cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 188 Documents
Personal Political Branding: Strategi Kampanye Ganjar Pranowo Untuk Pilpres 2024 di Social Media Twitter Sitti Hadjira; Suranto Suranto
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v12i2.4907

Abstract

In this digital age, social media has become a powerful platform to communicate and influence public opinion. A critical aspect of using social media is its ability to strengthen political branding, which is how a politician or political party builds their image and identity in the eyes of the public. Political branding refers to creating a political image and identity for a candidate, political party, or political movement in society. Ganjar Pranowo, as the Governor of Central Java, utilizes Twitter as a medium to strengthen the value of political branding. This research aims to explain Ganjar Pranowo's political branding strategy through his Twitter social media account. This research uses a qualitative method; then, the researcher uses the Nvivo 12Plus application to analyze the data. The results of this study show that political branding efforts made by Ganjar Pranowo include: First, Ganjar Pranowo presents himself as a religious leader. Second, Ganjar Pranowo presents himself as a leader close to middle to lower-class people. Third, Ganjar Pranowo presents himself as a leader who upholds ethnicity and culture. Fourth, Ganjar Pranowo displays that he is a leader who supports improving the community's economy through UMKM. Fifth, Ganjar Pranowo presents himself as a leader close to the younger generation. Ganjar Pranowo's political branding capability lies in personality attributes. The personal attributes found in the Twitter account @ganjarpranowo include: First, competence as a leader. Second, passion and dedication. Third, leadership style. This research is expected to provide an overview related to political branding from political actors and stakeholders. ABSTRAK Di era digital ini, media sosial telah menjadi platform yang kuat untuk berkomunikasi dan memengaruhi opini publik. Salah satu aspek penting dari penggunaan media sosial adalah kemampuannya dalam memperkuat political branding, yaitu cara seorang politisi atau partai politik membangun citra dan identitas mereka di mata masyarakat. Political branding merujuk pada sebuah proses membangun citra dan identitas politik untuk seorang kandidat, partai politik, atau gerakan politik tertentu di masyarakat. Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah memanfaatkan twitter sebagai media penguatan nilai political branding. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana strategi political branding Ganjar Pranowo melalui akun media sosial twitter. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, kemudian dalam melakukan analisis data peneliti menggunakan aplikasi Nvivo 12Plus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa upaya political branding yang dilakukan oleh Ganjar Pranowo meliputi: Pertama, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang religius. Kedua, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang memiliki kedekatan dengan masyarakat menengah kebawah. Ketiga, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang menjunjung tinggi suku dan budaya. Keempat, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang mendukung peningkatan ekonomi masyarakat melalui UMKM. Kelima, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang dekat dengan generasi muda. Kapabilitas political branding Ganjar Pranowo terletak pada personality attributes. Atribut personal yang ditemukan dalam akun twitter @ganjarpranowo diantaranya: Pertama, Kompetensi sebagai seorang pemimpin. Kedua, Semangat dan dedikasi. Ketiga, Gaya kepemimpinan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait political branding dari aktor politik sekaligus pemangku kepentingan.
The Government’s communication: Diffusion Innovation or Participatory Approach towards Renewable Energy Development Project Gregoria Arum Yudarwati
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v12i2.4993

Abstract

This study focuses on development communication in supporting Government’s renewable energy project in Indonesia. Using a case study of the communication in the implementation of a micro-hydro power plant (MHPP) project by Indonesia government, this study examines whether the government’s communication aims to encourage community participation in the project or merely diffuse the innovation for community’s adoption, or combine both approaches. This project was chosen, since this requires more community participation to maintain it as well as sustained communication to facilitate meaningful engagement. Appreciative inquiry involving six focus group discussions and nine in-depth interviews were conducted to explore communities’ experiences in exploiting the MHPP and accompanying communication process. The findings show that project development is divided into five stages: pre-initiation, initiation, adoption, transition and sustainability. Compared to the diffusion and adoption process, this project cycle is comparable to the five stages of the diffusion and adoption process. The information sharing session to introduce the innovation is significant to build awareness among communities. Likewise, the ideas to choose and train communities’ representatives as pioneers to the adoption process help communities gain direct experiences about the use of technology. Nevertheless, the domination of diffusion innovation approach with mechanistic communication that prioritises technological change may lead to a lack of participation and empowerment. Participatory approach that acknowledges local values will likely empower communities and build ownership towards the project.ABSTRAK Kajian ini fokus pada komunikasi pembangunan dalam mendukung proyek energi terbarukan Pemerintah di Indonesia. Dengan menggunakan studi kasus komunikasi dalam pelaksanaan proyek pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang dilakukan pemerintah Indonesia, penelitian ini mengkaji apakah komunikasi pemerintah bertujuan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam proyek tersebut atau sekadar menyebarkan inovasi agar dapat diadopsi oleh masyarakat, atau menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Proyek ini dipilih karena memerlukan lebih banyak partisipasi masyarakat untuk memeliharanya serta komunikasi yang berkelanjutan untuk memfasilitasi keterlibatan yang bermakna. Metode appreciative inquiry yang melibatkan enam focus group discussions dan sembilan wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pengalaman masyarakat dalam memanfaatkan PLTMH dan proses komunikasi yang menyertainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan proyek dibagi menjadi lima tahap: pra-inisiasi, inisiasi, adopsi, transisi, dan keberlanjutan. Siklus proyek ini sebanding dengan lima tahap proses difusi dan adopsi. Sesi berbagi informasi untuk memperkenalkan inovasi ini penting untuk membangun kesadaran di kalangan masyarakat. Demikian pula, gagasan untuk memilih dan melatih perwakilan masyarakat sebagai pionir dalam proses adopsi membantu masyarakat mendapatkan pengalaman langsung tentang penggunaan teknologi. Meskipun demikian, dominasi pendekatan difusi inovasi dengan komunikasi mekanistik yang mengedepankan perubahan teknologi dapat menyebabkan kurangnya partisipasi dan pemberdayaan. Pendekatan partisipatif yang melibatkan nilai-nilai lokal akan dapat lebih memberdayakan masyarakat dan membangun kepemilikan terhadap proyek. 
Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Pendatang Di Pulau Sebatik Perbatasan Indonesia-Malaysia Muhammad Hairul Saleh; Muh Harliman Saleh; Ignasius Dwi Oktavianus
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v12i2.5068

Abstract

This study on intercultural communication of migrant communities on Sebatik Island on the Indonesia-Malaysia border examines communication practices between Javanese, Bugis, and Timorese migrants. Using a qualitative approach and collecting data from in-depth interviews and participatory observations, the study found that the process of intercultural communication is created through economic and cultural arenas. Communication in the Javanese economic arena with the Bugis can be seen from the businesses carried out together, such as culinary, hospitality, supermarket businesses and at the same time recruiting Javanese and Bugis as employees of their businesses. In the cultural arena, intercultural communication can be seen from the phenomenon of intermarriage which allows the creation of perceptual similarities between them. Communication in the Timorese economic arena with the Bugis is seen in the vegetable business network which is the main source of income for the Timorese and the recruitment of Timorese as assistants in the Bugis household. Communication in the cultural arena between Timorese and Bugis is also seen in terms of mixed marriages as well as between Javanese and Bugis. Through the economic and cultural arena, there is a change in the mindset of some people which has implications for the creation of a more dynamic and harmonious community condition in the context of communication of border communities with various differences in culture, customs, languages, and religions.ABSTRAK Studi ini tentang komunikasi antarbudaya masyarakat pendatang di Pulau Sebatik perbatasan Indonesia-Malaysia yang mengkaji praktek komunikasi antara pendatang Jawa, Bugis, dan Timor. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan mengumpulkan data dari hasil wawancara mendalam dan observasi partisipasi, studi ini menemukan bahwa proses komunikasi antarbudaya, tercipta melalui arena ekonomi dan budaya. Komunikasi dalam arena ekonomi orang Jawa dengan Bugis terlihat dari bisnis yang dilakoni secara bersama, misalnya bisnis kuliner, perhotelan, supermarket dan sekaligus merekrut orang Jawa dan Bugis sebagai karyawan dari bisnis mereka. Dalam arena budaya, komunikasi antarbudaya terlihat dari fenomena perkawinan campuran yang memungkinkan terciptanya persamaan persepsi di antara mereka. Adapun komunikasi dalam arena ekonomi orang Timor dengan Bugis terlihat pada jaringan bisnis sayur-sayuran yang menjadi sumber penghasilan utama orang Timor dan perekrutan orang Timor sebagai asisten dalam rumah tangga orang Bugis. Komunikasi dalam arena budaya antara orang Timor dengan Bugis juga terlihat dalam hal perkawinan campuran sebagaimana yang terjadi juga antara orang Jawa dengan Bugis. Melalui arena ekonomi dan budaya, terjadi perubahan pola pikir sebagian masyarakat yang berimplikasi pada terciptanya suatu kondisi masyarakat yang lebih dinamis dan harmonis dalam konteks komunikasi masyarakat perbatasan dengan berbagai perbedaan budaya, adat, Bahasa, dan agama.
The Vicious Cycle and False Consciousness in The Fast Saga Grishiella Patricia Liwang
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v12i2.5126

Abstract

Films addressing sports/racing themes have been extensively released, and one of the successful franchises is the Fast Saga franchise. Within the media text of The Fast Saga, there's criticism regarding how female characters are depicted as weak and having little knowledge about racing, which is more associated with males. This study aims to reveal the discourse of masculine hegemony within The Fast Saga. The theoretical focus used in this research is hegemonic masculinity, employed to examine the gender practice configuration between men and women. This research is divided into three sub-discussions: gender domination, sexual objectification, role differentiation, and gender relations. Within these focuses, the author was able to uncover imbalances in these three sub-discussions through Sara Mills' critical discourse analysis as the research method. Sara Mills' critical discourse analysis will examine how the subject-object positions are placed within the text through eight films divided into 10 scenes. The research findings involving The Fast Saga show that despite women attempting to portray toughness in racing, hegemony is still apparent in those scenes. In reality, The Fast Saga continues to display forms of masculine hegemony and reinforces them as if they are the only values worth upholding.ABSTRAK Film-film yang mengangkat tema mengenai sport/racing telah banyak dirilis, dan salah satu franchise yang sukses adalah Fast Saga franchise. Dalam teks media The Fast Saga, terdapat kritik terhadap bagaimana karakter perempuan digambarkan lemah dan memiliki sedikit pengetahuan tentang balap yang lebih berhubungan dengan laki-laki. Penelitian ini bertujuan mengungkap wacana hegemoni maskulinitas dalam The Fast Saga. Fokus teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah hegemoni maskulinitas, yang digunakan untuk mengkaji konfigurasi praktik gender antara hubungan laki-laki dan perempuan. Penelitian ini dibagi menjadi tiga sub pembahasan yakni dominasi gender, objektifikasi seksual, diferensiasi peran dan relasi gender. Dalam fokus tersebut, penulis mampu menemukan ketimpangan yang terjadi mengenai tiga sub pembahasan tersebut dengan analisis wacana kritis Sara Mills sebagai metode penelitiannya. Analisis wacana kritis Sara Mills akan melihat bagaimana posisi subjek-objek ditempatkan dalam teks melalui delapan film yang dibagi menjadi 10 adegan. Hasil penelitian dengan subjek The Fast Saga ini menemukan bahwa hegemoni masih nampak dalam adegan-adegan tersebut meski perempuan sudah berusaha menampilkan ketangguhan dalam balapan. Pada kenyataannya The Fast Saga tetap menampilkan bentuk-bentuk hegemoni maskulinitas dan menegaskannya seolah-olah hanya itu nilai yang patut dijunjung.
Melukis Kembali Penggambaran Citra Gender dalam Media Massa Yuwono, Sherlynn; Lesmana, Fanny; Ambat, Yeremia Tulude
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5144

Abstract

In Netflix’s 'Ice Cold,' which delves into the murder of Jessica by Mirna, she is often praised and forgiven for her beauty. The documentary even states that the killer is a handsome figure. Women seem to be forced to conform to the image of modern women, who should hold feminist paradigms. Digital television content, as one of the mass media platforms, often portrays women as limited to the role of 'subordinates.' The existence of women is frequently reduced solely to their physical dimensions. It is as if advertisements and television programs would feel empty without the presence of women celebrated as objects. This perspective eventually becomes ingrained in the minds of modern women, largely through the influence of mass media, while commercial demands and the race for the highest ratings are the primary reasons why women continue to be used as complementary objects in various media content.This research employs Roland Barthes' Semiotics to explore how religious education, the male gaze, mass media, and societal views interact in shaping the contemporary perception of the female body. Ironically, the excessive use of patriarchal media has made women feel more liberated to express themselves and actualize their potential in various aspects of life. In this context, elements of religious education play a crucial role, as some Abrahamic religious teachings promote gender hierarchies that can influence society's perception of women and result in gender inequality. The concept of the male gaze is also relevant in this analysis, as it refers to how the male perspective dominates the understanding and representation of women in media, often reducing women to objects of male sexual desire. This research can offer valuable insights into the interconnection of these perspectives and women's potential for increased self-expression within patriarchal-dominated environments.ABSTRAKPada film dokumenter 'Ice Cold' di Netflix yang mengulik tentang pembunuhan Jessica oleh Mirna, ia kerap dipuji dan dimaafkan karena parasnya. Dokumenternya pun menyebutkan bahwa sang pembunuh adalah sosok rupawan. Di luar itu, televisi digital sebagai salah satu medium media massa seringkali menggambarkan perempuan sebagai objek yang terbatas dalam peran 'bawahan'. Eksistensi perempuan sering direduksi hanya pada dimensi fisik mereka. Seakan iklan dan tayangan televisi akan terasa hampa tanpa kehadiran perempuan sebagai objek yang dirayakan. Perempuan seolah-olah dipaksa untuk memenuhi citra perempuan modern yang seharusnya memegang paradigma feminis. Pandangan ini akhirnya tertanam dalam pikiran perempuan modern, sebagian besar melalui pengaruh media massa, sementara tuntutan komersialisme dan perlombaan untuk mendapatkan rating tertinggi menjadi alasan utama mengapa perempuan terus dijadikan objek pelengkap dalam berbagai konten media. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Semiotika Roland Barthes, menggunakan denotasi, konotasi, serta mitos untuk memahami interaksi kompleks antara unsur didikan agama, ‘male gaze’, dan pengaruh media massa serta dampaknya terhadap persepsi tubuh perempuan dalam masyarakat modern. Ironisnya, penggunaan berlebihan oleh media patriarki telah membuat perempuan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan potensi mereka di berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, unsur didikan agama memainkan peran penting, karena beberapa ajaran agama Abrahamik mengajarkan hierarki gender, yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap perempuan dan menimbulkan ketidaksetaraan gender. Konsep ‘male gaze’ juga relevan dalam analisis ini, karena mengacu pada cara pandangan laki-laki mendominasi pemahaman dan representasi perempuan dalam media, sering kali mengurangi perempuan menjadi objek hasrat seksual laki-laki. Temuan dalam penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana pandangan-pandangan ini berkaitan dan bagaimana perempuan dapat lebih leluasa mengekspresikan diri dalam lingkungan yang seringkali didominasi oleh norma-norma patriarki.
Strategi Harian Kompas Dalam Membangun Brand Engagement NFT Kompas Melalui Aktivitas Community Relation Kontessa, Tarrence Karmelia; Layardi, Hendy
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5277

Abstract

Digital transformation is something that most industrial players have done and continue to do. Transformation is carried out, through the use of the latest technology products such as non-fungible tokens (NFT). The popularity of NFTs, has grown rapidly and has become a hot topic of conversation in Indonesia. Kompas Daily as the largest national media in Indonesia has introduced NFT products through the Narasi Fakta Terkurasi (NFT Kompas) project since June 28, 2022. This project started with a decision to explore new business potential within the Kompas Gramedia Group. The boom in crypto, NFT and metaverse in early 2022 is considered as a great potential to develop the business. To support the Kompas NFT project, Kompas Daily is building a community and holding various activities as an effort to build Kompas NFT brand engagement. This research first adapts the Community Involvement concept by Lakin & Scheubel (2017) to understand Kompas' daily strategy, especially in building brand engagement in the Kompas NFT online community on the Discord channel. It was concluded that Kompas' NFT technology products had received a positive response and were able to build brand engagement in the NFT community which had the potential to become a new audience for Kompas Daily. Second, through Everett M. Rogers' diffusion-of-innovation theory, the research also explores the socialization strategy for Kompas NFT products. It was concluded that the exhibition forums, media articles and Townhall Meetings held by Kompas Daily to encourage the adoption of NFT innovation internally and externally to the company, were effective strategies for building audience adaptation to Kompas NFTs. This qualitative research using can be developed further, especially to examine more deeply community relations strategies for new technology products that are increasingly appearing in this digital era.ABSTRAKTransformasi digital adalah sebuah tuntutan peradaban yang antara lain dilakukan melalui penggunaan produk-produk teknologi terbaru seperti non-fungible token (NFT). Harian Kompas sebagai media nasional terbesar di Indonesia telah memperkenalkan produk NFT melalui proyek Narasi Fakta Terkurasi Kompas (NFT Kompas) sejak 28 Juni 2022. Untuk mendukung proyek NFT Kompas, Harian Kompas membangun komunitas dan mengadakan berbagai aktivitas sebagai upaya membangun brand engagement NFT Kompas. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumen. Tujuan dari penelitian, pertama dengan mengadaptasi konsep Community Involvement oleh Lakin & Scheubel (2017) peneliti menganalisa strategi Harian Kompas dalam membangun brand engagement pada online community NFT Kompas di kanal Discord. Disimpulkan bahwa produk teknologi NFT Kompas telah mendapat respon positif dan berhasil membangun brand engagement pada komunitas NFT yang berpotensi menjadi audiens baru bagi Harian Kompas. Kedua, melalui kacamata teori difusi-inovasi Everett M. Rogers (2005), penelitian juga menggali strategi sosialisasi produk NFT Kompas. Disimpulkan bahwa wadah pameran, artikel media dan Townhall Meeting yang dilakukan Harian Kompas untuk mendorong adopsi inovasi NFT ke arah internal maupun eksternal perusahaan, menjadi strategi yang efektif untuk membangun adaptasi audiens terhadap NFT Kompas. Penelitian kualitatif ini dapat dikembangkan lebih lanjut khususnya untuk mengkaji lebih dalam strategi community relation bagi produk-produk teknologi baru yang semakin sering muncul di era digital ini.
Pengunaan NARS Power Players Sebagai Virtual Brand Ambassadors Untuk Memengaruhi Konsumen Witjaksono, Klarissa Jessenia; Eymeren, Margawati Van
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5337

Abstract

Virtual brand ambassadors have become a new type of brand spokesperson with the advent of Artificial Intelligence (AI). NARS Cosmetics, a pioneering cosmetics company, has introduced their own virtual brand ambassadors known as NARS Power Players. However, the existing literature has not yet answered whether the attributes of virtual entities can shape consumer response. The novelty of this research lies in its focus on NARS Cosmetics' virtual brand ambassadors, the NARS Power Players, which are a new phenomenon in the field of brand representation. While virtual brand ambassadors have emerged with AI technology, there is a gap in the existing literature regarding how the attributes of these virtual entities specifically impact consumer attitudes. This study addresses this gap by investigating the influence of credibility, attractiveness, congruence, and human-likeness of NARS Power Players on consumer attitudes. Additionally, the study incorporates several relevant theories, including Stimulus-Response Theory, Source Credibility Model, Source Attractiveness Model, Match-up Hypothesis, and Uncanny Valley Theory, to provide a theoretical framework for understanding the impact of virtual brand ambassadors. The use of quantitative methodology and the specific focus on NARS Power Players contribute to the novelty of this research, offering insights that can further enhance our understanding of consumer responses to virtual brand representatives.This study used quantitative methodology by distributing online questionnaires to 112 respondents. The results showed that the credibility, congruence, and human-likeness of virtual brand ambassadors had a positive and significant influence on consumer attitudes. However, attractiveness did not have a significant influence on consumer attitudes. Researchers can further explore this topic by conducting investigative qualitative research on consumer perceptions and comparative analysis with human endorsers and non-human endorsers.ABSTRAKDengan munculnya Artificial Intelligence (AI), virtual brand ambassadors telah menjadi jenis baru brand spokesperson yang non-human. Perusahaan kosmetik perintis, NARS Cosmetics, baru-baru ini memperkenalkan virtual brand ambassadors mereka sendiri yang dikenal sebagai NARS Power Players. Namun, literatur yang ada belum menjawab apakah atribut-atribut entitas virtual yang dapat membentuk respons konsumen. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokusnya pada virual brand ambassadors NARS Cosmetics, yaitu NARS Power Players, yang merupakan fenomena baru dalam bidang brand ambassadors yang non-human. Sementara virtual brand ambassadors muncul dengan teknologi AI, terdapat kesenjangan dalam literatur yang ada mengenai bagaimana atribut entitas virtual ini secara khusus mempengaruhi sikap konsumen. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan menganalisis pengaruh credibility, attractiveness, congruence, dan human-likeness dari NARS Power Players sebagai virtual brand ambassadors terhadap sikap konsumen. Selain itu, penelitian ini mencakup beberapa teori yang relevan, termasuk Stimulus-Response Theory, Source Credibility Model, Source Attractiveness Model, Match-up Hypothesis dan Uncanny Valley Theory untuk memberikan kerangka teoretis dalam memahami pengaruh virtual brand ambassadors. Penggunaan metodologi kuantitatif dan fokus khusus pada NARS Power Players memberikan kontribusi pada kebaruan penelitian ini, menawarkan wawasan yang dapat lebih meningkatkan pemahaman tentang respons konsumen terhadap virtual brand ambassadors. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner online kepada 112 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa credibility, congruence, dan human-likeness dari virtual brand ambassadors memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap sikap konsumen, sedangkan attractiveness tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap konsumen. Peneliti selanjutnya dapat mengeksplorasi topik ini lebih lanjut dengan melakukan penelitian kualitatif investigatif mengenai persepsi konsumen dan analisis perbandingan dengan human endorser dan non-human endorser.
Pola Komunikasi Beda Generasi (Studi Etnografi Komunikasi Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat) Sari, Wulan Purnama; Bajari, Atwar; Hafiar, Hanny; Lestari, Puji
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5412

Abstract

The reforms carried out in the Ngayogkarta Palace in recent years have brought many changes, one of which is the condition where the Abdi Dalem who are the Palace officials are divided into two groups of different generations. The first group is the older generation, consisting of the baby boomer and This research was conducted with the aim of finding and searching for communication patterns between Abdi Dalem and their environment. The research was conducted using a qualitative approach and Hymes' ethnographic communication method. The data analysis technique uses SPEAKING theory. The communication patterns resulting from this research are based on ethnographic communication theory. The results of the research show that communication patterns among Abdi Dalem are influenced by intergenerational differences within the Abdi Dalem group which causes differences in ways of communicating between generations. This difference arises because of differences in characteristics between generations, coupled with differences of opinion regarding changes that occur within the Palace. The existence of several generational groups makes communication patterns between Abdi Dalem different between generations, especially between the older generation (baby boomers and generation X) and the younger generation (generation Y and Z). Meanwhile, the communication pattern between Abdi Dalem and the Palace family occurs in the direction of Abdi Dalem's communication flow at the Ngayogyakarta Hadiningrat Palace occurs in a topdown direction, and Abdi Dalem is in the last or lowest position. The communication pattern between Abdi Dalem and the outside community is regulated based on formal protocols owned by the Palace, although informal communication also occurs.ABSTRAKPembaharuan yang dilakukan dalam Keraton Ngayogkarta dalam beberapa tahun belakangan ini membawa banyak perubahan, salah satunya adalah adanya kondisi dimana Abdi Dalem yang merupakan aparatur Keraton terbagi ke dalam dua kelompok yang berbeda generasi. Kelompok pertama merupakan generasi tua, yang terdiri dari generasi baby boomer dan X, sedangkan kelompok kedua merupakan generasi muda yang terdiri dari generasi Y / milenial dan Z. Adanya kondisi ini membawa dinamika yang berbeda bagi Abdi Dalem dengan lingkungannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan dan mencari pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan lingkungannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi Hymes. Teknik analisis data menggunakan SPEAKING theory. Pola komunikasi yang dihasilkan dari penelitian ini berdasarkan teori etnografi komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan pola komunikasi diantara Abdi Dalem dipengaruhi oleh adanya perbedaan antargenerasi dalam kelompok Abdi Dalem yang menyebabkan adanya berbedaan cara berkomunikasi antargenerasi. Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan karakteristik antargenerasi yang ditambah dengan adanya perbedaan pendapat mengenai perubahan yang terjadi dalam lingkup Keraton. Adanya beberapa kelompok generasi ini menjadikan pola komunikasi antar Abdi Dalem menjadi berbeda antargenerasi, terutama antargenerasi tua (baby boomers dan generasi X) dengan generasi muda (generasi Y dan Z). Sementara, pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan keluarga Keraton terjadi dalam arah aliran komunikasi Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terjadi dengan arah topdown, dan Abdi Dalem berada dalam posisi paling akhir atau paling bawah. Pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan masyarakat luar, diatur berdasarkan protokol yang dimiliki oleh Keraton secara formal, walau komunikasi secara informal juga terjadi.
Dampak Ketergantungan Konten Flexing pada Fase Quarter Life Crisis Mahasiswa Tingkat Akhir Maghfira, Rifa; Rozaq, Miftahul
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5416

Abstract

Final-year students aged 20 years and over often feel various pressures to achieve a certain level of success or achievement. One of them is the pressure from flexing content that is often presented on social media. Dependence on flexing content can trigger anxiety about the future, which ultimately leads to the emergence of the quarter-life crisis phase. Through its content, social media indirectly influences students, especially in forming a crisis of self-confidence. This research aims to determine the influence of dependency on flexing content on the quarter-life crisis phase of final-year students and to find out how big the influence of dependency on flexing content is on the quarter-life crisis phase of final-year students. The media dependency theory introduced by Rokeach & Defleur (1976) is utilized as the primary foundation for this research. This research uses a quantitative approach with a survey method for 214 Communication Science students class of 2020 at Telkom University, Bandung. The results of this research obtained a significance value of 0.000 <0.05. The research findings indicate that the dependency on flexing content on social media has a considerable potential to induce anxiety about life direction, leading to the formation of the quarter-life crisis phase. This shows that the dependence on flexing content which includes cognitive, affective, and behavioral aspects influences the quarter-life crisis phase which includes hopes and dreams, educational challenges, religion and spirituality, work life, home, lovers, family, and friends, and identity in final-year students. final Communication Science class of 2020, Telkom University Bandung, with an influence level of 40.7%, and the other 59.3% were influenced by other factors not included in the research. Research implications and suggestions are also discussed.ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir yang berusia 20 tahun keatas seringkali merasakan berbagai tekanan untuk mencapai tingkat kesuksesan atau pencapaian tertentu. Salah satunya adalah tekanan dari konten flexing yang sering dihadirkan pada media sosial. Ketergantungan pada konten flexing dapat memicu kecemasan akan masa depan, yang akhirnya berujung pada munculnya fase quarter life crisis. Melalui kontennya, media sosial secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap mahasiswa, terutama dalam pembentukan krisis kepercayaan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketergantungan konten flexing terhadap fase quarter life crisis mahasiswa tingkat akhir dan mengetahui seberapa besar pengaruh ketergantungan konten flexing terhadap fase quarter life crisis mahasiswa tingkat akhir. Teori ketergantungan media yang diperkenalkan Rokeach & Defleur (1976) digunakan sebagai landasan utama penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei kepada 214 mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2020 Universitas Telkom Bandung. Hasil penelitian ini memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Penelitian ini memperoleh temuan ketergantungan konten flexing di media sosial memiliki potensi cukup tinggi sebagai terjadinya kecemasan tentang arah hidup yang mengarah pada pembentukan fase quarter life crisis. Ini menunjukan bahwa ketergantungan konten flexing yang meliputi aspek kognitif, afektif dan perilaku berpengaruh terhadap fase quarter life crisis yang meliputi hopes and dream, education challenges, religion and spirituality, work life, home, lovers, family, and friends, dan identity pada mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komunikasi angkatan 2020 Universitas Telkom Bandung, dengan tingkat pengaruh sebesar 40,7% dan 59,3% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak terdapat dalam penelitian. Implikasi dan saran penelitian juga dibahas.
Vaksinasi dan Digitalisasi Komunikasi Kesehatan (Studi Fenomenologi Interpretatif atas Pemahaman Pengguna Platform PeduliLindungi di Yogyakarta) Narwaya, Tri Guntur; Lestari, Rani Dwi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5432

Abstract

The development of “PeduliLindungi” Application is one of the government's efforts to respond to the COVID-19 pandemic. The government designed this application to track and detect the potential spread of the SARS-CoV-2 virus so that it does not spread further. Recording vaccinations, history oaf exposure to viruses, and personal health status in this application is personal data that can be used stakeholders related to getting an idea of a person's condition or health status. The “PeduliLindungi” application become a real picture of the progress of digital-based health communication. Using this application during the Covid-19 pandemic has become an obligation for everyone if they want to access public services. Through an Interpretative Phenomenology analytical study approach developed from the ideas of Georg Gadamer's Hermeneutics, researchers attempt to explore further the understanding and meaning of the use of “PeduliLindungi” application in implementing the vaccination program as a mitigation measure for handling the Covid-19 outbreak in the city of Yogyakarta. The target subjects of this research are all user of “PeduliLindungi” application in Yogyakarta. The users of “PeduliLindungi” application, especially those survivors who have been infected with Covid-19. The research results show that there is a tendency for the subject's understanding of “Peduli Lindungi” application development only as an instrument of health communication with all the ethical risk consequences therein. The use of applications is more related to procedural formalities and is not based on awareness of choice because health aspects are fully considered. Communication in the “PeduliLindungi” application could be said that it has not yet formed an understanding but is limited to being a means of control over the individual's body.ABSTRAKPengembangan aplikasi PeduliLindungi menjadi salah satu upaya pemerintah merespon pandemi COVID-19. Pemerintah merancang aplikasi ini untuk melacak serta mendeteksi adanya potensi penyebaran virus SARS-CoV-2 agar tidak semakin meluas. Pencatatan vaksinasi, riwayat terpapar virus, dan status kesehatan personal dalam aplikasi ini menjadi data pribadi yang bisa dimanfaatkan stakeholders terkait untuk mendapatkan gambaran kondisi atau status kesehatan seseorang. Aplikasi PeduliLindungi menjadi gambaran nyata dari wajah kemajuan komunikasi kesehatan berbasis digital. Penggunaan aplikasi ini dalam masa pandemi Covid-19 bertransformasi menjadi kewajiban bagi setiap orang jika mereka ingin mengakses layanan publik. Melalui pendekatan kajian analisis Fenomenologi Interpretatif yang dikembangkan dari gagasan Hermeneutika Georg Gadamer peneliti berupaya untuk menggali lebih lanjut mengenai pemahaman dan pemaknaan atas pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi dalam pelaksanaan program vaksinasi sebagai langkah mitigasi penanganan wabah Covid-19 di kota Yogyakarta. Subjek sasaran dari riset ini adalah para pengguna aplikasi PeduliLindungi, terutama mereka para penyintas yang pernah terinfeksi Covid-19. Hasil riset menemukan bahwa ada kecenderungan pemaknaan subjek terhadap aplikasi PeduliLindungi hanya sebatas sebagaai instrumen formalitas karena bertujuan memenuhi aturan SOP semata. Penggunaan aplikasi lebih banyak terkait dengan formalitas prosedural dan tidak didasari oleh kesadaran pilihan karena pertimbangan aspek kepentingan kesehatan. Komunikasi melalui aplikasi PeduliLindungi bisa dikatakan belum membentuk ‘kesepahaman’ namun sebatas menjadi instrumen kontrol atas tubuh individu.