cover
Contact Name
Muhammad Rizki Anugerah
Contact Email
lamlaj@ulm.ac.id
Phone
+6282252779076
Journal Mail Official
rizki.anugerah@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl.Brigjen H.Hasan Basri Komp.Unlam Banjarmasin No Telp Redaksi (0511) 4321658 email : lamlaj@ulm.ac.id
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
LamLaj
ISSN : 25203136     EISSN : 25023128     DOI : -
Core Subject : Social,
The aims of this journal is to provide a venue for academicians, researchers and practitioners for publishing the original research articles or review articles. The scope of the articles published in this journal deal with a broad range of topics in the fields of Notary Law, Civil Law, Inheritance law, Tax Law, Guarentee Legal, Banking law, Constitutional Law, International Law, Administrative Law, Criminal Law, Human Right Law, Islamic Law, Environmental Law, Agrarian Law, Intellectual Property Rights, Law on Marriage and Family, Insurance law ,Cyber Law and another section related contemporary issues in law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 104 Documents
BATASAN KEWENANGAN NOTARIS DAN PPAT DALAM MEMBUAT AKTA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH Muhammad Adha Ridodi
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 1 (2017): March
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i1.44

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian ini ada dua hal yaitu pertama adalah untuk mengetahui dan mengkaji batas kewenangan notaris dan PPAT dalam hal membuat akta yang berkaitan dengan tanah. Termasuk akibat hukum Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris mengenai batas kewenangannotaris dalam hal membuat akta yang berkaitan dengan tanah. Mengenai kegunaan dari penelitian tesis ini adalah secara teoritis diharapkan dapat memberikan manfaat kepada peneliti dalam menambah ilmu pengetahuan hukum khususnya dalam bidang kenotariatan dan dapat menambah pengetahuan hukum yang dapat digunakan oleh pihak yang memerlukan sebagai bahan kajian ilmu hukum. Metode yang dapat dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau bahan hukum. Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Tipe penelitian ini adalah menitikberatkan adanya kekosongan/kekaburan norma hukum, khususnya Pasal 15 ayat 2 huruf f UUJN mengenai kewenangan notaris membuat akta tanah. Penelitian ini bersifat preskriptif analitis, karena berusaha untuk memberikan argumentasi atas penelitian yang telah dilakukan. Batasan kewenangan notaris dalam membuatakta yang berkaitan dengan tanah meliputi tigal hal yaitu kewenangan notaris secara umum, kewenangan notaris secara khusus dan kewenangan notaris yang ditentukan kemudian. Mencermati batasan kewenangan khusus dari notaris, yaitu membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 15 ayat 2 huruf f UUJN, selanjutnya diperjelaslagi oleh UUJN yaitu pada Pasal 17 butir g mengenai larangan jabatan sebagai PPAT dan Pasal 19 angka 2 mengenai tempat kedudukan notaris sebagai PPAT. Akibat hukum dari suatu akta yang seharusnya dibuat dihadapan PPAT tetapi karena penerima hak tidak memenuhi syarat mendapatkan suatu hak atas tanah maka aktanya harus dibuat dihadapan notaris adalah tetap sah, asalkan dalam pembuatan aktanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris. Namun, apabila notaris dalam membuat akta tanah tidak memenuhi aturan UUJN maka dapat terkena sanksi, baik itu sanksimenurut hukum perdata, pidana dan administratif.
KEDUDUKAN AKTA KETERANGAN HAK MEWARIS YANG DIBUAT OLEH NOTARIS BAGI WARGA NEGARA INDONESIA KETURUNAN TIONGHOA SEBAGAI TANDA BUKTI AHLI WARIS Ramadhoni, Muhammad Rizky
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 2 (2017): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i2.45

Abstract

Dalam hukum positif Indonesia tidak ada peraturan yang secara khusus dan tegas mengatur kewenangan Notaris untuk membuat pernyataan tentang hak untuk mewarisinya. Notaris Publik membuatnya hanya berdasarkan kostum yang dipraktikkan oleh yang sebelumnya. Hal tersebut tidak diatur secara tegas dalam Pasal 20 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Kantor Notaris, sedangkan Undang-Undang adalah peraturan utama yang mengatur Kantor Notaris. Kondisi ini berpengaruh signifikan terhadap kekuatan pembuktian akta pada pernyataan tentang hak untuk mewariskan yang dibuat oleh Notaris. Penelitian ini didasarkan pada studi atau data sekunder. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis beberapa masalah dengan mempelajari undang-undang, literatur, dan rujukan lainnya yang terkait dengan otoritas Notaris dalam membuat pernyataan tentang hak untuk mewariskan dan membuktikan kekuatan akta pada pernyataan tentang hak untuk mendapatkan warisan. bagi warga negara Indonesia keturunan Cina yang layak. Pasal 111 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Pertanian Nomor 3 Tahun 1997 tentang Penyelenggaraan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pelaksanaan, dimana Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bukan termasuk dalam hirarki legislasi di Indonesia. Dengan demikian, pembuatan akta atas pernyataan tentang hak untuk mewariskan oleh Notaris tidak didasarkan pada hukum positif yang berlaku di Indonesia. Akta tersebut tidak memenuhi syarat fisik akta otentik karena tidak ada undang-undang positif yang mengatur secara tegas dan jelas wewenang Notaris untuk membuat pernyataan tentang hak untuk mewarisinya. kekuatan pembuktian dari perbuatan di atas hak untuk mewariskan yang dibuat oleh Notaris pada kebenaran isi akta tersebut
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMBELI DALAM PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI TANAH YANG MASIH BERSTATUS HAK PENGELOLAAN Riza Firdaus
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 1 (2017): March
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i1.46

Abstract

Dalam jual-beli tanah dan bangunan di Perumnas, tanah dan bangunan yang menjadi obyek dari jual-beli masih merupakan sertipikat induk dan berstatus HPL yang belum dipecah. Sehingga apabila Pembeli (A) tersebut ingin menjual lagi tanah dan bangunannya kepihak lain (B) maka harus menunggu sertipikat HPL pecah menjadi SHGB. Dalam kasus ini antara A dan B membuat PPJB dibawah tangan tetapi dilegalisasi oleh Notaris. Padahal Seharusnya A menunggu HPL dipecah dulu minimal telah menjadi SHGB agar dapat dijadikan obyek dalam pembuatan PPJB dibawah tangan. Dan diketahui dalam hal ini B tidaklah mengetahui apakah tanah dan bangunan yang masih berstatus HPL memang sudah bisa dibuatkan PPJB atau tidak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kedudukan PPJB yang dibuat secara dibawah tangan oleh para pihak yang menggunakan obyek jual-beli yang masih berstatus HPL dan untuk mengetahui perlindungan hukum perlindungan hukum bagi pembeli atas tanah dan bangunan yang masih berstatus HPL. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan Yuridis Normatif, yaitu suatu cara untuk menemukan data melalui bahan-bahan pustaka.baik yang berasal dari buku-buku maupun peraturan perundang-undangan yang berkaitan denganperjanjian pengikatan jual beli.
TANGGUNG GUGAT NOTARIS TERHADAP AKTA YANG BERASAL DARI DATA YANG TIDAK BENAR Purwandi, Dedi
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 2 (2017): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i2.47

Abstract

This research aims at studying and analyzing the ratio legist of the provisionon the double position of the Notary Publics as stipulated in Article 17 of ActNumber 2 of 2012 concerning Notary Public’s Office and analyzing the provision ofArticle 93 paragraph (1) of Act Number 40 0f 2007 concerning Limited Companyin relation with the position of the Notary Public as Director. This is normativelegal research by conducting library study mainly secondary legal resources. Thisresearch applies statute approach by studying all acts and regulations related withthe legal issue being dealt with. The nature of this research perspective analytical,i.e. to explain precisely the characteristics of an individual, condition/phenomenaof the groups in order to determine the spread of a phenomenon and to determinethe existence of relation between one phenomenon to the order in the society. Theresults of this research are firstly, the ratio legist of the provision on the doubleposition of the Notary Public as stipulated in Article 17 of Act Number 2 of 2014concerning Notary Public’s Office is to avoid double position which may lead toconflict of interest. If a the Notary Public has double position as director, it is clearthat there are differences the Notary Public of authorities, and this may cause abuseof power. Secondly, a Notary Public holds a position as a director as stipulated inArticle 93 paragraph (1) of Act Number 40 of 2007 concerning Limited Company isnot possible. Articles 17 of Act Number 2 0f 2014 concerning Notary Public’s Officeprohibits double position. Limited Company Act does not explicitly mentions aboutdouble position in a Limited Company, but it is clearly done because the tasks andauthorities of a Notary Public and a Director are very district and double positionmay bring about conflict of authorities.
KEDUDUKAN NOTARIS SEBAGAI DIREKTUR DALAM PERSFEKTIF PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU Radam , Ady Prasetya
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 2 (2017): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i2.48

Abstract

This research aims at studying and analyzing the ratio legis of the provisonon the double position of the Notary Publics as stipulated in Artecle 17 of ActNumber 2 of 2012 concerning Notary Public’s Office and analyzing the provision ofArticle 93 paragraph (1) of Act Number 40 0f 2007 concerning Limited Companyin relation with the position of the Notary Public as Director. This is normativelegal research by conducting library study mainly secondary legal resources. Thisresearch applies statute apporoach by studying all acts and regulations related withthe legal issue being dealt with. The nature of this research perspective analytical,i.e to explain precisely the caharacteristics of an individual, condition/phenomenaof the groups in order to determine the spead of a phenomenon and to determinethe existence of relation between one phenomenon to the order in the society. Theresults of this research are firstly, the ratio legis of the provision on the doubleposition of the Notary Public as stipulated in Article 17 of Act Number 2 of 2014concerning Notary Public’s Office is to avoid double position which may lead toconflict of interest. If a the Notary Public has doble position as director, it is clearthat there are differences the Notary Public of authorities, and this may cause abuseof power. Secondly, a Notary Public holds a position as a director as stipulated inArticle 93 paragraph (1) of Act Number 40 of 2007 concerning Limited Company isnot possible. Articles 17 of Act Number 2 0f 2014 concerning Notary Public’s Officeprohibits double position. Limited Company Act does not explicity mentions aboutdouble position in a Limited Company, but it is clearly done because the tasks andauthorities of a Notary Public and a Director are very distict and double positionmay bring about conflict of authorities.
TRANSAKSI TARIK TUNAI MELALUI MERCHANT DALAM PENGGUNAAN KARTU KREDIT Brinil, Herdehet
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 2 (2017): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i2.49

Abstract

erubahan masyarakat dalam bidang sosial dan ekonomi menyebabkankebutuhan akan pengguna sistem pengguna kartu plastik semakin dibutuhkan.Masyarakat semakin menginginkan sistem pelayanan yang lebih efisien dan dapatmemberikan kemudahan-kemudahan dalam melakukan transaksi perbankan, antara lain untuk melakukan penarikan uang tunai, pembayaran tagihan kartu kredit, pembayaran tagihan pulsa dan lainnya. Yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah terkait dengan hubungan hukum antara bank sebagai penerbit kartu kredit dengan nasabah pemegang kartu kredit, dan merchant, terkait hak dan kewajiban pihak bank dan nasabah pemegang kartu kredit, serta perlindungan nasabah pemegang kartu kredit dalam transaksi tarik tunai melalui merchant dan mengapa transaksi tersebut dilarang oleh Bank Indonesia. Penggunaan kartu kredit ini tidak hanya memberikan keuntungan tetapi pada akhirnya dapat menimbulkan masalah dan menyebabkan adanya keluhan dari nasabah. Untuk itu diperlukan adanya perlindungan hukum terhadap nasabah dalam penggunaan kartu kredit. Penggunaan kartu kredit menimbulkan hubungan hukum yang berbeda antara bank, nasabah dan merchant. Nasabah sebagai konsumen kartu kredit ditempatkan dalam posisi tawar-menawar yang lemah. Masalah-masalah tersebut dijawab dengan penelitian kepustakaan (library research) yang menggunakan bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Metode penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah metode penelitian hukum normatif dengan pengumpulan data secara studi kepustakaan (library research) yakni penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan penelitian terhadap berbagai sumber bacaan seperti buku-buku, berbagai literatur, peraturan perundang-undangan serta melalui media elektronik (internet). Penelitian ini menyarankan agar pemasaran produk dan jasa perbankan dapat lebih memperhatikan kewajiban pemegang kartu kredit maupun bank, prosedur dan persyaratan dalam penerbitan kartu kredit dilakukan lebih selektif, dan Bank Indonesia sebagai bank sentral dapat lebih meningkatkan perannya sebagai lembaga pengawas produk perbankan khususnya terhadap kartu kredit.
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK ATAS TANAH TERHADAP PENERBITAN SERTIPIKAT GANDA (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BANJARBARUNOMOR 26/Pdt.Eks/2009/PN. Bjb) Wikasulanda, Gita Alyosha Putu
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 2 (2017): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i2.50

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis mengenai hal-halyang menyebabkan lahirnya penerbitan sertipikat ganda oleh BPN Kota banjarbarudan perlindungan hukum terhadap pemegang hak atas yang diketahui telah terjadi penerbitan sertipikat ganda. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenispenelitian hukum normatif dengan tipe penelitian kekaburan hukum yang terdapatdalam Pasal 1 angka 20 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentangPendaftaran Tanah dan Pasal 19 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 5Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria. Menurut hasil penelitian adapun hal-halyang menyebabkan lahirnya penerbitan sertipikat ganda oleh BPN Kota Banjarbaruadalah dikarenakan BPN lalai dan melakukan kesalahan terhadap kewajibandan kewenangannya sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan Pasal 19 ayat (1)Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 serta Pasal 3 dan Pasal 20 Peraturan PresidenNomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional, yaitu kewajibandan kewenangan untuk melakukan perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan.Perlindungan hukum terhadap pemegang hak atas yang diketahui telah terjadipenerbitan sertipikat ganda pada dasarnya dapat didasarkan pada ketentuanPasal 19 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, Pasal 1 angka 20Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, yang mengamanatkan bahwa sertipikathak milik atas tanah yang dimiliki pemegang hak atas tanah atas terbitnyasertipikat ganda merupakan sertipikat yang sah karena dikeluarkan oleh lembagayang berwenang yang sah pula dalam hal ini adalah Badan Pertanahan Nasional.
POSITION OFFENSES BY NOTARY IN MAKING AUTHENTIC DEED: REVIEWING THE NOTARY RESPONSIBILITY Lsestari, Santi Rosiana; Anwary, Ichsan; Mispansyah, Mispansyah
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 2 (2017): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i2.51

Abstract

The research aims to analyze the notary’ responsibility as common officialwho conduct contempting of court in making deed and notary’ criminal responsibilityin running the deed and criminal liability of Notary in conducting its position. Thetype of research is normative-legal or also called as doctrinal research. The resultsof research indicate the form of notary’ responsibility can be administrative, civil orcriminal responsibility. Especially the notary’ criminal responsibility is not clearlyregulated in the Notary Act, but its responsibility is very dependent on “deliberate”(opzet) in notay’ conduct. In making the deed, the notary shall be responsible forthe deeds which are made there or which are intentional mistake, on the contrary ifthe element of mistake occurs from the parties confronting, so as long as the Notaryconducitng ith authority in accordance with the laws and regulations, the Notaryconcerned cannot be requested accountability, since the Notary simply records whatthe parties are saying to be contained into a deed.
STEEP ROAD TOWARDS REGULATING FOR SUCCESS OF IMPLEMENTATION OF RECLAMATION AND POST MINING OF MINERAL AND COAL Barkatullah, Abdul Halim; Syaifudin, Syaifudin; Mahyuni, Mahyuni; Ifrani, Ifrani
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 2 No. 2 (2017): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v2i2.52

Abstract

Coal and Mineral mining activities have a high risk of ecosystem changesthat affect the environment, let alone the mining is carried out openly. In order torestore the condition of the land in such a way that it can function and to be effectivein line with its allocation, the ex-mining area must be restored. Reclamation andpost-mining activities shall be conducted by every holder of Mining Business Permit(IUP) Exploration and IUP Production. Holders of IUP Exploration must firstlyprepare reclamation and post-mining plans in the permit process. The implementationof reclamation and post-mining activities by holders of IUP Production Operationand Special Mining Business Permit (IUPK) Production Operation must complywith the principles of : (1)protection and management of mining environment; (2)working safety and health; and (3) mineral and coal conservation. To determinethe success of the land that has been reclaimed and the post-mining activities havebeen complied, if an evaluation has been made by the competent officials and it isstated that the reclamation and post-mining activitie shave been performed well in accordance with prevailing regulations.
KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH DALAM PERKAWINAN SEBAGAI HARTA BERSAMA Irawan, Yosi
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 3 No. 1 (2018): March
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v3i1.53

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis konsep kepemilikanhak kepemilikan tanah yang merupakan harta bersama berdasarkan peraturan perundang-undangan dan menganalisis akibat hukum dari kepemilikan hak atas tanah yang menjadi harta bersama dari suami isteri yang sertifikatnya diterbitkan atas nama keduanya. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, harta benda berupa tanah yang diperoleh selama perkawinan termasuk harta bersama, yang kepemilikannya bersama pasangan suami isteri yang bersangkutan. Hak atas tanah dapat dimiliki sendiri-sendiri maupun bersama-sama oleh warga negara. Jual beli tanah yang merupakan harta bersama tersebut harus dilakukan berdasarkan persetujuan pasangan suami isteri, jika tidak jual beli tanah dimaksud tidak sah dan batal demi hukum. Salah satu pasangan tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan penggelapan terhadap harta bersama berupa tanah tersebut karena selama ini tidak terdaftar atas nama bersama, hanya atas nama suami atau isteri.

Page 4 of 11 | Total Record : 104