cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 195 Documents
Pengaruh Cyber Extension dalam Komunikasi Risiko Terhadap Kesiapsiagaan Masyarakat Menghadapi Erupsi Gunung Merapi Herlina Mira; Sumardjo Sumardjo; Ninuk Purnaningsih; Zaim Uchrowi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 15 No. 1 (2026): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the effect of Cyber Extension as a risk communication medium on community preparedness for the Mount Merapi volcanic eruption. The research was conducted in Disaster-Prone Areas (KRB II and KRB III), covering Cangkringan District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta, and Paten District, Magelang Regency, Central Java. The study employed a mixed-methods approach with a quantitative-dominant research design. Quantitative data were collected through a questionnaire survey involving 273 respondents, who constituted the study sample and were selected using purposive sampling. Qualitative data were obtained through field observations to support and enrich the interpretation of the quantitative findings. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics and Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), while qualitative data were analyzed descriptively as supporting evidence. The Cyber Extension in risk communication variable was measured using four dimensions: risk message, risk dialogue, risk field, and risk government, whereas community preparedness was assessed across three dimensions: pre-disaster, during-disaster, and post-disaster. The results indicate that the implementation of Cyber Extension in risk communication was rated high across all dimensions. Likewise, community preparedness was categorized as high throughout all disaster phases. Cyber Extension has a positive and significant effect on community preparedness for the Mount Merapi eruption. This study contributes to the field of disaster communication by demonstrating that Cyber Extension serves as a digital risk communication approach that effectively enhances community preparedness and resilience in disaster-prone areas. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Cyber Extension sebagai media komunikasi risiko terhadap kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi. Penelitian dilaksanakan di kawasan Kawasan Rawan Bencana (KRB) II dan KRB III yang meliputi Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kecamatan Paten, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain dominan kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui survei menggunakan kuesioner terhadap 273 responden yang sekaligus menjadi jumlah sampel penelitian, dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data kualitatif diperoleh melalui observasi lapangan memperkuat interpretasi terhadap hasil analisis kuantitatif. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif sebagai data pendukung. Cyber Extension dalam komunikasi risiko diukur melalui empat dimensi, yaitu risk message, risk dialogue, risk field, dan risk government, sedangkan variabel kesiapsiagaan masyarakat diukur melalui dimensi pra-bencana, saat bencana, dan pascabencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Cyber Extension dalam komunikasi risiko berada pada kategori tinggi pada seluruh dimensi. Kapasitas kesiapsiagaan masyarakat juga berada pada kategori tinggi pada seluruh tahapan bencana. Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa Cyber Extension berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi, Kontribusi penelitian yaitu Cyber Extension merupakan pendekatan komunikasi risiko berbasis digital yang mendukung peningkatan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat di kawasan rawan bencana.
Digital Fan Engagement dan Strategi Sports Marketing Klub Satya Wacana Saints Salatiga Tegar Rakhy Bayuga; Rini Darmastuti; Deasy Carolina
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 15 No. 1 (2026): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of the sports industry demands strategic digitalization in building relationships with fans . This study aims to analyze the implementation of digital fan engagement strategies on the Instagram of the Satya Wacana Saints (SWS) basketball club in Salatiga, and examine its impact on the escalation of fan loyalty and participation . Using a descriptive qualitative method, data was collected through in-depth interviews with club management, active fans, and player fans . The results indicate that SWS's digital marketing strategy is suboptimal and experiences a "digital acquisition deficit" . Social media management is still dominated by asymmetric one-way communication, monotonous visual content, and a lack of storytelling tactics that humanize athletes off the court . Fan awareness and emotional attachment are currently driven purely by organic local identity proximity (UKSW alma mater and Salatiga City), rather than effective digital campaigns . Consequently, fan involvement stalls at passive observation and fails to transform into digital advocacy or active co-creation participation . This study concludes the urgency for SWS to integrate Customer Relationship Management (CRM) and revamp its content strategy to be more interactive to convert offline allegiance into militant digital loyalty. ABSTRAK Perkembangan industri olahraga menuntut digitalisasi strategis dalam membangun hubungan dengan penggemar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan strategi digital fan engagement pada media sosial Instagram klub basket Satya Wacana Saints (SWS) Salatiga, serta mengkaji dampaknya dalam membangun eskalasi loyalitas dan partisipasi fans. Tulisan ini didasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif,  pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada manajemen klub, fans aktif dan fans pemain. Hasil penelitian menunjukkan strategi pemasaran digital SWS masih mengalami "defisit akuisisi digital". Pengelolaan media sosial masih didominasi komunikasi asimetris satu arah, konten visual yang monoton dan minimnya taktik storytelling yang memanusiakan atlet di luar lapangan. Awareness dan Attachment penggemar murni didorong oleh kedekatan organik identitas lokal (almamater UKSW dan Kota Salatiga), bukan efektivitas kampanye digital. Akibatnya, keterlibatan penggemar terhenti pada level observasi pasif dan gagal bertransformasi menjadi advokasi digital (allegiance) atau partisipasi ko-kreasi aktif. Menjadi urgensi bagi SWS mengintegrasikan Customer Relationship Management (CRM) dan merombak strategi konten menjadi lebih interaktif guna mengonversi kesetiaan luring menjadi loyalitas digital yang militan.
Pela-Gandong and the HAHESI Luhukay Model: Local Wisdom as a Foundation for Peace Communication Among Post-Conflict Youth in Ambon Marsefio Sevyone Luhukay; Alo Liliweri; Arief Subhan; Frengki Napitupulu
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 15 No. 1 (2026): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the revitalization of Pela-Gandong, a traditional inter-village kinship system from the Maluku archipelago of eastern Indonesia, as a local wisdom foundation for peace communication among post-conflict youth in Ambon. Drawing on a phenomenological-hermeneutic approach with Paul Ricoeur’s three-stage mimesis framework (prefiguration, configuration, refiguration), this research conducted in-depth interviews with 15 purposively selected youth informants from diverse interfaith backgrounds. The findings reveal that Pela-Gandong is not merely an inherited cultural relic but a living social practice actively reinterpreted by Generation Z through collaborative arts, social activism, environmental work, and digital media. From the empirical data, this study proposes the HAHESI Luhukay Peace Communication Model, a novel theoretical contribution that conceptualizes peace as an ongoing communicative process of binding, maintaining, and renewing social bonds, analogous to the traditional Maluku craft of weaving sago-leaf roofing with hahesi cord. The model comprises five interrelated elements: collective memory (Daun Sagu), communication channels (Bangkawang), reconciliatory practices (Hahesi), interfaith community groups (Panggepe), and custodians of tradition (Tukang Atap). This study contributes to peace communication theory by demonstrating that grassroots, culturally rooted communication processes are central to sustainable post-conflict reconciliation. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji revitalisasi Pela-Gandong, sistem kekerabatan antarnegeri tradisional dari kepulauan Maluku di Indonesia timur, sebagai fondasi kearifan lokal bagi komunikasi perdamaian di kalangan generasi muda pascakonflik di Ambon. Menggunakan pendekatan fenomenologi-hermeneutika dengan kerangka tiga tahap mimesis Paul Ricoeur (prafigurasi, konfigurasi, refigurasi), penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan 15 informan muda yang dipilih secara purposive dari berbagai latar belakang lintas iman. Temuan menunjukkan bahwa Pela-Gandong bukan sekadar warisan budaya yang sudah usang, melainkan praktik sosial yang hidup dan aktif ditafsirkan ulang oleh Generasi Z melalui seni kolaboratif, aktivisme sosial, kerja lingkungan, dan media digital. Dari data empiris ini, penelitian mengajukan Model Komunikasi Perdamaian HAHESI Luhukay, kontribusi teoretis baru yang mengonseptualisasikan perdamaian sebagai proses komunikatif berkesinambungan dalam mengikat, merawat, dan memperbarui ikatan sosial, serupa dengan tradisi Maluku membuat atap rumbia dengan tali hahesi. Model ini terdiri dari lima elemen: memori kolektif (Daun Sagu), kanal komunikasi (Bangkawang), praktik rekonsiliatif (Hahesi), komunitas lintas iman (Panggepe), dan penjaga tradisi (Tukang Atap).
Constructing Purbaya's Cowboy Image: Framing and Critical Discourse in Indonesian Online News: Konstruksi Citra Koboi Purbaya: Framing dan Wacana Kritis di Media Daring Indonesia Oryza Nathan Hanif Sutejo; Subkhi Ridho
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 15 No. 1 (2026): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Online media in this digital age, has become the primary arena for constructing public figures images and shaping political legitimacy. The rapid growth of internet penetration in Indonesia has intensified competition among news portals, driving distinct editorial logics that produce divergent representations of the same figure. This research examines the construction of Purbaya Yudhi Sadewa’s “cowboy” communication style as a media darling figure through an analysis of news coverage on Detik.com and Liputan6.com from September to November 2025. Few studies have comparatively integrated framing theory and critical discourse analysis to examine how Indonesian online media construct the legitimacy of public officials, and this study addresses that gap. Using a qualitative approach, data were collected from twelve purposively selected news articles and analyzed through Robert N. Entman’s framing theory across four elements — define problem, diagnose causes, make moral judgments, and treatment recommendation — and Teun A. van Dijk’s critical discourse analysis across three structural levels: macrostructure, superstructure, and microstructure. Results reveal that Detik.com employs a conflict frame with personalization and dramatization that produces charisma-based legitimacy, while Liputan6.com applies a policy framework with a structuralist, evidence-based approach that generates legal-rational legitimacy. Theoretically, the study demonstrates that framing and critical discourse analysis operate as complementary rather than redundant instruments, yielding a three-tiered analytical architecture that links structural determinants, editorial logic, and textual mechanisms. Practically, it offers media literacy practitioners a diagnostic tool for identifying how political legitimacy is manufactured in digital news. ABSTRAK Media daring di era digital ini telah menjadi arena utama konstruksi citra figur publik dan pembentukan legitimasi politik. Pesatnya pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia semakin memperketat persaingan antarportal berita, mendorong logika editorial yang berbeda-beda sehingga menghasilkan representasi yang beragam terhadap figur yang sama. Penelitian ini mengkaji konstruksi gaya komunikasi "koboi" Purbaya Yudhi Sadewa sebagai figur media darling melalui analisis pemberitaan pada Detik.com dan Liputan6.com periode September hingga November 2025. Masih terbatas studi yang mengintegrasikan teori framing dan analisis wacana kritis secara komparatif untuk mengkaji konstruksi legitimasi pejabat publik di media daring Indonesia, dan penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan dari dua belas artikel berita yang dipilih secara purposif dan dianalisis melalui teori framing Robert N. Entman dengan empat elemen — define problem, diagnose causes, make moral judgments, dan treatment recommendation — serta analisis wacana kritis Teun A. van Dijk pada tiga level struktural: makrostruktur, superstruktur, dan mikrostruktur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Detik.com menggunakan bingkai konflik dengan personalisasi dan dramatisasi yang menghasilkan legitimasi berbasis kharisma, sementara Liputan6.com menerapkan kerangka kebijakan dengan pendekatan strukturalis berbasis bukti yang menghasilkan legitimasi legal-rasional. Secara teoretis, penelitian ini membuktikan bahwa analisis framing dan analisis wacana kritis berfungsi sebagai komplementer, bukan redundan, sehingga menghasilkan arsitektur analisis tiga lapis yang menghubungkan determinan struktural, logika editorial, dan mekanisme tekstual. Secara praktis, temuan ini menyediakan instrumen diagnostik bagi praktisi literasi media untuk mengidentifikasi cara legitimasi politik diproduksi dalam berita digital.
Gaya Bahasa Satir Pandji Pragiwaksono Dalam Iklan Pewaris Lezza Fanny Lesmana; Marco Nugroho
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 15 No. 1 (2026): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The stand-up comedy show presented by Pandji Pragiwaksono entitled Mens Rea has become a controversy because there is material that is suspected of being inflammatory. Ultimately, Pandji Pragiwaksono was reported to the police. However, the Pewaris Lezza brand took advantage of the moment by creating an advertisement that is in line with the Mens Rea performance, even Pandji also became the advertising star in the Pewaris Lezza advertisement version of 'Enakin Mulut Loe'. In its broadcast, the advertisement which lasts 1 minute 37 seconds received various responses from the public regarding the use of satirical language styles all delivered by Pandji Pragiwaksono. Therefore, this study aims to determine Pandji's satirical language style in the narrative of the advertisement which is analyzed narratively from the beginning, middle, and end of the advertisement. The research method used in this study is narrative analysis by Tzvetan Todorov with qualitative research approach and constructivism paradigm. The total unit of analysis is 13 scenes of Pandji in the advertisement. The findings of this study reveal a visible and deliberate satirical style of language in several advertisements. All of Pandji's satirical language refers to freedom of speech and the freedom to criticize what is happening. Furthermore, there is a congruence between the message of the advertisement "Enakin Mulut Loe" and the character of Pandji Pragiwaksono, who is vocal in criticizing government issues. There is also a strong symbolic interaction and representation of reality in every angle in this advertisement. ABSTRAK Pertunjukan stand up comedy yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea telah menjadi kontroversi karena ada materi yang diduga bernada menghasut. Ujungnya, Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke polisi. Meski demikian, brand Pewaris Lezza memanfaatkan momen dengan membuat iklan yang senada dengan pementasan Mens Rea, bahkan Pandji sekaligus menjadi bintang iklan pada iklan Pewaris Lezza versi 'Enakin Mulut Loe'. Dalam tayangannya, iklan yang berdurasi 1 menit 37 detik ini mendapat berbagai respons dari publik mengenai penggunaan gaya bahasa satir yang semuanya dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya bahasa satir Pandji dalam narasi tayangan iklan yang dianalisis secara naratif dari awal, tengah, dan akhir iklan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis naratif oleh Tzvetan Todorov dengan pendekatan penelitian kualitatif dan paradigma konstruktivisme. Total unit analisis yang ada ialah 13 scene Pandji yang ada di iklan tersebut. Hasil temuan dalam penelitian ini terdapat gaya bahasa satir secara nampak dan sengaja di beberapa potongan iklan. Semua gaya bahasa satir Pandji merujuk pada kebebasan berpendapat dan kebebasan dalam mengkritik atas apa yang terjadi. Kemudian, ada kesesuaian antara pesan iklan ‘Enakin Mulut  Loe’ dengan karakter tokoh sosok Pandji Pragiwaksono yang vokal dalam mengkritisi isu pemerintah, serta adanya interaksi simbolik dan representasi dari realitas yang kuat di setiap pengambilan angle pada iklan ini.