cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Efikasi Kombinasi Rebamipide dengan Lansoprazole pada Proses Penyembuhan T ukak Lambung Tikus yang Dipapar Indometasin Melinda, Mia; Ahmad, Harijono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.145 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.7

Abstract

Gastropati  akibat  penggunaan  NSAID  masih merupakan  permasalahan  kesehatan  di  Indonesia  dengan  standar  terapi lansoprazol  yang  menekan  produksi  asam  di  lambung.  Disisi  lain  pemberian  NSAID  menginduksi  kerusakan  mukosa dengan menghambat faktor defensive  mukosa, sehingga dapat dikelola dengan obat yang menghambat proses inflamasi yaitu  rebamipide.  Studi  dilakukan  untuk  mengidentifikasi  efektifitas  kombinasi  lansoprazol  dan  rebamipid  dibanding penggunaan  tunggal.  Desain  experimental  post  test  only  group  dilakukan  pada  empat  kelompok  perlakuan  yaitu  1) kelompok  kontrol  positif  dengan  induksi  indometasin,  2)  rebamipid,  3)  lansoprazol,  dan  4)  kombinasi.  Pengamatan dilakukan  pada  jam  ke  12,  24,  36  dan  48  jam  untuk  mengetahui  ukuran  dan  derajat  ulkus  (kriteria  Dixon),  jumlah  VEGF  dan MVD dan dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA.  Semua terapi dapat  memperbaiki ulkus dengan efek tercepat  (24 jam)  pada  terapi  lansoprazol  saja  diikuti  terapi  kombinasi.  Secara  histologi  pemberian  terapi  lansoprazol  memberikan gambaran normal pada jam  ke 48. Ekspresi VEGF dan MVD meningkat pada semua kelompok sejak jam  ke 12, dengan jumlah  tertinggi  pada  kelompok  terapi  lansoprazol.  Dapat  disimpulkan  penambahan  rebamipid  tidak  mempercepat proses  kesembuhan  dibandingkan  terapi  tunggal  lansoprazol. Kata  Kunci:  NSAID,  lansoprazole,  rebamipide
Hubungan Keterlambatan Kedatangan Dokter terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Rawat Jalan David, David; Hariyanti, Tita; Lestari, Erika Widayanti
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.365 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.19

Abstract

Kepuasan pasien merupakan tujuan utama pelayanan kesehatan. Salah satu indikator mutu pelayanan di instalasi rawat jalan rumah sakit adalah ketepatan kedatangan dokter sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh kepuasan pasien di instalasi rawat jalan terhadap keterlambatan jam kedatangan dokter sesuai dengan jadwal yang tertera. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner daftar tilik yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan tambahan pertanyaan terbuka untuk saran. Secara keseluruhan pasien yang puas hanya 14% dan cukup puas 60%. Ketidakpuasan tertinggi (>50%) didapatkan pada aspek keterlambatan dokter dan permintaan maaf dari dokter ketika terlambat. Hasil menunjukkan hubungan yang kuat antara kepuasan pasien dengan ketepatan jam kedatangan dokter di instalasi rawat jalan rumah sakit (p<0,001). Beberapa solusi untuk meningkatkan kepuasan pasien adalah dengan meningkatkan kenyamanan ruang tunggu dan melakukan penjadwalan ulang jam praktek dokter.Kata Kunci: Kepuasan pasien, keterlambatan dokter
Identifikasi Ketidaklengkapan Dokumen Rekam Medis Rawat Inap di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Pamungkas, Fantri; Hariyanto, Tuti; U, Endah Woro
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.637 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.2

Abstract

Kelengkapan dokumen rekam medis merupakan hal yang sangat penting karena berpengaruh terhadap proses pelayanan yang dilakukan oleh petugas medis dan mempengaruhi kualitas dari pelayanan suatu rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan dokumen rekam medis rawat inap di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif.  Observasi dilakukan pada tanggal 25 September 2014 sampai dengan 2 Oktober 2014. Data yang diambil adalah dokumen rekam medis yang diserahkan dari unit rawat inap ke sub bagian rekam medis pada tanggal tersebut. Dokumen Medik Keperawatan (DMK) yang digunakan adalah DMK umum yang terdiri dari 12 (duabelas) DMK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prosentase penilaian paling rendah adalah pada DMK 4.1 (lembar rencana pelayanan/CP) yaitu 75,4%, dan yang bertanggung jawab dalam mengisi dokumen tersebut adalah dokter. Dari hasil metode diagram Ishikawa permasalahan yang paling mendasar yang mempengaruhi ketidaklengkapan dokumen rekam medis adalah tingkat kedisiplinan dokter yang kurang.Kata Kunci: Ketidaklengkapan dokumen rekam medis, dokter
Unit Stroke di Rumah Sakit: Arti Penting dan Model Pelayanan Ekayani, Ni Putu; Estiningsih, Agnes Widayu; Irbantoro, Dolly
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.03.7

Abstract

Pentingnya pelayanan rehabilitasi medik dan tingginya kasus stroke mendorong kajian pengembangan unit stroke di rumah sakit. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi arti penting unit stroke dan model pelayanannya di rumah sakit. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif eksploratif untuk menggali pendapat stakeholder internal tentang arti penting dan alur model pelayanan unit stroke. Teknik pengumpulan data dengan wawancara tidak terstruktur pada semua komponen yang terlibat dalam pelaksanaan pelayanan di unit stroke meliputi wakil direktur pelayanan, dokter neurologi, kepala perawat intensive care unit (ICU), perawat mahir stroke, kepala perawat instalasi gawat darurat (IGD), dan dokter rehabilitasi medik RS Baptis Batu. Wawancara dilakukan selama satu minggu dari tanggal 21-25 September 2015 untuk menggali pendapat stakeholder internal mengenai rencana pengembangan unit stroke, alur pelayanannya, sumber daya yang diperlukan, dan hal lain yang terkait dengan pengembangan unit stroke di RS Baptis Batu. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa semua staf yang terkait siap untuk mendukung rencana pengembangan unit stroke di RS Baptis Batu. Unit stroke merupakan unit pelayanan komprehensif pasien stroke yang dilakukan oleh tim multidisipliner serta kombinasi terapi untuk perawatan akut dan rehabilitasi dini. Unit stroke tersebut melayani pasien stroke fase akut. Setelah pasien melewati fase akut maka pasien stroke akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa dan dipersiapkan juga perawatan khusus pasien stroke untuk perencanaan saat pasien pulang (discharge planning). Perlu dilakukan studi kelayakan terkait dengan manajemen, fasilitas, sumber daya manusia (perawat dan tim multidisipliner), serta pembiayaan unit stroke di RS Baptis Batu.Kata Kunci: Alur pelayanan, tim multidisipliner, unit stroke
Adhesion Test of Hemagglutinin-O36 Protein of Salmonella Typhi Malang Isolate at Balb/C Mice Enterocytes Santoso, Sanarto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2296.948 KB)

Abstract

Pada umumnya protein hemagglutinin (HA) bakterial juga memerankan adhesin. Pada penelitian terdahulu diketahui bahwa Salmonella typhi isolat amlang memiliki material afimbrial yang dapat mengagglutinasikan eritrosit atau merupakan protein hemagglutinin (HA), berasal dari OMP (outer membrane protein) dengan berat molekul sekitar 36kDa (HA-O36). Dari hasil penelitian ini, melalui uji adhesi dengan 6 perlakuan  dosis protein HA-O36, tampak bahwa dengan makin meningkatnya dosis makin sedikit bakteri Salmonella typhi yang menempel pada eritrosit mencit Balb/c, dan dari hasil Anova menunjukkan bahwa perlakuan dosis berpengaruh sangat bermakna terhadap indeks adhesi. Terdapat hubungan yang nyata antara perlakuan dosis dengan nilai indeks adhesi, yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi Pearson sebesar -0,830 denganp=0,001. Dengan demikian maka terbukti bahwa protein HA-O36 Salmonella typhi adalah protein adhesin OMP atau sebagai afimbrial adhesin (AFA), dan selanjutnya protein ini diberi nama protein adhesin –O36 atau AdhO36. Selain itu pada penelitian ini dapat diketahui bahwa protein AdhO36 mampu menginduksi semacam membrane ruffling pada sel entrosit, serta diketahui bahwa dari beberapa pengamatan Salmonella typhi juga menunjukkan pola adhesi tipe localized.
Diving Frequency Increase the Risk Barotrauma in Traditional Fisherman-Divers Fatimah, Fatimah; Andarini, Sri; Astari, Asti Melani
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.04.9

Abstract

Barotrauma is a problem caused by differences between air pressures inside the body and in the environment. This condition causes damage to many organs and body tissues. Many factors influence the occurrence of barotrauma. However, the two factors that are not obviously influencing the incidence of barotrauma are the diving frequency and the diving resting time. This study aimed to identify the effect of diving frequency and resting time on barotrauma. This study used an observational analytic design through a case-control approach of 174 respondents. The results show p-value=0.000 and OR=5.48 that indicate an effect of diving frequency on barotrauma. The diving resting time does not influence barotrauma with p-value=0.621. The diving frequency is a factor that affects the incidence of barotrauma.
EFEK EKSTRAK BUAH TOMAT (Licopersicum pyriforme) TERHADAP EKSP KOLAGEN TIPE 1, MMP-1 DAN MMP-3 PADA PENUAAN KULIT Wahyono, Poncojari
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1635.138 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.03.1

Abstract

ABSTRACT Many  theory  and  research  was  trying  to  explain  the  aging  process.  Free  radical  theory  explained  that  allnormal metabolism process in the body can produce free radical.These free radical can destroy the skin cell,and  than  the  skin  will  start  the  aging  process.  The  tomato  extract  has  antioxidant  such  as  lycopene,  β-carotene  and  vitamin  C.  These  antioxidant  will  prevent  the  activity  of  free  radical,  so  that  skin  cell  will  notdamage.  The  aims  of  this  research  were  to  study  effect  of  tomato  extract  juice  in  preventing  skin  aging  onwistar rats. Total of 25 rats were divided into 5 groups, consisted of 5 rats each. Group one was control groupD-0) rats were four months old, and the group two control of group rats were taken care of 4 months old until7  months  old  (D-1),  the  other  group  which  were  under  treatment  classified  into  3  groups.  Group  three  wereed 7 g/kg/day/ body weight of tomato fruit extract, then taken care of 4 months old until 7 months old (D-2),group four were fed 11 g/kg/day/ body weight of tomato extract fruit, then taken care of 4 months old until 7months old (D-3) and group five were fed 15 g/kg/day/ body weigh of tomato fruit extract, then taken care of 4months  old  until  7  months  old  (D-4).
HUBUNGAN PENINGKATAN TEKANAN INTRAVESIKA URINARIA DENGAN PERDARAHAN INTRAPERITONEAL AKIBAT TRAUMA TUMPUL ABDOMEN Soemarko, M.
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 1 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.159 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.01.5

Abstract

The diagnosis of intraperitoneal hemorrhage must bequickly with a high accuracy, before an acute exploratory laparotomy. This study was conducted to find out if intravesical pressure measurement should be as an alternative indicator of diagnostic peritoneal lavage in predicting intraperitoneal hemorrhage that indicating an acute exploratory laparotomy. Using an Explorative, Cross Sectional Design. Results of the exploratory laparotomy were used as  a standard of determining the accuracy of Diagnostic Peritoneal Lavage and intravesical pressure measurement in predicting theindication for the exploratory laparotomy. 18 of 24 patients has positive results of diagnostic peritoneal lavage, but an active intraperitoneal hemorrhage only found in 15 patients, witha positive predictive value 83,33 %, negative predictive value 100%. The results of intravesical pressure measurement in the same patients predicted 17 patients has positive results, with slight a higher positive predictive value (88,24 %), negative predictive value  100%. The conclusion is the measurement of intravesical pressure is an alternative procedure of Diagnostic Peritonel lavage for predicting intraperitoneal hemorrhage. Key words:Blunt Trauma Abdomen; Intravesical Pressure Measurement; Diagnostic Peritoneal Lavage; Exploratory Laparotomy; Intraperitoneal Hemorrhage.
PENGARUH BERBAGAI DOSIS CITRININ TERHADAP KERUSAKAN STRUKTUR HEPATOSIT MENCIT (Mus musculus) PADA TIGA ZONA LOBULUS HEPAR Hastuti, Utami Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1373.747 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.03.6

Abstract

Citrinin is a sort of mycotoxin which caused mycotoxicosis. Citrinin is produced by Penicillium citrinum mold that can contaminate sort of food especially damaged beans.  Citrinin is known as nephrotoxic as well as hepatotoxic mycotoxin and caused hepatocite structure damage. This research was done: 1) to know the effect of citrinin to hepatocite structure damage; 2) to know the effect of citrinin dose difference to the value of the hepatocyte structure damage; 3) to know the effect of citrinin to the value of hepatocyte structure damage on three zones of hepar lobulus. The samples of this research were male mice (Mus musculus) var. BALB-C  at the age of three months. The experiment group of  mice was orally administered with citrinin in three doses, i.e: dose-1: 1 mg/kg BW; dose-2: 1,75 mg/kg BW; dose-3: 2,5 mg/kg BW. Hepatocyte structure damage is observed on centrilobular zone, midzone, and perifer zone. The hepatocyte structure damage examination is done by histopathologycal andultra structural examination by electron microscope.
Suplementasi Ekstrak Bilberry Menurunkan Kadar Malondialdehid Lensa Penderita Katarak Senilis Sulistya, T Budi; Mutamimma, Alfi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.345 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.3

Abstract

Salah satu faktor yang berperan pada katarak senilis adalah stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak bilberry untuk mengurangi kadar malondialdehid lensa katarak senilis. Uji klinis tersamar ganda dilakukan dengan 33 orang pasien katarak senilis. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok secara merata yaitu plasebo, perlakuan 100 mg ekstrak bilberry dan 300 mg ekstrak bilberry. Pengobatan yang diberikan sampai 14 hari sebelum operasi katarak untuk mengevaluasi tingkat malondialdehid. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Tukey. Tingkat rata-rata malondialdehid di kelompok plasebo, ekstrak bilberry 100 mg, dan 300mg adalah 11,82± SD 2,96 nmol/mg, 7,99±SD1,99 nmol/mg, dan 5,22±1,27SD nmol/mg. Efek penurunan malondialdehid dengan pemberian 100 mg dan 300 mg ekstrak bilberry berbeda signifikan (p<0,05). Terdapat korelasi negatif antara ekstrak bilberry dan malondialdehid tergantung dosis (r=-0,760; p<0,001). Diagram menunjukkan bahwa peningkatan dosis ekstrak bilberry akan mengakibatkan penurunan tingkat malondialdehid pada pasien katarak senilis. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak suplemen bilberry dapat mengurangi kadar malondialdehid di lensa pasien katarak senilis dan peningkatan dosis ekstrak bilberry berkorelasi dengan tingkat penurunan malondialdehid pada lensa penderita katarak senilis.Kata Kunci: Ekstrak bilberry, katarak senilis, malondialdehid