cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 614 Documents
Sikap perawat terhadap pengelolaan limbah medis di ruang rawat inap kelas III Mahdarsari, Mayanti; Rachmah, Rachmah; Ulfitria , Nissa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.3075

Abstract

Background: Environmentally conscious hospitals focus not only on external aspects but also on internal ones, including the management of medical waste as the end product of healthcare services. Improper medical waste management can pose Occupational Safety and Health (OHS) risks, such as injuries and infections. Purpose: To determine nurses' attitudes toward medical waste management in Class III inpatient wards. Method: This descriptive quantitative study, using a cross-sectional design, was conducted from October 22-29, 2025. The population in this study was all 135 nurses working in Class III inpatient wards at Meuraxa Regional Hospital, Banda Aceh City. The sampling technique used was stratified random sampling, with inclusion criteria being nurses who were willing to participate and had signed a consent form, as well as nurses who were actively working at the time of data collection. The sample size was determined using the Slovin formula, resulting in a sample of 101 respondents. The research instrument was an attitude questionnaire with univariate data analysis. Results: Most respondents (68 respondents (67.3%) had worked in inpatient wards for 1-5 years, and 62 respondents (61.4%) had attended occupational health and safety training. Overall, respondents' attitudes toward medical waste management were positive. However, negative attitudes were still found in four stages, such as sorting (2%) and packaging and storage (1%). Conclusion: The majority of nurses in class III inpatient wards have positive attitudes toward medical waste management. The conservation department is expected to maintain this positive attitude through routine training and periodic supervision. Suggestion: Future research could use mixed methods or include direct observation to provide a more comprehensive picture of medical waste management practices. Additionally, expanding the study location to other wards or different hospitals could provide a broader comparison of medical waste management implementation across healthcare settings.   Keywords: Class III Inpatient Ward; Medical Waste Management; Nurses' Attitudes.   Pendahuluan: Rumah sakit yang peduli lingkungan tidak hanya difokuskan pada aspek eksternalnya saja, tetapi pemahaman akan aspek internal juga sangat diperlukan, diantaranya adalah pengelolaan limbah medis sebagai produk akhir pelayanan kesehatan. Pengelolaan limbah medis yang tidak sesuai prosedur dapat menimbulkan risiko terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), seperti cedera dan infeksi. Tujuan: Untuk mengetahui sikap perawat terhadap pengelolaan limbah medis di ruang rawat inap kelas III. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional, dilakukan pada tanggal 22-29 Oktober 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang bekerja di ruang rawat inap kelas III RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh sebanyak 135 perawat. Sementara teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling dengan kriteria inklusi perawat yang bersedia menjadi responden dan telah menandatangani lembar persetujuan partisipasi, serta perawat yang aktif berkerja pada saat pengambilan data dilakukan. Penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin, sehingga didapatkan sampel sebanyak 101 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner sikap dengan analisis data secara univariat. Hasil: Sebagian besar responden sudah berkerja di ruang rawat inap selama 1-5 tahun sebanyak 68 responden (67.3%), dan sebanyak 62 responden (61.4%) sudah mengikuti pelatihan K3. Berdasarkan sikap responden terhadap pengelolaan limbah medis secara keseluruhan menunjukkan sikap yang positif. Namun, pada keempat tahapan masih ditemukan sikap negatif, seperti tahap pemilahan (2%), tahap pewadahan dan  penyimpanan (1%). Simpulan: Mayoritas perawat di ruang rawat inap kelas III memiliki sikap yang positif dalam pengelolaan limbah medis. Bidang keperawatan diharapkan terus mempertahankan kondisi ini melalui pelatihan berkala dan supervisi rutin. Saran: Penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode campuran atau menambahkan observasi langsung agar gambaran tentang praktik pengelolaan limbah medis lebih komprehensif. Selain itu, memperluas lokasi penelitian ke ruang perawatan lain atau ke rumah sakit berbeda dapat memberikan perbandingan yang lebih luas mengenai implementasi pengelolaan limbah medis di berbagai setting pelayanan kesehatan.   Kata Kunci: Pengelolaan Limbah Medis; Ruang Rawat Inap Kelas III; Sikap Perawat.
Hubungan pengetahuan dengan sikap tentang proteksi radiasi perawat kamar operasi dan kateterisasi jantung Bungaria, Sri; Tarigan, Mula; Sitohang, Nur Asnah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2240

Abstract

Background: Nurses working in operating rooms and cardiac catheterization units may be exposed to radiation exceeding threshold levels, which can have serious health impacts. Knowledge of radiation protection forms the basis for attitudes and implementation of radiation safety practices to anticipate the hazards and impacts of radiation. Purpose:To analyze the relationship between knowledge and attitudes regarding radiation protection among operating room and cardiac catheterization nurses. Method: This study used a quantitative approach with a correlational design. A sample of 43 operating room and cardiac catheterization nurses at Royal Prima General Hospital (RSU) in Medan City was selected using a total sampling technique, and data collection used the Health Professional Knowledge of Radiation Protection (HPKRP) questionnaire and an attitude questionnaire regarding radiation protection. Data analysis was performed using the Spearman Rank test to analyze the relationship between knowledge and attitudes regarding radiation protection. Results: Knowledge regarding radiation protection was categorized as sufficient (69.8%), with attitudes categorized as good (97.7%). There was a positive relationship between knowledge and attitudes (p = 0.001) with an r value of 0.474, indicating that knowledge is significantly related to nurses' attitudes regarding radiation protection. Conclusion: Operating room and cardiac catheterization nurses require structured and ongoing educational interventions to improve occupational safety, reduce the risk of radiation exposure, and improve the quality of healthcare. Suggestion: Operating room and cardiac catheterization nurses require structured and ongoing educational interventions to improve occupational safety, reduce the risk of radiation exposure, and improve the quality of healthcare.   Keywords: Attitudes; Cardiac Catheterization; Knowledge; Operating Room Nurses; Radiation Protection.   Pendahuluan: Perawat yang bekerja di unit kamar operasi dan kateterisasi jantung dapat terpapar radiasi melebihi ambang batas dengan dampak yang serius terhadap kesehatannya. Pengetahuan tentang perlindungan radiasi menjadi dasar bersikap dan melaksanakan praktik keselamatan radiasi untuk mengantisipasi bahaya dan dampak radiasi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang proteksi radiasi perawat kamar operasi dan kateterisasi jantung Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel sebanyak 43 perawat kamar operasi dan kateterisasi jantung di Rumah Sakit Umum (RSU) Royal Prima di Kota Medan. Sampel dipilih dengan teknik total sampling dan pengumpulan data menggunakan kuesioner Healthcare Professional Knowledge of Radiation Protection (HPKRP) serta kuesioner sikap tentang perlindungan radiasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank untuk menganalisis hubungan pengetahuan dengan sikap tentang proteksi radiasi. Hasil:Tingkat pengetahuan tentang perlindungan radiasi pada kategori cukup (69.8%) dengan kategori sikap pada ketegori baik (97.7%). Terdapat hubungan hubungan positif antara pengetahuan dengan sikap (p= 0.001) dengan nilai r= 0.474 yang bermakna pengetahuan berhubungan secara signifikan dengan sikap perawat dalam perlindungan radiasi. Simpulan: Perawat kamar operasi dan kateterisasi jantung memerlukan intervensi pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan kerja, menurunkan risiko paparan radiasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Saran: Perawat kamar operasi dan kateterisasi jantung memerlukan intervensi pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan kerja, menurunkan risiko paparan radiasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.   Kata Kunci: Kateterisasi Jantung; Pengetahuan; Perawat Kamar Operasi; Proteksi Radiasi; Sikap.
Evaluasi sistem informasi kesehatan di Puskesmas Kabupaten Konawe: A literartur review Yunita, Dewi; Amalia, Risqi; Ismayanti, Ismayanti; Darmawati, Darmawati; Risnawati, Risnawati; Risky, Sartini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2253

Abstract

Background: The implementation of health information systems in community health centers aims to improve the efficiency of healthcare services. however, limited trained human resources, inadequate infrastructure, and suboptimal data management remain major obstacles to implementation. Purpose: To analyze the challenges faced in health information systems implementation in community health centers. Method: This literature review used a systematic approach and narrative synthesis. A literature search was conducted through electronic databases such as Google Scholar, Garuda, PubMed, and ScienceDirect, focusing on articles published between 2021 and 2025. Relevant articles were selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Results: The literature review indicates that although health information systems implementation can improve healthcare efficiency, many community health centers still face significant obstacles, including a shortage of trained personnel, infrastructure issues, and the system's inability to support comprehensive health management. Limitations in data management, duplicate input, and lack of integration between applications are key challenges in health information systems implementation in community health centers. The implementation of the health information system in community health centers shows significant potential to improve the efficiency of healthcare services, but remains hampered by various issues related to human resources, infrastructure, and systems that are not yet integrated. Conclusion: The implementation of the health information system in various community health centers in Indonesia and other countries shows significant potential to improve the efficiency of healthcare services, although it still faces various challenges. The main obstacles identified include limited trained personnel, lack of adequate training, inadequate infrastructure, and problems with data management and connectivity. Despite various efforts, such as training and system development, these obstacles still hinder the optimal implementation of the information system.   Keywords: Community Health Center; Evaluation; Health Information System.   Pendahuluan: Implementasi Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di puskesmas bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan. Namun, keterbatasan sumber daya manusia terlatih, infrastruktur yang tidak memadai, serta pengelolaan data yang kurang optimal masih menjadi kendala utama dalam penerapan sistem ini. Tujuan: Untuk menganalisis tantangan yang dihadapi dalam implementasi SIK di puskesmas. Metode: Penelitian literatur review dengan pendekatan sistematis dan sintesis naratif. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data elektronik, seperti Google Scholar, Garuda, PubMed, dan ScienceDirect, dengan fokus pada artikel yang diterbitkan antara tahun 2021 hingga 2025. Artikel yang relevan dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Literatur review menunjukkan bahwa meskipun implementasi SIK dapat meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan, banyak puskesmas yang masih menghadapi kendala signifikan, termasuk kekurangan tenaga kerja terlatih, masalah infrastruktur, serta ketidakmampuan sistem dalam mendukung manajemen kesehatan yang komprehensif. Keterbatasan dalam pengelolaan data, penginputan ganda, serta kurangnya integrasi antar aplikasi menjadi tantangan utama dalam pengoperasian SIK di puskesmas. Penerapan SIK di puskesmas menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan, namun masih terhalang oleh berbagai masalah terkait sumber daya manusia, infrastruktur, dan sistem yang belum terintegrasi. Simpulan: Penerapan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di berbagai puskesmas di Indonesia dan negara lain menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan. Kendala utama yang ditemukan meliputi keterbatasan tenaga kerja yang terlatih, kurangnya pelatihan yang memadai, infrastruktur yang tidak memadai, serta masalah dalam pengelolaan data dan konektivitas. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, seperti pelatihan dan pengembangan sistem, hambatan-hambatan tersebut masih menghalangi implementasi sistem informasi yang optimal.   Kata Kunci: Evaluasi; Puskesmas; Sistem Informasi Kesehatan.
Optimalisasi pengetahuan gangguan menstruasi dan pramenstrual dysphoric disorder (PMDD) pada remaja putri Ayu, Shinta Arini; Putri, Nazmi Rizkania S; Ibrahim, Nofah Maulani; Aliyah, Nurul Hamidatul; Aziz, Ujang Ahmad; Pauzi, Yogi; Utomo, Mohamad Iqbal Adityo Dwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2324

Abstract

Background: Menstruation and premenstrual disorders remain sensitive issues rarely discussed openly among adolescent girls in Indonesia. This is due to a lack of communication and education, resulting in a low level of understanding among adolescents regarding the menstrual process and its associated disorders. According to the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS), one in five adolescent girls had never discussed menstruation before menarche. This limited knowledge can increase the risk of menstrual disorders, including premenstrual dysphoric disorder. Purpose: To increase adolescent girls' knowledge regarding menstrual disorders and premenstrual dysphoric disorder through health education activities. Method: This study used a pre-experimental approach with a one-group pre-test and post-test design. This study was conducted at the Mulya Bakti Mandiri Cibeber Vocational High School Hall, Cianjur Regency in 2024. The sample involved in this study was 30 female students. The instrument used was a knowledge questionnaire about menstrual disorders and premenstrual dysphoric disorder. Health education was conducted through lectures, interactive discussions, educational video screenings, and leaflet distribution. Data were analyzed univariately. Results: Before the intervention, 82.5% of female students had a knowledge level of less than adequate. After the health education, knowledge increased significantly, with all students ranked as having a very good understanding of menstrual disorders and premenstrual dysphoric disorder. Conclusion: Health education has been proven effective in increasing adolescent girls' knowledge of menstrual disorders and premenstrual dysphoric disorder. Furthermore, structured health education using a variety of media can be a preventative measure to increase adolescent girls' understanding and preparedness in addressing reproductive health issues. Suggestion: Health providers can provide consistent education so that adolescent girls can recognize, take preventative measures, and develop positive behaviors to reduce the prevalence of premenstrual dysphoric disorder in adolescent girls.   Keywords: Adolescent Girls; Knowledge; Menstrual Disorders; Premenstrual Dysphoric Disorder.   Pendahuluan: Menstruasi dan gangguan pra menstruasi masih menjadi isu sensitif yang jarang dibicarakan secara terbuka di kalangan remaja putri di Indonesia. Hal ini karena kurangnya komunikasi dan edukasi, sehingga menyebabkan rendahnya pemahaman remaja terkait proses menstruasi dan gangguan yang menyertainya. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), satu dari lima remaja putri tidak pernah berdiskusi mengenai menstruasi sebelum mengalami menarche. Pengetahuan yang minim ini, dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan menstruasi, termasuk gangguan premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri terkait gangguan menstruasi dan premenstrual dysphoric disorder (PMDD) melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan pra-eksperimental desain one group pre-test and post-test. Penelitian ini dilaksanakan di Aula SMK Mulya Bakti Mandiri Cibeber, Kabupaten Cianjur pada tahun 2024. Sampel yang dilibatkan pada penelitian ini sebanyak 30 siswi. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan tentang gangguan menstruasi dan pramenstrual dysphoric disorder (PMDD). Penyuluhan kesehatan yang dilakukan melalui metode ceramah, diskusi interaktif, pemutaran video edukasi, dan pembagian leaflet dan data dianalisis secara univariat.  Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 82.5% siswi memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori kurang paham. Setelah diberikan penyuluhan kesehatan, terjadi peningkatan pengetahuan secara signifikan, seluruh siswa berada pada kategori sangat memahami terkait gangguan menstruasi dan premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Simpulan: Berdasarkan penyuluhan kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja putrid mengenai gangguan menstruasi dan premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Selanjutnya, pendidikan kesehatan yang terstruktur dan menggunakan media yang bervariasi dapat menjadi upaya preventif dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapan remaja putri dalam menghadapi masalah kesehatan reproduksi. Saran: Pihak kesehatan dapat memberikan penyuluhan secara konsisten agar remaja putri dapat mengenali, melakukan pencegahan, dan membentuk perilaku positif untuk menurunkan prevalensi PMDD pada remaja putri.   Kata Kunci: Gangguan Menstruasi; Pengetahuan; Pramenstrual Dysphoric Disorder (PMDD); Remaja Putri.
Efektivitas latihan senam poundfit high-intensity interval training (HIIT) terhadap kualitas tidur pada dewasa muda sedentary lifestyle Isaura, Gionovie Khalisha; Rahmi, Upik; Rohaedi, Slamet; Wahdini, Ridha
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2328

Abstract

Background: Sleep quality disturbances are highly prevalent among young adults and are closely associated with sedentary behavior, defined as waking activities performed in a sitting or reclining position with low energy expenditure for prolonged periods. Among university students, sedentary time exceeding 7 hours per day has been linked to poorer sleep quality. Although high-intensity physical activity is known to improve sleep quality, evidence regarding music-based High-Intensity Interval Training (HIIT), such as poundfit, remains limited. Purpose: To examine the effectiveness of poundfit-based HIIT on sleep quality among sedentary young adults. Methods: A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group. A total of 40 female participants with high sedentary time, defined as more than 7 hours per day spent sitting or reclining while awake, were assessed using the Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Participants were allocated into an intervention group (n = 20) and a control group (n = 20). The intervention group participated in poundfit-based HIIT sessions three times per week for four weeks, with each session lasting 45-60 minutes. Sleep quality was measured using the Indonesian version of the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), which has demonstrated good validity and reliability, with Cronbach’s alpha of 0.741. Data were analyzed using the Wilcoxon test, independent sample t-test, and effect size calculation. Results: The intervention group showed a significant reduction in PSQI scores from 8.35 ± 2.21 to 4.15 ± 2.18 (p < 0.001; r = 0.85), while the control group showed no significant change (p = 0.198). A significant difference in PSQI score changes was found between the intervention and control groups (p = 0.001). Conclusion: Poundfit-based HIIT is effective in improving sleep quality among young adults with high sedentary behavior of more than 7 hours per day. This intervention may serve as a practical and clinically meaningful physical activity program. Suggestion: Poundfit-based HIIT as a structured physical activity to improve sleep quality among university students with a sedentary lifestyle. The program can be effectively performed three times per week for four weeks, with a duration of 45-60 minutes per session. For less optimal outcomes, additional light-to-moderate physical activity, sleep hygiene education, and stress management are recommended. This intervention is considered more applicable and motivating for university students than conventional physical exercise in the context of promotive nursing care.   Keywords: High-Intensity Interval Training (HIIT); Poundfit; Sedentary Behavior; Sleep Quality; Young Adults.   Pendahuluan: Gangguan kualitas tidur banyak terjadi pada dewasa muda dan berkaitan erat dengan perilaku sedentari, yaitu aktivitas saat terjaga yang dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring dengan pengeluaran energi rendah dalam waktu yang lama. Pada mahasiswa, waktu sedentari lebih dari 7 jam per hari telah dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. Meskipun aktivitas fisik intensitas tinggi diketahui dapat meningkatkan kualitas tidur, bukti mengenai latihan High-Intensity Interval Training (HIIT) berbasis musik, seperti poundfit, masih terbatas. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas latihan poundfit berbasis HIIT terhadap kualitas tidur pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary. Metode: Penelitian desain kuasi-eksperimen dengan rancangan pretest-posttest control group. Sebanyak 40 partisipan perempuan dengan waktu sedentari tinggi, yaitu lebih dari 7 jam per hari dalam posisi duduk atau berbaring saat terjaga, dinilai menggunakan Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Partisipan dibagi menjadi kelompok intervensi (n = 20) dan kelompok kontrol (n = 20). Kelompok intervensi mengikuti latihan poundfit berbasis HIIT sebanyak 3 kali per minggu selama 4 minggu, dengan durasi 45-60 menit setiap sesi. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) versi bahasa Indonesia yang telah menunjukkan validitas dan reliabilitas baik dengan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0.741. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, independent sample t-test, dan perhitungan effect size. Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan penurunan skor PSQI yang signifikan dari 8.35 ± 2.21 menjadi 4.15 ± 2.18 (p < 0.001; r = 0.85), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p = 0.198). Terdapat perbedaan perubahan skor PSQI yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0.001). Simpulan: Latihan poundfit berbasis HIIT efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pada dewasa muda dengan perilaku sedentari tinggi lebih dari 7 jam per hari. Intervensi ini dapat menjadi program aktivitas fisik yang praktis dan bermakna secara klinis. Saran: Latihan HIIT berbasis poundfit sebagai aktivitas fisik terstruktur untuk meningkatkan kualitas tidur mahasiswa dengan gaya hidup sedentari. Program ini efektif dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu dengan durasi 45-60 menit per sesi. Pada hasil yang belum optimal, diperlukan tambahan aktivitas fisik ringan hingga sedang, edukasi sleep hygiene, dan manajemen stres. Intervensi ini dinilai lebih aplikatif dan memotivasi mahasiswa dibandingkan latihan fisik konvensional dalam konteks keperawatan promotif.   Kata Kunci: Dewasa Muda; Kualitas Tidur; High-Intensity Interval Training (HIIT); Perilaku Sedentari; Poundfit.
Faktor risiko penyakit human immunodeficiency virus (HIV) pada kelompok lelaki seks lelaki: A literature review Dahliah, Dahliah; Khalizah, Khadijah Nur; Adharia, Adharia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2358

Abstract

Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) remains a significant public health challenge, particularly among men who have sex with men (MSM). Data shows that the incidence and prevalence rates in this group remain significantly higher than those in the general population. In Indonesia, HIV prevalence reaches 23.2% in Jakarta and 21.9% in Bali. Purpose: To identify and analyze various risk factors that contribute to HIV infection in the men who have sex with men group. Method: This study employed a literature review with a narrative review approach. Articles were searched in national and international databases with publication dates between 2015 and 2025. A selection process was conducted on 124 identified articles, and 20 articles that met the inclusion criteria were selected for analysis. Results: Key risk factors include risky sexual behaviors such as unprotected receptive anal sex, inconsistent condom use, multiple sexual partners, and a history of sexually transmitted infections. Additionally, substance use and chemsex practices, young age, low education levels, stigma and discrimination, limited social support, and limited access to health services increase vulnerability to HIV. Conclusion: The risk of HIV in MSM groups is multidimensional, so prevention efforts require a comprehensive and integrated approach that targets not only individual behavioral changes, but also social, community, and structural factors. Suggestion: Prospective or cohort studies are needed to assess the causal relationship between risk factors and HIV infection in MSM, as well as qualitative studies to explore stigma-related service barriers among MSM in Indonesia.   Keywords: Chemsex; HIV; MSM; Risk Factors; Risky Sexual Behavior.   Pendahuluan: Human Immunodeficiency Virus (HIV) tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan, khususnya pada kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL). Data menunjukkan bahwa angka kejadian (insidensi) dan jumlah khasus (prevalensi) pada kelompok ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Di Indonesia, prevalensi HIV mencapai 23.2% di Jakarta dan 21.9 di Bali. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai faktor resiko yang berkontribusi terhadap inveksi HIV pada kelompok Laki Seks Laki (LSL). Metode: Penelitian ini menggunakan literature review dengan pendekatan narrative review. Pencarian artikel pada basis data nasional dan internasional dengan rentang waktu publikasi antara tahun 2015-2025. Proses seleksi dilakukan terhadap 124 artikel yang teridentifikasi, kemudian dipilih 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis. Hasil: Faktor resiko utama meliputi perilaku seksual berisiko, seperti seks anal reseptif tanpa kondom, inkonsistensi penggunaan kondom, dan memiliki banyak pasangan seksual, serta riwayat infeksi menular seksual. Selain itu, penggunaan zat psikoaktif dan praktik chemsex, usia muda, rendahnya tingkat pendidikan, stigma dan diskriminasi, keterbatasan dukungan sosial, serta akses layanan kesehatan yang terbatas turut meningkatkan kerentanan terhadap HIV. Simpulan: Risiko HIV pada kelompok LSL bersifat multidimensional, sehingga upaya pencegahan memerlukan pendekatan komprehensif dan terintegrasi yang tidak hanya menargetkan perubahan perilaku individu, tetapi juga faktor sosial, komunitas, dan struktural. Saran: Diperlukan studi dengan desain prospektif atau kohort untuk menilai hubungan kausal antar faktor risiko dan infeksi HIV pada LSL. Serta studi kualitatif untuk mendalami hambatan layanan terkait stigma pada kelompok LSL di Indonesia.   Kata Kunci: Faktor Risiko; Human Immunodeficiency Virus (HIV); Lelaki Seks Lelaki (LSL).
Pengaruh ekstrak kombinasi brokoli dan pegagan terhadap tingkat depresi pada lansia Lestari, Puput Legia; Fitriana, Lisna Anisa; Suparto, Tirta Adikusuma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2377

Abstract

Background: Depression is a common mental health issue in older adults that can reduce quality of life and the ability to perform daily activities. The treatment of depression often involves pharmacological therapy, which can lead to side effects due to polypharmacy. Therefore, safer complementary therapy interventions are needed. Broccoli (Brassica oleracea) and gotu kola (Centella asiatica) are natural ingredients with antioxidant and neuroprotective activity that have the potential to reduce the symptoms of depression. Purpose: To assess the effect of administering a combination of broccoli and gotu kola extracts on depression levels in the elderly population. Method: This study used a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group approach, involving 36 elderly individuals divided into intervention and control groups. The intervention group received a combination extract of broccoli and gotu kola (2x1000mg/day) for six weeks, while the control group received no intervention. The level of depression was measured using the Geriatric Depression Scale-15 (GDS-15). Data analysis was performed using the independent samples t-test. Results: The average depression score in the intervention group significantly decreased from 5.78 ± 3.49 to 3.61 ± 2.23 (p < 0.001). The control group did not show a significant difference in the decrease of depression scores (p = 0.079). Conclusion: The administration of a combination of broccoli and gotu kola extract can reduce the level of depression in the elderly as a complementary therapy. Suggestion: Research with larger samples and placebo groups, as well as measurements of biomarkers related to oxidative stress, inflammation, and neurotransmitter function.   Keywords: Broccoli; Depression; Elderly; Gotu Kola.   Pendahuluan: Depresi adalah masalah kesehatan mental umum pada lansia yang dapat menurunkan kualitas hidup dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Penanganan depresi sering melibatkan terapi farmakologis, yang dapat menyebabkan efek samping akibat polifarmasi. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi terapi komplementer yang lebih aman. Brokoli (Brassica oleracea) dan pegagan (Centella asiatica) adalah bahan alami dengan aktivitas antioksidan dan neuroprotektif yang berpotensi mengurangi gejala depresi. Tujuan: Untuk menilai pengaruh pemberian ekstrak kombinasi brokoli dan pegagan terhadap tingkat depresi pada populasi lanjut usia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest control group melibatkan 36 lansia yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi menerima ekstrak kombinasi brokoli dan pegagan (2x1000mg/hari) selama 6 minggu, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima intervensi. Tingkat depresi diukur dengan Geriatric Depression Scale-15 (GDS-15). Analisis data dilakukan menggunakan uji independet sample t-test. Hasil: Skor depresi rata-rata pada kelompok intervensi menurun secara signifikan dari 5.78 ± 3.49 menjadi 3.61 ± 2.23 (p < 0.001). Kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam penurunan skor depresi (p = 0.079). Simpulan: Pemberian ekstrak kombinasi brokoli dan pegagan dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia sebagai terapi komplementer. Saran: Penelitian selanjutnya dapat menambahkan besaran sampel dan kelompok plasebo serta pengukuran biomarker terkait stres oksidatif, inflamasi, dan fungsi neurotransmitter.   Kata Kunci: Brokoli; Depresi; Lansia; Pegagan.
Praktik keperawatan dengan intervensi inovasi pursed lip breathing dan tripod terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien asma Putri, Dhea Ananda; Dirdjo, Maridi Marsan; Nurjannah, Misbah; Satria, Andri Praja
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2446

Abstract

Background: Asthma is a chronic inflammatory disease of the respiratory tract characterized by narrowing of the airways, resulting in symptoms of shortness of breath, wheezing, and decreased oxygen saturation. This condition requires prompt and appropriate management, particularly in the Emergency Department (ED). In addition to pharmacological therapy, non-pharmacological nursing interventions such as pursed lip breathing and the tripod position can be used to help increase pulmonary ventilation and improve oxygenation in asthmatic patients. Purpose: To analyze the application of innovative interventions such as pursed lip breathing and the tripod position to improve oxygen saturation in asthmatic patients. Method: This study used a descriptive case study design with a nursing action evaluation method. The study was conducted from December 2025 to January 2026 at the Emergency Department (ED) of A.M. Parikesit Tenggarong Regional General Hospital. The study subjects consisted of one intervention patient (Mrs. S) who received PLB and tripod position training, and two control patients (Mrs. A and Mrs. V) who received standard care and medical therapy. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, and monitoring of vital signs and oxygen saturation for 4 hours. Results: The combination of pursed lip breathing and the tripod position increased oxygen saturation in asthma patients. In the intervention patient (Mrs. S), oxygen saturation increased by 2%, from 94% to 96%. Meanwhile, in control patients, the increase in oxygen saturation was relatively stable, with an average increase of 1% in Mrs. A and 0% in Mrs. V. Furthermore, intervention patients also experienced a decrease in shortness of breath and an improvement in breathing patterns. Conclusion: The pursed lip breathing and tripod position interventions have proven effective in increasing oxygen saturation in asthma patients. The combination of these two techniques is a safe, easy, and applicable non-pharmacological intervention for use in the emergency department (ED) for patients who are conscious and able to follow instructions.   Keywords: Asthma; Oxygen Saturation; Pursed Lip Breathing; Tripod Position.   Pendahuluan: Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada saluran pernapasan yang ditandai dengan penyempitan jalan napas, sehingga menimbulkan gejala sesak napas, wheezing, dan penurunan saturasi oksigen. Kondisi ini memerlukan penatalaksanaan cepat dan tepat, khususnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Selain terapi farmakologis, intervensi keperawatan nonfarmakologis, seperti pursed lip breathing (PLB) dan posisi tripod dapat digunakan untuk membantu meningkatkan ventilasi paru dan memperbaiki oksigenasi pada pasien asma. Tujuan: Untuk menganalisa penerapan intervensi inovasi pursed lip breathing dan posisi tripod terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien asma. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi studi kasus deskriptif dengan metode evaluasi tindakan keperawatan. Studi dilaksanakan pada bulan Desember 2025 hingga Januari 2026, bertempat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD A.M. Parikesit Tenggarong. Subjek penelitian terdiri dari satu pasien intervensi (Ibu S) yang diberikan latihan PLB dan posisi tripod, serta dua pasien kontrol (Ibu A dan Ibu V) yang meneima asuhan standar dan terapi medis. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, serta pemantauan data-data vital dan saturasi oksigen selama 1x4 jam. Hasil: Kombinasi intervensi pursed lip breathing dan posisi tripod mampu meningkatkan saturasi oksigen pada pasien asma. Pada pasien intervensi (Ibu S), saturasi oksigen meningkat sebesar 2% yaitu dari 94% menjadi 96%. Sementara itu, pada pasien kontrol peningkatan saturasi oksigen relatif lebih stabil, dengan rata-rata kenaikan 1% pada Ibu A dan 0% pada Ibu V. Selain itu, pasien intervensi juga mengalami penurunan keluhan sesak napas dan perbaikan pola pernapasan. Simpulan: Intervensi PLB dan posisi tripod terbukti efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen pada pasien asma. Kombinasi kedua Teknik merupakan intervensi non-farmakologis yang aman, mudah, dan aplikatif untuk diterapkan di IGD bagi pasien yang sadar dan mampu mengikuti instruksi.   Kata Kunci: Asma; Pursed Lip Breathing; Posisi Tripod; Saturasi Oksigen.
Hubungan persepsi masyarakat terkait ketersediaan fasilitas kesehatan dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir Agustin, Salisa Darma; Purnamasari, Salsabila; Kurnia, Sri Indra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2490

Abstract

Background: Floods are a frequent disaster in Indonesia, particularly in Central Java Province, and impact the health and livelihoods of the community. Kedung Lumbu Village is an area with high flood vulnerability due to its geographic location and dense residential areas. Health facilities play a crucial role in maintaining public safety, while community preparedness influences community responses and actions during disasters. Purpose: To analyze the relationship between the availability of health facilities and community preparedness for flooding. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 113 residents living in flood-prone areas of Kedung Lumbu Village was selected using purposive proportional random sampling. Data were collected through a structured questionnaire that measured the availability of health facilities and community preparedness for flooding. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of respondents assessed the availability of health facilities as sufficient (53.1%) and community preparedness as ready (54.9%). Bivariate test results showed no significant relationship between the availability of health facilities and community preparedness for flooding (p = 0.122). Conclusion: Community preparedness is more influenced by other factors such as disaster experience, the existence of an early warning system, residential conditions and location, resource availability, and disaster-related knowledge. Suggestion: Future research suggests that community-based education and simulations play a crucial role in shaping community preparedness behavior. Therefore, active community involvement in flood preparedness outreach and training programs needs to be continuously improved.   Keywords: Community Preparedness; Disaster Mitigation; Flood; Health Facilities.   Pendahuluan: Banjir merupakan bencana yang masih sering terjadi di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, dan berdampak pada kesehatan serta kehidupan masyarakat. Kelurahan Kedung Lumbu, merupakan wilayah dengan kerentanan banjir yang tinggi akibat kondisi geografis dan kepadatan pemukiman. Fasilitas kesehatan berperan penting dalam menjaga keselamatan masyarakat, sementara kesiapsiagaan masyarakat berpengaruh terhadap respons dan tindakan masyarakat saat bencana terjadi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 113 warga yang tinggal di wilayah rawan banjir di Kelurahan Kedung Lumbu, yang diambil menggunakan teknik purposive proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Mayoritas responden menilai ketersediaan fasilitas kesehatan berada pada kategori cukup tersedia (53.1%) dan kesiapsiagaan masyarakat berada pada kategori siap (54.9%). Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir (p = 0.122). Simpulan: Kesiapsiagaan masyarakat lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalamaan menghadapi bencana, keberadaan sistem peringatan dini, kondisi dan lokasi tempat tinggal, ketersediaan sumber daya, serta pengetahuan terkait kebencanaan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk memberikan edukasi berbasis komunitas dan pelaksanaan simulasi berperan penting dalam membentuk perilaku kesiapsiagaan masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat secara aktif dalam program sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi banjir perlu terus ditingkatkan.   Kata Kunci: Banjir; Fasilitas Kesehatan; Kesiapsiagaan Masyarakat; Mitigasi Bencana.
Pengaruh pendidikan kesehatan bantuan hidup dasar (BHD) terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan pada anggota UKM bulutangkis Fakhrurroji, Difa Ruci; Endiyono, Endiyono
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 3 (2026): Volume 20 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i3.2634

Abstract

Background: Emergencies can occur anywhere, at any time, and it is the responsibility of health workers to handle these situations. However, emergencies can occur in areas where it is difficult to assist victims before they are discovered by health workers, making first aid crucial. First aid is the act of assisting and caring for someone who has experienced an accident before medical assistance arrives. This action must be performed quickly and accurately, using equipment available at the scene. If implemented correctly, first aid can reduce the risk of disability and save the victim's life. Purpose: To determine the effect of basic life support (BLS) health education on knowledge and skills levels. Method: A quantitative pre-experimental study with a single-group pre-post-test design was conducted from November to December 2024 at the Student Activity Center Hall of Muhammadiyah University of Purwokerto. All 30 members of the Badminton Student Activity Unit participated in this study. The sample was selected using a total sampling technique, and data analysis used the Wilcoxon test with a p-value <0.05. Results: Based on participants' knowledge levels during the pre-test, the majority (63.3%) were in the poor knowledge category, while during the post-test, 17 participants (56.7%) were in the good knowledge category. The skills variable was mostly in the poor knowledge category during the pre-test, with 26 participants (86.7%), while during the post-test, the majority (83.3%) were in the good knowledge category. Statistical tests obtained a p-value of 0.0001 for both knowledge and skills variables. This indicates a relationship between BLS education and the knowledge and skills of badminton club members. Conclusion: There is an effect of basic life support education on knowledge and skills levels, with a p-value of 0.0001.   Keywords: Badminton Athletes; Basic Life Support (BLS); Health Education; Knowledge; Skills.   Pendahuluan: Kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan sudah menjadi tugas dari petugas kesehatan untuk menangani masalah tersebut. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi pada daerah yang sulit untuk membantu korban sebelum ditemukan oleh petugas kesehatan menjadi sangat penting. Pertolongan Pertama Kecelakaan (P3K) adalah tindakan untuk membantu dan merawat seseorang yang mengalami kecelakaan sebelum bantuan medis tiba. Tindakan ini harus dilakukan dengan cepat dan tepat, menggunakan alat yang tersedia di lokasi. Jika dilaksanakan dengan baik, pertolongan pertama dapat mengurangi risiko kecacatan dan menyelamatkan nyawa korban. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan bantuan hidup dasar (BHD) terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan. Metode: Penelitian kuantitatif desain pre-eksperiment dengan desain pre-post-test dalam satu kelompok (one group pre-post design). Dilaksanakan pada bulan November-Desember 2024, di Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto, kepada seluruh anggota UKM Bulutangkis berjumlah 30 partisipan. Sampel dipilih melalui teknik total sampling dan analisis data yang digunakan yaitu uji Wilcoxon dengan p-value <0.05. Hasil: Berdasarkan tingkat pengetahuan partisipan ketika pre-test, mayoritas pengetahuan kategori buruk sebanyak 19 partisipan (63.3%), sedangkan ketika post-test, kategori pengetahuan menjadi baik sebanyak 17 partisipan (56.7%). Variabel keterampilan ketika pre-test, mayoritas berada pada kategori buruk sebanyak 26 partisipan (86.7%), sedangkan ketika post-test, mayoritas masuk ke dalam kategori baik sebanyak 25 partisipan (83.3%). Berdasarkan uji statistik didapatkan p-value sebesar 0.0001 pada variabel pengetahuan dan keterampilan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan kesehatan bantuan hidup dasar (BHD) terhadap pengetahuan dan keterampilan anggota UKM bulutangkis. Simpulan: Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan bantuan hidup dasar (BHD) terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan dengan p-value 0.0001.   Kata Kunci: Atlet Bulutangkis; Bantuan Hidup Dasar (BHD); Keterampilan; Pendidikan Kesehatan; Pengetahuan.