. Analysis method that used in this research are (1) intraaesthetic  method, is study of art which is related with physics manifestation such as, shapes and pattern. (2) extraaesthetic factor, is the study of an aspect come from to support the art itself itself such as, physiologist, society, culture, and nature. The results of this explanation are (1) form, the pattern of Palembang "songket" Which are implemented at few public area have the shape of bungo tanjong decoration, also pattern of berante star and pucuk rebong with maroon, green, yellow and gold color combination. (2) meanings, bungo tanjung pattern on "songket" Palembang represent hospitality, pucuk rebung pattern means luck, like the philosophy of bamboo tree which growth and bloom together, berante star pattern has the meaning of family relationship. (3) the presentation of tradisional "songket" Pattern implemented on public area building in Palembang like, gates and wall structure. The implementation of "songket" Pattern at some public area are an honor of Palembang cultural heritage from the past which is can fulfill the aesthetic desire of every citizen as visual cultural identity ( visual identity) although as educational media which is observed from messenge, meanings, and other important points which are implement on those pattern.Keyword : pattern, songket, Palembang, implementation, public. AbstrakUpaya pemerintah Kota Palembang memperkenalkan songket pada masyarakat luas terlihat dari beberapa bangunan (ruang publik) yang dihiasi dengan motif songket agar dapat menambah keindahan dan membangun citra kearifan lokal. Namun terlihat di beberapa penerapannya masih kurang memperhatikan kaidah-kaidah estetika, seperti bentuk dan kombinasi warna antara motif songket dan bangunan yang tampak tidak selaras dan terkesan dipaksakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalaisis wujud, bobot, dan penyajian motif songket Palembang pada ruang publik dengan pendekatan estetika. Adapun metode analisis yang digunakan, (1) analisis intraestetik, yaitu kajian karya seni yang berkaitan dengan manifestasi fisik, seperti bentuk dan corak, (2) faktor ekstraestetik, yaitu kajian terhadap aspek menjadi pendukung hadirnya karya seni, seperti psikologis, sosial, budaya, dan lingkungan alam. Hasil dan pembahasan, (1) wujud, motif songket Palembang yang diimplementasikan pada ruang publik berupa ragam hias bungo tanjong, motif bintang berante dan pucuk rebong dengan kombinasi warna merah maroon, warna hijau, kuning, dan warna keemasan, (2) bobot, motif songket Palembang bungo tanjung menunjukkan keramahtamahan, motif pucuk rebung bermakna keberuntungan layaknya filosofis pohon bambu yang tumbuh dan berkembang serta selalu hidup bersama, motif bintang berante memiliki makna hubungan kekeluargaan, (3) penyajian, motif songket diimplementasikan pada bangunan ruang publik di Kota Palembang, seperti gerbang, pagar dan dinding bangunan. Penerapan motif songket pada ruang publik merupakan penghargaan terhaddap tinggalan budaya masa lampau yang dapat memenuhi hasrat estetik masyarakat, sebagai identitas budaya visual (visual identity) maupun sebagai media edukatif yang dikaji melalui pesan, makna dan nilai-nilai yang terkandung pada motif tersebut.Kata Kunci: motif, songket, Palembang, implemenasi, publik.  Authors:Husni Mubarat : Universitas Indo Global MandiriSaaduddin : Institut Seni Indonesia PadangpanjangMuhsin Ilhaq : Universitas PGRI Palembang References:Djelantik, A. A. M. (1999). Estetika Sebuah Pengantar (T. Razen (ed.); 1st ed.). Bandung: MSPI.Guntur. (2004). Ornamen Sebuah Pengantar (I). P2AI Surakarta.Hendra, H., & Agustin, D. (2022). Eksistensi Tenun Songket Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 11(1), 202. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.28908.Izzara, W. A., & Nelmira, W. (2021). Desain Motif Tenun Songket Minangkabau Di Usaha Rino Risal Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 10(2), 423. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.25928.Lestari, A., & Hera, D. W. (2021). Makna Motif Nago Besaung pada Kain Songket Pengantin di Rumah Songket Adis Palembang. Ars: Jurnal Seni Rupa Dan Desain, 24(2), 135–142. https://doi.org/10.24821/ars.v24i2.4253.Mata Jendela Seni Budaya Yogyakarta. (2016). Mengartikulasikan Ruang Publik dan Karya Seni Akal Tidak Sehat. XI (1).p. 1-42.M, S. T. (2000). Mengenal Ragam Hias Indonesia (3rd ed.). Penerbit Angkasa.Mubarat, H., & Iswandi, H. (2018). Aspek-Aspek Estetika Ukiran Kayu Khas Palembang. Jurnal Ekspresi Seni, 20, 139–152. https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Ekspresi/article/view/403/295.Rohidi, T. R. (2011). Metodologi Penelitian Seni. Semarang: Penerbit Cipta Prima Nusantara Semarang CV.Rosita, H., Putri, D., & Destiarmand, A. H. (2020). Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Jurnal Ekspresi Seni Songket Motif Development of Ogan Ilir.Sila, I. N., & Made, B. I. D. A. (2013). Kajian Estetika Ragam Hias Tenun Songket Jinengdalem. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(1), 158–178.Syarofie, Y. (2009). Songket Palembang: Nilai Filosofis, Jejak Sejarah, dan Tradisi (2nd ed.). Palembang: Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan Dinas Pendidikan.Viatra, A. W., & Triyanto, S. (2014). Seni Kerajinan Songket Kampoeng Tenundi Indralaya, Palembang. Ekspresi Seni, 16(2), 168. https://doi.org/10.26887/ekse.v16i2.73.
TRANSFORMASI MOTIF TRADISI DARI MEDIA 2D KE 3D SEBAGAI BENTUK PELESTARIAN BUDAYA VISUAL LAMPUNG Maria Veronika Halawa; Putri Kholida
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39856

Abstract

Each region undoubtedly owns traditional visual culture, and the most common are traditional motifs whose existence is now increasingly evident. The bamboo shoots (pucuk rebung), boats (kapal), and ferns (pucuk pakis) motifs are part of the traditional Lampung motifs, which are generally found on traditional fabrics used in traditional Lampung cultural events. In its development, these motifs are dominantly used by Lampung people to produce new products in 3D (three-dimensional) media which previously used 2D media forms. The purpose of this research is to see how far the transformation process of these motifs has developed and its application in new 3D media. The method used is qualitative through field observations and interviews. The results showed that the transformation started from 3D media, which was then developed on 2D media (custom cloth), and is currently being developed again on 3D media. This transformation process is considered necessary and reasonable and has the support of the people of Lampung. With the cultural change, these traditional motifs are increasingly known by the people of Lampung and the broader community.Keywords: transformation, traditional motifs, 2D, 3D  AbstrakBudaya visual tradisional tentunya dimiliki oleh setiap daerah, paling umum adalah motif-motif tradisi yang pada zaman sekarang semakin jelas eksistensinya. Pucuk rebung, kapal, dan pucuk pakis, merupakan bagian dari motif tradisi Lampung, yang pada umumnya banyak dijumpai pada kain-kain adat, yang digunakan dalam acara adat tradisional masyarakat Lampung. Dalam perkembangannya, motif-motif tersebut dominan digunakan oleh pemilik budaya untuk memproduksi produk-produk budaya baru melalui media tiga dimensi (3D) yang sebelumnya lebih banyak diterapkan bentuk media dua dimensi (2D). Tujuan dari penelitian ini antara lain melihat perkembangan proses transformasi motif tradisi, serta penerapannya dalam media 3D. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan observasi lapangan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi justru dimulai dari media 3D yang kemudian dikembangkan pada media 2D, seperti kain adat, dan pada saat ini kembali lagi dikembangkan pada media 3D. Proses transformasi ini dianggap perlu dan wajar, dan mendapat dukungan dari masyarakat Lampung. Dengan adanya proses perubahan budaya tersebut motif-motif tradisi ini menjadi semakin dikenal oleh masyarakat Lampung khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.Kata Kunci: transformasi, motif tradisi, 2D, 3D. Authors:Maria Veronika Br Halawa : Institut Teknologi SumateraPutri Kholida : Institut Teknologi Sumatera References:Nur, M. H. A., Susyanti, S., & Budiman, A. (2019). Persepsi Visual Anak Muda Bandar Lampung Terhadap Motif Khas Lampung (Pucuk Rebung dan Kapal). Jurnal Bahasa Rupa, 3(1), 22-30.Fadila, A. (2017). Penerapan geometri transformasi pada motif Batik Lampung. In Semasdik Universitas Muhammadiyah Metro: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan (365-370).Irwan, I. (2021). “Transformasi Motif-motif Lampung di benda kerajinan”.  Hasil Wawancara Pribadi: 10 Juli 2021, PKOR Way Halim Lampung.Lisianti, S., Hagijanto, A. D., & Malkisedek, M. H. (2020). Kajian Visual Siger dalam Budaya Kontemporer Masyarakat Lampung. Jurnal DKV Adiwarna, 1(16), 11.Mesra, M., Kartono, G., & Ibrahim, A. (2022). Penerapan Ornamen Tradisional Sumatera Utara Pada Toples Makanan Sebagai Sarana Revitalisasi. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 81-88.Mikaresti, P., & Mansyur, H. (2022). Pewarisan Budaya Melalui Tari Kreasi Nusantara. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 147-155.Nasukah, B., & Winarti, E. (2021). Teori Transformasi dan Implikasinya pada Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam. Southeast Asian Journal of Islamic Education Management, 2(2), 177-190.Nugroho, M. P., Cahyana, A., & Falah, A. M. (2021). Penelitian Antropologi Kajian Etnografi Visual Pada Kain Tapis Lampung. ATRAT: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 18-26.Rahmat, S. P. N. (2021). Transformasi Dokumen Komunikasi Visual Sampul Buku Digital Dalam Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Sosial Budaya Bidang Desain Komunikasi Visual. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 172-183.Sachari, A., & Yan, Y. S. (2001). Wacana Transformasi Budaya. Bandung: ITB.Sari, D. M., & Purnomo, E. (2021). Efektifitas Usability (Penggunaan) Sign System Tempat Wisata Kota Sawahlunto sebagai Kota Tambang Berbudaya. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 254-261.Sari, G. P., & Arief, D. R. (2022). Transformasi Ragam Hias Kawung Kedalam Desain Bentuk Pola Modul Untuk Digunakan Pada Proses Pembuatan Produk Kulit Dengan Mendayagunakan Perca Kulit Menggunakan Teknik Modular Interlocking. Berkala Penelitian Teknologi Kulit, Sepatu, dan Produk Kulit, 21(1), 56-67.Wahyuningsih, E. (2022). “Analisis Penerapan  Mengenai Motif Tradisi Lampung”. Hasil Wawancara Pribadi: 8 Oktober 2022, Museum Lampung.
BUSHCRAFT DALAM KARYA UKIR BATU Angga Elpatsa; San Ahdi; Defrizal Saputra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.38312

Abstract

So far, many people don't know the term Bushcraft in detail, even though we see this language very often on our social media. In a narrow sense, some of us think that bushcraft is about adventure in the wild, or there are also those who think that this is the same as the science of survival in the wild. Indeed, some of these points of view are a bit close to the notion of bushcraft itself, both are related to survival in the wild, but there are differences. Bushcraft is more about using primitive tools made by hand as a medium for survival in the wild. This is one of the author's goals in the creation of this stone carving, using primitive human knowledge as a technique for survival. The method of creating this stone carving work is by elaboration and synthesis. Elaboration is an activity carried out by the author to find and collect the required data and work carefully. Then the data is analyzed in detail in the preparation process. Synthesis is a process of combining the results of the elaboration to be realized in a form of concept work. The creation of this work is an implementation of primitive culture as a way to survive. This stone carving later developed into a work of art that has aesthetic value in today's society. Not only as a form of survival in the wild, even bushcraft scholarship can also be a medium of survival in this era of globalization.Keyword : bushcraft, carving, stone. AbstrakIstilah Bushcraft sejauh ini masih banyak yang belum mengetahui secara detail, walaupun penggunaan bahasa ini sangat sering kita lihat dalam media sosial kita. Dalam makna sempitnya sebagian kita menganggap bushcraft ialah tentang berpetualang di alam liar, atau ada juga yang menganggap hal ini sama dengan keilmuan bertahan hidup di alam liar. Memang beberapa sudut pandang tersebut sedikit berdekatan dengan pengertian bushcraft itu sendiri, sama-sama berkaitan dengan bertahan hidup di alam liar, namun ada perbedaannya. Bushcraft lebih kepada penggunaan alat-alat primitif yang dibuat oleh tangan sebagai media untuk bertahan hidup di alam liar. Inilah salah satu tujuan penulis dalam penciptaan karya ukir batu ini, menggunakan keilmuan manusia primitif tersebut sebagai teknik untuk bertahan hidup. Metode penciptaan karya ukir batu ini adalah dengan elaborasi dan sintesis. Elaborasi merupakan kegiatan yang dilakukan penulis untuk mencari dan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan serta pengerjaan karya dengan teliti. Kemudian data-data tersebut dianalisis secara rinci dalam proses persiapan. Sedangkan Sintesis merupakan suatu proses penggabungan hasil dari elaborasi untuk diwujudkan dalam sebuah bentuk konsep karya. Penciptaan karya ini merupakan   implementasi dari budaya primitif sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup. Ukiran batu ini kemudian berkembang menjadi sebuah karya seni yang bernilai estetik di tengah kehidupan masyarakat sekarang. Bukan hanya sebagai bentuk bertahan hidup di alam liar bahkan keilmuan bushcraft ini juga bisa menjadi sebagai media bertahan hidup di era globalisasi seperti sekarang ini.Kata kunci: bushcraft, ukiran, batu. Authors:Angga Elpatsa : Universitas Ngeri PadangSan Ahdi : Universitas Ngeri PadangDefrizal Saputra : Universitas Ngeri Padang References:Adiyuwono, N. S. (2008). Survival. Teknik Bertahan Hidup Di Alam Bebas. Bandung: Angkasa.Bahari, N. (2008). Kritik Seni Wacana: Wacana Apresiasi  dan  Kreasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Fenton, L. (2016). Bushcraft and Indigenous Knowledge : Transformation of a Concept in the Modern World. Doctoral of Philosophy (PhD) Thesis, Inggris: University of Kent.Justin, M. R., Rohiman, R., & Darmawan, A. (2022). Desain Identitas Visual pada UMKM Ruang Keramik Studio Kota Metro Lampung. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 156-164. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.34948.Grave, R. (1984). Australian Bushcraft: A Guide To Survival & Camping. Australia: Pty Ltd.Kusrianto, A. (2009). Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset.Kartika, D. S. (2003). Tinjauan Seni Rupa Modern. Surakarta: Departemen Pendidikan Nasional STSI Surakarta.Marah, R. (1988). Ragam Hias Minangkabau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Maulana, A. (2009). Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Absolut.Oxford, E. D. (1989). A New English Dictionary on Historical Principles (NED).English: Oxford University Pressamadhan, M. S., Yulianti, K. N., & Ananta, D. (2022). Inovasi Produk Fashion dengan Menerapkan Karakter Visual Chiaroscuro Menggunakan Teknik Cetak Tinggi Cukil Kayu Block Printing. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 192-201. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.33052.Susanto, M. (2012). Diksi Rupa: Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa. Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagad Art House.
ANALISIS PROSES PEREKAMAN MUSIK DENGAN METODE DIGITAL DI SANGGAR BUANA BANDA ACEH MASA PANDEMI CIVID-19 Benny Andiko; Benni Andika; Sabri Gusmail
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.38737

Abstract

This research is entitled "Analysis of Music Recording Process with Digital Methods in Sanggar Buana Banda Aceh during the COVID-19 Pandemic". This study aims to determine the process of recording music using the Digital Method at Sanggar Buana Banda Aceh during the Covid-19 Pandemic. The tracking process of music recording on each instrument is recorded in the track.The overdub process is done by adding a new recording at the same time as the previously made recording is being played.The editing process uses an audio editor to enhance certain parts. The mixing process balances and combines the recorded tracks by prioritizing the principle of necessity. The equalizing process creates the sound character of traditional musical instruments based on the concept of sound frequency. The sound effect process provides an effect to strengthen the sound character of traditional musical instruments. The mastering process sets the standard volume, adjusts the frequency, removes or reduces effects that interfere with the character of the sound, balances and finalizes the audio as a whole. The research method used in this research is qualitative research as a research procedure that produces descriptive data in the form of written information and analysis using Studio One 5 software. The stages of data collection are: observation; literature review; interviews and documentation. The results and discussion of this research are; digital music recorder at Sanggar Buana Banda Aceh using digital recording equipment as follows; the Warm Audio WA 47 JR condenser microphone uses ambient miking techniques, the Focusrite Scarlett 18i8 3rd Gen audio interface; uses a multitrack recording technique with separate vocal tracks from Rapa'i; medium for delivering vocals and Rapa'i; the storage media is PreSonus Studio One 5 software. The recording process with the stages of tracking, overdub, editing, mixing, equalizing, sound effects and mastering.Keywords: analysis, recording process, music, sanggar buana. AbstrakPenelitian ini berjudul “Analisis Proses Perekaman Musik dengan Metode Digital di Sanggar Buana Banda Aceh pada Masa Pandemi COVID-19”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Proses Perekaman Musik dengan Metode Digital di Sanggar Buana Banda Aceh pada Masa Pandemi COVID-19. Proses tracking dari perekaman musik pada setiap instrument direkam dalam track. Proses overdub dilakukan dengan menambahkan rekaman baru pada saat yang bersamaan dimainkan rekaman yang telah dibuat sebelumnya. Proses editing menggunakan audio editor untuk menyempurnakan bagian tertentu. Proses mixing menyeimbangkan dan menggabungkan track rekaman dengan mengutamakan prinsip kebutuhannya. Proses equalizing menciptakan karakter bunyi dari alat musik tradisi berdasarkan konsep frekuensi bunyi. Proses sound effect memberikan efek untuk memperkuat karakter bunyi dari alat musik tradisi. Proses mastering menetapkan standar volume, mengatur frekuensi, menghilangkan atau menurunkan efek yang mengganggu karakter bunyi, menyeimbangkan dan finalisasi audio secara utuh. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa informasi tertulis dan analisis menggunakan software Studio One 5. Tahapan pengumpulan data yaitu: observasi; studi pustaka; wawancara dan dokumentasi. Hasil dan pembahasan dari penelitian ini yaitu; perekam musik dengan metode digital di Sanggar Buana Banda Aceh menggunakan peralatan rekaman digital sebagai berikut; microphone condenser Warm Audio WA 47 JR menggunakan teknik ambient miking, audio interface Focusrite Scarlett 18i8 3rd Gen; menggunakan teknik perekaman multitrack dengan track vokal terpisah dari Rapa’i; media penyampai vokal dan Rapa’i; media penyimpan yaitu software PreSonus Studio One 5. Proses rekaman dengan tahapan tracking, overdub, editing, mixing, equalizing, sound effect dan mastering.Kata Kunci: analisis, proses perekaman, musik, sanggar buana. Authors:Benny Andiko : Institut Seni Budaya Indonesia AcehBenni Andika : Institut Seni Budaya Indonesia AcehSabri Gusmail : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Andiko, B & Denada, B. (2021). Analisis Timbre Rapa’i Buatan Fajar Siddiq di Desa Kayee Lheu, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar (Kajian Musik Multimedia). Gorga: Jurnal Seni Rupa¸10(02), 495-507. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.28382.Audio, W. (2022). Cardioid Condenser Microphone WA 47-jr. https://warmaudio.com/wa47jr/ (diakses pada 8 Agustus 2022).Focusrite, F. (2022). Audio Interface Focusrite Scarlett 18i8 3rd Gen. https://focusrite.com/en/usb-audio-interface/scarlett/scarlett-18i8  (diakses pada 10 Agustus 2022).Huber, D. M,. & Runstein, R. E. (2017) Modern Recording Techniques. Routledge: Focal Press.Lefaan, A.Y. (2010). Studio Rekaman Musik Di Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.28382.Moleong, L. J. (1995). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Sukman, F. F., & Gusmail, S. (2019). Eksistensi Tari Ratoh Bantai di Sanggar Buana Banda Aceh. Jurnal Ekspresi Seni, 21(2). http://dx.doi.org/10.26887/ekspresi.v21i2.961.Walzer, D. A. (2016). Software-Based Scoring and Sound Design. Music Educators Journal, 103(1), 22-36. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0027432116653449.Wirandi, R., Permata, M. M. B., & Denada, B. (2020). Sistem Tata Kelola Grup Rapa’i Daboh Bungong Jeumpa Bantimoh di Kawasan Pemukiman Pasca Tsunami Aceh, Care, Kota Jantho. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 347-358. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.20659.
POWER PEREMPUAN DALAM TRADISI MUSIK BECANANG DI BENER MERIAH Rika Wirandi; Fifie Febryanti Sukman
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.40085

Abstract

This study aims to identify and examine the existence and role of women in the bronze musical tradition: becanang in Bener Meriah. The extent of the role of men in Aceh, including various forms of performing arts activities known as Islamic – the becanang music culture has survived for a long time until now with supporters and performers of the culture being women. The importance of this research to be carried out for several reasons and considering the lack of studies on traditional music from a gender perspective to date in Indonesia, especially in Aceh. In addition, the reason for the low interest of traditional music researchers to conduct studies on the presence of women in Indonesian music culture from a gender perspective. This research uses descriptive qualitative research methods using several data collection techniques, including: literature studies and static archives, direct observation, interviews with sources from various backgrounds, documenting object events contextually, to the selection stage to field data analysis. The gender perspective is an analytical perspective that will later be used to look at gender issues in becanang music culture and the role and existence of women in the life of this musical tradition. This study concludes that, becanang can be regarded as entertainment music and music to encourage work whose musical traditions are brought to life by women. All types of traditional music that use canang musical instruments (bronze and bamboo) as well as arts that use the term "canang" are played and brought to life by women and are only spread around the Central, South, and Southeast regions of Aceh Province.Keywords: becanang, women, bener meriah, Aceh. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menilik keberadaan dan peranan perempuan dalam tradisi musik perunggu: becanang di Bener Meriah. Luasnya peran laki-laki di Aceh, termasuk berbagai bentuk aktivitas seni pertunjukan yang dikenal Islami – kebudayaan musik becanang bertahan sejak lama sampai saat ini dengan pendukung dan pelaku kebudayaannya adalah perempuan. Pentingnya penelitian ini untuk dilakukan atas beberapa alasan serta menimbang masih minimnya sampai hari ini kajian tentang musik-musik tradisional dalam perspektif gender di Indonesia, terutama di Aceh. Di samping itu, alasan rendahnya minat peneliti-peneliti musik tradisional untuk melakukan studi tentang keberadaan perempuan dalam budaya musik di Indonesia dalam perspektif gender. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, di antara: studi literatur dan arsip statis, observasi langsung, wawancara dengan narasumber dari berbagai latar belakang, pendokumentasian peristiwa objek secara kontekstual, hingga tahap seleksi hingga analisis data lapangan. Perspektif gender merupakan sudut pendang analisis yang nantinya akan dipakai dalam melihat persoalan gender dalam kebudayaan musik becanang serta peran dan keberadaan perempuan dalam kehidupan tradisi musik tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, becanang dapat dikatakan sebagai musik hiburan dan musik penyemangat bekerja yang tradisi musiknya dihidupkan oleh perempuan. Semua jenis musik tradisi yang menggunakan alat musik canang (perunggu dan bambu) maupun kesenian yang menggunakan istilah “canang” dimainkan serta dihidupkan oleh perempuan dan hanya tersebar di sekitar wilayah Tengah, Selatan, dan Tenggara di Provinsi Aceh.Kata Kunci: becanang, perempuan, bener meriah, Aceh.Authors:Rika Wirandi : Institut Seni Budaya Indonesia AcehFifie Febryanti Sukman : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Bungin, B. (2015). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Edisi Kedua. Jakarta: Prenada Media Groups.Hurgronje, C. S. (1996). Tanah Gayo dan Penduduknya. Jakarta: Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS).Hutajulu, R. (2003). Power, Gender, dan Musik pada Masyarakat Batak Toba: Opera Batak sebagai Wadah ekspresi Perempuan. Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, XII. 113-136.Jannah, R. (2020). Sakdiah: Negosiasi Gender dalam Musik Pop Gayo. Semarang: Elsa Press.Koskoff, E. (2014). A Feminist Ethnomusicology: Writings on Music and Gender. Urbana: University of Illinois Press.Manalu, N. A., & Sukman, F. F. (2020). Tari Seudati Inong sebagai Wujud Representasi Kesetaraan Gender Dikabupaten Aceh Besar. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 367-376. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.20673.Nettl, B. (2012). Theory and Method in Ethnomusicology. Terj. Nathalian H.D.P Putra. Teori dan Metode dalam Etnomusikologi. Jayapura: Jayapura Center of Music.Saraswati, I. (2022). Mencari Perempuan dalam Kritik Kiwari. Serunai.co. https://serunai.co/2019/03/26/mencari-perempuan-dalam-kritik-musik-kiwari/ (diakses tanggal 01 Maret 2022).Wirandi, R., & BP, M. M. (2021). Fungsi Musik dalam Upacara Perayaan Ritual Thaipusam Etnis Hindu Tamil di Banda Aceh. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 415-422. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.28379.