cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Kalsitonin Menurunkan Derajat Apoptosis Kondrosit T ulang Rawan Sendi dengan Gangguan Biomekanik Instabilitas Mustamsir, Edi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.977 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.5

Abstract

Kalsitonin,  suatu  obat  anti  resorptif  yang  selama  ini  banyak  digunakan  dalam  terapi  osteoporosis,  terbukti  dapat mengurangi turnover tulang subkondral yang meningkat pada osteoarthritis (OA), mengurangi derajat kerusakan tulang rawan sendi pada beberapa model OA dan merubah komposisi biokimia pada matriks tulang rawan sendi. Mekanisme kerja kalsitonin dalam terapi osteoarthritis belum sepenuhnya diketahui. Apoptosis kondrosit dikaitkan dengan deplesi dari  matriks  tulang  rawan  pada  OA.  Penelitian  ini  bertujuan  meneliti efek  Kalsitonin  terhadap  penurunan  indeks  apoptosis kondrosit  pada  sendi  yang  mengalami  gangguan  biomekanik.  Sampel  hewan  coba  kelinci  dibagi  dalam  3  kelompok, kelompok  1  dan  2  dilakukan  perlakuan  pemotongan  ligamentun  cruciatum  anterior  (ACL T)  dan  menisektomi  untuk membuat  instabilitas  sendi  lutut  kiri  dan  setelah  24  jam  perlakuan  diberikan  injeksi  kalsitonin  pada  kelompok  1, sedangkan kelompok 2 diberikan injeksi normal saline selama 6 minggu, kelompok 3 (kontrol) dilakukan  operasi sham. Setelah  6  minggu,  sampel  diambil  dari  tulang  rawan  sendi  lutut  bagian  femur  dan  tibia  untuk  dilakukan  pemeriksaan apoptosis. Gangguan biomekanik instabilitas meningkatkan apoptosis kondrosit dengan bermakna baik pada sisi femur (x= ̅27) maupun tibia (x= ̅32.2) dari sendi dibandingkan kontrol.
Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pelaksanaan SOP Asuhan Keperawatan di ICU-ICCU RSUD Gambiran Kota Kediri Nazvia, Nazvia; Loekqijana, Ahas; Kurniawati, Janik
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.049 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.17

Abstract

Kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan komponen penting dalam manajemen keselamatan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP asuhan keperawatan di ruang ICU/ICCU RSUD Gambiran Kota Kediri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui kepatuhan perawat dan faktor yang mempengaruhi (umur, lama kerja, tingkat pendidikan, motivasi, dan persepsi). Instrumen penelitian menggunakan checklist, wawancara, dan kuesioner. Analisa data menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil uji analisis menunjukkan ada pengaruh antara motivasi dan persepsi terhadap kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP. Variabel lainnya seperti umur, tingkat pendidikan dan lama kerja tidak berpengaruh terhadap kepatuhan perawat.Kata Kunci: ICU, kepatuhan perawat, motivasi, persepsi, standard operational procedure
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kematian di IGD Rumah Sakit Limantara, Rudy; Herjunianto, Herjunianto; Roosalina, Arma
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.013 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.15

Abstract

Angka kematian pada Instalasi Gawat Darurat merupakan indikator penting kinerja rumah sakit. Data angka kematian pada tahun 2013 sangat tinggi, baik GDR, NDR maupun kematian di IGD ≤ 24jam. Kajian dilakukan untuk mengevaluasi penyebab masalah tingginya angka kematian ≤ 24jam di IGD. Untuk mencari akar penyebab masalah digunakan analisis tulang ikan (fishbone) dengan data dari observasi, wawancara yang dibahas melalui FGD. Dalam memilih alternatif solusi digunakan teori tapisan Mc Namara. Gambaran pola kematian menunjukkan kematian terbesar pada 6-12 jam pertama yang juga dipengaruhi jenis morbiditas dan usia pasien. Analisis akar masalah mengidentifikasi faktor pre-hospital, sumberdaya manusia, dan kinerja monitoring komite mutu sebagai determinan keterlambatan penanganan yang dapat meningkatkan risiko kematian. Faktor kontributor utama adalah belum optimalnya standar prosedur operasional pengelolaan emergency meskipun response time sudah cukup optimal sehingga perlu dilakukan emergency drill secara berkala.Kata Kunci: Angka kematian, emergency drill, Instansi Gawat Darurat (IGD), Standar Prosedur Operasional (SPO)
Pengaruh Vitamin D terhadap Ekspresi COX-2, Kadar cAMP, Kadar Renin Darah dan Tekanan Darah Sistolik dalam Sistem Renin Angiotensin Aldosteron Hermawan, Dessy -; Soejono, Sri Kadarsih; Sunarti, '; Astuti, Indwiani; Nang Agus, Zainal Arifin
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.02.5

Abstract

Banyak penelitian yang melaporkan hubungan antara kadar vitamin D dalam darah dengan hipertensi, hanya saja mekanismenya dalam sistem renin angiotensin belum dapat dijelaskan dengan pasti. Hal ini yang menarik untuk mempelajari mekanisme aksi vitamin D dalam dalam pengaturan tekanan darah di sistem renin angiotensin aldosteron. Rancangan penelitian ini adalah eksperimen laboratorik dengan pre-post test group design, yang di bagi menjadi dua tahap. Tahap pertama untuk mempelajari pengaruh vitamin D terhadap ekspresi COX-2 di sel macula densa ginjal dan tahap kedua untuk mempelajari mekanisme aksi vitamin D dalam pengaturan tekanan darah. Hasil yang di dapat bahwa sasaran aksi vitamin D pada sistem renin angiotensin aldosteron kemungkinan ada di dua bagian, yaitu ada yang di bagian up-stream cAMP dengan menekan ekspresi COX-2 di sel macula densa ginjal dan ada yang di bagian down-stream cAMP, yaitu dengan menekan langsung gen yang menyandi renin. Hal ini didukung dengan data bahwa tidak terjadinya akumulasi cAMP, peningkatan kadar renin dan TDS walaupun hewan coba telah diberi teofilin bersamaan dengan vitamin D.Kata Kunci: hipertensi, vitamin D, renin, cAMP, COX-2 dan tekanan darah sistolik
Fenomena "Pikun" pada Stres Psikologis dan Alzheimers? Mas'ud, Ibnu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 3 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1737.466 KB)

Abstract

Gangguan memori atau hilangnya kemampuan mengingat kembali (pikun) dapat terjadi karena stres. Adapun mekanismenya diduga melalui induksi peningkatan aktivitas hypothalamic-hypophyseal-adrenocortical system dimana kartisol berperan dalam menstimulasi fenomena stress oxidatif di dalam neuronal wilayah hippokampal dan menyebabkan meningkatnya jumlah ROS dan gagalnya fungsi “antioxidant defense system” dalam menanggulanginya. Akhirnya, terjadilah kerusakan dan kematian sel neuron di wilayah hippokampal dan mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk mengingat kembali. Hilangnya memori pada usia lanjut mungkin disebabkan karena kemampuan menanggulangi stres psikologi menurun sehingga lebih mudah terjadi peningkatan aktivitas hypothalamic-hypophyseal-adrenocortical system dengan segala akibatnya pada metabolisme oxidatif sel neuronal di wilayah hippokampal. Hal yang sama dapat terjadi pada “PTSD” (Post Traumatic Stress Disorder). 
Comparison of Antioxidant and Anti-Tyrosinase Activities of Pineapple (Ananas comosus) Core Extract and Luteolin Compound Vrianty, Dela; Qodariah, Rismawati Laila; Widowati, Wahyu; Sinaga, Ade Putra Fratama; Fibrina, Dewi; Fachrial, Edy; Lister, I Nyoman Ehrich
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.679 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.04.2

Abstract

Free radicals and UV exposure can cause aging. Aging prevention needs substances that can prevent molecular oxidation reactions in cells and inhibit the activity of enzymes that trigger aging. Research on pineapple skin and flesh extract (Ananas comosus (L.) Merr.) reported the presence of luteolin compound which functions as antioxidants and antityrosinase. However, in this study, the object used was pineapple core extract (PCE), which has not been widely known for its antioxidant and antityrosinase activity. Therefore, the purpose of this study was to determine the content of phytochemical compounds, antioxidant activity, and inhibitory activity of tyrosinase enzymes by PCE and then compared with the luteolin (LT) compound test results using Fansworth method, DPPH scavenging activity assay and tyrosinase enzyme inhibition assay. Based on the study results, the phytochemical compounds contained in PCE were tannins and triterpenoids.  PCE and LT produced the highest DPPH scavenging activity, which was 64.86% and 59.32% (final concentration 200μg/ml and 6.25μg/ml) and the highest tyrosinase inhibition activity, which was 60.52% and 85.02% (final concentration 100 μg/ml). Antioxidant activity was determined based on IC50 of 87.46µg/mL and 4.17 µg/ml respectively. IC50 tyrosinase enzyme inhibition EBN and LT respectively at 62.27µg/ml and 5.25 µg/ml. Antioxidant activity through DPPH free radical scavenging test and tyrosinase enzyme inhibition activity by PCE was lower than LT.
Irigasi Kolon sebagai Pengganti Kolostomi pada Pembedahan Satu Tahap Penyakit Hirschsprung Inggarwati, Lulik; Triambodo, Bambang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.421 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.02.10

Abstract

ABSTRAKPada pasien dengan penyakit Hirschprung dengan stasis fecal harus di-dekompresi dahulu sebelum dilakukan penanganandefinitive untuk menghindari enterokolitis. Ada dua macam modalitas dekompresi yaitu irigasi kolon dan kolostostomi(stoma). Pembedahan definitive dapat dilakukan dalam satu tahap atau dua tahap dan tidak terdapat perbedaan hasilluaran. Penelitian ini bertujuan membandingkan diameter kolon dan proporsi diameter kolon proksimal dan distal antarairigasi kolon (satu tahap pembedahan) dan kolostomi (dua tahap pembedahan). Uji klinis dilakukan pada 18 pasien yangdibagi  secara  acak  dalam  dua  kelompok  yaitu  irigasi  kolon  (satu  tahap  pembedahan)  dan  kolostomi  (dua  tahappembedahan). Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam diameter kolon antara irigasi kolon (satu tahap pembedahan)dan kolostomi (dua tahap pembedahan). Pembedahan satu tahap atau dua tahap mempunyai luaran yang sama dalam halproporsi diameter kolon. Kata Kunci: Irigasi kolon, kolostomi, prosedur Duhamel
DETEKSI BAKTERI Klebsiella pneumoniaePADA SPUTUM DENGAN METODE IMUNOSITOKIMIA MENGGUNAKAN ANTI OUTER MEMBRANE PROTEIN BERAT MOLEKUL 40 KDA Klebsiella pneumoniaeSEBAGAI ANTIBODI Susilo, Joko; Sartono, Teguh R.; Sumarno, Sumarno
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 1 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.411 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.01.3

Abstract

Klebsiella pneumoniae (K. pneumoniae) is a normal flora in human Gastro Intestinal Tract. This strain of K.pneumoniae are implicated the gram negative bacteria that can cause pneumoniabeside urinary tract infection and nosocomial infection. Until now, to identify this bacteria there are seveval methods had been used included staining and culture, Elisa, histologic and serologic that need a long time. The goal of this research is to detect K. pneumoniae with immunocytochemistry methode using antibody of K.pneumoniae and OMP K.pneumoniae as spesific antigen. The design of this reseach was explorative descriptive. The method content of K.pneumoniae isolation, specific antigen of OMP K.pneumoniae isolation, producing antibody anti OMP K.pneumoniae, and detection this bacteria on sputum with immunocytochemistry methode respectivelly. For diagnostic test sensitivity and specificity. Analysis has been used. The result showed that molecular weight of OMP K.pneumoniae was 40 kDa, antibody of OMP K.pneumoniae couldidentify the OMP K.pneumoniae as antigen and could detect K.pneumoniae on sputum by using Western Blotting and immunocytochemistry. Sensitivity and specificity of this diagnostic testwas 90 %, 95 % consequently. Key words: Klebsiella pneumoniae, Outer Membrane Protein, Immunocytochemistry
EKSPRESI CYTOSOLIC ASPARTATE-SPECIFIC CYSTEINE PROTEASE-3 (CASPASE-3) PADA JARINGAN HATI RATTUS NORVEGICUS (WISTAR) SETELAH PEMBERIAN SUBKRONIK AFLATOKSIN B1 (AFB1) Maritha, Indah Dina; Supranowo, Supranowo; Lyrawati, Diana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1838.995 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.03.4

Abstract

Aflatoksin B1(AFB1) is one of the toxic agents produced by Aspergillus flavus that frequently contaminates foods not properly stored. AFB1 undergoes biotransformation which may result in the production of reactive oxygenspecies (ROS) hazardous to liver cells. Following a cascade of oxidative reaction, ROS will cause the mitochondria torelease cytochrome c which subsequently activates caspase-3, leading to apoptosis. In this present study we evaluated the effect of aflatoxin B1 on the expression of caspase-3 in the liver. AFB1 was administered per oral, at different dosage and length of exposure, subchronically. This study was carried out as a factorial designed experiment with  two factors. The first was dosage factor i.e 0, 10, 15 and 20 µg (0; 0,05; 0,075; 0,1 µg/g BW) and the second was exposure time factor i.e. 12, 16 and 20 weeks. Rattus norvegicus strain Wistar aged approximately eight weeks old and weighed 180-200 g were used as the experimental animals. The expression of  caspase-3 was examined by using immunohistochemistry. The results showed that the expression of caspase-3 increased significantly (p = 0,000) with the escalation of AFB1 in dosage and/or exposure time (p = 0,001). In the interaction between dose and exposure time of AFB1an increase in the expression of caspase-3 was also observed (p = 0,000). Interestingly, these studies also revealed thatin the liver tissues there was a limitation in the expression of caspase-3, where the raising of further AFB1 dosage and length of exposure were not followed by further increase of the caspase-3.
Pengaruh Karakteristik Demografis, Klinis dan Laboratorium pada Neonatus dengan Hiperbilirubinemia Sulistijono, Eko; Gebyarani, Ingga; Udin, M Fahrul; Corebima, Brigitta; K, Siti Lintang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.593 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.1

Abstract

Kejadian ikterus pada bayi aterm di beberapa rumah sakit di Indonesia bervariasi antara 13,7-85%. Jenis ikterus patologis dapat menyebabkan hiperbilirubinemia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh karakter demografi, usia klinis dan laboratorium terhadap bayi hiperbilirubinemia yang dirawat di rumah sakit umum Dr. Saiful Anwar, Malang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif. Data-data diambil dari rekam medis sejak Januari 2010-Oktober 2010. Dari analisis regresi multiple dengan confident interval 95% (CI 95%) dan p<0,05, ada empat faktor signifikan yang mempengaruhi tingkat bilirubin. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah  instrumen persalinan (p=0,006), asfiksia (p=0,013), kadar hemoglobin (p=0,047), dan ASI eksklusif (p=0,049). Asfiksia, persalinan dengan instrumen, ASI eksklusif, dan tingkat hemoglobin merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat bilirubin pada neonatusKata Kunci: Hiperbilirubinemia, jaundice, neonatus