cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 188 Documents
Framing Media Giant Sea Wall: Legitimasi & Penolakan Alvandaru, M. Hafid; Asy'ari, Nur Aini Shofiya
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v14i1.7340

Abstract

Mass media in the digital era has transformed into a very influential reality construction agent, especially in framing complex national strategic issues such as the Giant Sea Wall project in Jakarta. The Giant Sea Wall project in Jakarta emerged as a government initiative for disaster mitigation due to rising sea levels. This research aims to analyze Tempo.co and CNN Indonesia media in constructing reality related to the project through the perspective of framing analysis. The subjects of this research are online news articles about the giant sea wall mega project designed to protect the North Coast of Java (Pantura) from flooding, erosion, and the impacts of climate change and human activities. Using qualitative methods, this study explores how the two media framed the issue, focusing on Robert M. Entman's four framing elements: defining the problem, diagnosing the cause, making a moral decision, and recommending a response. The results of the analysis show that Tempo.co tends to frame the Giant Sea Wall project as an urgent strategic solution, emphasizing urgency and support for the Prabowo government's policy, as well as criticizing the previous administration. In contrast, CNN Indonesia adopts a more critical and scientific approach, highlighting the complexity of the problem and proposing more diverse and sustainable solutions, including relocation options. These framing differences reflect different positions towards government policy, with Tempo.co supporting infrastructure megaprojects, while CNN Indonesia criticized the approach and emphasized the need for more comprehensive solutions. This research contributes to the understanding of how the media shapes public discourse on national strategic issues. ABSTRAK Media massa dalam era digital telah bertransformasi menjadi agen konstruksi realitas yang sangat berpengaruh, khususnya dalam membingkai isu-isu strategis nasional yang kompleks seperti proyek Giant Sea Wall Jakarta. Proyek Giant Sea Wall di Jakarta muncul sebagai inisiatif pemerintah untuk mitigasi bencana akibat kenaikan permukaan air laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis media Tempo.co dan CNN Indonesia dalam mengkonstruksi realitas terkait proyek tersebut melalui perspektif analisis framing. Subjek penelitian ini adalah artikel berita daring tentang mega proyek tanggul laut raksasa yang dirancang untuk melindungi Pantai Utara Jawa (Pantura) dari banjir, erosi, dan dampak perubahan iklim serta aktivitas manusia. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi kedua media membingkai isu ini, dengan fokus pada empat elemen framing menurut Robert M. Entman: pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, membuat keputusan moral, dan rekomendasi penanganan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Tempo.co cenderung membingkai proyek Giant Sea Wall sebagai solusi strategis yang mendesak, menekankan urgensi dan dukungan terhadap kebijakan pemerintah Prabowo, serta mengkritik pemerintahan sebelumnya. Sebaliknya, CNN Indonesia mengadopsi pendekatan yang lebih kritis dan ilmiah, menyoroti kompleksitas masalah dan mengusulkan solusi yang lebih beragam dan berkelanjutan, termasuk opsi relokasi. Perbedaan framing ini mencerminkan posisi yang berbeda terhadap kebijakan pemerintah, dengan Tempo.co mendukung megaproyek infrastruktur, sementara CNN Indonesia mengkritisi pendekatan tersebut dan menekankan perlunya solusi yang lebih komprehensif. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana media membentuk wacana publik terkait isu-isu strategis nasiona.
Pengaruh Kompetensi Komunikasi Hati dan Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Resiliensi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir Handayani, Tusti; Lestari, Puji
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v14i1.7359

Abstract

Final-year students often face complex academic pressures. Academic resilience is a key competency for students to be able to face pressure. Academic resilience is influenced by internal factors such as heart communication competency and external factors such as peer social support. The study aims to analyze the effect of heart communication competency (X1) and social support (X2) on the academic resilience of final-year students (Y). The study used a quantitative method. The research sample was 80 final-year students of the Faculty of Vocational Studies, UNY. Data collection through surveys to samples. Data analysis with parametric statistics in the form of linearity tests and hypothesis tests through simple correlation analysis methods, multiple correlation analysis, and multiple regression analysis. The results of the study showed that there was a positive and significant partial influence between X1 and Y of 40.2%, there was a positive and significant influence between X2 and Y of 26.5%, and there was a positive and significant influence together between heart communication competency and peer social support of 30.2% on academic resilience in students of the Faculty of Vocational Studies, UNY. The findings show that the competence of heart communication, with the dimensions of thinking, feeling, managing heart waste, sympathy, empathy, peace, and happiness, plays a dominant role in the academic resilience of final-year students. The contribution of the research provides a new understanding of the importance of heart communication competence and peer social support in supporting the academic resilience of final-year students. The results of the study support the Theory of Heart Communication, which emphasizes that thinking, feeling, managing heart waste, sympathy, and empathy for a peaceful and happy life can positively increase the academic resilience of final-year students. The study successfully tested the relevance of the Theory of Heart Communication to the academic resilience of final-year students at the Faculty of Vocational Studies, UNY, as a novelty. ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir kerap menghadapi tekanan akademik yang kompleks. Resiliensi akademik menjadi kompetensi kunci agar mahasiswa mampu menghadapi tekanan. Resiliensi akademik dipengaruhi faktor internal seperti kompetensi komunikasi hati dan eksternal seperti dukungan sosial teman sebaya. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi komunikasi hati (X1) dan dukungan sosial (X2) terhadap resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir (Y). Penelitian menggunakan metode kuantitaif. Sampel penelitian sebanyak 80 mahasiswa tingkat akhir Fakultas Vokasi UNY. Pengumpulan data melalui survei kepada sampel. Analisis data dengan statistik parametris berupa uji linearitas dan uji hipotesis melalui metode analisis korelasi sederhana, analisis korelasi berganda dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan secara parsial antara X1 dengan Y sebesar 40,2%, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara X2 dengan Y sebesar 26,5%, dan terdapat pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama antara kompetensi komunikasi hati dan dukungan sosial teman sebaya sebesar 30,2% terhadap resiliensi akademik pada mahasiswa Fakultas Vokasi UNY. Temuan menunjukkan kompetensi komunikasi hati, dengan dimensi olah pikir, olah rasa, kelola sampah hati, simpati, empati, damai, dan bahagia berperan dominan terhadap resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir. Kontribusi penelitian memberikan pemahaman baru pentingnya kompetensi komunikasi hati dan dukungan sosial teman sebaya dalam mendukung resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir. Hasil penelitian mendukung Teori Komunikasi Hati yang menekankan bahwa olah pikir olah rasa, kelola sampah hati, simpati, empati, untuk hidup damai dan bahagia secara positif dapat meningkatkan resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir. Penelitian berhasil menguji relevansi Teori Komunikasi Hati terhadap resiliensi akademik mahasiswa tingakt akhir di Fakultas Vokasi UNY sebagai novelty.
Transformasi Komunikasi Antarbudaya di Perbatasan Indonesia–Timor Leste Melalui Media Sosial Facebook Taka, Elvira Leonita; Andung, Petrus Ana; Nope, Hotlif Arkilaus; Konradus, Blajan; Dupe, Frengky
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v14i1.7370

Abstract

The border communities of Indonesia and Timor Leste present intriguing social and cultural phenomena. The social relations between these border communities in both countries remain strong due to kinship ties and historical proximity, despite being separated by national administrative boundaries. The aim of this study is to analyze the cross-cultural communication patterns of the Indonesia-Timor Leste border communities through Facebook social media and to explore the meanings attached to digital interactions on social media by these communities. This qualitative research adopts an interpretive paradigm, employing a media ethnography methodology. Data collection was carried out through observations and in-depth interviews with community members, including youth, women, and community leaders. The findings indicate that social media has brought about a transformation in cross-cultural communication within the border communities, where Facebook has "replaced" conventional communication that previously relied on physical visits for socio-cultural activities between the Indonesia-Timor Leste border populations. The border communities also perceive the use of Facebook as a space to strengthen kinship, preserve cultural identity, and support local border economic activities. However, this study also identifies negative impacts of Facebook use, such as disputes arising from misinterpretations in digital communication, which are often resolved through culturally-based conflict resolution mechanisms. Overall, this research demonstrates that social media not only functions as a communication tool but also as a cultural space in which the Indonesia-Timor Leste border communities maintain their connectivity, identity, and solidarity. ABSTRAK Masyarakat perbatasan Indonesia dan Timor Leste menyimpan fenomena sosial dan budaya yang menarik. Relasi sosial masyarakat perbatasan di kedua negara ini tetap terjalin erat karena adanya ikatan kekerabatan dan kedekatan historis, meskipun terpisah oleh batas administratif negara. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pola komunikasi antarbudaya masyarakat perbatasan Indonesia–Timor Leste melalui media sosial Facebook dan mengeksplorasi makna yang dilekatkan masyarakat perbatasan terhadap interaksi digital di media sosial. Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma interpretatif, dengan metode etnografi media. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dan wawancara mendalam dengan masyarakat, termasuk pemuda, perempuan, dan tokoh masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah membawa transformasi dalam komunikasi antarbudaya pada masyarakat perbatasan di mana Facebook “menggantikan” komunikasi konvensional yang mengandalkan kunjungan fisik untuk aktifitas sosial budaya di kalangan masyarakat perbatasan Indonesia-Timor Leste. Masyarakat perbatasan juga memaknai penggunaan Facebook sebagai ruang untuk memperkuat kekerabatan, mempertahankan identitas budaya, dan mendukung kegiatan ekonomi lokal perbatasan. Namun, penelitian ini juga menemukan dampak negatif dari penggunaan Facebook berupa perselisihan akibat salah tafsir dalam komunikasi digital, yang kerap diselesaikan melalui mekanisme penyelesaian konflik berbasis budaya. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang budaya di mana masyarakat perbatasan Indonesia-Timor Leste mempertahankan keterhubungan, identitas, dan solidaritas mereka.
The Role and Integration of Social Media with Online Media Practices in Malang to Enhance News Distribution and Audience Engagement Qorib, Fathul; Najih, Aizun; Saudah; Nurdiarti, Rosalia Prismarini
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v14i1.7395

Abstract

This study examines the role of social media in shaping online media practices in Malang, focusing on Jatim Times and Tugu Media Group. This study aims to see how both media use platforms such as TikTok, Instagram, Facebook, and Twitter to spread news, engage with audiences, promote content, and attract advertising. This study uses a qualitative approach, collecting data through in-depth interviews with social media managers, journalists, and editors and analyzing the content on their social media. By comparing interviews, content, and activities on social media, this study provides an overview of how social media influences their strategies. The results show that social media is essential in expanding audience reach, strengthening media identity, and increasing advertising revenue. However, the challenge is how the media balances these promotional efforts while maintaining the credibility of the information that is the primary basis of the media. The benefits of this study are that it will provide a deep understanding for media practitioners and researchers about integrating social media into local media strategies, as well as the challenges faced in maintaining credibility in the digital world. Further research is recommended to focus on the ethical challenges of using social media for news dissemination in Indonesia. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji peran media sosial dalam membentuk praktik media online di Malang, dengan fokus pada Jatim Times dan Tugu Media Group. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana kedua media tersebut menggunakan platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan Twitter untuk menyebarkan berita, berinteraksi dengan audiens, mempromosikan konten, serta menarik iklan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan manajer media sosial, jurnalis, dan editor, serta menganalisis konten yang ada di media sosial mereka. Dengan membandingkan wawancara, konten, dan aktivitas di media sosial, penelitian ini memberikan gambaran tentang bagaimana media sosial mempengaruhi strategi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam memperluas jangkauan audiens, memperkuat identitas media, dan meningkatkan pendapatan dari iklan. Namun, tantangannya adalah bagaimana media menyeimbangkan upaya promosi tersebut dengan tetap menjaga kredibilitas informasi yang menjadi basis utama media. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman mendalam bagi praktisi media dan peneliti tentang integrasi media sosial dalam strategi media lokal, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga kredibilitas dalam dunia digital. Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih fokus pada tantangan etis dalam penggunaan media sosial untuk penyebaran berita di Indonesia.
Pergeseran Makna Cancel Culture di Indonesia : Analisis Semiotika Sosial Theo van Leeuwen Prasetyo, Alvina Tanuwijaya; Andriana, Viola Athaya; Wempi, Jefri Audi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v14i1.7407

Abstract

Social media’s growth has given rise to platforms where people may freely express their opinions, which has resulted in the emergence of cancel culture, a phenomenon where individuals or brands experience public outrage, boycotts, or exclusion due to the breach of social or ethical standards. Originally grounded in moral responsibility, cancel culture has transformed into a wider social occurrence with diverse motivations. This research examines the evolving significance of cancel culture through the lens of Theo van Leeuwen’s social semiotics framework, emphasizing four main aspects: discourse, genre, style, and modality. Using qualitative methods such as interviews, the results show that cancel culture is frequently driven more by a propensity, especially in Indonesia, to follow trends and a fear of missing out (FOMO), than by well-informed decision-making. It also discovers that technology is being used more and more to advance commercial, political, economic, or personal interests. The study concludes that cancel culture has shifted from being a collective moral statement into a tactical instrument for shaping digital narratives and influencing public opinion. This transformation highlights the intricate relationship between social media, power dynamics, and cultural standards, revealing both the advantages and disadvantages of cancel culture in contemporary digital society. ABSTRAK Perkembangan teknologi telah memunculkan platform media sosial dimana orang dapat mengekspresikan pendapat, yang membentuk munculnya cancel culture, sebuah fenomena di mana individu atau merk mengalami kemarahan publik, boikot, atau pengucilan karena dianggap melakukan kesalahan fatal atau melanggar norma sosial. Fenomena yang awalnya didasarkan pada tanggung jawab moral, telah berubah menjadi gerakan sosial yang lebih luas dengan motif beragam. Penelitian ini menganalisis pergeseran makna cancel culture dengan pendekatan semiotika sosial dari Theo van Leeuwen, yang menekankan empat aspek utama: discourse, genre, style, dan modality. Metode penelitian kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, untuk memahami bagaimana makna cancel culture dibentuk dan digunakan dalam interaksi sosial di media digital khususnya di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, cancel culture sering kali didorong kecenderungan untuk mengikuti tren dan fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal, daripada memahami konteks masalah yang terjadi. Ditemukan juga bahwa, teknologi semakin sering dimanfaatkan untuk memajukan kepentingan komersial, politik, ekonomi, atau pribadi. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa cancel culture telah bergeser dari pernyataan moral kolektif menjadi instrumen taktis untuk membentuk narasi digital dan memengaruhi opini publik. Transformasi ini menyoroti hubungan antara media sosial, dinamika kekuasaan, dan standar budaya, yang mengungkap kelebihan dan kekurangan budaya pembatalan dalam masyarakat digital kontemporer.
Aksi Kawal Putusan MK Dalam Bingkai Media: Dominasi Konflik dan Tantangan Demokrasi Putri, Dinda Syaharani; Chasana, Rona Rizkhy Bunga
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v14i1.7467

Abstract

This research aims to analyze how Tempo.co and Kompas.com framed news coverage of the “Aksi Kawal Putusan MK” (The Movement to Protect the Constitutional Court Ruling), which represents a political crisis in Indonesia. The protest emerged as a public response to the revision of the Constitutional Court’s decision regarding the age requirement for regional election candidates. In this context, the media play a crucial role in shaping public perception through the construction of narratives in their reporting. This study employs a descriptive quantitative content analysis method using Semetko and Valkenburg’s framing model, which consists of five categories: conflict, attribution of responsibility, economic consequences, human interest, and morality. A total of 44 news articles from Tempo.co and Kompas.com published between August 20–31, 2024, were selected using purposive sampling. The findings reveal that the conflict frame is the most dominant (38.6%), followed by attribution of responsibility (25%), human interest (20.5%), and morality (15.9%). No economic consequence frame was identified. These findings indicate that both media outlets emphasize political tensions and responsible actors, underscoring the media's role in shaping public opinion within a democratic context. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media Tempo.co dan Kompas.com membingkai pemberitaan mengenai Aksi Kawal Putusan MK yang mencerminkan bentuk krisis politik di Indonesia. Aksi ini muncul sebagai respons publik terhadap revisi keputusan Mahkamah Konstitusi terkait batas usia calon kepala daerah. Dalam konteks ini, media memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik melalui konstruksi narasi yang disampaikan dalam pemberitaan. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantitatif deskriptif dengan model framing dari Semetko dan Valkenburg, yang mengkategorikan bingkai ke dalam lima jenis: konflik, atribusi tanggung jawab, konsekuensi ekonomi, human interest, dan moralitas. Sebanyak 44 berita dari Kompas.com dan Tempo.co dalam kurun waktu 20–31 Agustus 2024 dianalisis menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bingkai konflik menjadi yang paling dominan (38,6%), diikuti oleh atribusi tanggung jawab (25%), human interest (20,5%), dan moralitas (15,9%). Tidak ditemukan penggunaan bingkai konsekuensi ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua media menyoroti ketegangan politik dan aktor kunci, menegaskan peran media dalam membentuk opini publik.
Implementasi Manajemen Reputasi Selebriti Dalam Krisis Citra : Analisis Konten Media Instagram @panncafe Rambu Podu Diah, Sharon Claudia
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v14i1.7532

Abstract

Reputation is crucial especially public figures and celebrities. For celebrities, reputation differentiates them from others. It attracts the public to idolize these celebrities. However, reputation can be damaged when a celebrity experiences a crisis. This research focuses on the image restoration of Kim Soo Hyun, whose reputation is currently declining due to a dating scandal with another South Korean celebrity, Kim Sae Ron. This crisis is widely discussed among K-pop fans. It has become a focus in the context of crisis management with intense and massive information dissemination. This study uses a qualitative content analysis method based on Instagram content @panncafe regarding the crisis experienced by Kim Soo Hyun in March 2024 - May 2025. Instagram @panncafe was chosen as Korean entertainment agencies tend to provide statements through the press directly. The analysis is based on Benoit's image repair theory and crisis communication strategies. The results of this study found that Kim Soo Hyun and his agency used the strategies of denial, evading responsibility, reducing offensiveness, and mortification to repair their reputation. Kim Soo Hyun and his agency provided a consistent and active response to every information regarding the crisis. There is a pattern of changing responses from Kim Soo Hyun and his agency, namely tending to quickly deny every allegation. Nevertheless, they are admitting some of the information conveyed after rechecking. This crisis has a negative impact on the reputation of Kim Soo Hyun and his agency as they appear to have no standing in this case. ABSTRAK Reputasi merupakan hal yang penting bagi setiap individu, terutama tokoh public dan selebriti. Bagi para selebriti, reputasi menjadi pembeda antara dirinya dengan orang lain. Ini menjadi daya tarik bagi masyarakat sehingga dapat mengidolakan selebriti dimaksud. Namun, reputasi ini bisa rusak terutama ketika selebriti mengalami krisis. Penelitian ini fokus pada perbaikan reputasi selebriti yaitu Kim Soo Hyun, yang merupakan selebriti yang sedang mengalami penurunan reputasi akibat skandal dating dengan selebriti Korea Selatan lainnya yaitu Kim Sae Ron. Krisis ini banyak dibicarakan di kalangan penggemar Kpop, serta menjadi sorotan dalam konteks penanganan krisis dengan penyebaran informasi yang intens dan massif. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif berdasarkan konten Instagram @panncafe mengenai krisis yang dialami oleh Kim Soo Hyun pada bulan Maret 2024 – Mei 2025. Instagram @panncafe dipilih karena menjadi sumber informasi berita entertainment Korea Selatan. Hal ini dikarenakan agensi hiburan Korea cenderung memberikan pernyataan melalui pers secara langsung. Analisis didasarkan pada teori perbaikan citra oleh Benoit serta strategi komunikasi krisis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Kim Soo Hyun dan agensinya menggunakan strategi denial, evading responsibility, reducing offensiveness, dan mortification untuk memperbaiki reputasinya. Kim Soo Hyun dan agensinya memberikan respons yang konsisten terhadap setiap informasi yang disebarkan mengenai krisis. Terdapat pola respons yang berubah – ubah dari Kim Soo Hyun dan agensinya, yaitu cenderung cepat membantah setiap dugaan. Namun pada akhirnya mengakui sebagian dari informasi yang disampaikan setelah melakukan pengecekan kembali. Hal ini justru berdampak negatif pada reputasi Kim Soo Hyun dan agensi dimana mereka terkesan tidak memiliki standing position dalam kasus ini.
Stereotipe Penari Musik Jalanan Di Tiktok: Studi Etnografi Virtual Akun Cctv Horeg Mojokerto Real Pratiwi, Hana; Sukmono, Filosa Gita
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This article examines the stereotypes toward female street electronic music dancers on TikTok through a case study of the account @cctvhoregmojokerto. The study focuses on how the bodies and cultural expressions of women from marginalized social classes are represented, interpreted, and contested within digital spaces shaped by algorithmic systems and the logic of virality. Using a virtual ethnography approach, this research applies a multi-level analysis at the individual, community, and social levels, while integrating key aspects of digital media analysis, including media space, media documents, media objects, experiential narratives, and user interactions. The findings indicate that stereotypes toward lower-class female bodies are not only produced through audience comments but are also reinforced by platform algorithms that prioritize emotional engagement. At the same time, digital spaces provide opportunities for symbolic agency and resistance, as reflected in supportive comments, community solidarity, and creators’ awareness in managing bodily representation and cultural identity. This study highlights social media as a public communication arena where meanings are continuously negotiated between dominant aesthetic norms and local cultural expressions within the context of Indonesia’s digital society. ABSTRAK Artikel ini menganalisis stereotipe terhadap penari musik elektronik jalanan perempuan di media sosial TikTok melalui studi kasus akun @cctvhoregmojokerto. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana tubuh dan ekspresi budaya perempuan dari kelas sosial marjinal direpresentasikan, dimaknai, dan diperdebatkan dalam ruang digital yang dipengaruhi oleh algoritma dan logika viralitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi virtual dengan analisis bertingkat pada level individu, komunitas, dan sosial, serta mengintegrasikan aspek ruang media, dokumen media, objek media, narasi pengalaman, dan interaksi pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stereotipe terhadap tubuh perempuan kelas bawah tidak hanya diproduksi melalui komentar audiens, tetapi juga diperkuat oleh mekanisme algoritmik platform yang memprioritaskan keterlibatan emosional. Di sisi lain, ruang digital juga membuka peluang bagi munculnya agensi simbolik dan bentuk resistensi, yang tampak melalui komentar afirmatif, solidaritas komunitas, serta kesadaran kreator dalam mengelola representasi tubuh dan identitas kultural. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial berfungsi sebagai arena komunikasi publik yang memperlihatkan negosiasi makna antara dominasi norma estetika arus utama dan ekspresi budaya lokal dalam konteks masyarakat digital Indonesia.
Environmental Communication Activities in Clean Up and Education Program by Trash Hero Jogja Community Sihaloho, Yeremia; Arifin, Pupung
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The city of Yogyakarta has been experiencing a waste emergency since 2023 because the Piyungan landfill has exceeded its waste capacity and was temporarily closed. As a result of the closure, there is faithfully a lot of waste that fails to be processed. The Trash Hero Jogja community is one of the communities that helped the government's efforts in responding to the waste emergency that occurred in Yogyakarta. More than 928,445 kg of waste has been handled since 2022. This research aims to find out the environmental communication model in the clean up and education program by the Trash Hero Jogja community. This research uses a case study method with data collection techniques in the form of observation, documentation study and in-depth interviews. This study concluded that the convergence communication model plays an important role in achieving understanding between the Trash Hero Jogja community and the community and stakeholders regarding environmental issues. The researcher also found that this community does not evaluate the community and stakeholders regarding clean-up and education programs. ABSTRAK Kota Yogyakarta telah mengalami darurat sampah sejak tahun 2023 karena tempat pembuangan akhir Piyungan telah melebihi kapasitas sampah dan ditutup sementara. Imbas penutupan tersebut, setia hari ada banyak sampah yang gagal untuk diolah. Komunitas Trash Hero Jogja merupakan salah satu komunitas yang membantu upaya pemerintah dalam merespons darurat sampah yang terjadi di Yogyakarta. Lebih dari 928,445 kg sampah yang telah ditangani sejak tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model komunikasi lingkungan dalam program clean up dan edukasi oleh komunitas Trash Hero Jogja. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, studi dokumentasi dan wawancara mendalam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model komunikasi konvergensi memainkan peran penting dalam mencapai kesepahaman antara komunitas Trash Hero Jogja dengan masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai isu lingkungan. Peneliti juga menemukan bahwa komunitas ini tidak melakukan evaluasi terhadap masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai program clean up dan edukasi.
Visual Parody of Decolonization: Reading the Hybridity of Colonial Symbols in the “Tujuh Belasan” Commemorations Dektisa, Andrian
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Indonesia’s Independence Day celebrations—popularly known as Tujuh Belasan—often feature theatrical performances that restage battles between Japanese troops, Allied forces, and Indonesian freedom fighters. In these performances, military costumes and props are crafted manually by local hands, turning narrow village alleys into symbolic stages. While they may appear to be mere entertainment, such reenactments, when viewed through the lens of complex postcolonial understanding, function as visual parodies of decolonization. Drawing on Homi K. Bhabha’s concepts of mimicry and the third space, these performances expose ironic fissures that unsettle colonial authority. They transform colonial imagery from symbols of domination into objects of mockery, hybridity, and creative contestation. Through Gillian Rose’s notion of the site of production, this study highlights how the making of costumes and theatrical paraphernalia generates visual meaning beyond institutional control, embedding local participation and creativity in the reinterpretation of history. This research employs a qualitative approach combining visual studies and ethnographic observation to examine how vernacular visual forms negotiate power, memory, and identity. The result is a form of visual parody that acts as a grassroots strategy of decolonizing historical imagination—using design as a tool to subvert dominant colonial narratives and to reconstruct the past in ways that are playful, hybrid, and deeply rooted in local collective agency. ABSTRAK Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang populer disebut Tujuh Belasan sering menampilkan pertunjukan teatrikal yang merekonstruksi pertempuran antara pasukan Jepang, Sekutu, melawan pejuang kemerdekaan Indonesia. Di pertunjukan itu kostum dan properti militer dibuat secara manual oleh tangan-tangan lokal yang mengubah lorong perkampungan menjadi panggung simbolik. Walau tampak sebagai hiburan semata, pertunjukan itu dalam perspektif pemahaman pascakolonial yang kompleks adalah bentuk parodi visual terhadap dekolonisasi. Menggunakan konsep mimicry dan third space dari Homi K. Bhabha, reenactment semacam itu mempertontonkan celah-celah ironis yang mengguncang otoritas kolonial. Menjadikan citra-citra kolonial bukan lagi simbol dominasi, melainkan objek olok-olok, hibriditas, dan perebutan makna secara kreatif. Melalui konsep site of production dari Gillian Rose, penelitian ini menyoroti bagaimana proses produksi kostum dan pernak-pernik impresi teatrikal membentuk makna visual di luar kendali institusional, menanamkan partisipasi dan kreativitas lokal dalam penafsiran ulang sejarah. Penelitian ini kualitatif melalui studi visual dan observasi etnografis, yang mengkaji bagaimana bentuk-bentuk visual vernakular bernegosiasi dengan kekuasaan, ingatan, dan identitas. Hal itu menjadi ungkapan parodi visual yang berfungsi sebagai strategi dekolonisasi imajinasi sejarah yang muncul dari bawah. Dimana menjadikan desain sebagai alat untuk menumbangkan narasi dominan kolonial dan merekonstruksi masa lalu secara jenaka, hibrid, dan penuh agensi kolektif khas lokalitas.