cover
Contact Name
Susilo Restu Wahyuno
Contact Email
jprokep@centamaku.ac.id
Phone
+6285727119988
Journal Mail Official
jprokep@centamaku.ac.id
Editorial Address
Jalan Lingkar Kudus-Pati KM.5 Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, 59381
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Profesi Keperawatan
ISSN : -     EISSN : 27760065     DOI : https://doi.org/10.31596/jprokep
Core Subject : Health,
Nursing: including Health Children Nursing, Nursing Management, Medical Surgical Nursing, Maternity Nursing, Psiciatric Nursing, Community Nursing, Gerontology Nursing, Emergency Nursing, Family Nursing
Articles 177 Documents
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PERAWAT PELAKSANA DAN MOTIVASI PERAWAT DALAM MENERAPKAN KOMUNIKASI THERAPEUTIK PADA FASE KERJA DI RUMAH SAKIT ISLAM SUNAN KUDUS jamaludin jamaludin; Icca narayani Pramudaningsih
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v3i2.23

Abstract

Berdasarkan analisa penelitian hubungan antara karakteristik perawat pelaksana dengan motivasi perawat dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja diRumah Sakit Islam Sunan Kudus. Pada penelitian ini pengambilan sample dilakukan dengan tekhnik simple random sampling, yaitu setiap anggota populasi mempunyai mempunyai peluang yang sama untuk menjadi anggota sampel dengan cara undian, besarnyasampel didapatkan 47 orang sampel.Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan menggunakan pendekatan cross-sectional, yaitu penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran data variable bebas dan variabel terikat dalam waktu bersamaan. Sedangkan desain penelitiannya adalah explanatory research design, dimana peneliti mencari penjelasan mengenai adanya hubungan antara karakteristik perawat dengan motivasi menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan menguji hipotesa yang telah dibuat Hasil penelitian menunjukan bahwa karaktersitik perawat mempunyai hubungan yang signifikan dengan motivasi perawat dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja, yaitu pada dimensi pendidikan dengan signifikansi 0.000, pada dimensi pelatihan dengan signifikansi 0.000, pada dimensi umur dengan signifikansi 0.021, pada dimensi lama kerja dengan signifikansi 0.034. namun ada satu variable yang secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna yaitu pada dimensi jenis kelamin dengan signifikansi 0.135.
GAMBARAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KELING I JEPARA Purwandari, Nila Putri; Winarsih, Biyanti Dwi; Faidah, Noor; Hidayat, Wahyu Tjahja
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v11i1.177

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Aktivitas fisik merupakan salah satu pilar dalam penatalaksanaan diabetes melitus. Aktivitas fisik yang mengacu pada semua Gerakan secara teratur terbukti dapat membantu mencegah dan menangani penyakit tidak menular seperti diabetes melitus dapat mengontrol kadar gula darah, menurunkan berat badan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dan total sampling dengan melakukan survei yaitu melakukan penelitian dengan cara membagikan kuesioner dan Sample dalam penelitian ini adalah semua pasien diabetes melitus sebanyak 43 pasien. Hasil: analisa dari total 43 pasien yang melakukan aktivitas fisik didapatkan hasil 11 pasien (26%) melakukan aktivitas fisik ringan, 17 pasien (39%) melakukan aktivitas fisik sedang dan 15 pasien (35%) melakukan aktivitas fisik berat. Simpulan: Aktivitas fisik pada pasien diabetes melitus di puskesmas Keling I menunjukan aktivitas fisik dengan kategori sedang. KataKunci : Aktivitas fisik, Diabetes Melitus
PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA DAN DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT PADA PENDERITA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS GRIBIG KUDUS jamaludin jamaludin
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v5i1.51

Abstract

Abstrak Penyakit hipertensi sering disebut sebagai the silent disease atau pembunuh diam-diam, karena pada umumnya penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Kepatuhan menjalani pengobatan sangat diperlukan untuk mengetahui tekanan darah serta mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan terhadap kepatuhan berobat hipertensi pada lansia di Puskesmas Gribig kudus.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Explanatory Research. Teknik pengambilan data melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Pengambilan data dilakukan pada 123 lansia dengan hipertensi yang berobat dipuskesmas Gribig kabupaten Kudus. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat menggunakan Chi-Square dan multivariat menggunakan regresi logistic Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kepatuhan berobat pada penderita hipertensi lansia yaitu pendidikan, pengetahuan,sikap,efek samping obat, ketersediaan dana, ketersediaan transportasi, dukungan keluarga serta dukungan petugas kesehatan.Dua variabel yang berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan hipertensi pada lansia yaituvariabel dukungan keluarga ( nilai p = 0,004), variabel dukungan petugas kesehatan ( nilai p = 0,007)   . Disarankan agar masyarakat harus aktif mengikuti penyuluhan/sosialisasi yang berkaitan dengan hipertensi untuk menambah pengetahuan terutama bagi lansia. Sebaiknya petugas kesehatan memberikan penyuluhan lebih intensif kepada masyarakat tentang hipertensi terutama mengenai gejala dan penyebab hipertensi serta pentingnya melakukan kontrol tekanan darah dan berobat secara rutin untuk menghindari komplikasi. Kata kunci: Dukungan Keluarga, Dukungan petugas kesehatan,kepatuhan berobat ABSTRACT Hypertensive disease is often referred to as the silent disease or silent killer, because in general the patient does not know himself suffering from hypertension before checking his blood pressure. Adherence to treatment is necessary to determine blood pressure and prevent complications. This study aims to determine the effect of family support and support of health workers on compliance to treatment of hypertension in the elderly in Puskesmas Gribig kudus.Penelitian is a quantitative study with Explanatory Research approach. Technique of collecting data through interview by using questioner. The data were collected at 123 elderly with hypertension medication at Gribig district of Kudus. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distribution, bivariate using Chi-Square and multivariate using logistic regression. The results showed that the variables related to adherence treatment in elderly hypertensive patients were education, knowledge, attitude, drug side effect, availability of fund, transportation availability, family support and support of health workers. Two variables that influence the compliance of hypertension treatment in elderly are family support variable (p value = 0,004), health officer support variable (p value = 0,007). It is suggested that the community should actively follow the counseling / socialization related to hypertension to increase knowledge especially for the elderly. Health workers should provide more intensive counseling to the community about hypertension, especially about the symptoms and causes of hypertension and the importance of blood pressure control and treatment routinely to avoid complications. Keywords: Family Support, Health officer support, treatment compliance
STUDI DESKRIPTIF TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG PELAKSANAAN PATIENT SAFETY DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS Yusiyanto, Wahyu; Winarsih, Biyanti Dwi; Ningsih, Siti Ragelia
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.220

Abstract

ABSTRAKKeselamatan patient merupakan suatu hal yang utama yang harus dilakukan terlebih dengan pelopor tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit karena sangat erat hubungannya dan akan mempengaruhi kualitas pelayanan di rumah sakit. Tujuan dilaksanakannya peraturan keselamatan patient di rumah sakit adalah agar keselamatan patient terlindungi serta terhindar dari insiden yang tidak diharapkan. Dari hasil survey pendahuluan di dapat data perawat yang sudah pelatihan patient safety sebanyak 152 perawat. Sedangkan yang belum melakukan pelatihan patient safety sebanyak 33 perawat dan yang belum  tersosialisasi 55.Metode penelitian menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan penelitian ini dengan cross sectional, sampel yang digunakan sebanyak 60 responden dengan menggunakan tehnik stratified random sampling Hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan perawat baik sebanyak 58 responden (96.7%), sedangkan responden dengan pengetahuan cukup sebanyak 2 responden (3.3%).Tingkat pengetahuan perawat tentang pelaksanaan patient safety di ruang rawat inap Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus dari 60 responden tingkat pengetahuan yaitu pengetahuan baik sebanyak 58 responden (96.7%).Kata Kunci : Pengetahuan, Perawat dan Patient Safety. 
Pengaruh Spyritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Tingkat Insomnia pada Penderita HIV/IDS (ODHA) Eny pujiati; Irma Febita
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v6i1.59

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penderita HIV/AIDS (ODHA) mengalami prevalensi insomnia yang lebih tinggi daripada populasi umum. Hampir 73 % pasien HIV/AIDS mengalami gangguan tidur, angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami HIV/AIDS yang hanya sekitar 10-40% . Katherine (2012) mengatakan bahwa semakin berat derajat HIV/AIDS semakin berat pula gangguan tidur yang dialami. Penatalaksanaan farmakologis untuk insomnia yaitu dengan memberikan obat dari golongan sedatif-hipnotik seperti  benzodiazepin, sedangkan penatalaksanaan non farmakologis meliputi  terapi  pembatasan tidur,  terapi  kontrol  stimulus,  terapi pencatatan waktu tidur (sleep diary) dan terapi komplementer. Terapi komplementer yang dapat direkomendasikan oleh perawat komunitas untuk gangguan tidur adalah terapi Spyritual Emotional Freedom Tehnique (SEFT). Tujuan: untuk menganalisa pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan tingkat insomnia pada ODHA. Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan metode quasi eksperiment design berbentuk non equivalent (pretest dan postest) control group design. Pengambilan sampel dengan purposive sampling berjumlah 34 responden. Pengumpulan data dengan instrument skala insomnia dan analisa data menggunakan  Independent t-test. Hasil penelitian: menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan tingkat insomnia pre test dan post test pada kelompok intervensi dengan nilai p value 0,000, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan dengan nilai p value 0,188. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diharapkan ODHA menjadikan terapi SEFT sebagai salah satu penatalaksanaan non-farmakologi untuk menurunkan tingkat insomnia. Kata Kunci: ODHA, Insomnia, Spyritual Emotional Freedom Technique     ABSTRACT Background: People with HIV / AIDS (PLWHA) experience a higher prevalence of insomnia than the general population. Nearly 73% of HIV / AIDS patients experience sleep disorders, this figure is much higher when compared to individuals who do not experience HIV / AIDS, which is only around 10-40%. Katherine (2012) said that the more severe the degree of HIV AIDS the more severe sleep disorders experienced. Pharmacological management of insomnia is by giving drugs from sedative-hypnotic groups such as benzodiazepines, while non-pharmacological management includes sleep restriction therapy, stimulus control therapy, sleep diary recording, and complementary therapy. The complementary therapy that community nurses can recommend for sleep disorders is the therapy of Spyritual Emotional Freedom Tehnique (SEFT). Objective: to analyze the effect of SEFT therapy on reducing the level of insomnia in people living with HIV. Research Methods: This type of research is quantitative with a quasi-experimental design method in the form of non equivalent (pretest and posttest) control group design. Sampling with purposive sampling amounted to 34 respondents. Data collection with instrument scale insomnia and data analysis using Independent t-test. Results of the study: showed that there was an effect of SEFT therapy on the decrease in the level of pre-test and post-test insomnia in the intervention group with a p value of 0,000, whereas in the control group there was no difference with a p value of 0.188. Based on the results of the research conducted, it is expected that ODHA make SEFT therapy as one of the non-pharmacological management to reduce the level of insomnia. Keywords: PLWHA, Insomnia, Spyritual Emotional Freedom Technique
Terapi Pijat Punggung sebagai Perawatan Daya Ingat (Bahasa) Lansia Di Desa Undaan Tengah Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus Amalia Nurul Hidayati; Icca Narayani Pramudaningsih
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v7i1.75

Abstract

AbstrakPenuaan terjadi pada setiap individu, dimana prosesnya tidak dapat dihindarkan, namun setiap manusia dapat menghambatnya. Lansia secara umum akan mengalami kemunduran kognitif akibat penurunan fungsi otak, dimana hal ini terjadi secara fisiologis. Dan pada lanjut usia seiring dengan berjalannya waktu, akan terjadi penurunan berbagai fungsi organ tubuh, penurunan fungsi ini disebabkan karena berkurangnya jumlah sel secara anatomis. Permasalahan di Desa Undaan Tengah Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus terdapat penurunan daya ingat pada lansia. Lansia menyatakan permasalahan mengenai penurunan daya ingat yang dialami dan dirasakan sudah sejak lama. Sampai saat ini perawatan terhadap penurunan daya ingat pada lansia di Desa Undaan Tengah Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus menggunakan terapi pijat punggung masih belum pernah diberikan. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah metode deskriptif studi kasus dengan penerapan kasus serta menggunakan pendekatan proses keperawatan dengan memfokuskan pada salah satu masalah penting dalam kasus yang dipilih yaitu terapi pijat punggung sebagai perawatan daya ingat (bahasa) lansia. Tujuan studi kasus ini adalah untuk menggambarkan penerapan terapi pijat punggung sebagai perawatan daya ingat (bahasa) lansia. Studi kasus ini dilakukan pada tanggal 10 Juni 2019 pada Ny.T dan Ny.S. Hasil yang didapatkan setelah diberikan perawatan terapi pijat puggung Ny.T mendapatkan nilai 24 dan Ny.S mendapatkan nilai 25, maka disimpulkan bahwa dengan memberikan tindakan terapi pijat punggung pada responden yang mengalami penurunan daya ingat (bahasa) adalah efektif meningkatkan daya ingat (bahasa) pada responden yang mengalami gangguan fungsi kognitif ringan.Kata kunci : Lansia, Daya Ingat (bahasa), Terapi Pijat Punggung
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN KELUARGA PASIEN YANG MENDERITA STROKE DI RSI NU DEMAK Emma Setiyo Wulan; Iin Widdiyanti
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v8i2.100

Abstract

Stroke merupakan penyakit bahaya dan menyebabkan kematian, sehingga keluarga merasa cemas akan keadaan yang bisa berubah setiap saat. Kecemasan yang dialami oleh keluarga pasien kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan informasi tentang perkembangan atau kondisi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dngan kecemasan kelurga pasien dengan penyakit stroke di RSI NU Demak. Desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pasien stroke yang di rawat di RSI NU Demak berjumlah 45 orang. Sampel adalah sebanyak 45 responden dengan teknik purposive sampling. Variabel independen tingkat pengetahuan keluarga dan variabel dependen kecemasan keluarga. Instrumen kuesioner, analisis data uji Rank Spearman. Hasil didapatkan sebagian besar mengalami tingkat kecemasan sedang dan setengahnya memiliki tingkat pengetahuan sedang. Uji didapatkan ? = 0,000 artinya ? < ? = 0,05 maka H? ditolak artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kecemasan keluarga pasien yang menderita stroke. Simpulan keluarga pasien stroke yang memiliki pengetahuan baik tentang penyakit stroke tidak mengalami kecemasan. Diharapkan keluarga pasien banyak mencari informasi tentang penyakit stroke, sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan. Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan, Kecemasan
PENGARUH PEMASANGAN BIDAI DENGAN TINGKAT NYERI PADA PASIEN FRAKTUR IGD RSUD DR. LOEKMONO HADI KUDUS Noor Faidah; Galia Wardha Alvita
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v9i1.112

Abstract

Fraktur yang terjadi pada pasien mayoritas menimbulkan rasa nyeri dari nyeri sedang hingga nyeri berat. Balut bidai sendiri untuk mengistirahatkan (Imobilisasi) bagian tubuh yang cidera. Dengan imobilisasi maka akan dapat menurunkan rasa nyeri pada pasien.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemasangan bidai dengan tingkat nyeri pada pasien fraktur. Desain penelitian yang digunakan peneliti adalah Quasy Eksperimen dengan rancangan pre-post test. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 36 responden. Teknik sampling yang digunakan aadalah  Accidental sampling selama 2 bulan berdasarkan kriteria inklusi eksklusi. Berdasarkan uji analysis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai hasil  p-value 0,000, dari hasil analisa data diemukan pula sebelum pemasangan bidai sebagian besar responden (50%) mengalami nyeri berat sedangkan setelah dilakukan pemasangan bidai nyeri berkurang dan sekitar 97,1 % mengalami nyeri sedang.  Sehingga ada pengaruh pemasangan bidai dengan tingkat nyeri pada pasien. Penelitian ini memberikan informasi umum yang berkaitan dengan penatalaksanaan peningkatan rasa nyaman pasien fraktur. Selain itu, temuan dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan saran bagi penyedia layanan kesehatan setempat supaya dapat melaksanakan pemasangan pembidaian dengan tepat karena selain untuk mempercepat penyembuhan juga dapat menurunkan nyeri pasien fraktur.
GAMBARAN KECEMASAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI KELURAHAN CILENDEK BARAT BOGOR Duma Lumban Tobing; Tia Amelia
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v9i2.128

Abstract

ABSTRAK   Seiring bertambahnya usia kejadian tekanan darah tinggi semakin meningkat. Hipertensi menyebabkan lansia mengalami kecemasan akibat penyakit yang diderita lansia tak kunjung sembuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran kecemasan pada lansia dengan hipertensi di Kelurahan Cilendek Barat Bogor. Metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah lansia hipertensi sejumlah 33 orang. Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik Purposive Sampling. Kuesioner geriatric anxiety scale digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan lansia. Hasil penelitian ini menunjukkan lansia yang memiliki kecemasan normal sebanyak 3 orang (9 %), memiliki kecemasan dalam kategori ringan sebanyak 18 orang (54,54%) dan 12 lansia (36,36%) yang memiliki kecemasan dalam kategori sedang. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar lansia hipertensi memiliki tingkat kecemasan yang ringan. Lansia disarankan untuk mengurangi kecemasan dengan melakukan tehnik relaksasi.  Kata kunci: Lansia, Hipertensi, Kecemasan
PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUANG ARIMBI RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang M Afandi; Y Susilowati
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v1i1.2

Abstract

Setelah pasien isolasi social: menarik diri dilakukan stategi pelaksanaan dapat disimpulkan bahwa strategi pelaksanaan (SP) merupakan pendekatan yang bersifat membina hubungan saling percaya antara klien dengan perawat, dampak yang terjadi jika tidak diberikan strategi pelaksanaan (SP) maka akan beresiko terjadinya kasus yang berkepanjangan sehingga dapat mengakibatkan perubahan persepsi sensori halusinasi. Walaupun perkembangan pada pasien hanya sedikit, hal ini sangat wajar karena pada klien dengan isolasi sosial: menarik diri membutuhkan waktu yang lama untuk saling mempercayai antara yang satu dengan yang lain, karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam dirinya, maka dari itu klien tampak menghindari interaksi dengan orang lain dalam jangka waktu yang lama. Hal ini sesuai dengan apa yang telah penulis lakukan selama 3 hari yaitu mengajarkan SP1P, dimana pasien sedikit menunjukkan hasil yang positif yaitu pasien sudah tampak berbicara dan mau menjawab pertanyaan dari penulis.