cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 531 Documents
Pengaruh brisk walking exercise terhadap kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe-2 Rahmat, Fauziah Amanda; Rahmi, Upik; Salasa, Sehabudin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2383

Abstract

Background: Sleep quality disturbance is a common problem among patients with type 2 diabetes mellitus and is associated with poor glycemic control and decreased quality of life. Physical activity, particularly moderate-intensity exercise such as brisk walking, is considered a simple non-pharmacological intervention that may improve sleep quality. However, evidence regarding its effectiveness in primary healthcare settings remains limited. Purpose: To analyze the effect of brisk walking exercise on sleep quality in patients with type 2 diabetes mellitus Method: This study employed a quasi-experimental pretest-posttest design with a control group. Patients with type 2 diabetes mellitus were purposively selected and assigned to intervention and control groups. The intervention group participated in a brisk walking exercise program for 8 weeks (three times per week), while the control group received no intervention. Sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) before and after the intervention. Data were analyzed using descriptive statistics, paired t-test or Wilcoxon test, and independent t-test with a significance level of 0.05. Results: The intervention group showed a significant improvement in sleep quality after the brisk walking program, as indicated by a lower mean PSQI score than the control group. Statistical analysis demonstrated a significant difference in posttest sleep quality scores between groups (p < 0.001). Conclusion: Brisk walking exercise significantly improves sleep quality in patients with type 2 diabetes mellitus. This finding supports the role of structured physical activity as an effective non-pharmacological approach to improving sleep quality in patients with diabetes. Suggestion: Future research is recommended to develop designs with longer intervention durations, larger sample sizes, and involving more diverse populations to increase the generalizability of the findings. Furthermore, the use of objective measures of sleep quality, such as actigraphy or polysomnography, should be considered to complement the subjective measures of the PSQI and minimize potential response bias.   Keywords: Brisk Walking Exercise; Sleep Quality; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Gangguan kualitas tidur merupakan masalah yang sering dialami oleh pasien diabetes melitus tipe 2 dan berhubungan dengan kontrol glikemik yang buruk serta penurunan kualitas hidup. Aktivitas fisik aerobik intensitas sedang, seperti brisk walking exercise, merupakan intervensi nonfarmakologis sederhana yang berpotensi memperbaiki kualitas tidur. Namun, bukti empiris penerapannya di layanan kesehatan primer masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh brisk walking exercise terhadap kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sampel pasien diabetes melitus tipe 2 dipilih secara purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi menjalani brisk walking exercise selama 8 minggu (3 kali/minggu), sedangkan kelompok kontrol tidak menerima perlakuan. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji paired t-test atau Wilcoxon, serta independent t-test dengan tingkat kemaknaan 0.05. Hasil: Terdapat peningkatan kualitas tidur yang bermakna pada kelompok intervensi setelah pemberian brisk walking exercise. Perbandingan skor PSQI posttest antara kelompok intervensi dan kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p < 0.001). Simpulan: Brisk walking exercise berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2. Intervensi ini dapat dipertimbangkan sebagai pendekatan keperawatan nonfarmakologis yang efektif dan aplikatif dalam meningkatkan kualitas tidur pasien diabetes di layanan kesehatan primer. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan desain dengan durasi intervensi yang lebih panjang, jumlah sampel yang lebih besar, serta melibatkan populasi yang lebih beragam untuk meningkatkan generalisasi temuan. Selain itu, penggunaan alat ukur objektif kualitas tidur seperti actigraphy atau polysomnography perlu dipertimbangkan guna melengkapi pengukuran subjektif PSQI dan meminimalkan potensi bias respon.   Kata Kunci: Brisk Walking Exercise; Diabetes Mellitus Type 2; Kualitas Tidur.
Gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada lansia Pratiwi, Lusi Ade; Hamid, Abdurrahman; Roslita, Riau; Rasyid, Abdur; Lita, Lita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2385

Abstract

Background: As the number of elderly people in Indonesia, particularly in Pekanbaru City, increases, the implementation of clean and healthy living behaviors is crucial for improving their quality of life. This is because the elderly are a vulnerable group to various diseases, including infections. Purpose: To describe the knowledge, attitudes, and behaviors of clean and healthy living in the elderly. Methods: This study used a quantitative design with a descriptive and survey approach, involving 60 elderly respondents from the Payung Sekaki Community Health Center in Pekanbaru City. The instrument used was a questionnaire to assess knowledge, attitudes, and behaviors of clean and healthy living in the elderly. Results: The majority of respondents were aged 60-69 years (50 respondents (83.3%), and 37 respondents were male (62.7%). Most had completed high school/vocational school/junior high school (28 respondents (46.7%), the majority had no medical history (25 respondents (41.7%), and 21 respondents (35%) were entrepreneurs. Based on knowledge level, the majority of respondents (30 respondents) had sufficient knowledge. All respondents had a positive attitude toward clean and healthy living behaviors (100%), and clean and healthy living behaviors was categorized as good (38 respondents) (63.3%). Conclusion: Most respondents were aged 60-69 years, male, most had completed high school/vocational school/junior high school, had no medical history, and were entrepreneurs. Based on knowledge level, the majority of respondents had sufficient knowledge, all respondents had a positive attitude toward clean and healthy living behaviors and good.   Keywords: Attitude; Clean and Healthy Living Behavior; Elderly; Knowledge.   Pendahuluan: Seiring dengan meningkatnya jumlah lansia di Indonesia, khususnya di Kota Pekanbaru, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi penting untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Hal karena lansia merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk infeksi. Tujuan: Untuk menggambarkan pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan survei, yang melibatkan 60 responden lansia dari Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat pada lansia. Hasil: Mayoritas usia responden Adalah 60-69 tahun sebanyak 50 responden (83.3%), dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 37 responden (62.7%). Sebagian besar menamatkan pendidikan hingga SMA/SMK/SLTA sebanyak 28 responden (46.7%), mayoritas tidak memiliki Riwayat penyakit sebnyak 25 responden (41.7%), dan riwayat pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 21 responden (35%). Berdasarkan tingkat pengetahuan, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 30 responden (50%). Seluruh responden memiliki sikap positif terhadap PHBS (100%) dan perilaku PHBS sendiri masuk ke dalam kategori baik sebanyak 38 responden (63.3%). Simpulan: Sebagian besar responden berusia 60-69 tahun, berjenis kelamin laki-laki, sebagian besar menamatkan pendidikan hingga SMA/SMK/SLTA, tidak memiliki riwayat penyakit, dan riwayat pekerjaan sebagai wiraswasta. Berdasarkan tingkat pengetahuan, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang cukup, seluruh responden memiliki sikap positif terhadap PHBS, dan perilaku PHBS baik.   Kata Kunci: Lansia; Pengetahuan; Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); Sikap.
The Relationship between self-coping and depression in older adults with hypertension Nugroho, Rafli Bagas; Sudyasih, Tiwi; Suratini, Suratini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2386

Abstract

Background: Depression is a common mental health problem among the elderly and significantly affects their quality of life and psychological well-being. This condition is often underdiagnosed because its symptoms are frequently considered part of the normal aging process. Chronic diseases such as hypertension can worsen psychological conditions due to physical limitations and prolonged psychosocial stress. Coping mechanisms play an important role in preventing and managing depression, while inadequate coping may increase vulnerability to depression among elderly individuals with hypertension. Purpose: To analyze the relationship between self-coping and depression among older adults with hypertension. Method: This study used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 44 elderly people with hypertension in Glagah Hamlet, Nglegi Village, Patuk District, Gunungkidul Regency, selected using a purposive sampling technique. Data collection was conducted using a self-coping questionnaire and the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9). Data analysis was performed using the Kendall's Tau correlation test with a significance level of p < 0.05. Results: T The results showed that most respondents had high coping mechanisms (84.1%), and the majority were categorized as not depressed (61.4%). The Kendall’s Tau test revealed a correlation coefficient of −0.431 with a p-value of 0.003, indicating a significant negative relationship with a moderate correlation strength between coping mechanisms and depression levels. Conclusion: There is a significant negative relationship between coping mechanisms and depression levels among elderly patients with hypertension. Higher coping ability is associated with lower levels of depression. Strengthening adaptive coping strategies is important to maintain mental health among elderly individuals with chronic diseases.   Keywords: Depression; Hypertension Older Adults; Self-Coping.   Pendahuluan: Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang sering dialami oleh lansia dan berdampak pada kualitas hidup serta kesejahteraan psikologis. Kondisi ini kerap tidak terdeteksi karena gejalanya dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Penyakit kronis seperti hipertensi dapat memperburuk kondisi psikologis akibat keterbatasan aktivitas fisik dan tekanan psikososial yang berkepanjangan. Koping diri berperan penting dalam mencegah dan mengendalikan depresi, sementara koping yang tidak adekuat dapat meningkatkan kerentanan depresi pada lansia dengan hipertensi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara koping diri dengan tingkat depresi pada lansia penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 44 lansia penderita hipertensi di Dusun Glagah, Desa Nglegi, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner koping diri dan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki koping diri pada kategori tinggi (84.1%) dan mayoritas responden berada pada kategori tidak depresi (61.4%). Hasil uji Kendall’s Tau menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar −0.431 dengan nilai p = 0.003, yang menandakan adanya hubungan negatif yang signifikan dengan kekuatan korelasi sedang antara koping diri dan tingkat depresi. Simpulan: Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara koping diri dan tingkat depresi pada lansia penderita hipertensi. Semakin tinggi kemampuan koping diri yang dimiliki lansia, maka semakin rendah tingkat depresi yang dialami. Penguatan koping diri adaptif penting dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan mental lansia dengan penyakit kronis.   Kata Kunci: Depression; Hypertension Older Adults; Self-Coping.  
Pengembangan strategi manajemen penanggulangan kebakaran di puskesmas Amaliah, Rizqi Ulla; Fauzi, Asnil; Suliana, Naily Nur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2390

Abstract

Background: Indonesia is a country with a high level of disaster potential. Disasters can occur due to natural, non-natural, or human-caused factors. Fires are categorized as a non-natural disaster based on their cause. One public facility that also needs to address this situation is the community health center. The community health center must be prepared for fire disasters because they accommodate patients, families, visitors, and the the community health center' own human resources. Purpose: To develop a fire management strategy in the community health center. Method: This sequential, mixed-methods exploratory study began with qualitative data collection and continued with quantitative data collection. The study was conducted in 20 Community Health Center in Batam City, Riau Islands, in 2025. The stages included analysis of fire prevention and control, communication and coordination aspects, development of a management model, and quantitative evaluation of the model. Results: Based on observations, most fire prevention facilities and systems are still not optimally available. Regarding fire protection system guidelines, all the community health center lack clear guidelines. Similar conditions were also found for hydrants, sprinklers, water pumps, and emergency power sources, all of which were not available at all observed locations. Meanwhile, only a small number of community health centers have fire alarms, smoke detectors, and internal communication systems. However, all community health center have portable fire extinguishers and evacuation routes, demonstrating basic emergency response measures. However, without the support of other fire protection systems, these measures are insufficient to ensure overall safety. Conclusion: Fire preparedness remains relatively low, constrained by incomplete and unintegrated fire protection systems. This highlights the need for cross-sector collaboration, resulting in comprehensive strengthening of facilities, systems, and cooperation to ensure safety.   Keywords; Community Health Center; Fire Management; Portable Fire Extinguishers.   Pendahuluan: Indonesia merupakan negara dengan tingkat potensi bencana yang tinggi. Bencana dapat terjadi karena faktor  alam, non alam maupun ulah manusia. Kebakaran berdasarkan penyebabnya dikategorikan dalam bencana non alam. Salah satu fasilitas umum yang juga perlu memperhatikan kondisi ini adalah puskesmas. Puskesmas harus siap dalam menghadapi bencana kebakaran karena di dalamnya terdapat pasien, keluarga pasien, pengunjung, dan SDM di puskesmas itu sendiri. Tujuan: Untuk mengembangkan strategi manajemen penanggulangan kebakaran di puskesmas. Metode: Penelitian mixed-method sequential exploratory, yaitu diawali dengan pengumpulan data kualitatif, dilanjutkan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kota Batam, Kepulauan Riau pada tahun 2025 terhadap 20 Puskesmas. Tahapannya meliputi analisis pencegahan dan pengendalian kebakaran serta aspek komunikasi dan koordinasi, pengembangan model manajemen, dan evaluasi model secara kuantitatif. Hasil: Berdasarkan observasi, sebagian besar fasilitas dan sistem penanggulangan kebakaran masih belum tersedia secara optimal. Pada aspek pedoman sistem proteksi kebakaran, seluruh puskesmas belum memiliki pedoman yang jelas. Kondisi yang sama juga ditemukan pada hidran, sprinkler, pompa kebakaran, dan sumber daya listrik darurat, seluruhnya tidak tersedia di semua lokasi yang diamati. Sementara itu, alarm kebakaran, smoke detector, dan sistem komunikasi internal hanya sebagian kecil puskesmas yang telah memiliki. Di sisi lain, seluruh puskesmas sudah memiliki alat pemadam api ringan (APAR) dan sarana jalan keluar (evakuasi), menunjukkan adanya upaya dasar dalam penanganan keadaan darurat. Namun, tanpa didukung sistem proteksi kebakaran lainnya, upaya tersebut belum cukup untuk menjamin keselamatan secara menyeluruh. Simpulan: Kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran masih tergolong rendah dengan keterbatasan pada sistem proteksi kebakaran yang belum lengkap dan belum terintegrasi. Hal ini menunjukkan, perlu adanya kolaborasi lintas sektor, sehingga adanya penguatan menyeluruh pada fasilitas, sistem, dan kerja sama untuk menjamin keselamatan.   Kata Kunci: Alat Pemadam Api Ringan (APAR); Manajemen Penanggulangan Kebakaran; Puskesmas.
Perubahan ekspresi gen sirtuin 1 pada sel HeLa yang diberikan H2O2 Satibi, Janice Puteri; Hartanti, Monica Dwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2410

Abstract

Background: Cervical cancer is the fourth most common cancer worldwide and is caused by infection with high-risk Human Papillomavirus (HPV). Sirtuin 1 (SIRT1) plays a role in cell cycle regulation, apoptosis, and the response to oxidative stress, contributing to the progression of cervical cancer cells. Oxidative stress induced by H2O2 can influence the expression of genes involved in cancer cell adaptation. Purpose: To analyze the effect of H2O2 administration on SIRT1 gene expression in the HeLa cell line. Method: This is an in vitro experimental study using the HeLa cervical cancer cell line. Cells were cultured and divided into three groups: an untreated control group, a 250 µM H2O2 treatment group, and a 1000 µM treatment group. SIRT1 gene expression was analyzed using quantitative real-time polymerase chain reaction with GAPDH as the reference gene. Data analysis was performed using the Kruskal-Wallis test with a significance level of 0.05. Results: Median (min-max) SIRT1 gene expression increased in the 250 µM and 1000 µM treatment groups compared to the control group. However, statistical analysis showed that the difference in SIRT1 gene expression between groups was not statistically significant. Conclusion: Administration of 250 µM and 1000 µM H2O2 did not affect or decrease SIRT1 gene expression in HeLa cell lines.   Keywords: Cervical Cancer; HeLa Cell Line; HPV-18; Oxidative Stress; Sirtuin 1.   Pendahuluan: Kanker serviks merupakan kanker dengan kejadian tertinggi ke-4 di dunia yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus tipe high-risk. Sirtuin 1 (SIRT1) berperan dalam regulasi siklus sel, apoptosis, serta respons terhadap stres oksidatif dan berperan dalam progresivitas sel kanker serviks. Stres oksidatif yang di induksi H2O2 dapat memengaruhi ekspresi gen yang berperan dalam adaptasi sel kanker. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pemberian H2O2 terhadap ekspresi gen SIRT1 pada lini sel HeLa. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental in vitro menggunakan HeLa cervical cancer cell line. Sel dikultur dan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol tanpa perlakuan, kelompok perlakuan H2O2 dosis 250 µM, dan 1000 µM. Ekspresi gen SIRT1 di analisis menggunakan quantitative real time polymerase chain reaction dengan GAPDH sebagai gen pembanding. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan tingkat kemaknaan 0.05. Hasil: Median (min-max) hasil ekspresi gen SIRT1 meningkat pada kelompok perlakuan dosis 250 µM dan 1000 µM dibandingkan kelompok kontrol. Namun, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan ekspresi gen SIRT1 antar kelompok tidak bermakna secara statistik.   Simpulan:pemberian H2O2 dosis 250 µM dan 1000 µM tidak memengaruhi atau menurunkan ekspresi gen SIRT1 pada lini sel HeLa.   Kata Kunci: Kanker Serviks; Lini Sel Hela; Sirtuin 1; Stres Oksidatif; HPV-18.
Analisis kepatuhan pasien TB paru melalui metode pill count Ferry, Ferry; Wijonarko, Wijonarko; Siahaan, Edita Revine; Yanti, Fiitri; Putra, Hendra Jaya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2431

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Pulmonary tuberculosis attacks the immune system. Therefore, to treat or prevent Mycobacterium tuberculosis from reoccurring, regular medication is required for six months. Untreated pulmonary TB can cause permanent lung damage and decreased respiratory function. Triggers for pulmonary TB include close contact with active patients, a weakened immune system, and smoking. Compliance with pulmonary TB patients using the pill count method is important to ensure medication is taken according to the recommended dosage and duration. Purpose: To analyze the compliance of pulmonary TB patients using the pill count method. Method: This study used a descriptive analytical design with a quantitative approach. Data collection tools used a questionnaire by directly interviewing respondents visiting the TB clinic. This study was conducted at Way Kandis, Bandar Lampung, from July 4-24, 2024. The population and sample size for this study were 49 respondents. The sample was drawn using a purposive sampling technique, and the data were analyzed using univariate analysis. Results: The majority of respondents were in the 46–60 age group (38.8%), male (55.1%), had a high school education (42.9%), and most were private sector employees (40.8%). Most respondents had suffered from pulmonary TB for ≥ 7 years (65.3%) and had a compliance rate (87.8%). Conclusion: Most respondents were categorized as compliant with treatment. The pill count method is effective in assessing the level of compliance of pulmonary TB patients. Continuous efforts in the form of routine monitoring can support the success of pulmonary TB therapy.   Keywords: Medication Compliance; Pill Count Method; Pulmonary Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang menyerang sistem imunologi tubuh, sehingga untuk mengatasi atau mengurangi agar Mycobacterium tuberculosis tidak bangkit kembali harus rutin untuk mengonsumi obat selama 6 bulan. TB paru yang tidak tertangani dapat menyebabkan kerusakan paru permanen dan penurunan fungsi pernapasan. Faktor pemicu TB paru meliputi kontak erat dengan penderita aktif, daya tahan tubuh lemah dan kebiasaan merokok. Kepatuhan penderita TB paru melalui metode pill count penting untuk memastikan obat diminum sesuai dosis dan durasi yang dianjurkan. Tujuan: Untuk menganalisis kepatuhan pasien TB paru melalui metode pill count. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif, alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan cara memawancarai secara langsung responden yang berkunjung di poli TB. Penelitian ini dilakukan di Way Kandis Bandar Lampung, pada tanggal 04 - 24 Juli 2024. Populasi dan sampel pada penelitian ini sebanyak 49 responden. Sampel pada penelitian diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dan data dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil: mayoritas responden berada pada kelompok usia 46–60 tahun (38.8%), berjenis kelamin laki-laki (55.1%), berpendidikan terakhir SMA (42.9%), dan sebagian besar karyawan swasta (40.8%). Sebagian besar responden telah menderita TB Paru ≥ 7 tahun (65.3%) dan memiliki tingkat kepatuhan (87.8%). Simpulan: Sebagian besar responden dikategorikan patuh terhadap pengobatan. metode pill count efektif dalam menilai tingkat kepatuhan pasien TB paru, upaya yang berkelanjutan berupa monitoring rutin dapat mendukung keberhasilan terapi TB paru.   Kata Kunci: Kepatuhan Minum Obat; Metode Pill Count; Tuberkulosis Paru.
Analisis fishbone tingginya prevalensi stunting Sarwendah, Sarwendah; Lamtiur, Posma Rohana; Herniwanti, Herniwanti; Dewi, Oktavia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2432

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health problem in Kuantan Singingi Regency, with a prevalence of 23.1%. Data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey ranked this regency as having the third highest prevalence in Riau Province. Purpose: To analyze the situation, establish priority issues, identify root causes, and formulate evidence-based interventions to accelerate stunting reduction. Method: This qualitative study, using a problem-solving cycle approach, was conducted in October 2025 at the Kuantan Singingi Regency Health Office. Four key informants, including one Division Head and three Public Health Section Heads, participated through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and document review. Results: Based on the Urgency, Severity, and Growth (USG) method, the stunting prevalence of 23.1% was identified as a top priority. Root cause analysis using a fishbone diagram identified six key factors: human factors (low family knowledge and ineffective educational methods), limited facilities and utilization of integrated health posts, suboptimal sanitation conditions, limited provision of locally based supplementary feeding, limited operational budgets, and weak cross-sectoral coordination. Conclusion: Accelerating stunting  reduction requires the integration of Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) interventions. Environmental factors, such as access to safe drinking water, proper sanitation, and waste management, have been shown to significantly influence stunting prevalence through disease risk. The program's success depends on cross-sectoral collaboration, optimizing the role of community health workers, and educating children about sustainable behavior change. Suggestion: The Health Office is expected to continuously intensify the five-pillar Community-Based Total Sanitation program, implement a regular Household Drinking Water Quality Monitoring program, and optimize monitoring and evaluation activities. This program must actively involve community health workers to ensure the sustainability of behavior change in the community.   Keywords: Clean and Healthy Living Behavior; Drinking Water; Environmental Sanitation; Stunting.   Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Kabupaten Kuantan Singingi dengan prevalensi sebesar 23.1%. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, menempatkan kabupaten ini sebagai peringkat ketiga tertinggi di Provinsi Riau. Tujuan: Untuk menganalisis situasi, menetapkan masalah prioritas, mengidentifikasi akar penyebab, dan merumuskan intervensi berbasis bukti dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting. Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan siklus pemecahan masalah yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2025, di Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi dengan melibatkan 4 informan kunci, terdiri dari 1 Kepala Bidang dan 3 Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat, melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan tinjauan dokumen. Hasil: Berdasarkan metode Urgency, Seriousness, and Growth (USG), prevalensi stunting  sebesar 23.1% ditetapkan sebagai prioritas utama. Analisis akar masalah menggunakan diagram fishbone yang mengidentifikasi 6 faktor utama, yaitu faktor manusia (rendahnya pengetahuan keluarga dan metode edukasi yang kurang efektif), keterbatasan sarana dan pemanfaatan posyandu, kondisi sanitasi yang belum optimal, keterbatasan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, keterbatasan anggaran operasional, dan lemahnya koordinasi lintas sektor. Simpulan: Percepatan penurunan stunting  memerlukan integrasi intervensi Water Sanitation and Higiene (WASH). Faktor lingkungan, seperti akses minum aman, sanitasi layak, dan pengolahan sampah terbukti signifikan memengaruhi prevalensi stunting melalu risiko penyakit. Keberhasilan program bergantung pada kaloborasi lintas sektor, optimalisasi peran kader, dan edukasi perubahan perilaku berkelanjutan. Saran: Dinas kesehatan diharapkan dapat mengintensifkan program 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) secara berkelanjutan, melaksanakan program Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) secara periodik dan mengoptimalkan kegiatan monitoring serta evaluasi. Program tersebut hendaknya melibatkan kader kesehatan lingkungan secara aktif untuk memastikan keberlangsungan perubahan perilaku di masyarakat.   Kata Kunci: Air Minum; Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); Sanitasi Lingkungan; Stunting.
Pengaruh sistem informasi kemoterapi (SIKEMO) terhadap pengetahuan dan kepatuhan menjalani kemoterapi pada pasien kanker ginekologi Lestari, Yayu; Aniarti, Reni Purwo; Aprilina, Happy Dwi; Elsanti, Devita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2521

Abstract

Background: Gynecological cancer is a major cause of death in women, affecting the reproductive organs. Chemotherapy, a gynecological cancer treatment, can kill cancer cells but can cause physical and psychological side effects. Therefore, increasing knowledge capacity is necessary to encourage patient compliance with chemotherapy. One effort to improve knowledge and compliance with chemotherapy is through a telehealth intervention, the chemotherapy information system. Purpose: To determine the effect of the chemotherapy information system on knowledge and compliance with chemotherapy in gynecological cancer patients. Method: This quantitative study used a pre-experimental approach with a one-group pre-post-test. The study was conducted at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Regional General Hospital in the Wijayakusuma Ward from December 2024 to January 2025. The sample size for this study was 33 gynecological cancer patients, selected using consecutive sampling. The research instruments used included a chemotherapy knowledge questionnaire and a modified MMAS-8 compliance questionnaire. The intervention was conducted for 3 weeks, with patients using the education and schedule reminder features in the chemotherapy information system application. The Wilcoxon signed-rank test was used for analysis. Results: The average knowledge score increased from 62.50 (pre-test) to 81.25 (post-test). The compliance rate also increased from 6.36 (pre-test) to 7.42 (post-test). Statistically, SIKEMO had a significant effect on knowledge and compliance with chemotherapy in gynecological cancer patients (p-value = 0.000). Conclusion: The chemotherapy information system intervention significantly increased knowledge and compliance with chemotherapy in gynecological cancer patients (p-value = 0.000). Effective use of the chemotherapy information system application provided patients with the necessary information to improve their understanding and adherence to the chemotherapy schedule. Suggestion: Future research could expand the analysis of chemotherapy information system participant characteristics to understand specific factors contributing to gynecological cancer management. Developing the chemotherapy information system application to be more compatible with various smartphone models and simplifying the download process through the application platform.   Keywords: Adherence; Chemotherapy; Chemotherapy Information System; Gynecological Cancer Patients; Knowledge.   Pendahuluan: Kanker ginekologi merupakan salah satu penyumbang kematian utama pada perempuan yang menyerang organ reproduksi. Kemoterapi sebagai salah satu pengobatan kanker ginekologi yang dapat digunakan membunuh sel kanker, tetapi menyebabkan efek samping secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas pengetahuan untuk mendorong kepatuhan pasien dalam menjalani kemoterapi. Upaya dalam meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan menjalani kemoterapi salah satunya dengan intervensi tele-health berupa Sistem Informasi Kemoterapi (SIKEMO). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh sistem informasi kemoterapi (SIKEMO) terhadap pengetahuan dan kepatuhan menjalani kemoterapi pada pasien kanker ginekologi. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan pre-eksperimental dengan one group pre-post-test. Penelitian dilakukan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto di ruang Wijayakusuma, pada Desember 2024 - Januari 2025. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 33 pasien kanker ginekologi yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi kuesioner pengetahuan kemoterapi dan kuesioner kepatuhan MMAS-8 yang telah dimodifikasi. Intervensi dilakukan selama 3 minggu, pasien menggunakan fitur edukasi dan pengingat jadwal pada aplikasi SIKEMO. Analisis yang digunakan adalah uji wilcoxon signed rank test. Hasil: Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 62.50 (Pre-test) menjadi 81.25 (Post-test). Tingkat kepatuhan juga mengalami peningkatan dari 6.36 (pre-test) menjadi 7.42 (Post-test). Secara statistik, terhadap pengaruh signifikan SIKEMO terhadap pengetahuan dan kepatuhan kemoterapi pasien kanker ginekologi dengan p-value = 0.000 (p<0.05). Simpulan: Intervensi SIKEMO berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan tingkat kepatuhan menjalani kemoterapi pasien kanker ginekologi (p-value= 0.000). Penggunaan aplikasi SIKEMO secara efektif mampu membekali pasien dengan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan kedisiplinan dalam mengikutijadwal prosedur kemoterapi. Saran: Penelitian selanjutnya, dapat memperluas analisis data karakteristik partisipan SIKEMO untuk memahami faktor-faktor spesifik yang berkontribusi pada penangan kanker ginekologi. Mengembangkan aplikasi SIKEMO agar lebih kompatibel dengan berbagai jenis smartphone dan mempermudah proses pengunduhan melalui platform aplikasi.   Kata Kunci: Kemoterapi; Kepatuhan; Pasien Kanker Ginekologi; Pengetahuan; Sistem Informasi Kemoterapi (SIKEMO).
Pengaruh pelvic floor muscle exercise dalam meningkatkan kualitas hidup pada wanita usia produktif dengan inkontinensia urin: A systematic literature review Iskandar, Intan Ramadhina Safira; Suparmi, Pipin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2603

Abstract

Background: Urinary incontinence (UI) is a common health problem among women and significantly impacts quality of life (QoL), which includes physical, psychological, and social aspects. One non-pharmacological intervention recommended as first-line therapy is pelvic floor muscle training (PFME), but research findings regarding its role in QoL are scattered and variable. Purpose: To evaluate the effect of pelvic floor muscle exercise (PFME) on improving QoL in women of reproductive age with urinary incontinence (UI). Method: A systematic literature review (SLR) was conducted based on the 2020 PRISMA guidelines, using PubMed, Scopus, and Google Scholar databases, with a search period of 2020–2025. Included studies included randomized controlled trials, systematic reviews, and meta-analyses involving reproductive-age women with urinary incontinence, PFME interventions, and exercises (with or without supervision, including combinations), and quality-of-life outcomes measured using instruments such as the ICIQ-SF, IIQ-7, and SF-36. Non-interventional studies, populations consisting only of postmenopausal women, and studies without quality-of-life measures were excluded. Results: A total of 7 studies met the inclusion criteria, consisting of 3 RCTs and 4 systematic reviews/meta-analyses. The results showed that both PFMT and PFME significantly improved quality of life with a medium to large effect size (p<0.05), especially in women with postpartum stress urinary incontinence (SUI). Supervised exercise was more effective than unsupervised exercise. Conclusion: PFME is an effective and safe intervention with the potential to be developed as a community-based promotive and preventive approach to improve the quality of life of women with urinary incontinence. Suggestion: Nurse practitioners, midwives, and physicians in community health centers/hospitals are advised to implement supervised Pelvic Floor Muscle Exercises (PFMT) at least three sessions per week for 6–12 weeks (with contraction durations of 5–10 seconds, 8–12 repetitions per set), combined with education on correct contractions and biofeedback, if available. and initial screening using the ICIQ-SF in multiparous or postpartum women for early detection.   Keywords: Pelvic Floor Muscle Exercise (PFME); Quality of Life; Urinary Incontinence; Women of Reproductive Age.   Pendahuluan: Inkontinensia urin (IU) merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami oleh wanita dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup (quality of life/QoL), mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial. Salah satu intervensi non-farmakologis yang direkomendasikan sebagai terapi lini pertama adalah pelvic floor muscle exercise (PFME), namun temuan penelitian terkait perannya terhadap kualitas hidup masih tersebar dan bervariasi. Tujuan: Untuk mengevaluasi pengaruh pelvic floor muscle exercise (PFME) terhadap peningkatan QoL pada wanita usia produktif dengan inkontinensia urin (IU). Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui systematic literature review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020, pada basis data PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan periode pencarian dari 2020 - 2025. Studi yang diinklusi mencakup randomized controlled trials, systematic reviews, dan meta-analyses yang melibatkan wanita usia produktif dengan inkontinensia urin, intervensi PFME,  dan exercise (dengan atau tanpa supervisi, termasuk kombinasi), serta outcome kualitas hidup yang diukur menggunakan instrumen, seperti ICIQ-SF, IIQ-7, dan SF-36. Studi non-intervensi, populasi postmenopause murni, serta penelitian tanpa pengukuran kualitas hidup sebagai studi yang dieklusi. Hasil: Sebanyak 7 studi memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 3 artikel RCT dan 4 artikel systematic review/meta-analysis. Hasil menunjukkan, bahwa PFMT maupun PFME secara signifikan meningkatkan QoL dengan effect size sedang hingga besar (p<0,05), terutama pada wanita dengan stress urinary incontinence (SUI) postpartum, serta menunjukkan bahwa latihan dengan supervisi lebih efektif dibandingkan latihan tanpa supervisi. Simpulan: PFME merupakan intervensi yang efektif, aman, dan berpotensi dikembangkan sebagai pendekatan promotif dan preventif berbasis komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup wanita dengan inkontinensia urin. Saran: Praktisi keperawatan, bidan, dan dokter di puskesmas/RS disarankan menerapkan PFMT supervised minimal 3 sesi per minggu selama 6–12 minggu (dengan durasi kontraksi 5–10 detik, 8–12 repetisi per set), dikombinasikan edukasi kontraksi benar dan biofeedback jika tersedia; skrining awal menggunakan ICIQ-SF pada wanita multipara atau postpartum untuk deteksi dini.   Kata Kunci: Inkontinensia Urin; Kualitas Hidup; Pelvic Floor Muscle Exercis (PFME); Wanita Usia Produktif.
Pengaruh intervensi pijat tui na dan temulawak (curcuma xanthorrhiza) terhadap nafsu makan balita Subur , Rina Yuliana; Arti, Reka Saka Dwi; Mustikawati, Eka Desita; Susilowati, Putry; Agustina, Marlin; Sari, Agustina; Wulandari, Ratna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2712

Abstract

Background: Introduction: Decreased appetite in toddlers can increase the risk of growth disorders and nutritional problems, including malnutrition and stunting. Non-pharmacological interventions such as Tui Na massage and supplementary foods made from Javanese ginger (Curcuma xanthorrhiza) can be alternatives to help increase children's appetite. Purpose: To analyze the effect of Tui Na massage and supplementary foods made from Javanese ginger on improving appetite in toddlers. Method: This quantitative study used a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest. The subjects were four 4-year-old toddlers experiencing eating difficulties. Two toddlers received Tui Na massage, while the other two received supplementary foods made from Javanese ginger. The interventions were administered for 14 days. Appetite was measured using the Children's Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) through pre- and post-intervention assessments. Data were analyzed descriptively by comparing appetite scores at the pre- and post-test stages. Results: There was an increase in appetite scores after both interventions. The Tui Na massage group experienced an average increase in scores of 6.5 points, while the ginger supplement group experienced an average increase in scores of 13 points. The increase in appetite scores in the ginger group was higher than in the Tui Na massage group. Conclusion: Tui Na massage and ginger supplement both showed a positive effect on increasing toddlers' appetite. However, the ginger supplement showed a greater increase in scores. Ginger has the potential to be a more optimal non-pharmacological intervention to help address appetite issues in toddlers. Suggestion: Providing ginger-based foods can be considered as the primary non-pharmacological intervention to increase appetite in toddlers, while Tui Na massage can be used as a supportive therapy. It is hoped that healthcare professionals and parents will implement both interventions consistently and according to the child's needs.   Keywords: Appetite; Curcuma Xanthorrhiza; Ginger; Herbal Supplementation; Toddlers; Tui Na Massage.   Pendahuluan: Penurunan nafsu makan pada balita dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan dan masalah gizi, termasuk gizi kurang dan stunting. Upaya nonfarmakologis seperti pijat Tui Na dan pemberian makanan tambahan berbahan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dapat menjadi alternatif untuk membantu meningkatkan nafsu makan anak. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh intervensi pijat Tui Na dan pemberian makanan tambahan berbahan temulawak terhadap peningkatan nafsu makan pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe one group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri atas empat balita berusia 4 tahun yang mengalami kesulitan makan. Dua balita mendapat intervensi pijat Tui Na, sedangkan dua balita lainnya mendapat makanan tambahan berbahan temulawak. Intervensi diberikan selama 14 hari. Nafsu makan diukur menggunakan Children’s Eating Behaviour Questionnaire atau CEBQ melalui penilaian sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan skor nafsu makan pada tahap pre-test dan post-test. Hasil: Adanya peningkatan skor nafsu makan setelah pemberian kedua intervensi. Kelompok pijat Tui Na mengalami peningkatan rata-rata skor sebesar 6,5 poin, sedangkan kelompok makanan tambahan berbahan temulawak mengalami peningkatan rata-rata skor sebesar 13 poin. Peningkatan skor nafsu makan pada kelompok temulawak lebih tinggi dibandingkan kelompok pijat Tui Na. Simpulan: Pijat Tui Na dan makanan tambahan berbahan temulawak sama-sama menunjukkan pengaruh positif terhadap peningkatan nafsu makan balita. Namun, makanan tambahan berbahan temulawak menunjukkan peningkatan skor yang lebih besar. Temulawak berpotensi menjadi intervensi nonfarmakologis yang lebih optimal dalam membantu mengatasi masalah nafsu makan pada balita. Saran: Pemberian makanan olahan temulawak dapat dipertimbangkan sebagai intervensi nonfarmakologis utama untuk meningkatkan nafsu makan pada balita, sementara pijat Tui Na dapat digunakan sebagai terapi pendukung. Diharapkan tenaga kesehatan dan orang tua dapat menerapkan kedua intervensi ini secara konsisten dan sesuai dengan kebutuhan anak.   Kata Kunci: Balita; Curcuma Xanthorrhiza; Nafsu Makan; Pijat Tui Na; Temulawak; Suplementasi Herbal.