cover
Contact Name
Eny Puspani
Contact Email
eny_fapet@unud.ac.id
Phone
+62818555700
Journal Mail Official
jurnaltropika@unud.ac.id
Editorial Address
Gedung AB Lt. 1, Jl. Kampus Bukit Jimbaran, Fakultas Peternakan Universitas Udayana
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Peternakan Tropika
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 27227286     DOI : -
Jurnal Peternakan Tropika (JPT) merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan teknologi) dan bidang sosial ekonomi peternakan.
Articles 130 Documents
EVALUASI KECERNAAN PAKAN CAMPURAN HIJAUAN DAN KONSENTRAT PADA KUDA JENIS WARM BLOOD DI BALI EQUESTRIAN CENTRE J.J., Handoyo,; I. G Mahardika; N. N. Suryani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to evaluate feed intake, nutrient intake, and nutrient digestibility of Warmblood horses at the Bali Equestrian Centre over a three-month period, as well as their relationship with body weight and feeding patterns. Four mares were observed: Choco Chips (511 kg, 6 years), Honey (532 kg, 8 years), Lupita (408 kg, 5 years), and Olympia (426 kg, 13 years). Feeding was carried out four times daily. Forage and concentrate were provided at 06:00, 12:00, and 18:00, with the concentrate offered prior to forage. At 22:00, forage was provided in the form of hay. The results showed variations in dry matter intake, with the highest intake observed in Choco Chips (11,323.54 g/day) and the lowest in Olympia (7,096.12 g/day), followed by similar patterns in nutrient intake. Dry matter digestibility ranged from 47.42% to 67.37%, organic matter digestibility from 51.49% to 71.37%, crude protein digestibility from 86.02% to 89.10%, crude fiber digestibility from 46.73% to 61.74%, and ash digestibility from 18.81% to 33.76%. The relationship between intake, digestibility, and body weight indicated that horses with greater body weight tended to have higher nutrient requirements; however, age, activity level, and digestive microbial adaptation influenced individual results. Feeding concentrate before forage and providing hay at night supported feed intake and nutrient digestibility. In conclusion, the ration provided was able to meet the nutritional requirements of Warmblood horses, although individual evaluation remains important to improve feed utilization efficiency. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi konsumsi pakan, konsumsi nutrien, dan kecernaan nutrien pada kuda Warm Blood di Bali Equestrian Centre selama tiga bulan, serta hubungannya dengan bobot badan dan pola pemberian pakan. Empat kuda betina diamati, yaitu Choco Chips (511 kg, 6 tahun), Honey (532 kg, 8 tahun), Lupita (408 kg, 5 tahun), dan Olympia (426 kg, 13 tahun). Pemberian pakan dilakukan sebanyak 4 kali. Pada pukul 06.00, 12.00, dan 18.00 diberikan pakan hijauan dan konsentrat. Pakan konsentrat diberikan terlebih dahulu sebelum pemberian hijauan. Pada pukul 22.00 diberikan hijauan dalam bentuk hay Hasil menunjukkan variasi konsumsi bahan kering, tertinggi pada Choco Chips (11.323,54 g/hari) dan terendah pada Olympia (7.096,12 g/hari), yang diikuti oleh pola konsumsi nutrien. Nilai kecernaan bahan kering berkisar 47,42–67,37%, bahan organik 51,49–71,37%, protein kasar 86,02–89,10%, serat kasar 46,73–61,74%, dan kecernaan abu 18,81–33,76%. Hubungan konsumsi dan kecernaan dengan bobot badan menunjukkan bahwa kuda dengan bobot lebih besar cenderung memiliki kebutuhan nutrien lebih tinggi, namun faktor usia, aktivitas, dan adaptasi mikroba pencernaan memengaruhi hasil secara individual. Pemberian konsentrat sebelum hijauan dan hay pada malam hari mendukung konsumsi pakan dan kecernaan nutrien. Kesimpulannya, ransum yang diberikan mampu memenuhi kebutuhan nutrien kuda Warm Blood, namun evaluasi individual tetap penting untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan.
KUALITAS FISIK DAN ORGANOLEPTIK DAGING KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DIMARINASI DENGAN MADU TRIGONA SP. M. R., Zhahir,; A. A. Oka,; N. L. P. Sriyani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This investigation seeks to ascertain the physical also organoleptic quality of Etawah crossbred goat meat marinated with Trigona Sp. honey. This investigation used a fully randomized design, 4 treatments also 4 replications over the course of two months. The interventions included P0: goat meat marinated with 0% Trigona Sp. honey; P1: goat meat marinated 10% Trigona Sp. honey; P2: goat meat marinated 15% Trigona Sp. honey; P3: goat meat marinated with 20% Trigona Sp. honey. While organoleptic quality encompasses color, aroma, taste, texture, tenderness, and general acceptability, physical quality factors include water-holding capacity, pH, color, also cooking loss. The investigation's findings demonstrated that the physical quality of cooking loss, also pH were statistically significantly different, while in raw loss, water holding capacity and b* (yellowish) colors were not statistically significantly different but showed a decreasing trend in water holding capacity and b* (yellowish) colors and an increasing trend in raw loss. In organoleptic quality, the hedonic value of color was statistically significantly different with a score of 2.93-4.00 criteria of liking to liking very much, while in hedonic value of tenderness, aroma, taste, texture also general acceptability were not much different. According the investigation's results, show at the 20% level, the marinated results of PE goat meat with Trigona Sp. honey were preferred in terms of organoleptic value seen from overall acceptance. ABSTRAK Studi ini mempunyai tujuan guna mengidentifikasi kualitas fisik dan organoleptik daging kambing peranakan etawah, dimarinasi dengan madu Trigona Sp. Studi ini dijalankan 2 bulan memakai RAL dengan 4 perlakukan 4 ulangan. Perlakukan terdiri atas P0: daging kambing dimarinasi 0% madu Trigona Sp; P1: daging kambing dimarinasi 10% madu Trigona Sp; P2: daging kambing dimarinasi 15% madu Trigona Sp; P3: daging kambing yang dimarinasi 20% madu Trigona Sp. Variabel yang ditinjau kualitas fisik melingkupi pH, susut masak, daya ikat air, susut mentah, serta warna, kualitas organoleptik melingkupi aroma, warna, rasa, tekstur, keempukan serta penerimaan keseluruhan. Temuan studi menunjukan kualitas fisik pada nilai pH, dan susut masak secara statistika berbeda nyata sedangkan pada susut mentah, daya ikat air dan b* (kekuningan) secara statistika tidak berbeda nyata tetapi menunjukan tren penurunan pada daya ikat air dan b* (kekuningan) dan tren peningkatan pada susut mentah. Pada kualitas organoleptik pada nilai hedonik warna secara statsitik berbeda nyata dengan skor 2,93-4,00 kriteria suka sampai sangat suka sedangkan pada nilai hedonik tekstur, aroma, rasa, keempukan serta penerimaan keseluruhan tidak berbeda nyata. Temuan studi bisa ditarik simpulan pada level 20% hasil marinasi daging kambing PE dengan madu Trigona Sp. disukai secara nilai organoleptik dilihat dari penerimaan keseluruhan.
EVALUASI KINERJA DAN PENDUGAAN RESPON SELEKSI UKURAN TUBUH SAPI BALI BETINA DI KABUPATEN KARANGASEM N., Sitepu,; D.A. Warmadewi,; I.N. Ardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selection is one of the efforts to improve the genetic quality of bali cows which can be carried out through the evaluation of body measurements as a basis for determining selection criteria. This study aimed to determine the body measurement performance and selection response of bali cows based on the measured body dimensions. The research was conducted in Kubu and Abang Districts, Karangasem Regency, Bali, using 71 bali cows grouped by age according to SNI 7651-4:2023 into I0, I1, I2, and I3 groups. The variables observed were body length, withers height, and chest girth. Data were analyzed descriptively to obtain mean and standard deviation, and selection response was calculated using the formula R = h² × i × Sd. The results showed that the mean body length, withers height, and chest girth increased with age, and the selection response of body length and withers height was higher than chest girth. It can be concluded that selection based on body length and withers height is more effective in improving the genetic quality of Bali cows in Karangasem Regency. ABSTRAK Seleksi merupakan salah satu upaya peningkatan mutu genetik sapi bali betina yang dapat dilakukan melalui evaluasi ukuran tubuh sebagai dasar penentuan kriteria seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja ukuran tubuh dan respon seleksi sapi bali betina berdasarkan ukuran tubuh yang diukur. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kubu dan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali, menggunakan 71 ekor sapi bali betina yang dikelompokkan berdasarkan umur menurut SNI 7651-4:2023 menjadi kelompok I0, I1, I2, dan I3. Variabel yang diamati meliputi panjang badan, tinggi pundak, dan lingkar dada. Data dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh rataan dan simpangan baku, kemudian dihitung respon seleksi menggunakan rumus R = h² × i × Sd. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan panjang badan, tinggi pundak, dan lingkar dada meningkat seiring bertambahnya umur, dan respon seleksi panjang badan serta tinggi pundak lebih tinggi dibandingkan lingkar dada. Dapat disimpulkan bahwa seleksi berdasarkan panjang badan dan tinggi pundak lebih efektif untuk meningkatkan mutu genetik sapi bali betina di Kabupaten Karangasem.
PERFRORMANS DAN KERAGAMAN FENOTIPIK DIMENSI TUBUH SAPI BALI BETINA DI KOTA DENPASAR A. E., Rajagukguk,; D.A. Warmadewi,; I.N. Ardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Morphological traits serve as a critical parameters for evaluating the productivity alongside suitability of female Bali cattle as breeding stock. The variations in body dimensions that occur in every age group reflects the growth conditions and the level of uniformity in a livestock population. This research was conducted in Denpasar, initially to evaluate the performance and the coefficient of variation of body dimensions of female cattle, as well as their complience with the Indonesian National Standard (SNI 7651-4:2023). The research was carried on by using a measurement method on female Bali cattle grouped based on dental age, namely, I0,I1,I2,I3, and I4. Parameters observed included shoulder height, body length, and chest circumference. Data analysis was performed descriptively to obtain the mean, standard deviation, and coefficient of variation. The results indicate that the average dimensions of female Bali cattle body are lower than SNI 7661-4:2023.The CV (Coefficient of Variation) value for the performance of body dimensions in female Bali cattle across all age groups is low (<15%), pointing to a homogeneous livestock population. The conclusion is that the performance of body dimensions of female Bali cattle in Denpasar has not entirely met the Indonesian National Standard (SNI 7561-4:2023) ABSTRAK Dimensi tubuh menjadi indikator krusial untuk menilai performans serta kesesuaian sapi bali betina sebagai ternak bibit. Variasi dimensi tubuh yang terjadi pada setiap kelompok umur mencerminkan kondisi pertumbuhan dan tingkat keseragaman populasi ternak. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Denpasar dengan tujuan mengevaluasi performans dan koefisien keragaman dimensi tubuh sapi bali betina serta kesesuaiannya dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 7651-4:2023). Penelitian dilakukan menggunakan metode pengukuran pada sapi bali betina yang diklasifikasikan berdasarkan umur gigi, yaitu I0, I1, I2, I3, dan I4. Parameter yang diamati mencakup tinggi pundak, ukuran panjang badan, dan lingkar dada. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh rataan, standar deviasi, dan koefisien keragaman. Dapat disimpulkan hasil pengukuran performans dimensi tubuh menunjukkan bahwa rataan dimensi tubuh sapi bali betina sebagian besar lebih rendah dibandingkan dengan SNI 7651-4:2023. Nilai KK ukuran morfometrik sapi bali betina di seluruh tingkatan usia rendah (<15%), yang menunjukkan populasi ternak homogen.
PENAMPILAN DAN NILAI PEMULIAAN SIFAT PRODUKSI SAPI BALI BETINA DI KABUPATEN TABANAN A. P. R., Manik,; D.A. Warmadewi,; I.N. Ardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali cattle are an indigenous Indonesian genetic resource that need to be preserved and genetically improved through the measurement of production trait performance and breeding values as a basis for selection programs. This study aimed to evaluate the performance of production traits compared with SNI 7651-4:2023 and to estimate the breeding values of female Bali cattle in Tabanan Regency. The research material consisted of 84 female Bali cattle grouped by age (I0–I4). The observed variables included withers height, body length, and chest girth, which were measured directly and analyzed descriptively to obtain the mean and standard deviation. Breeding values were calculated using the individual selection method based on heritability estimates and the deviation of individual performance from the population mean. The results showed that the performance of production traits, namely withers height, body length, and chest girth, met the minimum quantitative requirements set in SNI 7651-4:2023. The breeding values of production traits varied from negative to positive across age groups. It can be concluded that female Bali cattle in Tabanan Regency have met the SNI 7651-4:2023 standard and that the obtained breeding values can be used as a basis for selection. ABSTRAK Sapi bali merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan mutu genetiknya melalui pengukuran penampilan sifat produksi dan nilai pemuliaan sebagai dasar program seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penampilan sifat produksi dibandingkan dengan SNI 7651-4:2023 serta nilai pemuliaan sifat produksi sapi bali betina di Kabupaten Tabanan. Materi penelitian menggunakan 84 ekor sapi bali betina yang dikelompokkan berdasarkan umur (I0-I4). Data yang diamati meliputi tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada diukur secara langsung dan dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh rataan dan standar deviasi. Nilai pemuliaan dihitung menggunakan metode individu berdasarkan nilai heritabilitas dan selisih performa individu terhadap rataan populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampilan sifat produksi tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada telah memenuhi persyaratan minimum kuantitatif yang ditetapkan dalam SNI 7651-4:2023. Nilai pemuliaan sifat produksi menunjukkan variasi dari negatif hingga positif pada setiap kelompok umur. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi bali betina di Kabupaten Tabanan telah memenuhi SNI 7651-4:2023 dan nilai pemuliaan yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar seleksi.
SUBSTITUSI PEMBERIAN KONSENTRAT PROTEIN LIMBAH PETERNAKAN AYAM (KPLA) TERHADAP RECAHAN KARKAS KOMERSIAL PADA AYAM KUB N. P. M. M. D. Patni; I. N. T. Ariana; A. A. Oka
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chicken Farm Waste Protein Concentrate (KPLA) is a by-product of the closed house system that can be used as a protein source for KUB chickens because it contains high levels of protein as well as calcium and phosphorus minerals. This study aimed to evaluate the substitution of KPLA on commercial carcass cuts as an alternative feed for KUB chickens reared for 8 weeks. The research was conducted at the Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. A total of 80 unsexed day-old KUB chickens were used in this study. The experimental design was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments with five replications. The treatments were P0 (ration with 0% KPLA + 30% commercial concentrate), P1 (ration with 10% KPLA + 20% commercial concentrate), P2 (ration with 20% KPLA + 10% commercial concentrate), and P3 (ration with 30% KPLA + 0% commercial concentrate). The observed variables included carcass weight, breast percentage, upper thigh percentage, lower thigh percentage, wing percentage, and back percentage. The results showed that KPLA supplementation at levels of 10%, 20%, and 30% had no significant effect (P>0.05). It can be concluded that the substitution of Chicken Farm Waste Protein Concentrate (KPLA) up to a level of 30% did not differ from 100% commercial ration in terms of commercial carcass cuts of Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) chickens. ABSTRAK Konsentrat Protein Limbah Peternakan Ayam merupakan limbah dari closed house yang dapat digunakan sebagai sumber protein untuk ternak ayam KUB karena mengandung protein, serta mineral kalsium dan pospor yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui substitusi KPLA terhadap recahan karkas komersial sebagai pakan alternatif terhadap ayam KUB yang dipelihara selama 8 minggu. Penelitian ini dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan 80 ekor ayam KUB unisex umur 1 hari. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini RAL yang terdiri dari 4 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah P0 (ransum dengan 0% KPLA + 30% konsentrat komersial), P1 (ransum dengan 10% KPLA + 20% konsentrat komersial), P2 (ransum dengan 20% KPLA + 10% konsentrat komersial), P3 (ransum dengan 30% KPLA + 0% konsentrat komersial). Variabel yang diamati meliputi berat karkas, persentase dada, persentase paha atas, persentaase paha bawah, persentase sayap, persentase punggung. Hasil penelitian menunjukan pemberian KPLA dengan level pemberian 10%, 20%, dan 30% tidak berpengaruh nyata P>0,05. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Substitusi Pemberian Konsentrat Protein Limbah Peternakan Ayam (KPLA) hingga level 30% tidak memberikan perbedaan dengan pemberian 100% ransum terhadap recahan karkas komersial pada ayam kampung unggul balitbangtan (KUB).
KUALITAS ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI JANTAN YANG DIBERI EKSTRAK AIR DAUN Asystasia gangetica (L) subsp. Micrantha MELALUI AIR MINUM G. B. B. S. Adinata; N. L. P. Sriyani; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meat from Bali ducks has potential as a source of animal protein, but its organoleptic quality is often less favorable, particularly due to darker meat color, pronounced off-odor, and less acceptable flavor. Asystasia gangetica leaves contain bioactive and antioxidant compounds that may improve meat quality when administered as a water extract in drinking water. The study aims to examine the effect of various scales of Asystasia gangetica leaf water on the organoleptic quality of male Balinese duck meat. A trial of up to 8 weeks in Tabanan Regency duck farm Through Completely Randomized Series (RUPS) of some actions: P0 (0% extract), P1 (2% extract), P2 (4% extract), and P3 (6% extract) which were repeated 5 times on 3 ducks (a total of 60 ducks). Variables of taste, color, odor, tenderness, texture and overall acceptance of breast meat will be tested, through a 5-point level by 25 semi-trained panelists. The report was analyzed with Kruskal–Wallis followed by Mann–Whitney U test. The resulting Asystasia gangetica leaf water extraction contributed (P<0.05) to odor, color and overall acceptance, taste, texture and tenderness of Balinese duck meat. Treatment P2 (4% extract) obtained the best results for dominant organoleptic properties. It is assumed that supplementation of 4% Asystasia gangetica leaf water extract can support the organoleptic quality of Balinese duck meat based on panelist reviews. ABSTRAK Daging itik Bali jantan berpotensi sebagai sumber protein hewani, namun masih memiliki kelemahan pada kualitas organoleptik, terutama warna yang cenderung gelap, aroma amis, dan citarasa yang kurang disukai. Daun Asystasia gangetica (ara sungsang) mengandung senyawa bioaktif dan antioksidan yang berpeluang dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas daging melalui pemberian ekstrak air dalam air minum. Tujuan riset ini untuk memahami pengaruh diberikanya ekstrak air daun Asystasia gangetica dengan perbedaan level dalam air minum pada kualitas organoleptik daging itik Bali jantan. Riset ini diselenggarakan dengan berdurasi 8 minggu di kandang milik peternak di Kabupaten Tabanan dengan mengandalkan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan, seperti P0 (0% ekstrak), P1 (2% ekstrak), P2 (4% ekstrak), dan P3 (6% ekstrak) dalam air minum, masing-masing dengan lima ulangan dan tiga ekor itik per ulangan (total 60 ekor). Sebagian variabel yang diuji yaitu citarasa, keempukan, warna, aroma, tekstur serta penerimaan keseluruhan daging dada melalui uji hedonik skala 1–5 menggunakan 25 panelis semi-terlatih. Datanya dianalisa melalui pengujian Kruskal–Wallis dan dilanjutkan uji Mann–Whitney. Hasil riset membuktikan jika pemberian ekstrak air daun Asystasia gangetica melalui air minum berkontribusi nyata (P<0,05) pada warna, aroma, dan penerimaan keseluruhan, citarasa, tekstur dan keempukan daging itik Bali jantan. Perlakuan P2 (4% ekstrak) menghasilkan skor tertinggi pada sebagian besar variabel organoleptik. Disimpulkan jika pemberian ekstrak air daun Asystasia gangetica dalam air minum hingga level sekitar 4% bisa menambah kualitas organoleptik daging itik Bali jantan berdasarkan penilaian panelis.
PENGARUH PENGGANTIAN SEBAGIAN JAGUNG DENGAN DEDAK GANDUM TERHADAP KUALITAS EKSTERNAL TELUR PADA AYAM RAS PETELUR I. K. C. Widiadnyana; I. P. Ari Astawa; I. G. Mahardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of replacing some corn with wheat bran on the external quality of eggs. Research I was conducted in Candikusuma Village, Melaya District, Jembrana Regency, one of the cages owned by a breeder who lasted for 3 months. The design used in this study was a completely randomized design (RAL) with 4 treatments and 4 replications in each replication consisting of 4 laying hens. The four treatments were: PO (feeding without wheat bran content), P1 (feeding with wheat bran content of 2.5% and reducing corn feed ingredients by 2.5%), P2 (feeding with wheat bran content of 5% and reducing corn feed ingredients by 5%), P3 (feeding with wheat bran content of 7.5% and reducing corn feed ingredients by 7.5%). The variables observed were egg weight, shell color, shell thickness, specific gravity and shell percentage. The results of the study on partial replacement of corn with wheat bran in the ration of laying hens showed non-significant results. It can be concluded that the results of replacing corn with wheat bran up to a level of 7.5% in the ration of laying hens did not affect the economic quality of the teams. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian sebagian jagung dengan dedak gandum terhadap kualitas eksternal telur. Penelitian ini dilakukan di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana disalah satu kandang milik peternak yang berlangsung selama 3 bulan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan pada masing - masing ulangan terdiri dari 4 ekor ayam ras petelur. Keempat perlakuan tersebut yaitu: P0 (pemberian ransum tanpa kandungan dedak gandum), P1 (pemberian pakan dengan kandungan dedak gandum sebanyak 2,5% dan pengurangan bahan pakan jagung sebanyak 2,5%), P2 (pemberian pakan dengan kandungan dedak gandum sebanyak 5% dan pengurangan bahan pakan jagung sebanyak 5 %), P3 (pemberian pakan dengan kandungan dedak gandum sebanyak 7,5% dan pengurangan bahan pakan jagung sebanyak 7,5%). Variabel yang diamati adalah bobot telur, warna kerabang, tebal kerabang, berat jenis dan persentase kerabang. Hasil dari penelitian penggantian sebagian jagung dengan dedak gandum pada ransum ayam ras petelur menunjukan hasil non signifikan. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil penggantian jagung dengan dedak gandum sampai dengan level 7,5% pada ransum ayam petelur tidak berpengaruh terhadap kualitas eksternal telur ayam ras.
KECERNAAN DAN PRODUK FERMENTASI RUMEN SECARA IN VITRO SILASE RUMPUT GAJAH (Cenchrus purpureus (Schumach.) Morrone) YANG MENGGUNAKAN STARTER BERBEDA M. B. Barus; I. G. L. O. Cakra; A.A.A.S. Trisnadewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Silage) (is) (a) (forage) (preservation) (technology) (aimed) (at) (maintaining) (feed) (nutritional) (quality) (during) (storage.) (This) (study) (aimed) (to) (determine) (the) (effect) (of) (using) (different) (starters) (on) (digestibility) (and) (in) (vitro) (rumen) (fermentation) (characteristics) (of) (elephant) (grass) (silage) ((Cenchrus) (purpureus).) (The) (experiment) (used) (a) (completely) (randomized) (design) ((CRD)) (consisting) (of) (four) (treatments) (with) (five) (replications,) (resulting) (in) (20) (experimental) (units.) (The) (treatments) (consisted) (of) (four) (starter) (levels:) (P0) (=) (1000) (g) (elephant) (grass) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molasses) (+) (25) (ml) (water;) (P1) (=) (1000) (g) (elephant) (grass) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molasses) (+) (25) (g) (rhizopus) (oligosporus;) (P2) (=) (1000) (g) (elephant) (grass) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molasses) (+) (25) (ml) (EM4;) (and) (P3) (=) (1000) (g) (elephant) (grass) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molasses) (+) (25) (ml) (lignocellulolytic) (bacteria.) (The) (observed) (variables) (included) (dry) (matter) (digestibility) ((DMD),) (organic) (matter) (digestibility) ((OMD),) (volatile) (fatty) (acid) ((VFA)) (concentration,) (and) (ammonia) ((NH₃).) (The) (results) (showed) (that) (the) (addition) (of) (starters) (had) (a) (positive) (effect) (on) (digestibility) (and) (rumen) (fermentation) (quality.) (Treatment) (P3) ((lignocellulolytic) (bacteria)) (produced) (the) (best) (results,) (with) (DMD) (of) (49.83%) (and) (OMD) (of) (57.94%.) (Total) (VFA) (concentrations) (ranged) (from) (84.54) (to) (95.88) (mM/L,) (while) (NH₃) (concentrations) (ranged) (from) (5.22) (to) (5.26) (mM/L,) (indicating) (good) (rumen) (fermentation) (activity,) (although) (no) (significant) (differences) (were) (observed) (among) (treatments.) (Overall,) (lignocellulolytic) (bacteria) (and) () (rhizopus) (oligosporus) (were) (proven) (to) (improve) (the) (quality) (of) (elephant) (grass) (silage) (and) (optimally) (support) (rumen) (microbial) (activity ABSTRAK Silase) (merupakan) (teknologi) (pengawetan) (hijauan) (yang) (bertujuan) (mempertahankan) (kualitas) (nutrisi) (pakan) (selama) (penyimpanan.) (Penelitian) (bertujuan) (untuk) (mengetahui) (pengaruh) (penggunaan) (starter) (berbeda) (terhadap) (tingkat) (kecernaan) (dan) (hasil) (fermentasi) (rumen) (secara) (in) (vitro) (pada) (silase) (rumput) (gajah) ((Cenchrus) (purpureus).) (Penelitian) (menggunakan) (rancangan) (acak) (lengkap) ((RAL),) (yang) (terdiri) (dari) (empat) (perlakuan) (dan) (5) (ulangan,) (sehingga) (menghasilkan) (20) (unit) (percobaan.) (Perlakuan) (terdiri) (atas) (empat) (level) (starter,) (yaitu) (P0) (=) (1000) (g) (rumput) (gajah) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molases) (+) (25) (ml) (air,) (P1) (=) (1000) (g) (rumput) (gajah) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molases) (+) (25) (g) (ragi) (tempe,) (P2) (=) (1000) (g) (rumput) (gajah) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molases) (+) (25) (ml) (EM4,) (dan) (P3) (=) (1000) (g) (rumput) (gajah) (+) (100) (g) (pollard) (+) (25) (ml) (molases) (+) (25) (ml) (bakteri) (lignoselulolitik.) (Variabel) (yang) (diamati) (meliputi) (kecernaan) (bahan) (kering) ((KcBK),) (kecernaan) (bahan) (organik) ((KcBO),) (konsentrasi) (volatile) (fatty) (acids) ((VFA),) (dan) (amonia) ((NH₃). Hasil) (penelitian) (menunjukkan) (bahwa) (penambahan) (starter) (memberikan) (pengaruh) (baik) (terhadap) (kualitas) (kecernaan) (dan) (fermentasi) (rumen.) (Perlakuan) (P3) ((bakteri) (lignoselulolitik)) (memberikan) (hasil) (terbaik) (dengan) (nilai) (KcBK) (sebesar) (49,83%) (dan) (KcBO) (sebesar) (57,94%.) (Konsentrasi) (VFA) (total) (berkisar) (antara) (84,54–95,88) (mM/L,) (sedangkan) (NH₃) (berada) (pada) (kisaran) (5,22–5,26) (mM/L,) (yang) (menunjukkan) (aktivitas) (fermentasi) (rumen) (yang) (baik) (meskipun) (tidak) (berbeda) (nyata) (antara) (perlakuan.) (Secara) (keseluruhan,) (bakteri) (lignoselulolitik) (dan) (ragi) (tempe) (terbukti) (mampu) (meningkatkan) (kualitas) (silase) (rumput) (gajah) (dan) (mendukung) (aktivitas) (mikroba) (rumen) (secara) (optimal.
KUALITAS KIMIA SILASE RUMPUT GAJAH (Cenchrus purpureus (Schumach.) Morrone) YANG DITAMBAHKAN STARTER BERBEDA A. A. B. Ginting; A. A. A. S. Trisnadewi; I. G. L. O. Cakra
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2 (2026): Vol. 14 No. 2(2026)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Silage is a feed material produced through fermentation technology to preserve and maintain its nutritional quality, and this study aims to evaluate the effect of the addition of different starters, namely Rhizopus oligosporus, EM-4, and lignocellulolytic bacteria, on the quality and chemical composition of elephant grass silage (Cenchrus purpureus (Schumach.) Morrone). This research was conducted at the animal Nutrition and Feed Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. The research used a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and five replications, resulting in 20 experimental units. The treatments used included P0 = 1000 g elephant grass + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 mL water, P1 = 1000 g elephant grass + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 g Rhizopus oligosporus, P2 = 1000 g elephant grass + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 mL EM-4, P3 = 1000 g elephant grass + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 mL lignocellulolytic bacteria. The analysis results showed that addition of starter significantly improved the quality of elephant grass silage. The use of starter, particulary lignocellulolytic bacteria, significantly reduced the crude fiber content and increased the organic matter and crude protein content compared to other treatments. Treatment P3 = 1000 g elephant grass + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 mL lignocellulolytic. Produced the best results, with the lowest crude fiber content and the highest crude protein and organic matter content. Based on these results, it can be concluded that the addition of lignocellulolytic bacteria can optimally improve the nutritional quality of elephant grass silage. ABSTRAK Silase merupakan bahan pakan yang diproduksi melalui teknologi fermentasi untuk diawetkan serta mempertahankan kualitas kimia yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan starter yang berbeda, yaitu ragi tempe, EM-4 dan bakteri lignoselulolitik, terhadap kualitas dan komposisi kimia silase rumput gajah (Cenchrus purpureus (Schumach.) Morrone). Penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan lima ulangan, sehingga menghasilkan 20 satuan percobaan. Perlakuan yang digunakan meliputi P0 (1000 g rumput gajah + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 mL air), P1 (1000 g rumput gajah + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 g ragi tempe), P2 (1000 g rumput gajah + 100 g molasses + 25 mL molasses + 25 mL EM-4), P3 (1000 g rumput gajah + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 mL bakteri lignoselulolitik). Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan starter secara signifikan meningkatkan kualitas silase rumput gajah. Penggunaan starter, terutama bakteri lignoselulolitik menurunkan kadar serat dan meningkatkan kadar bahan organik serta protein kasar secara nyata dan meningkatkan kadar bahan organik serta protein kasar secara nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Perlakuan P3 (1000 g rumput gajah + 100 g pollard + 25 mL molasses + 25 mL bakteri ligonselulolitik) memberikan hasil terbaik, dengan kadar serat kasar terendah dan kadar protein kasar serta bahan organik tertinggi. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa penambahan bakteri lignoselulolitik mampu meningkatkan kualitas kimia silase rumpu gajah secara optimal.

Page 12 of 13 | Total Record : 130