cover
Contact Name
Isrida Yul Arifiana
Contact Email
isrida@untag-sby.ac.id
Phone
08113542006
Journal Mail Official
jiwauntag1745@untag-sby.ac.id
Editorial Address
JIWA: Indonesian Journal of Psychology Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Telp. 0315990029
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30319897     DOI : https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01
Core Subject : Social,
Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, industrial psychology, Social Psychology and clinical psychology, but not limited to: Personality and Learning Learning Interventions Teaching Strategies Education of Children with Special Needs Education of Gifted Children Counseling in Education Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly Developmental Problems Parenting Strategies Quality of Life Personality Disorder Behavior Modification Counseling and Psychotherapy Psychosis Disorders Psychological Intervention
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 03 (2025): September" : 30 Documents clear
Kesejahteraan Psikologis dan Perilaku Pengidolaan Pada Gen Z Penggemar K-Wave Nisti, Meldini Syah Rian; Suroso; Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract K-wave, or Hallyu, is a cultural phenomenon from South Korea that encompasses music, film, drama, language, cosmetics, and fashion, which has spread globally. Most of its fans are females aged 15-25, who make K-wave a part of fan’s personal identity. This phenomenon often involves celebrity worship , which can have positive effects, such as enhancing self-care, stress management, and life satisfaction, all of which are related to psychological well-being. This quantitative study involves 358 K-wave fans in Indonesia, with 192 respondents meeting the sample criteria. Data were collected through questionnaires on psychological well-being  and celebrity worship . The analysis results show a significant positive relationship between the two variables (rxy = 0.341; p < 0.01), where fans who engage in healthy celebrity worship  tend to feel more connected to the culture and celebrities fan’s admire, thereby strengthening various dimensions of psychological well-being .   Keywords: Celebrity Worship; Generation Z; K-wave; Pscyhological Well-being .     Abstrak K-wave, atau Hallyu, adalah fenomena budaya Korea Selatan yang mencakup musik, film, drama, bahasa, kosmetik, dan fashion, yang telah mendunia. Sebagian besar penggemarnya adalah perempuan berusia 15-25 tahun yang menjadikan K-wave bagian dari identitas diri. Fenomena ini sering melibatkan pengidolaan terhadap selebriti , yang dapat memberikan dampak positif, seperti meningkatkan self-care, manajemen stres, dan kepuasan hidup, yang berhubungan dengan kesejahteraan psikologis . Penelitian kuantitatif ini melibatkan 358 penggemar K-wave di Indonesia, dengan 192 responden yang memenuhi kriteria sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai kesejahteraan psikologis  dan pengidolaan terhadap selebriti . Hasil analisis menunjukkan hubungan positif signifikan antara kedua variabel (rxy = 0,341; p < 0,01), di mana penggemar pengidolaan terhadap selebriti  yang sehat cenderung merasa lebih terhubung dengan budaya dan selebriti yang individu kagumi, serta memperkuat dimensi kesejahteraan psikologis .   Kata kunci: Pengidolaan terhadap selebriti ; Generasi Z; K-wave; Kesejahteraan psikologis .
Perilaku Self-Injury pada Remaja: Dampak Religiusitas dan Dukungan Sosial dalam Proses Coping Putri Wibowo, Shessa Alzuhra; Rini, Amanda Pasca; Pratitis, Nindia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Abstract This study aims to examine the relationship between religiosity and social support on self-injury behavior among adolescents. It involved 176 adolescents aged 12–24 years who have engaged in or are currently engaging in self-injury behaviors. Data were collected through questionnaires assessing levels of religiosity, social support, and self-injury behavior. Partial correlation tests revealed that religiosity and social support have a significant negative influence on self-injury behavior, with t-scores of -5.059 and -6.831, respectively (p < 0.05). This indicates that the lower the level of religiosity and social support received by adolescents, the higher their tendency to engage in self-injury. Multiple regression analysis revealed an R-square value of 0.445, indicating that religiosity and social support collectively explain 44.5% of the variation in self-injury behavior. The F-test yielded a value of F = 4.749 with a significance of 0.010 (p < 0.05), confirming that these two variables are predictors of self-injury behavior. Additionally, the study found that religiosity contributes 18.26% and social support contributes 24.70% to the variation in self-injury behavior, with a total contribution of 42.96% (R Square). These findings highlight the significant role of both variables in influencing self-injury behavior.   Keywords: Self-Injury, Religiosity, Social Support, Adolecents, Correlations   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara religiositas dan dukungan sosial terhadap perilaku melukai diri pada remaja. Penelitian ini melibatkan 176 remaja berusia 12–24 tahun yang telah atau sedang melakukan perilaku melukai diri. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang menilai tingkat religiositas, dukungan sosial, dan perilaku melukai diri. Uji korelasi parsial menunjukkan bahwa religiositas dan dukungan sosial memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap perilaku melukai diri, dengan t-score masing-masing -5.059 dan -6.831 (p < 0.05). Ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat religiositas dan dukungan sosial yang diterima oleh remaja, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku melukai diri. Analisis regresi berganda menunjukkan nilai R-square sebesar 0.445, yang berarti religiositas dan dukungan sosial secara kolektif menjelaskan 44.5% variasi dalam perilaku melukai diri. Uji F menghasilkan nilai F = 4.749 dengan signifikansi 0.010 (p < 0.05), mengonfirmasi bahwa kedua variabel ini adalah prediktor perilaku melukai diri. Selain itu, penelitian menemukan bahwa religiositas menyumbang 18.26% dan dukungan sosial menyumbang 24.70% terhadap variasi perilaku melukai diri, dengan total kontribusi sebesar 42.96% (R Square). Temuan ini menyoroti peran signifikan kedua variabel dalam mempengaruhi perilaku self-injury.  
OCB pada Karyawan yang Sudah Menikah, Bagaimana Peran Work-Life Balance dan Perceived Organizational Support? Azizah, Sofiatul; Prasetyo, Yanto; Farhanindya, Hikmah Husniyah
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study aims to determine whether there is a relationship between organizational citizenship behavior with work-life balance and perceived organizational support in married employees at Apartment. X. This analysis independent variable work-life balance and perceived organizational support with dependent variable organizational citizenship behavior. This research is a type of quantitative research using the correlational method. The sampling technique in this study used a random sampling method where the subjects were taken from the entire population of 86 respondents of Apartment employees. X employees who are married. The results of this study indicate that the first hypothesis is accepted, work-life balance and perceived organizational support have a positive relationship with organizational citizenship behavior. The second hypothesis is also accepted which shows that there is a positive relationship between work-life balance and organizational citizenship behavior. Meanwhile, the third hypothesis is not accepted, which means that there is no relationship between perceived organizational support and organizational citizenship behavior.Keywords: Work-Life Balance, Perceived Organizational Support, Employee, Organizational Citizenship BehaviorAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara organizational citizenship behavior dengan work-life balance dan perceived organizational support pada karyawan yang sudah menikah di Apartemen. X. Analisis ini variabel independen work-life balance dan perceived organizational support dengan variabel dependen organizational citizenship behavior. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode random sampling yang dimana subjek diambil dari keseluruhan populasi sebanyak 86 responden karyawan Apartemen. X yang sudah menikah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima, work-life balance dan perceived organizational support memiliki hubungan positif dengan organizational citizenship behavior. Hipotesis kedua juga diterima yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara work-life balance dengan organizational citizenship behavior. Sedangkan, untuk hipotesis ketiga tidak diterima yang berarti tidak ada hubungan antara perceived organizational support dengan organizational citizenship behavior.Kata kunci: Work-Life Balance, Perceived Organizational Support, Karyawan, Organizational Citizenship Behavior
Peran Kecerdasan Emosi dalam Mengurangi Stres Kerja pada Karyawan Alamsyah, Adam; Efendy, Mamang; Pratikto, Herlan
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between emotional intelligence and job stress. This research employs a quantitative approach with a correlational quantitative method. The sampling technique used in this study was the Krejcie technique, with a total of 181 respondents. Data analysis was conducted using Spearman's Rho technique with the assistance of SPSS version 16 for Windows. The statistical analysis results on the relationship between the emotional is indicating a significant negative relationship between emotional intelligence and job stress. This means that the higher the level of emotional intelligence in employees, the lower the level of job stress. Conversely, the lower the level of emotional intelligence in employees, the higher the level of job stress experienced by employees.   Keyword: Emotional Intelligence; Job Stress   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja. Penelitian ini menggunakan jenis kuantitatif dengan metode kuantitatif dengan metode kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Krejcie dengan total partisipan 181 responden. Teknik analisi data menggunakan teknik Spearman’s Rho dengan bantuan program SPSS versi 16 for Windows. Hasil uji analisis statistik hubungan variabel kecerdasan emosi dengan variabel stres kerja yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja. Artinya, semakin tinggi tingkat kecerdasan emosi pada karyawan maka akan semakin rendah tingkat stres kerja. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat kecerdasan emosi pada karyawan maka semakin tinggi tingkat stres kerja pada karyawan.   Kata kunci: Kecerdasan Emosi: Stres Kerja
Peran Family Function dan Resiliensi dalam Menekan Kecemasan Korban Revenge Porn Putri Arianti, Salwa Aretha; Noviekayati, IGAA; Rina, Amherstia Pasca
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractRevenge porn is a form of Gender – Based Online Violence (GBOV) that has a significant impact on the psychological well – being of victims, one of which is anxiety, which can disrupt their social and emotional lives. This study aims to analyze the role of family function and resilience in reducing anxiety among revenge porn victims. This research employs a quantitative approach, involving 90 respondents aged 16 – 29 years who have experienced revenge porn and reside in East Java. The sampling technique was conducted using purposive sampling and snowball sampling, while data collection utilized a Likert scale, including the anxiety scale (Nevid, 2005), family function scale (Epstein, 1978), and resilience scale (Connor & Davidson, 2003). The findings indicate that, simultaneously, family function and resilience have a negative relationship with anxiety. Partially, both family function and resilience also show a significant negative correlation with anxiety. These results emphasize that good family function and high levels of resilience can help revenge porn victims manage their anxiety effectively.Keywords: Anxiety; Family Function; Resilience; Revenge PornAbstrakRevenge porn merupakan salah satu bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis korban, salah satunya adalah kecemasan yang dapat mengganggu kehidupan sosial dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran family function dan resiliensi dalam mengurangi kecemasan pada korban revenge porn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 90 responden berusia 16 – 29 tahun yang pernah mengalami revenge porn dan berdomisili di Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan snowball sampling, serta pengumpulan data menggunakan skala Likert yang meliputi skala kecemasan (Nevid, 2005), skala family function (Epstein, 1978), dan skala resiliensi (Connor & Davidson, 2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, family function dan resiliensi memiliki hubungan negatif dengan kecemasan. Secara parsial, family function dan resiliensi juga memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kecemasan. Temuan ini menegaskan bahwa family function yang baik serta tingkat resiliensi yang tinggi dapat membantu korban revenge porn dalam mengelola kecemasan mereka.Kata kunci: Family Function; Kecemasan; Resiliensi; Revenge Porn
Kontribusi Modal Psikologis dan Kebersyukuran dalam Mengurangi Stres Kerja Guru Sekolah Dasar Pratanu, Fernanda Marnitio; Santi, Dyan Evita; Kusumandari, Rahma
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The teaching profession has become increasingly demanding and complex in recent times. This study aims to examine the relationship between psychological capital and gratitude with job stress among elementary school teachers. This research is a quantitative study using multiple linear regression correlation techniques. The participants in this study consisted of 193 elementary school teachers in the Surabaya area. Data collection was conducted by distributing questionnaires both online and offline using a Likert scale. The instruments used included the STJSS scale with 39 items, the PCQ scale with 30 items, and the GRAT scale with 42 items. Data analysis was carried out using correlation tests, and the findings of this study indicate a significant negative relationship between psychological capital and gratitude with job stress among teachers. Psychological capital showed a significant negative correlation with job stress. Meanwhile, gratitude showed a positive but non-significant relationship with job stress. It can be concluded that elementary school teachers can manage job stress effectively if they possess strong psychological capital, whereas gratitude is not a suitable predictor for reducing job stress among teachers. Keywords: Psychological Capital, Gratitude, Job Stress Among Teachers Abstrak Profesi guru semakin dewasa ini semakin berat dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik korelasi regresi linier berganda. Partisipan penelitian ini sebanyak 193 guru sekolah dasar di wilayah Kota Surabaya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner secara online maupun offline dengan menggunakan skala likert. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala STJSS sejumlah 39 aitem, skala PCQ sejumlah 30 aitem, dan skala GRAT sejumlah 42 aitem. Teknik analisis data dilakukan dengan uji korelasi yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru. Modal psikologis dengan stres kerja guru menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dengan stres kerja guru. Kebersyukuran dengan stres kerja guru menunjukkan adanya hubungan positif yang tidak signifikan antara kebersyukuran dengan stres kerja guru. Dapat disimpulkan bahwa guru sekolah dasar dapat mengelola tekanan stres kerja apabila memiliki modal psikologis yang baik, sedangkan kebersyukuran tidak dapat sebagai prediktor yang tepat untuk menurunkan tekanan stres kerja guru. Kata kunci: Modal Psikologis, Kebersyukuran, Stres Kerja Guru
Kontribusi Kepemimpinan Transformasional dan Resiliensi dengan Burnout pada Karyawan Haryono, Bomantara; Sofiah, Diah; Prasetyo, Yanto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis research aims to analyze the relationship between relationship transformasional leadership, resilience, and burnout. Burnout is often a problem for workers. Through a quantitative approach, data was collected from workers who work. The research results show that there is a significant relationship between transformational leadership and resilience and Burnout. Workers with high levels of transformational leadership tend to have high resilience, thereby reducing the tendency to burnout. Data analysis was carried out using multiple linear regression to test the relationship between variables. The research results show that transformational leadership and resilience have a significant negative relationship with Burnout workers (R = 0.945, p < 0.05). These findings are expected to provide insight for the development of intervention programs aimed at increasing transformational leadership and resilience and reducing burnout in workers.Keywords: Burnout, Resilience, Transformational LeadershipAbstrakPerusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam kinerja organisasi melalui perilaku yang lebih proaktif dari karyawan, seperti kepemimpinan transformasional, tetapi juga juga kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa adanya hubungan antara kepemimpinan transformasional, resiliensi, dan burnout pada pekerja MyRepublic Surabaya. Burnout sering kali menjadi masalah bagi pekerja. Setelah melakukan hasil uji mean empirik dan mean hipotetik, terbukti bahwa banyak pekerja MyRepublic yang mengalami burnout. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari pekerja . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan resiliensi dengan burnout. Pekerja dengan kepemimpinan transformasional yang tinggi cenderung memiliki resiliensi yang tinggi, sehingga mengurangi kecenderungan burnout. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dan resiliensi memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan Burnout pada pekerja (R = 0,945 p < 0,05). Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan program intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kepemimpinan transformasional dan resiliensi serta mengurangi burnout pada pekerja.Kata kunci: Burnout, Resiliensi, Kepemimpinan Transformasional
Psychological Well-Being pada Masa Quarter Life Crisis, Bagaimana Peran Resiliensi? Pratiwi, Anastasia Puji; Meiyuntariningsih, Tatik; Ramadhani, Hetti Sari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Everyone undergoes the cycle of life and passes through various stages of development throughout their journey, including the early adulthood period (20-30 years), which is vulnerable to feelings of confusion, uncertainty, and pressure in determining life direction, referred as quarter life crisis. This study aims to identify the positive correlation between resilience and psychological well-being in individuals experiencing a quarter-life crisis. The population consists of 147 individuals, analyzed using Pearson Product Moment (r = 0.842), indicating a positive correlation between resilience and psychological well-being. Resilience accounts for 70.9% of psychological well-being. Keywords: Resilience, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis Abstrak Setiap orang akan menjalani siklus kehidupan dan melintasi berbagai tahap perkembangan sepanjang perjalanan hidupnya, termasuk menghadapi periode dewasa awal (20-30 tahun) yang rentan merasa kebingungan, ketidakpastian, dan tekanan dalam menentukan arah hidup, dikenal sebagai quarter life crisis. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi positif antara resiliensi dengan psychological well-being pada individu yang mengalami quarter life crisis. Populasinya ialah 147, dan dianalis melalui Pearson Product Moment (r= 0,842), sehingga resiliensi dengan psychological well-being berkorelasi secara positif, Sumbangan efektif resiliensi sebesar 70,9% kepada psychological well-being.Kata kunci: Resiliensi, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis
Kecenderungan Kecanduan Media Sosial pada Remaja: Bagaimana Peran Self Control dan Fear of Missing Out? Maharani, Agniestia; Prasetyo, Yanto; Farhanindya, Hikmah Husniyah
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Social media addiction is a condition where individuals are unable to control intensive and excessive use of social media, which can trigger psychological and social disorders (Kootesh et al., 2016). Social media addiction can be influenced by several factors, one of which is self-control (Muna & Astuti, 2014). Fear of missing out is another factor that influences social media addiction (Fathadika & Afriani, 2018). This research design uses a quantitative approach with multiple linear regression. The sample consisted of 92 students from the Faculty of Psychology, University of 17 August 1945 Surabaya. The regression results show that the hypothesis is accepted, namely that there is a relationship between self-control and fear of missing out with the tendency to become addicted to social media in adolescents.   Keywords: Tendencies, Addiction, Self-Control, Fear of Missing Out, Social Media.   Abstrak Kecanduan media sosial merupakan kondisi di mana individu tidak mampu mengendalikan penggunaan media sosial secara intensif dan berlebihan, yang dapat memicu gangguan psikologis dan sosial (Kootesh et al., 2016). Kecanduan media sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah self control (Muna & Astuti, 2014). Fear of missing out merupakan faktor lain yang mempengaruhi kecanduan media sosial (Fathadika & Afriani, 2018). Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linier berganda. Sampel berjumlah 92 Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Hasil regresi menunjukkan hipotesis diterima, yakni adanya hubungan antara self control dan fear of missing out dengan kecenderungan kecanduan media sosial pada remaja.   Kata Kunci: Kecenderungan, Kecanduan, Self Control, Fear Of Missing Out, Sosial Media
Phubbing di Kalangan Mahasiswa: Peran Kontrol Diri sebagai Faktor Internal Fadil, Moh Ivan; Ramadhani, Hetti Sari; Utami, Adnani Budi
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study aims to determine the relationship between self-control and phubbing behavior among university students. The issue of phubbing is increasingly prevalent alongside the growing use of smartphones among students, which can disrupt the quality of social interactions. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 265 active students from the Faculty of Psychology at the University of 17 August 1945 Surabaya, selected using purposive sampling. The instruments used were a self-control scale and a phubbing behavior scale. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation technique. The results showed a significant negative relationship between self-control and phubbing behavior. Individuals with higher levels of self-control tend to exhibit lower tendencies to engage in phubbing. These findings indicate that self-control plays an important role in preventing phubbing behavior and in supporting healthy social interactions among students.Keywords: Self-control, Phubbing, Students, Smartphone.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku phubbing pada mahasiswa. Fenomena phubbing semakin marak seiring dengan meningkatnya penggunaan smartphone di kalangan mahasiswa, yang dapat mengganggu kualitas interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 265 mahasiswa aktif dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kontrol diri dan skala perilaku phubbing. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dan perilaku phubbing. Individu dengan tingkat kontrol diri yang lebih tinggi cenderung memiliki kecenderungan phubbing yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kontrol diri memiliki peran penting dalam mencegah perilaku phubbing serta mendukung interaksi sosial yang sehat di kalangan mahasiswa.Kata kunci: Kontrol Diri, Phubbing, Mahasiswa, Smartphone.

Page 2 of 3 | Total Record : 30