cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 159 Documents
Pengetahuan Lokal Masyarakat Sunda dalam Khazanah Leksikon Tentang Kawung Dini Gilang Sari; Ni Gusti Ayu Roselani; Mahmud Fasya
Aksara Vol 37, No 1 (2025): AKSARA, EDISI JUNI 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i1.4244.28-40

Abstract

There is an interdependent relationship between humans and nature. This relationship forms local knowledge in human life. This research focuses on the local knowledge of Sundanese people in the lexicon of kawung in Kuta Village, Ciamis Regency, West Java. This research uses an anthropological linguistic theoretical approach. The results of this study show two things. First, the lexicon treasure of kawung is classified into the following four categories: (1) tangkal kawung, (2) legen or lahang processing tools, (3) legen or lahang processing, and (4) legen or lahang processing products. Second, the lexicon of kawung includes the following functions: (1) self-identity, (2) local knowledge system, (3) environment, and (4) social. Based on these two findings, the lexicon about kawung portrays the utilization of kawung as a food plant in the indigenous community of Kampung Kuta. Thus, this shows the existence of local knowledge about ethnobotany in the indigenous people of Kampung Kuta, which is relevant to sustainable development goals. AbstrakAda relasi interdependensi antara manusia dan alam. Relasi tersebut membentuk pengetahuan lokal dalam kehidupan manusia. Penelitian ini berfokus pada pengetahuan lokal masyarakat Sunda dalam khazanah leksikon tentang kawung di Kampung Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan teoretis linguistik antropologis. Hasil penelitian ini menunjukkan dua hal. Pertama, khazanah leksikon tentang kawung diklasifikasikan menjadi empat kategori berikut: (1) tangkal kawung, (2) alat pengolahan legen atau lahang, (3) proses pengolahan legen atau lahang, dan (4) produk pengolahan legen atau lahang. Kedua, khazanah leksikon tentang kawung meliputi fungsi berikut: (1) identitas diri, (2) sistem pengetahuan lokal, (3) lingkungan, dan (4) sosial. Berdasarkan dua temuan tersebut, khazanah leksikon tentang kawung memotret pemanfaatan kawung sebagai tanaman pangan dalam masyarakat adat Kampung Kuta. Dengan demikian, hal ini menunjukkan adanya pengetahuan lokal tentang etnobotani dalam masyarakat adat Kampung Kuta yang relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.
The Role of Critical Thinking in The Preparation of High-Level Indonesian Questions by Pre-Service Teachers Sri Wahyuni; Frida Siswiyanti; Itznaniyah Umie Murniatie; Prayitno Tri Laksano; Lilik Wahyuni; Ifit Novita Sari
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4888.454-463

Abstract

This study aims to (1) describe the role of pre-service teachers’ critical thinking skills in their ability to formulate higher-order Indonesian language questions, and (2) identify which aspects of critical thinking have the most significant influence on this ability. A quantitative correlational approach was employed, with data collected from 71 pre-service teachers through a critical thinking skills test and an analysis of the higher-order questions they created. The data were analyzed using correlation tests, one-way ANOVA, and Post Hoc LSD analysis to examine relationships and differences in performance based on levels of critical thinking. The findings show a significant positive relationship between critical thinking and the ability to design analytical, evaluative, and creative questions. Pre-service teachers with higher levels of critical thinking demonstrated better performance in constructing cognitively complex questions. The ANOVA results (F = 55.632; p < 0.05) confirmed significant differences among the low-, medium-, and high-critical-thinking groups. These findings affirm that critical thinking is a key foundation for developing higher-order questioning skills. Therefore, teacher education programs should integrate inquiry-based learning, metacognitive reflection, and technology-based supports such as AI-assisted scaffolding to strengthen pre-service teachers’ critical and reflective thinking abilities. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan peran keterampilan berpikir kritis guru prajabatan dalam kemampuan mereka menyusun pertanyaan Bahasa Indonesia tingkat tinggi, serta (2) mengidentifikasi aspek berpikir kritis yang paling berpengaruh terhadap kemampuan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulkan dari 71 guru prajabatan melalui tes berpikir kritis dan analisis terhadap pertanyaan tingkat tinggi yang mereka buat. Data dianalisis menggunakan uji korelasi, ANOVA satu arah, dan uji Post Hoc LSD untuk melihat hubungan dan perbedaan kemampuan berdasarkan tingkat berpikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara keterampilan berpikir kritis dan kemampuan menyusun pertanyaan analitis, evaluatif, serta kreatif. Guru prajabatan dengan kemampuan berpikir kritis tinggi menunjukkan hasil yang lebih baik dalam menyusun pertanyaan kompleks secara kognitif. Hasil ANOVA (F = 55,632; p < 0,05) juga menegaskan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok berpikir kritis rendah, sedang, dan tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa berpikir kritis merupakan dasar penting dalam mengembangkan kemampuan bertanya tingkat tinggi. Oleh karena itu, program pendidikan guru perlu mengintegrasikan pembelajaran berbasis inkuiri, refleksi metakognitif, serta dukungan teknologi seperti AI-assisted scaffolding untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan reflektif calon guru.
Cerpen Tiga Paragraf sebagai Strategi Pentigrafis Katolik dalam Mewartakan Injil Saat Pandemi Covid 19 Ardi Wina Saputra; Agustinus Indradi; Blasius Perang
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.1240.17--27

Abstract

The problem of this research is to look at the Indonesian Catholic pentigraphic strategy in proclaiming the gospel through a three-paragraph short story. The purpose of this study is to analyze the pentigraphic strategy of Indonesian Catholics in evangelizing during the Covid-19 pandemic. This research method is qualitative research. The data sources in this study were five Catholic pentigraphers with various backgrounds, and pentigraph works from the five informants. Data were analyzed by social practice analysis from Pierre Bourdieu and text analysis. This research produced findings in the form of Catholic pentigraphical forms in preaching the gospel during a pandemic and Catholic pentigraphical forms. The main strategic manifestations of Catholic pentigraphers are (1) having the habit of reading and writing, (2) having an important role in the church and society, and (3) conveying the message of the Bible implicitly through fictional prose. The pentigraph forms made by Catholic pentigraphers have special meanings, namely (a) responding to social reality, (b) having the message of the Bible, and (c) conveying the meaning of the Bible implicitly. AbstrakMasalah penelitian ini adalah melihat strategi pentigrafis Katolik Indonesia dalam mewartakan injil melalui cerpen tiga paragraf. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk menganalisis strategi pentigrafis Katolik Indonesia dalam mewartakan injil saat pandemi Covid-19. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini, yaitu lima pentigrafis Katolik dengan beragam latar belakang dan karya pentigraf dari kelima narasumber tersebut. Data dianalisis dengan analisis praktik sosial dari Pierre Bourdieu dan analisis teks. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa wujud strategi pentigrafis Katolik dalam mewartakan injil saat pandemi dan bentuk pentigrafis Katolik. Wujud strategi utama yang dimiliki oleh pentigrafis Katolik, yaitu (1) memiliki kebiasaan membaca dan menulis, (2) memiliki peran penting dalam lingkungan gereja dan masyarakat, serta (3) menyampaikan pesan Injil secara tersirat melalui prosa fiksi. Bentuk pentigraf yang dibuat oleh pentigrafis Katolik memiliki makna khusus, yaitu (a) merespons realitas sosial, (b) memiliki pesan Injil, dan (c) menyampaikan makna Injil secara tersirat.
Transformasi Dramaturgis Indang Piaman dalam Pertunjukan Teater “Anggun Nan Tongga” Karya Wisran Hadi Sahrul N; Yusril Yusril; Afrizal H
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4170.68--82

Abstract

Kaba "Anggun Nan Tongga" is a Minangkabau folktale, precisely in the Pariaman area. This Kaba tells a story of power struggle and a very complex love affair, then transformed by Wisran Hadi (director and leader of the Bumi Teater group) into a modern theater form. Wisran Hadi interpreted the Kaba "Anggun Nan Tongga" differently, so it can be said that this work is a counter kaba to the traditional kaba. For Wisran Hadi, kaba is not a holy book that cannot be changed. The majority of Wisran Hadi's works rely on kaba as inspiration for the creation of his plays and theater performances, so they are different from the original form. The interesting thing in the theater work "Anggun Nan Tongga" lies in the pattern of three lines on the left, right and back. This pattern is basically based on one of the traditional Minangkabau art forms in Pariaman, called Indang Piaman. This Indang Piaman pattern is then used as an attractive performance spectacle element in motion, as well as dendang (singing) combined with modern western theater dramaturgy. This research method relies on a qualitative method that prioritizes interviews and literature studies. Meanwhile, to answer the research problem, the dramaturgical approach developed by Mary Luckhurst is used. Through this dramaturgy, the theater can be analyzed to see the extent to which the dramatic potential of Indang Piaman is able to make a significant contribution to the spectacle of the theater work "Anggun Nan Tongga" by Wisran Hadi. This research is expected to find various aspects that shape the creation of Indang Piaman's dramatic potential in the theater work "Anggun Nan Tongga". AbstrakKaba “Anggun Nan Tongga” merupakan cerita rakyat Minangkabau, tepatnya di daerah Pariaman. Kaba ini mengisahkan tentang perebutan kekuasaan dan hubungan percintaan yang sangat kompleks, kemudian ditransformasi oleh Wisran Hadi (sutradara dan pimpinan kelompok Bumi Teater) ke dalam bentuk teater modern. Wisran Hadi melakukan penafsiran yang berbeda terhadap Kaba “Anggun Nan Tongga” tersebut, sehingga bisa dikatakan karya ini merupakan kontra kaba terhadap kaba tradisi. Bagi Wisran Hadi, kaba bukan kitab suci yang tidak boleh diubah. Mayoritas karya Wisran Hadi bertolak pada kaba sebagai inspirasi penciptaan naskah drama maupun pertunjukan teaternya sehingga memiliki perbedaan dengan bentuk aslinya. Hal yang menarik di dalam karya teater “Anggun Nan Tongga” terletak pada pola tiga garis yang berada di sebelah kiri, kanan, dan belakang. Pola seperti ini pada dasarnya bertolak pada salah satu bentuk kesenian tradisi Minangkabau di Pariaman, yang disebut dengan istilah Indang Piaman. Pola Indang Piaman ini, kemudian dijadikan sebagai elemen spektakel pertunjukan yang atraktif secara gerak, maupun dendang (nyanyian) yang dipadukan dengan dramaturgi teater modern barat. Metode penelitian ini bertolak pada metode kualitatif yang mengutamakan pada aspek wawancara dan studi literatur. Sementara, untuk menjawab permasalahan penelitian, digunakan pendekatan dramaturgi yang dikembangkan oleh Mary Luckhurst. Melalui dramaturgi ini, teater mampu dianalisis untuk melihat sejauh mana potensi dramatik Indang Piaman mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap spektakel karya teater “Anggun Nan Tongga” karya Wisran Hadi. Penelitian ini diharapkan mampu menemukan berbagai aspek yang membentuk terciptanya potensi dramatik Indang Piaman pada karya teater “Anggun Nan Tongga”. 
ORIENTALISME DALAM "HUJAN PERTAMA DARI KAMPUNG KAFIR" KARYA SILVESTER PETARA HURIT Innosentus Soni Koten
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4265.283-296

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah upaya pembacaan kritis atas cerpen “Hujan Pertama dari Kampung Kafir” dengan menggunakan perspektif orientalisme Edward Said. Cerpen ini ditulis oleh Silvester Petara Hurit dan diterbitkan pada koran Jawa Pos pada 25 Oktober 2020. Tujuannya adalah untuk menemukan gagasan orientalisme dalam cerpen. Metode yang digunakan adalah kualitatif-interpretatif melalui dua tahap kajian. Tahap pertama adalah membaca dengan cermat teks cerpen ‘Hujan Pertama dari Kampung Kafir”. Pada tahap kedua, wacana orientalisme disintesiskan dengan teks cerita pendek. Seluruh pembacaan cerpen ini dikaitkan dengan konteks sejarah kolonialisme dan akibat yang ditinggalkan di Flores Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini menampilkan adanya dominasi kekuasaan kolonial (politis, intelektual kultural dan moral) serta hegemoni identitas agama penjajah di hadapan agama tradisional di Flores Timur
Pengaruh Literasi Emosi terhadap Keterampilan Menulis Cerita Anak Pada Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar S. Nailul Muna Aljamaliah; Sumiyadi Sumiyadi; Yulianeta Yulianeta; Halimah Halimah
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4907.340-351

Abstract

This study aims to analyse the difficulties students face in developing quality children's story writing skills, particularly in relation to emotional literacy and content suitability for children's psychological development. Writing children's stories requires writers to not only master narrative techniques but also the ability to manage and reflect emotions effectively so that their writing can touch and be relevant to children. The main objective of this study is to identify the difficulties experienced by students majoring in Primary School Teacher Education (PGSD) in writing children's stories in this context and to analyse the role of emotional literacy in improving the quality of their writing. This study uses a qualitative approach involving three classes of fourth-year students as samples. Data collection was conducted through surveys, interviews, and observations of the writing process. The results of the study show that students face challenges in two main aspects: first, difficulty in choosing ideas and themes that are appropriate for children's cognitive and emotional development stages; second, challenges in integrating story elements (characters, plot, theme) into a cohesive whole. These findings consistently underline the importance of emotional literacy as a determining variable that helps students choose themes and compose stories with the appropriate emotional depth. Therefore, this study recommends the need for a holistic curriculum integration, including comprehensive training in emotional literacy and an in-depth understanding of child development psychology to improve the quality of their writing. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan menulis cerita anak yang berkualitas, khususnya terkait dengan literasi emosi dan kesesuaian konten terhadap perkembangan psikologis anak-anak. Menulis cerita anak menuntut penulis untuk tidak hanya menguasai teknik narasi, tetapi juga kemampuan untuk mengelola dan merefleksikan emosi secara efektif agar tulisan dapat menyentuh dan relevan bagi anak-anak. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi kesulitan menulis cerita anak yang dialami mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dalam konteks tersebut dan menganalisis peran literasi emosi dalam meningkatkan kualitas penulisan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan tiga kelas mahasiswa tingkat empat sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui survei, wawancara, dan observasi terhadap proses penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menghadapi tantangan dalam dua aspek utama: pertama, kesulitan dalam memilih ide dan tema yang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif dan emosional anak; kedua, tantangan dalam mengintegrasikan elemen cerita (karakter, alur, tema) menjadi satu kesatuan yang kohesif. Temuan ini secara konsisten menggarisbawahi pentingnya literasi emosi sebagai variabel penentu yang membantu mahasiswa memilih tema dan menyusun cerita dengan kedalaman emosional yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan perlunya integrasi kurikulum yang holistik, mencakup pelatihan komprehensif literasi emosi dan pemahaman mendalam mengenai psikologi perkembangan anak untuk meningkatkan kualitas tulisannya.
How to Use Kinship Greetings in Everyday Life in Minangkabau and It`S Implementation in Scriptwriting Maryelliwati Maryelliwati; Efrinon Efrinon; Wahida Wahyuni; Ninon Syofia
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.1232.244-253

Abstract

This research problem is to reveal and describe how the people in Nagari Mungka use the patterns of kinship greeting forms in the Minangkabau language as a case example. Mungka is one of the areas that, until now, still uses the values of the Minangkabau language and culture well, so it is necessary to see how they use the greeting language in their daily kinship. Data were collected using questionnaires, interviews, cross-checks, data collection, and recording. In addition, free and unbound listening techniques were also used to collect data using the form of kinship greetings in a conversation. The analysis method was using sorting and classifying the data based on the type or category of kinship greeting forms through the kinship system in Minangkabau. The analysis results show the characteristics of Minangkabau culture in using patterns of kinship greeting forms such as pronouns, titles, kinship greetings, and kinship greetings added with pronouns and adjectives. Based on the findings, if a scriptwriter wants to write a traditional script in kinship greetings, it can refer to the use of kinship in Minangkabau. AbstrakMasalah penelitian ini adalah mengungkap dan mendeskripsikan bagaimana masyarakat di Nagari Mungka menggunakan pola-pola sapaan kekerabatan dalam bahasa Minangkabau sebagai contoh kasus. Mungka merupakan salah satu daerah yang sampai saat ini masih menggunakan nilai-nilai bahasa dan budaya Minangkabau dengan baik, sehingga perlu dilihat bagaimana mereka menggunakan bahasa sapaan tersebut dalam pergaulan sehari-hari. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket, wawancara, cek silang, pengumpulan data, dan pencatatan. Selain itu, teknik menyimak bebas dan tidak terikat juga digunakan untuk mengumpulkan data berupa sapaan kekeluargaan dalam percakapan. Metode analisis menggunakan pemilahan dan pengklasifikasian data berdasarkan jenis atau kategori bentuk sapaan kekerabatan melalui sistem kekerabatan di Minangkabau. Hasil analisis menunjukkan ciri-ciri budaya Minangkabau dalam menggunakan pola bentuk sapaan kekerabatan seperti kata ganti, gelar, sapaan kekerabatan, dan sapaan kekerabatan ditambah dengan kata ganti dan kata sifat. Berdasarkan temuan tersebut, jika seorang penulis naskah ingin menulis naskah adat dalam sapaan kekerabatan, dapat merujuk pada penggunaan kekerabatan di Minangkabau.
Rekonseptualisasi Istilah Desa Kala Patra sebagai Konteks Situasi dan Konteks Tradisi Untuk Mengikat Intensionalitas Meminta Sesuatu dalam Bahasa Bali I Made Netra
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.1182.286--297

Abstract

Language and culture have a reciprocal relationship. Any language in the world adheres to the proposition that language can influence culture and culture can influence language. Therefore, this paper aims to reconceptualize the term of desa kala patra, so that it can function as a context of situation and context of tradition with and without adjustments to bind the intentionality of requesting in Bali language. This research is field research using a qualitative approach. Data was obtained using the participatory observation method using note-taking techniques. Linguistic data in the form of the dictum meaning "I want you to do something" from the realm of family, customs and religion in Bali is taken into account. Besides, further information regarding the context of tradition was obtained from questionnaires and indepth interviews. Questionnaires were distributed to 80 respondents spread across Gianyar Regency. Then the results were cross-referenced to key informants. The results of the research show that the term desa kala patra was reconceptualized comprehensively, such as desa is place, kala is time, and patra is participant. The term desa kala patra functions as a context of situation that can bind intentionality based on the place of utterance at a certain time and certain participants, such as requesting by asking, providing certainty with tag questions, providing information, offering, greeting, and inviting. When the term desa kala patra is accompanied by adjustments to the mode of utterance, then desa kala patra can function as context of tradition that can bind intentionality. The Balinese tradition that can bind the intentionality of requesting in Balinese is the tradition of manut ring sesana lan swadharma which binds the intentionality of requesting through giving advice, providing alternative points, and complaining and sarcasm.AbstrakBahasa dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Bahasa apapun di dunia menganut dalil bahwa bahasa dapat memengaruhi budaya dan budaya dapat memengaruhi bahasa. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengonseptualisasi ulang istilah desa kala patra sehingga dapat berfungsi sebagai konteks situasi dan konteks tradisi dengan dan tanpa penyesuaian untuk mengikat intensionalitas meminta sesuatu dalam bahasa Bali. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dengan metode observasi partisipatif dengan teknik catat. Data linguistik berupa diktum makna “Aku ingin kamu melakukan sesuatu” dari ranah keluarga, adat istiadat, dan agama di Bali dipertimbangkan. Disamping itu, informasi lanjutan terkait konteks tradisi diperoleh dari kuesioner dan wawancara mendalam. Kuesioner disebarkan kepada 80 orang responden yang tersebar di Kabupaten Gianyar. Kemudian hasilnya dirujuk silang kepada informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah desa kala patra direkonseptualisasikan dengan komprehensif, seperti desa berarti tempat, kala berarti waktu, dan patra berarti partisipan. Istilah desa kala patra difungsikan sebagai konteks situasi yang dapat mengikat intensionalitas berdasarkan tempat tuturan dituturkan pada waktu tertentu dan partisipan tertentu, seperti meminta sesuatu melalui bertanya, memberikan kepastian dengan pertanyaan tag, memberi informasi, penawaran, salam, dan mengundang. Ketika istilah desa kala patra disertai dengan penyesuaian modus tuturannya, desa kala patra dapat berfungsi sebagai konteks tradisi yang dapat mengikat intensionalitas.  Tradisi masyarakat Bali yang dapat mengikat intensionalitas meminta sesuatu dalam bahasa Bali adalah tradisi manut ring sesana lan swadharma, tradisi aje were, dan tradisi nawan karang yang mengikat intensionalitas meminta melalui memberikan nasihat, memberikan poin alternatif, dan mengadu dan menyindir.
KAJIAN PRONOMINA PERSONA DALAM CERPEN KESETIAAN ITU DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP/ANALYTIS OF PERSONAL PRONOUNS IN KESETIAAN ITU SHORT STORY AND ITS IMPLICATIONS FOR LEARNING INDONESIAN LANGUAGE AT JUNIOR HIGH SCHOOL Asep Muhyidin
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.483.299-311

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan pronomina persona dalam cerpen Kesetiaan Itu  karya Hamsad Rangkuti. Data penelitian berupa satuan lingual berupa kalimat-kalimat yang mengandung pronomina persona. Sumber data dalam penelitian ini berupa sumber data tertulis berupa paragraf-paragraf yang terdapat pada cerpen. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah metode dokumentasi dan metode catat. Penelitian ini menggunakan validitas semantik yaitu data mengenai pemarkah pronomina persona sebagai sarana kohesi hubungan antarkalimat dalam wacana cerpen dapat dimaknai sesuai dengan konteksnya. Instrumen penelitian berupa kartu data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 173 pronomina persona pertama, 65 pronomina persona kedua, dan 192 pronomina persona ketiga. Semua pronomina persona yang ditemukan bersifat takrif. Pronomina persona yang paling banyak ditemukan berwujud aku, -mu dan -nya. Hasil penelitian dapat diimplikasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP karena teks cerpen merupakan medium pembelajaran sastra. Siswa diharapkan dapat memahami penggunaan pronomina persona dalam teks cerpen. Karakter tokoh dalam cerpen tersebut dapat diteladani siswa dalam menjalani kehidupan nyata di masyarakat.  Untuk itu, guru harus mampu membuat skenario pembelajaran di kelas.Kata kunci: pronomina persona, cerpen, pembelajaran bahasa IndonesiaAbstractThis study aims to describe the use of personal pronouns  in Kesetiaan Itu short story by Hamsad Rangkuti. The data were lingual units in the form of sentences with personal pronouns. The data sources were paragraphs in the short story. The data were collected through documentation and note. They were analyzed by the distributive method. The findings show that there are 173  the first personal pronouns,  65 the second personal pronouns, and 192 the third personal pronouns. All personal pronouns were found are definitive. The most pronounced personal pronouns is aku, -mu, and -nya. The findings can be utilized in the Indonesian language learning at junior high schools because short stories are a medium of literary learning. Students are expected to understand use of personal pronouns in short stories. The characters in the short story can be emulated by students  life in the community.  For this reason, teachers must be able to create learning scenarios. Keywords: personal pronouns, short story, Indonesian language learning
ASESMEN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN SASTRA: SUATU KAJIAN PUSTAKA Made Kerta Adhi
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.186.217-227

Abstract

Sastra yang diajarkan secara terpadu dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, petanda bahwa sastra dikerdilkan. Hal ini tampak pada proses pembelajaran bahkan asesmennya yang tersurat dalam kurikulum. Perlakuan sastra seperti ini, menjadikan perannya relatif kecil dalam membangun karakter pebelajar, lambat laun bisa kurang dikenali bahkan asing dalam kehidupan pebelajar, dan akhirnya sastra akan hilang. Nilai-nilai sastra sangat berkonstribusi dalam pembentukan karakter. Bertolak dari pendapat tersebut, pembelajaran sastra mestinya diberi perlakuan sama dengan mata pelajaran lainnya. Namun, kenyataannya terdiskriminasikan bahkan termarginalkan. Sementara ini, asesmen pembelajaran sastra dominan dilakukan dengan menilai kemampuan siswa sebatas domain kognitif. Hal ini tampak pada soal-soal ujian sekolah dan ujian nasional. Taksonomi Bloom, mengisyaratkan agar proses penilaian dilakukan secara akumulatif-proporsional pada domain kognitif, afektif dan psikomotor. Legalitas formal model asemen ini, antara lain tersurat dalam kurikulum 2013, yakni asesmen otentik. Model asesmen otentik, menuntut agar guru melakukan penilaian pada pembelajaran sastra senyatanya dengan cara melakukan penilaian secara holistik, mencakup aspek pengetahuan (melalui tes lisan, tertulis, dan penugasan); sikap (melalui observasi, self assessment, peer assessment, dan jurnal); serta aspek keterampilan ( melalui penilaian praktik, proyek, dan portofolio). 

Page 11 of 16 | Total Record : 159