cover
Contact Name
Susilo Restu Wahyuno
Contact Email
jprokep@centamaku.ac.id
Phone
+6285727119988
Journal Mail Official
jprokep@centamaku.ac.id
Editorial Address
Jalan Lingkar Kudus-Pati KM.5 Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, 59381
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Profesi Keperawatan
ISSN : -     EISSN : 27760065     DOI : https://doi.org/10.31596/jprokep
Core Subject : Health,
Nursing: including Health Children Nursing, Nursing Management, Medical Surgical Nursing, Maternity Nursing, Psiciatric Nursing, Community Nursing, Gerontology Nursing, Emergency Nursing, Family Nursing
Articles 187 Documents
PENERAPAN LATIHAN ISOMETRIC QUADRICEPS TERHADAP PENURUNAN NYERI LUTUT PADA LANSIA DENGAN REUMATOID ARTHRITIS Hasanah, Miftahul Noor; Fitriana, Vera; Hartini, Sri; Jamaludin, Jamaludin; Yuliana, Alvi Ratna; Cahyanti, luluk
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.233

Abstract

Reumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun kronis yang ditandai oleh peradangan sendi, terutama pada sendi-sendi kecil dan besar seperti lutut. Lansia reumatoid arthritis dan menyebabkan nyeri lutut yang signifikan dan berdampak pada penurunan fungsi aktivitas sehari-hari. Pada lansia isometric quadriceps merupakan intervensi non-farmakologis yang efektif untuk memperkuat otot tanpa menyebabkan pergerakan sendi, sehingga aman diterapkan pada penderita reumatoid arthritis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan isometric quadriceps terhadap penurunan nyeri lutut pada lansia dengan reumatoid arthritis. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test design. Sampel sebanyak 13 responden dengan kriteria inklusi nyeri lutut pada lansia  berusia 60-70 tahun dengan reumatoid arthritis dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrument kuesioner Numeric Rating Scale (NRS), standar operasional prosedur (SOP), palu reflek hammer, pengalas badan, handuk. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat nyeri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi berupa terapi isometric quadriceps. Dari 13 responden, sebagian besar berusia > 60 tahun (30,9%) dan dengan reumatoid arthritis. Sebelum intervensi rata-rata 7,38 mengalami nyeri lutut berat dengan reumatoid arthritis. Setelah diberikan intervensi rata-rata 2,8 menjadi tingkat nyeri ringan dengan reumatoid arthritis. Hasil ini menunjukkan adanya penurunan signifikan tingkat nyeri berdasarkan skala Numeric rating scale (NRS) setelah dilakukan latihan. Kesimpulan latihan isometric quadriceps terbukti efektif dalam menurunkan nyeri lutut pada lansia dengan rheumatoid arthritis, serta dapat dijadikan alternatif terapi mandiri yang aman dan mudah dilakukan.
IMPLEMENTASI TERAPI AKUPRESUR PADA TITIK SAYINJIAO (SP6), TITIK XIE HAI (SP10) DAN TITIK TAICHONG (LR3) TERHADAP INTENSITAS DISMENORE PRIMER PADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN NUN PUTRI KUDUS Ngatmini, Ngatmini; Pujiati, Eny; Faidah, Noor; Ambarwati, Ambarwati
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.232

Abstract

Dismenore primer merupakan keluhan nyeri haid tanpa adanya kelainan organik yang sering dialami oleh remaja putri. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan konsentrasi belajar, serta berdampak pada kualitas hidup. Penanganan dismenore secara farmakologis memang efektif, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan, salah satunya adalah terapi akupresur. Akupresur merupakan teknik penekanan pada titik-titik tertentu di tubuh yang berfungsi merangsang pelepasan endorfin sebagai analgesik alami, meningkatkan sirkulasi darah, dan menurunkan kontraksi otot uterus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi akupresur pada titik Sanyinjiao (SP6), Xuehai (SP10), dan Taichong (LR3) terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore primer pada santriwati di Pondok Pesantren Nun Putri Kudus. Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan pre-eksperimen dengan model one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 10 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum terapi, 60% responden mengalami nyeri ringan dan 40% mengalami nyeri sedang. Setelah dilakukan akupresur, sebanyak 10% responden tidak lagi merasakan nyeri, 80% mengalami nyeri ringan, dan hanya 10% yang masih merasakan nyeri sedang. Kesimpulan: hasil ini membuktikan bahwa terapi akupresur efektif menurunkan intensitas nyeri haid melalui mekanisme stimulasi titik tubuh yang memicu pelepasan endorfin dan relaksasi otot.
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI BENSON TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS Majiyah, Desi Khofifatul; Cahyanti, Luluk; Putri, Devi Setya; Yuliana, Alvi ratna; Fitriana, Vera
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.229

Abstract

Diabetes mellitus adalah kondisi kronis yang terjadi karena adanya peningkatan kadar gula darah dalam tubuh yang disebabkan karena gagalnya organ pankreas dalam memproduksi hormon insulin secara memadai. Penyebab diabetes mellitus yaitu terjadinya gangguan metabolisme pankreas yang ditandai dengan peningkatan gula darah atau sering disebut hiperglikemia yang disebabkan oleh penurunan jumlah insulin di pankreas. Tujuan: Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui terapi relaksasi benson terhadap penerapan terapi relaksasi benson untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus. Metode: Metode penulisan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan, sampel yang diambil yaitu 2 responden. Terapi relaksasi benson dilakukan selama 2 kali dalam 1 minggu dengan durasi 15 menit dengan usia 45-49 tahun. Hasil: Hasil pembahasan studi kasus ini tentang penerapan terapi relaksasi benson terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus yang dilakukan pada tanggal 27 juni sampai 29 juni 2024. Responden dalam studi kasus ini adalah 2 orang yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus. Pada responden 1 didapatkan hasil kadar glukosa dalam darah menurun menjadi 332 mg/dl dari kadar glukosa awal 344 mg/dl. Sedangkan pada responden 2 didapatkan hasil kadar glukosa dalam darah menurun menjadi 314 mg/dl dari kadar glukosa awal 320 mg/dl.
PENERAPAN SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) UNTUK PENINGKATAN KUALITAS TIDUR LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL POTROYUDAN JEPARA Pramudyaningsih, Icca Narayani; Erlangga, Jaka Ahmad Chilman; Listyani, Anita Diyah
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.235

Abstract

Kualitas tidur yang buruk merupakan salah satu masalah umum yang sering dialami oleh lansia, yang dapat berdampak pada kesehatan fisik dan psikologis mereka, kondisi ini membutuhkan perhatian yang serius. Buruknya kualitas tidur lansia disebabkan oleh meningkatnya potensi tidur, berkurangnya efisiensi tidur dan terbangun lebih awal karena proses penuaan. Pendekatan farmakologi biasanya menggunakan obat-obatan seperti benzodiazepin, obat sedatif-hipnotis yang memberikan efek cepat namun berbahaya jika digunakan dalam jangka panjang, sedangkan pendekatan nonfarmakologi untuk insomnia atau kesulitan tidur adalah aromaterapi, mandi air hangat, olahraga konsisten terapi medan magnet, terapi bekam, akupunktur dan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique Therapy (SEFT). Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) merupakan salah satu metode intervensi yang menggabungkan teknik penyadaran spiritual dengan stimulasi titik-titik energi pada tubuh untuk mengatasi gangguan emosional dan meningkatkan relaksasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan terapi SEFT dalam meningkatkan kualitas tidur pada lansia.Metode yang digunakan adalah pra-eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest. Subjek penelitian adalah lansia yang mengalami gangguan tidur sedang. Intervensi SEFT dilakukan selama 3 hari dalam waktu 15 menit dengan jumlah 15 responden . Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kualitas tidur setelah dilakukan terapi SEFT, yang ditunjukkan oleh penurunan skor gangguan tidur dan peningkatan durasi serta kualitas tidur subjektif lansia. Dengan demikian, terapi SEFT dapat dijadikan sebagai alternatif intervensi non-farmakologis yang efektif dan mudah diterapkan untuk membantu meningkatkan kualitas tidur pada lansia.
TERAPI MUSIK MOZART TERHADAP PENURUNAN STRES MAHASISWA DALAM MENGHADAPI SKRIPSI Purwaningsih, Elisa; Nur, Hirza Ainin; Widyaningsih, Heriyanti; Ambarwati, Ambarwati
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.230

Abstract

Stres merupakan respon tubuh terhadap situasi atau tekanan yang dirasakan sebagai ancaman atau tantangan baik fisik maupun psiologis. Dampak stres yang dirasakan mahasiswa dalam penyusunan skripsi adalah meningkatnya kegelisahan, ketegangan, kecemasan, serta sakit fisik. Bahkan stres juga dapat mengakibatkan dampak yang paling fatal yaitu terjadinya bunuh diri pada mahasiswa. Dampak stres tersebut dapat dicegah dengan terapi musik mozart. Terapi musik mozart merupakan jenis musik yang efektif sebagai terapi dalam mengurangi stres. Musik Mozart memiliki kecepatan 60-80 detak per menit yang dapat mengalihkan gelombang otak dari beta ke alfa sehingga dapat membuat rileks dan merangsang bagian kreatif otak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penerapan terapi musik mozart terhadap penurunan stres mahasiswa sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif pre experimental design dengan rancangan one gruop pretest-posttest design.  Jumlah sampel sebnyak 16 responden. Terapi  musik mozart dilakukan selama 7 hari berturut-turut dengan durasi 10 menit. Pengukuran tingkat stres menggunakan kuesioner PSS-10 yang diukur sebelum dan sesudah tindakan. Hasil penelitian selama 7 hari berturut-turut menunjukkan hasil tingkat stres sebelum diberikan tindakan yaitu stres rendah 12,5%, stres sedang 75,0%, stres tinggi 12,5% dan tingkat stres setelah diberikan tindakan yaitu tingkat stres rendah 56,3%, stres sedang 43,7%, dan tidak ada responden yang mengalami stres tinggi. Nilai rata-rata atau mean stres sebelum diberikan tindakan yaitu 18.81 dan sesudah diberikan tindakan yaitu 13.81. Melitah hasil penelitian sebelum dan sesudah tindakan menujukkan bahwa terapi musik Mozart dapat menurunkan stres mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini merekomendasikan supaya masyarakat khususnya mahasiswa dapat menerapkan terapi musik mozart untuk mencegah dan mengurangi stres.
PENERAPAN TERAPI BEKAM TERHADAP PENURUNAN ASAM URAT PADA PENDERITA HIPERURISEMIA Aisyah, Noor; Ambarwati, Ambarwati; Apriliyasari, Renny Wulan; Pujiati, Eny
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.231

Abstract

Dalam keadaan normal, asam urat dapat larut di dalam darah pada tingkat tertentu. Apabila kadar asam urat dalam darah melebihi daya larutnya, maka plasma darah akan menjadi sangat jenuh dan keadaan ini disebut dengan hiperurisemia. Asam urat merupakan asam lemah yang didistribusikan dalam cairan ekstraseluler sebagai natrium urat. Jumlah asam urat dalam plasma tergantung pada jumlah makanan atau minuman yang mengandung purin, biosintesis asam urat dan laju ekskresi urat. Kadar asam urat serum plasma diatur oleh 4 komponen sistem transpor ginjal yang meliputi proses filtrasi, reabsorbsi, sekresi dan reabsorbsi paska sekresi. Produksi asam urat yang berlebihan dapat disebabkan karena pengeluaran asam urat melalui ginjal kurang yang disebabkan ginjal yang rusak. Salah satu terapi non-farmakologis yang dapat di berikan adalah terapi bekam yang bertujuan untuk mengeluarkan racun dalam tubuh berupa darah kotor yang salah satunya adalah kadar asam urat. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui gambaran penerapan terapi bekam terhadap penurunan kadar asam urat pada penderita hiperurisemia. Metode : Penelitian ini adalah Deskriptif Kuantitatif dengan desain pre eksperimental pendekatan One Group Pretest-Posttest untuk mengukur kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian terapi bekam. Sampel sebanyak 18 responden pasien hiperurisemia. Pengumpulan data menggunakan pengukuran kadar asam urat sebelum dan sesudah diberikan terapi bekam. Analisa data dilakukan secara univariat. Hasil : Penelitian  ini menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah laki-laki (61,1%) dengan usia dominan 40 tahun. Sebelum intervensi rata-rata kadar asam urat 7,9 mg/dL. Kesimpulan : Setelah intervensi rata-rata kadar asam urat 7,0 mg/dL. Perubahan ini mengidentifikasi bahwa intervensi yang diberikan efektif untuk menurunkan kadar asam urat pada penderita hiperurisemia.
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Jamaludin, Jamaludin; Novitasari, Aprillia; Yusianto, Wahyu; Cahyanti, Luluk
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.234

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) adalah sebuah kategori penyakit yang berhubungan dengan metabolisme, ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi, yang disebabkan oleh masalah dalam pelepasan / penurunan insulin, fungsi insulin, atau keduanya, hal ini juga bisa di sebabkan karena ketidakmampuan hormon insulin dalam tubuh untuk berfungsi dengan baik dalam menjaga keseimbangan gula darah, yang mengakibatkan peningkatan kadar gula dalam darah. Dalam kasus ini peningkatan tertinggi pertama di Jawa Barat sebanyak 186.809, lalu di jawa timur ada 151.878, lalu ada di terakhir jawa Tengah sebanyak 132.565 jiwa. Terapi Relaksasi Otot Progresif merupakan salah satu pengobatan non farmakologi yang saat ini digunakan untuk pengobatan diabetes melitus. Terapi relaksasi otot progresif dapat menjadi salah satu terapi non farmakologi yang aman dan mudah dilakukan serta dapat berfungsi dalam fisiologi tubuh dengan mengatur respon simpatik dan parasimpatik. Tujuan : Untuk menggambarkan implementasi terapi relaksasi orot progresif dalam menurunkan kadar gula darah pada penderita Diabetes melitus tipe 2. Metode : Studi kasus dalam dalam karya ilmiah ini menggunakan metode pre experimental desain dengan menggunakan bentuk one group pre test – post test design. jumlah sample 15 responden yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Hasil : Setelah diberikan terapi relaksasi otot progresif selama 3 hari berturut turut didapatkan hasil mayoritas penderita diabetes melitus adalah perempuan dengan presentase 93,33% dengan karakteristik usia 55-65 dengan presentase 40,00% dan karakteristik pekerjaan sebagai pedagang dengan presentase 46,67% . Rata rata kadar gula darah 15 responden pre test adalah 272 mg / dl. Rata rata nilai kadar gula darah post test 15 responden yaitu 184 mg/dl. Selisih rata rata nilai kadar gula darah pre test dan post test dari 15 responden yaitu 87 mg/dl. Hasil tersebut menunjukan bahwa terdapat penurunan nilai kadar gula darah pada penderita diabetes melitus di Desa Growong Lor setelah dilakukan terapi relaksasi otot progresif. 
GAMBARAN PENERAPAN TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Suyahni, Noptalia; Ambarwati, Ambarwati; Widyaningsih, Heriyanti; Pujiati, Eny
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v13i1.240

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) tipe 2 mempunyai beberapa faktor resiko seperti usia, aktivitas fisik, gaya hidup yang memengaruhi kondisi psikologis pasien, seperti munculnya kecemasan. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan adalah Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Tujuan Penelitian: untuk mengetahui gambaran penerapan terapi SEFT dalam menurunkan kecemasan pada pasien DM tipe 2. Metode: Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan one group pretest-posttest. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Sampel berjumlah 16 pasien DM tipe 2 di wilayah Puskesmas Ngembal Kulon Kudus. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan tingkat kecemasan setelah diterapkan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) selama 3 hari berturut turut dengan durasi 15 -25 menit. Presentase tingkat kecemasan sebelum diberikan mengalami kecemasan berat (87,5%), dan lainnya mengalami kecemasan berat sekali (12,5%), setelah diberikan tindakan presentase kecemasan sedang menjadi (56,3%) dan kecemasan ringan menjadi (43,8%). Penurunan ini menunjukkan bahwa terapi SEFT efektif dalam mengurangi kecemasan pada pasien DM tipe 2.Kesimpulan: Terapi SEFT efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien Diabetes Melitus tipe 2, yang ditunjukkan oleh perubahan tingkat kecemasan dari sebagian besar mengalami kecemasan berat dan sangat berat menjadi kecemasan sedang dan ringan setelah intervensi selama tiga hari berturut-turut.
PENERAPAN TERAPI SEFT TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI Jamaludin, Jamaludin; Astanti, Febyana Galuh; Apriliyasari, Renny Wulan
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v13i1.245

Abstract

Background: Hypertension is a condition where a person experiences an increase in blood pressure that exceeds normal limits. A person is considered to have hypertension if their blood pressure is more than 140/90 mmHg. An increase in blood pressure occurs when there is an increase in systole and diastole, which varies depending on the individual affected. Spiritual emotional freedom technique (SEFT) therapy is a therapy in the form of a combination of energy systems (energy medicine) and spiritual therapy combined with tapping at a predetermined point on several parts of the body which is almost the same as acupuncture and acupressure techniques by stimulating several key points along the 12 energy pathways (energy meridians) of the body. Objective: To describe the implementation of SEFT therapy in lowering blood pressure in hypertensive patients. Methods: The case study in this scientific paper uses a pre experimental design method using the form of a one group pre test - post test design. Results: after being given SEFT therapy for 3 consecutive days, it was found that the majority of hypertensive patients were female with a percentage of 66.67%, with age characteristics of 46-55 years (early elderly period) with a percentage of 60%, and work characteristics as housewives with a percentage of 40%. The average blood pressure value of 15 pre-test respondents was 170 mmHg for systolic blood pressure and 94 mmHg for diastolic blood pressure. The average post test blood pressure value of 15 respondents was 152 mmHg for systolic blood pressure and 87 mmHg for diastolic blood pressure. The difference between the average pre-test and post-test blood pressure values of 15 respondents is 18 mmHg for systolic blood pressure and 7 mmHg for diastolic blood pressure. These results indicate that there is a decrease in blood pressure values in hypertensive patients in Growong Village after SEFT therapy.
HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN BERDASARKAN DIMENSI SERVQUAL DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT AISYIYAH KUDUS Fadilah, Ana; Hidayat, Muhammad Syahid
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v13i1.238

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pelayanan timbal balik dengan tingkat kepuasan pasien di unit rawat inap Rumah Sakit Aisyiyah Kudus. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 90 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert yang mengukur lima dimensi pelayanan timbal balik berdasarkan model SERVQUAL, yaitu kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik pasien. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan parsial dan simultan antara variabel saling pelayanan dan kepuasan pasien.Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi pelayanan kebersihan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepuasan pasien (p<0,05). Dimensi bukti fisik menunjukkan hubungan paling dominan, diikuti oleh daya tanggap, kehandalan, jaminan, dan empati. Secara simultan, saling pelayanan memberikan kontribusi sebesar 85,9% terhadap variasi tingkat kepuasan pasien.Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas pelayanan perdarahan pada seluruh dimensi merupakan faktor penting dalam upaya meningkatkan kepuasan pasien di unit rawat inap. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi manajemen rumah sakit dalam merancang strategi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.