cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12" : 40 Documents clear
Analisis faktor lama kerja dan kebiasaan merokok terhadap kapasitas vital paru pekerja industri mebel Mingkid, Jessica Gladys; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Langi, Fima Lanra Fredrik Gerarld
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1871

Abstract

Background: The furniture industry is known to pose a high risk for respiratory health problems due to exposure to wood dust and behavioral factors such as smoking. Lung vital capacity may decline with increased exposure to respiratory irritants, and smoking can further impair pulmonary function. This condition is important to examine among furniture workers, who are frequently exposed to long-term occupational hazards. Purpose: To analyze the factors of length of work and smoking habits on the vital lung capacity of furniture industry workers. Method: A descriptive analytic design with a cross-sectional approach. A total of 62 furniture workers were included using total sampling. Lung vital capacity was measured using spirometry. Data on length of employment and smoking habits were collected through structured questionnaires. The chi-square test was used to analyze the relationships between variables. Results: Of the 62 workers, 52 workers (83.9%) had impaired lung vital capacity, while 10 workers (16.1%) had normal lung vital capacity. The analysis showed no significant relationship between length of employment and lung vital capacity (p > 0.05). However, a significant association was found between smoking habits and lung vital capacity (p < 0.05). Conclusion: Most furniture industry workers in Touliang Oki Village experienced impaired lung vital capacity. Length of employment was not associated with lung vital capacity, whereas smoking habits were significantly related to decreased lung vital capacity. Efforts such as controlling risk factors, promoting smoking cessation, and conducting regular pulmonary health monitoring are recommended to protect workers’ health.   Keywords: Furniture Industry Workers; Length of Employment; Lung Vital Capacity; Respiratory Function; Smoking Habits.   Pendahuluan: Industri mebel merupakan salah satu sektor kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap gangguan kesehatan pernapasan akibat paparan debu kayu serta faktor perilaku seperti merokok. Kapasitas vital paru dapat menurun seiring meningkatnya paparan iritan pernapasan dan kebiasaan merokok yang memperburuk fungsi paru. Kondisi ini penting untuk dikaji pada pekerja industri mebel yang memiliki paparan kerja jangka panjang. Tujuan: Untuk menganalisis faktor lama kerja dan kebiasaan merokok terhadap kapasitas vital paru pekerja industri mebel. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 62 pekerja industri mebel yang dipilih secara total sampling. Pengukuran kapasitas vital paru dilakukan menggunakan spirometri. Variabel lama kerja dan kebiasaan merokok dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner terstruktur. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Dari 62 pekerja, sebanyak 52 pekerja (83.9%) mengalami gangguan kapasitas vital paru dan 10 pekerja (16.1%) memiliki kapasitas vital paru normal. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan kapasitas vital paru (p > 0.05). Namun, terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dengan kapasitas vital paru (p < 0.05). Simpulan: Kapasitas vital paru pekerja industri mebel sebagian besar berada dalam kategori terganggu. Lama kerja tidak berhubungan dengan kapasitas vital paru, sedangkan kebiasaan merokok terbukti berhubungan dengan penurunan kapasitas vital paru. Upaya pengendalian faktor risiko, edukasi berhenti merokok, dan pemantauan kesehatan paru secara berkala perlu dilakukan untuk melindungi kesehatan pekerja.   Kata Kunci: Kapasitas Vital Paru-paru; Kebiasaan Merokok; Lama Kerja; Pekerja Industri Mebel.
Virtual reality (VR) dalam pembelajaran perawatan luka terhadap self-efficacy dan kemampuan psikomotor mahasiswa keperawatan: A systematic literature review Gufron, Muhamad; Nani, Desiyani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1873

Abstract

Background: Advances in digital technology have transformed nursing education by providing innovative learning methods, particularly for practicum activities requiring clinical precision. Virtual Reality (VR) has emerged as an interactive simulation tool that offers a realistic clinical environment, enabling students to safely practice procedures without risking patient harm. Purpose: To evaluate the effectiveness of virtual reality in wound care practicum learning on improving nursing students' self-efficacy and psychomotor skills. Method: A systematic literature review (SLR) was conducted using the PRISMA framework. Relevant scientific articles published between 2014 and 2024 were retrieved from PubMed, ScienceDirect, and DOAJ databases. Of the 11,445 identified studies, seven articles met the inclusion criteria and were analyzed. Results: The review showed that VR-based learning consistently improved nursing students' self-efficacy, motivation, and psychomotor performance, particularly in wound care and dressing procedures. VR enabled repeated practice, real-time feedback, and a deeper understanding of clinical tasks compared to conventional teaching approaches. Conclusion: Virtual reality is an effective, safe, and innovative educational strategy that significantly improves the clinical competence of nursing students. Its integration into the nursing curriculum has strong potential as a modern teaching approach in the digital age.   Keywords: Nursing Students; Psychomotor Abilities; Self-Efficacy; Virtual Reality (VR); Wound Care Learning.   Pendahuluan: Kemajuan teknologi digital telah mentransformasi pendidikan keperawatan dengan menyediakan metode pembelajaran inovatif, terutama untuk aktivitas praktikum yang membutuhkan presisi klinis. Virtual reality (VR) telah muncul sebagai alat simulasi interaktif yang menawarkan lingkungan klinis yang realistis, memungkinkan mahasiswa mempraktikkan prosedur dengan aman tanpa risiko cedera pada pasien. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas virtual reality dalam pembelajaran praktikum perawatan luka terhadap peningkatan  self-efficacy dan keterampilan psikomotorik mahasiswa keperawatan. Metode: Systematic literature review (SLR) dilakukan menggunakan kerangka kerja PRISMA. Artikel ilmiah relevan yang diterbitkan antara tahun 2014-2024 diambil dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan DOAJ. Dari 11,445 studi yang teridentifikasi, 7 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil: Tinjauan ini menunjukkan, bahwa pembelajaran berbasis VR secara konsisten meningkatkan self-efficacy, motivasi, dan kinerja psikomotorik mahasiswa keperawatan, terutama dalam prosedur perawatan luka dan pembalutan. VR memungkinkan praktik berulang, umpan balik waktu nyata, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang tugas-tugas klinis dibandingkan dengan pendekatan pengajaran konvensional. Simpulan: Virtual reality merupakan strategi pendidikan yang efektif, aman, dan inovatif yang secara signifikan meningkatkan kompetensi klinis mahasiswa keperawatan. Integrasinya ke dalam kurikulum keperawatan memiliki potensi yang kuat sebagai pendekatan pengajaran modern di era digital.   Kata Kunci: Kemampuan Psikomotor; Mahasiswa Keperawatan; Pembelajaran Perawatan Luka; Self-Efficacy; Virtual Reality (VR).
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas kesehatan melalui pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja Saipul, Saipul; Salmawati, Lusia; Guli, Musjaya M; Vidyanto, Vidyanto; Miswan, Miswan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1882

Abstract

Background: Occupational Safety and Health (OSH) is an essential aspect in creating a safe and productive work environment, especially for healthcare workers who are at high risk of occupational accidents and diseases. One of the efforts to increase awareness and implementation of OSH is through training programs. Purpose: This study aimed to determine the effectiveness of Occupational Safety and Health (OSH) training on the knowledge, attitudes, and behaviors of healthcare workers at Sarjo Public Health Center, Pasangkayu Regency. Method: This quantitative study employed a quasi-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The sample consisted of 38 healthcare workers selected by purposive sampling. Data were collected using questionnaires before and after the training, and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Results: The findings showed a significant improvement between pretest and posttest scores on knowledge (p=0.000), attitude (p=0.001), and behavior (p=0.000). Conclusion: The OSH training was effective in enhancing cognitive ability, fostering positive attitudes, and improving safe work practices among healthcare workers at Sarjo Public Health Center. These results are expected to serve as a foundation for continuous OSH training initiatives as a preventive effort toward workplace accidents and the promotion of safety culture in healthcare settings.   Keywords: Attitude; Behavior; Healthcare Workers; Knowledge; Occupational Safety and Health Training.   Pendahuluan: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif, khususnya bagi tenaga kesehatan yang memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan penerapan K3 adalah melalui pelatihan. Tujuan: Untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas kesehatan melalui pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment menggunakan rancangan one group pretest–posttest design. Sampel penelitian berjumlah 38 partisipan yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner sebelum dan sesudah pelatihan, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Adanya peningkatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada variabel pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,001), dan perilaku (p=0,000). Simpulan: Pelatihan K3 efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif, membentuk sikap positif, dan memperbaiki perilaku kerja aman petugas kesehatan.   Kata Kunci: Pelatihan K3; Pengetahuan; Perilaku; Petugas Kesehatan; Sikap.
Media sosial memengaruhi body image dan gangguan makan pada remaja Malonda, Nancy Swanida Henriette; Punuh, Maureen Irinne; Pondagitan, Alpinia Shinta; Tomastola, Yohanis; Anastasya, Solideo; Bidara, Christa; Taroreh, Putri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1892

Abstract

Background: Social media can negatively impact body image and increase the risk of eating disorders in adolescents, yet these platforms are widely used. Adolescents tend to worry about their appearance in response to social media content. Negative body image is a risk factor for eating disorders, which can impact adolescents' nutritional status, leading to undernutrition or overnutrition. Purpose: To determine the influence of social media on body image and eating disorders in adolescents. Method:  The study design used a descriptive analytical approach with a cross-sectional approach. The sample consisted of 211 eleventh-grade students from Senior High School in Tondano, Minahasa Regency, taken using a total sampling technique. Body image was measured using the MBSRQ-AS, eating disorders were measured using the EAT-26 questionnaire, and social media was measured using the ASMC Scale questionnaire. Results: The majority of respondents had a positive body image (85.8%), were not at risk for eating disorders (54%), and reported a high influence from social media (78.7%). Statistical analysis using the Spearman rank sum test showed a positive correlation between digital media and body image (p=0.000; 0.261) and eating disorders (p=0.045; 0.138). The influence of social media can lead to body image dissatisfaction and eating disorders. Therefore, interventions such as improving social media literacy are recommended to prevent negative impacts on adolescents' mindsets and attitudes. Conclusion: Social media exposure is significantly associated with body image disturbance and eating disorders in adolescents.   Keywords: Body Image; Eating Disorders; Social Media.   Pendahuluan: Media sosial memiliki dampak negatif terhadap body image dan gangguan makan remaja, namun remaja cenderung selalu menggunakan platform ini. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi strategi yang dapat mengurangi dampak buruk media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media sosial terhadap body image dan gangguan makan pada remaja.    Metode: Rancangan penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 211 remaja kelas XI SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 di Tondano kabupaten Minahasa yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Body image diukur menggunakan MBSRQ-AS, gangguan perilaku makan diukur menggunakan kuesioner EAT-26 dan pengaruh media sosial menggunakan kuesioner ASMC scale. Hasil: Mayoritas responden memiliki body image positif (85.8 %), tidak berisiko mengalami gangguan perilaku makan (54 %), dan memiliki pengaruh tinggi (78.7%) dari media sosial. Hasil analisis statistik menggunakan uji Spearman rank, diketahui bahwa terdapat korelasi positif antara media digital terhadap body image (p=0.000; 0.261) dan gangguan makan (p=0.045; 0.138). Pengaruh media sosial dapat menyebabkan ketidakpuasan akan body image dan gangguan perilaku makan, sehingga direkomendasikan untuk dilakukan intervensi berupa peningkatan literasi penggunaan media sosial agar tidak menimbulkan efek negatif terhadap pola pikir dan sikap remaja. Simpulan: Paparan media sosial secara signifikan berhubungan dengan gangguan body image dan gangguan makan pada remaja.               Kata Kunci: Body Image; Gangguan Makan; Media Sosial.
Pengetahuan tentang anemia dan perilaku pencegahan anemia remaja putri Andriyanti, Putri Dwi; Handayani, Dwi Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1900

Abstract

Background: Anemia is a health problem that persists in adolescent girls and impacts learning ability, physical fitness, and quality of life. Lack of knowledge about anemia can lead to poor preventive behaviors, such as inadequate nutritional intake and non-compliance with iron supplementation (IBT) consumption. Purpose: To determine the relationship between knowledge of adolescent girls and anemia prevention behavior Method: This quantitative research used a cross-sectional approach and held in October 2025 at State Senior High School 1 Gamping Sleman Yogyakarta. The sampling technique used stratified random sampling with a sample size of 64 respondents. The independent variable in this study was the level of knowledge, while the dependent variable was anemia prevention behavior. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the Kendall tau test. Results: Respondents had good knowledge about anemia (51.6%) and good prevention behavior (43.8%). The Kendall Tau test showed a p-value of 0.000 (<0.05), indicating a relationship between knowledge about anemia and anemia prevention behavior. Conclusion: There was a significant relationship between knowledge about anemia and anemia prevention behavior   Keywords: Anemia; Adolescent; Behavior; Knowledge; Prevention.   Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan yang masih banyak terjadi pada remaja putri dan berdampak pada kemampuan belajar, kebugaran fisik, dan kualitas hidup. Pengetahuan yang kurang mengenai anemia dapat menyebabkan rendahnya perilaku pencegahan, seperti asupan gizi yang tidak adekuat dan ketidakpatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan bulan Oktober 2025 di SMA Negeri 1 Gamping Sleman, Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 64 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pencegahan anemia. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan uji Kendall Tau. Hasil: Responden memiliki pengetahuan yang baik tentang anemia (51.6%) dan perilaku baik dalam pencegahan (43.8%). Uji Kendall Tau menunjukkan p-value = 0.000 (<0.05), artinya terdapat hubungan antara pengetahuan tentang anemia dengan perilaku pencegahan anemia. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang anemia dengan perilaku pencegahan anemia.   Kata Kunci : Anemia; Pengetahuan; Perilaku; Pencegahan; Remaja.
Efektivitas video edukasi terhadap perilaku personal hygiene santriwati Febrianty, Yayuk; Arwan, Arwan; Herman, Achmad; Fadjriah, Rasyika Nurul; Wahyuni, Rosa Dwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1912

Abstract

Background: Personal hygiene is an essential component of the clean and healthy living behavior. program in islamic boarding schools. High-density living conditions, shared activities, and communal habits increase the risk of disease transmission among students. Educational videos serve as an effective medium for health promotion because they deliver messages visually and are easy to understand. Purpose: To determine the effectiveness of educational video media in improving personal hygiene behavior among female students at an Islamic boarding school. Method: A quasi-experimental study with a one-group pretest-posttest design was conducted to measure the impact of an educational video intervention based on the five stages of the transtheoretical model (precontemplation, contemplation, preparation, action, and maintenance). The intervention was delivered in five video sessions according to the stages of behavior change. This study was conducted at the Al-Istiqamah Modern Islamic Boarding School in Ngatabaru, Sigi Regency, from August to November 2025. Results: There were no negative ranks in pretest and posttest scores at all stages of behavior change, indicating that all participants experienced improved personal hygiene behavior after the intervention. A Wilcoxon test for all variables showed a p-value of 0.001 < α = 0.05, indicating a significant change after the educational video. Conclusion: Educational video media is effective in improving personal hygiene behavior among female students at all stages of behavior change.   Keywords: Clean and Healthy Living Behavior; Educational Videos; Female Islamic Students; Personal Hygiene.   Pendahuluan: Personal hygiene merupakan bagian penting dari penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di pesantren. Kepadatan hunian, aktivitas bersama, dan kebiasaan hidup komunal meningkatkan risiko penularan penyakit di kalangan santri. Media video edukasi dapat menjadi metode edukasi efektif karena mampu menyampaikan pesan kesehatan secara visual dan mudah dipahami. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas media video edukasi terhadap perubahan perilaku personal hygiene pada santriwati. Metode: Quasi eksperimental dengan desain one group pretest –posttest untuk mengukur dampak intervensi video edukasi berdasarkan lima tahap transtheoretical model (prakontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, pemeliharaan). Intervensi diberikan dalam 5 sesi video sesuai tahapan perubahan perilaku. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru, Kabupaten Sigi, pada bulan Agustus-November tahun 2025. Hasil: Peningkatan nilai pretest dan posttest pada seluruh tahap perubahan perilaku tidak ditemukan negative ranks, sehingga seluruh partisipan mengalami peningkatan perilaku personal hygiene setelah intervensi. Uji Wilcoxon pada seluruh variabel menunjukkan nilai p = 0.001 < α = 0.05 yang berarti terdapat perubahan signifikan setelah pemberian video edukasi. Simpulan: Media video edukasi efektif dalam meningkatkan perilaku personal hygiene santriwati pada seluruh tahap perubahan perilaku   Kata Kunci: Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS); Personal Hygiene; Santriwati; Video Edukasi.
Intervensi untuk mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis: A scoping review Sridiawati, Esy; Ibrahim, Kusman; Pratiwi, Sri Hartati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1920

Abstract

Background: Patients with chronic kidney disease (CKD) often experience thirst when restricting their fluid intake. To improve patient survival, interventions to manage thirst in hemodialysis patients are needed, with the hope of reducing fluid intake in HD patients. Thirst remains an unresolved issue in hemodialysis (HD) patients. Purpose: To map and synthesize the current evidence on interventions to manage thirst in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis. Method: A scoping review was conducted using the PRISMA-ScR framework. Articles were identified through PubMed, Scopus, EBSCOhost, and Google Scholar using keywords related to "Interventions to manage thirst in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis." Eligible studies were interventional, observational, published in English, and focused on interventions to manage thirst in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis. Twenty-one studies met the inclusion criteria and were analyzed thematically using a descriptive and exploratory approach. Results: Based on the literature reviewed, various interventions, such as sucking on unsweetened ice cubes, mint-flavored popsicles, lemon-flavored popsicles, chewing gum, squirting cold boiled water into the mouth, visual fluid restriction education, and brochures, have been consistently and continuously shown to reduce thirst in CKD patients. Conclusion: Interventions such as sucking on ice cubes, mint-flavored popsicles, lemon-flavored popsicles, chewing gum, squirting cold boiled water into the mouth, visual fluid restriction education, and brochures have been consistently and continuously shown to reduce thirst in CKD patients.   Keywords: Chronic Kidney Disease Patients; Hemodialysis; Thirst.   Pendahuluan: Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) sering mengalami rasa haus sementara itu mereka harus membatasi asupan cairan. Untuk meningkatkan keberlangsungan hidup pasien diperlukan intervensi penatalaksanaan rasa haus pada pasien hemodialisis dengan harapan asupan cairan pada pasien HD dapat dikurangi.  Rasa haus masih menjadi masalah yang belum terpecahkan pada pasien hemodalisis (HD). Tujuan: Untuk memetakan dan mensintesis bukti terkini tentang intervensi mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Metode: Scooping review dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja PRISMA-ScR. Artikel diidentifikasi melalui PubMed, Scopus, EBSCOhost, dan Google scholar menggunakan kata kunci terkait Intervensi mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Studi yang memenuhi syarat bersifat intervensi, observasional, dipublikasikan dalam bahasa Inggris, dan berfokus pada intervensi mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis sebanyak 21 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara tematis menggunakan pendekatan deskriptif eksploratif. Hasil: Berdasarkan litereratur yang telah di review, setelah dilakukan berbagai macam intervensi, seperti megulum es batu tawar, es loli rasa mint, es loli rasa lemon, mengunyah permen karet, semprotan air sprai ke mulut dengan air dingin matang, edukasi pembatasan cairan dengan media visual, dan aflet yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan terbukti dapat mengurangi rasa haus pada pasien PGK. Simpulan: Intervensi mengulum es batu, es loli rasa mint, es loli rasa lemon, mengunyah permen karet, semprotan air spray ke mulut dengan air dingin matang, edukasi pembatasan cairan dengan media visual dan leaflet yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan terbukti dapat mengurangi rasa haus pada pasien PGK.   Kata Kunci: Hemodialisis; Pasien Penyakit Ginjal Kronis; Rasa Haus.
Efektivitas injeksi asam hialuronat dibandingkan kortikosteroid intra-artikular untuk nyeri pada osteoartritis lutut derajat ringan hingga sedang: Suatu tinjauan sistematis Sirait, Daniel Ananda Pangihutan; Pulungan, Elitha Sundari; Patmonoputri, Aubrey Darlene
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1924

Abstract

Background: Knee osteoarthritis (OA) is a leading cause of long-term pain and functional limitation worldwide. However, the relative clinical benefits of intra-articular hyaluronic acid (HA) and corticosteroid (CS) injections in pain relief remain controversial. Purpose: To identify, critically assess, and integrate the effectiveness of hyaluronic acid injections compared with intra-articular corticosteroids for pain in mild to moderate knee osteoarthritis. Method: A structured literature search was conducted using PubMed, EBSCO, and Springer for publications from the last decade, following PRISMA guidelines. Of the 322 articles screened, five RCTs with a total of 514 participants met the inclusion criteria and were analyzed narratively. Results: Research findings varied across studies, but the general pattern was that HA tended to produce more sustained pain relief in the medium term (approximately 3–6 months) than CS. Two clinical trials demonstrated statistically significant superiority of HA over this period, while CS provided faster but shorter symptom relief. Conclusion: Both HA and CS provide therapeutic benefits, but their temporal response patterns differ. HA appears to be better suited for long-term symptom control, while CS is better suited for short-term pain relief during acute exacerbations. Further comparative studies are needed to confirm these long-term temporal differences.   Keywords: Corticosteroids; Hyaluronic Acid; Intra-Articular Injection; Knee Osteoarthritis; Pain.   Pendahuluan: Osteoartritis lutut (OA) merupakan penyebab utama nyeri jangka panjang dan keterbatasan fungsi di seluruh dunia. Namun, manfaat klinis yang relatif antara injeksi asam hialuronat (HA) dan kortikosteroid (CS) intra-artikular dalam mengurangi nyeri masih menjadi perdebatan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi, menilai secara kritis, dan mengintegrasikan efektivitas injeksi asam hialuronat dibandingkan kortikosteroid intra-artikular untuk nyeri pada osteoartritis lutut derajat ringan hingga sedang. Metode: Pencarian literatur terstruktur dilakukan melalui PubMed, EBSCO, dan Springer untuk publikasi dalam satu dekade terakhir, mengikuti panduan PRISMA. Dari 322 artikel yang disaring, 5 RCT dengan total 514 peserta memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara naratif. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan variasi antar studi, namun pola umum memperlihatkan bahwa HA cenderung menghasilkan perbaikan nyeri yang lebih bertahan dalam jangka menengah (sekitar 3–6 bulan) dibandingkan CS. Dua uji klinis menunjukkan keunggulan signifikan secara statistik pada HA dalam periode tersebut, sementara CS memberikan perbaikan gejala yang lebih cepat tetapi bersifat lebih singkat. Simpulan: Baik HA maupun CS memberikan manfaat terapeutik tetapi pola respons waktunya berbeda. HA tampak lebih cocok untuk kontrol gejala jangka lebih panjang, sedangkan CS lebih sesuai untuk meredakan nyeri jangka pendek pada periode eksaserbasi akut. Penelitian komparatif lanjutan masih diperlukan untuk memastikan perbedaan temporal jangka panjang ini.   Kata Kunci: Asam Hialuronat; Injeksi Intra-Artikular; Kortikosteroid; Nyeri; Osteoartritis Lutut.
Efektivitas penerapan teknik pemasangan nasogastric tube berbasis sensor pada pasien stroke infark dalam praktik keperawatan: A systematic review Purnomo, Dedy Miswar; Mulyono, Wastu Adi; Nani, Desiyani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1926

Abstract

Background: Nasogastric tube (NGT) placement is an important intervention in meeting the nutritional needs of stroke patients with dysphagia. However, conventional methods often have limitations in accuracy and risk complications such as aspiration, pneumonia, and misplacement into the airway. Advances in sensor technology have improved the accuracy and safety of NGT placement procedures, thereby minimizing clinical risks and enhancing the effectiveness of nursing practices. Purpose: To determine the effectiveness of implementing sensor-based nasogastric tube insertion techniques in infarction stroke patients in nursing practice. Method: This study used a systematic review design based on the PRISMA guidelines with the PICOS framework. Articles were searched on SCOPUS, PubMed, ScienceDirect, Scisapse, and Elicit, with inclusion criteria of articles from the last 10 years, Quasi-Experimental design, RCT, Quantitative Research, and R&D. From the selection and screening process, nine articles that met the criteria were obtained and analyzed using a narrative approach. Results: Sensor technology, including pressure sensors, magnetic sensors, warning sensors, fog computing, and color detection sensors, consistently improves the accuracy of NGT position detection, speeds up the verification process, and reduces the risk of dislodgement and misalignment. Several studies have shown position tracking accuracy to reach a deviation of only 0.55–1.63 cm compared to the gold standard of radiology, while R&D research has demonstrated excellent user acceptance with validation >89%. Sensor technology also improves patient safety and provides real-time feedback unavailable with conventional methods. Conclusion: The application of sensor-based NGT placement techniques has been proven effective in improving the accuracy, safety, and efficiency of NGT placement in stroke patients. This technology has the potential to become the standard for supporting clinical processes in the future, although further research is needed on costs, facility readiness, and device integration into nursing practice.   Keywords: Nasogastric Tube; Nursing Practice; Sensor-Based Technique; Stroke Infarction.   Pendahuluan: Pemasangan nasogastric tube (NGT) merupakan intervensi penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien stroke infark dengan disfagia. Namun, metode konvensional sering memiliki keterbatasan akurasi dan berisiko menimbulkan komplikasi, seperti aspirasi, pneumonia, hingga misplacement ke saluran napas. Perkembangan teknologi sensor memungkinkan peningkatan akurasi dan keamanan prosedur pemasangan NGT, sehingga meminimalkan risiko klinis serta meningkatkan efektivitas praktik keperawatan. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penerapan teknik pemasangan nasogastric tube berbasis sensor pada pasien stroke infark dalam praktik keperawatan. Metode: Penelitian systematic review berdasarkan pedoman PRISMA dengan framework PICOS. Pencarian artikel dilakukan pada SCOPUS, PubMed, ScienceDirect, Scisapse, dan Elicit, dengan kriteria inklusi artikel 10 tahun terakhir, desain quasi experimental, RCT, quantitative research, dan R&D. Dari proses seleksi dan penyaringan, diperoleh 9 artikel yang memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan pendekatan naratif. Hasil: Teknologi sensor, termasuk sensor tekanan, sensor magnetik, warning sensor, fog computing, hingga sensor pendeteksi warna secara konsisten meningkatkan akurasi deteksi posisi NGT, mempercepat proses verifikasi, dan mengurangi risiko dislodgement maupun salah jalur. Beberapa studi menunjukkan akurasi pelacakan posisi mencapai deviasi hanya 0.55–1.63 cm dibandingkan gold standard radiologi, sementara penelitian R&D menunjukkan penerimaan sangat baik pada pengguna dengan validasi >89%. Teknologi sensor juga meningkatkan keselamatan pasien dan memberikan real-time feedback yang tidak tersedia pada metode konvensional. Simpulan: Penerapan teknik pemasangan NGT berbasis sensor terbukti efektif meningkatkan akurasi, keamanan, dan efisiensi pemasangan NGT pada pasien stroke infark. Teknologi ini berpotensi menjadi standar pendukung proses klinis di masa mendatang, meskipun diperlukan penelitian lanjutan mengenai biaya, kesiapan fasilitas, dan integrasi perangkat dalam praktik keperawatan.   Kata Kunci: Nasogastric Tube; Praktik Keperawatan; Stroke Infark; Teknik Berbasis Sensor.
Faktor risiko kekambuhan penyakit gout artritis pada masyarakat pesisir perbatasan Indonesia–Filipina Gobel, Iswanto; Tuwohingide , Yanli Everson; Welembuntu, Meistvin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1929

Abstract

Background: Excessive acid in the blood (hyperuricemia) can cause a disease called gout. Sangihe Islands Regency is located in North Sulawesi Province and is the home of the Republic of Indonesia. It covers an area of ​​736.98 km², with most of it being sea. Tabukan Utara District, located on the northern coast facing the Philippines, covers an area of ​​118.29 km². It is unique because of its coral reefs that form lagoons, producing abundant reef fish rich in excrement. Purpose: To identify risk factors for gout recurrence in communities residing in coastal and border areas. Method: This quantitative study, using a cross-sectional approach, was conducted from October to November 2024 in Sangihe Islands Regency. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 100 respondents. The independent variables in this study were dietary habits, physical condition, and psychological condition, while the dependent variable was gout recurrence. Data analysis used univariate analysis using frequency distributions and bivariate analysis using the chi-square test. Results: Consumption of offal, seafood, nuts, alcohol, inflammatory physical conditions, and stress were significantly associated with gouty arthritis recurrence (p=0.000), while sago consumption showed no significant association (p=0.170). Conclusion: Consuming offal, seafood, alcohol, and nuts impacts gout recurrence. Suggestion: Further research should be conducted in collaboration with various sectors to improve public understanding of non-communicable disease care management in rural and remote areas.   Keywords: Border Areas; Gouty Arthritis; Lifestyle; Relapse.   Pendahuluan: Jumlah asam yang berlebihan dalam darah (hiperurisemia) dapat menyebabkan penyakit yang disebut dengan istilah gout. Kabupaten Kepulauan Sangihe berlokasi di Provinsi Sulawesi Utara dan merupakan beranda NKRI, dengan Luas wilayah 736.98 km² dengan sebagian besar wilayah laut sementara Kecamatan Tabukan Utara berada didaerah pesisir utara berhadapan dengan Filipina dengan luas wilayah 118.29 km yang memiliki keunikan tersendiri karena memiliki terumbu karang yang membentuk lagun, sehingga menghasilkan banyak ikan karang yang kaya akan purin. Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko kekambuhan penyakit gout artritis pada masyarakat yang berdomisili di daerah pesisir dan perbatasan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan bulan Oktober-November 2024 di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 100 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah kebiasaan makan, kondisi fisik dan kondisi psikologis, sedangkan variabel dependen adalah kekambuhan gout. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Konsumsi jeroan, seafood, kacang-kacangan, alkohol, kondisi fisik peradangan, dan stres memiliki hubungan yang signifikan dengan kekambuhan gout artritis (p=0.000), sedangkan konsumsi sagu tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0.170). Simpulan: Kebiasaan makan jeroan, seafood, alkohol, dan kacang-kacangan berdampak pada kekambuhan gout. Saran: Penelitian lanjutan dapat bekerjasama dengan lintas sektor untuk metode peningkatan pemahaman masyarakat mengenai manajemen perawatan penyakit tidak menular pada daerah rural dan remote area perlu dilakukan.   Kata Kunci: Gout Artritis; Kekambuhan; Pola Makan; Wilayah Perbatasan.

Page 1 of 4 | Total Record : 40