cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 18 Documents
Search results for , issue "JILID 19 (1996)" : 18 Documents clear
AKTIVITAS ENZIM HIDROLIK KAPANG RHIZOPUS SP PADA PROSES FERMENTASI TEMPE Mien Karmani; Djoko Sutopo; Hermana Hermana
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2302.

Abstract

Fermentasi merupakan tahap terpenting dalam proses pembuatan tempe. Menurut hasil penelitian pada tahap fermentasi terjadi penguraian karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa lain dalam kedelai menjadi molekul-molekul yang lebih kecil sehingga mudah dimanfaatkan tubuh. Pada proses fermentasi kedelai menjadi tempe terjadi aktivitas enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik, yang diproduksi oleh kapang Rhizopus Sp. Pada proses pembuatan tempe, sedikitnya terdapat empat genus Rhizopus yang dapat digunakan. Rhizopus oligosporus merupakan genus utama, kemudian Rhizopus oryzae merupakan genus lainnya yang digunakan pada pembuatan tempe di Indonesia. Produsen tempe di Indonesia tidak menggunakan inokulum berupa biakan murni kapang Rhizopus Sp., namun menggunakan inokulum dalam bentuk bubuk yang disebut laru atau inokulum biakan kapang pada daun waru yang disebut usar. Pada penelitian ini dipelajarai aktivitas enzim-enzim a-amilase, lipase dan protease pada proses fermentasi kedelai menjadi tempe menggunakan biakan murni Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae dan laru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas enzim a-amilase, lipase dan protease dari ketiga inokulum tersebut berbeda secara sangat bermakna. Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa aktivitas enzim dipengaruhi oleh jenis inokulum dan waktu fermentasi. Juga terdapat interaksi antara waktu fermentasi dan jenis inokulum terhadap aktivitas enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik.
AKUMULASI LEMAK PADA RHIZOPUS SP MELALUI PROSES FERMENTASI PADAT Komari Komari; Rossi Rozanna; Mien Karmini Mahmud
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2303.

Abstract

Proses bioteknologi dalam memproduksi asam lemak esensial menggunakan kapang telah berkembang, terutama menggunakan kultur cair. Dengan kultur cair, Rhizopus sp yang telah digunakan dalam proses fermentasi tempe, ternyata mampu memproduksi asam lemak esensial (Gamma linoleic acid). Dalam proses pembuatan tempe gembus menunjukkan adanya penurunan kandungan lemak dalam substratnya. Oleh karena itu, penelitian ini memformulasikan media ampas tahu dengan sumber nitrogen dan mineral sehingga diperoleh komposisi media yang dapat menghasilkan lemak melalui fermentasi padat. Variabel yang diteliti adalah jenis mikroorganisme Rhizopus oligasporus dan Rhizopus arrhizus, rasio karbon terhadap nitrogen (C/N ratio) sebesar 2.4, 1.5 dan 1.1 dengan sumber zat gizi lain yang ditambahkan sama serta temperatur fermentasi 270 C, 370 C dan 470 C dan lama fermentasi selama 3 hari. Pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan Rhizopus sp hanya terjadi pada fermentasi ampas tahu pada suhu 270 C dan 370 C saja. Analisis kandungan lemak dari hasil fermentasi ampas tahu tersebut menunjukkan bahwa kandungan lemak yang diperoleh berkisar antara 0.25g/100 g dan 1.79g/100g. Semua substart yang difermentasi dengan Rhizopus arrhizus tidak meningkatkan kandungan lemaknya. Akumulasi lemak terjadi pada fermentasi ampas dengan Rhizopus oligosporus, dengan rasio karbon/nitrogen 2.4 dan suhu fermentasi 370 C.
BEBERAPA PILIHAN MAKANAN FORMULA LANJUTAN UNTUK ANAK USIA 1-3 TAHUN Rossi R. Apriyantono; Uken S.S. Soetrisno; Mien K.M.S. Mahmud
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2304.

Abstract

Hasil penelitian terdahulu menunjukkan adanya khasiat makanan formula tempe (MFT) dalam membantu penyembuhan diare kronik pada penderita gizi kurang dan gizi buruk, disamping dapat menaikkan berat badan, kadar hemoglobin dan status immunitas. Laporan pelaksanaan pemberian MFT pada anak KEP, diketahui bahwa setelah tercapai berat badan normal anak satu tahun maka percepatan kenaikannya melambat. Suatu makanan formula lanjutan yang sesuai untuk anak usia 1-3 tahun akan sangat membantu perkembangan berat badan selanjutnya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi hambatan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan makanan campuran yang siap hidang yang memenuhi syarat makanan untuk anak usia 1-3 tahun dari segi gizi, cita rasa dan tampilan fisiknya. Dari hasil penghitungan dan formulasi diperoleh 7 formula yang sesuai dengan persyaratan Codex Alimentarius Commission. Setelah dianalisis kandungan zat gizi makro, kadar karotin, mutu organoleptik dan tampilan fisiknya, maka terpilih 3 formula terbaik yaitu campuran tempe + terigu + susu skim + pisang ambon; tempe + terigu + susu skim + pisang ambon + wortel dan tempe + tepung beras + susu skim + wortel. Dalam 100 g ketiga formula ini mengandung energi sebesar 423±13 kal, protein 18±1.2 g, lemak 11.1±2.7 g, karotin 1393±1140 ug, dengan nilai NDpKal sebesar 7.8±0.1. Untuk pengembangan selanjutnya akan dipikirkan kemungkinan penambahan sumber asam lemak n-3 dan bahan pemantap dari jenis gum, sehingga formula yang dihasilkan akan lebih mempunyai nilai tambah.
POTENSI DAUN SINGKONG KERING SEBAGAI SUMBER VITAMIN UNTUK ANAK PRA SEKOLAH Almasyhuri Almasyhuri; Heru Yuniarti; Erna Luciasari; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2305.

Abstract

Penelitian ini mempelajari potensi serbuk daun singkong kering sebagai sumber provitamin A meliputi kandungan karoten dalam serbuk daun singkong kering dan pengaruhnya terhadap pemasakan serta daya terima gulai serbuk daun singkong muda dan tua kering (DSMK dan DSTK) pada anak prasekolah. Sebagai pembanding adalah daun singkong muda segar yang sebelum dimasak diblancing terlebih dahulu (DSMB). Penelitian dilakukan terhadap 36 anak prasekolah (3-5 tahun) yang dibagi menjadi tiga kelompok. Daun singkong diberikan dalam bentuk masakan gulai yang diberikan bersama dengan menu makanan lengkap pada waktu makan pagi, siang dan sore selama tiga hari penuh. Daya terima daun singkong dinilai berdasarkan jumlah gulai yang dapat dikonsumsi per hari. Hasil yang diperoleh adalah daun singkong muda dan tua kering mengandung karoten cukup tinggi, yaitu berturut-turut adalah 14.270 dan 14.733 per 100 g berat kering. Penggulaian menyebabkan penurunan jumlah karoten sebesar 6.1%-8.6%. Baik DSMK maupun DSTK yang dimasak gulai dapat diterima oleh anak prasekolah. Secara statistik daya terima gulai DSMK dan DSTK tidak berbeda dengan gulai DSMB (P>0.05). Dari penelitian disimpulkan bahwa serbuk daun singkong kering merupakan sayur yang kaya dengan provitamin A yang dapat diterima anak prasekolah.                                        
PERUBAHAN MASUKAN ENERGI DAN AIR SELAMA BERPUASA RAMADHAN PADA KARYAWAN DENGAN BERAT BADAN NORMAL DAN LEBIH Uken S.S. Soetrisno
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2306.

Abstract

Meskipun sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, pengungkapan hikmah puasa dan perubahan yang terjadi dalam tubuh selama berpuasa Ramadhan selalu berdasarkan hasil penelitian dari negara lain. Untuk itu telah dilakukan penelitian di lingkungan karyawan minyak dan gas di daerah Aceh Utara selama bulan Ramadhan 1416 H (Januari-Maret 1996). Makalah ini merupakan bagian dari hasil penelitian tersebut yang telah dibiayai oleh PT. Arun Natural Gas Liquefaction Co.-Pertamina. Responden adalah karyawan muslim, yang bersedia mengikuti agenda kegiatan penelitian dari awal sampai dengan selesai, sehingga diperoleh masing-masing 48 orang untuk kelompok dengan berat badan normal (IMT=18.5-25.0) dan untuk kelompok berat badan berlebih (IMT>25.0). Dalam makalah ini dilaporkan hasil pencatatan masukan makanan dan air selama 3x24 jam berturut-turut yang dilakukan oleh responden pada setiap minggu pengumpulan data yaitu: dua minggu sebelum Ramadhan (H-1), minggu I (H-2) dan minggu III (H-3) Ramadhan, serta satu bulan setelah Lebaran (H-4). Hasil menunjukkan bahwa pada kedua kelompok terjadi penurunan yang nyata (P<0.05), baik masukan energi maupun air selama berpuasa. Satu bulan setelah Lebaran masukan energi dan air kembali meningkat meskipun masih agak lebih rendah daripada sebelum bulan puasa. Pada saat makan sahur jumlah masukan energi sebesar 36-41% dari total masukan sehari-semalam, sedangkan air sebesar 44-52%. Jika dibandingkan dengan kebutuhan energi berdasarkan AKG orang dewasa dengan aktifitas ringan, maka masukan energi selama bulan Ramadhan hanya mencapai 72% pada kelompok BB-normal, dan hanya 62% pada kelompok BB-lebih. Bagi responden dengan BB-lebih sebaiknya mempertahankan masukan energi seperti dalam bulan puasa agar resiko timbulnya penyakit akibat kelebihan berat badan dapat ditekan.
KESTABILAN IODIUM DALAM GARAM PADA BERBAGAI TIPE DAN RESEP MASAKAN Ance Murdiana Dahro; Sukati Saidin; Tati Hartati; Lestari K. Wiludjeng; Yenita Yenita; St. Rosmalina; Gunawan Gunawan; Yulia Fitria
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2308.

Abstract

Dalam jangka panjang fortifikasi garam dianggap cara yang paling tepat guna dan ekonomis untuk menanggulangi masalah kekurangan iodium. Dalam kaitan tersebut perlu diketahui kestabilan iodium dalam garam yang ditambahkan kedalam masakan dari berbagai tipe dan resep di tingkat lapangan. Sampel berupa masakan yang berasal dari 6 kota di 6 provinsi di Indonesia, banyak dikonsumsi dan dijual di tempat yang banyak dikunjungi orang. Penentuan sampel masakan dilakukan setelah pengujian garam yang digunakan dengan menggunakan pereaksi Iodinatest buatan Indofarma. Bila setelah penambahan pereaksi pada garam timbul warna ungu menandakan bahwa garam tersebut mengandung iodium, masakan ituu kemudian ditetapkan sebagai sampel. Jumlah garam yang ditambahkan diketahui dari wawancara dengan penjual makanan tersebut. Jumlah iodium dalam garam yang ditambahkan kedalam masakan diketahui setelah dilakukan analisis garam di laboratorium. Dari iodium yang tersisa dalam makanan dapat dihitung jumlah iodium yang hilang. Dibuat pula beberapa masakan serupa dengan menggunakan resep asli di laboratorium (simulasi). Pelepasan iodium dari makanan dilakukan melalui dua tahap yaitu digestasi kering lalu dilanjutkan dengan digestasi cara basah. Penetapan iodium dilakukan dengan reaksi "Sandell Kolthoff'. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah iodium yang tersisa pada umumnya amat rendab (dibawah 50 ug/100 gram masakan). Tiap jenis masakan bervariasi dalam keasaman, jenis dan jumlah bumbu yang ditambahkan. Iodium yang rusak/hilang dari masakan tipe asam yang dimasak atau tidak dimasak (contoh kuah empek-empek atau asinan) sekitar 60-85%, dari masakan bersantan tapi dimasak tidak lama (contoh soto santan) sekitar 40-50%, dari masakan bersantan dikeringkan (contoh rendang) sekitar 60-70%, dari masakan yang digoreng (contoh sambal hijau) sekitar 45-60%, dari masakan yang diolah tidak lama (contoh sayur tettu, rujak cingur) sekitar 40-50%, sedangkan dari masakan yang dimasak lebih dari 10 jam (contoh gudeg) sekitar 60-68%. Rata-rata iodium yang hilang dari beberapa masakan yang dibuat di laboratorium (simulasi) yaitu rendang, sambal cabe hijau, kuah empek-empek, gudeg, sayur asam dan asinan masing-masing adalah 75%, 62%, 68%, 70%, 61%, dan 80%.
STATUS GIZI MIKRO (TEMBAGA, SENG DAN KRONIUM), PENGETAHUAN GIZI DAN KEADAAN GIZI LEBIH PADA PRIA PEKERJA Ance Murdiana Dahro; Komala Komala; Trintrin T. Mudjianto; Susi Suwarti Suwardi; Dedy Mahdar
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2309.

Abstract

Sekarang ini ada kecenderungan bahwa penyakit degeneratif meningkat peranannya sebagai penyebab kematian. Salah satu penyebab terjadinya penyakit degeneratif adalah karena perolehan zat gizi makro dan zat gizi mikro tidak seimbang. Zat gizi mikro yang mendapat perhatian saat ini adalah tembaga, seng dan kromium. Untuk mendapatkan gambaran bagaimana keadaan ketiga zat gizi mikro tersebut pada laki-laki yang mempunyai gizi lebih, telah dilakukan penelitian status gizi mikro (tembaga, seng dan kromium), pengetahuan gizi dan keadaan gizi lebih pada laki-laki pekerja di beberapa instansi pemerintah. Sampel secara purposive dibagi menjadi kelompok tidak gemuk (gizi normal) dan kelompok gemuk (gizi lebih). Kedua kelompok diperiksa secara klinis; diambil darah untuk dilihat status tembaga, seng, kromium, kolesterol, LDL dan trigliserida, serta diwawancarai mengenai pengetahuan gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa median nilai tembaga, seng dan kromium pada kedua kelompok ada pada batas normal. Pada kelompok tidak gemuk, nilai median tembaga, seng dan kromium masing-masing yaitu 99 ug/dl, 77 ug/dl dan 2.7 ug/dl, sedangkan pada kelompok gemuk nilai median masing-masing yaitu 97 ug/dl, 79 ug/dl dan 6.2 ng/ml. Kadar rata-rata kolesterol, LDL dan trigliserida pada kelompok tidak gemuk masing-masing yaitu 210.75±29.7518, 136.73±32.5781 dan 168.48±56.0037; sedangkan pada kelompok gemuk nilainya masing-masing yaitu 237.00±43.7364, 148.10±47.1924 dan 209.93±60.2198. Nilai kolesterol dan LDL pada kedua kelompok ada pada batas normal, sedangkan nilai trigliserida kedua kelompok tersebut tidak normal. Nilai rata-rata kolesterol, trigliserida dan LDL lebih tinggi pada kelompok gemuk. Uji beda kolesterol, trigliserida dan LDL diantara kedua kelompok berbeda bermakna hanya pada kolesterol dan trigliserida (p<0.05). Tidak ada korelasi yang bermakna antara masing-masing unsur mikro dengan kadar lemak kolesterol, LDL ataupun trigliserida (p>0.05). Rasio seng terhadap tembaga lebih besar atau sama dengan satu yang dapat meningkatkan lemak aterogenik (kolesterol, trigliserida dan LDL) terdapat lebih banyak pada kelompok gemuk. Kurang dari 50% sampel pada masing-masing kelompok merasa dirinya gemuk, kurang tahu patokan gemuk dan tidak tahu cara menilai berat badan. Kebanyakan sampel takut gemuk karena takut sakit dan hanya sedikit yang beralasan karena menjaga penampilan. Memperbanyak makan sayur dan buah untuk menurunkan berat badan lebih banyak diketahui oleh kelompok gemuk (50%). Olahraga adalah usaha yang paling banyak dilakukan oleh kedua kelompok untuk menurunkan berat badan.
TEKNOLOGI YODISASI GARAM UNTUK DIGUNAKAN DI DAERAH GANGGUAN AKIBAT KURANG YODIUM Hermana Hermana; Suryana Suryana; Almasyhuri Almasyhuri
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2310.

Abstract

Yodisasi garam untuk menanggulangi masalah gangguan akibat kurang yodium (GAKY) belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan faktor teknis yodisasi dan distribusi garam beryodium. Kadar yodium di dalam garam beryodium yang bervariasi dan penurunan kadar yodium selama distribusi, berpengaruh besar terhadap upaya menurunkan prevalensi GAKY. Di dalam penelitian ini dibuat prototipe alat yodisasi garamberskala kecil yang dapat menghasilkan garam beryodium yang memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan. Analisis ekonomi menunjukkan dengan modal pinjaman Rp 8.000.000 dan produksi garam beryodium 260 kg per hari diperoleh laba lebih dari Rp 1.000.000 per bulan, sehingga titik impas dapat dicapai pada awal tahun kedua sejak mulai produksi.

Page 2 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

1996 1996


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue