cover
Contact Name
Sayono
Contact Email
say.epid@gmail.com
Phone
+628122545186
Journal Mail Official
say.epid@gmail.com
Editorial Address
Ruang 408 Lantai 4 Gedung Laboratorium Kesehatan Terpadu Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmudu Raya No.18 Semarang, 50273
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
ISSN : 16933443     EISSN : 26139219     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia publishes scientific articles of research results in the field of public health in scope: Health policy and administration Public health nutrition Environmental health Occupational health and safety Health promotion Reproductive health Maternal and child health Other related articles in public health
Articles 259 Documents
HUBUNGAN BERAPA KARAKTERISTIK ANAK DENGAN OBESITAS Mifbakhuddin . .
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 1. No. 1. Tahun 2003
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.925 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.1.1.2003.%p

Abstract

ABSTRACT Background: The first long term development has just been passed. It gives many achievements in social, cultural, health, educational, and economic aspects. Following the positive and negative effects of the national development, The disease pattern changes. Some cases such as infection disease and nutritious lackness are decreasing now. In the contrary, degenerative disease and cancer are increasing in numbers. A new problem also takes a place. Over nutrient emerges into serious matter. Objective: Analyses the relationship characteristics with obesity in State Favorite Elementary School in Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang. Methods : Type of this research is exploracy survey with cross sectional study. Population of this study is all of the obese students of state favorite elementary school. All of them will be observed. Data is analyzed descriptively and analytically. The independent variables are sex, age, genetic, intake of energy, economic and mother's education levels, and the independent is prevalence of obese. Results: Research describes that the whole prevalence is 6.72 %. Prevalence of girl’s obesity is 7.82% while the boy is 5.69%. From 73 sample, 32 (43.83%) are boys and 4l (56.17%) a girls. Most samples (so <76%o) are children from 10 to 12 Years old. It is followed by the children it age af 7 to 9 years old (about 8.36%) and < 6 years old (10.97%). Research also shows us that 54.80% mothers are educated in formal school for about > 13 years. Forty six families (63.01%) get income >_Rp 350.000,00, but the total average noume of all family k Rp.345.000,00. Fifty nine family (80.82%) from all those family have genetic element of being fat (obesity). Conclusion: there are correlations among all variables, except sexual variable. Effective contribution indicates that food consumption takes the first order (46.9%) Keywords: obesity, characteristics of students, Favorite Elementary School
STATUS RESISTENSI Aedes aegypti TERHADAP MALATHION DI KOTA SEMARANG Ayu Yulistyawati; Sayono S; Ulfa Nurullita
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 8. No. 1. Tahun 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.104 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.8.1.2013.1-10

Abstract

Latar Belakang: Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Kasus DBD di Indonesia mengalami peningkatan. Upaya pencegahan difokuskan pada pemberantasan vektor, termasuk menggunakan insektisida malathion karena masih efektif di beberapa wilayah. Namun belum diketahui status resistensi populasi Ae. aegypti berdasarkan tingkat endemisitas DBD. Tujuan: Mengetahui status resitensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida malathion berdasarkan tingkat endemisitas di Kota Semarang. Metode: Penelitian explanatory research dengan pendekatan Cross-Sectional dilakukan di tiga kelurahan dengen endemisitas berbeda. Variabel penelitian yaitu status endemisitas DBD dan status resistensi Ae aegypti terhadap malathion. Sebanyak 25 ekor nyamuk dijadikan subjek penelitian per tabung dalam uji suseptibilitas, dan dikontakkan dengan impregnated paper malathion 0.8% selama satu jam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil: Rerata jumlah nyamuk pingsan berdasarkan tingkat endemisitas DBD dari tinggi, sedang dan non endemis adalah 80.8, 84.0,dan 95.2, sedangkan jJumlah nyamuk mati pasca holding 24 jam adalah 96.0, 99.2 dan 100. Tidak ada perbedaan yang signifikan status resistensi berdasarkan tingkat status endemisitas DBD (p=0,343), namun ada perbedaan signifikan jumlah kematian nyamuk Ae. aegypti berdasarkan status endemisitas DBD. Kesimpulan: Malathion dapat digunakan di daerah non endemis.Kata kunci: Nyamuk Aedes aegypti, status endemisitas, status resistensi
Distribusi Terduga Dan Kasus Baru di Sekitar Tempat Tinggal Penderita Tuberculosis Paru BTA Positif Rana Hamidah; Wulandari Meikawati; Tri Dewi Kristini
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 15. No. 2. Tahun 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.216 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.15.2.2020.42-46

Abstract

Latar Belakang: Tuberculosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan M.  Tuberculosis. Penularan terjadi ketika penderita TBC paru BTA positif batuk atau bersin dan tanpa disengaja penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak. Seorang penderita tuberculosis paru BTA positif dapat menginfeksi 10-15 orang di sekitarnya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi terduga dan kasus baru TBC paru di sekitar tempat tinggal penderita TBC paru BTA positif. Metode: Jenis penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah 35 penderita TBC paru BTA positif yang didiagnosa pada bulan Januari-Maret 2019 dan sedang menjalani pengobatan di wilayah kerja puskesmas Tlogosari Wetan. Sampel dalam penelitian sebanyak 200 orang keluarga dan tetangga yang memiliki hubungan kontak erat dengan penderita TBC paru. Hasil: Rata- rata intensitas kontak responden sebesar 4,01 jam/hari, rata-rata kepadatan hunian responden 18,609m2/orang, responden yang merokok rata-rata sebesar 0,77 batang/hari, ventilasi kamar responden memiliki rata-rata sebesar 13,943% dan rata-rata status gizi responden yang sudah dewasa sebesar 22,875kg/m2 dan anak-anak 0,977 kg/m2. Simpulan: Dari 200 responden yang terdiri dari 70 anggota keluarga dan 130 tetangga penderita TBC paru BTA positif ditemukan 5 orang terduga TBC paru yang 100% merupakan anggota keluarga penderita. Diantara 5 orang terduga TBC paru tidak didapatkan kasus baru TBC paru. Ada hubungan antara intensitas kontak dengan keberadaan terduga TBC paru dan tidak ada hubungan antara kepadatan hunian, kebiasaan merokok, ventilasi kamar dan status gizi dengan keberadaan terduga TBC paru.
PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI ACCUZUUR TERHADAP LAMA HANCUR JARUM SUNTIK DI PUSKESMAS GAJAHAN KOTA SURAKARTA Margo Utomo; Munawaroh -
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 4. No. 2. Tahun 2008
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.596 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.4.2.2008.%p

Abstract

Background: Immunization and treatment in Gajahan Publio Health Centre yield clinic wasted, injection needlg yield mean 24 needles. Periodical in immunization at school yield clinic waste mean 5000 needles. It has potential to generate danger, environmental contamination if thrown by any place. Gajahan Public Health Centre not yet owned processing special unit and destruction of clinic waste because the limited farm. Accuuzuur is Acid Sulfate havs experienced of liquid with rate 38,065 %o. Mixture iron represent elementary materials of hypodermic needle, iron will be eroded at acid condition.Objective: Knowing influence difference of four kind concentration accuzuur to breaking duration time to hypodermic needles Method: A randomized post test only control group design, on 150 hypodermic needles, devise to 15 tubes, which has been filled 500 cc accuzuur with 85 o/o, 90o/o, 95 o/o and I 00 o/o concentration, and 500 cc aquadest for controlled group.Controled variable were type of needle, amount of needle, temperature, humidity and kind of tubes. The hypodermic needles being cut on covered with plastic. Treatment of final of accuzuur garbage, was given calcium carbonat little bits until pH 6,5-8,5, and then were been throwed . Statistic analyzed with One Way Anova.Result: From 100 ?'o concentration starting to break after 24 hours, and all needles breaked entirely after 72 hours. In 95 o/o concentration starting to break after 24 hours, and all needles breaked entirely after 96 hours. In 90% concentration starting to break after 48 hours, and all needles breaked entirely after 96 hours. In 85 o/o concentrationstarting to break after '12 hours. and all needles breaked entirely after 120 hours. There are no sigrificant difference among 85 % with 90%o,95 Yo, and there is significant difference among 85% with 100 %o concentration (p:0.004) at24 hours exposed. There are significant difference among four kind ofconcentration at 48 hours, 72 hours and 96 hours.Conclusion: 100 %o concentration is the most effective, and all needles were breaking after 120 hours.
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK USIA 1-4 TAHUN - Endriani; - Mifbakhudin; - Sayono
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 7. No. 1. Tahun 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.511 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.7.1.2011.%p

Abstract

ABSTRACT Background. STH infestation is influenced by direct contact with contaminated soil so that the potential for worm eggs swallowed. Factor of personal hygiene, environmental sanitation and the treatment is closely related to worm infestation, Objective. To identify any risk factors associated with worm infestation in children aged 1 -4 years in Karangroto villages. Methods. The survey research was conducted with a cross sectional approach. The Population of research are babies with aging between 1-4 years in may 2010 worms do not take medication during the last six months with atotal nimber of 54 respondents. The sampling technique adopted in this research was the propotional stratified random sampling. The independent variable is the habit of washing hands, wearing custom footwear, cleaning fingernails , habits play ground, kepemilikkan toilets, floors, water supply, while the dependent variable is worm infestation. Data obtained through interviews and observation. Worm infestation confirmed by laboratory tests. Data were analyzed using Chi-square test. Results. Two subjects (3.7%) used to wash hands. (98.1%) used to wear footwear, (11.1) has clean nails, (98.1%) used to playing on the ground, (94.4%) had their own latrine, (87%) subjects have an impermeable floor water (100%) subjects had clean water availability, the prevalence of worm infestation (14.8%). Conclusion. The habit of washing hands, wearing footwear habits, cleanliness of nails, playing habits on the ground, kepemilikkan toilets, floors, and clean water availability was not associated with worm infestation. Keywords. Translation wash hands, footwear, cleaning fingernails.   ABSTRAK Latar Belakang: Infestasi STH dipengaruhi oleh kontak langsung dengan tanah yang terkontaminasi telur cacing sehingga berpotensi untuk tertelan. Faktor higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan pengobatan erat kaitannya dengan kecacingan. Tujuan: Mengetahui faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan infestasi cacing pada anak usia 1-4 tahun di kelurahan karangroto. Metode: penelitian survei ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak di Kelurahan karangroto yang sampai bulan mei 2010  berusia 1-4 tahun tidak minum obat cacing selama 6 bulan terakhir yang berjumlah 54 responden. Tehnik pengambilan sampel menggunakan tehnik proportional stratified random sampling. Variabel bebas adalah kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan memakai alas kaki, kebersiha kuku, kebiasaan bermain ditanah, kepemilikkan jamban, lantai rumah, ketersediaan air bersih sedangkan variabel terikat adalah infestasi cacing. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi. Infestasi cacing dibuktikan dengan uji laboratorium. Data dianalisis menggunakan Chi-square. Hasil: Dua subjek (3,7%) terbiasa mencuci tangan. (98,1%) terbiasa memakai alas kaki, (11,1) memiliki kuku bersih, (98,1%) terbiasa bermain ditanah, (94,4%) mempunyai jamban sendiri, (87%) subjek mempunyai lantai rumah yang kedap air, (100%) subjek memiliki ketersediaan air bersih, prevalensi kecacingan (14,8%). Kesimpulan: kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan memakai alas kaki, kebersihan kuku, kebiasaan bermain ditanah, kepemilikkan jamban, lantai rumah, dan ketersediaan air bersih tidak berhubungan dengan infestasi cacing. Kata Kunci: Kecacingan, cuci tangan, alas kaki, kebersihan kuku.
Gambaran Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Rumah Sakit Andriani Tri Susilowati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 16. No. 2. Tahun 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.702 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.16.2.2021.108-114

Abstract

Latar belakang: Laboratorium Rumah Sakit merupakan unit pelayanan penunjang yang memiliki risiko aspek keselamatan dan kesehatan yang sangat besar. Tujuan: untuk mengetahui gambaran penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium Rumah Sakit. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subyek penelitian adalah Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan (ATLM) yang bekerja di Rumah Sakit. Data didapat dari angket yang diisi melalui google formulir dengan 5 kelompok pertanyaan yaitu: lingkungan kerja, habituasi kerja, kesehatan kerja, kecelakaan kerja dan pendidikan/pelatihan. Hasil: Kepatuhan cuci tangan dan penggunaan APD lebih dari 80%. Angka kecelakaan kerja masih tinggi yaitu: 12 orang pernah tertusuk jarum, 10 orang tertumpah B3 dan infeksius serta kebakaran dialami 2 responden. Sebanyak 90,47% tidak dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala dan 71,43% tidak mendapat vaksin hepatitis B. Petugas laboratorium sebesar 80,95% telah mendapat pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS). Kesimpulan: Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium Rumah Sakit belum sepenuhnya berjalan dengan baik.
STABILITAS ASAM ASCORBAT DALAM KOMBINASI DENGAN SENG SULFAT Jatmiko Susilo; Siti Fitriyah; Titis Setyowati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 4. No. 1. Tahun 2007
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.038 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.4.1.2007.%p

Abstract

Latar belakang. Asam askorbat bersifat mudah terdegradasi oleh suhu, cahalta atau logam dan dalam larutan. Pengaruh Seng sulfas dalam kombinasi dan perbedaan suhu penyimpanan akan berpengaruh terhadap stabilitas Asam askorbat. Stabilitas didasarkan atas penurunan kadar selama penyimpanan. Tajuan penelitian untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan dan Seng sulfat terhadap stabilitas asam askorbat. Metode penelitian adalah eksperimental. dilakukan penetapan kadar Asam askorbat tunggal dan dalam kombinasi dengan seng sulfat yang disimpan selama 3 hari pada suhu 30 , 40, 50, 60 dan 70 "C dan lama penyimpanan 0, 5, 10, 15, 20 dan 25 hari pada suhu kamar. Hasil diuji dengan Uji-Anava. Hasil : menunjukkan adanya penurunan kadarAsam askorbat baik tunggal maupun dalam kombinasi oleh pengaruh suhu dan lama penyimpanan, namun dari uji statistik Fo=0.046<Ftab.(P;0,05;dbf:5,4)=5.l9 dan Fo=3.229<Ftab. (P:0,05;dbf:6; 5)=4.95berarti ticlak ada pengaruh suhu , Seng sulfut dan lama penyimpanan terhadap stabilitas Asam askorbat secara bermakna. Simpulan: Suhu sampai dengan 70 "C, dan atau adanya Seng sulfas disimpan selama 3 hari serta lama penyimpanan pada suhu kamar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap stabilitas kimia Asam askorbat. Saran ; Perlu dilakukan uji stabilitas Asam askorbat dalam sediaan polifarmasi (multivitamin)Kata kunci ; stabilitas, Asam askorbat, kombinasi dengan Seng sulfat, Suhu, waktu penyimpanan
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (Studi di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah) Wahyu Rochadi; Zinatul Faizah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 1. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6508.586 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.1.2005.%p

Abstract

The study was conducted or correlated to identified some factors with Low Birth Weight. Such as characteristic of mother, sosial cultur, nutrition state, health stqte, ante natal care, haemoglobin" oni iocline urine. The study was carried out in Wonosobo General Hospital and its suruouncling area during the month of June to December 1995. The first phase of the study was to collect descriptive formation on the prevalence of low birth weight in Wonosobo, ancl the second phase was to find factors associated with the law birth weight cases. Thirty low birth weight cases were taken randomly and thirty normal birth weight cases were chosen as controls. The stutly revealed tkst there were 55 cases low birth weight or 37. I 6 94 out of deliveries in the hospital during the month of June untill Sep;e*iber I 995. The mean birth weight 2027'3 grams and birth length 48.3 cm. Nine percent of the mothers come fyom antsicle Vl/onosobo. There were no difference in the age, weight and height of the mothers, number of children ancl ntiscarriage, haemoglobine and iodine contekt in the urine of the mother. The same condition was also found in the ante nata! care, physical condition and food pattern of both groups. However, mothers who delivered low birth weight babies ever had "jamu" (traditional herb al drink).Keywards: low birth weight, social culture, nutrition state, antenatal care
Stigma dan Tingkat Kecemasan Masyarakat pada Covid-19 Lilis Banowati; Cucu Herawati; Wiwiet Indriyani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 16. No. 3. Tahun 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.855 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.16.3.2021.131-135

Abstract

Background: The increasing number of positive patients with Covid-19, the social impact in the form of stigma from being shunned by neighbors and even families and the impact of mental health, namely causing major psychosocial stresses that can trigger anxiety. Purpose  this study was to determine the stigma and level of public anxiety about Covid- 19. Methods: This type of research is descriptive quantitative, the study population is all people in the UPTD Haurgeulis Puskesmas, Indramayu Regency, as many as 88,468 people. The number of samples was 100 respondents using purposive sampling technique. Data were analyzed statistically using univariate analysis and data presentation in the form of frequency distributions. Results: This study shows that people have a low stigma as much as 1% and those who experience a high stigma are as much as 99%. As well as people who do not experience anxiety as much as 14% and most of them experience mild anxiety as much as 86%. Conclusion: The public should be wiser in sorting out information related to Covid-19 from various sources and can manage anxiety with good self-coping management, for example by relaxation and positive thinking related to Covid-19.
Pengetahuan Warga tentang Bahaya Keselamatan dan Bahaya Kesehatan yang Terjadi pada Banjir (Studi di Daerah Rawan Banjir di Bandarharjo Semarang) Ulfa Nurullita; Gina Malika Ritonga; Mifabkhuddin Mifbakhuddin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 16. No. 3. Tahun 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.014 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.16.3.2021.154-159

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kejadian bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang cukup besar yaitu kejadian banjir. Pada awal tahun 2020 tercatat bahwa terjadi 67 peristiwa banjir di Indonesia dan mengakibatkan korban meninggal dunia paling banyak yaitu sebanyak 86 orang. Tujuan: Menggambarkan pengetahuan warga tentang bahaya keselamatan dan bahaya kesehatan yang terjadi saat banjir karena air pasang.  Metode: Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Variabel berupa pengetahuan bahaya keselamatan dan pengetahuan bahaya penyakit saat banjir diperoleh dengan angket. Subjek penelitian yaitu warga RW 1 Kelurahan Bandarharjo Semarang berjumlah 92 orang. Hasil: Mayoritas responden mendapatkan informasi melalui seseorang yaitu keluarga, kerabat, dan tenaga kesehatan dengan jumlah 62 (67,4%) orang. Banjir terjadi hampir setiap bulan dengan ketinggian setengah meter dan surut dalam satu hari. Tinggi genangan air banjir yang dianggap merugikan menurut warga yaitu setinggi 0,5 meter karena dapat mengganggu aktivitas warga. Dampak banjir yang paling dirasakan oleh warga yaitu kerusakan properti. Kesimpulan: Pengetahuan warga RW 1 Kelurahan Bandaharjo mengenai bahaya keselamatan dan bahaya kesehatan yang terjadi saat banjir termasuk dalam katagori baik.