cover
Contact Name
Miftakhul Jannah
Contact Email
cjpp@unesa.ac.id
Phone
+6282231445454
Journal Mail Official
miftakhuljannah@unesa.ac.id
Editorial Address
Universitas Negeri Surabaya Lidah Wetan Surabaya 60213 Jawa Timur - Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
CJPP
ISSN : 22526129     EISSN : 30634806     DOI : https://doi.org/10.26740/cjpp
Character Jurnal Penelitian Psikologi is a peer-reviewed journal that covers all topics in theoretical and applied psychology that is managed by Department of Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Negeri Surabaya. This journal is published in January, May, and September by Universitas Negeri Surabaya.
Articles 1,052 Documents
Pengaruh Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Penyesuaian Diri Remaja Siswa Kelas X di MAN 2 Gresik Zamakhsayry, Bastino Hawarizmy; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p590-600

Abstract

Pada tahun pertama peralihan jenjang pendidikan ada tuntutan yang harus dihadapi, oleh karena itu individu harus bisa menyesuaikan diri. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dukungan sosial yang diberikan kepada teman sebaya untuk membantu menyesuaikan diri dilingkungan sekolah, dengan memberikan bantuan dan afirmasi positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap penyesuaian diri pada remaja siswa MAN 2 Gresik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana. Subjek berjumlah 153 siswa kelas X MAN 2 Gresik melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan secara luring dengan skala dukungan social dan penyesuaian diri yang diadaptasi dalam bahasa Indonesia. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS 26.0 for Windows. Hasil menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan dari dukungan sosial teman sebaya terhadap penyesuaian diri dengan nilai korelasi 0,303 dan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Artinya semakin tinggi tingkat dukungan sosial dari siswa maka semakin tinggi penyesuaian diri. Abstract The first year of transitioning into a new educational level presents various demands that must be addressed, thereby requiring individuals to adapt accordingly. This study is motivated by the role of peer social support in helping students adjust to the school environment through the provision of assistance and positive affirmation. The aim of this research is to examine the influence of peer social support on self-adjustment among adolescents at MAN 2 Gresik. This study employed a quantitative approach using simple linear regression analysis. The subjects consisted of 153 tenth-grade students at MAN 2 Gresik, selected through purposive sampling. Data were collected offline using scales measuring social support and self-adjustment, both of which were adapted into the Indonesian language. Data analysis was conducted using simple linear regression with the assistance of SPSS version 26.0 for Windows. The results indicated a positive and significant influence of peer social support on self-adjustment, with a correlation coefficient of 0.303 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). This means that the higher the level of peer social support received by students, the greater their level of self-adjustment.
Dilema Mahasiswa di Era Digital: Korelasi antara FoMO dan Cyberslacking Alvaridzi, Rizky Akbar Dwi; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p601-610

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah mengubah pola interaksi dan kebiasaan belajar mahasiswa, salah satunya dengan meningkatnya penggunaan media sosial yang dapat memicu perilaku cyberslacking. Perilaku ini sering kali dipicu oleh fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu kecemasan akan tertinggal dari informasi atau aktivitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara FoMO dan perilaku cyberslacking pada mahasiswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Partisipan berjumlah 221 mahasiswa aktif Universitas Negeri Surabaya yang rutin menggunakan perangkat digital. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan skala On-FoMO dan skala cyberslacking yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS 27.0. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara FoMO dan cyberslacking dengan nilai pearson correlation 0,402 (p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO, semakin tinggi pula kecenderungan mahasiswa melakukan cyberslacking. Simpulan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa FoMO merupakan faktor psikologis yang dapat memengaruhi perilaku digital non-akademik mahasiswa, sehingga intervensi berbasis regulasi diri dan literasi digital perlu dikembangkan untuk meminimalisasi dampak negatifnya dalam konteks akademik. Abstract The advancement of digital technology has changed the interaction patterns and learning habits of students, one of which is the increased use of social media which can trigger cyberslacking behavior. This behavior is often triggered by the Fear of Missing Out (FoMO) phenomenon, which is anxiety about being left out of information or social activities. This study aims to determine the relationship between FoMO and cyberslacking behavior in college students. The method used is quantitative correlation with purposive sampling technique. Participants totaled 221 active students of Surabaya State University who regularly use digital devices. Data collection was conducted through an online questionnaire using the On-FoMO scale and the cyberslacking scale which had been adapted into Indonesian. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation test with the help of SPSS 27.0. The results of the analysis show that there is a positive and significant relationship between FoMO and cyberslacking with a pearson correlation value of 0.402 (p < 0.001). This finding shows that the higher the level of FoMO, the higher the tendency of students to do cyberslacking. The conclusion of this study indicates that FoMO is a psychological factor that can affect students' non-academic digital behavior, so interventions based on self-regulation and digital literacy need to be developed to minimize its negative impact in the academic context.
Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Tingkat Kesepian Dengan Jenis Kelamin Sebagai Variabel Moderator Pada Mahasiswa Rantau Maslakhah, Chaniva Lailatul; Jaro'ah, Siti; Savira, Siti Ina
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p611-624

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap kesepian dengan variabel jenis kelamin sebagai moderator pada mahasiswa rantau. Dinamika mahasiswa rantau sangat kompleks. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kesepian. Dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesepian. Jenis kelamin menjadi moderator untuk menguji lemah atau kuat hubungan dukungan sosial terhadap tingkat kesepian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain MRA (Moderated Regression Analysis). Populasi pada penelitian ini  berjumlah 400 orang yang terdiri dari 200 perempuan dan 200 laki-laki. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria individu berumur 18 – 25 tahun dan mahasiswa rantau di Surabaya. Alat ukur yang digunakan adalah UCLA Loneliness Scale Version 3 (Russell, 1996) dan dukungan sosial (Sarafino & Smith, 2011). Terdapat pengaruh dukungan sosial sebesar 60% terhadap tingkat kesepian, akan tetapi jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan sebagai variabel moderator. Implikasi temuan ini menggarisbawahi pentingnya dukungan sosial dalam mengurangi tingkat kesepian pada mahasiswa rantau, mengindikasikan bahwa dengan memperoleh dukungan sosial yang baik akan mengurangi tingkat kesepian secara efektif, terlepas dari jenis kelamin mahasiswa rantau. Abstract This study was conducted to investigate the effect of social support on loneliness, with gender as a moderator variable, among sojourning university students. The dynamics experienced by sojourning students are highly complex, and one of the significant challenges they face is loneliness. Social support is identified as a factor that can influence the level of loneliness. Gender was included as a moderator to examine the strength of the relationship between social support and loneliness levels. This research employed a quantitative approach with a Moderated Regression Analysis (MRA) design. The study's population consisted of 400 individuals, comprising 200 females and 200 males. Purposive sampling was used to select participants, with inclusion criteria being individuals aged 18–25 years who are sojourning students in Surabaya. The instruments used were the UCLA Loneliness Scale Version 3 (Russell, 1996) and the Social Support Scale (Sarafino & Smith, 2011). The results indicated that social support explained 60% of the variance in loneliness levels; however, gender did not show a significant moderating effect. The implications of these findings underline the importance of social support in reducing loneliness levels in out-of-town students, indicating that obtaining good social support will effectively reduce loneliness levels, regardless of the gender of out-of-town students.
Pengaruh Struktur Organisasi terhadap Efektivitas Kinerja Karyawan Septiani, Melati
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p625-635

Abstract

Struktur organisasi merupakan faktor penting dalam pengelolaan perusahaan yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara struktur organisasi dan kinerja karyawan, serta bagaimana berbagai dimensi struktur organisasi seperti sentralisasi, pembagian tugas, dan komunikasi memengaruhi kinerja di berbagai sektor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh struktur organisasi terhadap kinerja karyawan dengan fokus pada peran dimensi struktur seperti sentralisasi dan komunikasi internal. enelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan menganalisis artikel-artikel yang relevan dari berbagai sumber ilmiah terindeks Sinta dan Scopus. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan relevansi topik dan kredibilitas publikasi. Analisis dilakukan dengan memetakan temuan-temuan utama dari penelitian terkait dan melakukan sintesis untuk mendapatkan gambaran komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Struktur yang jelas dan efektif dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja. Namun, tingkat pengaruhnya bervariasi tergantung pada sektor dan faktor kontekstual lainnya. Dimensi seperti sentralisasi dan komunikasi internal memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja karyawan. Penelitian ini menegaskan pentingnya desain struktur organisasi yang tepat dalam mendukung kinerja karyawan. Temuan ini dapat menjadi dasar rekomendasi bagi organisasi dalam merancang struktur yang optimal, dengan memperhatikan konteks dan budaya organisasi untuk mencapai hasil yang maksimal. Abstract Organizational structure is an important factor in corporate management that can influence employee performance. This study aims to examine the relationship between organizational structure and employee performance, as well as how various dimensions of organizational structure, such as centralization, division of tasks, and communication, affect performance in various sectors. This study aims to analyze the influence of organizational structure on employee performance, focusing on the role of structural dimensions such as centralization and internal communication. The study employs a literature review approach, analyzing relevant articles from various indexed scientific sources such as Sinta and Scopus. Article selection was based on topic relevance and publication credibility. The analysis was conducted by mapping the main findings from related studies and synthesizing them to obtain a comprehensive overview. The research findings indicate that organizational structure has a significant influence on employee performance. A clear and effective structure can enhance productivity and work efficiency. However, the extent of its influence varies depending on the sector and other contextual factors. Dimensions such as centralization and internal communication play a crucial role in improving employee performance. This study emphasizes the importance of designing an appropriate organizational structure to support employee performance. These findings can serve as a basis for recommendations to organizations in designing an optimal structure, taking into account the context and culture of the organization to achieve maximum results.
Psychological Well-Being pada Wanita Dewasa Awal yang Mengalami Perselingkuhan dalam Hubungan Pacaran Ahzani, Syalma; Satwika, Yohana Wuri
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p636-646

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi psychological well-being (PWB) perempuan dewasa awal setelah mengalami perselingkuhan dalam hubungan pacaran, dengan mengacu pada enam dimensi kesejahteraan psikologis menurut Ryff (1989). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi interpretatif. Partisipan berjumlah lima orang perempuan dewasa awal yang mengalami perselingkuhan dalam hubungan pacaran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan panduan semi-terstruktur. Analisis data menggunakan thematic analysis berbasis teori (theory-driven). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa perselingkuhan berdampak pada dinamika psychological well-being partisipan secara kompleks. Pada dimensi self-acceptance, partisipan mengalami perasaan tidak berharga dan keterasingan terhadap apresiasi. Pada dimensi positive relations with others, partisipan menunjukkan kehilangan kepercayaan terhadap orang lain serta kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Pada dimensi autonomy, partisipan mulai menyadari pentingnya menjaga batas diri dan mengambil keputusan secara mandiri. Dalam dimensi environmental mastery, partisipan mengambil alih kendali hidup pasca trauma, termasuk menyusun ulang prioritas dan rutinitas harian. Pada dimensi purpose in life, partisipan mengalami kehilangan arah dan makna hidup setelah perselingkuhan, sebelum kemudian menemukan kembali orientasi hidup yang baru. Sementara itu, pada dimensi personal growth, partisipan mengalami perubahan cara berpikir terhadap hubungan dan batas diri. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman perselingkuhan membawa dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis perempuan dewasa awal, namun juga mendorong terjadinya proses penataan ulang kehidupan yang lebih selaras dengan kebutuhan pribadi. Abstract This study aims to describe the psychological well-being (PWB) conditions of early adult women after experiencing infidelity in romantic relationships, referring to the six dimensions of well-being proposed by Ryff (1989). This research used a qualitative approach with an interpretative phenomenological method. The participants consisted of five early adult women who had experienced infidelity during dating relationships. Data were collected through in-depth interviews using a semi-structured guide, and the data analysis employed theory-driven thematic analysis. The findings reveal that infidelity leads to complex dynamics in the participants' psychological well-being. In the self-acceptance dimension, participants experienced feelings of worthlessness and alienation from appreciation. In the positive relations with others dimension, participants showed a loss of trust in others and a tendency to withdraw from social interactions. The autonomy dimension was reflected in participants' awareness of the need to set personal boundaries and make independent decisions. In the environmental mastery dimension, participants took control of their lives post-trauma, including restructuring their priorities and daily routines. Regarding purpose in life, participants initially lost their sense of direction and life meaning after infidelity, before gradually finding new life orientations. Meanwhile, in the personal growth dimension, participants showed a shift in their perspective on relationships and personal boundaries. These findings indicate that infidelity has a significant impact on the psychological well-being of early adult women but can also trigger a process of restructuring life in alignment with personal needs.
STUDI FENOMENOLOGI: PENGALAMAN SELF DIAGNOSIS PADA REMAJA PEREMPUAN Hazari, Youwanda; Maghfiroh, Fitrania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p647-662

Abstract

Self-diagnosis kesehatan mental menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan remaja perempuan, terutama dengan kemudahan akses informasi melalui internet. Namun, perilaku ini menimbulkan kekhawatiran karena tidak selalu didasarkan pada pemahaman yang tepat dan dapat memengaruhi cara individu menangani kondisi psikologisnya. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana remaja perempuan membentuk pengalaman dan makna di balik tindakan self-diagnosis yang mereka lakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi fenomenologi. Subjek penelitian adalah remaja perempuan berusia 17–21 tahun yang melakukan self diagnosis kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku self diagnosis dipengaruhi oleh interaksi antara faktor personal, lingkungan digital (kemudahan akses informasi melalui internet), serta pengaruh sosial. Teori Kognitif Sosial memberikan kerangka yang komprehensif dalam memahami perilaku ini sebagai respons terhadap kondisi sosial-psikologis yang kompleks dan saling berinteraksi. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya peningkatan literasi digital dan kesehatan mental, serta perlunya penelitian lebih lanjut terkait pengaruh faktor budaya, usia, dan tingkat pendidikan terhadap perilaku self diagnosis di era digital. Abstract Self-diagnosis of mental health is becoming an increasingly common phenomenon among adolescent girls, especially with the ease of access to information via the internet. However, this behavior raises concerns because it is not always based on proper understanding and can affect how individuals deal with their psychological conditions. This study was conducted to understand how adolescent girls shape the experiences and meanings behind their self-diagnosis actions. This study used a qualitative approach with a phenomenological study design. The subjects of the study were adolescent girls aged 17–21 years who had self-diagnosed their mental health in the past 12 months. Data collection was carried out through semi-structured interviews, while the data analysis technique used thematic analysis. The results of the study indicate that self-diagnosis behavior is influenced by the interaction between personal factors, the digital environment (ease of access to information via the internet), and social influences. Social Cognitive Theory provides a comprehensive framework for understanding this behavior as a response to complex and interacting socio-psychological conditions. This study recommends the importance of increasing digital literacy and mental health, as well as the need for further research related to the influence of cultural factors, age, and education level on self-diagnosis behavior in the digital era.
Hubungan antara Adiksi Game Online dengan Prokrastinasi Akademik pada Siswa SMK X Tsabita, Zahiroh; Dewi, Damajanti Kusuma
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p663-675

Abstract

Adiksi game online merupakan suatu kondisi di mana individu secara berlebihan dan terus-menerus bermain game online. Keterlibatan yang intens dalam bermain game dapat menyebabkan individu mengabaikan berbagai aktivitas penting lainnya, termasuk kewajiban akademik. Kondisi ini berpotensi menimbulkan perilaku menunda penyelesaian tugas akademik atau dapat disebut dengan prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adiksi game online dengan prokrastinasi akademik pada siswa SMK. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner berupa Google Form. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK kelas X dan XI, dengan jumlah total 308 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasional dengan uji Pearson Product Moment menggunakan perangkat lunak SPSS 22 for Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,602 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,00. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan positif yang signifikan dengan tingkat kekuatan sedang antara adiksi game online dan prokrastinasi akademik pada siswa SMK. Abstract Online game addiction is a condition in which an individual engages excessively and continuously in online gaming. Intense involvement in gaming activities can lead individuals to neglect various other important responsibilities, including academic obligations. This condition has the potential to result in the postponement of academic task completion, a behavior commonly referred to as academic procrastination. This study aims to examine the relationship between online game addiction and academic procrastination among high school (SMK) students. The research employed a quantitative approach with data collection conducted through a questionnaire distributed via Google Forms. The population in this study consisted of 308 students from 10th and 11th grades. The data were analyzed using correlational analysis with the Pearson Product Moment correlation test, assisted by SPSS version 22 for Windows. The results of the analysis showed a correlation coefficient (r) of 0.602 with a significance value (p) of 0.00. These findings indicate a significant positive relationship of moderate strength between online game addiction and academic procrastination among vocational high school students.
Hubungan antara Perilaku Prososial dengan Psychological Well-Being pada Mahasiswa Psikologi Ramadhani, Berlian Novira Sonya; Dewi, Damajanti Kusuma
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p692-704

Abstract

Mahasiswa cenderung menghadapi tingkat tekanan psikologis yang lebih besar dibandingkan dengan populasi orang dewasa secara umum. Tuntutan akademik, tekanan sosial, dan pencarian jati diri seringkali menjadi faktor yang memperburuk kondisi psikologis mereka. Dalam konteks ini, psychological well-being menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kualitas hidup mahasiswa. Salah satu faktor yang diduga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis adalah perilaku prososial, yaitu tindakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Perilaku ini diyakini mampu meningkatkan perasaan bermakna, keterhubungan sosial, dan kepuasan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku prososial dengan psychological well-being pada mahasiswa psikologi yang tergabung dalam Organisasi X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 203 mahasiswa. Teknik analisis yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara perilaku prososial dan psychological well-being (r = 0,546; p < 0,05) dengan kekuatan korelasi sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perilaku prososial, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis mahasiswa. Abstract University students tend to face higher levels of psychological pressure compared to the general adult population. Academic demands, social pressures, and the search for identity often exacerbate their psychological challenges. In this context, psychological well-being becomes an important indicator for assessing students’ quality of life. One factor that is believed to contribute to improved psychological well-being is prosocial behavior, voluntary actions intended to help others without expecting anything in return. This behavior is thought to enhance a sense of meaning, social connectedness, and life satisfaction. This study aims to examine the relationship between prosocial behavior and psychological well-being among psychology students who are members of Organization X. A quantitative correlational approach was used with 203 student respondents. Data were analyzed using the Pearson Product-Moment correlation technique. The findings show a significant positive relationship between prosocial behavior and psychological well-being (r = 0.546; p < 0.05), with a moderate correlation strength. These findings suggest that the higher the level of prosocial behavior, the higher the psychological well-being of the students.
Hubungan Antara Manajemen Waktu dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Pengguna Aplikasi TikTok Wahidah, Anfiyah Zahrotul; Khoirunnisa, Riza Noviana
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p676-691

Abstract

Manajemen waktu adalah suatu kemampuan yang digunakan oleh seseorang untuk merencanakan, mengatur serta memanfaatkan waktu secara efektif dalam menjalankan aktivitas akademik. Sedangkan prokrastinasi akademik merupakan kecenderungan mahasiswa dalam menunda menyelesaikan tugas atau aktivitas akademik yang seharusnya dilakukan dalam waktu tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara manajemen waktu dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa pengguna aplikasi tiktok. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif yang diukur dengan dua skala, yakni skala manajemen waktu berdasarkan teori Therese Hoff Macan dan skala prokrastinasi berdasar pada teori Svartdal & Steel. Responden dalam penelitian ini adalah Mahasiswa di Kota Surabaya. Penelitian ini dilakukan secara online dengan pengumpulan data melalui google form. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode  sampling insidental  dan diperoleh subjek sebanyak 385 Mahasiswa. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan uji korelasi pearson. Berdasarkan hasil olah data, diketahui bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara manajemen waktu dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa pengguna aplikasi Tiktok yang ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,540, yang artinya manajemen waktu dan prokrastinasi akademik memiliki tingkat hubungan yang sedang. Sehingga, semakin baik kemampuan mahasiswa dalam mengatur waktu, maka semakin kecil kecenderungannya untuk menunda tugas.  Abstract Time management is an ability used by someone to plan, organize and utilize time effectively in carrying out academic activities. While academic procrastination is the tendency of students to delay completing tasks or academic activities that should be done within a certain time. The purpose of this study was to determine the relationship between time management and academic procrastination in students who use the TikTok application. This study uses a quantitative approach method measured by two scales, namely the time management scale based on Therese Hoff Macan's theory and the procrastination scale based on Svartdal & Steel's theory. Respondents in this study were students in Surabaya City. This research was conducted online by collecting data through Google Form. The sampling technique used the incidental sampling method and obtained 385 students as subjects. The analysis used is descriptive statistical analysis and Pearson correlation test. Based on the results of data processing, it is known that there is a significant negative correlation between time management and academic procrastination in students who use the TikTok application as indicated by a correlation coefficient value of -0.540, which means that time management and academic procrastination have a moderate level of relationship. Thus, the better a student's ability to manage time, the less likely they are to postpone assignments.
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Work-Life Balance pada Karyawan di PT. X Tanessa, Valencia Imelda; Halida, Arfin Nurma
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p714-729

Abstract

Work-life balance menjadi isu penting dalam dunia kerja, terutama di sektor ritel yang dikenal dengan beban kerja tinggi dan sistem kerja shifting. Salah satu faktor yang berperan dalam pencapaian work-life balance adalah kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan work-life balance pada karyawan di PT. X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik sampling jenuh, yang melibatkan seluruh karyawan tetap di PT. X sebanyak 43 orang. Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil analisis data memperlihatkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai korelasi pearson sebesar 0,759. Artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara variabel kecerdasan emosional dengan variabel work-life balance. Semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki karyawan maka semakin tinggi pula work-life balance karyawan. Begitupun sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional yang dimiliki karyawan maka semakin rendah juga work-life balance karyawan. Hipotesis dalam penelitian ini diterima, yakni terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan work-life balance pada karyawan di PT. X. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan dapat mempertimbangkan penyusunan program pelatihan kecerdasan emosional yang terstruktur dan berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan serta work-life balance karyawan. Abstract Work-life balance has become a critical issue in the workplace, particularly in the retail sector, which is characterized by high workloads and shift-based schedules. One factor that contributes to achieving work-life balance is emotional intelligence. This study aims to examine the relationship between emotional intelligence and work-life balance among employees at PT. X. The research employed a quantitative correlational method with a saturated sampling technique involving all 43 permanent employees at PT. X. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation. The results showed a significance value of 0.000 < 0.05 and a Pearson correlation coefficient of 0.759, indicating a significant positive relationship between emotional intelligence and work-life balance. Higher levels of emotional intelligence are associated with better work-life balance, and vice versa. The hypothesis is supported by the findings. The implications suggest that companies may consider implementing structured and continuous emotional intelligence training programs to improve employee well-being and support a healthier work-life balance.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 3 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 2 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 1 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 3 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 2 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 1 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 8 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 7 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 6 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 9 No. 5 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 4 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 3 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 2 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 9 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 8 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 7 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 6 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 5 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 4 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 3 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 2 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 1 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 04 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 03 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 3 (2020) Vol. 7 No. 2 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 6 No. 5 (2019) Vol. 6 No. 4 (2019) Vol. 6 No. 3 (2019) Vol. 6 No. 2 (2019) Vol. 6 No. 1 (2019) Vol. 5 No. 3 (2018) Vol. 5 No. 2 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 5 No. 1 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 3 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 2 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 1 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 01 (2016): Character Vol. 3 No. 3 (2015): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 3 No. 2 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 2 No. 3 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 3 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 2 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi More Issue