cover
Contact Name
Karisma Dewi Puspasari
Contact Email
karisma@uit-lirboyo.ac.id
Phone
+6281234680877
Journal Mail Official
karisma@uit-lirboyo.ac.id
Editorial Address
Jl. KH Wachid Hasyim No.62, Bandar Lor, Kec. Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur
Location
Kab. kediri,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
ISSN : -     EISSN : 30632188     DOI : https://doi.org/10.33367/jtpigc.vXiX.XXXX
Focus: Theory and practice/ application of Islamic Guidance and Counseling in Social setting Scope: Development of theory and measurements of guidance and counseling in Islamic context, application of Islamic guidance and counseling in social setting, Current issues of mental health in Muslim communities in Southeast Asia and its treatment in the context of Islam. Research that aims to increase knowledge related to Islamic counseling in social settings in southeast Asian communities that have similar demographic characteristics at the international level is a priority to be published.
Articles 36 Documents
Guidance and Counseling, Academic Pathology, Social Interaction, Higher Education. Defi Astriani; Hengki Hendra Pradana
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/jtpigc.v3i1.9164

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi fenomena patologi akademik melalui analisis pola interaksi sosial di lingkungan perguruan tinggi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, studi ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku maladaptif dalam struktur birokrasi dan relasi kuasa yang menghambat iklim akademik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap dosen dan mahasiswa di universitas. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penyalahgunaan otoritas, konflik interpersonal terselubung, dan kakuya hierarki birokrasi menjadi faktor utama pemicu stres serta penurunan kesejahteraan psikologis warga kampus. Temuan ini menegaskan bahwa patologi akademik bukan sekadar masalah individu, melainkan isu sistemik yang memerlukan intervensi strategis. Implikasi penelitian menunjukkan perlunya revitalisasi peran bimbingan konseling melalui model konseling ekosistemik. Praktisi konselor pendidikan diharapkan tidak hanya fokus pada pemulihan mental individu, tetapi juga berperan sebagai mediator dan advokat dalam memperbaiki dinamika organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan literatur bimbingan konseling di level pendidikan tinggi.
The Effectiveness of Artificial Intelligence (AI) Chat-Based Counseling on the Mental Health of Generation Z Students Bety Lailatul Fitriyah; Adkhau Fajar Nurzakiy Fidaus
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/jtpigc.v3i1.9217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas konseling berbasis obrolan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai alternatif untuk mendukung kesehatan mental siswa Generasi Z. Metode yang digunakan adalah riset pustaka dengan menganalisis berbagai artikel jurnal ilmiah, buku, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dalam lima tahun terakhir. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dari berbagai sumber terpercaya seperti Google Scholar dan jurnal internasional, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling berbasis obrolan AI memiliki keunggulan dalam hal kemudahan akses, fleksibilitas waktu, dan anonimitas, sehingga meningkatkan kenyamanan siswa dalam mengungkapkan masalah psikologis mereka. Selain itu, penggunaan chatbot AI terbukti efektif dalam membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan ringan hingga sedang, serta memberikan dukungan emosional awal yang cepat. Namun, keterbatasan dalam memahami emosi secara mendalam dan kurangnya empati merupakan hambatan utama, sehingga layanan ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran konselor profesional. Kesimpulannya, konseling berbasis obrolan AI efektif sebagai sistem dukungan awal dalam membantu kesehatan mental siswa Generasi Z. Integrasi antara teknologi AI dan layanan konseling konvensional merupakan pendekatan yang lebih optimal dalam mengembangkan layanan kesehatan mental di era digital .
Tumbuh Tanpa Ayah: Studi Korelasi Ketidakhadiran Ayah dan Self-Esteem Dewasa Awal Beti Malia Rahma Hidayati; Alfiyaturrohmah
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/jtpigc.v3i1.9256

Abstract

Indonesia ranks third globally in the prevalence of fatherlessness, a phenomenon that significantly impacts children's psychological development. This study aims to analyze the influence of father absence (fatherless) on self-esteem during emerging adulthood (ages 18–25). Using a quantitative approach with a simple linear regression design, the study involved 100 respondents in Telukjambe Timur, Karawang, selected through questionnaire distribution. Data were processed using IBM SPSS version 27 to test validity, reliability, and the significance of the relationship between variables. The results indicate that the majority of respondents experienced moderate (44%) to high (35%) levels of fatherlessness. Correspondingly, 29% of respondents exhibited low to very low levels of self-esteem. Regression analysis confirmed a significant influence between fatherlessness and self-esteem (p = 0.001; R = 0.224), demonstrating that higher levels of fatherlessness correlate with lower self-esteem. These findings underscore the critical importance of paternal involvement in child-rearing to strengthen self-esteem during the transition to adulthood and highlight the need for psychological support for individuals experiencing father absence.
Problematika Komunikasi Keluarga dan Implikasi Terhadap Sikap Remaja Muhammad Ilham Hafidz Hafidz; Frinda Dewi Pertiwi
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/jtpigc.v3i1.9326

Abstract

Keluarga merupakan unit pertama yang memiliki tugas dalam pembentukan kepribadian remaja. Salah satu tugas pembentukan tersebut seperti dalam hal berkomunikasi. Pembentukan komunikasi dalam keluarga memiliki peran penting untuk keharmonisan antar keluarga. Namun faktanya, meningkatnya kesibukan orangtua, penggunaan teknologi digital, serta rendahnya kualitas interaksi dalam keluarga sehingga memunculkan permasalahan komunikasi yang berdampak pada perubahan sikap remaja. Sehingga, menyebabkan munculnya hambatan komunikasi, seperti kurangnya perhatian, kesulitan mengekspresikan emosi, dan perilaku menyimpang Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan komunikasi keluarga serta dampak terhadap remaja. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Selain itu, pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara secara terbuka. Penelitian ini melibatkan 3 subjek yang memiliki permaslaahan komunikasi terhadap orangtua. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya keterbukaan komunikasi keluarga memicu konflik, perilaku menarik diri, serta kecenderungan mencari dukungan emosional di luar keluarga. Oleh karena itu, peningkatan kualitas komunikasi keluarga penting untuk mendukung perkembangan psikologis remaja
Sholawat Sebagai Media Konseling Sufistik di Pondok Pesantren Muhammad Nafi’ Lil Alamin; Moh Kholidul Fahmi Husaini
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/jtpigc.v3i1.9352

Abstract

Di era modern ini konseling sufistik sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap orang untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup yang semakin kompleks khusus nya di lingkungan pondok pesantren. Oleh karena itu, konseling sufistik dikaitkan dengan amaliyah yang biasa dilakukan di pondok pesantren yaitu Sholawat Mahalul Qiyam. Dikaitkan dengan suatu proses ketika santri dalam kesedihan, kegundahan, tekanan, gangguan mental dan ingin sekali memperoleh maghfirah, memperoleh syafa’at memperoleh kemudahan, dan keluasan dalam urusan rezeki, dilapangkan dari kesempitan dan kesulitan, dikabulkan hajatnya, dihindarkan dari bencana maupun untuk memperoleh kebahagiaan dan kemuliaan serta meninggikan derajat dan sebagainya. Tujuan penelitian ini fokus pada pemahaman tentang hakikat sholawat, dalil-dalil yang mengisyaratkan sholawat, keutamaan membaca sholawat, sholawat mahalul qiyam, Tasawuf dan penyembuhan. Dalam penelitian ini  penulis menggunakan metode konten analisis dan observasi lapangan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan datanya adalah dengan mengkaji dan menelaah literatur yang ada relevansinya dengan pembahasan studi ini dan realita yang ada dilapangan.  Salah satu pendekatan yang dianggap tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip psikologi dalam bidang konseling yang menggunakan ajaran-ajaran spiritual dari tradisi sufisme untuk membantu klien mencapai keseimbangan dan kedamaian batin adalah konseling Sufi. Dengan pemahaman dan pandangan tentang konsep konseling sufistik, yang di dalamnya dikemukakan tentang hakikat sholawat, dalil yang mengisyarahkan, dan kaiatan dengan tasawuf dan penyembuhan nya memalui media sholawat mahalul qiyam.
Get to Know More about Fetishism and Strategies Intervention to Increase Quality of Life for Individuals with Fetishistic Disorders Nur Fatwikiningsih; Wahyu Utami; Mentari Marwa; Dyah Mustika Kusuma Winahyu
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/jtpigc.v3i1.9488

Abstract

Fetishism is mostly found in men and not seen in clinical conditions. The number of the victim is few, harmless to the victims, and not dangerous. Many individuals are comfortable with their fetishism and may only seek treatment because of legal or interpersonal pressure. Many studies reported individual with fetishism may experience feelings of guilt, shame, low self esteem, and depression to hide their activities. Individuals with fetishistic disorders need helping to increase their quality of life and how to decrease stigma on a person with fetishistic disorder and fetishistic behavior. The purpose study of literature will review the clinical features of fetishistic disorder, causes fetishistic behaviours, management intervention and support for a person with fetishistic disorders to increase their quality of life. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 suggests making a clear distinction between fetishism (fetishistic behavior) and fetishistic disorder. Fetishistic disorders defined as fantasies, sexual urges and behaviours which cause significant distress or impairment in social, occupational or other important areas of function. Fetishism may be related to specific body parts (hair, foot), non-living objects (pantyhose, baby diapers, bra, silk stockings, silk petticoat,  rubber teat, body parts, leather garments, catheters, silk handkerchiefs), and behaviors (wearing, caressing, stacking, insertion into the rectum, friction, suction, stealing). Various explanations causes fetishistic behaviours and fetishistic disorder including biological, sociocultural, behavioural, psychoanalysis, and cognitive theories. Intervention for future directions will be offered can include behavioural, psychoanalytic, cognitive strategies. 

Page 4 of 4 | Total Record : 36