cover
Contact Name
Miftakhul Jannah
Contact Email
cjpp@unesa.ac.id
Phone
+6282231445454
Journal Mail Official
miftakhuljannah@unesa.ac.id
Editorial Address
Universitas Negeri Surabaya Lidah Wetan Surabaya 60213 Jawa Timur - Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
CJPP
ISSN : 22526129     EISSN : 30634806     DOI : https://doi.org/10.26740/cjpp
Character Jurnal Penelitian Psikologi is a peer-reviewed journal that covers all topics in theoretical and applied psychology that is managed by Department of Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Negeri Surabaya. This journal is published in January, May, and September by Universitas Negeri Surabaya.
Articles 1,052 Documents
Makna Resiliensi Remaja Akhir yang Dibesarkan oleh Single Mother Hapsari, Lisa Artika; Anggara, Onny Fransinata
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p774-783

Abstract

Fenomena meningkatnya jumlah keluarga dengan orang tua tunggal akibat perceraian menimbulkan berbagai tantangan psikososial, terutama bagi remaja akhir yang sedang berada dalam masa pembentukan identitas diri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna resiliensi pada remaja akhir yang dibesarkan oleh single mother. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis/IPA). Lima partisipan berusia 18–22 tahun dipilih secara purposive, dengan kriteria telah diasuh oleh ibu tunggal selama lebih dari lima tahun akibat perceraian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna resiliensi dipengaruhi oleh kualitas hubungan dengan ibu, kemampuan refleksi diri, dan dukungan sosial. Ketujuh aspek resiliensi muncul dengan cara yang berbeda-beda sesuai konteks pengalaman masing-masing partisipan. Penelitian ini menyoroti bahwa resiliensi bukanlah sesuatu yang muncul secara instan, tetapi terbentuk melalui proses pemaknaan atas pengalaman hidup yang kompleks. Abstract The phenomenon of the increasing number of single-parent families due to divorce poses various psychosocial challenges, especially for late adolescents who are in the period of self-identity formation. This study aims to understand the meaning of resilience in late adolescents raised by single mothers. The approach used was qualitative with the interpretative phenomenological analysis (IPA) method. Five participants aged 18-22 years were purposively selected, with the criteria of having been raised by a single mother for more than five years due to divorce. Data were collected through in-depth interviews and analyzed thematically. The results showed that the meaning of resilience was influenced by the quality of the relationship with the mother, the ability of self-reflection, and social support. The seven aspects of resilience emerged in different ways according to the context of each participant's experience.This study highlights that resilience is not something that appears instantly, but is formed through a process of making meaning of complex life experiences.
Hubungan antara Quarter Life Crisis dengan Subjective Well-Being pada Mahasiswa Tingkat Akhir Yanuar, Tiara Hany; Vrisaba, Nanda Audia
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p705-713

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir berada dalam fase transisi menuju kedewasaan yang penuh ketidakpastian dan tekanan, seperti beban akademik, ketidakjelasan karier, serta tuntutan sosial, yang dapat memicu quarter life crisis. Kondisi krisis ini berpotensi memengaruhi subjective well being mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara quarter life crisis dengan subjective well being pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian berjumlah 140 mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya angkatan 2021 yang sedang menyusun tugas akhir. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner online, dan dianalisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji linieritas, serta uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara quarter life crisis dengan subjective well being dengan nilai signifikansi 0,021 (p < 0,05) dan koefisien korelasi sebesar -0,194. Semakin tinggi quarter life crisis yang dialami mahasiswa, maka semakin rendah subjective well being yang dirasakan. Temuan ini menunjukkan bahwa quarter life crisis merupakan salah satu faktor yang memengaruhi subjective well being mahasiswa tingkat akhir. Abstract Final year students are in a transitional phase toward adulthood that is filled with uncertainty and pressure, such as academic demands, career ambiguity, and social expectations, which can trigger a quarter life crisis. This crisis condition has the potential to affect the subjective well being of final year students. This study aims to examine the relationship between quarter life crisis and subjective well being among final year students. This research employed a quantitative approach with a correlational method. The subjects were 140 active students from the Faculty of Psychology, Universitas Negeri Surabaya, class of 2021, who were in the process of completing their final thesis. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using the Kolmogorov-Smirnov normality test, linearity test, and Pearson Product Moment correlation test. The results showed a significant negative relationship between quarter life crisis and subjective well-being, with a significance value of 0.021 (p < 0.05) and a correlation coefficient of -0.194. The higher the level of quarter life crisis experienced by the students, the lower their subjective well being. These findings indicate that the quarter life crisis is one of the factors influencing the subjective well being of final year students.
FEAR OF FAILURE PADA SISWA SMA MENJELANG UJIAN TULIS BERBASIS KOMPUTER (UTBK) TAHUN 2025 Syahid, Muhammad Panji Nur; Darmawanti, Ira
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p730-749

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran siswa yang mengalami perasaan Fear of Failure menjelang UTBK 2025. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologis dengan teknik analisis data Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Pemilihan metode ini didasarkan pada relevansinya dengan tujuan penelitian, yaitu memahami pengalaman subjektif partisipan secara mendalam. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur yang melibatkan empat siswa sebagai partisipan utama. Pada penelitian ini enam tema utama berhasil diidentifikasi, yaitu: (1) luka psikologis dan validasi diri sebagai sumber daya motivasi, (2) ketegangan antara aspirasi pribadi dan harapan eksternal, (3) strategi regulasi emosi: antara afirmasi, menarik diri, dan spiritualitas, (4) Fear of Failure dan strategi ketahanan mental, (5) kritik, validasi sosial, dan ambivalensi ekspresi diri, serta (6) rasionalisasi dan adaptasi sebagai bentuk ketangguhan. Selain itu, ditemukan pula tema khas (idiosinkratik) yang hanya muncul pada partisipan tertentu, seperti keterbukaan terhadap kegagalan tanpa pencitraan (R3), menyembunyikan nilai demi menjaga ekspektasi orang tua (R4), dan transformasi kritik menjadi semangat pengembangan diri (R4). Temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan di bidang psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan, terutama dalam menjelaskan bagaimana siswa SMA memaknai Fear of Failure dalam situasi tekanan akademik menjelang UTBK. Pendekatan fenomenologis yang digunakan memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap pengalaman personal siswa, sehingga dapat menjadi dasar penguatan teori maupun praktik pendampingan psikologis pada masa transisi pendidikan yang penuh tantangan. Abstract The aim of this study is to explore how students define and experience Fear of Failure in the context of the Computer-Based Written Exam (UTBK), identify the factors associated with this fear, examine its impact on exam preparation, assess the role of social support, and analyzed how students cope with the Fear of Failure in anticipation of the 2025 UTBK. This research employs a qualitative phenomenological approach with data analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The selection of this methodology is based on its alignment with the research objective, which is to gain an in-depth understanding of participants' subjective experiences. Data collection was conducted through semi-structured in-depth interviews, involving four high school students as primary participants. In this study, six main themes were successfully identified: (1) psychological wounds and self-validation as motivational resources, (2) the tension between personal aspirations and external expectations, (3) emotion regulation strategies: between affirmation, withdrawal, and spirituality, (4) Fear of Failure and mental resilience strategies, (5) criticism, social validation, and ambivalence of self-expression, and (6) rationalization and adaptation as forms of resilience. Additionally, idiosyncratic themes emerged in specific participants, such as openness to failure without pretense (R3), concealing values to manage parental expectations (R4), and transforming criticism into self-development motivation (R4). The findings of this study are expected to enrich the body of knowledge in educational psychology and developmental psychology, particularly in explaining how high school students interpret the Fear of Failure in situations of academic pressure leading up to the UTBK (University Entrance Exam). The phenomenological approach employed allowed for an in-depth exploration of students' personal experiences, which can serve as a basis for strengthening theories and psychological counseling practices during this challenging educational transition period.
Hubungan antara Presenteeism dengan Turnover Intention pada Pengajar Pendidikan Nonformal Rakasiwy, Mochammad Randy Pradika; Cipta, Viona Dea Surya
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p750-760

Abstract

Fenomena presenteeism, yaitu perilaku hadir bekerja meskipun dalam kondisi sakit atau kelelahan psikologis, menjadi masalah penting di lembaga pendidikan nonformal yang sebagian besar pengajarnya memiliki status kerja tidak tetap dan pendapatan fluktuatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara presenteeism dan turnover intention pada tenaga pengajar di enam lembaga bimbingan belajar di Surabaya. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik convenience sampling, melibatkan 107 pengajar. Instrumen penelitian berupa skala presenteeism (25 item; α=0,836) dan skala turnover intention (25 item; α=0,742). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, dan uji korelasi Pearson dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat presenteeism dan turnover intention pada kategori sedang, meskipun terdapat proporsi cukup besar yang berada pada kategori tinggi pada aspek lost productivity dan intention to quit. Uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara presenteeism dan turnover intention (r=0,684; p<0,01). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi presenteeism, semakin besar kecenderungan pengajar untuk berpindah kerja. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya lembaga pendidikan nonformal menyediakan program kesejahteraan dan dukungan organisasi guna mengurangi presenteeism dan menekan niat berpindah kerja. Abstract The phenomenon of presenteeism, which refers to the behavior of coming to work despite being sick or experiencing psychological fatigue, is a significant issue in non-formal educational institutions where most teachers have non-permanent employment status and fluctuating incomes. This study aims to analyze the relationship between presenteeism and turnover intention among teachers at six tutoring institutions in Surabaya. A quantitative correlational approach was used with convenience sampling, involving 107 teachers. The research instruments consisted of a presenteeism scale (25 items; α=0.836) and a turnover intention scale (25 items; α=0.742). Data analysis was conducted using descriptive statistics, the Kolmogorov–Smirnov normality test, and Pearson's correlation test at a significance level of 0.05. The results showed that the majority of respondents had moderate levels of presenteeism and turnover intention, although a significant proportion were in the high category for lost productivity and intention to quit. The Pearson correlation test showed a significant significant positive relationship between presenteeism and turnover intention (r = 0.684; p < 0.01). This finding indicates that the higher the presenteeism, the greater the tendency for teachers to change jobs. The implications of this study emphasize the importance of non-formal educational institutions providing welfare programs and organizational support to reduce presenteeism and curb turnover intentions.
Hubungan Antara Parasocial Relationship dengan Subjective Well-Being Pada Penggemar K-Pop Sadira, Layyina; Vrisaba, Nanda Audia
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p761-773-

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parasocial relationship dan subjective well-being pada penggemar K-Pop di usia emerging adulthood (18–29 tahun). Parasocial relationship merupakan hubungan satu arah yang dirasakan oleh penggemar terhadap idolanya, sedangkan subjective well-being merupakan penilaian kognitif dan afektif individu terhadap kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling dan melibatkan 120 responden anggota grup KPOPERS JATIM Surabaya. Data dikumpulkan melalui kuesioner Parasocial Relationship Scale dan skala Subjective Well-Being, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji Pearson menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara parasocial relationship dan subjective well-being dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,477 dan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan parasosial seseorang dengan idolanya, semakin tinggi kesejahteraan subjektif yang dirasakan. Abstract This study aims to examine the relationship between parasocial relationship and subjective well-being among K-Pop fans in the emerging adulthood age range (18–29 years). A parasocial relationship refers to a one-sided emotional bond experienced by fans toward their idols, while subjective well being are individuals cognitive and affective evaluations of their lives. This research used a quantitative correlational method with purposive sampling, involving 120 respondents from the KPOPERS JATIM Surabaya community. Data were collected using the Parasocial Relationship Scale and Subjective Well Being Scale, both of which were tested for validity and reliability. Pearson correlation analysis showed a positive and significant relationship between parasocial relationship and subjective well-being, with a correlation coefficient of 0.477 and a significance level of 0.000 (p < 0.05). These findings indicate that the stronger a fan’s parasocial relationship with their idol, the higher their subjective well-being.
Hubungan Ambisi Karir Dengan Keputusan Menunda Pernikahan Pada Generasi Z Firdaus, Najwa Aurelia Kamiilah; Rahmasari, Diana
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p847-858

Abstract

Penurunan angka pernikahan pada generasi muda, khususnya Generasi Z, menunjukkan adanya pergeseran prioritas hidup, salah satunya berkaitan dengan ambisi terhadap pencapaian karir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ambisi karir dengan keputusan menunda pernikahan pada Generasi Z. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan partisipan sebanyak 100 responden yang merupakan Generasi Z berusia 23–28 tahun, berdomisili di Surabaya, belum menikah, dan telah bekerja minimal satu tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Career Ambition Scale dan Reasons for Not Marrying, yang telah melalui proses adaptasi serta diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara ambisi karir dan keputusan menunda pernikahan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,694 dan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi ambisi karir yang dimiliki individu, maka semakin besar kecenderungannya untuk menunda pernikahan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa karir menjadi aspek yang sangat dipertimbangkan oleh generasi muda sebelum mengambil keputusan besar dalam hidupnya, seperti pernikahan. Abstract The decline in marriage rates among young people, particularly Generation Z, indicates a shift in life priorities, one of which is related to the ambition for career achievement. This study aims to examine the relationship between career ambition and the decision to postpone marriage among Generation Z. A quantitative correlational approach was employed with 100 participants aged 23–28 years, residing in Surabaya, unmarried, and having at least one year of work experience. Data were collected using the Career Ambition Scale and the Reasons for Not Marrying scale, both of which were adapted into Indonesian and tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using Pearson correlation. The findings revealed a significant positive relationship between career ambition and the decision to postpone marriage, with a correlation coefficient of 0.694 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). Conclusion: These results indicate that individuals with higher levels of career ambition are more likely to postpone marriage. The implications of this study suggest that career development is a major consideration for young adults when making significant life decisions such as marriage.
Studi Kasus Skizofrenia Paranoid dalam Perspektif Psikoanalisis Sigmund Freud Ali, Syafila Risqil Ubabah; Fitriana, Qurrota A'yuni
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p784-793

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika psikologis individu dengan gangguan skizofrenia paranoid menggunakan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan merupakan seorang laki-laki berusia 28 tahun yang didiagnosis skizofrenia paranoid sejak usia 25 tahun. Data diperoleh melalui wawancara mendalam (autoanamnesa dan alloanamnesa), observasi perilaku, dan dokumentasi rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan muncul akibat konflik intrapsikis antara id, ego, dan superego yang tidak terselesaikan, diperkuat oleh faktor predisposisi biologis (riwayat gangguan jiwa dalam keluarga) dan pengalaman masa kecil yang penuh konflik serta kurang perhatian. Subjek menggunakan berbagai mekanisme pertahanan diri seperti represi, rasionalisasi, displacement, denial, dan proyeksi untuk meredam kecemasan. Ketika ego tidak mampu mengatasi tekanan, perilaku maladaptif hingga gejala psikosis khas skizofrenia paranoid terjadi pada individu. Abstract This study aims to analyze the psychological dynamics of an individual with paranoid schizophrenia using Sigmund Freud’s psychoanalytic approach. The research method employed is qualitative with a case study design. The participant is a 28-year-old male who was diagnosed with paranoid schizophrenia at the age of 25. Data were collected through in-depth interviews (autoanamnesis and alloanamnesis), behavioral observation, and medical record documentation. The findings indicate that the disorder emerged from unresolved intrapsychic conflict between the id, ego, and superego, exacerbated by biological predisposition (family history of mental illness) and early childhood experiences characterized by conflict and lack of parental attention. The subject employed various defense mechanisms such as repression, rationalization, displacement, denial, and projection to manage anxiety. When the ego is unable to cope with the pressure, maladaptive behaviors and psychotic symptoms typical of paranoid schizophrenia occur in the individual.
Menemukan Kebermaknaan Hidup: Perspektif Seorang Biarawati yang berperan sebagai Caregiver di Panti Asuhan Adji, Anggrina Deisya Wulan; Darmawanti, Ira
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p794-808

Abstract

Hasrat mendalam yang ada pada diri setiap manusia adalah hasrat untuk hidup bermakna. Kebermaknaan hidup harus ditemukan secara sadar oleh seorang individu untuk dijadikan sebuah tujuan hingga terwujudnya kehidupan yang bermakna. Keinginan menjadi seorang biarawati merupakan panggilan iman untuk hidup membiara selama seumur hidupnya, sehingga dalam prosesnya menjadi biarawati pun tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendalami pengalaman subjektif dari seorang biarawati selama berproses menemukan kebermaknaan hidupnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan melalui wawancara terhadap partisipan yang sesuai dengan kriteria dari penelitian. Partisipan penelitian ini berjumlah 3 orang. Hasil data dianalisis dengan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dan diuji keabsahannya menggunakan teknik member check. Hasil data menunjukkan bahwa melalui pertemuan dengan seseorang, berkarya, dan sikap dalam menghadapi tantangan yang ada menjadi proses dalam menemukan kebermaknaan hidup. Adanya kebahagiaan yang dirasakan menjadi salah satu tanda bahwa para partisipan telah menemukan kebermaknaan dalam hidupnya. Abstract The deep desire that exists in every human being is to live meaningfully. The meaning of life must be found consciously by an individual as a goal until it is fullfilled. The desire to be a nun is a call of faith to live in a monastery for a lifetime, so the process of becoming a nun cannot be done carelessly. This research aims to explore the subjective experience of a nun during the process of finding the meaning of their life. The research use qualitative as a method with phenomenological approach. Data collection for this study was carried out through interviews with participants who fit the criteria of this research. The participants of this study amounted to 3 people. The data results were analyzed using the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) technique and tested for validity using member check technique. The results show that through meeting someone, working, and attitudes in facing of existing challenges are part of the process in finding the meaning of life. The happiness is one of the things that indicates the participants have found meaning in their lives.
Eksplorasi Makna Hidup pada Shadow Teacher dari Siswa Disabilitas: Studi Fenomenologi Interpretatif Wardhani, Aisyah Nismara; Fitriana, Qurrota A'yuni
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p809-825

Abstract

Shadow teacher berperan penting dalam penerapan Pendidikan Inklusi karena berhubungan dekat dengan para siswa disabilitas, orang tua, dan tenaga kependidikan lainnya. Memahami makna hidup pada shadow teacher akan memberikan wawasan mengenai bagaimana mereka memaknai kehidupannya sebagai seorang individu dengan pekerjaannya dalam mendampingi siswa disabilitas. Penelitian bertujuan memahami makna hidup pada shadow teacher dari siswa disabilitas. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi fenomenologi dalam paradigma interpretatif. Partisipan penelitian merupakan 5 shadow teacher dengan pengalaman kerja selama lebih dari 5 tahun yang bekerja di sekolah inklusi swasta Islam sebagai lokasi penelitian. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam semi terstruktur dan dianalisis menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Analisis data menghasilkan 4 tema utama, yaitu: Orientasi Hidup, Memaknai Pekerjaan, Relasi dalam Bekerja, dan Emosi Positif. Pemaknaan subjektif muncul dalam kehidupan partisipan melalui proses pada dimensi kognitif, emosional, relasional, serta spiritual dari pengalaman dan pekerjaannya. Penelitian ini menyorot pentingnya bagi pihak sekolah untuk memberikan fasilitas pengembangan diri yang bermakna serta kolaboratif untuk mendukung kesejahteraan mental shadow teacher. Abstract Shadow teachers play an important role in the implementation of Inclusive Education because they are in close contact with students with disabilities, parents, and other education personnel. Understanding the meaning in life of shadow teachers will provide insight into how they interpret their life as an individual with their work in assisting students with disabilities. This study aims to understand the meaning in life of shadow teachers of students with disabilities. This research was conducted using a qualitative method through a phenomenological study approach within an interpretative paradigm. The research participants were 5 shadow teachers with more than 5 years of work experience working in a private Islamic inclusive school as the research location. Data were collected using semi-structured in-depth interviews and analyzed using the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) method. Data analysis revealed 4 main themes, namely: Life Orientation, Making Meaning of Work, Relationships at Work, and Positive Emotions. Subjective meaning emerges in participants' lives through processes on the cognitive, emotional, relational, and spiritual dimensions of their experiences and work. This research highlights the need for schools to provide meaningful and collaborative self-development facilities to support shadow teachers' mental well-being.
Self-Compassion pada Remaja Perempuan Pelaku Self-Harm Sulistyowati, Jane Aquamarin Widya; Rahmasari, Diana
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p826-840

Abstract

Self-compassion dipandang sebagai salah satu faktor protektif yang mampu membantu individu menghadapi tekanan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika psikologis pembentukan self-compassion serta menjelaskan faktor-faktor self-compassion yang berperan pada remaja perempuan pelaku self-harm. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini, dengan teknik analisis tematik terhadap dua partisipan remaja perempuan berusia 18–21 tahun yang memiliki riwayat self-harm. Hasil menunjukkan bahwa proses pembentukan self-compassion berlangsung secara bertahap melalui refleksi diri, kejenuhan emosional, dan pengalaman pribadi yang menyakitkan. Aspek self-kindness terbentuk saat partisipan mulai menerima diri dan berhenti menyalahkan diri sendiri. Aspek common humanity muncul ketika partisipan menyadari bahwa mereka tidak sendiri dalam penderitaan. Mindfulness berkembang seiring kemampuan mengamati emosi tanpa reaksi impulsif. Adapun faktor pendukung pembentukan self-compassion meliputi usia, kecerdasan emosi, dukungan sosial, dan kepribadian conscientiousness. Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion berperan penting sebagai proses perubahan dan protektif dalam pemulihan remaja dari self-harm. Self-compassion membantu individu mengembangkan sikap welas asih terhadap diri, mengelola emosi secara lebih adaptif, serta mengurangi kecenderungan untuk kembali menyakiti diri. Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion berperan penting dalam pemulihan remaja dari perilaku self-harm. Abstract Self-compassion is regarded as one of the protective factors that can help individuals cope with psychological distress. This study aims to explain the psychological dynamics behind the development of self-compassion and to identify the contributing factors in adolescent girls with a history of self-harm. A qualitative approach with a case study method was used, and thematic analysis was conducted on two female adolescent participants aged 18–21 who had previously engaged in self-harming behaviors. The findings show that the development of self-compassion occurs gradually through self-reflection, emotional exhaustion, and painful personal experiences. The aspect of self-kindness emerged as the participants began to accept themselves and stopped blaming themselves. Common humanity appeared when they realized they were not alone in their suffering. Mindfulness developed along with the ability to observe emotions without reacting impulsively. Supporting factors in the development of self-compassion included age, emotional intelligence, social support, and the personality trait of conscientiousness. These findings suggest that self-compassion plays a significant role as both a transformative and protective process in adolescent recovery from self-harm. Self-compassion helps individuals cultivate a compassionate attitude toward themselves, manage emotions more adaptively, and reduce the tendency to reengage in self-harming behaviors. These results underscore the importance of self-compassion in supporting adolescents’ psychological healing and long-term recovery. 

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 3 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 2 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 1 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 3 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 2 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 1 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 8 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 7 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 6 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 9 No. 5 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 4 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 3 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 2 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 9 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 8 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 7 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 6 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 5 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 4 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 3 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 2 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 1 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 04 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 03 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 3 (2020) Vol. 7 No. 2 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 6 No. 5 (2019) Vol. 6 No. 4 (2019) Vol. 6 No. 3 (2019) Vol. 6 No. 2 (2019) Vol. 6 No. 1 (2019) Vol. 5 No. 3 (2018) Vol. 5 No. 2 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 5 No. 1 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 3 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 2 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 1 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 01 (2016): Character Vol. 3 No. 3 (2015): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 3 No. 2 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 2 No. 3 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 3 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 2 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi More Issue