cover
Contact Name
Agung Rorhi Prayudha
Contact Email
agungrorhiprayudha@usk.ac.id
Phone
+6281947933377
Journal Mail Official
agungrorhiprayudha@usk.ac.id
Editorial Address
Jln. Tgk Hasan Krueng Kalee Kopelma Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Aceh.
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Busana dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 28089847     DOI : https://doi.org/10.24815/jbb
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Busana dan Budaya merupakan jurnal ilmiah nasional yang menerbitkan artikel yang telah ditelaah reviewer/mitra bestari. Jurnal ini bertujuan untuk mendokumentasikan beragam jenis busana tradisional dari berbagai suku, daerah, dan komunitas etnis di Indonesia, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan evolusi busana budaya Indonesia dari masa lalu hingga saat ini. Selain itu, jurnal ini juga bertujuan untuk mengungkap dampak sosial, ekonomi, dan budaya dari revitalisasi dan pelestarian busana budaya asli Indonesia. Jurnal Busana dan Budaya terbit dua kali dalam satu tahun pada Bulan april dan Oktober. Melalui jurnal ini, diharapkan dapat meningkatkan apresiasi dan kesadaran masyarakat terhadap kekayaan budaya Indonesia, serta memberikan wawasan bagi desainer, pengrajin, pemerhati budaya, dan pemangku kebijakan untuk lebih menghargai, merawat, dan mengembangkan busana budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya bangsa. Scope Jurnal ini mencakup penelitian yang difokuskan secara khusus pada busana budaya Indonesia, tetapi tidak terbatas pada: Pakaian adat, Busana upacara, Busana perkawinan dan Busana sehari-hari yang mewakili nilai-nilai budaya dan tradisi yang autentik, Pendidikan/Pembelajaran Tata Busana, Industri fishion, Budaya makanan daerah Indonesia, Adat/tradisi budaya dalam kehidupan masyarakat
Articles 53 Documents
PENGARUH ASIMILASI BUDAYA TERHADAP PENGGUNAAN BUSANA PENGANTIN MELAYU DI KECAMATAN KARANG BARU ACEH TAMIANG Husnah, Nurul; Dewi, Rosmala; Fitriana, Fitriana
Jurnal Busana & Budaya Vol 3, No 1 (2023): Edisi April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jbb.v3i1.32517

Abstract

Busana Melayu merupakan representasi kultur dan budaya Melayu dalam bidang berpakaian, memiliki nilai simbolis khas Melayu yang sarat makna dan dipakai sesuai dengan kondisi, waktu, maksud dan tujuan. Nilai-nilai budaya dan keagamaan menjadi ciri khas busana pengantin Melayu Tamiang harus tetap dipertahankan dalam perkembangan busana pengantin Melayu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dampak positif dan negatif asimilasi, perkembangan gaya busana pengantin Melayu, dan eksistensi busana pengantin Melayu di Desa Medang Ara Kecamatan Karang Baru Aceh Tamiang. Jenis penelitian merupakan deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dokumentasi dan triangulasi. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan kesimpulan/ verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan asimilasi di Aceh Tamiang tidak hanya disebabkan oleh keadaan masyarakat yang multietnis, namun banyak faktor yang mempengaruhinya diantaranya sikap toleransi masyarakat, keterbukaan masyarakat terhadap hal baru, dan pernikah campur dengan suku lain (amalgamasi). Asimilasi menyebabkan masyarakat kurang memahami budaya sendiri, sehingga mengubah pandangan masyarakat terhadap busana adat pengantin. Calon pengantin dalam memilih busana pengantin tidak berdasarkan kebudayaan yang dimilikinya, melainkan berdasarkan trend dan nilai estetika. Tolak ukur masyarakat dalam memilih baju adat bukan berdasarkan nilai-nilai kebudayaan yang ditampilkan. Namun, beberapa responden tetap mempertahankan tradisi dan menggunakan busana pengantin Melayu secara autentik dengan mengedepankan nilai-nilai kebudayaan. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang perubahan tren busana pengantin Melayu dan implikasi dari asimilasi budaya terhadap keberlangsungan budaya Melayu di daerah tersebut.Kata kunci: Asimilasi Budaya, Busana Pengantin, Aceh TamiangMalay fashion is a representation of Malay culture and culture in the field of dress, has a typical Malay symbolic value that is full of meaning and is used according to conditions, time, purpose and purpose. Cultural and religious values that characterize the Tamiang Malay bridal fashion must be maintained in the development of Malay bridal fashion. The purpose of this research is to identify the positive and negative impacts of assimilation, the development of Malay bridal fashion styles, and the existence of Malay bridal fashion in Medang Ara Village, Karang Baru District, Aceh Tamiang. The type of research is descriptive qualitative and data collection is done through observation, interviews documentation and triangulation. Data analysis techniques through data reduction, data presentation and conclusion/verification. The results showed that assimilation in Aceh Tamiang was not only caused by the multiethnic state of the community, but many factors influenced it including the attitude of community tolerance, community openness to new things, and mixed marriages with other tribes (amalgamation). Assimilation causes people to understand less about their own culture, thus changing people's views on traditional bridal attire. The bride-to-be in choosing a bridal outfit is not based on the culture she has, but based on trends and aesthetic values. The community's benchmark in choosing traditional clothes is not based on the cultural values displayed. However, some respondents still maintain the tradition and use Malay bridal clothing authentically by prioritizing cultural values. The results of this study can provide an overview of changes in Malay bridal fashion trends and the implications of cultural assimilation for the sustainability of Malay culture in the area.Keywords: Cultural Assimilation, Bridal Fashion, Aceh Tamiang
PENGEMBANGAN DESAIN BUSANA MODIFIKASI ADAT GAYO MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN MOODBOARD Jannata, Nabila Fatin; Fadhilah, Fadhilah; Mukhirah, Mukhirah
Jurnal Busana & Budaya Vol 3, No 1 (2023): Edisi April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jbb.v3i1.34608

Abstract

Mata kuliah Cipta Karya dan Desain Busana Khusus merupakan mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa pada Konsentarasi Tata Busana. Proses Pembelajaran dalam mendesain diperlukan adanya media pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan ide-ide dalam mendesain agar lebih mudah dalam mengerjakan sebuah pembuatan desain. Moodboard merupakan sebuah papan yang berisi kumpulan ide dalam bentuk potongan gambar, teks atau contoh dari suatu objek. Moodboard digunakan sebagai media yang mempermudah dalam menemukan dan mengembangkan kreativitas sebuah ide. Penelitian ini bertujuan untuk: Menghasilkan produk media pembelajaran berupa media moodboard pada Mata Kuliah Cipta Karya dan Desain Busana Khusus dan mengetahui kelayakan media pembelajaran berupa media moodboard. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif kuliah yang akan menempuh Mata Kuliah Cipta Karya dan Desain Busana Khusus. Penentuan sampel menggunakan sampling sistematis sebanyak 12 mahasiswa dan melibatkan ahli materi dan ahli media dalam validasi produk. Metode pengumpulan data menggunakan metode angket dengan pengukuran Skala Likert untuk mendapatkan tanggapan dari ahli materi, ahli media serta mahasiswa terhadap media pembelajaran moodboard yang dikembangkan. Penelitian ini menghasilkan moodboard dengan dua gagas yaitu gagas motif dan gagas warna. Hasil uji kelayakan berdasarkan penilaian oleh ahli materi, ahli media serta mahasiswa kelayakan media moodboard diperoleh 87 % dari ahli materi, 87% ahli media, dan 88% dari mahasiswa, sehingga media moodboard dinyakatan sangat layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Moodboard. ABSTRACTFamily Welfare Education Study Program is a department where there is a concentration of Clothing and Catering. Cipta Karya and Special Clothing Design courses are courses that must be taken by students taking the Family Welfare Education Study Program Concentration of Fashion Design. The learning process in designing requires learning media that can assist students in developing ideas in designing to make it easier to work on a design. Moodboard is a board that contains a collection of ideas in the form of pieces of images, text or examples of an object. Moodboard is used as a medium that makes it easier to find and develop the creativity of an idea. This study aims to: produce learning media products in the form of moodboard media in courses, create works and special fashion designs and pay attention to learning media in the form of moodboard media. The population in this study is active college students who will take courses in creative works and special fashion design. Determining the sample using a systematic sampling of 12 students and involving material experts and media experts in product validation. The data collection method used the questionnaire method. By measuring the Likert Scale to get responses from material experts, media experts and to students the moodboard learning media that was developed. The test results were analyzed using descriptive analysis. Based on the assessments of material experts, media experts, and the use of moodboard media, 87% of material experts, 87% of media experts, and 88% by students of moodboard media were very suitable to be used as learning media.Keywords: Feasibility, Development, Learning Media, Moodboard.
EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI DAUN INAI PADA PRODUK LENAN RUMAH TANGGA DENGAN TEKNIK RINGKEL Maulidya, Ukhti; Dewi, Rosmala; Novita, Novita
Jurnal Busana & Budaya Vol 3, No 1 (2023): Edisi April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jbb.v3i1.34319

Abstract

Daun Inai(Lawsonia Inermis)mengandung zat warnalawsoneyang mudahditemukandiAceh.BudayadiAcehmenggunakandauninaisebagaipewarnakukuyang dipakai oleh calon pengantin pada acaraBoh Gaca.Daun Kayu putih(MelaleucaLeucadendra)mengandung komponenterpineolyang digunakan sebagai penguat warnapada pewarna alami. Penelitian ini bertujuan untuk menjadikan daun inai dan daun kayuputih sebagai pewarna alami yang ramah lingkungan pada kain menggunakan teknikRingkel,yaitu teknik pewarnaan dengan menggabungkan teknikSmockdan Jumputanyangdicelupkankedalampewarnadandijadikanproduksarung bantal hias sebagailenanrumahtangga.Metodepenelitian yang digunakanyaitu penelitianeksperimen dengan 2 tahap uji coba. Tahap pertama menggunakan daun inai,dantahapkeduamenggunakandauninaidandaunkayuputih.Prosesekstraksiwarnadilakukandengan2carayaituperebusandanpenggilingan.Prosesmordantingmenggunakanbahantawasdenganfiksatortawas,kapurdantunjung.Teknikpengumpulan datamelaluiobservasi, dokumentasi, dan studipustaka data secara sistematis dan diuraikan secaranaratif.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwawarnayangdihasilkandaridauninaiadalahwarnacoklatmudakekuninganpadaprosesperebusan,danwarnacoklatmudakeemasan pada proses penggilingan, warna menjadi lebih tegas dengan menambahkandaunkayuputih.Pewarnaandauninaimemilikiketahananwarnayangbaik,tidakmengalamikelunturandankepudaranyangparah.Motifyangdihasilkandenganmenggunakan teknikRingkelyaitu sebuah batik abstrak yang unik tergantung pada polayang digunakan. Peneliti menciptakan 3 produk sarung bantal hias denganteknik pencelupan pada daun inai dan daun kayu putih yang telah digiling untuk produk1 dan 2, serta teknik perebusan daun inai untuk produk 3. Proses pembuatan teknikRingkelsangat sederhana, alat dan bahan mudah ditemui sehingga dapatdiproduksi untukmeningkatkanperekonomianmasyarakat,danpewarnaalamidauninaidapatdigunakanuntukmeminimalisirkerusakanlingkungan sekitar.Katakunci:DaunInai,TeknikRingkel,PewarnaAlamiKain,LenanRumahTangga
MODIFIKASI BUSANA PENGANTIN ADAT ACEH PESISIR DI KALANGAN PERIAS PENGANTIN Baijuri, Eno Octavia; Fitriana, Fitriana; Dewi, Rosmala
Jurnal Busana & Budaya Vol 3, No 1 (2023): Edisi April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jbb.v3i1.33715

Abstract

Bentuk dan ciri khas busana pengantin Aceh Pesisir sudah sangat jauh terjadi perubahan sehingga tidak sesuai dengan bentuk yang sebenarnya serta syariat yang berlaku di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model busana pengantin adat Aceh Pesisir, mengidentifikasi penyebab terjadinya perubahan pada busana pengantin adat Aceh Pesisirdan mengetahui tanggapan tokoh adat tentang modifikasi busana pengantin adat Aceh Pesisir. Penelitianmerupakanstudikasusdenganpendekatankualitatif.Subjekpenelitianterdiridari3 orang perias pengantin dan 2 orang tokoh adat. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi,wawancaradandokumentasidi3galeririaspengantinyangadadiKotaBandaAceh danAcehBesar.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaperubahanmodelbusanapengantinadat Aceh Pesisir modifikasi pada galeri rias pengantin mengalami perubahan. Bentuk dasar baju pengantin wanita berupa baju kurung dengan penambahan kain panjang menjuntai ke lantai, memakain songket sampai ke kaki dan tidak menggunakan sileuweu meutunjong. Selanjutnya berbentuk gaun panjang atau kebaya panjang dengan bagian belakang panjang menjuntai ke lantaidenganukuranpasbadan.Perubahanwarnayangbervariasisebagaipengembanganagar lebih banyak pilihan. Perubahan bahan yang awalnya sutra dan satin, berfariasi taffeta, renda dan brokat. Busana pengantin pria dimodifikasi pada bentuk baju menyerupai jas dan rompi serta model celana yang berbentuk lurus dan mengecil pada bagian kaki serta menggunakan karet pada bagian pinggang. Hiasan yang dimodifikasi berupa bordiran warna emas, aplikasi payetdanpenggunaanrendatempel.Penyebabterjadinyamodifikasihadirnyaperiaspengantin baru yang tidak mengerti tentang busana adat Aceh Pesisir, permintaan pelanggan, minimnya ilmu pengetahuan tentang busana pengantin adat Aceh Pesisir, perkembangan zaman dan era globalisasi serta kreatifitas dari perias pengantin.Tanggapan tokoh adat terhadap modifikasi busana pengantin Aceh Pesisir, dalam hal modifikasi warna dan motif dianggap dapat menambahnilaikeindahandanmenambahberbagairagamhiasyangadadiAceh.Akantetapi perubahan bentuk menjadi gaun dan kebaya panjang sudah melenceng dari ciri busana daerah Aceh. Modifikasi boleh saja dilakukan, namun tetap memperhatikan unsur-unsur dan tidak menghilangkan ciri pada busana pengantin adat AcehPesisir.
Eksistensi Usaha Industri Fashion di Era Digital Naifa Ulwani Aziz; . Fadhillah; . Nurbaiti
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA MATERI PEMBUATAN POLA BLUS SESUAI MODEL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMKN 3 BANDA ACEH Nur Lina; Rosmala Dewi; Zuraini Zuraini
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian inibertujuanuntuk mengetahui penerapan model pembelajaranNumberedHeadsTogether(NHT)dan responpeserta didikdalam meningkatkan hasil pada materi Pembuatan PolaBlus sesuai modeldikelas X Busana2SMKN 3 Banda Aceh.Jenis penelitianinimenggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjekpenelitian Aceh berjumlah 32 orang. Pengumpulan data menggunakan tes (pre test dan post test), observasi, angket dan dokumentasi. Teknik Analisis data menggunakan kualitatif dan kuantitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kegiatan guru pada siklus I sebesar 2.92, pada siklus II 3.08, pada siklus III menjadi 3.69 dengan kategori sangat baik.(2) Aktivitaspeserta didikpada siklus I sebesar 50.6% pada siklus II menjadi 65% dan pada siklus III meningkat menjadi 85%. (3)Hasil belajarpeserta didikpada siklus I ketuntasan individual pada siklus I sebesar 60.6% pada siklus II menjadi 74.6% dan meningkatpada siklus IIImenjadi 90.6%.Ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 15.6%, pada siklus II menjadi 62.2% dan meningkat pada siklus III 87.5%. (4)Responpeserta didik sebanyak96.8%menunjukkanbahwapenerapan model pembelajaranNumberedHeadsTogetherdapat membantupeserta didikdalam memahami materi, menetukan ukuran-ukuran yang dibutuhkan dan membuat pola sesuai model.Dapat disimpulkan bahwa pada siklus IIIpeserta didiksangat aktif dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaranNumberedHeadsTogether(NHT).Kata Kunci :PembelajaranNumberedHeadsTogether(NHT),Pembuatan Pola,Hasil Belajar
MODIFIKASI MOTIF, WARNA SERTA TEKNIK MENGHIAS SANGE HANTARAN PERNIKAHAN ADAT ACEH Sitah Harliza; . Fadhillah; . Nurbaiti
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi hantaran pernikahan adat Aceh mempunyai keunikan pada penutup hantaran pernikahannya, yang biasa disebut sangee (tudung saji) Aceh. Seiring dengan perkembangan zaman beberapa tradisi dan kebudayaan Aceh sedikit memudar akibat arus globalisasi, termasuk pada hantaran pernikahan. Umumnya masyarakat pada era modern lebih tertarik dengan apa yang sedang trend pada masanya dan mengedepankan aspek estetika dan fungsi dibandingkan aspek lainnya sehingga aspek filosofis seringkali terabaikan. Akibat dari hal tersebut perlu adanya modifikasi pada hantaran pernikahan adat istiadat Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi desain motif, warna serta teknik menghias menggunakan teknik bordir dan sulaman payet pada hantaran pernikahan adat Aceh serta mengetahui pendapat responden mengenai sangee yang telah dimodifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen terapan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yaitu ahli motif dan desain, pengrajin sangee Aceh dan pengguna sange Aceh yang ditetapkan melalui purposive sampling. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa teknik sulaman payet sudah banyak dibuat oleh pengrajin sangee Aceh, pada umunnya dikerjaan menggunakan keterampilan tangan dengan sulaman payet dan kasab. Namun penggunaan teknik hias bordir jarang ditemui oleh pengrajin sangee Aceh, dan motif kerawang Gayo merupakan salah satu inovasi hiasan pada Sange. Disarankan kepada pengrajin Sangee Aceh dan masyarakat Aceh dapat mengembangkan dan melestarikan Sangee hantaran pernikahan Aceh sebagai perangkat adat yang sudah dimiliki sebagai budaya daerah yang tidak tergantikan dengan bentuk-bentuk modern.Kata Kunci: Modifikasi sangee, hantaran pernikahan adat AcehThe tradition of delivering a traditional Acehnese wedding is unique, in the closing of the wedding ceremony, whice is commonly called the acehnese sangee (cerving hood). Along with the development of the time, some of Acehs traditions and culture have fade a litle do to globalization, including in sending weddings. In general people in the modern era are more intersested in the was trending at the time and put forward aesthetic and functional aspects compared to other aspects, so that the philosophical aspects is often neglected. As a result of this, it is necessary to modify the delevery of Acehnese customary marriages. This study aims to modify motif designs, colors and decorating techniques using embrodery and sequin embrodery techniques for traditional acehnese wedding and to find out the respondents opinions aboaut the modified sangee. The method used in this study is an applied experimental method with a descriptive qualitative approaach. Tehere wewe 3 subjects in this study, namely motif and design experts, acehnese sangee craftsmen and Acehnese sangee users who were determined through purposive sampling. Collecting data through observation, interviews and documentation. Theresullts showed that many sequin embroidery techniques had been made by Acehnese sangee craftsmen, in general the work was done using hand skill with sequin and kasab embroidery. Howefer, the use of decorative embroidery techniques is rarely found by Acehnese sangee crraftmen, and the Gayo filigree motif is one of the decorative innovations of Sangee. It is suggested that the Acehnese Sangee craftmen and the people of Aceh can develop and preserve the Sangee Aceh wedding delivery as a traditional device that ai already owned as regional culture that is irreplaceable with modern forms. Keyword: Modification of Sangee, Acehs traditional wedding gift
PELESTARIAN MOTIF BATIK ACEH PADA USAHA HI BATIK Amelia Sabrina; Rosmala Dewi; . Fitiana
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui kiat-kiat usaha Hi Batik dalam melestarikan motif batik Aceh dan mengetahui proses pembuatan batik tulis yang diproduksi pada usaha Hi Batik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil analisis data yang diperoleh menemukan bahwa kiat-kiat usaha Hi Batik melestarikan motif batik Aceh dengan memperkenalkan batik Aceh melalui pameran baik di dalam dan luar Aceh, edukasi membatik gratis kepada masyarakat dan memperkenalkan batik Aceh melalui media sosial. Proses pembuatan batik pada usaha Hi Batik sama dengan proses membatik pada umumnya, namun motif merupan hasil kreativitas pemilik dengan ciri khas perpauan bungong jameun dan alam Aceh. Proses pemakaian lilin/malam dengan cara nglowong, menembok dan brioni. Kesimpulan dari penelitian adalah Hi Batik adalah usaha rumahan yang memproduksi batik Aceh dengan menggunakan motif-motif khas Aceh. Disarankan kepada generasi muda agar melestarikan batik Aceh dengan menggunakan pada acara tertentu sehingga batik tetap dicintai dan diminati. Dukungan dari pemerintah daerah melalui pameran-pameran kerajinan sangat diperlukan supaya batik Aceh lebih dikenal masyarakat luas.Kata Kunci: Usaha Hi Batik, Motif AcehPRESERVATION OF ACEH BATIK MOTIFS ON HI BATIK BUSINESSABSTRACTThis studi aim to find out the tips of Hi Batiks business in preerving Acehnese batik motifs and to find out the process of making written batik produced in hi Batiks business. This research uses a qualitative approach with a descriptive type. Data Collection was obtained trough interviews, observation and documentation. The results of the analysis of the data obtained found that Hi Batiks business tips for preserving Acehnese batik motifs were by introducing Acehnese batik through exhibitions both inside and outside Aceh, free batik education to the public and introducing Acehnese batik through social media. The process of making batik in the Hi Batik business in the same as the process of making batik in general, but the motifs are the result of the owners creativity with the characteristics of a combination of bungong jameun and Acehnese nature. The process of using waxis by means of nglowong, nembok and brioni. The conclusion from the study is that Hi Batik is a home-based business that produces Acehnese batik using typical Acehnese motifs. It is suggested to the younger generation to preserve Acehnese batik by using it on certain events so that batik is still loved and in demand. Support from the local government through craft exhibitions is needed so that Acehnese batik is better known to the wider community.Keyword: Hi Batik Buisness, Acehnese motif
RAGAM HIAS PADA PAKAIAN PENGANTIN ACEH PIDIE Riski Amelia; Anizar Ahmad; . Novita; . Fitriana; Aya Sophiana
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis ragam hias yang terdapat pada pakaian pengantin Pidie dan mengetahui modifikasi ragam hias pada pakaian pengantin Pidie. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi serta kajian kepustakaan. Subjek Peneltian terdiri dari tokoh adat (Ketua Majlis Adat Kabupaten Pidie) pemilik Usaha Rias Pengantin dan perajin pakaian pengantin Pidie. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bentuk motif dasar pada busana pengantin Pidie adalah buleun (bulan), aneuk timon (biji timun), motif peudueng (pedang) dan motif uke kleung (motif kuku elang). Dari susunan motif tersebut terciptalah motif-motif bunga seperti bungong seulanga (bunga selanga), bungong keupula (bunga kantil) dan lain-lain. Ragam hias pada pakaian adat Aceh Pidie telah mengalami perubahan seiring pergantian waktu. Modifikasi pada ragam hias Pidie seperti ragam hias motif yang telah bervariasi dengan motif Aceh Barat diantaranya awan sion, pucok reubong, taloe meuputa. Penempatan motif hias yang dulunya hanya sedikit karena akan tertutupi dengan asesoris, saat ini motif tersebar hampir memenuhi seluruh bagian busana seperti bagian dada, bahu, ujung lengan dan kaki. Modifikasi busana pengantin juga terdapat pada warna, bahan yang lebih berfariasi dan model busana. Modifikasi dapat dilakukan sejauh tidak menghilangkan ciri khas busana pengantin daerah tersebut.Kata Kunci: Ragam Hias, Pakaian Pengantin Pidie.ABSTRACTThe aims of this study were to identify the types of decoration found on the Pidie wedding clothes and to find out the modifications of decoration on Pidie wedding clother. The reasearch uses a qualitative approarch and coleecting data through interview, observating and literatur review. The research subjects consisted of tradidional leaders (Head of the Traditional Majlis of Pidie), the owner of a bridal makeup businis, and a Pidie wedding dress maker. The results showed that the bassic motifs on the Pidie wedding dress were buleun (moon), aneuk timon (cucumber seeds), peudeung (sword) and uke kleung (eagle hoof motifs). From this arrangement of motifs, flower motif are created, such as bungong seulanga (seulanga flower), bungong keupula (kantil flower) and othesr. The decoration on the Pidie traditional clothes has changed ower time. The modification to Pidie docorations such as decorative motifs that have varied with West Aceh motif, include awan sion, pucok rebong, talo meuputa. Previously, there were only a few decorative motifs placed because they wouid be covered with assessories. Now the ccattered motifs fill almost all parts of the garmen, such as the chest, shoulders, cuffs and legs. Modification to wedding dresses are also found in colors, materials that are more varied and fashion models. Modifications can be made as long as it does not eliminate the characteristics of the regional wedding dress.Keywords: Ornamental Variety, Pidie Wedding Dress
APLIKASI TEKNIK JUMPUTAN PADA TEKSTIL DENGAN MENGGUNAKAN PEWARNA ALAMI . Novita; Rosmala Dewi; Devi Arini
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 1 (2022): Edisi April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengeksplorasi warna alam adalah mencari warna alam yang berasal dari tumbuhan dan dapat di ambil salah satu bagian dari tumbuhan tersebut untuk dijadikan pewarnaan pada tekstil merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan berbagai bahan alami dari beberapa jenis tumbuhan berupa ekstraksi dari kulit batang dan dedaunan yang diaplikasikan pada katun dengan teknik jumputan. Objek dalam penelitian ini menggunakan empat jenis kulit batang (petai china, kulit batang kareumbi, kulit batang lekap/famili jamblang (Indian Tree Java Plum), Kulit batang (konyel) dan dua jenis daun (daun mahoni, dan daun putri malu) yang difiksasi dengan mordan (tunjung, kapur sirih dan tawas). Metode Penelitian yang digunakan adalah eksperimen terapan dengan teknik perebusan dan dilakukan pencelupan pada jilbab. Motif Aceh berupa emun berangkat dan matapunedidesain sehingga meningkatkan nilai estetika produk. Luaran dari penelitian menghasilkan berbagai model jilbab dengan variasi motif Aceh sehingga lebih memununculkan kesan etnik dan ekslusif yang dapat meningkatkan nilai ekonomi produk.Kata Kunci: Tehnik Jumputan, Tekstil, Pewarna Alami. ABSTRACTExploring natural colors is looking for natural colors that come from plants and one part of the plant can be taken to be used as coloring in textiles is the goal to be achieved in this research. This study uses various natural materials from several types of plants in the form of extraction from the bark and applications that are applied to cotton with the jumputan technique. The object in this study used four types of bark (china petai, kareumbi bark, lekap bark/jamblang family (Indian Tree Java Plum), stem bark (konyel) and two types of leaves (mahogany leaves, and Putri malu leaves) which were fixed. with mordant (tunjung, whiting and alum) The research method used is an applied experiment with boiling technique and dyeing the hijab Aceh motif in the form of emun departs and matapune is designed so as to increase the aesthetic value of the product. give rise to an ethnic and exclusive impression that can increase the economic value of the product.Keywords: Jumputan Techniques, Textiles, Natural Dyes..