Jurnal Profesi Keperawatan
Nursing: including Health Children Nursing, Nursing Management, Medical Surgical Nursing, Maternity Nursing, Psiciatric Nursing, Community Nursing, Gerontology Nursing, Emergency Nursing, Family Nursing
Articles
177 Documents
HUBUNGAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK USIA SEKOLAH DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI SD 4 KARANGROWO UNDAAN KUDUS TAHUN 2021
Ilham Setyo Budi;
Eko Yulianto;
Anita Dyah Listyarini;
Emma Setiyo Wulan
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v10i1.144
ABSTRAKLatar Belakang : Perkembangan psikososial anak usia sekolah (6-12 tahun) berada dalam Industry vs Inferiority dimana anak memiliki kemampuan menghasilkan karya, berinteraksi dan berprestasi dalam belajar berdasarkan kemampuan diri sendiri.Perubahan pembelajaran pada saat pandemi covid-19 membuat kesulitan bagi siswa sekolah dasar, karena tidak bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka langsung dengan guru dan juga tidak bisa bertemu teman sebaya. Hal ini bisa menimbulkan masalah baru jika hal ini tidak diwaspadai sejak dini. Masalah atau gangguan yang mungkin muncul yaitu gangguan psikososial pada anak. Gangguan tersebut adalah gangguan kognitif dan sosialisasi. Gangguan kognitif yang memiliki tanda sebagai berikut perhatian terganggu, kesulitan berkonsentrasi, pelupa, kesalahan dalam penilaian, hambatan berpikir, rendahnya kreatifitas, bingung,dan takut. Tujuan : Untuk Mengetahui hubungan antara perkembangan psikososial anak usia sekolah dengan prestasi belajar pada masa pandemi covid-19. Metode Penelitian : Jenis penenelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik menggunakan rancangan cross sectional. jumlah siswa kelas 4 dan kelas 5. Dengan jumlah sampel penelitian 54 responden dengan tehnik total sampling. Data diolah dengan menggunakan uji chi square. Pada penelitian ini menggunakan kuesioner perkembangan psikososial anak usia sekolah dan lembar observasi nilai tengah semester ganjil tahun ajaran 2021/2022. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang mengalami perkembangan psikososial cukup adalah 30 responden (55,6%). Pada prestasi belajar siswa berada pada tingkatan prestasi belajar sedang yaitu sebesar 32 siswa (59,3%). Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perkembangan psikososial anak usia sekolah dengan prestasi belajar pada masa pandemic covid-19 di SD 4 Karangrowo Undaan Kudus dengan p value 0,056 (> 0,05). Kata Kunci : Anak Usia Sekolah, Perkembangan Psikososial, Prestasi Belajar
PEMBERIAN MENGKUDU DALAM MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI DUKUH SUSUKAN DESA SAMIREJO KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS
jamaludin jamaludin;
F Irsyadani
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v2i2.13
Berdasarkan pengelolaan yang dilakukan pada pasien Tn. A , penulis menyimpulkan bahwa buah mengkudu sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi yang pada pada awalnya 170/100 mmHg setelah 3 hari meminum jus buah mengkudu tekanan darah turun menjadi 150/100 mmHg. Dimana di dalam buah mengkudu terdapat kandungan scopoletin yang berfungsi untuk memperlebar saluran pembuluh darah yang menyempit dan memperlancar aliran darah. Mengkudu juga mengandung zat aktif lain yaitu xeronine yang berfungsi sebagai diuretik atau meningkatkan produksi air kencing. Sehingga mengkudu sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah. Selain itu diit rendah garam dan tinggi serat juga sebagai faktor pendukung dalam pengontrolan tekanan darah sehingga pada pasien hipertensi harus tetap memperhatikan kebiasaan pola hidup sehari hari.
PENGARUH TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP INSOMNIA PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEPANG KABUPATEN KUDUS
Pujiati, Eny
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.222
ABSTRAKInsomnia merupakan gangguan tidur yang memiliki prevalensi tinggi pada populasi lanjut usia dan berdampak pada penurunan fungsi fisik, kognitif, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Penanganan insomnia melalui pendekatan farmakologis sering kali menimbulkan efek samping, sehingga intervensi nonfarmakologis seperti terapi relaksasi otot progresif menjadi alternatif yang lebih aman dan efektif. Terapi ini berfokus pada proses sistematis mengencangkan dan melemaskan kelompok otot tertentu untuk menginduksi relaksasi menyeluruh dan meningkatkan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jepang, Kabupaten Kudus. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 25 responden lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa terapi relaksasi otot progresif diberikan selama lima sesi berturut-turut dalam satu minggu, dengan durasi 10–15 menit per sesi. Pengukuran tingkat insomnia dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale (IRS). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (88%) dan kelompok usia terbanyak berada pada rentang 70–79 tahun. Sebelum intervensi, mayoritas responden mengalami insomnia sedang (76%) dan berat (8%). Setelah intervensi, sebagian besar responden mengalami insomnia ringan (80%) atau tidak mengalami insomnia (16%). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z sebesar -4,380? dengan p-value 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terapi relaksasi otot progresif berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jepang Kabupaten Kudus. Kata Kunci: Lansia, Terapi relaksasi otot progresif, Insomnia.
EFEKTIFITAS PIJAT SWEDIA DALAM MENURUNKAN HIPERTENSI PADA LANSIA
Fitriana, Vera;
Muarif, Syafii;
Cahyanti, Luluk;
Yuliana, Alvi Ratna;
Jamaludin, Jamaludin
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.223
ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang paling banyak diderita lansia. Masyarakat beranggapan bahwa hipertensi hal yang wajar dan biasa terjadi pada lansia sehingga tidak perlu diatasi. Pengobatan menggunakan obat masih banyak dan orang menjadi ketergantungan pada obat ini, yang menyebabkan tekanan darah naik. Pijat merupakan bentuk intervensi keperawatan yang berfungsi menurunkan tekanan darah guna mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui evaluasi penerapan terapi Pijat swedia pada lansia yang mengalami hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode Pre-Eksperimen dengan desain One Group Pre-Post Test. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 10 responden. Adapun kriteria inklusinya yaitu lansia yang menderita hipertensi tahap 3 (berat) dengan tekanan sistolik 180-189 mmHg dan tekanan diastolik 110-119 mmHg, responden usia 60-90 tahun. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan menggunakan lembar observasi. Pijat swedia dilakukan selama 8 kali pertemuan dalam 1 minggu dengan durasi 15 menit. Hasil pada penelitian ini menunjukkan terjadi penurunan tekanan darah responden. Pada responden 1 hasil sebelum diberikan pijat swedia 180/110mmHg, setelah diberikan tindakan pijat swedia hasilnya 130/70mmHg, responden 2 sebelum tindakan hasil 190/110mmHg dan setelah diberikan tindakan 135/110mmHg, responden 3 sebelum tindakan hasil 180/112mmHg dan setelah diberikan tindakan 130/90 mmHg, responden 4 sebelum tindakan hasil 190/111mmHg dan setelah diberikan tindakan 130/100mmHg, responden 5 sebelum tindakan hasil 200/110mmHg dan setelah diberikan tindakan 130/90mmHg, responden 6 sebelum tindakan hasil 188/115mmHg dan setelah diberikan tindakan 138/90 mmHg, responden 7 sebelum tindakan hasil 185/120mmHg dan setelah diberikan tindakan 120/85mmHg, responden 8 sebelum tindakan hasil 185/110mmHg dan setelah diberikan tindakan 130/80mmHg, responden 9 sebelum tindakan hasil 195/120mmHg dan setelah diberikan tindakan 130/90mmHg dan responden 10 sebelum tindakan hasil 185/115mmHg dan setelah diberikan tindakan 125/85mmHg. Kesimpulan penelitian ini terapi pijat swedia dapat menurunkan tekanan darah pada lansia yang mengalami hipertensi. Kata Kunci : lansia, hipertensi, pijat swedia
HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI DESA TUMPANG KRASAK KECAMATAN JATI KABUPATEN KUDUS
Putri, Salsabila Sofiana;
Widyaningsih, Heriyanti;
Ambarwati, Ambarwati;
Faidah, Noor;
Hartini, Sri;
Winarsih, Biyanti Dwi;
Arsy, Gardha Rias
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.224
ABSTRAKLatar Belakang: Hipertensi pada lansia dikaitkan dengan proses penuaan yang terjadi pada tubuh. Semakin bertambah usia seseorang, tekanan darah juga semakin meningkat. Meskipun proses penuaan memang sesuatu yang alami, lansia dengan hipertensi tetap berisiko mengalami komplikasi penyakit yang lebih serius. Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah arteri menjadi semakin keras dan tidak elastis.Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah jadi semakin kaku dan kinerja jantung dalam memompa darah jadi semakin berat. Akibatnya, tekanan darah jadi meningkat. Selain itu, perubahan hormon setelah menopause juga bisa menyebabkan hipertensi pada wanita lansia. Kadar hormon estrogen yang menurun setelah menopause membuat pembuluh darah arteri mengeras dan tegang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Desa Tumpang Krasak Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional, desain penelitian yang digunakan adalah metode survei. Instrumen penelitian berupa kuesioner tentang pola makan berisi 39 pernyataan. Subyek penelitian adalah lansia yang menderita hipetensi di Desa Tumpang Krasak Kecamatan Jati Kabupaten Kudus, dengan rentang usia lansia > 60 tahun dan lansia dengan tekanan darah >120->160mmHg/ >80-100mmHg di Desa Tumpang Krasak Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Teknik sampling menggunakan rumus arikunto dengan jumlah responden 56 orang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Tumpang Kasak Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Hasil: Pola Makan yang dikonsumsi pada lansia adalah pola makan tidak baik sebanyak 35 responden (62,5%). Untuk kejadian hipertensi pada lansia adalah hipertensi stadium II sebanyak 37 responden (66,1%). Simpulan: Pola Makan yang dikonsumsi pada lansia adalah pola makan tidak baik sebanyak 35 responden (62,5%), dan kejadian hipertensi pada lansia adalah hipertensi stadium II sebanyak 37 responden (66,1%). Kata Kunci: Pola Makan, Kejadian Hipertensi, Lansia.
PERSEPSI IBU TENTANG MANFAAT PIJAT BAYI TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN BAYI
Yuliana, Alvi Ratna;
Sa'adah, Tri Rakhmawati;
Cahyanti, Luluk;
Fitriana, Vera
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.225
ABSTRAK Anak usia 0 – 12 bulan merupakan masa keemasan (golden period) sekaligus masa kritis bagi pertumbuhan anak. Pertumbuhan bayi ditandai dengan perubahan fisik dan bertambahnya jumlah dan ukuran sel di dalam tubuh yang kemudian menunjukkan adanya pertambahan berat badan. Berat badan dapat digunakan untuk melihat pertumbuhan fisik maupun status gizi bayi. Asupan gizi yang tidak adekuat merupakan faktor yang mempengaruhi berat badan tidak normal pada bayi dan jika tidak segera di tangani maka akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan atau kurang gizi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan pada bayi yaitu dengan di berikannya rangsangan stimulus berupa terapi pijat bayi. Terapi pijat bayi dapat merangsang aktivitas tonus saraf vagus dimana akan menyebabkan peningkatan kadar enzim gastrin dan insulin sehingga dari penyerapan sari makanan membuat bayi cepat lapar dan merangsang nafsu makan bayi dan membuat bayi mengalami peningkatan berat badan. Tujuan Penelitian untuk mengetahui,mendeskripsikan keperawatan komplementer khususnya persepsi Ibu tentang Manfaat Pijat Bayi Dalam meningkatkan Berat badan batita usia 0-1 th . Metode yang digunakan menggunakan penelitian kualitatif dengan sampel secara purposive sampling .Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam,observasi dan dokumentasi.Hasil penelitian didapatkan 19 responden, mayoritas ibu memiliki persepsi positif tentang manfaat pijat bayi, terutama dalam meningkatkan nafsu makan dan berdampak peningkatan berat badan batitaKata kunci: Persepsi Ibu,Pijat Bayi, Kenaikan Berat Badan
PEMBERIAN PILATES EXERCISE TERHADAP PENURUNAN DERAJAT DISMENORE PRIMER PADA REMAJA
Cahyanti, Luluk;
Dewi, Rahmawati Shinta;
Yuliana, Alvi Ratma;
Fitriana, Vera;
Putri, Devi Setya;
Nur, Hirza Ainin
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.221
ABSTRAKRemaja akan mengalami beberapa fase dalam hidupnya, salah satu fase yang pasti dilalui oleh remaja adalah fase pubertas. Pada remaja perempuan fase pubertas ditandai dengan menarche atau pertama kali menstruasi. Pada saat mestruasi pada umumnya remaja perempuan mengalami masalah salah satunya yaitu dismenore. Dismenore terjadi karena produksi prostaglandin yang berlebihan di endometrium. Salah satu penanganan non farmakologis yang efektif menurunkan dismenore adalah pilates exercise. Tujuan dari studi kasus ini adalah menggambarkan pemberian pilates exercise dalam menurunkan derajat dismenore primer pada remaja. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Jumlah sampel 10 responden, dengan kriteria klien dengan rentang usia remaja yang mengalami dismenore, klien dismenore yang tidak melakukan terapi lain untuk mengurangi nyeri, klien yang dapat berkomunikasi dengan baik, klien yang bersedia menjadi responden. Latihan pilates exercise dilakukan sehari sekali selama 7 hari dalam waktu 25 -30 menit. Pengukuran skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Dari hasil analisa data ditemukan bahwa pada responden 1 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 5 (derajat sedang) dan sesudah dilakukan pilates exercise yaitu 0 (tidak nyeri). Kemudian pada responden 2 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 4 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 0 (tidak nyeri). Responden 3 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 6 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 1 (nyeri ringan). Responden 4 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 5 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 1 (nyeri ringan). Responden 5 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 5 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 0 (tidak nyeri). Responden 6 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 5 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 1 (nyeri ringan). Responden 7 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 5 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 0 (tidak nyeri). Responden 8 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 6 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 1 (nyeri ringan). Responden 9 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 5 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 1 (nyeri ringan). Responden 10 skala nyeri sebelum dilakukan pilates exercise yaitu 6 (derajat sedang) dan skala nyeri setelah dilakukan pilates exercise yaitu 1 (nyeri ringan). Hal tersebut menunjukkan bahwa pilates exercise mampu menurunkan derajat dismenore primer pada remaja. Kata kunci: Dismenore, Pilates Exercise, Remaja
PENGALAMAN NARAPIDANA NARKOBA DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN BIO-PSIKO-SPIRITUAL DENGAN PENDEKATAN TEORI KEPERAWATAN ADAPTIF CALLISTA ROY
Arsy, Gardha Rias;
Pratama, Afriansyah Mikzan Puja;
Budi, Ilham Setyo
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.228
ABSTRAKLatar Belakang: Penyalahgunaan pemakaian narkotika di Indonesia telah diklasifikasikan sebagai kejahatan luar biasa. Sudah sejak lama pemerintah memprioritaskan pemberantasan penyalahgunaan narkotika. Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat atau bahan berbahaya yang dimasukan kedalam tubuh manusia berupa bahan atau zat, baik dengan cara diminum, dihirup, maupun disuntikan yang kemudian dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan dan perilaku seseorang. Tujuan: mengetahui pengalaman narapidana narkotika dirutan kelas IIB kudus dalam pemenuhan bio-psiko-spiritual. Metode: jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasil Penelitian: penelitian ini berfokus pada satu tema yaitu narkoba sebagai doping. Bahwasannya efek dari narkoba yang menjadi alasan sebagai doping itu mengganggu proses spiritual, emosional, tingkah laku hingga kualitas tidur akibat nyeri. Tetapi dari semua itu hal yang dibutuhkan oleh partisipan adalah support system baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Jadi, support system merupakan hal yang sangat penting untuk dapat mempengaruhi seseorang dalam proses spiritual, emosional, tingkah laku dan kualitas tidur akibat nyeri. Support system menjadi kunci dari proses rehabilitasi pengguna narkoba atau napza. Hal ini sejalan dengan teori keperawatan adaptasi Callista Roy yang dialami pecandu narkoba atau napza yang membutuhkan support system. Teori adaptasi Callista Roy mengungkapkan bahwa sistem adaptasi ini berupa respon perilaku individu yang dapat dikaji oleh perawat baik secara objektif maupun subjektif. Respon perilaku ini dapat menjadi umpan balik bagi individu maupun lingkungannya.Kata Kunci: Narapidana, Narkotika, Keperawatan Adaptasi Callista Roy
KESEHATAN MENTAL MEMPENGARUHI ISTITHAAH JAMAAH HAJI LANSIA DI KABUPATEN BOYOLALI
Nurhidayati, Istianna;
Murtana, Agus;
Hastuti, Retno Yuli;
Prayogo, Prayogo
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.226
AbstractThe Hajj pilgrimage is a duty of humans to Allah, specifically for those who are capable (istita'ah) of traveling to the Kaaba. The purpose of this research is to determine the relationship between mental health and istita'ah among elderly Hajj pilgrims in Boyolali Regency. This research used a descriptive correlational design with a cross-sectional, using secondary data from Siskohatkes. The study employed purposive sampling, with a sample of 209 prospective Hajj pilgrims, based on inclusion criteria. The instruments used were the Self-Reported Questionnaire (SRQ 20) and the istita'ah questionnaire listed in Siskohatkes. Bivariate data analysis was conducted using the Kendall Tau test. The study results showed that 6 (2.9%) respondents were categorized as not meeting the health istita'ah for Hajj and 4 (1.9%) respondents had mental disorders. The study indicated an r-value of 0.813 and a p-value of 0.000, meaning there was a positive relationship between mental health and istita'ah among elderly Hajj pilgrims with high strength, and there was a significant relationship between mental health and istita'ah among elderly Hajj pilgrims in Boyolali Regency. To ensure that elderly prospective Hajj pilgrims maintain their mental health and health istita'ah status, it is recommended that they will deepen their religious education and spiritual preparation, keep their physical health by exercising regularly according to their abilities, maintain a healthy diet, get enough rest, undergo regular health check-ups, and maintain a positive mental attitude and motivation to stay healthy.
TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PADA PASIEN DI RUANG ICU RSUD RAA SOEWONDO PATI
Wulan, Emma Setiyo;
Sari, Yunita Arum;
Hindriyastuti, Sri;
Hartini, Sri
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31596/jprokep.v12i2.227
ABSTRAK Perubahan status kesehatan pada pasien kritis dapat mencakup berbagai hal, seperti peningkatan atau penurunan tanda vital, perubahan tingkat kesadaran, atau masalah dalam organ vital lainnya. Umumnya pasien yang datang ke ruangan ICU dengan berbagai macam kondisi dan rata-rata pasien datang dalam keadaan kritis hal ini menyebabkan keluarga pasien biasanya mengalami perasaan stres, cemas, dan takut kehilangan. Kecemasan yang muncul pada anggota keluarga pasien yang dirawat di ruang ICU jika tidak segera ditangani, dapat menyebabkan dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental pada keluarga pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat Kecemasan Keluarga Pada Pasien Di Ruang ICU RSUD RAA Soewondo Pati. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan rancangan desain cross sectional. Menggunakan sampel sesuai kriteria inklusi dan eksklusi sejumlah 31 responden. Berdasarkan analisis didapatkan hasil penelitian dari 31 responden, mayoritas responden berdasarkan kategori tingkat kecemasan keluarga yang menunggu pasien di ICU dengan kategori tidak ada kecemasan sebanyak 3 responden (9.7%), dengan kategori kecemasan ringan sebanyak 3 responden (9.7%), dengan kategori kecemasan sedang sebanyak 8 responden (25.8%), dengan kategori kecemasan berat sebanyak 13 responden (41.9%), dengan kategori kecemasan sangat berat sebanyak 4 responden (12.9%). Kata Kunci : Kecemasan, Keluarga, ICU