cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 531 Documents
Analisis perspektif masyarakat dalam memilih layanan kesehatan Kumara, Denis; Christina, Tri Yahya; Setiani, Ditya Yankusuma; Kurniawan, Hendra Dwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2717

Abstract

Background: The increasing public need for and awareness of health poses a significant challenge for healthcare services to improve themselves in providing the best possible service to meet their needs. Therefore, it is important to explore the public's perspective in making decisions about choosing healthcare services based on healthcare service dimensions and marketing mix indicators. Purpose: To identify and analyze factors influencing public decisions in choosing healthcare services. Method: This qualitative descriptive study was conducted in five sub-districts in Surakarta, Central Java. Thirteen participants who met the inclusion criteria were recruited and selected using a stratified random sampling technique. A semi-structured interview guide was used to elicit themes. Interviews lasted 30-60 minutes and were audiotaped. The recordings were transcribed verbatim and then subjected to inductive content analysis following the Elo & Kyngas method. In-depth participant validation and data presentation were conducted to ensure data validity. Results: Thirteen key themes were identified that reflect the public's perspective on healthcare decisions. These include facilities, doctor schedule information and pricing via social media, punctuality, cleanliness, physical appearance, medical staff attitude and responsiveness, clarity of medical information, hospital comfort, personal experience, hospital reviews and accreditation, cost and health insurance, priority of distance, and ease of access and service flow. Conclusion: Public healthcare choices are influenced by hospital quality assessments, which include tangible evidence, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. They are also supported by the 7Ps of the marketing mix, including product, price, place, promotion, people, process, and physical evidence, which collectively shape patient perceptions and decisions. Suggestion: Healthcare providers need to improve shared services by optimizing facilities, improving hygiene and safety standards, streamlining waiting times, streamlining processes, and improving healthcare provider communication to ensure more effective and patient-focused services.   Keywords: Community; Healthcare Services; Perspective.   Pendahuluan: Meningkatnya kebutuhan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan, menjadi tantangan besar bagi layanan kesehatan untuk memperbaiki diri dalam memberikan layanan terbaik untuk masyarakat sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, penting menggali perspektif masyarakat dalam mengambil keputusan untuk memilih layanan kesehatan berdasarkan dimensi layanan kesehatan dan indikator bauran pemasaran. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih layanan kesehatan. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif yang telah dilakukan di 5 kecamatan di Surakarta, Jawa Tengah. Sebanyak 13 partisipan yang memenuhi kriteria inklusi dilibatkan dan di pilih melalui teknik stratified random sampling. Pedoman wawancara semi-terstruktur digunakan untuk memperoleh tema. Wawancara dilakkan selama 30-60 menit dan di rekam. Hasil rekaman dilakukan verbatim dan dituangkan dalam sebuah transkrip, kemudian dianalisis isi induktif mengikuti metode Elo & Kyngas. Validasi partisipan dan penyajian data secara mendalam telah dilakukan untuk menjaga validitas data. Hasil: Didapatkan 13 tema utama yang mencerminkan perspektif masyarakat dalam mengambil keputusan untuk memilih layanan kesehatan, meliputi fasilitas, informasi jadwal dokter dan harga melalui media sosial, ketepatan waktu, kebersihan, tampilan fisik, sikap dan respon tenaga medis, kejelasan informasi medis, kenyamanan rumah sakit, pengalaman pribadi, ulasan dan akreditasi rumah sakit, biaya dan jaminan kesehatan, prioritas jarak, serta kemudahan akses dan alur pelayanan. Simpulan: Pemilihan layanan kesehatan oleh masyarakat dipengaruhi oleh penilaian kualitas rumah sakit yang mencakup tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy, serta didukung oleh bauran pemasaran 7P seperti product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence, yang secara bersama membentuk persepsi dan keputusan pasien. Saran: Layanan kesehatan perlu meningkatkan mutu pelayanan melalui optimalisasi fasilitas, standar kebersihan dan keselamatan, efisiensi waktu tunggu, penyederhanaan alur, serta peningkatan komunikasi tenaga medis agar pelayanan lebih efektif dan berorientasi pada pasien.   Kata Kunci: Layanan Kesehatan; Masyarakat; Perspektif.
Perbandingan keuntungan dan hambatan rekam medis elektronik dalam optimalisasi pendapatan rumah sakit: A literature review Setiyowati, Ida Fitri; Setyonugroho, Winny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2765

Abstract

Background: The development of digital technology in the healthcare sector has encouraged the use of Electronic Medical Records (EMR) to improve service quality and operational efficiency in healthcare institutions. Beyond clinical benefits, these systems are expected to maximize hospital revenue by accelerating claims submission and strengthening data management. However, EMR implementation still faces various challenges that can impact the effectiveness of revenue enhancement. Purpose: To compare the benefits and barriers to EMR implementation to optimize hospital revenue. Method: This systematic literature review (SLR) study follows the PRISMA 2020 diagram. A literature search was conducted in Google Scholar and Web of Science repositories for scientific papers published between 2020 and 2025. The material selection process included initial identification, title and abstract screening, and eligibility testing based on predetermined inclusion and exclusion parameters. Ten selected articles were then analyzed through thematic synthesis. Results: The benefits of EMR implementation include increased administrative efficiency, accelerated claims processing, improved data accuracy and completeness, and reduced recording errors. Identified barriers include limited information technology infrastructure, low human resource readiness, system implementation and maintenance costs, and interoperability issues. Revenue optimization is more effective in hospitals that integrate EMR with a structured claims management system. Conclusion: EMR implementation has the potential to support hospital revenue optimization by improving the efficiency and quality of claims management. However, successful implementation depends heavily on infrastructure readiness, human resource capacity, and adequate organizational governance support.   Keywords: Benefits and Barriers; Electronic Medical Records (EMR); Hospital Revenue.   Pendahuluan: Perkembangan teknologi digital di bidang kesehatan telah mendorong pemanfaatan Rekam Medis Elektronik (RME) sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan serta efisiensi operasional di institusi kesehatan. Di luar keuntungan dalam aspek klinis, sistem ini diantisipasi dapat memaksimalkan pendapatan rumah sakit dengan mempercepat pengajuan klaim serta memperkuat pengelolaan data. Meskipun demikian, penerapan RME masih menghadapi berbagai tantangan yang mungkin berdampak pada efektivitas peningkatan pendapatan. Tujuan: Untuk membandingkan keuntungan dan hambatan implementasi RME dalam optimalisasi pendapatan rumah sakit. Metode: Penelitian systematic literature review (SLR) sesuai ketentuan diagram PRISMA 2020. Eksplorasi pustaka dilakukan pada repositori Google Scholar dan Web of Science untuk karya ilmiah yang terbit antara tahun 202-2025. Proses pemilihan materi mencakup pengenalan awal, penyaringan judul dan abstrak, serta pengujian kelayakan berdasarkan parameter inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Sepuluh artikel yang lolos seleksi selanjutnya ditelusuri melalui sintesis tematik. Hasil: Keuntungan implementasi RME meliputi peningkatan efisiensi administrasi, percepatan proses klaim, peningkatan akurasi dan kelengkapan data, serta pengurangan kesalahan pencatatan. Hambatan yang teridentifikasi mencakup keterbatasan pada infrastruktur teknologi informasi, rendahnya kesiapan tenaga manusia, biaya yang diperlukan untuk penerapan serta pemeliharaan sistem, serta permasalahan interoperabilitas. Optimalisasi pendapatan lebih efektif pada rumah sakit yang mampu mengintegrasikan RME dengan sistem manajemen klaim secara terstruktur. Simpulan: Implementasi RME berpotensi mendukung optimalisasi pendapatan rumah sakit melalui peningkatan efisiensi dan kualitas pengelolaan klaim. Namun, keberhasilan implementasinya sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, kapasitas SDM, serta dukungan tata kelola organisasi yang memadai.   Kata Kunci: Keuntungan dan Hambatan; Pendapatan Rumah Sakit; Rekam Medis Elektronik  (RME).
Pharmacist-led education on beyond-use date (BUD) improves community knowledge at a community pharmacy Solang, Jonathan Adrian Natanael; Kandou, Grace Debbie; Fatimawali, Fatimawali
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2858

Abstract

Background: Beyond-Use Date (BUD) refers to the time limit for using a medication after the packaging is opened or the medication is prepared, as opposed to the expiration date. Public understanding of BUD remains limited, potentially leading to medication use exceeding safe limits, reducing therapeutic effectiveness, and increasing risks to patient safety. Pharmacists play a strategic role in educating the public through health promotion activities in community pharmacies. Purpose: To determine the effect of education provided by BUD pharmacists on the public's level of knowledge. Method: This study used a pre-experimental design with a single-group pretest-posttest. A total of 44 participants who met the inclusion criteria were selected using random sampling at Rophin Jovins Varma (RJV) Pharmacy. The study procedure included a pretest to measure initial knowledge, followed by education provided by pharmacists about BUD, and a posttest to assess changes in knowledge after the intervention. Data were collected using a 15-question questionnaire. Data were analyzed descriptively to describe the distribution of knowledge levels and inferentially using the Wilcoxon Signed Rank Test to assess differences before and after the intervention. Results: Before the intervention, most respondents had low to moderate levels of knowledge. After the intervention, there was a significant improvement, with the majority of participants achieving a high level of knowledge. Statistical analysis showed a significant difference between pre- and post-intervention knowledge levels. Conclusion: Education provided by pharmacists regarding BUD significantly improved community knowledge. Educational interventions through health promotion activities within the pharmacist community were effective in increasing community understanding of the safe and rational use of medicines. Suggestion: Pharmacists are encouraged to provide ongoing education regarding BUD to promote safe and rational use of medicines.   Keywords: Beyond-Use Date (BUD); Community Knowledge; Community Pharmacy; Pharmacist-Led Education.   Pendahuluan: Beyond-use date (BUD) merupakan batas waktu penggunaan obat setelah kemasan dibuka atau obat diracik, berbeda dengan tanggal kedaluwarsa. Pemahaman masyarakat mengenai BUD masih terbatas, sehingga berpotensi menyebabkan penggunaan obat melewati batas aman, menurunkan efektivitas terapi, serta meningkatkan risiko terhadap keselamatan pasien. Apoteker memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan promosi kesehatan di komunitas apoteker. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi yang diberikan oleh apoteker BUD terhadap tingkat pengetahuan masyarakat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest–posttest. Sebanyak 44 partisipan yang memenuhi kriteria inklusi dipilih menggunakan teknik accidental sampling di Apotek Rophin Jovins Varma (RJV). Prosedur penelitian meliputi pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal, dilanjutkan dengan pemberian edukasi oleh apoteker mengenai BUD, serta post-test untuk menilai perubahan tingkat pengetahuan setelah intervensi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan dan secara inferensial menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test untuk menilai perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah hingga sedang. Setelah intervensi, terjadi peningkatan yang signifikan, dengan mayoritas partisipan mencapai tingkat pengetahuan tinggi. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Edukasi yang diberikan oleh apoteker mengenai BUD secara signifikan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Intervensi edukasi melalui kegiatan promosi kesehatan di komunitas apoteker efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat yang aman dan rasional. Saran: Apoteker diharapkan memberikan edukasi berkelanjutan mengenai BUD untuk meningkatkan penggunaan obat yang aman dan rasional.   Kata Kunci: Beyond-Use Date (BUD); Community Knowledge; Community Pharmacy; Pharmacist-Led Education.
Hazard identification, risk assessment, and determining control (HIRADC) pada kegiatan maintenance underground decline di tambang bawah tanah Melati, Vita Mardhiyanti; Djunaidi, Zulkifli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2868

Abstract

Background: Underground declines are the primary access point for the movement of heavy equipment, personnel, and utilities, and pose operational complexity and high safety risks due to interactions between activities in the underground environment. The high potential for hazards in maintenance activities involving vehicle traffic, ventilation systems, and drainage management requires the implementation of a systematic prevention strategy using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) method. Purpose: To apply HIRADC to underground decline maintenance activities in underground mines, thereby identifying hazards, assessing risks, and determining controls for safe work. Method: This study used a qualitative descriptive approach through observations and interviews of underground decline maintenance activities with one supervisor, one underground manager, and one geotechnical personnel from December 2025 to February 2026. The study covered the HIRADC stages, from consultation and communication, risk context determination, hazard identification and risk assessment, risk control, to monitoring and review. Primary data was obtained from observations of underground technical activities and secondary data from internal company documents. The analysis was conducted using a risk matrix based on the multiplication of likelihood and consequence in accordance with ISO 31000:2018 principles and an occupational safety risk assessment approach. Results: The application of HIRADC to underground decline maintenance activities identified seven primary hazards: working at height, rock support failure, waterlogging, electrical energy, fire, hazardous atmospheres, and interactions between heavy equipment, light vehicles, and workers. The risk assessment results using a 5x5 matrix showed all risk levels were in the moderate category after the implementation of existing controls, indicating that the combination of engineering, administrative, and PPE controls reduced the risk to an acceptable level. Conclusion: All hazards in underground decline maintenance activities were at a moderate risk level, indicating that existing controls were able to maintain risk within acceptable limits and support safe and controlled work execution.   Keywords: Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC); Underground Decline Maintenance; Underground Mining.   Pendahuluan: Underground decline merupakan akses utama bagi pergerakan alat berat, personel, dan utilitas yang memiliki kompleksitas operasional serta risiko keselamatan tinggi akibat interaksi antar aktivitas di lingkungan bawah tanah. Tingginya potensi bahaya pada kegiatan maintenance yang melibatkan lalu lintas kendaraan, sistem ventilasi, dan pengelolaan drainase menuntut penerapan strategi pencegahan sistematis melalui metode Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control (HIRADC). Tujuan: Untuk menerapkan HIRADC pada kegiatan maintenance underground decline di tambang bawah tanah, sehingga dapat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan pengendalian agar pekerjaan dapat dilakukan secara aman. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi dan wawancara pada kegiatan maintenance underground decline dengan subjek satu pengawas, satu manajer underground, dan satu personel geotechnical selama periode Desember 2025 hingga Februari 2026. Penelitian mencakup tahapan HIRADC mulai dari konsultasi dan komunikasi, penentuan konteks risiko, identifikasi bahaya dan penilaian risiko, pengendalian risiko, hingga pemantauan dan peninjauan, dengan data primer dari pengamatan aktivitas teknis underground dan data sekunder dari dokumen internal perusahaan. Analisis dilakukan menggunakan matriks risiko berdasarkan perkalian likelihood dan consequence sesuai prinsip ISO 31000:2018 dan pendekatan penilaian risiko keselamatan kerja. Hasil: Penerapan HIRADC pada kegiatan maintenance underground decline mengidentifikasi tujuh sumber bahaya utama yaitu bekerja di ketinggian, kegagalan penyanggaan batuan, genangan air, energi listrik, kebakaran, atmosfer berbahaya, serta interaksi alat berat, kendaraan ringan, dan pekerja. Hasil penilaian risiko menggunakan matriks 5×5 menunjukkan seluruh tingkat risiko berada pada kategori sedang (moderate) setelah penerapan pengendalian yang ada, yang mengindikasikan bahwa kombinasi pengendalian rekayasa teknik, administratif, dan APD mampu menurunkan risiko hingga batas yang dapat diterima. Simpulan: Seluruh sumber bahaya pada kegiatan maintenance underground decline berada pada tingkat risiko sedang (moderate) yang menunjukkan bahwa pengendalian yang ada mampu menjaga risiko dalam batas yang dapat diterima serta mendukung pelaksanaan pekerjaan secara aman dan terkendali.   Kata Kunci: Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC); Maintenance Underground Decline; Tambang Bawah Tanah.
Pengaruh terapi komplementer yoga terhadap penurunan nyeri premenstrual syndrome pada remaja putri usia 16-18 tahun Hajar, Siti; Noorbaya, Siti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2909

Abstract

Background: Premenstrual syndrome (PMS) is a condition commonly experienced by adolescent girls, characterized by various physical, psychological, and emotional complaints arising from hormonal changes, which can disrupt daily activities. One alternative treatment for PMS is through complementary therapy in the form of yoga. Purpose: To analyze the effect of yoga therapy on reducing PMS pain intensity in adolescent girls aged 16–18 years. Method: This study employed a quantitative approach with a pre-experimental design using a pretest–posttest model, conducted at Samarinda Health Vocational School. The study subjects were 30 adolescent girls aged 16–18 years with Premenstrual Syndrome (PMS), selected through purposive sampling. The instruments used in this study were a pain measurement scale in the form of a Visual Analog Scale (VAS) or a Numeric Rating Scale (NRS) to assess PMS pain intensity. The intervention provided was complementary yoga therapy, which included body movements (asanas), breathing techniques (pranayama), and relaxation. Data were analyzed univariately and bivariately using paired t-tests. Results: There was a decrease in PMS pain intensity with an average difference of 5 points and a significance value of p = 0.0001 (p < 0.05). These findings indicate that yoga therapy has a significant effect on reducing PMS pain. The relaxation effect of yoga can reduce sympathetic nerve activity and increase parasympathetic nerve activity, thereby reducing PMS symptoms. Conclusion: Yoga therapy has been proven effective as a non-pharmacological intervention in reducing PMS pain intensity in adolescent girls. Suggestion: Yoga is recommended as a safe, effective, affordable, and easy-to-implement non-pharmacological intervention for school-aged adolescent girls. Integrating yoga into reproductive health programs in schools and communities can be a complementary strategy to reduce PMS morbidity, improve quality of life, and support adolescent reproductive health outcomes.   Keywords: Adolescent Girls; Menstrual Pain; Premenstrual Syndrome (PMS); Yoga Therapy.   Pendahuluan: Sindrom pramenstruasi (PMS) merupakan kondisi yang banyak dialami oleh remaja perempuan, ditandai dengan berbagai keluhan fisik, psikologis, dan emosional yang muncul akibat perubahan hormonal, sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu alternatif penanganan PMS adalah melalui terapi komplementer berupa yoga. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh terapi yoga terhadap penurunan intensitas nyeri PMS pada remaja putri berusia 16–18 tahun. Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pra-eksperimental menggunakan model pretest–posttest, yang dilaksanakan di SMK Kesehatan Samarinda. Subjek penelitian berjumlah 30 remaja putri berusia 16–18 tahun yang mengalami Premenstrual Syndrome (PMS), yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala pengukuran nyeri berupa Visual Analog Scale (VAS) atau Numeric Rating Scale (NRS) untuk menilai intensitas nyeri PMS Intervensi yang diberikan berupa terapi komplementer yoga yang meliputi gerakan tubuh (asana), teknik pernapasan (pranayama), dan relaksasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji t berpasangan. Hasil: Adanya penurunan intensitas nyeri PMS dengan rata-rata selisih sebesar 5 poin dan nilai signifikansi p = 0.0001 (p < 0.05). Temuan ini menunjukkan, bahwa terapi yoga berpengaruh signifikan dalam menurunkan nyeri PMS. Efek relaksasi yang dihasilkan oleh yoga mampu menurunkan aktivitas saraf simpatis serta meningkatkan aktivitas saraf parasimpatis, sehingga keluhan PMS dapat berkurang. Simpulan: Terapi yoga terbukti efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan intensitas nyeri PMS pada remaja putri. Saran: Yoga direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang aman, efektif, terjangkau, dan mudah diimplementasikan pada remaja putri usia sekolah. Integrasi yoga dalam program kesehatan reproduksi di sekolah maupun komunitas dapat menjadi strategi komplementer untuk menurunkan morbiditas akibat PMS, meningkatkan kualitas hidup, serta mendukung pencapaian kesehatan reproduksi remaja.   Kata Kunci: Nyeri Menstruasi; Premenstrual Syndrome (PMS); Remaja Putri; Terapi Yoga.
Pengaruh penggunaan electronic early warning score record terhadap persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan perawat di area perawatan medikal Christina, Tri Yahya; Suhartini, Suhartini; Erawati, Meira; Safaruddin, Safaruddin; Sriwiyati, Lilik; Yulianti, Tunjung Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2945

Abstract

Background: As a new technology in abortion, it is important to explore the perceived usefulness and ease of use of the E-EWSrecord application among potential users. Previous research has explored the issue of perceived usability. Comprehensive research on the perceived usefulness and ease of use of E-EWS technology is limited. These two factors are crucial in decision-making regarding the development of new technologies in the field of abortion. Purpose: To determine the effect of E-EWSrecord use on nurses' perceived usefulness and ease of use in medical care. Method: A quantitative study using a pre-experimental, single-group pre-post-test approach was conducted in the medical ward of a hospital in Solo Baru, from January 21 to March 3, 2022. A total of 77 nurses participated according to predetermined criteria. The researchers used the E-EWSrecord application as a research tool and a questionnaire on perceived usefulness and perceived ease of use as research instruments to assess nurses' perceptions. The Wilcoxon test was used to analyze the results. Results: A total of 64 nurses (83.1%) considered E-EWSrecord very useful in their work and found it very easy to use. There was a significant difference in nurses' perceptions of usability and ease of use between before and after direct use of E-EWSrecord for 7 shifts, with a P-value of 0.000 and an effect size of 0.422. Conclusion: The direct trial of E-EWSrecord was shown to have an impact on nurses' perceptions of usability and ease of use. The use of E-EWSrecord can improve patient safety and enhance patient quality of life. E-EWSrecord allows for better monitoring of patient conditions, faster recognition of changes in patient conditions by the healthcare team, allowing patients to receive prompt and appropriate care. It also demonstrates nurses' commitment to patients through technology in care. Suggestion: Hospitals can implement electronic medical records (E-EWS) as a strategy to improve service quality, reduce nurse workload, reduce costs associated with paper-based documentation, increase service time efficiency, and enhance patient safety.   Keywords: Electronic Medical Records with Early Warning Score; Perceived Ease of Use; Perceived Usefulness; Medical Wards; Technology in Nursing.   Pendahuluan: Sebagai teknologi baru dalam keperawatan, aplikasi E-EWSrecord penting dilakukan eksplorasi terkait persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan perawat sebagai calon pengguna. Peneliti sebelumnya telah banyak mengeksplorasi mengenai persepsi kegunaan. Penelitian lengkap terkait persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan teknologi E-EWS masih terbatas. Dua hal tersebut merupakan faktor penting dalam pengambilan keputusan dari sebuah pengembangan teknologi baru di keperawatan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penggunaan E-EWSrecord terhadap persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan perawat di area perawatan medikal. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan pra experimental one group pre-post-test yang dilakukan di ruang perawatan medikal salah satu rumah sakit di Solo Baru, pada tanggal 21 Januari hingga 3 Maret 2022. Sebanyak 77 perawat terlibat sesuai kriteria yang ditentukan. Peneliti menggunakan aplikasi E-EWSrecord sebagai alat penelitian serta kuesioner perceived usefulness & perceived ease of use sebagai instrumen penelitian untuk mencari persepsi perawat. Uji Wilcoxon digunakan untuk menganalisis hasil penelitian. Hasil: Sejumlah 64 perawat (83.1%) memiliki persepsi bahwa E-EWSrecord sangat berguna dalam pekerjaannya dan berpersepsi bahwa E-EWSrecord sangat mudah digunakan. Terdapat perbedaan yang signifikan terkait persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan perawat, antara sebelum dengan setelah penggunaan E-EWSrecord secara langsung selama 7 shift, dengan P-value 0.000 dan effect size 0.422. Simpulan: Percobaan E-EWSrecord secara langsung terbukti memberikan pengaruh terhadap perubahan persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan perawat. Penggunaan E-EWSrecord dapat meningkatkan keselamatan pasien serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Adanya E-EWSrecord, kondisi pasien lebih terpantau, perubahan kondisi pasien lebih cepat diketahui oleh tim kesehatan, sehingga pasien segera mendapat pertolongan dengan cepat dan tepat. Kondisi tersebut juga menjadi bentuk caring perawat kepada pasien melalui teknologi dalam keperawatan. Saran: Rumah sakit dapat pengaplikasian E-EWSrecord sebagai salah satu strategi dalam peningkatan mutu pelayanan, menurunkan beban kerja perawat, pengurangan biaya terkait dokumentasi paper based, efesiensi waktu pelayanan, serta keselamatan pasien.   Kata Kunci: Electronic Early Warning Score Record; Persepsi Kegunaan; Persepsi Kemudahan Penggunaan; Ruang Perawatan Medikal; Teknologi Dalam Keperawatan.
Perbandingan efektivitas sabun antiseptik dan alcohol-based hand rub dalam pencegahan infeksi nosokomial di ICU: A systematic review Worabay, Apia Yeany; Waluyo, Agung; Zahra, Anggri Noorana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2963

Abstract

Background: Nosocomial infections, or healthcare-associated infections, remain a major problem in intensive care units (ICUs) due to the critical condition of patients and the frequent use of invasive medical devices. Hand hygiene is an important strategy to prevent the transmission of microorganisms among healthcare workers. Antiseptic soap and alcohol-based hand rub are commonly used methods, but their effectiveness in the ICU setting has shown varying results. Purpose: To compare the effectiveness of antiseptic soap and alcohol-based hand rub in preventing nosocomial infections in the ICU. Method: This study used a systematic review based on the PRISMA guidelines. A literature search was conducted through PubMed, ScienceDirect, ClinicalKey, Wiley Online Library, and Google Scholar using keywords based on the PICO framework. Of the 17,477 articles found, 25 were assessed for full-text eligibility, and 7 studies met the inclusion criteria. Results: Antiseptic soap, particularly chlorhexidine-based hand rub, effectively reduced the number of microorganisms on the hands of healthcare workers and contributed to a decrease in infection rates. Alcohol-based hand rub is also effective in reducing bacterial contamination and offers the advantages of practicality, shorter application time, and ease of use. Conclusion: Antiseptic soap and alcohol-based hand rub are both effective in reducing microbial contamination. Antiseptic soap tends to provide stronger microbial reduction, while alcohol-based hand rub can improve hand hygiene compliance. Their complementary use can support the prevention of nosocomial infections in the ICU. Suggestion: Healthcare facilities should provide adequate antiseptic soap and alcohol-based hand rub (ABHR) and ensure they are easily accessible to healthcare workers. Education, training, compliance audits, and regular feedback are needed to improve hand hygiene practices. Future research should use more robust designs and more standardized measurement methods.   Keywords: Alcohol-Based Hand Rub; Antiseptic Soap; Intensive Care Unit (ICU); Nosocomial Infection.   Pendahuluan: Infeksi nosokomial atau healthcare-associated infections masih menjadi masalah utama di intensive care unit (ICU) karena kondisi pasien yang kritis dan seringnya penggunaan alat medis invasif. Kebersihan tangan merupakan strategi penting untuk mencegah transmisi mikroorganisme pada tenaga kesehatan. Sabun antiseptik dan alcohol-based hand rub merupakan metode yang umum digunakan, namun efektivitas keduanya di ruang ICU masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas sabun antiseptik dan alcohol-based hand rub dalam mencegah infeksi nosokomial di ICU. Metode: Penelitian ini menggunakan metode systematic review berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, ScienceDirect, ClinicalKey, Wiley Online Library, dan Google Scholar menggunakan kata kunci berdasarkan kerangka PICO. Dari 17,477 artikel yang ditemukan, 25 artikel dinilai kelayakan full-text, dan 7 studi memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Sabun antiseptik, khususnya berbasis klorheksidin efektif menurunkan jumlah mikroorganisme pada tangan tenaga kesehatan dan berkontribusi terhadap penurunan angka infeksi. Alcohol-based hand rub juga efektif menurunkan kontaminasi bakteri serta memiliki keunggulan dalam kepraktisan, waktu penggunaan yang lebih singkat, dan kemudahan penggunaan. Simpulan: Sabun antiseptik dan alcohol-based hand rub sama-sama efektif dalam mengurangi kontaminasi mikroba. Sabun antiseptik cenderung memberikan penurunan mikroba yang lebih kuat, sedangkan alcohol-based hand rub dapat meningkatkan kepatuhan kebersihan tangan. Penggunaan keduanya secara saling melengkapi dapat mendukung pencegahan infeksi nosokomial di ICU. Saran: Fasilitas pelayanan kesehatan perlu menyediakan sabun antiseptik dan alcohol-based hand rub (ABHR) secara memadai serta mudah diakses oleh tenaga kesehatan. Edukasi, pelatihan, audit kepatuhan, dan umpan balik berkala perlu dilakukan untuk meningkatkan praktik kebersihan tangan. Penelitian selanjutnya perlu menggunakan desain yang lebih kuat dan metode pengukuran yang lebih terstandar.   Kata Kunci: Alcohol-Based Hand Rub; Infeksi Nosokomial; Intensive Care Unit (ICU); Sabun Antiseptik.
Persepsi masyarakat tentang stunting Muhazir, Rahmat; Edayani, Safrina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2984

Abstract

Background: Stunting is defined as the failure of physical growth in children under five years of age due to chronic malnutrition and infection, resulting in short stature. Stunting in toddlers can cause various problems, such as impaired physical growth, mental development, and health status, requiring special attention. Several factors contribute to stunting, including malnutrition during pregnancy, cessation of breastfeeding before 6 months, insufficient feeding frequency, incomplete vaccinations, and parental height. Purpose: To explore public perceptions of stunting. Method: This qualitative, descriptive phenomenological study was conducted in Lhokseumawe City. The sample consisted of 10 participants (mothers of toddlers). The sample was selected using a purposive sampling technique, and data collection was conducted through in-depth interviews. Data analysis was conducted using content analysis of interview transcripts and notepads using the Giorgi analysis method. Results: The analysis yielded three themes: the meaning of stunting, which consists of three categories: failure to thrive, malnutrition, and growth disorders; The factors causing stunting are divided into 12 categories, including child malnutrition, breastfeeding practices, incomplete immunization, genetic factors, malnutrition during pregnancy, child physical activity, socioeconomic status, education and knowledge, exposure to cigarette smoke, environmental factors, and stress. The impacts of stunting include an increased risk of degenerative diseases, parental anxiety disorders, impaired growth and development, and low self-confidence. Conclusion: Public perception of stunting is relatively good, but needs to be further improved by increasing the active role of health workers in providing information related to stunting, thereby preventing and reducing the incidence of stunting in the community. Suggestion: Health workers are expected to be more active in providing information about stunting, its meaning, influencing factors, and its impact. This information can be provided through community outreach, particularly to young couples and families with infants and toddlers.   Keywords: Public Perception; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting didefinisikan sebagai kegagalan pertumbuhan fisik pada anak di bawah usia lima tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi, yang mengakibatkan perawakan pendek. Stunting pada balita dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan mental, dan status kesehatan pada anak, sehingga memerlukan perhatian khusus. Beberapa faktor penyebab stunting terjadi sejak kehamilan karena kekurangan gizi selama periode tersebut, penghentian pemberian ASI <6 bulan, frekuensi pemberian makan yang tidak mencukupi, dan tidak lengkapnya vaksinasi serta tinggi badan orang tua. Tujuan: Untuk mengeksplorasi persepsi masyarakat mengenai stunting. Metode: Penelitian kualitatif fenomenologi deskriptif, dilaksanakan di kota Lhokseumawe. Sampel dalam penelitian ini adalah 10 partisipan (ibu yang mempunyai anak balita). Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan analysis conten pada transkrip wawancara dan lembaran catatan dengan menggunakan metode analisis Giorgi. Hasil: Analisis menghasilkan tiga tema, yaitu makna stunting yang terdiri dari 3 kategori, meliputi gagal tumbuh, kekurangan gizi, dan gangguan pertumbuhan; faktor-faktor penyebab stunting, terdiri dari 12 kategori, meliputi kekurangan gizi pada anak, praktik pemberian ASI, imunisasi tidak lengkap, faktor genetik, kekurangan gizi selama kehamilan, aktivitas fisik anak, status sosial ekonomi, pendidikan dan pengetahuan, paparan asap rokok, lingkungan, dan stres; dan dampak stunting terdiri dari peningkatan risiko penyakit degeneratif, gangguan kecemasan orang tua, gangguan pertumbuhan dan perkembangan, dan rendahnya kepercayaan diri. Simpulan: Persepsi masyarakat tentang stunting relatif baik, tetapi perlu ditingkatkan lebih lanjut melalui peningkatan peran aktif petugas kesehatan dalam memberikan informasi terkait stunting, sehingga mencegah dan mengurangi kejadian stunting di masyarakat. Saran: Petugas kesehatan diharapkan untuk lebih aktif dalam memberikan informasi terkait stunting, makna stunting, faktor-faktor yang memengaruhi stunting serta dampak stunting. Pemberian informasi dapat dilakukan melalui penyuluhan kepada masyarakat, khususnya bagi pasangan muda dan keluarga yang mempunyai bayi dan balita.   Kata Kunci: Anak di Bawah Lima Tahun; Persepsi Masyarakat; Stunting.
Pendekatan terapi presisi berbasis bukti pada tuberkulosis paru di Sulawesi Selatan: Sebuah tinjauan literatur Baso, Bachtiar; Hermawan, Hermawan; Ganoko, Marwan Ahmad; Idrus, Hasta Handayani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.3022

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis remains a significant public health problem in Indonesia, including in South Sulawesi. The high burden of disease, delayed diagnosis, and increasing cases of drug resistance are major challenges in tuberculosis control. The development of the concept of precision therapy and evidence-based approaches opens up new opportunities to improve therapy success through management tailored to the patient's clinical, microbiological, and molecular characteristics. Purpose: To review the scientific evidence related to precision therapy approaches for pulmonary tuberculosis and analyze the challenges and opportunities for implementing evidence-based therapy in South Sulawesi. Method: A literature search was conducted using the PubMed, Scopus, and ScienceDirect databases. The article selection and synthesis process followed the PRISMA approach. A total of 312 initial articles were identified, and after screening based on relevance, year of publication, and methodological quality, 28 articles were included in the final analysis. Results: The precision therapy approach in tuberculosis management includes the integration of rapid molecular diagnostics, drug susceptibility testing, pharmacogenomics, and individualized therapy regimen adjustments. This approach has the potential to increase treatment effectiveness, reduce the risk of drug resistance, and improve patient clinical outcomes. However, its implementation at the regional level, such as in South Sulawesi, still faces various obstacles, including limited diagnostic infrastructure, unequal access to technology, and the need to strengthen the capacity of human health resources. Conclusion: The evidence-based precision therapy approach has significant potential to improve the quality of pulmonary tuberculosis management through more personalized and effective therapeutic strategies. However, strengthening diagnostic capacity, expanding access to molecular technology, and integrating health policies are needed to support the optimal implementation of precision therapy in South Sulawesi.   Keywords: Evidence-Based Medicine; Molecular Diagnostics; Precision Therapy; Pulmonary Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Tingginya beban penyakit, keterlambatan diagnosis, serta meningkatnya kasus resistensi obat menjadi tantangan utama dalam pengendalian tuberkulosis. Perkembangan konsep terapi presisi dan pendekatan berbasis bukti membuka peluang baru dalam meningkatkan keberhasilan terapi melalui penatalaksanaan yang disesuaikan dengan karakteristik klinis, mikrobiologis, dan molekuler pasien. Tujuan: Untuk meninjau berbagai bukti ilmiah terkait pendekatan terapi presisi pada tuberkulosis paru serta menganalisis tantangan dan peluang implementasi terapi berbasis bukti di Sulawesi Selatan. Metode: Penelusuran literatur dilakukan melalui database PubMed, Scopus, dan ScienceDirect. Proses seleksi dan sintesis artikel mengikuti pendekatan PRISMA. Sebanyak 312 artikel awal ditemukan, kemudian setelah proses skrining berdasarkan relevansi, tahun publikasi, dan kualitas metodologi, sebanyak 28 artikel dimasukkan dalam analisis akhir. Hasil: Pendekatan terapi presisi dalam penatalaksanaan tuberkulosis mencakup integrasi diagnostik molekuler cepat, uji kepekaan obat, farmakogenomik, serta penyesuaian regimen terapi secara individual. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan efektivitas pengobatan, menurunkan risiko resistensi obat, serta memperbaiki luaran klinis pasien. Namun, implementasinya di tingkat regional seperti di Sulawesi Selatan masih menghadapi berbagai kendala, termasuk keterbatasan infrastruktur diagnostik, akses teknologi yang belum merata, serta kapasitas sumber daya manusia kesehatan yang masih perlu diperkuat. Simpulan: Pendekatan terapi presisi berbasis bukti memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas penatalaksanaan tuberkulosis paru melalui strategi terapi yang lebih personal dan efektif. Namun demikian, diperlukan penguatan kapasitas diagnostik, perluasan akses terhadap teknologi molekuler, serta kebijakan kesehatan yang terintegrasi untuk mendukung implementasi terapi presisi secara optimal di Sulawesi Selatan.   Kata Kunci: Diagnostik Molekuler; Evidence-Based Medicine; Terapi Presisi; Tuberkulosis Paru.
Riwayat menyusui, kepatuhan kunjungan posyandu, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian stunting pada balita Umami, Nurrahmi; Lestary, Tanti Tri; Gusriani, Gusriani; Rosnawati, Rosnawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.3026

Abstract

Background: Stunting remains a public health problem that impacts the quality of human resources. Factors influencing stunting are multidimensional, including breastfeeding history, compliance with integrated health post visits, and environmental sanitation. Coastal areas have distinct risk characteristics, requiring a comprehensive analysis of the determinants of stunting. Purpose: To analyze the relationship between breastfeeding history, compliance with integrated health post visits, and environmental sanitation with stunting in toddlers. Method: This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 46 toddler respondents aged 12–59 months, selected using a total sampling technique. Data were collected using questionnaires, environmental sanitation observations, and documentation from Health Card books. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of 0.05. Results: There was a significant association between breastfeeding history (p=0.001), compliance with integrated health post visits (p=0.005), and environmental sanitation (p=0.001) with stunting. Toddlers with a history of suboptimal breastfeeding, non-compliance with integrated health post visits, and poor environmental sanitation are more likely to experience stunting in the very short category. Conclusion: Breastfeeding history, compliance with integrated health post visits, and environmental sanitation are important determinants of stunting in toddlers. Stunting prevention requires a multidimensional approach through optimizing breastfeeding practices, increasing the utilization of integrated health post visits, and improving environmental sanitation in an integrated manner. Suggestion: Further research can use a longitudinal or cohort design with a larger sample size and wider coverage area to obtain a stronger causal relationship between breastfeeding history, compliance with integrated service post visits, and environmental sanitation with the incidence of stunting.   Keywords: Breastfeeding History; Compliance with Integrated Health Post Visits; Environmental Sanitation; Stunting.   Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia. Faktor yang memengaruhi kejadian stunting bersifat multidimensional, termasuk riwayat menyusui, kepatuhan kunjungan posyandu, dan sanitasi lingkungan. Wilayah pesisir memiliki karakteristik risiko yang berbeda, sehingga diperlukan analisis determinan stunting secara komprehensif. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan riwayat menyusui, kepatuhan kunjungan posyandu, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 46 responden yang memiliki balita usia 12–59 bulan, dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, observasi sanitasi lingkungan, dan dokumentasi buku Kartu Menuju Sehat (KMS). Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara riwayat menyusui (p=0.001), kepatuhan kunjungan posyandu (p=0.005), dan sanitasi lingkungan (p=0.001) dengan kejadian stunting. Balita dengan riwayat menyusui tidak optimal, tidak patuh kunjungan posyandu, serta sanitasi lingkungan tidak baik memiliki kecenderungan mengalami stunting kategori sangat pendek. Simpulan: Riwayat menyusui, kepatuhan kunjungan posyandu, dan sanitasi lingkungan merupakan determinan penting kejadian stunting pada balita. Pencegahan stunting memerlukan pendekatan multidimensional melalui optimalisasi praktik menyusui, peningkatan pemanfaatan posyandu, dan perbaikan sanitasi lingkungan secara terintegrasi. Saran: Penelitian selanjutnya dapat menggunakan desain longitudinal atau kohort dengan jumlah sampel yang lebih besar dan cakupan wilayah yang lebih luas untuk memperoleh hubungan kausal yang lebih kuat antara riwayat menyusui, kepatuhan kunjungan posyandu, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting.   Kata Kunci: Kepatuhan Kunjungan Posyandu; Riwayat Menyusui; Sanitasi Lingkungan; Stunting.