cover
Contact Name
JIM Sendratasik
Contact Email
jimpa90@usk.ac.id
Phone
+6285362345322
Journal Mail Official
taufik@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk Chik Pante Kulu No.1 Kopelma Darussalam, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
JIM Sendratasik
ISSN : -     EISSN : 26202964     DOI : https://doi.org/10.24815/sendratasik.v10i1.35386
JURNAL ILMIAH MAHASISWA (JIM) SENDRATASIK Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Sendratasik adalah karya tulis ilmiah mahasiswa Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala yang merupakan hasil penelitian skripsi. Jurnal ini berisi tentang kajian di bidang seni, baik seni drama, Tari, musik dan rupa sera pendidikan seni. Artikel ini dibimbing oleh pembimbing satu dan pembimbing dua sehingga menghasilkan artikel yang memenuhi kriteria untuk diterbitkan. Jurnal ini secara spesifik berfokus pada kajian pendidikan seni dan budaya yang mengintegrasikan dan mengembangkan kearifan lokal. Kami mendorong penelitian yang menggali nilai-nilai budaya tradisional, pengetahuan lokal, dan praktik seni adiluhung sebagai sumber inspirasi dan materi pembelajaran.
Articles 278 Documents
TARI PHO DALAM ADAT PERKAWINAN DI ACEH BAGIAN BARAT Edi, Muhammad; Ismawan, Ismawan; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22566

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Tari Pho dalam adat perkawinan di Aceh bagian Barat, mengangkat masalah baimanakah tari Pho dalam adat perkawinan di Aceh bagian Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tari Pho dalam adat perkawinan di Aceh bagian Barat. Sumber data dalam penelitian ini adalah Juhani selaku Ketua sanggar Cupeng Ilop Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya, Cut Asiah selaku Ketua sanggar Pocut Baren Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat dan Rohani selaku Ketua sanggar seni Cempala Kuneng Kecamatan krueng sabee Kabupaten Aceh Jaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan secara keseluruhan terlihat pada bentuk gerak, tata busana, dan tata rias. Tari Pho ditarikan oleh wanita dan diiringi dengan syair-syair yang dilantunkan oleh seorang syahi. Penarinya berjumlah genap (8-12 orang). Tari Pho ini biasanya ditampilkan pada acara perkawinan dan khitanan dengan maksud menghibur penonton dan tuan rumah. Seorang syahi berada di samping panggung sambil melantunkan syair sesuai dengan permintaan pihak penyelenggara biasanya menggunakan syair yang bernuansa sejarah dan Islami. Tari Pho pada sanggar Cupeng Ilop, Pocut Baren, dan Cempala Kuneng ditarikan sehari sebelum hari resepsi perkawinan. Tari Pho pada setiap sanggarnya memiliki perbedaan. Tari Pho di sanggar Cupeng Ilop memiliki 8 gerakan, di sanggar Pocut Baren memiliki 9 gerakan, sedangkan di sanggar Cempala Kuneng memiliki 8 gerakan. Di sanggar Cupeng Ilop menggunakan gerak seulawet sebagai pembuka, sedangkan di sanggar Pocut Baren dan sanggar Cempala Kuneng menggunakan gerak saleum sebagai pembuka. Busana yang digunakan pada sanggar Cupeng Ilop menggunakan baju gamis dan jilbab kurung, pada sanggar Pocut Baren dan sanggar Cempala Kuneng menggunakan pakaian adat Aceh yang memiliki perbedaan pada bagian aksesoris kepala. Tata rias yang digunakan pada sanggar Cupeng Ilop menggunakan rias natural, pada sanggar Pocut Baren dan sanggar Cempala Kuneng menggunakan rias cantik. Persamaan yang terlihat disetiap sanggar ialah pada bentuk pola lantai dan bentuk panggung yang digunakan.Kata kunci: Perbedaan, Bentuk Penyajian, Tari Pho.
ALAT MUSIK TRADISIONAL TAGANING DI KECAMATAN LAWE SIGALA-GALA KABUPATEN ACEH TENGGARA Br. Simare-mare, Riris Juliana; Syai, Ahmad; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22569

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Alat Musik Tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara mengangkat masalah bagaimana organologi dan teknik bermain alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan organologi dan teknik bermain alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitiaan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organologi alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara meliputi (a) bahan dasar alat musik menggunakan kulit lembu sebagai membran, kayu nangka sebagai tubuh Taganing berbentuk tabung, rak terbuat dari besi/kayu, dan palu-palu (stik) terbuat dari kayu jeruk purut, (b) bentuk Taganing yaitu tabung melengkung dan ukuran gendang tingting tinggi 52 cm diameter membran 17 cm, paidua tingting tinggi 53 cm diameter membran 18 cm, painonga tinggi 54 cm diameter membran 19 cm, paidua odap tinggi 54 cm diameter membran 20 cm, dan odap-odap tinggi 54 cm diameter membran 21 cm, (c) struktur Taganing terdiri dari badan Taganing (ruang resonator), kulit/membran (penutup resonator/sumber bunyi), pinggol-pinggol (pelindung rotan pada membran), tali rotan (penghubung membran dan laman), pakko (pengait rotan pada membran), tangan- tangan (tali penggantung Taganing pada rak), sollop (penutup resonator bagian bawah), solang (penyetem suara), dan laman (alas Taganing), (d) memproduksi bunyi dengan cara dipukul, Taganing menghasilkan suara nang, ning, nung, neng, nong atau jika meminjam istilah musik barat yaitu tangga nada pentatonik yaitu nada do, re, mi, fa, sol. Teknik bermain alat musik tradisional Taganing di Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara meliputi, (a) Taganing dimainkan dengan posisi duduk, (b) cara memegang stik, (c) teknik memukul stik yang terdiri dari memukul stik pada bagian tengah gendang, memukul stik pada bagian tepi gendang, serta memukul stik pada bagian tengah gendang dan menghentikannya seketika dengan cara menekan permukaan gendang dengan ujung stik, dan teknik memukul stik tersebut berkaitan dengan pola-pola permainan Taganing yaitu mangarapat, manganak-anaki, dan mangodap-odapi.Kata Kunci: Organologi, Teknik, Musik, Tradisional, Taganing
EKSISTENSI TARI RAPAI GELENG PADA SANGGAR BAYEUN SEUTIA DI MEULABOH KABUPATEN ACEH BARAT Nadia, Ayi Sri; Ismawan, Ismawan; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22563

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Eksistensi tari Rapai Geleng pada Sanggar Bayeun Seutia di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat, mengangkat masalah bagaimana eksistensi tari rapai geleng di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi tari rapai geleng di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Pendekatan yang digunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara, penyebaran angket/kuisoner dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi tari rapai geleng telah ada sejak tahun 2008, dimana terdapat satu sanggar yang mempertahankan tari rapai geleng sebagai tari utama pada sanggarnya yaitu sanggar Bayeun Seutia. Tari rapai geleng pada Sanggar Bayeun Seutia terlihat eksistensinya dan berkembang hingga ke tingkat nasional sampai saat ini.Tari rapai geleng ditampilkan dalam acara adat perkawinan, sunat rasul, penyambutan tamu, acara pemerintahan, acara daerah, dan lain sebagainya. Tari rapai geleng merupakan tarian etnis Aceh yang ditarikan oleh 12 orang laki-laki yang diiringin dengan tabuhan dari rapai. Tari rapai geleng masih eksis dan berkembang di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat dibuktikan dengan seringnya sanggar tersebut tampil dalam berbagai event sejak tahun 2008 sampai dengan 2019. Pada tahun 2008 tampil pada acara Pagelaran Seni dan Budaya Tanah Rencong, tahun 2009 tampil mewakili Provinsi Aceh di Istana Negara, tahun 2012 tampil pada acara pagelaran Seni Budaya Daerah Tingkat Provinsi, tahun 2014 tampil pada acara Pekan Kebudayaan Aceh Barat, tahun 2016 tampil pada Acara Jamboree Nasional di Cibubur, tahun 2018 tampil pada acara Pekan Kebudayaan Aceh-7 mewakili Kabupaten Kota, 2019 tampill pada acara Syuting Bocah Petualang Trans7 di Pesisir Pantai. Eksistensinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor tersebut terbagi menjadi 2 bagian yaitu, faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu dari keinginan dari Syeh Masri sendiri dan komitmen dari anggota sanggar, sedangkan faktor eksternal yaitu mencakup keluarga, masyarakat, lingkungan sosial dan pemerintah.Kata kunci: Eksistensi, Tari, Rapai Geleng.
PERKEMBANGAN MUSIK TERBANGAN DI DESA SERBAJADI KECAMATAN DARUL MAKMUR KABUPATEN NAGAN RAYA Mahqvira, Febi; Syai, Ahmad; Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22564

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Perkembangan Musik Terbangan di Desa Serbajadi Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan pertunjukan musik Terbangan di Desa Serbajadi Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan Mendeskripsikan, perkembangan musik Terbangan di Desa Serbajadi Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah anggota musik Terbangan di Desa serbajadi Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya. Objek penelitian ini yaitu musik Terbangan di Desa Serbajadi Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik obeservasi untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal yang diteliti, wawancara untuk menggali keterangan yang lebih mendalam dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara menyelidiki musik Terbangan untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa grup musik Terbangan di Desa Serbajadi Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya suatu komunitas musik yang menggunakan musik perkusi dengan cara ditabuh. pada tahun 1990-an musik Terbangan hanya dimainkan oleh sekumpulan orangtua saja, dari segi lirik, pemain, alat musik dan penonton mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Namun sekarang sajian musik Terbangan dimainkan oleh sekumpulan muda mudi dari segi lirik juga telah diseuaikan dengan situasi pertunjukan, tiap-tiap pemain memegang satu rebana dan penontonnya juga ikut meramaikan pertunjukan musik Terbangan. Dalam hal pertunjukannya grup musik Terbangan hanya menggunakan alat musik rebana beserta vokal oleh khalifah pada grup Terbangan itu sendiri. Grup musik Terbangan di Desa Serbajadi Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya sering melakukan kegiatannya pada acara-acara pernikahan, sunah rasul dan aqikahan.Kata Kunci: Perkembangan, Musik, Terbangan
KAJIAN KOREOGRAFI TARI PEURATEP ANEUK KARYA DINIAH DI SANGGAR LAM PEUNANGKEE KABUPATEN ACEH UTARA Dahlia, Meli; Supadmi, Tri; Ismawan, Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22565

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Kajian Koreografi Tari Peuratep Aneuk di Sanggar Lam Peunangkee Aceh Utara, mengangkat masalah bagaimana koreografi tari Peuratep Aneuk Karya Diniah di Sanggar Lam Peunangkee Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan koreografi tari Peuratep Aneuk Karya Diniah di Sanggar Lam Peunangkee Kabupaten Aceh Utara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah koreografi tari, pendiri Sanggar atau pelaku tari di Sanggar Lam Peunangkee Aceh Utara. Objek penelitian ini yaitu koreografi tari Peuratep Aneuk. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal yang diteliti, wawancara untuk menggali keterangan yang lebih mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara menyelidiki benda-benda atau mengumpulkan gambar-gambar untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Teknik analisis data yang dilakukan dengan reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi data (conclusion drawing). Hasil penelitian menunjukan bahwa tari peuratep aneuk merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh Diniah, gerak dari tari Peuratep Aneuk merupakan gerak murni yang tidak mempunyai makna khusus hanya memperindah gerakan, pada awal penciptaan tari Peuratep aneuk koreografer terlebih dahulu menentukan tema dasar sebelum melakukan proses penggarapan sehingga tercipta hasil karya yang baik. Sebuah karya tari yang diciptakan harus melalui beberapa tahap yang dimulai dari tahap eksplorasi gerak adalah suatu pengalaman untuk mendapatkan rangsangan sehingga dapat memperkuat daya kreativitas, tahap improvisasi adalah tahap penemuan gerak secara kebetulan, tahap pembentukan adalah tahap terakhir dari proses koreografi. Dilihat dari gerak tari Peuratep Aneuk ini memiliki 13 ragam gerak, tari Peuratep Aneuk juga memiliki pola lantai dalam pertunjukannya, iringan musik pada tari Peuratep Aneuk sangat berperan penting sebagai musik pengiring dan penuntun gerak tariannya. Tata busana tari Peuratep Aneuk menggunakan busana Aceh sesuai dengan kewilayahan, dan tata rias tari Peuratep Aneuk adalah makeup minimalis sesuai dengan karakter keanggunan wanita Aceh.Kata Kunci: Kajian, Koreografi, Tari, Peuratep Aneuk
ANALISIS PERUBAHAN RAGAM GERAK TARI RATEB MEUSEUKAT DI SANGGAR JEUMPA KABUPATEN ACEH BARAT Qodoma, Talitha Wafa; Supadmi, Tri; Syai, Ahmad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 4 (2020): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i4.22560

Abstract

ABSTRAK Penelitian tentang Analisis Perubahan Ragam Gerak Tari Rateb Meuseukat di Sanggar Jeumpa Kabupaten Aceh Barat ini mengangkat masalah bagaimana analisis bentuk gerak tari Rateb Meuseukat Nazar dan Rateb Meuseukat yang sudah baku di Sanggar Jeumpa Kabupaten Aceh Barat, yang bertujuan untuk mendeskripsikan ragam gerak dalam bentuk notasi laban sebagai saran pemahaman gerak tari Rateb Meuseukat di sanggar Jeumpa Kabupaten Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendapat gambaran secara mendalam tentang tari Rateb Meuseukat Nazar dan Rateb Meuseukat yang baku di Sanggar Jeumpa Kabupaten Aceh Barat. Subjek penelitian adalah tari Rateb Meuseukat, sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah analisis perubahan ragam gerak tari Rateb Meuseukat di Sanggar Jeumpa Kabupaten Aceh Barat. Data diperoleh dengan tehnik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah dengan mereduksi data terlebih dahulu kemudian menyajikannya dalam bentuk uraian singkat dan akhirnya dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Rateb Meuseukat ini biasanya didominasi oleh gerakan tangan para penari. Selain itu diselingi juga dengan gerakan kepala dan bahu saat menoleh ke kanan dan ke kiri. Dalam bentuk pencatatan notasi laban tari Rateb Meuseukat, penari juga melakukan gerakan secara berselang seling yaitu level tinggi dan rendah. Tari Rateb Meuseukat di sanggar Jeumpa memiliki 2 versi yaitu tari Rateb Meuseukat Nazar yang mempunyai 7 ragam gerak, sedangkan tari Rateb Meuseukat yang baku mempunyai 12 ragam gerak. Perbedaan dari kedua tarian tersebut terletak pada bagian tangan, syair, level dan temponya.Kata kunci: Perubahan, Notasi Laban, Rateb Meuseukat, Ragam gerak
RAGAM JENIS DAN FUNGSI KAIN TENUN ULOS BATAK TOBA DI DESA PINTU BATU KECAMATAN SILAEN KABUPATEN TOBA SAMOSIR Tiurma, Tiurma; Supadmi, Tri; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 4 (2020): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i4.22561

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Ragam Jenis dan Fungsi Kain Tenun Ulos Batak Toba di Desa Pintu Batu Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana fungsi kain tenun Ulos Batak Toba yang ada di masyarakat di Desa Pintu Batu Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir?. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ragam jenis dan fungsi kain tenun Ulos Batak Toba yang ada di masyarakat Desa Pintu Batu Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelian ini adalah para pengrajin tenun Ulos yang ada di Desa Pintu Batu Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Objek penelitian ini yaitu kain tenun Ulos Batak Toba yang ada di masyarakat Desa Pintu Batu Kecamatan Silaen Kabuten Toba Samosir. Sedangkan teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah teknik observasi dan wawancara untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal yang diteliti serta menggali keterangan yang lebih mendalam dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara menyelidiki kain tenun Ulos Batak Toba untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan ragam jenis kain tenun Ulos Batak Toba di Desa Pintu Batu Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir memiliki 22 jenis kain tenun Ulos Batak Toba tetapi dalam hasil penelitian peneliti hanya mendapatkan 17 jenis kain tenun Ulos Batak Toba yaitu Ulos Ragi Hidup, Ulos Sibolang, Ulos Ragi Hotang, Ulos Sadum, Ulos Mangiring, Ulos Bintang maratur, Ulos antak-antak, Ulos Bolean, Ulos Ragi Huting, Ulos Pinan lobu-lobu, Ulos Tutur-tutur Ulos Tumtuman, Ulos Ragi Pakko, Ulos Suri-suri Gnjang, Ulos Simpar, Ulos Sibunga Umbang, Ulos Sitolutuho. Masing masing Ulos tersebut memiliki Fungsi yaitu untuk acara kematian, acara tujuh bulanan, acara kelahiran anak, acara memasuki rumah baru.Kata Kunci: Ragam Jenis, Fungsi, Kain Tenun Ulos Batak Toba
RAPAI DALAM KESENIAN DALUPA DI GAMPONG PANGGONG KECAMATAN KRUENG SABEE KABUPATEN ACEH JAYA Maisarah, Siti; Syai, Ahmad; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 4 (2020): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i4.22558

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Rapai dalam Kesenian Dalupa di Gampong Panggong Kecamatan Krueng Sabee Kabupaten Aceh Jaya. Mengangkat masalah tentang bagaimana ragam pukulan rapai dalam kesenian Dalupa di Gampong Panggong Kecamatan Krueng Sabee Kabupaten Aceh Jaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bentuk ragam pukulan rapai dalam kesenian Dalupa di Gapong Panggong Kecamatan Krueng Sabee. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Ismail Sabi (Yah Dek) salah satu pemain rapai dalam kesenian Dalupa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ragam pukulan rapai di kesenian Dalupa terdapat 8 pola. Perbedaan bentuk ragam pukulan rapai tersebut disebabkan oleh kreatifitas para pemusik yang mengikuti jalan cerita syair. Dalam setiap perbedaannya terdapat dinamik keras lembutnya, untuk menciptakan suasana dan tekanan-tekanan (lembut dan keras) di dalam kesenian Dalupa. Untuk penulisan ragam pukulan rapai di dalam kesenian Dalupa sampai saat ini belum memiliki notasi ritme baku.Kata Kunci: tradisi, ragam pukulan rapai, Dalupa
PROSES PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA MATERI TARI KREASI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 18 BANDA ACEH Sasmita, Suci; Supadmi, Tri; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 4 (2020): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i4.22559

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Proses Pembelajaran Seni Budaya pada Materi Tari Kreasi dengan Menggunakan Media Audio Visual Siswa Kelas VIII SMP Negeri 18 Banda Aceh. Masalah dalam Penelitian ini adalah bagaimana proses dan perbandingan hasil belajar siswa yang menggunakan media audio visual dan tanpa menggunakan media audio visual di SMP Negeri 18 Banda Aceh. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan bagaimana proses dan perbandingan hasil belajar siswa yang menggunakan media audio visual dan tanpa menggunakan media audio visual di SMP Negeri 18 Banda Aceh. Pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif dan Jenis penelitian eksperimen. Teknik pengumpulan data berupa tes praktik dan tes pengetahuan. Metode analisis data uji-t, uji dua pihak. Populasi penelitian ini adalah kelas VIII yang terdiri dari lima rombel, metode yang digunakan random sampling, yang menjadi sampel penelitian kelas VIII-1 dan VIII-3. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, dimana thitung = 39.4 pada taraf signifikan = 0.05 dengan derajat kebebasan (dk) = n1 + n2-2 = 48, maka dari tabel distribusi t diperoleh t0.975 (48) = 2.02. karena thitung ttabel (39.42.02), maka sesuai dengan hipotesis yang diajukan dengan ketentuan. kriteria pengujian yang berlaku adalah terima Ho jika t1- t t1- dan dalam hal ini Ho ditolak. Dengan demikian perbandingan hasil belajar siswa menggunakan media audio visual berbeda dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan media audio visual.Kata kunci: tari kreasi, belajar, media audio visual
KARAKTERISTIK ALAT MUSIK TRADISIONAL SULING GAYO Muazin, Muazin; Palawi, Ari; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 4 (2020): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i4.22557

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Karakteristik Alat Musik Tradisional Suling Gayo, mengangkat masalah bagaimana karakteristik alat musik tradisional suling gayo yang ada di bagian uken (hulu) dan toa (hilir). Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan karakteristik alat musik tradisional suling gayo yang ada di bagian uken (hulu) dan toa (hilir). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah suling gayo sedangkan objek dalam penelitian ini adalah karakteristik suling gayo khususnya daerah uken dan toa. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Aceh Tengah, di dua desa yaitu desa uken dan toa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suling gayo merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup yaitu melalui lubang yang telah disediakan dari suling tersebut tergantung bentuk karakter suling itu sendiri. Pada umumnya suling gayo saat ini ditiup dari samping bagian kepala suling. Karakter nada suling gayo bagian uken sering disebut dengan kata loteng yang berarti melenting karena karakter nada ini berasal dari suara wanita yang tinggi sedangkan Karakter nada suling gayo bagian toa sering disebut dengan kata lungun yang berarti merdu karena karakter nada ini berasal dari suara lelaki yaitu rendah. Yang membedakan karakteristik peniupan yaitu yang pertama dari tinggi atau rendah nada dan yang kedua adalah dari bentuk dan jenis suling itu sendiri. Tergantung dari besar, sedang dan kecil bentuk suling. Nada suling ini tidak pasti cukup menggunakan rasa atau feeling sehingga mendapatkan karakter nada yang diinginkan. Suling uken memiliki panjang kurang lebih 25 cm dan menghasilkan suara yang melenting. Pada umumnya suling loteng berawal dari pepongoten dan memiliki alunan-alunan sering disebut denang (lagu) ditambah lagi dengan sarik (teriakan). Suling toa memiliki panjang kurang lebih 40 cm yang menghasilkan suara yang rendah. Pada umumnya suling lungun berawal dari sebuku yang memiliki alunan denang (lagu) yang merdu.Kata kunci: Karakteristik, Alat Musik, Suling Gayo.

Page 11 of 28 | Total Record : 278