cover
Contact Name
Ella Evrita
Contact Email
e.evrita@sae.edu
Phone
+628158712890
Journal Mail Official
g.putra@sae.edu
Editorial Address
YAYASAN NEXT AKADEMI Jl. Pejaten Raya No.31, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540 Telephone: (021) 7890145
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Profilm: Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman & Televisi
ISSN : 28300521     EISSN : 28300521     DOI : https://doi.org/10.56849
Pro Film Journal is a scientific journal that focuses on film and television science. Along with the development of creative media in Indonesia, this journal is presented by SAE Indonesia and covers various topics related to creative media. Creative media is an individuals mental process in producing new ideas, processes, methods, or products that are effective and imaginative, with succession, discontinuity, and differentiation that are useful in various fields to create something new.
Articles 128 Documents
Pengawasan Tubuh Perempuan dan Legitimasi Kewajaran dalamPraktik Sirompak Yolla Purnma Sari, S.Sn Yolla Purnma Sari, S.Sn; Dr. Martin Suryajaya, S.S., M.Hum Dr. Martin Suryajaya, S.S., M.Hum; Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membedah praktik Sirompak dalam bingkai pengawasan terhadap tubuh perempuan di dalam struktur adat Minangkabau. Alih-alih memandang Sirompak sekadar sebagai ritual magis atau tradisi usang, studi ini menempatkannya sebagai bagian dari mekanisme kontrol berlapis yang mendapat legitimasi dari konsensus adat. Melalui pendekatan kualitatif dengan perspektif kajian budaya dan antropologi sosial, dianalisis bagaimana relasi antara sumbang duo baleh, struktur formal adat, serta regulasi sosial bekerja menciptakan reproduksi ketakutan simbolik dalam narasi kolektif masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengawasan terhadap tubuh perempuan tidak hanya terjadi melalui pembiasaan norma dan sanksi sosial, tetapi juga lewat jalinan legitimasi adat-agama serta ancaman simbolik yang laten. Dalam konteks ini, Sirompak berfungsi sebagai "gejala batas" yang mengaktifkan dimensi ekstrem sistem sosial saat norma dianggap telah dilanggar. Pada akhirnya, praktik ini memperlihatkan bagaimana budaya dapat bekerja sebagai teknologi sosial yang menjaga keteraturan melalui trauma simbolik dan efek afektif yang diwariskan secara turun-temurun.
Pengembangan Kerangka Active Acoustic Berbasis DigitalSignal Processing untuk Peningkatan KarakteristikReverberasi pada Studio Rekaman Pendidikan Hosea Hanelsan Hosea Hanelsan
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakter akustik ruangan sangat berpengaruh pada mutu audio, khususnya di studio rekaman dan ruang pertunjukan yang butuh waktu dengung berbeda sesuai kontennya. Studio pendidikan biasanya dibuatdengan RT60 rendah agar perekaman lebih terkontrol. Sayangnya, kondisi ini bikin ruang jadi kurang fleksibel saat butuh kesan akustik seperti ruangan yang lebih besar. Penelitian ini bikin dan uji kerangka Active Acoustic pakai DSP untuk nambah persepsi gema di studio pendidikan tanpa ubah fisik ruangan. Metodenya pakai Design-Based Engineering Research: studi literatur, observasi industri, simulasi rambat suara, prototipe Max4Live, implementasi, lalu evaluasi di Studio Live Room 1 SAE Jakarta. Hasilnya, susunan mikrofon, loudspeaker, dan algoritma delay berbasis DSP bisa bikin pantulan suara yang secara persepsi terdengar seperti gema lebih panjang. Simulasi wave propagation dan ray tracing juga nunjukin pola delay sesuai posisi mikrofon-loudspeaker, bisa ciptain refleksi virtual mirip ruang lebih besar. Implementasinya di Studio Live Room 1 membuktikan sistem Active Acoustic pakai alat audio komersial+Max4Live itu solusi ekonomis untuk menambah fleksibilitas akustik studio kecil.
Pengembangan Kerangka Microphone Profiling Berbasis Convolution melalui Manipulasi Impulse Response untuk Produksi Audio Profesional yangAksesibel Jovin Samuel Jovin Samuel
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan teknologi audio digital memicu lahirnya banyak sistem microphone modeling berbasis DSP yang dapat meniru karakter mikrofon profesional. Kendati demikian, mayoritas sistem itu masih bergantung pada perangkat keras dan lunak berpemilik sehingga sulit diakses praktisi mandiri. Selain itu, studi empiris tentang transfer respon frekuensi antar mikrofon lewat manipulasi IR masih sangat terbatas. Untuk menjawab hal itu, penelitian ini membangun dan mengevaluasi kerangka Convolution-Based Microphone Profiling berbasis akuisisi IR, normalisasi inverse response, dan transfer frekuensi konvolusi guna mereproduksi karakter mikrofon tanpa ketergantungan hardware eksklusif. Pendekatan Practice-Based Research diterapkan melalui pembuatan sistem, prototipe, perekaman IR berbagai mikrofon, serta evaluasi via analisis respon frekuensi. Data hasil uji menunjukkan karakter frekuensi SM57 bisa ditransformasi menyerupai SM81 dan U87. Hal ini menegaskan bahwa konvolusi IR berpotensi menjadi opsi microphone modeling yang lebih terbuka, adaptif, dan terjangkau bagi industri audio profesional.
Perancangan Film Dokumenter Hidup Untuk Rumah, Bukan Rumah UntukHidup Analisis Kerangka Naratif Dokumenter Sosial-Politik Akira Asava Robby Akira Asava Robby; Nan Triveni Achnas Nan Triveni Achnas
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis perumahan adalah salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di daerah urban di Indonesia. Lebih terfokusnya di daerah Jabodetabek dimana rumah menjadi instrumen investasi warga kelas atasyang menyebabkan kota pasokannya terbatas bagi warga kelas menengah. Namun perpindahan ke daerah sub- urban / kota penyangga pun semakin mahal karena fenomena gentrifikasi. Penciptaan film dokumenter yangberdasarkan Practice-based research ini dilakukan untuk mencari tahu bagaimana fenomena ini terjadi dan apa saja cara untuk menanggulanginya. Melalui pengalaman langsung pencipta sebagai warga kota, kontraktorbangunan, dan filmmaker, penciptaan karya ini akan mengkaji fenomena gentrifikasi, ketimpangan ruang, serta tekanan struktural yang mendorong masyarakat kelas menengah dan bawah semakin tersingkir dari akses tempat tinggal layak. Artikel ini menyajikan rancangan dan analisis kerangka naratif film documenter yang mengangkat isu sosial-politik . 
RITUAL SEBAGAI RUANG PENGETAHUAN: TUBUH, TANAH,dan SUARA DALAM PENDEKATAN DOKUMENTERPARTISIPATORIS TARAWANGSA TRIPTYCH Dewi Saraswati K Dewi Saraswati K; Nan Triveni Achnas Nan Triveni Achnas; RR Ella Evrita H RR Ella Evrita H
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan ritual dan praktik budaya sering kali dipandang sebagai aspek visual dalam film dokumenter, sedangkan aspek pengetahuannya sering kali diabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki ritual Tarawangsa sebagai sumber pengetahuan dalam pembuatan film, dengan pendekatan dokumenter yang bersifat partisipatif. Metodologi yang digunakan mencakup observasi partisipatif, interaksi langsung dengan komunitas, dan refleksi etis selama proses produksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ritual dapatmenjadi sarana untuk menyampaikan pengetahuan dan spiritualitas yang dalam. Namun, film sering kali gagal untuk merepresentasikan kompleksitas ini, yang dapat menguatkan stereotip yang ada. Keterlibatan aktif dari peserta ritual memberikan nilai tambah dalam pemahaman dan penghargaan terhadap praktik budaya yang ada. Temuan ini menekankan pentingnya memperhatikan sensitivitas budaya serta menerapkan pendekatan dialogis dalam pembuatan film.
STUDI KASUS PENGGUNAAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM MENERAPKAN ODORLESS CULTURE MELALUI ELEMENSTRUKTUR NARASI MANGA: BLEACH DAN ONE PIECE Jessica, B.A, M.M Jessica, B.A, M.M; Dr. Bambang Tri Rahadian, S.Sn Dr. Bambang Tri Rahadian, S.Sn; Johanes Park, B.A, M.Sn Johanes Park, B.A, M.Sn
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manga sebagai salah satu bentuk seni sekuensial populer memiliki peran penting dalam pembentukan identitas remaja lintas negara. Dalam konteks globalisasi dan runtuhnya narasi besar (meta narrative), Mangatidak lagi berfungsi semata sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai agen budaya yang menyublimkan nilai, ideologi, dan sistem makna secara tidak disadari oleh pembacanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana strategi odorless culture diterapkan melalui struktur narasi dalam dua Manga Jepang populer, yaitu Bleach karya Tite Kubo dan One Piece karya Eiichiro Oda. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes, dikombinasikan dengan teori struktur narasi Manga oleh Hirohiko Araki sebagai kerangka pembacaan struktur narasi. Fokus analisis diarahkan pada karakter deutragonis sebagai titik jangkar untuk mengurai relasi penanda dan petanda dalam elemen naratif Manga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bleach dan One Piece menerapkan odorless culture melalui elemen narasi yang berbeda. Bleach menitik beratkan pada desain karakter sebagai penanda yang merepresentasikan sistem kepercayaan dan struktur organisasi, sementara One Piece mengandalkan pembangunan latar dunia (world-building) sebagai penanda yang menyublimkan berbagai sistem kekuasaan dan ideologi. Pola naratif yang berulang dalam setiap arc mengarahkan pembaca pada tema besar masingmasing Manga, yakni negosiasi identitas melalui sistem kepercayaan dalam Bleach dan perlawanan terhadap dominasi kekuasaan dalam One Piece. Penelitian ini menegaskan bahwa Manga merupakanmedium kultural yang kompleks dan berfungsi sebagai sarana penyebaran nilai ideologis secara subliminal melalui struktur narasi dan semiotika visualnya
TERMINOLOGI SCENE DAN SEQUENCE DALAM FILM Kusen Dony Hermansyah Kusen Dony Hermansyah; Damas Cendekia Damas Cendekia
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Scene dan sequence merupakan terminologi yang lazim digunakan dalam produksi maupun kajian film. Namun yang menarik adalah banyak pembuat film yang dapat menjelaskan scene dengan relatif mudah, tetapi sering kurang komprehensif. Sementara ketika menjelaskan tentang sequence, justru lebih beragam dan membingungkan. Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas makna serta fungsi kedua istilah tersebut dalam kerangka teori film. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data berupa literatur film dan contoh-contoh film yang dianalisis melalui studi pustaka dan telaah dokumen. Analisis dilakukan secara deskriptif-kualitatif untuk menguraikan hubungan antara shot, scene, dan sequence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa scene tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan shot, begitu pula sequence bukan sekadar kumpulan scene; sebab keduanya memiliki fungsi dramatik dan naratif yang lebih kompleks. Temuan ini diharapkan dapat memberi acuan yang lebih sistematis, khususnya dalam pendidikan film di Indonesia. 
"Visual Effects as Cultural Narratives: Bridging Technology,Storytelling, and Audience Engagement in Modern Cinema" Ario Swastanto Tamat Ario Swastanto Tamat
Pro Film Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 - September 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inovasi teknologi di bidang perfilman dan efek visual (VFX) telah mengubah metode produksi film serta cara masyarakat mengapresiasi karya-karya sinematik. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana VFX berkontribusi dalam pembentukan narasi dan keterlibatan penonton di film kontemporer. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain dokumentatif, yang mencakup analisis teks dan audiovisual untuk memahami hubungan antara teknologi, proses produksi, dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam film. Penelitian ini mengungkapkan bahwa VFX berfungsi sebagai komponen naratif yang tidak hanya memperkaya daya tarik visual film, tetapi juga memengaruhi pemahaman serta keterlibatan penonton terhadap alur cerita yang disampaikan. Di lain pihak, ada kemungkinan terjadinya keseragaman dalam narasi dan menurunnya kualitas penceritaan tradisional akibat ketergantungan yang berlebihan pada teknologi. 
Simbolisme Agama sebagai Protagonis dalam Film Horor Melati Kusuma Wardhani, S.I.Kom, M.I.Kom, Melati Kusuma Wardhani, S.I.Kom, M.I.Kom
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 3 No. 1 (2024): Volume 3, Nomor 1 - Maret 2024
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v3i1.53

Abstract

Several aspects show the changes taking place in the Indonesian horror film industry, and the correlation between changes at the international level and local phenomena is very clear. First, using local myths and legends as the basis of the story shows that the audience is drawn to content rooted in local traditions and culture. Secondly, technological advances around the world have led to improved visual quality and special effects in horror films. Third, production and distribution standards have been improved due to greater collaboration with the global film industry. As a result, Indonesian horror films have had a wider impact around the world. The methodological approach carried out in this study is called literature research. The results showed that in addition, the genre of horror films is changing by trying to include variations such as psychological, comedy, and supernatural horror to cater to different tastes of audiences. The narrative and message of the film also changed, with some Indonesian horror films incorporating social messages or social criticism, giving deep meaning to the horror story. In promoting Indonesian horror films, pop culture and social media play an important role as they allow producers to use viral trends, memes, and direct interaction with the audience. Overall, these transformations demonstrate the film producers' ability to adapt and be creative to technological and cultural transformations while maintaining a strong local cultural identity. As a result, Indonesia's horror film industry has become relevant and attractive to audiences at home and
Tantangan Hukum dalam Pemajakan Penghasilan Digital di Industri Kreatif Dr. RR. Ella Evrita Hestiandari, S.E, M.M, Dr. RR. Ella Evrita Hestiandari, S.E, M.M
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 3 No. 1 (2024): Volume 3, Nomor 1 - Maret 2024
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v3i1.54

Abstract

The taxation of digital income in the creative industry is becoming an increasingly complex issue in today's digital economy era. This study aims to analyse the legal challenges faced in taxing income earned throughdigital media by creative industry players, focusing on cross-jurisdictional issues and the digital economy. The research methodology uses a qualitative approach with primary data collection through interviews with creative industry players and tax law experts, as well as secondary data from relevant literature. The results identified various challenges, including the complexity of digital income classification, crossjurisdictional issues, the influence of different tax policies between countries, and challenges inimplementing the Permanent Establishment (PE) concept in the digital economy. Case studies from different countries provide a concrete picture of the problems faced and the efforts made by countries to address those challenges. Policy recommendations are also prepared to improve tax compliance and support the development of creative industries in the digital era. It is hoped that this research can make a significant contribution in the understanding and resolution of this complex problem in the future.

Page 5 of 13 | Total Record : 128