cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 15 No. 1 (2025): Februari" : 10 Documents clear
Integrasi Ma'rifat Al-Nafs Al-Ghazali dan Psikologi Modern dalam Penanganan Psikosomatik: Pendekatan Neo-Sufisme Untuk Kesehatan Mental Kontemporer Pratama, Lukman Nugraha; Ghozi, Ghozi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.758

Abstract

Dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan kompleks, termasuk konflik global, krisis ekonomi, dan kesehatan, yang berdampak signifikan pada stabilitas global dan kehidupan masyarakat. Situasi sulit ini telah menyebabkan peningkatan tingkat stres dan kecemasan, yang dapat memicu gangguan psikosomatis. Dalam menghadapi tantangan kesehatan mental ini, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan aspek fisik dan spiritual, seperti konsep ma'rifat al-nafs dari Imam al-Ghazali. Penelitian ini bertujuan untuk mendefinisikan ma'rifat al-nafs secara komprehensif, memahaminya dalam perspektif neo-sufisme, menganalisisnya dari berbagai sudut pandang psikologi, dan mengeksplorasi implementasinya dalam penanganan psikosomatik. Menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis isi, studi ini mengkaji karya-karya al-Ghazali, terutama kitab Kimiya al-Sa'adah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ma'rifat al-nafs menekankan eksplorasi mendalam terhadap aspek rohani manusia, menjadi pintu gerbang menuju pengenalan akan Tuhan. Neo-sufisme mengkontekstualisasikan konsep ini dengan realitas modern, menekankan pentingnya pengenalan diri untuk pencapaian spiritual dan tanggung jawab sosial. Ma'rifat al-nafs dapat diimplementasikan dalam penanganan gangguan psikosomatik, mengintegrasikan aspek fisik, psikis, dan spiritual.
Mengumbar Keromantisan di Dunia Digital: Interpretasi Hadis Nabi dan Teori Social Learning Albert Bandura Isyak, Isyak; Kholilurrahman, As'ad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.802

Abstract

Tren keromantisan pasangan suami istri di Indonesia banyak dilakukan secara terbuka, baik di ruang publik (public display of affection) maupun di media sosial (virtual display of affection). Keromantisan seperti ciuman dan pelukan di depan umum dianggap tidak pantas dan dapat menimbulkan dampak negatif bagi yang melihat. Tulisan ini membahas pengumbaran keromantisan rumah tangga dalam perspektif hadis. Tujuannya adalah mengkaji keromantisan Nabi Muhammad saw. dan relevansinya dengan keromantisan saat ini, serta menganalisisnya menggunakan teori social learning Albert Bandura. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis kajian pustaka dan menemukan tiga hadis yang menggambarkan keromantisan Nabi di tempat umum: berlomba lari dengan `Aishah, berduaan di atas unta, dan mengajak istri berlibur. Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa keromantisan yang bersifat intim sebaiknya tidak diumbar di depan umum. Berdasarkan teori social learning Bandura, keromantisan yang dipertontonkan di media sosial dapat mempengaruhi orang lain melalui modeling, reinforcement, self-efficacy, dan observational learning.
Pandangan Ibn Al-Muqaffa’ Terhadap Kitab Al-Muwatta’ Karya Imam Malik Ibn Anas (W. 179 H) Verawati, Sellyana; Hasbulloh, Moh
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.804

Abstract

Penelitian ini akan mengeksplorasi pandangan Ibn al-Muqaffa’ terhadap kodifikasi kitab al-Muwaṭṭā, sebuah karya kitab klasik yang lahir pada abad ke II yang disusun oleh Imām Mālik ibn Anas (w. 179 H). Ibn al-Muqaffa’ adalah seorang sastrawan Persia yang juga sezaman dengan Imām Mālik namun tidak sempat bertemu, hanya saja beliau sempat berdialegtika dengan karyanya masing-masing. Ibn al-Muqaffa’ hidup di bawah pemerintahan khalifah al-Mansūr sekaligus menempati di posisi penting dipemerintahannya, yaitu jadi skretaris gubernur. Kemudian Ibn al-Muqaffa’ memanfaatkan posisinya dengan mengusulkan agar taqnīn itu diseragamkan. Mengingat tidak samanya beberapa putusan dari para hakim saat itu tentang hukum yang diputuskan. Khalifah al-Mansūr menanggapi usulan itu setelah beberapa tahun kemudian dan memerintahkan Imām Mālik untuk menyusun kitab tentang hukum, yang diberi nama al-Muwaṭṭā’. Metodologi penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif-interpretatif dan jenis penelitian ini adalah library research, dengan mengakomulasi data-data yang terdapat di perpustakaan. Hasil penelitian ini adalah menyimpulkan bahwa Ibn al-Muqaffa’ adalah orang pertama yang memunculkan ide taqnīn (kodifikasi hukum) saat kepemerintahan khalifah al-Mansūr. Kemudian al-Mansūr memerintahkan Imām Mālik untuk menysusun kitab yang berisi tentang hukum tersebut. Dengan melalui beberapa tahapan akhirnya Imām Mālik bersedia menyusun kitab tersebut yang diberi nama al-Muwaṭṭā’.
Seksualitas dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Penafsiran Q.S. Al-Baqarah: 223 Tafsir Al-Misbah dan Fi Zilal Al-Qur’an Abdurrahman, Abdurrahman; Kholilurrahman, As’ad; Makmur, Makmur
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.812

Abstract

Seksualitas dalam Islam diatur oleh prinsip-prinsip moral dan etika yang bertujuan untuk menjaga kehormatan, martabat, dan kesejahteraan individu serta masyarakat. Islam melarang segala bentuk hubungan seksual di luar pernikahan, termasuk zina dan perzinahan, serta segala bentuk penyimpangan seksual yang bertentangan dengan fitrah manusia menurut ajaran Islam. Dalam kerangka ini, seksualitas islami tidak hanya berhubungan dengan aspek fisik, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan moral yang integral dalam kehidupan seorang Muslim. Fokus penelitian ini adalah bagaimana penafsiran M. Quraish Sihab dan Sayyid Qutb tentang seksualitas pada surah al-Baqarah ayat 223, bagaimana persamaan dan perbedaan tentang seksualitas pada surah al-Baqarah ayat 223 dalam Tafsir al-Misbah dan Tafsir fi Zilal al-Qur’an. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian library research dan menggunakan pendekatan komparasi. Maka ditemukan bahwa seksualitas dalam Surah al-Baqarah ayat 223 harus dijalankan sesuai dengan nilai-nilai agama. Quraish Shihab menekankan pentingnya pengaturan kualitas sperma dan kebersihan dalam hubungan intim, sementara Sayyid Qutb lebih menyoroti harmonisasi hubungan suami-istri dalam konteks agama. Meski keduanya memiliki persamaan dalam mengelompokkan ayat secara sistematis dan berbasis nilai agama, akan tetapi Quraish Shihab menggunakan metode tafsir bi al-ra’yi dan ilmiah dengan corak sosial budaya dan sastra bahasa, sedangkan Sayyid Qutb fokus pada tafsir tematik dan sosial budaya.
Pengelolaan Sumber Daya Air Perspektif Hadis: Kontekstualisasi Pemahaman Perspektif Syuhudi Ismail dan Yusuf Al-Qaradhawi Ichwayudi, Budi; Faiz, Ahmad; Al-Hamdany, Lyna Syahnuriyah; Abror, Ghulam Ahmad; Syabrowi, Syabrowi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.819

Abstract

Penelitian ini membahas kontekstualisasi hadis dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya dalam menghadapi krisis air yang diperparah oleh perubahan iklim. Dengan pendekatan hermeneutika, penelitian ini menggali hadis-hadis terkait dalam kerangka maqasid syariah, yaitu tujuan utama syariat Islam yang menekankan pentingnya keberlanjutan, efisiensi, dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam. Hadis-hadis tentang larangan mencemari sumber air, membuang-buang air, dan menjaga kebersihan lingkungan mengandung pesan moral yang relevan untuk diterapkan di era modern. Analisis menunjukkan bahwa ajaran Islam mengenai pengelolaan sumber daya tidak hanya bersifat universal, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Prinsip ini menjadi landasan etis dalam menghadapi tantangan global, seperti pencemaran air, eksploitasi berlebihan, dan ketimpangan akses air bersih. Studi ini memberikan panduan praktis bagi masyarakat Muslim untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat secara adil dan berkelanjutan.
The Concept of Infaq in The Qur’an According to Sayyid Quthb and Its Relevance to The Concept of Philanthropy Akbar, A Fadly Rahman; Trisnani, Asif; Heriska, Rine
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.823

Abstract

Social inequality is prevalent in society, where the rich are on top of their wealth and the poor are on the bottom with their poverty. The concept of philanthropy comes as an answer to this problem. However, the universal concept of philanthropy is used as a tool that can increase social inequality. In the Qur’an, there is the concept of infaq which can be used to overcome social inequality. Sayyid Quthb as a mufassir with his social style has his concept in understanding the concept of infaq in the Qur’an. As a whole concept, the concept of infaq in Sayyid Quthb's view has a coherent relevance to developing the concept of philanthropy. This study also aims to analyze the relevance of the concept of infaq in the Qur’an in Sayyid Quthb's view with the concept of philanthropy, so that the concept of infaq can strengthen the benefits of philanthropy more significantly. The approach used by researchers in this research is a thematic approach which includes library research. The method used in this research is a descriptive analysis. The result of this study is regarding Sayyid Quthb's interpretation of the concept of infaq in the Qur’an which is based on the theological dimension of infaq which is affiliated with a Muslim's devotion to Allah SWT and its form of jihād in fighting lust in humans. This theological dimension has a significant influence on the application of the social dimension of infaq in Sayyid Quthb's view. The theological dimension of the concept of infaq in the form of the principles of devotion and jihad to Allah SWT is the difference between the concept of infaq and the concept of philanthropy. The theological dimension in Sayyid Quthb's Infaq concept becomes a bulwark in the donation of wealth by a Muslim. The concept of philanthropy does not have this defense, so this concept is very easy to include elements that are not by human rights. The social dimension in the concept of infaq according to Sayyid Quthb is a sense of social solidarity that upholds compassion for fellow creations of Allah SWT. Thus, this social dimension can be a link between the concept of infaq in Sayyid Quthb's view and the concept of philanthropy.
Harmonisasi Antara Dunia dan Akhirat: Kajian Kritis Terhadap Fenomena Hustle Culture pada Generasi Z dalam Perspektif Al-Qur’an Maharini, Rini; Safitri, Siti Salma; Khayrani, Silva; Fatimah, Siti Mutiara
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.825

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena Hustle culture pada generasi Z dalam perspektif Al-Qur'an, dengan merujuk pada QS. Al-Qasas:: 77, QS. Al-Jumu'ah: 10, QS. Al-Naba': 9-11, dan QS. Al-Takatsur: 1-3. Generasi Z saat ini menghadapi kompleksitas tantangan hidup yang ditandai dengan budaya kerja yang intens dan berkompetisi secara berlebihan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana Al-Qur'an menawarkan paradigma produktivitas yang holistik, yang menekankan keseimbangan antara capaian duniawi dan spiritual. Melalui metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan konsep kerja, produktivitas, dan keseimbangan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an mengajarkan konsep produktivitas yang melampaui sekadar pencapaian materi, namun mencakup dimensi spiritual, sosial, dan personal. Penelitian menyimpulkan bahwa generasi Z perlu melakukan transformasi paradigma dari Hustle culture menuju balanced culture, dengan mengintegrasikan spiritualitas dalam setiap aktivitas dan membangun kesadaran akan makna produktivitas sejati. Implikasi penelitian memberikan kontribusi teoritis dalam memahami konsep produktivitas Islam dan praktis dalam membentuk strategi pengembangan potensi generasi muda yang seimbang, bermartabat, dan bermakna.
Signifikansi Simbolik dan Filosofi Lima Macam Buah dalam Tradisi Maulid di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya Anwar, Muhsinul; Alawy, M Iqbal; Siregar, Wahidah Zein Br
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.816

Abstract

Penelitian ini membahas signifikansi simbolik dan filosofis lima macam buah; belimbing, pisang, jeruk, manggis, dan melon/apel yang disajikan dalam tradisi Maulid di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tujuannya untuk mengeksplorasi makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam lima buah tersebut. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis teks untuk memahami bagaimana buah-buahan tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan teologis dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap buah yang dipilih yaitu belimbing, pisang, jeruk, manggis, dan melon/apel, memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan konsep keberkahan, kejujuran, sifat lemah lembut, sifat bahagia, dan ketenangan. Selain itu, pemilihan lima buah ini juga merepresentasikan harmoni antara ajaran Islam dengan kearifan lokal, serta menjadi medium pembelajaran spiritual bagi santri dan jama'ah. Tradisi ini tidak hanya memperkaya ritual Maulid secara religius, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di lingkungan pondok pesantren. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami interaksi antara elemen keagamaan dan kebudayaan lokal, serta peran tradisi ini dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai spiritual dan sosial komunitas masyarakat Islam.
Manuskrip Kuno dan Perdebatan Autentisitas Teks Al-Qur’an: Tinjauan Filologis Kritis Terhadap Manuskrip Birmingham, Sana’a, dan Topkapi Masruchin, Masruchin; Rahmat, Maulana Bagus
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.1100

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji autentisitas teks Al-Qur’an melalui pendekatan filologis-kritis terhadap tiga manuskrip kuno: manuskrip Birmingham, Sana’a, dan Topkapi, yang kemudian dibandingkan dengan mushaf Uthmani standar. Latar belakang penelitian ini didorong oleh dominasi wacana akademik Barat yang kerap meragukan keaslian teks Al-Qur’an, serta keterbatasan keterlibatan akademisi Muslim dalam kajian tekstual kritis. Studi ini menggunakan metode kualitatif berbasis pustaka (library research) dengan teknik analisis deskriptif-komparatif terhadap aspek ortografi (rasm), tanda baca (dhabt), dan struktur teks. Hasil penelitian menunjukkan adanya varian minor yang bersifat ortografis dan tidak berdampak pada perubahan makna substansial, dengan tingkat perbedaan di bawah 0,01%. Temuan ini menguatkan narasi tentang terjaganya teks Al-Qur’an sejak masa kodifikasi Utsmani, sekaligus menunjukkan validitas sejarah wahyu dalam perspektif keilmuan. Studi ini merekomendasikan pendekatan integratif antara filologi, sejarah kodifikasi, dan teologi sebagai kontribusi konstruktif dalam studi Al-Qur’an kontemporer.
Hermeneutika Fiqh: Gagasan Epistemologi Pesantren Oliviatie, Shava; Wahyudi, Chafid
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.1160

Abstract

Tulisan ini mengkaji hermeneutika fiqh sebagai paradigma epistemologis pesantren dalam menjembatani dialektika antara tradisi keilmuan Islam klasik dan tantangan modernitas. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang berakar pada teks-teks turats, namun seringkali terjebak dalam formalisme normatif yang menjauh dari dimensi sosial dan moral hukum Islam. Melalui pendekatan hermeneutik, fiqh ditempatkan bukan sekadar sebagai sistem hukum yang mengatur halal dan haram, tetapi sebagai instrumen epistemik yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan historis. Artikel ini menelaah integrasi hermeneutika filosofis (Gadamer), sosial (Asad), dan moral (Abou El-Fadl) ke dalam praksis keilmuan pesantren untuk membangun sistem pengetahuan yang kontekstual, kritis, dan humanistik. Pendekatan ini mendorong transformasi pesantren dari lembaga reproduksi teks menuju pusat produksi pengetahuan integratif-interkonektif yang memadukan wahyu, rasio, dan realitas sosial. Dengan demikian, hermeneutika fiqh berfungsi sebagai jantung pembaruan epistemologi pesantren yang meneguhkan peran fiqh sebagai etika sosial dan sumber keadilan dalam masyarakat modern.

Page 1 of 1 | Total Record : 10