cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Pengaruh Levelling Terhadap Edukasi Public Manner Melalui Seni dan Budaya Remaja Kota Surabaya Altheannisa Agatha Soraya; Irvansyah Irvansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.56987

Abstract

Remaja merupakan salah satu tahapan manusia yang merupakan masa produktif dalam perkembangan manusia dimana seseorang akan lebih sering melakukan berbagai kegiatan sekaligus mencari jati dirinya dengan melakukan interaksi pada lingkungan sekitarnya. Hal ini menjadikan public manner secara tidak langsung sebagai suatu prasyarat yang diperlukan bagi manusia sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi dan bersosialisasi sehingga dapat diterima oleh lingkungannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memahami force apa saja yang mampu mempengaruhi remaja untuk bersikap sopan dan santun. Namun pada masa ini remaja mulai lalai untuk menerapkan public manner yang baik dan benar. Akibatnya remaja cenderung memilih untuk berkumpul dengan lingkungan sosial yang dinilai memiliki kesamaan pendapat dan prinsip dengan mereka sehingga mereka memilih untuk berada di batas nyaman. Pendekatan environmental possibilism selanjutnya digunakan untuk menimbulkan berbagai peluang dalam sebuah kejadian melalui arsitektur perilaku.
Aplikasi Participatory Design pada Rancangan Permukiman Sepanjang Rel Stasiun Sidotopo Ahmad Dzkri Hamdan; Happy Ratna Sumartinah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57161

Abstract

Kota yang baik merupakan kota yang bisa mewadahi seluruh aktivitas masyarakatnya. Segala fasilitas penunjang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat kota terus meningkat. Meski demikian, kondisi kota yang menjanjikan membuat banyak masyarakat desa memilih pindah dari tempat tinggalnya di desa ke kota-kota besar, salah satunya Surabaya. Arus perpindahan masyarakat desa ke kota inilah yang dikenal sebagai arus urbanisasi. Sejalan dengan semakin banyaknya penduduk dan semakin mengecilnya lahan untuk dibangun hunian, banyak dari masyarakat urban yang berpenghasilan rendah terpaksa menempati ruang-ruang ilegal mulai dari sepanjang tepian sungai, lahan-lahan milik pemerintah, hingga sepanjang tepi rel kereta api yang membahayakan penghuni. Kondisi permukiman ilegal (squatter) di sepanjang rel kereta salah satunya ialah permukiman sepanjang rel kereta stasiun Sidotopo. Kebanyakan permukiman penduduk menempati lahan yang dimiliki oleh PT. Kereta Api Indonesia. Pada kenyataannya, permukiman yang mayoritas dihuni oleh migran etnis Madura ini tidak sesuai dengan peraturan RTRW Kota Surabaya 2010-2030 dan RDTRK UP Tanjung Perak 2008-2018 tentang infrastruktur. Tujuan dari perancangan yang dibuat adalah untuk bisa merancang kembali permukiman yang berada di sekitar rel kereta api stasiun Sidotopo agar tidak menyalahi aturan dan keamanan bagi penduduk sekitar. Permukiman yang dirancang kembali merupakan permukiman yang terjangkau oleh penduduk sekitar stasiun Sidotopo yang kebanyakan dihuni oleh masyarakat berekonomi menengah ke bawah. Dengan menggunakan pendekatan Participatory Design, permukiman yang dibangun kembali diharapkan bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang bermukim di sepanjang jalur kereta.
Panti Asuhan Untuk Anak Terlantar Dengan Pendekatan Therapeutic Architecture Reina Hacika Irene Lantaka; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57167

Abstract

Berdasarkan data direktur Rehabilitasi sosial anak pada kementrian sosial, hingga Agustus 2017 anak terlantar di Indonesia mencapai angka 16.290 anak. Anak anak tersebut memiliki berbagai latar berbagai \ penelantaran seperti diusir dari rumah,kematian orang tua, ditinggalkan orang tua, orang tua bercerai, bencana alam dan kondisi sosial ekonomi. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan pada mental anak yang menjadi korban penelantaran tersebut. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang di sediakan pemerintah maupun swasta sebagai wadah untuk mengasuh anak anak yang kurang beruntung tersebut pun kurang menyadari masalah mental yang terjadi. Berdasarkan fenomena yang terjadi di atas diperlukannya suatu wadah arsitektural sebagai respon dari permasalahan yang ada, berupa Panti Asuhan dengan pendekatan therapeutic architecture dengan menggunaan  metode perancangan evidence based design yang dapat menstimulasi pengguna lewat sense yang ada hingga berdampak pada psikologi hingga perilaku pengguna. Konsep utama dalam perancangan ini adalah bagaimana menstimulasi user dengan kesadaran positif dalam diri mereka, memperanyak interaksi antar user namun tetap dapat mejaga privasinya, serta meningkatkan interaksi user dengan lingkungan terbangun disekitarnya. Konsep ini diterapkan dalam elemen arstektur seperti massa bangunan, bentuk, ruang dalam, ruang luar dan material di dalam rancangan.
Perancangan Mixed-Use Building dalam Kawasan Central Business District Aisyah Dwika Adinda Purnomo; Dewi Septanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57100

Abstract

Fenomena gaya hidup masyarakat kota yang konsumtif bukan merupakan hal yang baru. Fenomena tersebut muncul bersamaan dengan gaya hidup seseorang yang selalu ingin terlihat lebih diantara yang lainnya dan fenomena tersebut muncul akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal. Gaya hidup masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan sangat berbeda dengan gaya hidup masyarakat desa. Gaya hidup masyarakat kota lebih kompleks karena menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya dan menyesuaikan dengan taraf hidup. Konsep Behavior Setting merupakan konsep yang tepat untuk memfasilitasi gaya hidup masyarakat kota dan mengatasi kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal. Mixed use building dirancang untuk dapat memfasilitasi masyarakat umum dan dapat memfasilitasi pemilik hunian. Rancangan akan mengolah sebuah bangunan vertikal yang mampu memaksimalkan kualitas hidup penghuninya dalam mengatasi gaya hidup yang sedang terjadi. Hal utama yang diperhatikan yaitu penyediaan fasilitas dan ruang terbuka sebagai wadah untuk berkumpul.
Permeability Design pada Arsitektur Pasar Joko Sambang Safirah Azzahrah; Asri Dinapradipta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57031

Abstract

Relokasi merupakan salah satu strategi pemerintah dalam melakukan pengelolaan dan penataan kembali terhadap Pedagang Kaki Lima (PKL). Namun dibalik proses relokasi tersebut, menimbulkan permasalahan terhadap perkembangan perekonomian kerakyatan di Mojokerto. Mulai dari kurangnya akses pasar terhadap produk yang ditawarkan, kurangnya interaksi yang dihadirkan dalam pasar tersebut, terbatasnya visibilitas pengunjung dari luar menuju ke pasar. Ketiga hal tersebut (akses, interaksi dan visibilitas) merupakan aspek penting dalam sebuah pasar. Dalam hal ini diperlukan fasilitas pasar yang dapat menjadi wadah dan sarana pedagang bagi pelaku ekonomi mikro sekaligus fungsi wisata sehingga dapat manarik minat pengunjung sekaligus meningkatkan kehidupan sosial di dalam pasar. Pendekatan permeabilitas digunakan dalam desain pasar ini, dengan tujuan untuk mengetahui rentang dimana seseorang dapat merasakan atau bergerak sesuai dengan sifat lingkungan dimana mereka berada. Adapun konsep desain ini adalah dengan mengembangkan elemen permeabilitas secara ruang, penggunaan material, dan bentuk yang saling terintegrasi untuk meningkatkan jumlah pengunjung sehingga menjadi alat konektivitas untuk meningkatkan kualitas hidup pengguna bangunan dengan mengembalikan kembali suasana perekonomian karakyatan yang harmonis.
Desain Penjara Koruptor dengan Penerapan Hukuman Sosiologis Anom Satvika Danta; Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57255

Abstract

Perilaku koruptif di Indonesia yang tinggi menjadikan tindak korupsi suatu perilaku buruk yang menjadi kebiasaan bagi beberapa masyarakatnya. Tindak pidana yang ringan dan terkesan kurang memberi efek jera, dinilai menjadi suatu alasan tingkat presepsi korupsi di Indonesia yang masih tinggi yakni pada urutan 89 di dunia. Kebebasan kuroptor dalam mengatur kehidupannya di dalam penjara juga sangat mudah. Hukuman yang tidak sepadan dengan kenyamanan kondisi tahanan dalam penjara yang membuat koruptor seakan memiliki kuasa dalam tahanan dan memberikan contoh yang tidak baik kepada masyarakat sekitar. Penggunaan framework Donna Duerk sebagai alur berfikir dengan pendekatan prilaku menjadi salah satu cara memberi sebuah efek jera bagi koruptor melalui desain yang akan diterapkan. Isu permasalahan awal coba di reduksi dengan menggunakan pendekatan perilaku, pendekatan perilaku ini lebih berfokus kepada segi sosiologi yang menargetkan kontak pelaku dengan masyarakatnya. Dari pendekatan sosiologi dan beberapa riset yang telah dilakukan, ditemukan bahwa mempermalukan narapidana dan membuat dia mengabdi kepada masyarakat merupakan hal tepat sebagai pengganti sistem penjara lama yang lebih menekankan kepada hukuman fisik. Hukuman mempermalukan narapidana ini dapat dicapai dengan mengajarkan nilai nilai moral yang berada didalam kehidupan bermasyarakat, juga memberikan sedikit privasi bagi narapidana.
Jukstaposisi Kantor Pemerintahan dan Ruang Publik: Kuala Kapuas Command Center Berdasarkan Arsitektur Simbiosis Ghina Alifia Nabilah; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57272

Abstract

Di era kemajuan teknologi saat ini, Indonesia sedang mengalami periode pembaruan di semua bidang dengan mulai menggunakan berbagai jenis teknologi yang diperbarui. Sebuah kota dapat dikatakan sebagai Smart City jika dilengkapi dengan infrastruktur dasar, juga memiliki sistem transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi yang meningkatkan mobilitas masyarakat. Salah satu langkah yang umumnya dibutuhkan oleh sebuah kota di Indonesia dalam mengembangkan Smart City adalah dengan membangun Command Center. Command Center adalah bangunan yang dirancang khusus untuk layanan publik yang terpusat dan terintegrasi. Lahan yang berlokasi di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, memunculkan dua permasalahan. Lahan terletak di area taman kota, tetapi kantor-kantor pemerintah khususnya Command Center itu sendiri memiliki sifat tertutup yang membutuhkan tingkat keamanan tertentu. Karena itu, bagaimana cara menggabungkan kedua jenis ruang yang berlawanan ini sambil tetap mempertimbangkan sisi keamanan? Menerapkan jukstaposisi dalam desain, menggabungkan antara ruang pemerintah dan ruang publik adalah konsep yang akan diusulkan sekaligus mempertimbangkan transparansi dari Command Center untuk membuat satu kesatuan antara dua jenis fungsi yang berbeda.Untuk mencapai tujuan ini, arsitektur simbiosis dipilih untuk menggabungkan ruang publik dengan Command Center mempertimbangkan hubungan aktivitas dan perilaku manusia di dalamnya.
Pengaruh Musik terhadap Arsitektur Berbasis Isu Kesehatan Mental Baiq Nadhira Kamilia; Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57274

Abstract

Di masa sekarang ini, gangguan emosional pada kesehatan mental masih kurang dipandang sebagai hal yang serius oleh beberapa kalangan masyarakat. Orang-orang yang merasakan gangguan tersebut cenderung memilih untuk tidak berbicara dan mengabaikannya, dimana jika hal tersebut terus berlanjut, dapat berakibat fatal. Sementara itu musik, suatu hal yang tidak asing didengar dalam kehidupan, merupakan sebuah “Bahasa” universal yang dapat dinikmati oleh seluruh manusia di dunia. Sayangnya, masyarakat Indonesia hanya melihat musik sebatas hiburan dan tidak lebih dari itu. Dengan menggunakan musik sebagai pendekatan dalam merancang bangunan, arsitektur dapat berperan tidak hanya sebagai seni yang menaungi, namun juga sebagai medium yang dapat menghubungkan elemen-elemen yang kontras.
Aplikasi Konsep Machine Aesthetic dan Placemaking pada Kualitas Spasial Ruang Kerja Aisyah Akhsania Taqwim; Sarah Cahyadini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57389

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi di bidang manufaktur, transportasi, produksi, dll. berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, budaya, dan lainnya di dunia. Salah satunya adalah laju pengembangan dan penggunaan mesin di berbagai bidang. Teknologi di era modern sekarang memiliki dampak pada aktivitas manusia di ruang kerja. Peningkatan jumlah mesin diproyeksikan mencapai titik ketika mesin akan mendominasi ruang kerja. Bersamaan dengan ini, manusia dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi ruang kerja yang didominasi oleh mesin. Mesin yang memiliki fungsi dan bentuk tertentu juga memiliki nilai estetika yang bisa disebut machine aesthetic. Penerapan konsep machine aesthetic di ruang kerja dapat digunakan sebagai elemen untuk menciptakan kualitas spasial ruang yang berbeda. Konsep ini kemudian akan dikombinasikan dengan placemaking yang digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan ruang pengguna yang terus berkembang. Aktivitas baru yang muncul tersebut akan diakomodasi dengan membuat area fleksibel, seperti : atap, dek observasi, dan jalan pejalan kaki. Kualitas spasial ruang dapat disajikan dengan memilih skala dan bahan yang sesuai pada atap dan struktur untuk memberikan identitas pada bangunan. Aplikasi kedua konsep tersebut menjadikan proyek desain sebagai peluang untuk memperluas konteks lokal sambil membentuk tujuan dan kontemplasi pada visi progresif perusahaan.
Tendensi Cetak Biru Desain Stadion Faris Salman Ely; Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57951

Abstract

Olimpiade Modern, Negara-negara maju saat itu melihat Olimpiade sebagai sebuah ajang yang dapat merepresentasikan kekuatan Negara mereka, tidak sebatas pada berapa medali yang diraih, lebih dari itu ada sebuah ‘tendensi’ untuk membangun infrastruktur fasilitas penyelenggaraan Olimpiade dengan masif, Tipologi stadion pun merambah ke-seluruh dunia. ‘Tendensi’ seperti itu kemudian menjadi hal yang biasa dalam proses sebuah negara menjadi Tuan Rumah ajang olahraga hingga saat ini. Kini di abad 21, tipologi stadion terus mengalami perkembangan. Namun imaji stadion yang masif, tertutup, serta bersifat eventual masih sangat umum diterapkan pada desain stadion baru, dalam a ini berfokus pada stadion berskala menengah. Pada akhirnya akan timbul pertanyaan serta isu terkait fungsi dan keberadaanya baik sebelum konstruksi dimulai hingga pasca konstruksi. Desain yang dikembangkan adalah alternatif desain stadion berskala menengah, dengan tujuan untuk menjadikan stadion sebagai Urban Catalyst, hal tersebut dicapai dengan menciptakan ‘ruang’ stadion yang dapat digunakan untuk aktifitas yang bersifat repetitif yang berlandas pada tiga aspek utama yaitu visual, konektivitas dan programming.