cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Desain Konseptual Shorebase Batam untuk Industri Migas di Wilayah Barat Indonesia Setyawan, Fara Adiba; Nugroho, Setyo; Danendra, Maulana Yafie
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.138023

Abstract

Industri migas merupakan salah satu industri utama di pasar energi dunia. Indonesia merupakan salah satu produsen dan konsumen dari migas itu sendiri dimana konsumsi domestik semakin meningkat tiap tahunnya dan tidak dimbangi dengan produksi migas. Konsumsi minyak Indonesia dilaporkan naik sebesar 1.471.498 barel per hari pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020 dan konsumsi migas dilaporkan turun. Penurunan pada sektor hulu migas diprediksi dalam beberapa tahun kedepan akan menjadi permasalahan serius mengingat sektor ini menyumbang 20 – 30 persen kontribusi pada APBN. PT Y yang berlokasi di Kabil, Batam dipilih menjadi lokasi shorebase karena lokasinya yang berada di Barat Indonesia dan 110 dari 198 galangan kapal Indonesia terletak di Batam. Dengan menggunakan pendekatan dinamis sebagai skenario 1 dan historis sebagai skenario 2 untuk pertumbuhan produksi migas, didapatkan pertumbuhan sebesar 2,02 persen untuk pendekatan dinamis dan 1,84 persen untuk pendekatan historis dengan muatan maksimal mencapai 1.440.000 ton/tahun dan pada skenario 2 akan mencapai 1.899.213 ton/tahun. Dengan melakukan evaluasi kinerja dengan analisis kesenjangan dan sensitivitas dari shorebase, didapatkan bahwa tidak dilakukan penambahan pada fasilitas di dermaga karena masih dapat menampung masukan sampai dengan tahun ke – 30. Pada skenario 1 tidak akan ada penambahan luas lapangan penumpukan dan pergudangan sedangkan pada skenario 2 akan ada penambahan luas lapangan penumpukan terbuka pada tahun 2045 sebesar 20.363 m2 untuk lapangan penumpukan aspal dan 101.354 m2 untuk lapangan penumpukan bauksit, dan penambahan luas pergudangan tertutup pada tahun 2030 sebesar 5.096 m2 untuk gudang 1A dan 3.383 m2 masing-masing untuk gudang 2A dan 3A.
Analisis Peluang Penggunaan Moda Transportasi Laut untuk Pengiriman Limbah Produksi PLTU: Studi Kasus PLTU Paiton Larasati, Nova Aulia; Hadi, Firmanto; Lazuardi, Siti Dwi
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.138065

Abstract

Dalam pengoperasian PLTU Paiton menghasilkan limbah dari hasil pembakaran batubara sebagai bahan bakar untuk dapat menghasilkan tenaga listrik. Limbah dari batubara yang berupa flying ash – bottom ash tidak diizinkan untuk langsung dibuang, limbah ini terlebih dahulu harus diolah agar tidak mencemari lingkungan karena limbah ini dulunya tergolong ke dalam B3. Pada kondisi eksisting limbah dari batubara PLTU Paiton diolah di tempat pengolahan limbah yang berada di daerah Cileungsi, Jawa Barat. Limbah ini diangkut dengan menggunakan truk dari PLTU Paiton, Probolinggo menuju ke Cileungsi, Jawa Barat. Penggunaan truk untuk mengangkut limbah Batubara ini dinilai kurang efektif dari segi biaya maupun lingkungan. Selain itu juga penggunaan truk dengan muatan yang banyak dapat menambah beban jalan serta menimbulkan polusi berbahaya. Penggunaan truk dapat digantikan dengan kapal maupun tongkang untuk mengangkut limbah tersebut. Penggunaan alat transportasi laut ini diharapkan nantinya dapat mengangkut lebih banyak limbah dalam satu kali pengangkutan dan juga dapat mengurangi beban jalan. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh unit biaya minimum yaitu pada opsi pengiriman limbah dengan menggunakan kapal Ocean Going dengan unit biaya sebesar Rp. 267.719 /ton dengan sewa kapal Time Charter Hire. Sedangkan unit biaya termahal adalah jika melakukan pengiriman limbah menggunakan truk dengan jalur tidak melewati tol dengan unit biaya sebesar Rp. 885.564 /ton.
Desain Konseptual Push Barge: Studi Kasus Angkutan Batu Bara Sungai Mahakam Fahmi, Thariqul; Nugroho, Setyo; Riduwan, Muhammad
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.141027

Abstract

Saat ini pengiriman batu bara rata-rata masih menggunakan kapal tunda dengan menarik tongkang. Penggunaan kapal tunda jenis ini memiliki beberapa kendala diantaranya sulitnya pengoperasian kapal karena kondisi perairan di Sungai Mahakam terutama untuk daerah-daerah yang memiliki tikungan tajam dan berarus serta faktor cuaca yang menjelang akhir tahun ketinggian gelombang di laut yang tinggi yang mengakibatkan tingginya potensi kecelakaan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan solusi mengenai kapal yang sesuai yaitu menggunakan kapal jenis Articulated Tug Barge (ATB). Kelebihan yang dimiliki kapal ATB adalah Pusher dan Barge yang terikat menjadi satu kesatuan sehingga lebih mudah dalam bermanuver dan pergerakan Barge dapat lebih terkendali di daerah berarus karena Barge bergerak sesuai pergerakan Push Boat. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa Berdasarkan Analisis didapatkan Pola Operasi Push Barge dari Hulu Sungai mahakam menuju Muara Berau di Hilir Sungai Mahakam dengan kebutuhan pengangkutan Batubara 1,346,219 ton/tahun didapatkan nilai unit Cost untuk tongkang 270ft senilai Rp141,251/ton. Berdasarkan Analisis kelayakan didapatkan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) dari Pusher adalah 1.78 dan Kapal Tunda sebesar 1.79. Shingga Dapat disimpulkan Penggunaan Pusher untuk angkutan Batubara di Sungai Mahakam tidak lebih efektif dari pengunaan Kapal Tunda yang saat ini dioperasikan di Sungai Mahakam. Terdapat altenatif lain pengangkutan batubara dengan menggunakan metode pengangkutan Missisipi Barge dengan pendorong Pusher didapatkan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1.8 dengan Unit Cost Rp101,282/ton.
Perbandingan Tebal Perkerasan Lentur Landas Pacu Bandara Internasional Dhoho Menggunakan Metode Federal Aviation Administration (FAA) dan Load Classification Number (LCN) Nadhif, Muhammad Fikri; Basuki, Rachmad; Mawardi, Amalia Firdaus
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.144198

Abstract

Menurut Perpres 56 tahun 2018 tentang perubahan kedua atas perubahan Perpres No 3 tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional, Bandara Internasional Dhoho telah ditetapkan menjadi sebuah proyek strategis nasional. Landasan pacu merupakan sebuah komponen penting dari infrastruktur sebuah bandar udara. Terdapat banyak metode dalam merencanakan tebal perkerasan lentur landasan pacu seperti metode Federal Aviation Administration (FAA) dari Dinas Perhubungan Udara Amerika Serikat, metode Load Classification Number (LCN) dari Inggris, metode California Bearing Ratio (CBR) dari Institution of Engineers of America, dan lain sebagainya. Dalam penulisan ini bertujuan merencanakan tebal perkerasan lentur landasan pacu menggunakan metode Federal Aviation Administration (FAA) dan Load Classification Number (LCN). Kedua metode dipilih karena terdapat perbedaan yang signifikan dalam aspek perencanaannya. Hasil analisis tebal perkerasan lentur pada metode FAA menggunakan FAA AC 5320-6D diperoleh hasil sebesar 508 mm pada daerah kritis, 439 mm pada daerah non kritis dan setebal 360 mm pada bahu landasan pacu. Menggunakan program COMFAA diperoleh nilai PCN sebesar 42,9 denagn nilai AC sebesar 40,2. Pada metode FAA menggunakan program FAARFIELD diperoleh hasil sebesar 519 mm dan pada bahu landasan pacu sebesar 356 mm. Menggunakan program bantu FAARFIELD diperoleh nilai PCR sebesar 386,4 dan nilai ACR sebesar 365,1. Sedangkan pada metode LCN diperoleh total tebal perkerasan sebesar 550 mm dan pada bahu landasan pacu setebal 450 mm. Diperoleh nilai LCN landasan pacu yakni sebesar 63 dan nilai LCN pesawat rencana sebesar 46,5. Hasil analisis biaya konstruksi untuk tebal perkerasan pada metode FAA menggunakan FAA AC 5320-6D diperoleh sebesar Rp187.607.898.600, pada FAA AC 5320-6G sebesar Rp212.826.956.294. Sementara pada metode LCN diperoleh sebesar Rp225.887.763.123
Desain Pabrik Minyak Atsiri dari Daun Nilam Menggunakan Metode Ekstraksi Karbon Dioksida Superkritis Asri, Ajeng Almira Tarisha; Gautama, Pramudya Riandana Bhayu; Machmudah, Siti; Winardi, Sugeng
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.124169

Abstract

Minyak atsiri menjadi salah satu komoditas di Indonesia dan secara umum digunakan sebagai bahan pengikat (fiksatif) dalam pembuatan parfum, pewangi, kosmetika, farmasi, bahan penyedap (flavoring agent) dalam industri makanan dan minuman. Salah satu contoh minyak atrisi ialah minyak nilam dimana Indonesia menjadi produsen utama minyak nilam dunia dan menguasai 95% pasar. Komponen kimia utama yang menjadi primadona dunia dari minyak nilam adalah Patchouli alcohol dengan kadar dari Standar Nasional Indonesia (SNI) minimal 30%. Setelah melakukan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), proses pembuatan pabrik minyak nilam yang cocok dan memenuhi parameter yang diinginkan adalah metode ekstraksi karbon dioksida superkritis. Pembuatan pabrik minyak nilam ini direncanakan mulai dibangun pada tahun 2023 di Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat dan direncanakan beroperasi pada tahun 2026 dengan kapasitas total 98,64 ton/tahun. Modal diperoleh dengan perbandingan 40% modal sendiri dan 60% modal pinjaman. Studi evaluasi ekonomi pabrik menunjukkan bahwa pabrik ini memiliki biaya penaksiran modal (CAPEX) sebesar Rp245.783.550.136,33 dan biaya operasional (OPEX) sebesar Rp248.446.730.157,46. Analisis perhitungan ekonomi pabrik juga didapatkan hasil-hasil sebagai berikut; total modal investasi sebesar Rp223.373.453.208 per tahun; dan hasil penjualan pertahun sebesar Rp315.654.826.667 per tahun. Estimasi umur pabrik dan waktu pengembalian pinjaman selama 10 tahun menghasilkan Break event point (BEP) sebesar 35,29%, Internal rate of return (IRR) sebesar 23,44 %, dan Payout time (POT) selama 5 tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa pabrik layak untuk didirikan. Aspek sosial membantu peningkatan kesejahteraan dengan mengurangi jumlah pengangguran daerah dan membantu 897 petani. Adapun penanganan dampak lingkungan pabrik dilakukan dengan mengolah limbah padat berupa ampas daun nilam yang diproses menjadi pupuk dan limbah cair berupa process water, cooling water, dan steam condensate yang diolah dengan menaati peraturan yang berlaku.
Pra Desain Pabrik Sodium Silikat Grade Deterjen dari Pasir Silika dan Sodium Hidroksida Almuhaimin, Muhammad Faturahman; Taufiqurrahman, Muh. Abdillah; Sumarno, Sumarno; Airlangga, Bramantyo
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.124388

Abstract

Sebagai bahan kimia yang dibilang kebutuhannya sangat tinggi di Indonesia, sodium silikat atau waterglass memiliki potensi pasar yang bervariasi. Hal ini disebabkan karena penggunaannya yang luas dalam industri, mulai dari industri sabun dan deterjen, keramik, pengecoran logam, silica gel, coating, hingga tekstil dan batik . Dalam dunia perdagangan sodium silikat dibedakan menjadi beberapa grade. Dari masing-masing grade umumnya mempunyai kegunaan tersendiri. Berdasarkan Jurnal Bisnis BIZTEKA Industri dan Komoditi tahun 2021, produk sodium silikat yang paling banyak kebutuhannya adalah grade deterjen. Berdasarkan bank data Bizteka PT. CCI, penggunaan sodium silikat sebagai salah satu bahan baku pada industri detejen yaitu dengan rata-rata konsumsi sebesar 230.000 ton dari tahun 2016 hingga 2020.Pada pembuatan sodium silikat grade deterjen dari pasir silika dan sodium hidroksida, proses terbagi menjadi 3 bagian yakni yang pertama proses persiapan bahan baku, tahap pembentukan reaksi, dan pemurnian untuk mencapai kemurnian produk sebesar 96% dan selanjutnya akan disimpan dalam tangki penyimpanan produk sodium silikat.Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinu 24 jam selama 330 hari per tahun dengan kapasitas produksi 35.000 ton/Tahun. Sumber dana investasi untuk pendirian pabrik berasal dari modal sendiri sebesar 40% dan 60% modal pinjaman, biaya investasi dengan bunga sebesar 5,96% Per tahun. Berdasarkan perhitungan analisa ekonomi, diperoleh total capital investment Rp199.200.195.216,33, nilai penaksiran modal (CAPEX) sebesar Rp 233.729.589.695,88 dan biaya produksi (OPEX) sebesar Rp 208.673.766.783,37, laju pengembalian modal/ internal rate of retrun (IRR) sebesar 25,62%, laju inflasi sebesar 2,38% pertahun per tahun, waktu pengembalian modal/ pay out time (POT) sebesar 3,66 tahun dan titik impas/ break even periode (BEP) sebesar 26,95 %. sehingga berdasarkan analisa BEP, NPV, POT, dan IRR, pabrik sodium silikat dari pasir silika dan NaOH ini layak untuk didirikan.
Pra Rancangan Pabrik Bioetanol dari Limbah Kulit Kopi dengan Proses Fermentasi Menggunakan Ragi Saccharomyces Cerevisiae Hariputra, Hosea Amadeus; Tarigan, Alfredo Junianto; Widjaja, Arief
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.125051

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara pengguna kendaraan bermotor terbesar di dunia. Namun, kebutuhan bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil sehingga perlu energi terbarukan sebagai alternatif dimana salah satu yang dapat digunakan adalah bahan bakar etanol atau disebut juga bioethanol. Salah satu bahan yang ptensial untuk diolah menjadi bioethanol adalah limbah kulit kopi. Limbah kulit kopi mempunyai kandungan serat sebesar 65,2%. Sementara, serat pada kulit kopi tersusun atas 49% selulosa; 25% hemiselulosa; dan lignin 7,63%. Berdasarkan data yang didapat dari United States Department of Agriculture diketahui bahwa produksi kopi di Indonesia pada Juni 2022 yaitu sebesar 11350 ribu kantong dengan berat masing-masing kantong adalah 60 kg (6,488% terhadap total hasil dunia). Diketahui juga bahwa pengolahan kopi pada industri biasanya akan menghasilkan 65% biji kopi dan 35% limbah kulit kopi. Sehingga, bahan baku pembuatan bioethanol dari kulit kopi ini masih sangat berlimpah di Indonesia. Pra Desain Pabrik Bioetanol dari Limbah Kulit Kopi ini direncanakan mulai beroperasi tahun 2028 dengan kapasitas produksi sebesar 8.8 Juta L/tahun. Lokasi pendirian pabrik direncanakan di Empat Lawang, Sumatera Selatam. Secara garis besar proses dilakukan pembuatan bioetanol ini adalah pre-treatment dengan metode steam explosion dan metode alkali (delignifikasi) dengan NaOH untuk pemisahan antara selulosa dan lignin, kemudian hidrolisis dengan metode untuk Simultaneous Saccharification and Co-Fermentation (SSCF) dan pemurnian dengan menggunakan kolom distilasi serta proses dehidrasi dengan metode silica gel. Pengadaan alat dari pabrik ini akan dilakukan pada tahun yang sama dengan Pembangunan pabrik dengan modal sendiri sebesar 40% dari biaya investasi dan modal pinjaman sebesar 60% dari investasi dengan bunga sebesar 9,25%. Maka nilai NPV sebesar $631.030 atau Rp 9.848.674,52, nilai Internal Rate of Return sebesar 12,06% dengan memasang harga jual produk $14,31/liter, dengan Pay Out Time pada 2036 dan BEP sebesar 47%.
Pra-Desain Pabrik Surfaktan Sodium Lignosulfonate (SLS) dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) Gusti, Ampeldenta Kertsaning; Ramadhan, Dhanar Kurni Kurnia; Qadariyah, Lailatul
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.125383

Abstract

Surfaktan Sodium Lignosulfonate (SLS) adalah surfaktan anionik yang memiliki gugus hidrokarbon sebagai bagian ekornya. Salah satu aplikasi penting dari surfaktan Sodium Lignosulfonate (SLS) terletak di industri Enhanced Oil Recovery (EOR) yang berfungsi untuk meningkatkan yield minyak. Kelapa sawit adalah salah satu komoditas utama yang berkontribusi signifikan pada perekonomian Indonesia, sebagai negara pengekspor kelapa sawit terbesar di dunia. Proses perancangan pabrik SLS dari bahan baku TKKS melibatkan beberapa tahap, mulai dari pretreatment bahan baku, proses delignifikasi, isolasi lignin, proses sulfonasi, hingga pengeringan. Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinu selama 24 jam per hari, selama 330 hari dalam setahun, dengan kapasitas produksi mencapai 20000 ton per tahun. Pabrik ini akan berlokasi di Kota Dumai, Dari segi ekonomi, analisis menunjukkan bahwa pabrik ini memiliki nilai kelayakan dengan NPV, IRR, BEP, POT, dan sensitivitas yang menguntungkan.
Pra Desain Pabrik Mosof (Modified Sorghum Flour) Skala UMKM dengan Proses Fermentasi Menggunakan Bakteri Lactobacillus plantarum Salya, Rafika Aulia Rahmadian; Prahandika, Alfien Naufal; Gunawan, Setiyo
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.124326

Abstract

Mosof (Modified Sorghum Flour) merupakan salah satu tepung yang berbahan dasar dari sorgum yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sorgum dengan fermentasi, dimana peran enzim mikroba mendominasi selama fermentasi berlangsung. Mosof memiliki potensi sebagai pengganti tepung terigu yang berbahan dasar dari gandum. Nilai impor gandum dan meslin Indonesia mencapai US$3,45 miliar dengan 11,17 juta ton pada tahun 2021. Gandum adalah sumber gluten yang dapat memicu penyakit Celiac Disease (CD). Gandum juga memiliki Indeks Glikemik (IG) dengan nilai IG 55 – 69 termasuk dalam kategori sedang. Salah satu usaha pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu melakukan diversifikasi pangan sebagai alternatif bahan pangan yang akan mengurangi ketergantungan konsumsi gandum. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan dan pemanfaatan sorgum sebagai alternatif pengganti gandum. Sorgum memiliki indeks glikemik sebesar 43 – 46,8 yang tergolong dalam kategori rendah. Pabrik mosof direncanakan mulai beroperasi tahun 2025 dengan kapasitas produksi sebesar 100 ton/tahun. Lokasi pendirian pabrik direncanakan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Proses produksi mosof dapat diuraikan menjadi 7 tahapan proses yaitu persiapan bahan baku, pengolahan bahan baku, tahap fermentasi, tahap pemisahan, tahap pengeringan, tahap penghalusan, tahap pengayakan. Pabrik mosof dirancang sebagai perusahaan yang termasuk dalam skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pabrik mosof memiliki harga Capital Expenditure (CAPEX) sebesar Rp2.834.417.566 dan Operating Expenditure (OPEX) dengan estimasi hasil penjualan sebesar Rp7.103.212.331 per tahun. Estimasi umur pabrik ini adalah 10 tahun dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 23,89%, Pay Out Time (POT) 5 tahun 10 bulan, dan Break Even Point (BEP) sebesar 6,68%. Berdasarkan nilai CAPEX dan hasil penjualan, pabrik ini termasuk dalam kategori industri skala kecil.
Kajian Literatur Fitoremediasi Timbal pada Perairan Laut Tercemar Menggunakan Makroalga (Studi Kasus: Pencemaran Timbal di Teluk Jakarta) Pamungkas, Juang Angger; Titah, Harmin Sulistiyaning
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i3.134801

Abstract

Pencemaran logam berat di perairan dapat mengganggu kelangsungan ekosistem di sekitarnya. Salah satu metode removal logam berat yang hemat dan ramah lingkungan adalah fitoremediasi. Makroalga merupakan salah satu tumbuhan yang dapat digunakan untuk fitoremediasi perairan yang tercemar logam berat. Kajian literatur ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji jenis-jenis makroalga yang dapat menyerap logam berat, kemampuannya dalam menyerap logam berat, dan penerapannya pada suatu lokasi studi. Kajian literatur ini dilakukan dengan mengumpulkan literatur yang diperlukan dan kemudian mengkaji tiap literatur. Setelah literatur dikumpulkan dan dikaji, literatur kemudian dibahas dan diringkas dalam kaitannya dengan tujuan studi. Hasil pembahasan kemudian diterapkan pada suatu studi kasus untuk memprediksi hasil akhir suatu kasus perairan tercemar bila diremediasi menggunakan makroalga. Ada banyak jenis makroalga yang dapat digunakan untuk menyerap logam berat Pb, baik dari kelompok phaeophyceae, chlorophyta, maupun rhodophyta. Berdasarkan kajian ini kemampuan makroalga dalam menyerap logam berat Pb berada pada rentang 0,18-1,45 mmol Pb/g makroalga untuk kelompok phaeophyceae, 0,19-1,55 mmol Pb/g makroalga untuk kelompok chlorophyta, dan 0,15-1,35 mmol Pb/g makroalga untuk kelompok rhodophyta. Pada kajian ini, studi kasus fitoremediasi diterapkan di perairan Teluk Jakarta dengan menumbuhkan 202,5 kg Ulva lactuca pada 45 keramba berukuran masing-masing 9 m2 dengan padat tebar makroalga sebesar 0,5 kg/m2. Penerapan ini diperkirakan dapat menyerap sebanyak 45,92 kg logam berat Pb.