cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No.7, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sawerigading
ISSN : 08544220     EISSN : 25278762     DOI : 10.26499/sawer
SAWERIGADING is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in SAWERIGADING have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SAWERIGADING is published by Balai Bahasa Sulawesi Selatan twice times a year, in June and December. SAWERIGADING focuses on publishing research articles and current issues related to language, literature, and the instructor. The main objective of SAWERIGADING is to provide a platform for scholars, academics, lecturers, and researchers to share contemporary thoughts in their fields. The editor has reviewed all published articles. SAWERIGADING accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 348 Documents
Improvement of English for Children with Disabilities SLB through the Management of Wheel of Names Sulistiyani, Sulistiyani; Lestari, Chatarini Septi Ngudi; Fanani, Urip Zaenal
SAWERIGADING Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i2.1607

Abstract

This research aims to improve the English skills of children with special needs by utilizing support from their environment, including seniors and external tutors. The study employs lectures, discussions, brainstorming, question–answer sessions, and demonstrations, supported by the Wheel of Names as an interactive learning medium. This tool encourages fairness and active participation by reducing perceptions of favoritism and providing equal opportunities for all learners. Its flexible functions make it suitable for English teaching, quizzes, and various classroom activities. The use of this media helps strengthen students’ awareness of the importance of English, provides structured training, and fosters consistent communication practices. The problem-solving approach involves using media and conversation modules to enhance teacher competence and support active English learning. Providing conversation modules also contributes to improving learning outcomes and communication skills. The expected outcome is to help children with special needs communicate more fluently in English through vocabulary enrichment and guided practice. AbstrakPenelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris anak berkebutuhan khusus dengan memanfaatkan dukungan lingkungan, termasuk peran senior dan tutor dari luar. Metode yang digunakan meliputi ceramah, diskusi, brainstorming, tanya jawab, dan demonstrasi, yang didukung media interaktif Wheel of Names. Media ini mendorong keadilan dan partisipasi aktif dengan mengurangi persepsi favoritisme serta memberikan kesempatan yang setara bagi semua peserta didik. Fleksibilitas fungsinya menjadikannya efektif untuk pengajaran bahasa Inggris, kuis, dan berbagai aktivitas kelas. Penggunaan media ini membantu memperkuat kesadaran siswa akan pentingnya bahasa Inggris, memberikan pelatihan terstruktur, dan membiasakan praktik komunikasi berkelanjutan. Pendekatan pemecahan masalah melibatkan penggunaan media dan modul percakapan untuk meningkatkan kompetensi guru dan mendukung pembelajaran bahasa Inggris yang aktif. Penyediaan modul percakapan juga berkontribusi pada peningkatan hasil belajar dan keterampilan komunikasi. Luaran yang diharapkan adalah membantu anak berkebutuhan khusus berkomunikasi lebih lancar dalam bahasa Inggris melalui pengayaan kosakata dan latihan terarah.
KLAUSA RELATIF BAHASA GORONTALO: SUATU ANALISIS TRANSFORMASI GENERATIF Sulastriningsih Djumingin
SAWERIGADING Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i1.292

Abstract

This study describes about relative clauses of Gorontalo language. The study methods are: descriptive; oral and writing data. Data collection techniques namely: tap technique, observe technique involves speak technique, note technique, elicitation technique and recording. Results show that: (1) relative phrase structure rule of GL (Gorontalo Language) is the same with relative clause of basic clause of GL; (2) there are four relative clauses of GL, namely restrictive relative clause; nonrestrictive relative clause, noun plus relative clause, and free relative clause; (3) strategy used to form relative clause of GL is postnoun,  emptiness strategy, and strategy pronouns arresting; (4) reaching hierachy relative clause of GL occupies subject position, direct object, indirect object, and oblique; (5) There are two type of relative markers of GL namely ‘u’ and ‘ta’; (6) behaviour of relative markers of GL is always preceeding its clause, operationally, and can  appeared many times; and (7) valid transformation  for relative clause of GL is moving and deletion for the position of direct subject and object.  Abstrak Penelitian ini mendeskripsikan klausa relatif bahasa Gonrontalo. Metode penelitian adalah: deskriptif; data lisan dan tulisan. Teknik pengumpulan data yaitu: teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik catat, teknik elisitasi dan perekaman. Teknik analisis data transformasi generatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kaidah struktur frase relatif BG adalah sama dengan klausa relatif klausa dasar BG; (2) ada empat tipe klausa relatif BG, yaitu klausa relatif restriktif; klausa relatif nonrestriktif, nomina plus klausa relatif, dan klausa relatif bebas; (3) strategi yang digunakan untuk membentuk klausa relatif BG adalah postnominal, strategi kekosongan, dan strategi penahanan pronominal; (4) hierarki keterjangkauan klausa relatif BG menduduki posisi subjek, objek langsung, objek tak langsung, dan oblik; (5) Ada dua tipe pemarkah relatif BG yakni ‘u’ dan ‘ta’; (6) perilaku pemarkah relatif BG adalah letaknya selalu mendahului klausanya, bersifat operasional, dan dapat muncul berulang-ulang; dan (7) transformasi yang berlaku untuk klausa relatif BG adalah pemindahan dan pelesapan untuk posisi subjek dan objek langsung.         Kata kunci:
TRADISI MERANTAU DALAM “LELAKI DAN TANGKAI SAPU” (Tradition of Wandering in “Lelaki dan Tangkai Sapu”) NFN Marlina
SAWERIGADING Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v24i2.497

Abstract

The poem “Lelaki dan Tangkai Sapu” (Man and the Broomstick) by Iyut Fitra is story of a man named Malin, starting from the birth, undergoing childhood and adolescence like the Minangkabau children in general. Reciting Holy Quran and also staying overnight at Surau. In addition, Malin also learned martial arts at the arena and sat in Lapau like other Minangkabau men. This research examined the wandering culture contained in the poem “Lelaki dan Tangkai Sapu” by Iyut Fitra. Wandering is an effort to navigate life through a variety of experiences, breadth science to achieve success. The tradition of wandering for the Minangkabau community still persists until now. How does Iyut Fitra describe men and women in her poems? How is the poet’s view concerning the tradition of wandering in Minangkabau culture? Is the culture of wandering always positive to the Minangkabau people? Through the sociological approach of literature, an overview of this will be obtained; while for analyzing each poem the methodology of desciption is used so that it is revealed that men in the Minangkabau community are destined to wander. However, Iyut Fitra has a different view than other Minangkabau people in general concerning the culture of wandering.AbstrakPuisi “Lelaki dan Tangkai Sapu” karya Iyut Fitra bercerita tentang seorang laki-laki bernama Malin,mulai dari lahir, menjalani masakanak-kanak dan remaja seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya. Iabelajar mengaji di surau sekaligus tidur dan bermalam di surau. Malin juga belajar ilmu bela diri di gelanggang serta duduk di lapau seperti laki-laki Minangkabau lainnya. Penelitian ini mengkaji budaya merantau yang terdapat di dalam puisi “Lelaki dan Tangkai Sapu” karya Iyut Fitra. Merantau merupakan suatu upaya untuk mengarungi kehidupan melalui keragaman pengalaman, keluasan ilmu pengetahuan untuk meraih kesuksesan.Tradisi merantau pada masyarakat Minangkabau masih bertahan hingga saat sekarang.Lalu bagaimanakah Iyut Fitra menggambarkan lelaki dan rantau di dalam puisipuisinya? Bagaimanakah pandangan penyair ini tentang tradisi merantau dalam budaya Minangkabau? Apakah budaya merantau selalu bernilai positif bagi masyarakat Minangkabau? Melalui pendekatan sosiologis sastra akan diperoleh gambaran tentang hal ini; sementara untuk mengkaji masing-masing puisi digunakan metodologi deskripsi analisis sehingga terkuaklah bahwa lelaki di dalam masyarakat Minangkabau memang ditakdirkan untuk merantau. Namun, Iyut Fitra memiliki pandangan yang berbeda dengan masyarakat Minangkabau pada umumnya tentang budaya merantau.
Kesantunan Berbahasa Warganet Indonesia Pada Kolom Komentar Instagram Joko Widodo Usman Usman; Muhammad Chaidir
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1572

Abstract

The digitalization era has brought significant transformations in Indonesian society's political communication patterns, particularly through Instagram platform which has become a public discussion arena between netizens and political leaders. This research aims to describe the realization of Indonesian netizens' language politeness in Joko Widodo's Instagram comment columns, analyze politeness strategies used, and identify factors influencing politeness variations in digital political communication. The research method uses qualitative approach with library research that is descriptive-analytical, with primary data sources from national and international journal articles from 2020-2024 accessed through Google. The data collection process was carried out using purposive sampling techniques. Data analysis employed content analysis with a thematic approach to identify theoretical patterns and empirical findings related to linguistic politeness in digital communication. The results show that netizens' language politeness is manifested through three main strategies: using linguistic markers such as "tolong" (please) and "mohon" (request), indirect speech acts through interrogative sentences, and positive-negative politeness strategies to protect interlocutors' face. Politeness variations are influenced by four complex factors: socio-cultural background, digital literacy level, speakers' psychological condition, and political-policy context. The research concludes that despite the informal nature of digital space, majority of netizens maintain politeness norms when interacting with authority figures, proving that digital political communication can become a constructive democratic participation arena. It is recommended to develop integrated digital literacy framework and AI-based moderation systems to improve the quality of Indonesia's digital political discourse. AbstrakEra digitalisasi telah menghadirkan transformasi signifikan dalam pola komunikasi politik masyarakat Indonesia, khususnya melalui platform Instagram yang menjadi arena diskusi publik antara warganet dan figur pemimpin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realisasi kesantunan berbahasa warganet Indonesia dalam kolom komentar Instagram Joko Widodo, menganalisis strategi kesantunan yang digunakan, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi variasi kesantunan dalam komunikasi politik digital. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka (library research) bersifat deskriptif-analitis, dengan sumber data primer berupa artikel jurnal nasional dan internasional periode 2020-2024 yang diakses melalui Google Scholar. Proses pengumpulan data dilakukan melalui teknik purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan analisis konten (content analysis) dengan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola-pola teoretis dan temuan empiris yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa dalam komunikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa warganet termanifestasi melalui tiga strategi utama: penggunaan penanda linguistik seperti "tolong" dan "mohon", tindak tutur tidak langsung melalui kalimat interogatif, dan strategi kesantunan positif-negatif untuk melindungi wajah mitra tutur. Variasi kesantunan dipengaruhi oleh empat faktor kompleks: latar belakang sosial-budaya, tingkat literasi digital, kondisi psikologis penutur, dan konteks politik-kebijakan. Penelitian menyimpulkan bahwa meskipun ruang digital bersifat informal, mayoritas warganet mempertahankan norma kesopanan dalam berinteraksi dengan figur otoritas, membuktikan bahwa komunikasi politik digital dapat menjadi arena partisipasi demokratis yang konstruktif. Disarankan pengembangan framework literasi digital terintegrasi dan sistem moderasi berbasis AI untuk meningkatkan kualitas diskursus politik digital Indonesia.
FRASA DALAM BAHASA TAE’ (Phrase in Tae’ Language) Asri Nur Hidayah
SAWERIGADING Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v23i2.254

Abstract

This research aims to describe the phrase in Tae’ language. Data obtained from native speakers and oral literature of Tae’. Data gathered by using of recording and noting techniques, and also using an instrument.Data analyzed by using structural analysis through qualitative approach. The results show that there are seven classes of phrases in Tae’ language, namely 1) adjective phrase, 2) noun phrase, 3) verb phrase, 4) pronoun phrase, 5) numeral phrase, 6) preposition phrase, and 7) adverb phrase. Based on the elemental context on the constituents, the phrases are distinguished from endocentric and exocentric phrase. The characteristics of this phrase located to the adjective phrase, verb phrase, preposition phrase, and numeral phrase. The adjective phrase (A + Adv) beccu’ siapi → beccu’ siapi ‘small still’ means ‘still small’ thus its constituent to be Adv (still) + Adj (small). Verb phrase (V + Prep) latumangi + duka “will cry too” changed its constituent to be FV + Prep. Preposition phrase with its constituent (N) bulan ‘month’ + (Prep) lendupa ‘since then’; month since then; since last month (Prep) + (N). The same thing happens to the phrase which is structured Num + Prep, duangallopa + lendu → duangallopa lendu ‘two days ago since; since two days ago in accordance with the constituent of Indonesian language Prep + Num. Phrase occupies the function S, P, O, Pel, K. Its semantic role is the experiencer, conveying a situation, and stating of place.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan frasa dalam bahasa Tae’. Data diperoleh dari penutur asli dan sastra lisan Tae’. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik menyimak dan mencatat, serta menggunakan instrumen. Data dianalisis dengan menggunakan analisis struktural melalui pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh kelas frasa dalam bahasa Tae’, yaitu 1) frasa adjektiva, 2) frasa nomina, 3) frasa verba 4) frasa pronomina, 5) frasa numeralia, 6) frasa preposisi, dan 7) frasa adverbia. Berdasarkan hubungan unsur dalam struktur, frasa dibedakan atas frasa endosentris dan frasa eksosentris. Karakteristik frasa terletak pada frasa adjektiva, frasa verba, frasa preposisi, dan frasa numeralia. Frasa adjektiva (A + Adv) beccuq + siapi →beccuq siapi ‘kecil masih’ bermakna ‘masih kecil’ sehingga strukturnya menjadi Adv (masih) + Adj (kecil). Frasa verba (V +Prep) latumangi + duka ‘mau menangis juga; berubah strukturnya menjadi FV +Prep. Frasa preposisi dengan struktur (N) bulan ‘bulan’ + (Prep) lendupa ‘sejak lalu’; bulan sejak lalu; sejak bulan lalu (Prep) + (N). Hal ini sama dengan frasayang berstruktur Num + Prep, duangallopa + lendu → duangallopa lendu ‘dua hari lalu sejak; sejak dua hari yang lalu’ sesuai dengan struktur bahasa Indonesia Prep + Num. Frasa menduduki fungsi S, P, O, Pel, K. Peran semantisnya adalah pengalam, menyatakan keadaan, dan keterangan tempat.
REPETISI DALAM PANTUN MAKASSAR Ramlah Mappau
SAWERIGADING Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v19i2.436

Abstract

One of Makasserese literary form was pantun. The writer named Pantun-Pantun Makassar. Pantun was written in Makassarese language with its translation. The literary form was necessary to develop and introduce to the society, whereas it was one of national cultural heritage that was still used in certain spaces. The writing applied descriptive qualitative method to describe repetition found in Pantun lyrics using analysis discourse. In collecting data, reading-listening and noting technique was used. Data analysis was done by identification, classification, analysis and descriptive step. Based on result analysis, it was found inter-lyric repetition like word repetition, repetition with form change, pronoun repetition, repetition with negation, and conjuction repetition. Besides that, it was found stanza repetition for many times as stressing of moral messages intended to convey for the reader Abstrak Salah satu bentuk kesusastraan Makassar, Sulawesi Selatan adalah pantun. Penulis buku menyebutnya PantunPantun Makassar. Pantun ini ditulis dalam bahasa Makassar beserta terjemahannya. Bentuk kesusastraan ini patut untuk dikembangkan dan diperkenalkan pada masyarakat luas, mengingat sebagai salah satu kekayaan budayaa nasional yang saat ini masih dimanfaatkan, meskipun dalam ruang-ruang tertentu. Tulisan ini menerapkan metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan repetisi yang terdapat pada bait-bait pantun Makassar dengan menerapkan kajian wacana. Dalam pengumpulan data, diterapkan teknik baca-simak dan pencatatan.. Penganalisisan data dilakukan dengan tahap identifikasi, klasifikasi, analisis, dan deskripsi. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan repetisi antarlarik, berupa perulangan kata, perulangan dengan perubahan bentuk, perulangan pronomina, perulangan dengan penginkaran, dan perulangan konjungsi. Selain itu, ditemukan pula perulangan seluruh bait hingga beberapa kali sebagai penekanan pesan-pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca.
PEMETAAN BAHASA DI KABUPATEN YAHUKIMO (Language Mapping in Yahukimo District) Ganjar Harimansyah; Tengku Syarfina; Satwiko Budiono
SAWERIGADING Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v29i1.1190

Abstract

In 2022, the Indonesian House of Representatives of the Republic of Indonesia has approved the formation of three new provinces in Papua. The new provinces are South Papua Province, Central Papua Province, and Papua Mountains Province. The expansion has encouraged the acceleration of development in Papua. One of the regencies that has a low level of accessibility is Yahukimo Regency. This is because there are only two choices of transportation to get there, such as air transportation or water transportation through the rivers. In this regard, the effort to language documentation in Yahukimo Regency is important. Language documentation effort in this study by mapping language based on a dialectological approach. This language mapping in Yahukimo Regency aims to identify the linguistic situation and conditions that existed there before the impact of regional expansion. This can be said as a language preservation effort. The research data is taken from language data that has been collected by the National Agency for Language Development and Cultivation under authority of the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology from 1992 to 2019. Language mapping uses a dialectological approach that includes dialectometric calculations and language maps. As a result, there are 25 languages in Yahukimo Regency that have been mapped to date. However, the low level of accessibility means that not all areas in Yahukimo Regency can be identified and mapped. Further research opportunities are still wide open to identify languages in Yahukimo Regency.  AbstrakKabupaten Yahukimo merupakan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan—salah satu provinsi baru di Papua—yang memiliki aksesibilitas rendah. Karakteristik wilayah Yahukimo yang masih tertutup memiliki dampak keterlindungan penggunaan bahasanya dari pengaruh luar. Data pemetaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2019) belum menggunakan penggolongan provinsi terbaru dengan adanya penambahan tiga provinsi baru  (Provinsi Papua Pegunungan, Provinsi Papua Tengah, dan Provinsi Papua Selatan). Upaya mendokumentasikan bahasa seperti yang ada di Kabupaten Yahukimo ini menjadi penting. Pendokumentasian bahasa dalam penelitian ini dilakukan dengan pemetaan bahasa berdasarkan pendekatan dialektologi. Pemetaan bahasa di Kabupaten Yahukimo bertujuan mengidentifikasi situasi dan kondisi kebahasaan yang ada di sana sebelum adanya dampak pemekaran wilayah. Hal ini dapat dikatakan sebagai upaya pelindungan bahasa. Data penelitian diambil dari data bahasa yang telah dikumpulkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak tahun 1992 hingga 2019. Pemetaan bahasa menggunakan pendekatan dialektologi yang memuat penghitungan dialektometri dan peta bahasa. Hasilnya, ada 25 bahasa di Kabupaten Yahukimo yang terpetakan hingga saat ini. Peluang penelitian lanjutan masih terbuka lebar untuk mengidentifikasi bahasa-bahasa di Kabupaten Yahukimo.
THE EXISTENCE OF THE SUWAWA LANGUAGE IN THE ENORMITY OF MODERNIZATION AND MULTICULTURALISM (Eksistensi Bahasa Suwawa dalam Dahsyatnya Terjangan Modernisasi dan Multikulturalisme) Fatmah AR. Umar
SAWERIGADING Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v27i2.935

Abstract

The Suwawa language (Bonda) is a tiyombu (ancestor) language. However, due to the development of science and technology, the existence of this language began to be recessive and marginalized. This paper aims to describe (1) the existence of the Suwawa people in the view of modernization and multiculturalism, (2) the type of modernization and multiculturalism adopted by the Suwawa people, (3) factors that cause changes in the existence of the use of the Suwawa language, (4) the impact of modernization and multiculturalism on the existence of the use of the Suwawa language, and (5) efforts to maintain the existence of the Suwawa language in the enormity of modernization and multiculturalism. The method employed is qualitative-descriptive with data collection instruments through observing/recording, participative conversation, and taking notes.  The results indicate several points. First, in the view of modernization and multiculturalism, the Suwawa people have been exposed to: (i) modernization, (ii) modernity, and (iii) multiculturalism with specific characteristics. Second, the type of multiculturalism and modernization adopted by the Suwawa people is (i) isolationist, (ii) accommodative, (iii) autonomous, (iv) critical/interactive, and (v) cosmopolitan. Third, factors that cause changes in the existence of the use of the Suwawa language are (i) language power, (2) language attractiveness, and (3) language pressure. Fourth, the impact of modernization and multiculturalism on the existence of the Suwawa language are (i) positive impact dan (ii) negative impact. Fifth, efforts to maintain the Suwawa language's existence in the enormity of modernization and multiculturalism are pursued through empowering (1) families, (2) educators, (3) community organizations, (4) professional organizations, (5) traditional stakeholders, (7) religious leaders, (8) mass media managers, and (9) the government.
TRANSFORMASI NOVEL SABTU BERSAMA BAPAK KARYA ADHITYA MULYA KE DALAM SERIAL FILM : KAJIAN EKRANISASI Wachyudin, Wachyudin; Rahmatillah, Yulia; Malik, Miftahul
SAWERIGADING Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i2.1379

Abstract

AbstrakTransformasi karya sastra dari novel menjadi serial merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan karya sastra dalam berbagai bentuk. Penelitian ini akan menganalisis transformasi karya sastra novel menjadi serial film melalui kajian ekranisasi. Kajian ekranisasi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak pergeseran media ini terhadap interpretasi dan penerimaan khalayak terhadap cerita yang sebelumnya hanya terdapat dalam bentuk tulisan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ekranisasi dari novel ke serial film memengaruhi karakter, alur, dan latar novel dan serial Sabtu Bersama Bapak. Analisis ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Eneste yang mencakup tiga perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan penyusutan, penambahan, dan variasi. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak katat yang kemudian diklasifikasikan dan dianalisis untuk kemudian diambil kesimpulan terhadap hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi proses penyusutan karakter sebanyak 4 tokoh, 29 alur, dan 2 penyusutan latar. Proses penambahan tersebut menghasilkan 14 tokoh, 55 alur/peristiwa. Sedangkan proses perubahannya bervariasi sehingga menghasilkan 2 tokoh, 13 alur, di 6 tempat dan 4 perubahan yang bervariasi dalam latar waktu. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekranisasi ke dalam bentuk film seri dapat memberikan dimensi baru pada cerita, memperkaya karakter dan alur cerita.Kata Kunci : Transformasi Sastra, Kajian Ekranisasi, Novel, Film Seri AbstrakTransformasi karya sastra dari bentuk novel ke seri menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan karya sastra dalam bentuk yang berbeda. Penelitian ini akan menganalisis transformasi karya sastra novel ke dalam film serial melalui kajian ekranisasi. Kajian ekranisasi ini bertujuan untuk mendalami dampak pergeseran media ini terhadap interpretasi dan penerimaan penonton terhadap cerita-cerita yang sebelumnya hanya ditemui dalam bentuk tertulis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ekranisasi dari novel ke film serial mempengaruhi tokoh, alur, dan latar dari Novel dan Serial Sabtu Bersama Bapak. Analisis ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Eneste yang mencakup tiga perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa pensil, penambahan dan perubahan yang bervariasi. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak katat yang kemudian diklasifikasi dan dianalisis untuk kemudian ditarik kesimpulan atas hasil analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, telah terjadi proses penciutan tokoh sebanyak 4 tokoh, 29 alur, dan 2 penciutan pada latar tempat. Untuk proses penambahan 14 orang, 55 alur/peristiwa. Sedangkan proses perubahan bervariasi menghasilkan 2 karakter, 13 alur, pada 6 latar tempat dan 4 perubahan bervariasi pada latar waktu. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekranisasi ke dalam bentuk film serial dapat memberikan dimensi baru pada cerita, memperkaya karakter, dan membangun dunia cerita secara visual.Kata kunci : Transformasi Sastra, Kajian Ekranisasi, Novel, Film Serial
GAYA BAHASA DALAM SASTRA LISAN WOLIO (Figurative Language in Oral Literary of Wolio) Herianah Nadifa
SAWERIGADING Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v23i1.189

Abstract

Bahasa tidak dapat dilepaskan dari karya sastra mengingat bahasa merupakan media karya sastra. Keindahan sebuah karya sastra sebagian besar disebabkan oleh kemampuan penulis mengeksploitasi kelenturan bahasanya sehingga menimbulkan  kekuatan bahasa dan keindahannya. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui bahgaimana penggunaan gaya bahasa khususnya dalam sastra lisan Wolio yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif dengan  teknik inventarisasi, baca-simak,  dan pencatatan. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa dalam sastra lisan Wolio ditemukan beberapa penggunaan gaya bahasa yaitu gaya bahasa hiperbola, metafora, paralelisme, repetisi, klimaks, anabasis, dan antitesis. AbstractLanguage cannot be separated with literary work regarding its role as the media of literary work. The beautyof a literary work mostly is caused by the author’s ability to exploit his language flexibility then it drives thepower and the beauty of language. This research aims to find out the use of figurative language, especially inoral literatures of Wolio, found in South East Sulawesi Province. This research is a descriptive qualitative byusing inventory, reading-listening, and noting techniques of collecting data. The result of research shows thatin oral literatures of Wolio, thre’re found some figurative languages, such as hyperbol, metaphor, parallelism,repetition, climax, anabasic, and antithesis.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025 Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025 Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024 Vol 30, No 1 (2024): Sawerigading, Edisi Juni 2024 Vol 29, No 2 (2023): Sawerigading, Edisi Desember 2023 Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023 Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022 Vol 28, No 1 (2022): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2022 Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021 Vol 27, No 1 (2021): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2021 Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020 Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020 Vol 25, No 2 (2019): Sawerigading, Edisi Desember 2019 Vol 25, No 1 (2019): Sawerigading, Edisi Juni 2019 Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018 Vol 24, No 1 (2018): Sawerigading, Edisi Juni 2018 Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017 Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017 Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading Vol 20, No 3 (2014): Sawerigading Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading Vol 20, No 1 (2014): Sawerigading Vol 19, No 3 (2013): SAWERIGADING, Edisi Desember 2013 Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013 Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013 Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012 Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012 Vol 18, No 1 (2012): Sawerigading, Edisi April 2012 Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011 Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011 Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011 Vol 16, No 3 (2010): Sawerigading, Edisi Desember 2010 Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010 Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010 Vol 15, No 3 (2009): Sawerigading Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading More Issue