cover
Contact Name
Herdianty Kusuma Handari
Contact Email
kusuma.herdianty@gmail.com
Phone
+628986354939
Journal Mail Official
jurnalfisiopolkesta@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta Jl. Adi Sumarmo, Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah 57173
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Nasional Fisioterapi
ISSN : -     EISSN : 30470927     DOI : https://doi.org/10.64974/jnf.v3i3
Core Subject : Health,
Jurnal Nasional Fisioterapi merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta yang terdaftar dengan nomor ISSN (e): 3047-0927. Jurnal ini berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian kesehatan terutama di bidang fisioterapi yang telah melalui proses peer review. Adapun cakupan bidang fisioterapi meliputi fisioterapi muskuloskeletal, neuromuskuler, kardiovaskuler, kardiopulmonal, pediatri, geriatri, kesehatan wanita, olahraga, integumen,rehabilitasi berbasis masyarakat, maupun kesehatan kerja dan ergonomi. Cakupan artikel yang dipublikasikan pada Jurnal Nasional Fisioterapi meliputi hasil penelitian eksperimen maupun non eksperiman
Articles 44 Documents
PENGARUH PROPIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FACILITATION (STABILIZING REVERSAL) DAN FOUR SQUARE STEP EXERCISE TERHADAP KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA: THE EFFECT OF PROPIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FACILITATION (STABILIZING REVERSAL) AND FOUR SQUARE STEP EXERCISE ON DYNAMIC BALANCE IN THE ELDERLY Noor Kurniaji; Jayany Nur Praheswari
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 2 No. 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v2i3.45

Abstract

Latar Belakang: Meningkatnya jumlah penduduk lansia dan umur harapan hidup berdampak terhadap kesehatan masyarakat diantaranya gangguan keseimbangan. Keseimbangan merupakan kemampuan tubuh dalam memelihara pusat massa tubuh dengan menjaga batasan stabilitas yang ditentukan oleh pusat dasar penyangga, untuk meningkatkan keseimbangan perlu adanya intervensi latihan stabilizing reversal dan four square step exercise. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan propioceptive neuromuscular facilitation (stabilizing reversal) dan four square step exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia. Metode: Penelitian experimental dengan rancangan pre and post test two design. Sampel 36 lansia di Posyandu Flamboyan Jetis, Bantul, usia 60-79 tahun, gangguan keseimbangan dinamis, di bagi menjadi 2, kelompok perlakuan I dengan intervensi stabilizing reversal dan kelompok perlakuan II dengan intervensi four square step exercise. Intervensi dilakukan selama 12 kali pertemuan dengan frekuensi 3 kali seminggu selama 4 minggu. Keseimbangan dinamis diukur dengan time up and go test. Hasil: Uji statistic Wilcoxon Test menunjukan p = 0.000 (p < 0,05), yang berarti ada pengaruh pemberian stabilizing reversal terhadap keseimbangan dinamis pada lansia. Pada kelompok II, paired sample t-test menunjukan hasil p = 0.000 (p < 0,05), yang berarti ada pengaruh pemberian four square step exercise terhadap keseimbangan dinamis pada lansia. Uji independent sample t-test diperoleh nilai p = 0.000 ( p˂0.05), artinya ada perbedaan pengaruh pemberian stabilizing reversal dan four square step exercise terhadap keseimbangan dinamis pada lansia. Kesimpulan: Four square step exercise lebih efektif daripada stabilizing reversal terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia. Kata Kunci: Stabilizing Reversal, Four Square Step Exercise, Keseimbangan Dinamis.
PERBEDAAN PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE DENGAN STRETCHING TERHADAP NYERI PADA NYERI LEHER NON SPESIFIK Nitaya Putri Nur Hidayati; Dwi Kurniawati
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 2 No. 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v2i3.47

Abstract

Latar belakang: Tuntutan pekerjaan yang semakin berat dengan kebiasaan postur tidak ergonomis dan seringkali menghabiskan sebagian besar waktu dalam bekerja dengan posisi yang monoton dapat menimbulkan gejala fisik berupa ketegangan otot dan nyeri terutama di leher atau dikenal sebagai nyeri leher non spesifik. Nyeri seringkali dapat membatasi kemampuan fungsional keseharian sehingga menjadikan individu mencari pengobatan untuk menangani nyeri leher. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan dalam kasus ini di ataranya myofascial release dan stretching. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian myofascial release dengan stretching terhadap nyeri pada nyeri leher non spesifik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan two group with pre and post test. Subjek pada penelitian ini merupakan pekerja pabrik garmen yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 30 orang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok mendapat perlakuan sebanyak 6 kali selama 2 minggu. Hasil: Pengukuran nyeri pada penelitian ini menggunakan quadruple visual analogue scale (QVAS). Pada uji beda pre-test dan post-test kelompok I dan kelompok II menggunakan uji t berpasangan didapatkan hasil p=0,000 pada masing-masing kelompok. Sedangkan pada uji beda post-test kelompok I dengan kelompok II menggunakan uji t tidak berpasangan didapatkan hasil p=0,009. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian myofascial release dan stretching efektif terhadap penurunan nyeri pada nyeri leher non spesifik. Namun pemberian myofascial release lebih efektif dibandingkan stretching terhadap penurunan nyeri pada nyeri leher non spesifik.
PENGARUH PENAMBAHAN ALTERNATE NOSTRIL BREATHING PADA SENAM AEROBIC LOW IMPACT TERHADAP PENDERITA HIPERTENSI LANSIA Asyhara Neaela Arifin; Reda Okta Yana; Ummy Aisyah Nurhayati
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 2 No. 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v2i3.56

Abstract

Background: The elderly are an age group that is vulnerable to disease. They will experience physiological disorders that affect the blood vessels which will then resultin hypertension. To lower blood pressure, there are many exercises to do, one of whichis the alternate nostril breathing technique and low-impact aerobic exercise. Objective: The study aims to determine the effect of adding alternatenostril breathing to low-impact aerobic exercise on the elderly with hypertension. Method:The research used a quasi-experimental with a two-group pretest andposttest design, the sampling technique used was purposive sampling, the sample was30 people with an exercise program 3 times a week for 3 weeks. Group I was given the low impact aerobic exercise and Group II was given the addition of alternatenostril breathing to low-impact aerobic exercise. The measuring instrument in the research was a sphygmomanometer. Result: The hypothesis I test (p < 0.05) showed that there was an effect of low-impact aerobic exercise on elderly with hypertension, hypothesis II test (p < 0.05) showed that there was an effect of the addition of alternate nostril breathing to low-impact aerobic exercise on elderly with hypertension. Conclusion: There is an effect of adding alternate nostril breathing to low-impact aerobic exercise on elderly with hypertension.
MANFAAT ULTRASOUND THERAPY DAN MOBILISASI SARAF TEKNIK ULTT 1 PADA KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME : STUDI KASUS: MANFAAT ULTRASOUND THERAPY DAN MOBILISASI SARAF TEKNIK ULTT 1 PADA KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME : STUDI KASUS Sri Fitri Purnawati; Sugiono; Aditya Johan Romadhon
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 2 No. 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v2i3.57

Abstract

Background: Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is a common problem in the upper extremities caused by compression of the median nerve that passes through the carpal tunnel at the wrist. If the median nerve is compressed or pinched, it will cause tingling, numbness, and sometimes pain in the part affected by the nerve. To overcome this problem, physiotherapy procedures were carried out in the form of ultrasound and ULTT 1 nerve mobilization. Objective: to determine the benefits of ultrasound and ULTT 1 nerve mobilization in CTS cases. Method: This research is a case study, patients diagnosed with CTS were given therapy using modalities in the form of ultrasound and ULTT 1 nerve mobilization with 5 repetitions for 2 sessions totaling 3 times. Results: The results obtained from measuring the functional ability of the hand were from 20% (minimum disability) to 16% (minimum disability). Conclusion: after physiotherapy was carried out on Mrs. K, 53 years old, diagnosed with carpal tunnel syndrome using ultrasound modality and ULTT 1 nerve mobilization, found an increase in hand functional ability using WHDI from 20% (minimum disability) to 16% (minimum disability).
Penatalaksanaan Terapi Latihan pada Kasus Hemiparese Post Stroke Non Hemoragik Management of Exercise Therapy in Cases of Non-Hemorrhagic Post Stroke Hemiparese Aganetha Naura Permata; Yulianto Wahyono
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.58

Abstract

Latar Belakang: Stroke non hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah otak yang menyebabkan infark serebral. Stroke non hemoragik dapat menimbulkan berbagai masalah, salah satunya berupa hemiparese. Hemiparese merupakan kelemahan otot yang mempengaruhi salah satu sisi tubuh setelah stroke. Hemiparese dapat menyebabkan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu masalah yang dapat muncul yaitu adanya gangguan koordinasi, gangguan keseimbangan yang akan menurunkan kemampuan aktivitas fungsional individu sehari-hari. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan tindakan fisioterapi terapi latihan konvensional berupa latihan bridging, latihan keseimbangan, latihan koordinasi, dan latihan passive range of motion (PROM). Tujuan: untuk mengetahui manfaat terapi latihan konvensional pada kasus hemiparese post stroke non hemoragik. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus pada pasien post stroke non hemoragik, diberikan terapi menggunakan terapi latihan konvensional sebanyak 4 kali terapi. Hasil: didapatkan hasil pengukuran nilai kekuatan otot menggunakan MMT pada grup otot abductor-adduktor shoulder dari nilai 2 menjadi 3 dan fleksor-ekstensor hip dari nilai 3 menjadi 4, pengukuran spastisitas menggunakan asworth scale pada grup otot fleksor elbow dari 1+ menjadi 1, pengukuran keseimbangan menggunakan tes Pastor dari nilai 4 menjadi 3, pengukuran kemampuan koordinasi menggunakan indeks koordinasi non ekuilibrium pada koordinasi tangan dan kaki dari nilai 3 menjadi 4, pengukuran kemampuan fungsional menggunakan indeks barthel dari 60 menjadi 70. Kesimpulan: setelah dilakukan fisioterapi pada Ny. J berusia 62 tahun didapatkan peningkatan nilai kekuatan otot menggunakan MMT pada grup otot abductor-adduktor shoulder dari nilai 2 menjadi 3 dan fleksor-ekstensor hip dari nilai 3 menjadi 4, penurunan spastisitas menggunakan asworth scale pada grup otot fleksor elbow dari 1+ menjadi 1, peningkatan keseimbangan menggunakan tes Pastor dari nilai 4 menjadi 3, peningkatan kemampuan koordinasi menggunakan skala koordinasi non ekuilibrium pada koordinasi tangan dan kaki dari nilai 3 menjadi 4, peningkatan kemampuan fungsional menggunakan indeks barthel dari 60 menjadi 70. Kata kunci: Stroke non hemoragik, terapi latihan konvensional.
PENGARUH PEMBERIAN STATIC STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA KASUS NYERI LEHER Fauzi Nurul Amini; Afif Ghufroni; Nurul Fithriati Haritsa
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.59

Abstract

Latar belakang: Nyeri leher merupakan masalah muskuloskeletal yang sering dialami oleh sekitar 70% dari populasi. Posisi leher yang statis dan tidak ergonomis dalam waktu yang lama dapat memicu terjadinya nyeri leher. Static stretching merupakan salah satu teknik mengulur otot yang dapat digunakan untuk mengurangi keluhan nyeri leher. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian static stretching terhadap penurunan nyeri pada kasus nyeri leher. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian one group pre and post test with control group design dengan melibatkan subjek sejumlah 32 mahasiswa fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta yang dibagi dengan teknik randomisasi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan sebanyak 16 subjek penelitian diberi perlakuan berupa static stretching dan edukasi ergonomi dan kelompok kontrol sebanyak 16 subjek diberi edukasi ergonomi saja. Pengukuran nyeri menggunakan Quadruple Visual Analog Scale (QVAS). Intervensi dilakukan selama 2 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu. Hasil: Uji statistik beda prepost test kelompok perlakuan dengan menggunakan uji paired t-test didapatkan nilai p= 0.000, (p<0.05). Kesimpulan: Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian static stretching terhadap penurunan nyeri pada kasus nyeri leher.
PENGARUH HIGH INTENSITY INTERVAL TRAINING (HIIT) TERHADAP PENINGKATAN VO₂ MAX PADA PEMAIN HOCKEY Az Zahra Anindya Putri Setyawan Zahra; Triyana; Fendy Nugroho
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.60

Abstract

Latar Belakang: Hockey adalah olahraga tim yang menggunakan stik untuk menggerakkan bola, dengan tujuan mencetak gol dan mencegah kebobolan. Tim hockey Jawa Timur, yang dulunya dominan di Pekan Olahraga Nasional (PON), mengalami penurunan performa, tetapi berhasil meraih medali perunggu pada 2019 dan lolos ke PON XXI 2024. Kondisi fisik, terutama daya tahan kardiovaskular dan VO₂ max, sangat penting bagi atlet. Survei menunjukkan VO₂ max tim Jawa Timur tergolong cukup, dan program High intensity interval training (HIIT) dianggap efektif untuk meningkatkannya, sehingga dapat meningkatkan daya tahan dan kesehatan atlet dalam waktu latihan yang lebih singkat Tujuan: Untuk mengetahui tingkat VO₂ max dan mengetahui HIIT dapat meningkatkan VO₂ max pada pemain hockey. Metode: Studi ini dilakukan dengan desain penelitian berupa one group pre and post-test design yang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2024. Subjek penelitian merupakan atlet hockey pusat latihan daerah Jawa Timur dengan Teknik pengambilan total sampling sebanyak 36 orang. Studi ini dilakukan selama 4 minggu sebanyak 12 kali pertemuan dan menggunakan alat ukur MFT. Hasil: Terdapat perbedaan pengaruh HIIT terhadap VO₂ max pemain sebelum dan sesudah diberikan MFT. Hal ini dibuktikan dengan nilai p < 0,001 (p<0.05) Kesimpulan: pemberian High intensity interval training (HIIT) berpengaruh terhadap peningkatan VO₂ max pemain hockey. Kata Kunci: vo₂ max, high intensity interval training, HIIT, hockey
KORELASI DURASI DUDUK TERHADAP TERJADINYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ikhsan Mahara -; Sugiono; Herdianty Kusuma
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.61

Abstract

Latar belakang: Pelajar menghabiskan waktu atau melakukan kegiatan dalam posisi duduk yang lama. Duduk di kursi selama 8 jam atau lebih dapat meningkatkan ketegangan pada otot punggung. Ketegangan otot menjadi salah satu penyebab risiko terhadap timbulnya penyakit salah satunya adalah nyeri punggung bawah. Nyeri punggung bawah merupakan masalah kesehatan yang umum dialami oleh pelajar karena pola duduk yang tidak ergonomis dan minimnya aktifitas fisik, oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya resiko nyeri punggung bawah terutama durasi duduk. Tujuan: Mengetahui korelasi durasi duduk                        terhadap terjadinya nyeri punggung bawah pada siswa sekolah menengah pertama, dengan memahami hubungan ini, diharapkan dapat mengambil langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko terjadinya nyeri punggung bawah pada pelajar, seperti dengan memperhatikan durasi duduk saat proses belajar mengajar di sekolah dan memberikan peregangan setiap satu atau dua jam sekali dalam posisi berdiri. Metode: Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, data dikumpulkan melalui kuisioner yang berisi durasi duduk dan gejala nyeri punggung bawah yang dialami siswa, data dianalisis dengan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara durasi duduk terhadap nyeri punggung bawah pada siswa SMP. Hasil: Hasil nilai signifikansi atau nilai p <,000 yang berarti terdapat hubungan antara duduk lama terhadap terjadinya gejala nyeri punggung bawah pada siswa. Nilai koefisien korelasi didapatkan sebesar (r)=0,687 yang artinya kedua variabel memiliki hubungan kuat. Kesimpulan: Terdapat korelasi yang kuat antara durasi duduk terhadap terjadinya nyeri punggung bawah pada siswa sekolah menengah pertama.
PENGARUH LATIHAN STABILISASI LEHER DAN STABILISASI SKAPULA PADA NYERI LEHER NON SPESIFIK : EFFECT OF NECK STABILIZATION AND SCAPULA STABILIZATION EXERCISES FOR NON SPECIFIC NECK PAIN Fania Nanda Prasintia; Setiawan; Marti Rustanti
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.62

Abstract

Latar Belakang: Posisi tubuh tidak ergonomis yang diterapkan penjahit garmen saat bekerja dan berlangsung cukup lama dalam posisi statis berpotensi menyebabkan terjadinya musculoskeletal disorders seperti non specific neck pain (NSNP). NSNP adalah jenis neck pain yang terjadi tanpa ditemukannya gejala patologi struktural utama dan gangguan neurologis dan tidak diketahui faktor penyebab secara pasti. Tujuan: untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh neck stabilization exercise (NSE) dan scapula stabilization exercise (SSE) serta mengetahui intervensi yang lebih baik dalam peningkatan kemampuan fungsional leher pada NSNP. Metode: menggunakan metode randomized control trial dengan desain two groups pretest and postest. Sampel penelitian ini adalah penjahit garmen yang berada di Niks Konveksi, Karanganyar yang berjumlah 30 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Neck Disability Index (NDI). Hasil: Analisis data menggunakan uji paired t-test pada kedua kelompok diperoleh p = 0.000 (p < 0.05) yang artinya bahwa NSE dan SSE meningkatkan kemampuan fungsional leher pada penjahit yang mengalami NSNP. Sedangkan uji independent t test pada perbandingan kedua kelompok setelah perlakuan di dapatkan hasil p = 0.871 (p> 0.05), artinya tidak ada perbedaan pengaruh antara NSE dan SSE terhadap peningkatan kemampuan fungsional leher pada penjahit yang mengalami NSNP. Kesimpulan: NSE dan SSE sama baiknya dalam meningkatkan kemampuan fungsional leher pada penjahit yang mengalami NSNP. Kata Kunci : Non specific neck pain, neck stabilization exercise, scapula stabilization exercise, neck disability index Background: The non-ergonomic body position applied by garment tailors while working and lasting long enough in this static position has the potential to cause musculoskeletal disorders such as non-specific neck pain (NSNP). NSNP is a type of neck pain that occurs without the evidence of major structural pathology symptoms and neurological disorders and the exact causative factor is unknown. Objective: to determine whether there is a difference in the effects of neck stabilization exercise (NSE) and scapula stabilization exercise (SSE) and to determine which intervention is better in improving the functional ability of the neck in NSNP. Method: using a randomized control trial method with a two groups pretest and posttest design. The sample of this study was 30 garment tailors at Niks Konveksi, Karanganyar. The instrument used was the Neck Disability Index (NDI) questionnaire. Results: Data analysis using paired t-test in both groups obtained p = 0.000 (p <0.05) which means that NSE and SSE increase the functional ability of the neck in tailors who experience NSNP. While the independent t-test on the comparison of the two groups after treatment obtained the result p = 0.871 (p> 0.05), meaning that there is no difference in the effect between NSE and SSE on increasing the functional ability of the neck in tailors who experience NSNP. Conclusion: NSE and SSE are equally good in improving neck functional ability in tailors with NSNP. Key Words : Non specific neck pain, neck stabilization exercise, scapula stabilization exercise, neck disability index
EFEKTIVITAS DURASI STATIC STRETCHING TERHADAP FLEKSIBILITAS HAMSTRING PADA PEKERJA PABRIK Hafidz Nur Sarich; Afrianti Wahyu; Suhardi
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i1.64

Abstract

Latar belakang: pekerja pabrik atau buruh identik dengan seseorang yang bekerja di suatu pabrik. Seiring dengan kesibukannya seseorang utamanya pekerja sering tidak memperhatikan posisi yang baik (ergonomis) saat beraktivitas sehari-hari. PT. Iskandartex Solo memiliki pekerja sekitar 100 orang dibagian tenun dengan posisi duduk yang static selama 6 hingga 8 jam perhari. Penurunan fleksibilitas otot karena postur yang buruk, gerak yang static dalam durasi yang lama dapat terjadi di otot tubuh mana saja, salah satunya yaitu pada otot hamstring karena dalam posisi duduk dengan durasi yang lama. Static stretching exercise adalah latihan peregangan yang bertujuan untuk memperbaiki fleksibilitas dan mengurangi ketegangan otot. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh durasi latihan static stretching terhadap fleksibilitas hamstring pada pekerja pabrik. Metode: penelitian ini menggunakan subjek pekerja di PT. Iskandartex dibagian tenun yang memenuhi kriteria penelitian dengan jumlah 32 subjek dengan menggunakan alat ukur active knee extension test (AKET), jenis penelitian ini menggunakan two group pre-test and post-test design with randomized yang mana kelompok 1 diberi intervensi latihan static stretching 30 detik dan kelompok 2 diberi intervensi latihan static stretching 15 detik. Hasil: (1) hasil paired sample t-test didapatkan nilai p=0.000 yang berarti ada pengaruh latihan static stretching 30 detik terhadap fleksibilitas hamstring, (2) hasil paired sample t-test didapatkan nilai p=0.000 yang berarti ada pengaruh latihan static stretching 15 detik terhadap fleksibilitas hamstring, (3) hasil independent t-test diperoleh tidak ada perbedaan antara latihan static stretching 30 detik dan latihan static stretching 15 detik dalam meningkatkan fleksibilitas hamstring dengan nilai p=0.559 pada genu dextra dan nilai p=0.464 pada genu sinistra, dan (4) hasil selisih mean diperoleh latihan static stretching 15 detik lebih efektif dibandingkan latihan static stretching 30 detik, pada kelompok 1 dengan nilai selisih mean 6.00 pada genu dextra dan 5.44 pada genu sinistra, pada kelompok 2 dengan selisih mean 8.68 pada genu dextra dan 7.50 pada genu sinistra. Kesimpulan: latihan static stretching 15 detik lebih efektif meningkatkan fleksibilitas hamstring pada pekerja pabrik.