cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 531 Documents
Prevalensi pneumonia pada anak Dahlia, Dahlia; Ali, Yaumil Mutmainnah; Samosir, Abdi Dwiyanto Putra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2298

Abstract

Background: Pneumonia is a leading cause of morbidity and mortality in children worldwide, contributing to 14% of global under-five deaths. In Indonesia, pneumonia is a leading cause of hospitalization in children, but specific epidemiological data at the hospital level is still limited. Purpose: To determine the characteristics of pediatric pneumonia patients based on age, sex, and type of pneumonia. Method: This descriptive study, using a cross-sectional design, was conducted at Ibnu Sina Hospital, Makassar, South Sulawesi, from November 2024 to January 2025. The sampling technique used was total sampling. Secondary data were obtained from medical records, including age, gender, and type of pneumonia. Descriptive analysis was performed using Microsoft Excel and SPSS by calculating frequency distributions and percentages. Results: Of the 410 patients, 222 respondents (54.1%) were predominant in the 1–5 years age group, followed by 109 respondents (26.6%) in the 6–12 years age group, 46 respondents (11.2%) in the 1–12 months age group, and 33 respondents (8.0%) in the 13–18 years age group. Males predominated with 219 respondents (53.4%), compared to females with 191 respondents (46.6%). The most common type of pneumonia was Community Acquired Pneumonia/CAP, with 228 respondents (55.6%), CAP with comorbidities with 137 patients (33.4%), and bronchopneumonia with 45 respondents (11.0%). Conclusion: Pneumonia in children most commonly occurs in the 1–5 years age group, with a male predominance, and CAP is the most common type. Suggestion: Hospitals can improve pneumonia prevention programs focused on high-risk age groups by educating parents about the importance of complete immunizations, exclusive breastfeeding, and avoiding environmental risk factors. Improved medical record keeping, making it more comprehensive and structured, is needed to support further research.   Keywords: Childhood Pneumonia; Community Acquired Pneumonia; Epidemiological Characteristics; Toddlers.   Pendahuluan: Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia, menyumbang 14% kematian balita secara global. Di Indonesia, pneumonia menjadi salah satu penyebab utama rawat inap anak, namun data epidemiologi spesifik di tingkat rumah sakit masih terbatas. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien anak pneumonia berdasarkan usia, jenis kelamin, dan jenis pneumonia. Metode: Penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional, dilakukan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar, Sulawesi Selatan,  pada periode November 2024 hingga Januari 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Data sekunder diperoleh dari rekam medis mencakup usia, jenis kelamin, dan jenis pneumonia. Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel dan SPSS dengan menghitung distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Dari 410 pasien, didominasi oleh kelompok usia 1–5 tahun sebanyak 222 responden (54.1%), diikuti 6–12 tahun sebanyak 109 responden (26.6%), 1–12 bulan sebanyak 46 responden (11.2%), dan 13–18 tahun sebanyak 33 responden (8.0%). Predominansi jenis kelamin laki-laki sebanyak 219 responden (53.4%) dibanding perempuan sebanyak 191 responden (46.6%). Jenis pneumonia tersering adalah Community Acquired Pneumonia/CAP sebanyak 228 responden (55.6%), CAP dengan penyakit penyerta sebanyak 137 pasien (33.4%), dan bronkopneumonia sebanyak 45 responden (11.0%). Simpulan: Pneumonia anak yang paling banyak terjadi pada kelompok usia 1–5 tahun dengan predominansi laki-laki, dan CAP merupakan jenis tersering. Saran: Pihak rumah sakit dapat meningkatkan program pencegahan pneumonia yang difokuskan pada kelompok usia berisiko tinggi melalui edukasi orang tua mengenai pentingnya imunisasi lengkap, ASI eksklusif, dan menghindari faktor risiko lingkungan. Diperlukan peningkatan kualitas pencatatan rekam medis yang lebih lengkap dan terstruktur untuk mendukung penelitian lanjutan.   Kata Kunci: Community Acquired Pneumonia; Karakteristik Epidemiologi; Pneumonia Anak; Usia Balita.
Efektivitas platelet rich plasma-coated polypropylene mesh pada penyembuhan luka laparotomi untuk mengurangi resiko hernia ventralis pada tikus wistar Feronica, Silvya; Suprapto, Bambang; Isnuwardana, Ronny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2316

Abstract

Background: Ventral hernia remains a significant post-operative clinical challenge with recurrence rates ranging from 30% to 70%. Although synthetic mesh like polypropylene is the gold standard, risks of inflammation and poor tissue integration persist. Platelet Rich Plasma (PRP), an autologous agent rich in growth factors, has the potential to enhance tissue healing in mesh applications Purpose: To analyze the effectiveness of PRP-coated polypropylene mesh in improving laparotomy wound healing in Wistar rats. Method: A quantitative study using a Randomized Controlled Trial (RCT) design was conducted from August to September 2025 at the Pharmacology Laboratory of the Faculty of Medicine, Mulawarman University. The study sample consisted of Wistar rats housed in the laboratory. The independent variable in this study was the use of PRP-coated polypropylene mesh, while the dependent variable was the healing process of laparotomy wounds. The parameters observed included the degree of vascularization, fibroblast activity, and collagen deposition on days 7 and 21. The observational data were then collected and statistically analyzed using an independent t-test. Results: Analysis showed that the PRP-supplemented group had significantly higher scores across all variables compared to the control group (p < 0.0167). No significant interaction was found between treatment and termination time, indicating that the benefits of PRP were consistent in both early and late observations. Conclusion: Coating polypropylene mesh with Platelet Rich Plasma (PRP) is effective in increasing vascularization, fibroblast counts, and collagen formation, thereby potentially strengthening abdominal wall integrity and reducing the risk of ventral hernia recurrence.   Keywords: Laparotomy; Platelet-Rich Plasma; Polypropylene Mesh; Ventral Hernia; Wistar Rats.   Pendahuluan: Hernia ventralis merupakan salah satu tantangan klinis pasca-operasi yang signifikan dengan angka kekambuhan mencapai 30-70%. Penggunaan mesh sintetik seperti polypropylene telah menjadi standar, namun risiko inflamasi dan integrasi jaringan yang buruk masih sering terjadi. Platelet Rich Plasma (PRP) sebagai agen autolog yang kaya akan faktor pertumbuhan berpotensi meningkatkan proses penyembuhan jaringan pada penggunaan mesh. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas penggunaan polypropylene mesh yang dilapisi PRP terhadap peningkatan penyembuhan luka laparotomi pada tikus Wistar. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain Randomized Controlled Trial (RCT), dilaksanakan bulan Agustus-September 2025, di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Sampel penelitian ini adalah tikus wistar yang dirawat di Laboratorium, Variabel independen dalam penelitian ini adalah penggunaan PRP-coated Polypropylene Mesh, sedangkan variabel dependen adalah proses penyembuhan luka laparotomi. Parameter yang diamati meliputi derajat vaskularisasi, aktivitas fibroblas, dan deposit kolagen pada hari ke-7 dan hari ke-21. Data hasil pengamatan selanjutnya dikumpulkan dan dianalisis secara statistik menggunakan independent t-test. Hasil: Kelompok dengan tambahan PRP memiliki skor yang lebih tinggi secara signifikan pada semua variabel dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,0167). Tidak terdapat interaksi signifikan antara perlakuan dan waktu terminasi, menunjukkan bahwa keunggulan PRP bersifat konsisten baik pada pengamatan awal maupun lanjut. Simpulan: Pelapisan polypropylene mesh dengan Platelet Rich Plasma (PRP) efektif dalam meningkatkan vaskularisasi, jumlah fibroblas, dan pembentukan kolagen, sehingga berpotensi memperkuat integritas dinding abdomen dan mengurangi risiko kekambuhan hernia ventralis.   Kata Kunci: Hernia Ventralis; Laparotomi; Platelet Rich Plasma; Polypropylene Mesh; Tikus Wistar.
Pengaruh spiritualitas terhadap kepatuhan dan kualitas hidup pasien orang dengan human immunodeficiency virus (ODHIV): A systematic review Erien, Fajar; Nursalam, Nursalam
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2317

Abstract

Background: Treatment adherence and quality of life in patients living with HIV (PLHIV) remain serious issues. Patient spirituality may be a solution because it can provide peace of mind and have a positive psychological impact. Purpose: To analyze the influence of spirituality on treatment availability and quality of life in patients living with human immunodeficiency virus (PLHIV). Method: A systematic review and selection of articles based on the eligibility criteria of Population, Intervention, Comparator, Outcome (PICO) were obtained from three major databases: PubMed, Scopus, and Proquest. Keywords used included "antiretroviral therapy or antiretroviral therapy and HIV and AIDS." Inclusion criteria included full-text articles with quasi-experimental and cross-sectional study designs published between 2019 and 2024. Article quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Tool. Results: Seventeen identified articles demonstrated that good spirituality in HIV patients can improve treatment adherence and quality of life. Furthermore, the relatively balanced distribution of effect estimates indicates the absence of bias, as demonstrated by the balance between the left and right plots. Conclusion: The spirituality model demonstrates a positive effect on treatment adherence and quality of life in HIV patients. Suggestion: Healthcare workers are advised to integrate spirituality-based nursing homes for HIV patients.   Keywords: Adherence; People Living with Human Immunodeficiency Virus; Quality of Life; Spirituality.   Pendahuluan: Kepatuhan minum obat dan kualitas hidup pasien ODHIV masih menemui masalah yang serius. Spiritualitas pasien mampu menjadi solusi karena dapat memberikan ketenangan dan mampu berdampak positif pada psikologis pasien. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh spiritualitas terhadap kepatuhan minum obat dan kualitas hidup pasien orang dengan human immunodeficiency virus (ODHIV). Metode: Systematic review dan artikel diseleksi berdasarkan kriteria kelayakan Population Intervetion, Comparator Outcome (PICO), diperoleh dari tiga basis data utama, yaitu PubMed, Scopus, dan Proquest. Kata kunci yang digunakan meliputi “Spiritual or religious and adherence antiretroviral or antiretroviral therapy and HIV and AIDS.” Kriteria inklusi mencakup artikel full-text dengan desain penelitian quasi-experimental dan cross-sectional study yang dipublikasikan pada periode 2019–2024. Penilaian kualitas artikel dalam penelitian ini dilakukan menggunakan JBI Critical Apprasial. Hasil: Berdasarkan 17 artikel yang ditemukan, menunjukkan bahwa spiritualitas yang baik pada pasien HIV dapat meningkatkan kapatuhan minum obat dan kualitas hidup pasien. Selain itu, sebaran estimasi efek yang relatif seimbang menunjukkan tidak adanya bias, yang ditunjukkan oleh keseimbangan antara plot kiri dan kanan pada analisis. Simpulan: Model spiritualitas menunjukkan pengaruh yang baik untuk kepatuhan minum obat dan kualitas hidup pada pasien HIV. Saran: Tenaga kesehatan disarankan untuk mengintegrasikan asuhan keperawatan berbasis spiritualitas pada pasien dengan HIV.   Kata Kunci: Kepatuhan; Kualitas Hidup; Orang dengan Human Immunodeficiency Virus (ODHIV); Spiritualitas.
Efektivitas dan akurasi pediatric assessment triangle (PAT) dan pediatric early warning score (PEWS) terhadap kecepatan penilaian pasien anak di IGD: A systematic review Santoso, Muhamad Ikhsan; Arief, Yuni Sufyanti; Qona’ah, Arina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2320

Abstract

Background: Pediatric triage in Indonesia still faces challenges in the speed and accuracy of assessment due to the limitations of a standardized pediatric triage system. This situation demands the use of rapid, simple, and accurate initial assessment methods such as the Pediatric Assessment Triangle (PAT). Purpose: To evaluate the effectiveness and accuracy of the pediatric assessment triangle (PAT) and the pediatric early warning score (PEWS) on the speed of assessment of pediatric patients in the emergency department (ED). Method: This systematic review sampled research articles related to the use of the Pediatric Assessment Triangle (PAT) in pediatric triage in the ED from Scopus, Web of Science, EBSCO, and PubMed databases. The variables examined included effectiveness (speed of assessment) and diagnostic accuracy (sensitivity and specificity). The research instrument used the PRISMA guidelines for study selection and the JBI Critical Appraisal Tools for quality assessment. Analysis was conducted through narrative synthesis and comparison of results between studies. Results: Six of the ten studies found that PAT can accelerate the triage process to just 13–15 seconds, with high accuracy (Area Under the Receiver Operating Characteristic Curve (AUROC) >0.96), sensitivity >90%, and specificity of up to 99%. Conclusion: Digital-based PAT adaptations, such as Android applications and e-health, have been shown to improve healthcare worker skills, accelerate response times, and expand access to implementation. However, PAT's effectiveness is influenced by training level, clinical experience, and variations in service facilities. Suggestion: Overall, the six articles found confirm that PAT is a fast, accurate, and adaptive initial triage method, making it worthy of recommendation in pediatric emergency department practice to improve service quality and pediatric patient safety.   Keywords: Assessment Speed; Diagnostic Accuracy; Emergency Department (ED); Pediatric Patients; Pediatric Assessment Triangle (PAT); Pediatric Early Warning Score (PEWS).   Pendahuluan: Triase anak di Indonesia masih menghadapi kendala kecepatan dan ketepatan penilaian akibat keterbatasan sistem triase pediatrik yang terstandar. Kondisi ini menuntut penggunaan metode penilaian awal yang cepat, sederhana, dan akurat seperti Pediatric Assessment Triangle (PAT). Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas dan akurasi pediatric assessment triangle (PAT) dan pediatric early warning score (PEWS) terhadap kecepatan penilaian pasien anak di IGD. Metode: Penelitian tinjauan sistematis dengan sampel berupa artikel penelitian terkait penggunaan Pediatric Assessment Triangle (PAT) pada triase anak di IGD pada basis data Scopus, Web of Science, EBSCO, dan PubMed. Variabel yang dikaji meliputi efektivitas (kecepatan penilaian) dan akurasi diagnostik (sensitivitas dan spesifisitas). Instrumen penelitian menggunakan panduan PRISMA untuk seleksi studi dan JBI Critical Appraisal Tools untuk penilaian kualitas. Analisis dilakukan melalui sintesis naratif dan perbandingan hasil antar studi. Hasil: 6 dari 10 studi menyatakan PAT mampu mempercepat proses triase hanya dalam 13–15 detik, dengan akurasi tinggi Area Under the Receiver Operating Characteristic curve (AUROC) >0.96, sensitivitas >90%, dan spesifisitas hingga 99%. Simpulan: Adaptasi PAT berbasis digital, seperti aplikasi android dan e-health, terbukti meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan, mempercepat waktu respon, serta memperluas akses implementasi. Namun, efektivitas PAT dipengaruhi oleh tingkat pelatihan, pengalaman klinis, serta variasi fasilitas pelayanan. Saran: Secara keseluruhan, 6 artikel yang ditemukan menegaskan bahwa PAT merupakan metode triase awal yang cepat, akurat, dan adaptif, sehingga layak direkomendasikan dalam praktik gawat darurat pediatrik untuk meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien anak.   Kata Kunci: Akurasi Diagnosis; Instalasi Gawat Darurat (IGD); Kecepatan Penilaian; Pasien Anak; Pediatric Assessment Triangle (PAT); Pediatric Early Warning Score (PEWS).
Pelvic rocking exercise sebagai alternatif manajemen nyeri dysmenorrhea primer: A systematic literature review Kirana, Magenta; Fauza, Sri Novia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2330

Abstract

Background: Primary dysmenorrhea is a common menstrual disorder experienced by adolescent girls and young women of reproductive age, characterized by lower abdominal cramping pain that interferes with daily activities without any underlying organic pathology. Pelvic rocking exercise is a potential non-pharmacological intervention because it is simple, inexpensive, and can be performed independently; however, the scientific evidence is still scattered and has not been systematically synthesized. Purpose: To evaluate pelvic rocking exercise as an alternative for managing pain in primary dysmenorrhea. Method: A systematic review was conducted by searching literature in PubMed, Scopus, and Google Scholar databases using keywords related to "pelvic rocking exercise" and "primary dysmenorrhea" within the 2020–2026 period. Results: A total of 10 studies met the inclusion criteria (experimental or quasi-experimental designs) and were analyzed narratively due to high heterogeneity among studies. Pelvic rocking exercise consistently showed effectiveness in reducing menstrual pain intensity from moderate–severe to mild or no pain through mechanisms such as pelvic muscle relaxation, improved blood circulation to the uterus, and the release of natural endorphins, with no reported side effects. This intervention also improved comfort and the ability to perform daily activities during menstruation. Conclusion: Pelvic rocking exercise is effective in reducing the intensity of dysmenorrhea pain and can be considered a safe, practical, and easily self-administered non-pharmacological therapy.   Keywords: Adolescent; Non-Pharmacological Pain Management; Pelvic Rocking Exercise; Primary Dysmenorrhea.   Pendahuluan: Dismenore primer merupakan gangguan menstruasi yang umum dialami remaja putri dan wanita usia reproduktif awal, ditandai nyeri kram abdomen bawah yang mengganggu aktivitas sehari-hari tanpa adanya patologi organik. Pelvic rocking exercise menjadi salah satu intervensi non-farmakologi yang potensial karena sederhana, murah, dan dapat dilakukan mandiri, namun bukti ilmiahnya masih tersebar dan belum tersintesis secara sistematis. Tujuan: Untuk mengevaluasi pelvic rocking exercise sebagai alternatif manajemen nyeri dismenore primer. Metode: Tinjauan sistematis dilakukan dengan pencarian literatur pada database PubMed, Scopus, dan Google Scholar menggunakan kata kunci terkait "pelvic rocking exercise" dan "primary dysmenorrhea" pada rentang tahun 2020–2026. Hasil: Terdapat 10 studi yang memenuhi kriteria inklusi (desain eksperimental atau quasi-eksperimental) dianalisis secara naratif karena heterogenitas tinggi antarstudi, Pelvic rocking exercise secara konsisten efektif mengurangi intensitas nyeri haid dari tingkat sedang-berat menjadi ringan atau tidak ada nyeri melalui relaksasi otot panggul, peningkatan sirkulasi darah ke uterus, dan pelepasan endorfin alami, tanpa efek samping yang dilaporkan. Intervensi ini juga meningkatkan kenyamanan dan kemampuan beraktivitas selama menstruasi. Simpulan: Pelvic rocking exercise efektif mengurangi intensitas nyeri dismenore dan dapat menjadi alternatif terapi non-farmakologis yang aman, praktis, dan mudah dilakukan secara mandiri.   Kata Kunci: Dismenore Primer; Manajemen Nyeri Non-Farmakologi; Pelvic Rocking Exercise; Remaja.
Profil imunoglobulin-g dan imunoglobulin-m pasien suspek demam berdarah dengue Lumatauw, Giselle Deiny Angie; Kaunang, Wulan Pingkan Julia; Langi, Fima Fredrik Lanra Gerald
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2339

Abstract

Background: Limited access to and affordability of standard dengue diagnostic tests in primary healthcare facilities in Indonesia result in many cases remaining unconfirmed by laboratory examination. Therefore, routine hematological parameters may serve as a more affordable alternative for early dengue diagnosis, particularly in resource-limited settings. Purpose: To assess the association and diagnostic accuracy of routine hematological parameters with dengue diagnosis and infection status (primary or secondary) as determined by IgM and IgG serological profiles. Method: A quantitative study using a cross-sectional approach was conducted from January to December 2024 at the Laboratory of the Pancaran Kasih Evangelical Church General Hospital in Manado. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 141 respondents. The independent variable in this study was suspected dengue fever status, while the dependent variables were the immunoglobulin G (IgG) and immunoglobulin M (IgM) profiles of the patients. Data analysis was performed using R software with a significance level of 0.05. Results: Platelet count and the hemoconcentration/thrombocytopenia index (HTI) showed the best performance in distinguishing dengue-positive from dengue-negative cases (AUC 0.675), while leukocyte count demonstrated good discriminative ability in differentiating primary and secondary infections (AUC 0.817). Conclusion: Platelet count and the hemoconcentration/thrombocytopenia index (HTI) are useful as adjunct tools for early dengue diagnosis, while leukocyte count is the best indicator for differentiating primary and secondary infections and risk stratification.   Keywords: Dengue Fever; Immunoglobulin-G Profile; Immunoglobulin-M; Suspected Patients   Pendahuluan: Keterbatasan dan keterjangkauan akses pemeriksaan diagnostik standar dengue di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Indonesia menyebabkan banyak kasus tidak terkonfirmasi secara laboratorik. Oleh karena itu, parameter hematologi rutin berpotensi dimanfaatkan sebagai alternatif diagnostik awal yang lebih terjangkau, khususnya di wilayah dengan sumber daya terbatas. Tujuan: Untuk menilai hubungan dan akurasi diagnostik antara parameter hematologi rutin dengan diagnosis DBD dan status infeksi (primer atau sekunder) yang ditetapkan melalui pemeriksaan profil serologis IgM dan IgG. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada bulan Januari-Desember 2024, di Laboratorium Rumah Sakit Umum Gereja Masehi Injili Pancaran Kasih, Manado. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 141 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah status suspek demam berdarah dengue, sedangkan variabel dependen adalah profil imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM) pasien. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak R dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Trombosit dan indeks hemokonsentrasi/trombositopenia (HTI) memiliki kinerja terbaik untuk membedakan dengue positif dan negatif dengan akurasi (AUC 0.675), leukosit menunjukkan kemampuan diskriminasi yang baik dalam membedakan infeksi primer dan sekunder (AUC 0.817). Simpulan: Trombosit dan indeks hemokonsentrasi/trombositopenia (HTI), bermanfaat sebagai alat bantu diagnosis awal dengue, sementara leukosit merupakan indikator terbaik untuk membedakan infeksi primer dan sekunder serta stratifikasi risiko.   Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue; Imunoglobulin-M; Pasien Suspek; Profil Imunoglobulin-G.
Hubungan literasi kesehatan dan partisipasi posyandu dengan kebutuhan informasi kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja putri perdesaan Widadi, Najmatul Rahmi; Khasanah, Nur; Riska, Herliana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2345

Abstract

Background: Adolescent girls in rural areas face various reproductive health problems exacerbated by limited access to information, sexual and reproductive health literacy, and low utilization of integrated adolescent health service posts. Purpose: To analyze the relationship between sexual and reproductive health literacy and participation in integrated adolescent health service posts with sexual and reproductive health information needs among rural adolescent girls. Method: This quantitative study with a cross-sectional approach involved 37 adolescent girls who were actively attending high school and selected using purposive sampling. Sexual and reproductive health literacy was measured using the Health Literacy Measure for Adolescents (HELMA) instrument, while participation in integrated adolescent health service posts and information needs were measured nominally across seven sexual and reproductive health topics. Data were analyzed using the Likelihood Ratio and Fisher’s Exact Test (p < 0.05). Results: The majority of respondents had moderate sexual and reproductive health literacy (67.6%) and did not participate in integrated adolescent health service posts (83.8%). The highest information needs were related to reproductive hygiene (70.3%) and sexual violence and harassment (43.2%). A significant association was found between sexual and reproductive health literacy and information needs regarding contraception (p = 0.010), whereas participation in integrated adolescent health service posts was not significantly associated with any information topics (p > 0.05). Conclusion: Sexual and reproductive health literacy is associated with contraceptive information needs among rural adolescent girls, while the contribution of integrated adolescent health service posts remains suboptimal. Strengthening health literacy and optimizing the function of integrated adolescent health service posts based on adolescent girls' information needs are required to improve the fulfillment of sexual and reproductive health information in rural areas. Suggestion: Further research is recommended to involve a larger number of respondents to strengthen the generalizability of the results and explore the quality of implementation of adolescent integrated health posts and socio-cultural factors that influence adolescent sexual and reproductive health information needs.   Keywords: Adolescent Girls; Information Needs; Integrated Adolescent Health Service Posts; Rural; Sexual and Reproductive Health Literacy.   Pendahuluan: Remaja putri di wilayah perdesaan menghadapi berbagai permasalahan kesehatan reproduksi yang diperberat oleh keterbatasan akses informasi, literasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta rendahnya pemanfaatan pos pelayanan terpadu remaja (posyandu remaja). Tujuan: Untuk menganalisis hubungan literasi kesehatan seksual dan reproduksi serta partisipasi posyandu terhadap kebutuhan informasi kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja putri perdesaan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 37 remaja putri yang berstatus aktif bersekolah di SMA/sederajat dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Literasi kesehatan seksual dan reproduksi diukur menggunakan instrumen Health Literacy Measure for Adolescents (HELMA), sedangkan partisipasi posyandu remaja dan kebutuhan informasi diukur secara nominal pada tujuh topik kesehatan seksual dan reproduksi. Analisis data menggunakan uji Likelihood Ratio dan Fisher’s Exact Test (p < 0.05). Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat literasi kesehatan seksual dan reproduksi sedang (67.6%) dan tidak mengikuti kegiatan posyandu remaja (83.8%). Kebutuhan informasi tertinggi terdapat pada topik kebersihan organ reproduksi (70.3%) dan kekerasan serta pelecehan seksual (43.2%). Terdapat hubungan signifikan antara literasi kesehatan seksual dan reproduksi dan kebutuhan informasi tentang alat kontrasepsi (p = 0.010), sedangkan partisipasi posyandu remaja tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan seluruh topik kebutuhan informasi (p > 0.05). Simpulan: Literasi kesehatan seksual dan reproduksi berhubungan dengan kebutuhan informasi alat kontrasepsi pada remaja putri, namun partisipasi posyandu remaja belum berkontribusi secara optimal. Penguatan literasi kesehatan dan optimalisasi fungsi posyandu remaja berbasis kebutuhan informasi remaja putri diperlukan untuk meningkatkan pemenuhan informasi kesehatan seksual dan reproduksi di wilayah perdesaan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan jumlah responden yang lebih besar guna memperkuat generalisasi hasil serta mengeksplorasi kualitas pelaksanaan posyandu remaja dan faktor sosial budaya yang memengaruhi kebutuhan informasi kesehatan seksual dan reproduksi remaja.   Kata Kunci: Kebutuhan Informasi; Literasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi; Perdesaan; Posyandu Remaja; Remaja Putri.
Intekoneksi antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati pada mahasiswa keperawatan Margareth, Yovanetha Maria; Rahmi, Upik; Nasution, Lina Anisa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2350

Abstract

Background: Empathy is a fundamental competency for nursing students to build therapeutic relationships and effective communication. This ability is at risk of declining due to the phenomena of alexithymia and social media addiction. Although the impact is significant, the maladaptive use of social media as a coping mechanism for alexithymia often goes unnoticed in the context of nursing education. Identifying the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy is crucial. Purpose: To analyze the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy, as well as to examine the mediating role of alexithymia in nursing students. Method: This study used a quantitative cross-sectional design on 197 nursing students selected through simple random sampling. Data were collected using the SMAS-SF, TAS-20, and JSPE-R questionnaires, then analyzed using path analysis. Results: The majority of respondents experienced high levels of social media addiction (57.4%), alexithymia (39.1%), and high empathy (77.7%). The path analysis results proved that alexithymia acted as the main mediator, social media addiction was significantly related to alexithymia (p=0.000) and alexithymia was significantly related to empathy (p=0.002), while the direct relationship between social media addiction and empathy was not significant (p=0.206). Conclusion: This study proves that alexithymia acts as the primary mediator. Social media addiction indirectly reduces empathy through blunted emotional sensitivity. The implications of this study emphasize the need for attention to the phenomenon of social media addiction related to alexithymia in order to maintain empathy competence in nursing students. Suggestion: Further research is recommended to apply a longitudinal or experimental design to conduct further testing of the causal relationship between variables.   Keywords: Alexithymia; Empathy; Nursing Students; Social Media.                                                                                                                                         Pendahuluan: Empati merupakan kompetensi fundamental bagi mahasiswa keperawatan untuk membangun hubungan terapeutik dan komunikasi efektif. Kemampuan ini berisiko menurun akibat fenomena alexithymia dan kecanduan media sosial. Meskipun dampaknya signifikan, penggunaan media sosial maladaptif sebagai mekanisme koping terhadap alexithymia sering kali luput dari perhatian dalam konteks pendidikan keperawatan. Identifikasi keterkaitan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati krusial untuk dilakukan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati, serta menguji peran mediator alexithymia pada mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional pada 197 mahasiswa keperawatan yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SMAS-SF, TAS-20, dan JSPE-R, kemudian dianalisis dengan path analysis. Hasil: Mayoritas responden mengalami kecanduan media sosial tingkat tinggi (57.4%), kondisi alexithymia (39.1%), dan memiliki empati yang tinggi (77.7%). Hasil path analysis membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama, kecanduan media sosial berhubungan signifikan dengan alexithymia (p=0.000) dan alexithymia berhubungan signifikan dengan empati (p=0.002), sementara hubungan langsung antara kecanduan media sosial dengan empati tidak signifikan (p=0.206). Simpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama dalam hubungan antara kecanduan media sosial dan empati. Kecanduan media berpengaruh secara tidak langsung melalui tumpulnya sensitivitas emosi. Implikasi studi ini menekankan perlunya perhatian dalam fenomena kecanduan media sosial yang berhubungan dengan alexithymia guna mempertahankan kompetensi empati pada mahasiswa keperawatan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk menerapkan desain longitudinal atau eksperimental guna melakukan pengujian lebih lanjut mengenai hubungan kausalitas antar variabel.   Kata Kunci: Alexithymia; Empati; Mahasiswa Keperawatan; Media Sosial.
Hubungan antara masa kerja dan postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada petani daun bawang Umboh, Aprillia Veronica; Kandou, Grace Debbie; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2371

Abstract

Background: Musculoskeletal disorders are a major global occupational health problem, characterized by pain and limited mobility, which can potentially lead to disability and reduced productivity. Working hours and work posture are among the occupational risk factors that cause musculoskeletal complaints. Long working hours cause cumulative exposure, while non-ergonomic work postures increase body load imbalance. Onion leaf farmers work in a bent posture, perform repetitive movements, and carry heavy loads, which put them at risk of musculoskeletal complaints. Purpose: To analyze the relationship between work duration and work posture with musculoskeletal complaints among onion leaf farmers. Method: A quantitative study using a cross-sectional approach was conducted in January 2026 in Makaaroyen Village, South Minahasa. The sampling technique employed non-probability sampling, with a sample size of 58 respondents. The independent variables in this study were length of service and work posture, while the dependent variable was musculoskeletal complaints. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distributions and bivariate analysis using Spearman’s rank correlation. Results: The results showed that the majority of respondents had worked for more than 10 years (86.2%), had high-risk work postures (58.6%), and had high levels of musculoskeletal complaints (77.6%). Spearman's rank test showed a significant relationship between length of service and musculoskeletal complaints (p=0.002; r=0.402) with a moderate strength of relationship, and a highly significant relationship between work posture and musculoskeletal complaints (p<0.001; r=0.640) with a strong strength of relationship. Conclusion: There is a significant relationship between length of service and work posture with musculoskeletal complaints among spring onion farmers.   Keywords: Farmers; Musculoskeletal Disorders; Work Duration; Work Posture.   Pendahuluan: Gangguan muskuloskeletal merupakan masalah kesehatan kerja utama secara global, ditandai dengan nyeri dan keterbatasan mobilitas, yang berpotensi menyebabkan kecacatan dan penurunan produktivitas. Masa kerja dan postur kerja merupakan salah satu faktor risiko pekerjaan yang menyebabkan terjadinya keluhan muskuloskeletal. Masa kerja yang panjang menyebabkan paparan kumulatif, sedangkan postur kerja tidak ergonomis meningkatkan ketidakseimbangan beban tubuh. Petani daun bawang bekerja dengan postur membungkuk, gerakan repetitif, dan beban kerja berat yang berisiko menimbulkan keluhan muskuloskeletal. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan masa kerja dan postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada petani daun bawang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dilaksanakan bulan Januari 2026 di Desa Makaaroyen, Minahasa Selatan. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 58 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah masa kerja dan postur kerja, sedangkan variabel dependen adalah yaitu keluhan muskuloskeletal. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan Spearman Rank. Hasil: Mayoritas responden memiliki masa kerja >10 tahun (86.2%), postur kerja pada kategori risiko tinggi (58.6%), dan kategori keluhan muskuloskeletal yang tinggi (77.6%). Uji Spearman Rank menunjukkan, hubungan signifikan antara masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal (p=0.002; r=.402) dengan kekuatan hubungan sedang, dan hubungan sangat signifikan antara postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal (p<0.001; r=0.640) dengan kekuatan hubungan kuat. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara masa kerja dan postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada petani daun bawang.   Kata Kunci: Keluhan Muskuloskeletal; Masa Kerja; Petani; Postur Kerja.
Dukungan keluarga dalam mencegah postpartum blues pada ibu primipara: A literature review Sulistiani, Sulistiani; Erika, Erika; Wahyuni, Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2380

Abstract

Background: Postpartum blues is a mild psychological disorder commonly experienced by mothers after childbirth, especially primiparous mothers who have no prior experience dealing with physical and emotional changes after delivery. This condition is characterized by symptoms such as mood swings, anxiety, frequent crying, and emotional fatigue. One important protective factor in preventing postpartum blues is family support. Purpose: To systematically review family support in preventing postpartum blues among primiparous mothers. Method: A literature review was conducted by searching for relevant scientific articles from databases such as Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, Semantic Scholar, ResearchGate, and BMC. The analyzed articles were published between 2020 and 2024. Results: The analysis shows that family support, especially from husbands, has a significant relationship in preventing and reducing the risk of postpartum blues. Emotional support, practical assistance, open communication, and active involvement in infant care are key elements in supporting maternal mental health. Qualitative studies also indicate that family support provides a sense of being valued and strengthens mothers’ ability to cope with postpartum changes. Conclusion: Family support has been proven to play an important role as an effective non-medical intervention in preventing postpartum blues among primiparous mothers.   Keywords: Family Support; Postpartum Blues; Primiparous Mothers.   Pendahuluan: Postpartum blues merupakan gangguan psikologis ringan yang umum dialami oleh ibu setelah melahirkan, terutama pada ibu primipara yang belum memiliki pengalaman menghadapi perubahan fisik dan emosional pascapersalinan. Kondisi ini ditandai oleh gejala seperti perubahan suasana hati, kecemasan, mudah menangis, dan kelelahan emosional. Salah satu faktor protektif yang penting dalam mencegah terjadinya postpartum blues adalah dukungan dari keluarga. Tujuan: Untuk mengkaji secara sistematis dukungan keluarga dalam mencegah postpartum blues pada ibu primipara. Metode: Literature review dengan menelusuri artikel ilmiah yang relevan dari database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, Semantic Scholar, ResearchGate, dan BMC. Artikel yang dianalisis dipublikasikan dalam rentang tahun 2020 hingga 2024. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa dukungan keluarga, terutama dukungan dari suami, memiliki hubungan yang signifikan dalam mencegah dan menurunkan risiko postpartum blues. Dukungan emosional, bantuan praktis, komunikasi terbuka, dan keterlibatan aktif dalam pengasuhan bayi menjadi elemen utama dalam mendukung kesehatan mental ibu. Studi kualitatif juga menggambarkan bahwa dukungan keluarga memberikan rasa dihargai dan memperkuat kemampuan ibu dalam menghadapi perubahan pascapersalinan Simpulan: Dukungan keluarga terbukti berperan penting sebagai intervensi non-medis yang efektif dalam mencegah postpartum blues pada ibu primipara.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Ibu Primipara; Postpartum Blues.