cover
Contact Name
Asep Rahman
Contact Email
aseprahman@ybli.or.id
Phone
+6281527083919
Journal Mail Official
aseprahman@ybli.or.id
Editorial Address
Jalan Lentera, Lingkungan 2, Kelurahan Pandu
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Lentera Farma
ISSN : -     EISSN : 29634334     DOI : 29634334
Core Subject : Health,
Jurnal Lentera Farma mempublikasikan hasil penelitian di bidang farmasi yang mencakup ilmu farmasi dasar, farmasi klinik dan komunitas, farmakologi, farmasetika, kimia farmasi, bioteknologi farmasi, serta pengembangan obat berbasis bahan alam. Jurnal ini juga menerima kajian terkait kebijakan farmasi, teknologi farmasi, serta inovasi dalam pelayanan kefarmasian. Lentera Farma berkomitmen menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi dalam berbagi ilmu serta temuan terbaru yang berkontribusi pada kemajuan ilmu farmasi dan kesehatan masyarakat.
Articles 56 Documents
Dinamika Integrasi Sediaan Farmasi Tradisional dan Peran Tenaga Kesehatan pada Layanan Kesehatan Primer di Kabupaten Minahasa Utara Rahman, Asep; Adam, Hilman; Maino, Irny Evita
Jurnal Lentera Farma Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/y18qdm23

Abstract

Integrasi layanan kesehatan tradisional dalam pelayanan kesehatan primer menjadi salah satu agenda strategis nasional di Indonesia. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai hambatan, khususnya terkait pengembangan sediaan farmasi tradisional dan keterlibatan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan integrasi sediaan farmasi tradisional serta peran tenaga kesehatan dalam layanan kesehatan primer di Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap tenaga kesehatan di Puskesmas Talawaan dan Puskesmas Tatelu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi belum optimalnya legalitas sediaan farmasi tradisional seperti minyak atsiri dan ramuan herbal, keterbatasan tenaga kesehatan terlatih, belum masuknya layanan tradisional dalam skema BPJS, serta minimnya dukungan regulasi dan anggaran. Di sisi lain, terdapat potensi besar pengembangan sediaan farmasi berbasis tanaman obat lokal yang didukung tingginya pemanfaatan obat tradisional oleh masyarakat. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan, standarisasi sediaan farmasi tradisional, serta dukungan regulasi menjadi faktor penting dalam mendorong integrasi layanan kesehatan tradisional yang berkelanjutan di layanan kesehatan primer.
Gambaran Pola Polifarmasi pada Pasien Geriatri yang Menggunakan Obat Antihipertensi di Puskesmas Kakaskasen Tomohon Mait, Mutiara; Jayanti, Meilani; Sambou, Christel Nataniel
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/h957xb43

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi tinggi yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Salah satu tantangan dalam terapi hipertensi adalah polifarmasi, yaitu penggunaan beberapa obat secara bersamaan, yang dapat memengaruhi keberhasilan kontrol tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan polifarmasi pada pasien geriatri yang menggunakan obat antihipertensi di Puskesmas Kakaskasen Tomohon. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh secara retrospektif dari rekam medis pasien hipertensi periode Oktober–Desember 2025 dengan teknik consecutive sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 389 pasien. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, diagnosis, jumlah obat yang digunakan, serta kombinasi terapi antihipertensi dan obat komorbid. Kombinasi terapi yang paling banyak digunakan melibatkan golongan Calcium Channel Blocker (CCB), Angiotensin Receptor Blocker (ARB), β-blocker, diuretik, antidiabetik, antihiperlipidemia, dan antihiperurisemia. Kombinasi yang paling sering ditemukan adalah Amlodipin–Bisoprolol–Candesartan dengan variasi tambahan obat komorbid. Seluruh sampel yang dianalisis menunjukkan penggunaan ≥5 jenis obat sehingga termasuk kategori polifarmasi.
Evaluasi Rasionalitas Peresepan Amoksisilin Menggunakan Metode Gyssens di Puskesmas Silian Tumigolung, Denada Naomi; Jayanti, Meilani; Parwati, Dian
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/sahae738

Abstract

ABSTRAK  Penggunaan antibiotik yang tidak rasional, termasuk amoksisilin, masih menjadi permasalahan di fasilitas pelayanan kesehatan karena dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri, efek samping, serta biaya pengobatan. Evaluasi penggunaan amoksisilin diperlukan untuk menilai kesesuaian terapi yang diberikan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan amoksisilin dan tingkat kerasionalannya berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap 70 rekam medis pasien yang mendapatkan terapi amoksisilin selama periode penelitian. Penilaian rasionalitas penggunaan amoksisilin dilakukan berdasarkan metode Gyssens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat penggunaan antibiotik yang termasuk kategori rasional (kategori 0). Ketidakrasionalan penggunaan amoksisilin paling banyak terdapat pada kategori tidak ada indikasi penggunaan antibiotik (kategori V) yaitu sebanyak 59 pasien (84,28%), diikuti oleh kategori terdapat antibiotik lain yang lebih efektif (kategori IVA) sebanyak 11 pasien (15,71%). Selain itu, ditemukan pula ketidaktepatan pada kategori penggunaan antibiotik tidak tepat dosis (kategori IIA) sebanyak 3 pasien (4,28%) serta penggunaan antibiotik terlalu singkat (kategori IIIB) sebanyak 1 pasien (1,42%). Sementara itu, kategori lainnya seperti tidak tepat waktu (kategori I), tidak tepat interval pemberian (kategori IIB), tidak tepat rute pemberian (kategori IIC), penggunaan terlalu lama (kategori IIIA), serta kategori lainnya tidak ditemukan dalam penelitian ini (0%). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan amoksisilin di fasilitas pelayanan kesehatan masih belum rasional.   Kata kunci: Amoksisilin, Metode Gyssens, Rasionalitas
Evaluasi Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Pasien Geriatri yang Menderita Hipertensi di Puskesmas Motoling Hasani, Triani; Jayanti, Meilani; Sambou, Christel
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/mhw27z44

Abstract

Keberhasilan terapi hipertensi sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien geriatri yang menderita hipertensi di Puskesmas Motoling. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling pada pasien geriatri hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah sampel sebanyak 107 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) untuk menilai tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi serta kuesioner data demografi pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Puskesmas Motoling didominasi oleh kategori kepatuhan rendah yaitu sebanyak 51 responden (48%), diikuti kepatuhan tinggi sebanyak 32 responden (30%), dan kepatuhan sedang sebanyak 24 responden (22%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Puskesmas Motoling masih didominasi oleh kategori kepatuhan rendah, sehingga diperlukan perhatian lebih terhadap upaya peningkatan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hipertensi.
Formulasi Pasta Gigi Kombinasi Ekstrak Daun Jambu Biji(Psidium guajava L) dan Daun Mint(Mentha piperita L) Serta Aktivitas Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Fajar Riza Harianto; Surya Sumantri Abdullah; Christel Sambou
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/5yw97425

Abstract

Dental caries is one of the most common oral health problems, mainly caused by the bacterium Streptococcus mutans . One of the preventive efforts is the use of toothpaste containing natural antibacterial agents. Guava leaves (Psidium guajava L.) and mint leaves (Mentha piperita L.) are known to possess antibacterial activity against Streptococcus mutans . This study aimed to formulate a combination of extracts from both plants into a toothpaste preparation and to evaluate its antibacterial activity. The extracts were obtained by maceration using 96% ethanol and formulated into three formulas with a total concentration of 10%. The evaluation included organoleptic test, homogeneity, spreadability, adhesion, pH, foaming ability, and antibacterial activity test using the well diffusion method. The results showed that formula F2 (5%:5%) provided the best physical characteristics and the highest antibacterial activity, with an inhibition zone of 11.4 ± 0.9 mm, which was categorized as strong. The combination of these extracts can be formulated as an antibacterial herbal toothpaste.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Roll On Aromaterapi Minyak Atsiri Geranium (Pelargonium graveolens L'Her) Budiman, Arni Ariani; Abdullah, Surya Sumantri; Jayanti, Meilani
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/wwrw2113

Abstract

Minyak atsiri geranium (Pelargonium graveolens L’Her.) memiliki aktivitas relaksasi, antiinflamasi, dan antimikroba sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sediaan aromaterapi. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi sediaan roll on aromaterapi yang mengandung minyak atsiri geranium. Penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan formulasi yang mengandung minyak atsiri geranium pada konsentrasi 1%, 3%, dan 5%. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, kejernihan, bobot jenis, pH, viskositas, iritasi, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula bersifat homogen, jernih, dan stabil selama penyimpanan. Nilai pH sediaan berada dalam rentang yang aman untuk penggunaan topikal, serta tidak menimbulkan iritasi pada panelis. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa formula dengan kandungan minyak atsiri geranium 3% merupakan formula yang paling disukai berdasarkan parameter aroma dan sensasi hangat. Dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri geranium dapat diformulasikan menjadi sediaan roll on aromaterapi dengan karakteristik fisik yang baik dan dapat diterima oleh panelis.
Formulasi dan Uji Stabilitas Sediaan Cleansing Balm Anti Jerawat Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.) Lisarib, Angelina; Abdullah, Surya Sumantri; Hariyanto, Yuanita Amalia
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/wp0f3a32

Abstract

Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.) mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan memformulasikan ekstrak etanol daun Kelor dalam sediaan cleansing balm, mengevaluasi stabilitas fisik, dan menguji aktivitas antibakterinya. Sediaan dibuat dalam empat formula, yaitu F0 (basis), F1 (5%), F2 (7,5%), dan F3 (10%). Uji stabilitas dilakukan dengan metode cycling test meliputi organoleptik, homogenitas, pH, dan daya sebar. Seluruh formula menunjukkan bentuk semi padat, homogen, stabil, serta pH sesuai kulit (5,00–5,78). Hasil uji antibakteri menunjukkan rata-rata zona hambat F1 sebesar 6,85 mm, F2 sebesar 8,68 mm, dan F3 sebesar 10,46 mm. Formula F3 memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dengan kategori kuat. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Kelor dapat diformulasikan menjadi cleansing balm yang stabil dan memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes.
Formulasi dan Uji Stabilitas Sediaan Tinted Lip Balm Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) sebagai Pelembab dan perlindungan sinar uv secara alami untuk bibir Saraswati, Indah Ayu; Abdullah, Surya Sumantri; Hariyanto, Yuanita Amalia
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/ae8a7083

Abstract

Indonesia terletak di daerah tropis dengan paparan sinar UV yang tinggi sepanjang tahun, sehingga perlindungan pada bibir menjadi salah satu kebutuhan penting dalam perawatan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi sediaan tinted lip balm dari ekstrak etanol bunga telang (Clitoria ternatea L.), mengevaluasi stabilitas fisiknya, serta menentukan nilai SPF tiap formula. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% terhadap 200 g simplisia, menghasilkan rendemen 41,75%. Dibuat tiga formula dengan variasi konsentrasi ekstrak 0% (F0), 4% (F1), dan 6% (F2). Stabilitas fisik diuji menggunakan metode cycling test 6 siklus meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, titik lebur, daya oles, dan uji hedonik. Nilai SPF ditentukan secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan metode Mansur. Ketiga formula stabil selama pengujian dengan nilai pH 5,52–5,78, titik lebur 54–56°C, dan daya oles yang merata. Formula F2 paling disukai panelis. Nilai SPF yang diperoleh yaitu 31,33 (F0), 39,61 (F1), dan 41,15 (F2), ketiganya termasuk kategori high protection.
Analisis Pola Penggunaan Antidiabetik Oral terhadap Kadar Glikohemoglobin (HbA1c) Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Tuminting Wongkar, Eurike; Mpila, Deby Afriani; lolo, widya astuty
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/g9cts955

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi, termasuk di Sulawesi Utara, yang memerlukan terapi antidiabetik oral secara berkelanjutan, di mana ketepatan penggunaannya berperan penting terhadap outcome klinis berupa kontrol kadar glikohemoglobin (HbA1c). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan antidiabetik oral dan hubungannya dengan HbA1c pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Tuminting. Penelitian menggunakan desain analitik observasional cross-sectional dengan pengambilan data retrospektif dari rekam medis pasien periode Januari – April 2026 terhadap 85 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa monoterapi merupakan terbanyak (58,81%), dengan metformin sebagai obat utama (31,76%). Pola penggunaan obat berdasarkan ketepatan pasien, indikasi, dan obat mencapai 100%, namun terdapat 9,41% pasien dengan ketidaktepatan dosis. Uji statistik Fisher's exact test menunjukkan hasil p = 0,279 (p > 0,05) dengan nilai odds ratio (OR) sebesar 0,36. Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan bermakna antara pola penggunaan antidiabetik oral dengan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Tuminting, dengan nilai OR mengindikasikan peluang HbA1c terkontrol lebih rendah pada kelompok tepat obat.
Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid dengan Metode ATC/DDD dan DU di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Advent Manado. Toba, Emily Neysa; Mpila, Deby Afriani; Manawan, Fridly
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/yqrw2215

Abstract

Di negara berkembang seperti Indonesia, demam tifoid penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi masih menjadi masalah kesehatan. Antibiotik termasuk ampisilin, amoksisilin, fluorokuinolon, kloramfenikol, dan sefalosporin generasi ketiga sering digunakan untuk mengobati demam tifoid. Dalam penelitian ini, teknik ATC/DDD dan 90% DU digunakan untuk memperkirakan profil konsumsi antibiotik pasien demam tifoid. Sampel data medis dari 70 orang antara Mei dan Oktober 2025 digunakan dalam penelitian kuantitatif deskriptif ini. Di Rumah Sakit Advent Manado, pasien demam tifoid menerima sembilan antibiotik berbeda; siprofloksasin adalah yang paling sering digunakan, diikuti oleh seftriakson dan sefiksim, dengan total konsumsi obat sebesar 94,56 DDD/100 hari rawat inap. Siprofloksasin, seftriakson, Sefiksim, metronidazol, tiamfenikol, dan levofloksasin termasuk di antara antibiotik dengan tingkat penggunaan obat sebesar 90%.