cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 3 (2011)" : 11 Documents clear
Efek Ekstrak Kacang T unggak terhadap Osteoblas dan Osteoklas pada Tikus dengan Ovarektomi Ts, Didiek Darmadi; Nurdiana, Nurdiana; Norahmawati, Eviana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.491 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.4

Abstract

Setelah menopause, wanita kehilangan efek protektif dari estrogen, sehingga merubah jalannya remodeling tulang dan akhirnya  terjadi  osteoporosis. T ujuan penelitian ini  untuk  mengetahui  apakah  ekstrak  kacang  tunggak  dengan  kandungan genistein didalamnya dapat  berperan sebagai fitoestrogen yang dapat  menjadi alternatif  terapi pengganti  estrogen pada tikus  yang  telah  diovarektomi.  Pada  penelitian  ini  digunakan  6  kelompok  yaitu:  1)  kelompok  tikus  normal  (K-neg),  2) kelompok  tikus  yang  di  ovarektomi  dan  dipertahankan  selama  1  bulan  (K-pos1),  3)  kelompok  tikus  yang  di  ovarektomi  dan dipertahankan selama 2 bulan (K-pos2),  4) kelompok yang diovarektomi dan dipertahankan selama 1 bulan kemudian diberi  ekstrak  kacang  tunggak  dosis  0,5  ml/kgBB (K-1),  5)  2,5  ml/kgBB (K-2),  dan  kelompok  6  dengan  dosis  5  ml/kgBB (K-3). T ulang  femur  distal  setiap  tikus  diambil  kemudian  dicat  menggunakan  Hematoxillin-Eosin.  Jumlah  osteoblas  dan  osteoklas kemudian dihitung dari 20 lapang pandang dengan perbesaran 1000x menggunakan mikroskop mikrofoto Olympus dan kemudian  dihitung  rata-ratanya.  Data  dianalisa  menggunakan  One Way  ANOVA.  Hasil menunjukkan  jumlah  osteoblas pada  pada  kelompok  tikus  yang  di  ovorektomi  selama  satu  bulan  dengan  pemberian  ekstrak  kacang  tunggak  dosis  2,5  dan 5  ml/kgBB   secara  signifikan  lebih  rendah  dibandingkan  kontrol  positif .
Kadar Antioksidan Rendah Meningkatkan Risiko Hemolisis pada Sepsis Neonatus Budhi, Kamilah; Soemantri, Agustinus; Aminullah, Asril; Suhartono, Suhartono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.011 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.10

Abstract

Hemolisis  pada  neonatus  sepsis  terjadi  akibat  aktivasi  komplemen  yang  dipicu  oleh  reaksi  inflamasi  sebagai  respons terhadap  invasi  mikroba.  Penyebab  lain  meliputi:  proses    fisiologis,  kelainan  eritrosit  kongenital,  proses  imun,  stres oksidatif ,  obat  dan  enzim  hemolisin.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  membuktikan  hubungan  antara  kadar  antioksidan dengan kejadian hemolisis pada neonatus  sepsis. Penelitian dilakukan dengan desain observasional prospektif ,  nested case-control  pada  94  neonatus  sepsis  yang  terdiri  47  kelompok  kasus  (hemolisis  positif)  dan  47  kelompok  kontrol (hemolisis negatif). Hemolisis ditegakkan dengan kriteria indeks retikulosit > 3 pada hari ke 1 dan hari ke 3. Variabel yang diukur  meliputi: antioksidan  (GPx,  vitamin  E,  vitamin  C)  dan  oksidan  (MDA),  hemolisin.  Pemeriksaan  kadar  MDA,  GPx dengan  metode  spektrofotometri,  vitamin  C    metode  colorimetric  assay,  vitamin  E  metode  ELISA,  hemolisin  dengan media  agar  darah.  Data  dianalisis  dengan  Chi-square,  uji  t  tidak  berpasangan,  Mantel-Haenszel  dilanjutkan    regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan kadar GPx rendah (75µ/gHb), vitamin E rendah ((<17,8 µg/mL) merupakan faktor risiko signifikan terjadinya hemolisis dengan OR berturut-turut 6,14 ,  3,12. Kadar antioksidan rendah (GPx  dan vitamin E) merupakan  prediktor  kuat  terjadinya  hemolisis  pada  neonatus  sepsis.
Kalsitonin Menurunkan Derajat Apoptosis Kondrosit T ulang Rawan Sendi dengan Gangguan Biomekanik Instabilitas Mustamsir, Edi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.977 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.5

Abstract

Kalsitonin,  suatu  obat  anti  resorptif  yang  selama  ini  banyak  digunakan  dalam  terapi  osteoporosis,  terbukti  dapat mengurangi turnover tulang subkondral yang meningkat pada osteoarthritis (OA), mengurangi derajat kerusakan tulang rawan sendi pada beberapa model OA dan merubah komposisi biokimia pada matriks tulang rawan sendi. Mekanisme kerja kalsitonin dalam terapi osteoarthritis belum sepenuhnya diketahui. Apoptosis kondrosit dikaitkan dengan deplesi dari  matriks  tulang  rawan  pada  OA.  Penelitian  ini  bertujuan  meneliti efek  Kalsitonin  terhadap  penurunan  indeks  apoptosis kondrosit  pada  sendi  yang  mengalami  gangguan  biomekanik.  Sampel  hewan  coba  kelinci  dibagi  dalam  3  kelompok, kelompok  1  dan  2  dilakukan  perlakuan  pemotongan  ligamentun  cruciatum  anterior  (ACL T)  dan  menisektomi  untuk membuat  instabilitas  sendi  lutut  kiri  dan  setelah  24  jam  perlakuan  diberikan  injeksi  kalsitonin  pada  kelompok  1, sedangkan kelompok 2 diberikan injeksi normal saline selama 6 minggu, kelompok 3 (kontrol) dilakukan  operasi sham. Setelah  6  minggu,  sampel  diambil  dari  tulang  rawan  sendi  lutut  bagian  femur  dan  tibia  untuk  dilakukan  pemeriksaan apoptosis. Gangguan biomekanik instabilitas meningkatkan apoptosis kondrosit dengan bermakna baik pada sisi femur (x= ̅27) maupun tibia (x= ̅32.2) dari sendi dibandingkan kontrol.
Probiotik Menurunkan Ekspresi TLR2 dan Aktivasi NF-Kb p50 pada Sel Mononuklear Darah Mencit yang T erpajan Lipopolisakarida E.Coli HM, Ni Luh Putu; Sumakto, Sumakto; Santoso, Sanarto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.655 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.11

Abstract

Beberapa tahun terakhir banyak penelitian dilakukan untuk melihat penggunaan probiotik untuk pencegahan maupun untuk  pengobatan.  Salah  satu  penggunaan  probiotik  adalah  dalam  pengobatan  diare.  Penggunaan  probiotik  tersebut berdasarkan  respon  imun  yang  dapat  ditimbulkan  oleh  probiotik  baik  di  dalam  mukosa  usus  maupun  di  sel-sel mononukklear .  Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui pengaruh probiotik terhadap aktivasi T oll-like receptor (TLR2), TLR4, Nuclear Factor Kappa B p50 dan p65 pada sel mononuklear darah yang terpajan dengan LPS E.coli.Mencit Balb/c dibagi  dalam  4  kelompok  perlakuan.  Satu  kelompok  mendapat  LPS  pada  hari  pertama  dilanjutkan  dengan  probiotik selama  7 hari, satu  kelompok LPS saja,  satu  kelompok probiotik selama  7 hari dan kelompok kontrol tanpa perlakuan. Dilakukan pemeriksaan  imunositokimia pada sel  mononuklear yang  mengekspresikan TLR2, TLR4, dan aktivasi  p50 NF-kB dan  p65  NF-kB. Hasil  penelitian  menunjukkankelompok  LPS  dan  probiotik  peningkatan  ekspresi  TLR2  dan  TLR4,  serta aktivasi NF-kB p50 dan p65, sedangkan pemberian pemberian probiotik mampu menurunkan ekspresi TLR2 dan aktivasi NF-kB p50 (p<0,05) yang disebabkan oleh LPS. Probiotik pada keadaan pajanan dengan LPS E.coli lebih mempengaruhi penurunan  ekspresi  TLR2  dan  menurunkan  aktivasi  NFkB  p50,  yang  diharapkan  mampu menurunkan  reaksi  inflamasi karena  pemberian  LPS.
Pengaruh Ekstrak Jintan Hitam terhadap MDA dan Sel Spermatogonium Tikus yang Dipapar Asap Rokok Kretek Subakut P, Happy Kurnia; Permatasari, Nur; Subandi, Subandi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.083 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.6

Abstract

Radikal  bebas  dalam  asap  rokok  diketahui  dapat  menyebabkan  gangguan  infertilitas.  Aktivitas  radikal  bebas  dapat dihambat oleh antioksidan seperti yang terkandung dalam jintan hitam (thymoquinone, nigellone, carvacrol, t-anetholedan 4-terpineol). T ujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak jintan hitam terhadap kadar Malon Di Aldehid  (MDA)  testis  dan  jumlah  sel  spermatogonium  testis  tikus  yang  dipapar  asap  rokok  kretek  selama  21  hari  (subakut). Penelitian eksperimental ini menggunakan 20 ekor tikus (Rattus norvegicus) strain Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok,  terdiri  dari  kelompok  kontrol  negatif,  kelompok  kontrol  positif ,  kelompok  perlakuan  1,  2,  dan  3  (masing-masing dipapar asap rokok kretek dan diberi ekstrak jintan hitam dosis 0,6; 1,2; 2,4 g/kgBB/hari secara berurutan). Kadar MDA testis  diukur  menggunakan  metode  Thio  Barbituric  Acid  test  (TBA  T est).  T estis  tikus  dijadikan  preparat  histopatologi menggunakan  pengecatan  Haematoxcylin  Eosin  (HE),  untuk  dihitung  jumlah  sel  spermatogonium  yang  melekat  pada membrana  basalis.  Dapat  disimpulkan  bahwa  jintan  hitam  mempunyai  efek  antioksidan,  yaitu  dapat  mencegah penurunan jumlah  sel spermatogonium pada tubulus  seminiferus testis  tikus strain Wistar melalui hambatannya pada pembentukan  peroksidasi  lipid  (MDA)  akibat  paparan  asap  rokok  kretek  subakut.
Serbuk Daun Kelor Menurunkan Derajat Perlemakan Hati dan Ekspresi Interleukin-6 Hati Tikus dengan Kurang Energi Protein Dwi, Agustiana; Endang, Tinny; Sujuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.547 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.1

Abstract

Kurang energi protein (KEP) merupakan salah satu bentuk malnutrisi karena rendahnya asupan gizi. Pada KEP gambaran histopatologi  liver  akan  menunjukkan  perlemakan  hati  yang  bereaksi  dengan  radikal  peroksidasi  membentuk  lipid peroksidasi  yang  meningkatkan  ekspresi  Interleukin6  (IL-6).  Penelitian  ini  dilakukan  untuk  membuktikan  bahwa  konsumsi serbuk daun kelor dapat  menurunkan derajat  perlemakan hati  dan ekpresi IL-6  pada KEP .  Penelitian dilakukan dengan desain post test only control group, pada enam kelompok (diet normal, diet rendah protein, diet rendah protein dengan empat  perlakuan  dosis  kelor  yaitu  180  mg,  360  mg,  720  mg,  1440  mg.  Diet  rendah  protein  diberikan  dalam  2  bulan kemudian    dilanjutkan  dengan  1  bulan  diet  normal  yang  ditambahkan  serbuk  daun  kelor .    Hasil  uji  One  Way  ANOVA menunjukkan bahwa pemberian serbuk daun kelor pada semua dosis dapat menurunkan derajat perlemakan hati dan ekspresi  IL-6.   Pada  dosis  720  mg/hari,  derajat  perlemakan  hati  dan  ekspresi  IL-6  menurun hingga  sama  dengan  kelompok normal. Dapat disimpulkan bahwa pemberian serbuk daun kelor pada KEP dapat menurunkan derajat perlemakan hati dan  ekspresi  IL-6.Kata  Kunci:  Ekspresi  IL-6,  kurang  energi  protein,  perlemakan  hati,  serbuk  daun  kelor
Efikasi Kombinasi Rebamipide dengan Lansoprazole pada Proses Penyembuhan T ukak Lambung Tikus yang Dipapar Indometasin Melinda, Mia; Ahmad, Harijono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.145 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.7

Abstract

Gastropati  akibat  penggunaan  NSAID  masih merupakan  permasalahan  kesehatan  di  Indonesia  dengan  standar  terapi lansoprazol  yang  menekan  produksi  asam  di  lambung.  Disisi  lain  pemberian  NSAID  menginduksi  kerusakan  mukosa dengan menghambat faktor defensive  mukosa, sehingga dapat dikelola dengan obat yang menghambat proses inflamasi yaitu  rebamipide.  Studi  dilakukan  untuk  mengidentifikasi  efektifitas  kombinasi  lansoprazol  dan  rebamipid  dibanding penggunaan  tunggal.  Desain  experimental  post  test  only  group  dilakukan  pada  empat  kelompok  perlakuan  yaitu  1) kelompok  kontrol  positif  dengan  induksi  indometasin,  2)  rebamipid,  3)  lansoprazol,  dan  4)  kombinasi.  Pengamatan dilakukan  pada  jam  ke  12,  24,  36  dan  48  jam  untuk  mengetahui  ukuran  dan  derajat  ulkus  (kriteria  Dixon),  jumlah  VEGF  dan MVD dan dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA.  Semua terapi dapat  memperbaiki ulkus dengan efek tercepat  (24 jam)  pada  terapi  lansoprazol  saja  diikuti  terapi  kombinasi.  Secara  histologi  pemberian  terapi  lansoprazol  memberikan gambaran normal pada jam  ke 48. Ekspresi VEGF dan MVD meningkat pada semua kelompok sejak jam  ke 12, dengan jumlah  tertinggi  pada  kelompok  terapi  lansoprazol.  Dapat  disimpulkan  penambahan  rebamipid  tidak  mempercepat proses  kesembuhan  dibandingkan  terapi  tunggal  lansoprazol. Kata  Kunci:  NSAID,  lansoprazole,  rebamipide
Serbuk Daun Kelor Memulihkan Kondisi Fisik Gizi Buruk pada Tikus Model Kurang Energi Protein Luthfiyah, Fifi; Widjajanto, Eddy
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.86 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.2

Abstract

Serbuk  daun  kelor  (Moringa oleifera)  lokal  Nusa T enggara  Barat  (NTB)  merupakan  alternatif    tanaman    kaya  gizi  yang berpotensi  memperbaiki kondisi  gizi  buruk.  Penelitian  ini  bertujuan  mengetahui  dampak  serbuk  daun  kelor  lokal  NTB terhadap perbaikan gambaran fisik tikus model kurang energi proten (KEP) dengan   desain post-test randomized control group   in  vivo  pada  dua  puluh  ekor  tikus.  Tikus  dibagi   dalam  dua  kelompok  kontrol  dengan  diet  normal  dan  rendah  protein selama 56 hari untuk membuat tikus model KEP . Tiga kelompok perlakukan diberikan diet rendah protein selama 56 hari dan asupan serbuk daun kelor dengan dosis 180 mg, 350 mg dan 720 mg/hari. Kondisi fisik tikus diukur dengan kriteria APGAR. Pemberian diet rendah protein pada tikus mampu mengembangkan model tikus dengan KEP yang menunjukkan tanda-tanda kurang gizi   seperti berat badan yang menurun, kondisi fisik yang lemah dan penampilan fisik seperti bulu mudah rontok,  kusam  dan  berkutu.  Pemberian  serbuk  daun  kelor  lokal  NTB  dapat  meningkatkan  keadaan  fisik  kondisi  KEP hingga  mengarah  ke  keadaan  fisik  normal. Kata Kunci:Kondisi fisik, kurang energi protein, Moringa oleifera
Perbandingan Efek Ranitidin, Dexametason dan Kombinasinya terhadap Kadar Asam Format Darah dan Pelepasan Sitokrom C Retina pada Model Tikus Intoksikasi Metanol Akut Halisa, Syahira; Prayitnaningsih, Seskoati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.92 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.8

Abstract

Keracunan metanol dapat menyebabkan toksisitas visual. Asam format merupakan metabolit yang bertanggung jawab terhadap terjadinya asidosis metabolik dan toksisitas visual yang menyebabkan kerusakan mitokondria dengan petanda penting pelepasan sitokrom C. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ranitidin dan perbedaannya dengan dexametason serta kombinasinya terhadap kadar asam format darah dan pelepasan sitokrom C retina tikus coba yang diinduksi metanol akut melalui penelitian eksperimental dengan desain post only with control. Hewan coba tikus Stratus Novergicus strain  Wistar  dibagi  dalam  lima  kelompok  dengan  7  kali  pengulangan  yaitu  kontrol negatif  dan positif ,  dan tiga kelompok  perlakuan  dengan  pemberian  ranitidin,  dexametason  dan  kombinasinya  secara  intraperitoneal.  Dilakukan pengukuran  kadar  asam  format  dengan  metode  kolorimetrik  pada  sampel  serum  darah  dan  pelepasan  sitokrom  C,  analisa data  menggunakan  One Way  ANOVA  dengan  post  hoc  test.  Hasil menunjukkan  rerata  kadar  asam  lebih  tinggi  format  pada tikus  dengan  intoksikasi  methanol  (10.441,8  ng/mL)  dibandingkan  pada  kondisi  normal  (3.612,6  ng/mL).  Pemberian ranitidin menghasilkan kadar asam format yang paling rendah (2.341,6 ng/mL) dibandingkan pemberian dexametason (5.919,2  ng/mL)  atau  kombinasi  keduanya  (2.913,2  ng/mL).
Peningkatan Sekresi Angiotensinogen pada Kultur Sel Adiposit akibat Paparan Glukosa Suprafisologis secara Akut Khila F, Novi; Indra, M Rasjad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.367 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.3

Abstract

Salah satu mekanisme yang menerangkan patogenesis hipertensi pada obesitas adalah aktifasi sistem renin angiotensin. Angiotensinogen  merupakan  prekursor  angiotensin  II  yang  berperan  dalam  patofisiologi  hipertensi.  Ekspresi angiotensinogen  dipengaruhi  oleh  kondisi  lingkungan  di  sekitarnya.  Penelitian  sebelumnya  secara  in  vivo  memperlihatkan bahwa   hiperglikemia dapat memodulasi ekspresi gen angiotensinogen di jaringan adiposa. T ujuan penelitian ini adalah ngin  mengetahui  apakah  terjadi  peningkatan  sekresi  angiotensinogen  pada  kultur  sel  adiposit  yang  di  papar  glukosa suprafisiologis  selama  24  jam.  Kultur  sel  adiposit  diisolasi  dari    jaringan  adiposa  viseral  tikus  Rattus  Novergicus strain Wistar   jantan  berusia  2-3  minggu.  Kultur  sel  adiposit  dibagi  dalam  3  perlakuan,  dipapar  glukosa  dengan  konsentrasi  5  mM (sebagai  kondisi  fisiologis),  11  mM dan  25  mM sebagai  kondisi  glukosa  tinggi,  selama  24  jam.  Dilakukan  pengamatan  kadar angiotensinogen  pada  medium kultur  menggunakan  ELISA.  Hasil  penelitian  menunjukkan  terdapat  peningkatan  yang signifikan  kadar  angiotensinogen  pada  medium  kultur  sel  adiposit  yang  dipapar  glukosa  25  mM  dibandingkan  pada paparan  glukosa  5  mM  (p=0,000)  dan  11  mM  (p=0,002).  Paparan  glukosa  tinggi  (25  mM)  selama  24  jam  dapat meningkatkan  sekresi  angiotensinogen  pada  kultur  sel  adiposit. Kata  Kunci:  Angiotensinogen,  glukosa  suprafisiologis,  kultur  adiposit

Page 1 of 2 | Total Record : 11