cover
Contact Name
Arizul Suwar
Contact Email
arizulmbo@gmail.com
Phone
+6285273353038
Journal Mail Official
editoreducalia@gmail.com
Editorial Address
Graha Cyber Media, Jl. KHR Syamsul Arifin No:45 Sukorejo Situbondo Jawa Timur
Location
Kab. situbondo,
Jawa timur
INDONESIA
Educalia: Journal of Educational Research
Published by Cyber Media Indonesia
ISSN : -     EISSN : 29628326     DOI : -
Core Subject : Education,
Educalia: Journal of Educational Research is peer reviewed journal of educational research published by Cyber Media Indonesia. It specializes in education and is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. The languages used in this journal are Indonesia and English. Educalia is an open access journal which means that all content is freely available without charge to the user. Users are allowed to read, download, copy, distribute, print, or use them for any other purpose, without asking permission from the publisher or the author. The articles of this journal are published 2 times a year; January and July.
Articles 30 Documents
Transformasi Pendidikan Islam Pesantren Berbasis Moderasi di Era Disrupsi Arizul Suwar; Wahyu Khairul Ichsan
Educalia: Journal of Educational Research Vol 3 No 2 (2024): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v3i2.334

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi pendidikan Islam pesantren berbasis moderasi beragama dalam menghadapi dinamika era disrupsi yang ditandai oleh percepatan perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan pergeseran nilai budaya. Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam tradisional dihadapkan pada tantangan adaptasi struktural, kultural, dan pedagogis agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas keislamannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis melalui studi literatur dan analisis tematik terhadap sumber-sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi pendidikan Islam pesantren berlangsung melalui tiga dimensi utama, yaitu penguatan nilai moderasi beragama, integrasi kurikulum keislaman dengan kompetensi abad ke-21, serta inovasi tata kelola kelembagaan yang adaptif terhadap perubahan sosial. Moderasi beragama berfungsi sebagai landasan etis dan epistemologis dalam membangun keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara identitas keislaman dan keterbukaan global. Transformasi ini tidak hanya memperkuat daya tahan pesantren dalam menghadapi disrupsi, tetapi juga menegaskan perannya sebagai pusat pembentukan karakter, integrasi sosial, dan rekonstruksi peradaban Islam yang inklusif dan berkelanjutan.
Implementasi Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Pembelajaran Pendidikan Islam di Era Digital Afdal Khairul
Educalia: Journal of Educational Research Vol 3 No 2 (2024): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v3i2.335

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam pembelajaran Pendidikan Islam sebagai upaya pembentukan karakter peserta didik di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) melalui analisis tematik terhadap Al-Qur’an, literatur pendidikan Islam klasik dan kontemporer, serta artikel ilmiah relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi nilai Qur’ani dalam pembelajaran masih cenderung bersifat normatif-konseptual dan belum terinternalisasi secara optimal dalam sikap dan perilaku peserta didik. Berbagai kendala ditemukan, antara lain keterbatasan kompetensi guru, lemahnya integrasi nilai dalam kurikulum, dominasi metode pembelajaran tradisional, pengaruh budaya digital, serta minimnya dukungan keluarga dan masyarakat. Penelitian ini menegaskan perlunya pendekatan sistemik dan integratif agar pendidikan nilai Qur’ani mampu berfungsi secara efektif dalam membentuk karakter peserta didik secara berkelanjutan.
Pesantren dan Arah Masa Depan Pendidikan Bahasa Arab Agustia Rahmaini; Riska Suriyani
Educalia: Journal of Educational Research Vol 3 No 2 (2024): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v3i2.337

Abstract

Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam memiliki kontribusi historis yang signifikan dalam pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia. Namun, dinamika globalisasi, digitalisasi pembelajaran, serta meningkatnya kebutuhan kompetensi komunikatif menghadirkan tantangan baru bagi model pendidikan bahasa Arab yang selama ini berorientasi pada penguasaan gramatikal dan pembacaan teks klasik. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara konseptual posisi pesantren dalam lanskap pendidikan bahasa Arab kontemporer serta merumuskan arah masa depan yang relevan dengan tuntutan zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan dengan analisis filosofis dan konseptual terhadap literatur terkait pendidikan bahasa dan studi pesantren. Argumen utama artikel ini adalah bahwa masa depan pendidikan bahasa Arab di pesantren tidak terletak pada penggantian tradisi, melainkan pada sintesis antara kekuatan epistemologis klasik dan penguatan kompetensi komunikatif serta literasi digital. Artikel ini berkontribusi dalam merumuskan kerangka teoretis pengembangan pendidikan bahasa Arab berbasis pesantren yang adaptif, integratif, dan berkelanjutan.
Model Pendidikan Pesantren dan Kontribusinya bagi Pendidikan Islam Nasional Karuni Humairah Arta; Mandaliya Ulfa Daulay; Erna Wati
Educalia: Journal of Educational Research Vol 3 No 2 (2024): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v3i2.338

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis model pendidikan pesantren dan kontribusinya terhadap pendidikan Islam nasional melalui pendekatan kajian pustaka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur dengan teknik analisis isi dan analisis tematik terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan, termasuk buku akademik, artikel jurnal, dan dokumen kebijakan pendidikan. Fokus kajian diarahkan pada pemetaan karakteristik model pendidikan pesantren, pola pembelajaran yang dikembangkan, serta relevansinya dalam konteks sistem pendidikan Islam nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa model pendidikan pesantren memiliki karakter integratif yang memadukan aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam satu ekosistem pendidikan berbasis asrama. Sentralitas keteladanan kiai, pembiasaan nilai melalui kehidupan komunal, serta fleksibilitas kurikulum menjadi kekuatan utama pesantren dalam membentuk karakter dan integritas moral peserta didik. Selain itu, pesantren berkontribusi dalam mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, memperkuat pendidikan karakter, serta mendukung pengembangan institusi pendidikan Islam formal dalam sistem nasional. Secara konseptual, model pendidikan pesantren dapat dipahami sebagai paradigma pendidikan holistik yang relevan untuk memperkaya pendidikan Islam nasional, terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi dan kebutuhan penguatan nilai. Meskipun tidak seluruh elemen strukturalnya dapat direplikasi, prinsip-prinsip dasar pesantren dapat diadaptasi secara selektif untuk mendukung pengembangan sistem pendidikan yang lebih integratif dan berbasis karakter.
Konsep Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif Islam dan Psikologi Perkembangan Nurma Nurma; Melia Sari; Rina Gustina
Educalia: Journal of Educational Research Vol 3 No 2 (2024): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v3i2.339

Abstract

Pendidikan anak usia dini merupakan fase fundamental dalam pembentukan kepribadian, kognitif, dan moral anak. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan anak usia dini dalam perspektif Islam dan psikologi perkembangan melalui pendekatan kajian pustaka. Secara psikologis, masa anak usia dini dikenal sebagai periode emas (golden age) yang ditandai dengan pesatnya perkembangan kognitif, emosional, sosial, dan spiritual. Teori-teori psikologi perkembangan menekankan pentingnya stimulasi, lingkungan yang kondusif, serta pola asuh yang responsif untuk mengoptimalkan potensi anak. Sementara itu, dalam perspektif Islam, pendidikan anak dipandang sebagai amanah yang harus dilaksanakan secara terencana dan berorientasi pada pembentukan akhlak, tauhid, serta keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani. Islam menempatkan keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan utama, dengan penekanan pada keteladanan, pembiasaan, dan internalisasi nilai-nilai moral sejak dini. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat titik temu antara psikologi perkembangan dan pendidikan Islam, khususnya dalam penekanan pada pentingnya stimulasi dini, pembentukan karakter, serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak secara holistik. Dengan demikian, integrasi antara pendekatan psikologis dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan anak usia dini menjadi landasan penting untuk membentuk generasi yang berkarakter, beriman, dan berkembang secara optimal.
Dilema Etika Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan Islam: Mengatasi Academic Misconduct dan Memperkuat Integritas Spiritual Mahasiswa Herwati Herwati
Educalia: Journal of Educational Research Vol 5 No 2 (2026): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v5i2.373

Abstract

The application of Artificial Intelligence (AI) presents significant opportunities in the transformation of Islamic Education. However, the rapid adoption of this technology also raises complex ethical dilemmas and serious challenges to students' academic and moral integrity. This study aims to deeply examine the potential ethical dilemmas arising from the use of AI, specifically related to academic misconduct (academic violation) in the Islamic Education environment, and to formulate strategies to strengthen students' spiritual integrity. Academic misconduct, including plagiarism and cheating, remains a serious problem in higher education. Excessive use of AI risks reducing the capacity for moral reflection and critical thinking, and can trigger student dependence. Employing a qualitative approach through a literature review and ethical analysis, this study examines how Islamic Education should respond to this ethical crisis. The analysis confirms three key findings: First, Islamic Education holds a strategic role as a moral filter and the foundation of spiritual intelligence (tazkiyatun nafs) to guide adolescents and students toward the wise use of technology. Second, Islamic Religious Education (PAI) is required not only to impart knowledge but also to instill values of honesty, justice, and responsibility, which are the pillars of academic integrity. Third, to address academic misconduct, Islamic educational institutions must integrate digital ethics into the PAI curriculum, emphasize moral responsibility in AI usage, and ensure that technology functions merely as an aid (wasīlah) that reinforces, rather than replaces, deep understanding, creativity, and the character formation process. This ethical integration ultimately aims for students to achieve the paramount goal of Islamic education: the formation of insān kāmil human beings who excel intellectually and spiritually. Abstrak Penerapan Kecerdasan Buatan (AI) membawa peluang signifikan dalam transformasi Pendidikan Islam. Namun, adopsi teknologi yang pesat ini juga memunculkan dilema etika yang kompleks dan tantangan serius terhadap integritas akademik dan moral mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam potensi dilema etika yang timbul dari penggunaan AI, khususnya terkait academic misconduct (pelanggaran akademik) di lingkungan Pendidikan Islam, serta merumuskan strategi untuk memperkuat integritas spiritual mahasiswa. Academic misconduct, masih menjadi masalah serius dalam pendidikan tinggi. Penggunaan AI secara berlebihan berisiko mengurangi kemampuan refleksi moral, berpikir kritis, dan dapat memicu ketergantungan mahasiswa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kajian ini menganalisis bagaimana Pendidikan Islam harus merespons krisis etika ini. Hasil analisis menegaskan bahwa; pertama. Pendidikan Islam memiliki peran strategis sebagai filter moral dan fondasi kecerdasan spiritual (tazkiyatun nafs) untuk membimbing remaja dan mahasiswa menggunakan teknologi secara bijak. Kedua, PAI dituntut tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab yang merupakan pilar integritas akademik. Ketiga, untuk mengatasi academic misconduct, lembaga pendidikan Islam harus mengintegrasikan etika digital ke dalam kurikulum PAI, menekankan tanggung jawab moral dalam penggunaan AI, dan memastikan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu (wasīlah) yang memperkuat, bukan menggantikan, pemahaman mendalam, kreativitas, dan proses pembentukan karakter. Integrasi yang etis ini bertujuan agar mahasiswa mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yaitu menjadi insān kāmil manusia yang unggul secara intelektual dan spiritual.
Maze Game: Improving Knowledge on Prevention of Early Childhood Sexual Violence Dahlia Dahlia
Educalia: Journal of Educational Research Vol 5 No 2 (2026): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v5i2.374

Abstract

Knowledge of prevention of sexual violence owned by group B children in TK Pertiwi 58 Kwasen Srimartani Piyungan Bantul has not reached the 82% success indicator set as the target score. This is because teachers still have difficulty explaining material related to sexuality because of the limited media they have. This study aims to determine the application of maze games can increase knowledge of preventing child sexual violence. The type of research used is descriptive qualitative. The research subjects were 15 children of group B in TK Pertiwi 58 Kwasen Srimartani Piyungan Bantul. The data collection technique is in the form of observation and assignment. The data analysis technique used qualitative and quantitative approaches. The results showed that there was an increase of 25% from the initial score of 72.8%. This shows that the maze game can increase the knowledge of preventing sexual violence against children in group B in TK Pertiwi 58 Kwasen Srimartani Piyungan Bantul. Abstrak Pengetahuan mengenai pencegahan kekerasan seksual yang dimiliki oleh anak-anak kelompok B di TK Pertiwi 58 Kwasen Srimartani Piyungan Bantul belum mencapai skor 82% yang menjadi indikator keberhasilan penelitian ini. Hal ini disebabkan oleh kesulitan guru dalam menjelaskan materi terkait seksualitas akibat keterbatasan media pembelajaran yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan permainan labirin (maze game) dapat meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 15 anak kelompok B di TK Pertiwi 58 Kwasen Srimartani Piyungan Bantul. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan pemberian tugas, sedangkan teknik analisis data menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan sebesar 25% dari skor awal 72,8%. Hal ini menunjukkan bahwa permainan labirin dapat meningkatkan pengetahuan mengenai pencegahan kekerasan seksual pada anak kelompok B di TK Pertiwi 58 Kwasen Srimartani Piyungan Bantul.
Pendidikan Islam dan Ekopedagogi Abdurrahman Wahid untuk Pembentukan Karakter Ekologis di Tengah Krisis Lingkungan Indonesia Nurul Atikoh; M. Khoirul Hadi al Asyari; Ainus Sicha
Educalia: Journal of Educational Research Vol 5 No 2 (2026): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v5i2.375

Abstract

The escalating environmental crisis manifested in floods, landslides, and air pollution demands that Islamic education go beyond moral character formation toward the development of ecological character. In this context, Abdurrahman Wahid’s (Gus Dur) concept of ecopedagogy, which integrates humanism, pluralism, and ecological responsibility, offers a relevant ethical framework for contemporary Islamic education. However, a research gap remains due to the limited studies that systematically connect Gus Dur’s educational thought with ecological education, particularly within the context of Indonesia’s current environmental disasters. The novelty of this study lies in reformulating Gus Dur’s ecopedagogy as a model for ecological character formation in Islamic education that is responsive to modern environmental challenges. The urgency of this research is driven by the need for educational institutions to produce generations who act as active agents of environmental preservation rather than passive recipients of theoretical knowledge. This study employs a literature review method using a thinker-oriented analysis and theoretical synthesis. The findings indicate that Gus Dur’s humanistic, egalitarian, and environmentally ethical ecopedagogy holds strong potential as a model for addressing Indonesia’s ecological crisis through Islamic education. Abstrak Krisis lingkungan yang kian meningkat, seperti banjir, longsor, dan polusi udara, menuntut pendidikan Islam untuk tidak hanya membentuk karakter moral, tetapi juga karakter ekologis. Dalam konteks ini, gagasan ekopedagogi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menekankan integrasi nilai kemanusiaan, keberagaman, dan tanggung jawab terhadap lingkungan menawarkan kerangka etis yang relevan. Namun, masih terdapat celah penelitian berupa minimnya kajian yang menghubungkan pemikiran pendidikan Gus Dur dengan konsep pendidikan ekologi secara sistematis, serta kurangnya analisis yang menempatkannya dalam konteks krisis ekologis kontemporer di Indonesia. Novelty penelitian ini terletak pada formulasi ekopedagogi Gus Dur sebagai model pembentukan karakter ekologis dalam pendidikan Islam yang responsif terhadap tantangan lingkungan modern. Urgensi kajian ini didorong oleh kebutuhan mendesak dunia pendidikan untuk melahirkan generasi yang berperan aktif dalam pelestarian alam. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan analisis pemikiran tokoh dan sintesis teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekopedagogi Gus Dur berpotensi kuat menjadi model pendidikan Islam yang berorientasi pada etika lingkungan dan keberlanjutan.
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi di Sentra Persiapan pada Pendidikan Anak Usia Dini Maiyida Safita; Penia Lisa Ogemi
Educalia: Journal of Educational Research Vol 5 No 2 (2026): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v5i2.376

Abstract

This study aims to examine the implementation of differentiated learning in early childhood preparation centers as an effort to create learning that is appropriate to the individual developmental needs of students. Differentiated learning is a learning approach that provides services according to the needs, interests, readiness, and learning styles of children. This study discusses the implementation of differentiated learning in early childhood preparation centers. Using descriptive qualitative methods, data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that teachers implemented differentiated learning by adjusting the content, process, and learning products. The strategies used included flexible grouping, providing activity options, and using a variety of media according to children's characteristics. This implementation had a positive impact on learning motivation, children's engagement, and early literacy development. Thus, differentiated learning has proven relevant in supporting meaningful learning in early childhood preparation centers. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sentra persiapan pada anak usia dini sebagai upaya menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan individu peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pembelajaran yang memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan, minat, kesiapan, dan gaya belajar anak. Penelitian ini membahas implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sentra persiapan pada satuan pendidikan anak usia dini. Melalui metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi melalui penyesuaian konten, proses, dan produk pembelajaran. Strategi yang digunakan meliputi pengelompokan fleksibel, penyediaan pilihan aktivitas, dan penggunaan media yang bervariasi sesuai karakteristik anak. Implementasi ini berdampak positif terhadap motivasi belajar, keterlibatan anak, serta perkembangan literasi awal. Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi terbukti relevan dalam mendukung pembelajaran bermakna di sentra persiapan pada anak usia dini.
Ibn Khaldun's Thoughts on Islamic Educational Governance: Uniting Science and Ethics in Leadership Practice Mokhamad Yaurizqika Hadi; Dhea Queenta Auliya; Su’ud Intan; Masaayu Huril Ain Kuni Afifah
Educalia: Journal of Educational Research Vol 5 No 2 (2026): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v5i2.377

Abstract

This study explores Ibn Khaldun's ideas on Islamic educational management by emphasizing the integration of knowledge and morality in educational leadership practices. As an influential Muslim intellectual in the fields of sociology, education, and the philosophy of history, Ibn Khaldun viewed knowledge as the main pillar of civilizational progress, while morality functions as the ethical compass guiding its application. This research employs a qualitative approach through a literature review, focusing primarily on Ibn Khaldun’s monumental work, the Muqaddimah, as well as other relevant scholarly sources. The findings reveal that Ibn Khaldun conceptualized education as a holistic process aimed at developing individuals who are not only intellectually competent but also morally mature. In the context of educational leadership, he highlighted the importance of exemplary leadership, justice, ethical responsibility, and the cultivation of virtuous character. The practical implications of these findings suggest that contemporary Islamic educational institutions can adopt Ibn Khaldun’s framework by strengthening value-based leadership, integrating moral education into institutional governance, and fostering a learning environment that balances intellectual excellence with ethical integrity. Consequently, the integration of knowledge and morality, as formulated by Ibn Khaldun, provides a relevant and strategic foundation for developing a holistic and sustainable model of Islamic educational management in the modern era. Abstrak Penelitian ini mengkaji pemikiran Ibn Khaldun tentang manajemen pendidikan Islam dengan menekankan integrasi antara ilmu pengetahuan dan moralitas dalam praktik kepemimpinan pendidikan. Sebagai seorang intelektual Muslim yang berpengaruh dalam bidang sosiologi, pendidikan, dan filsafat sejarah, Ibn Khaldun memandang ilmu pengetahuan sebagai pilar utama kemajuan peradaban, sementara moralitas berfungsi sebagai kompas etis dalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan menelaah karya monumental Ibn Khaldun, yaitu Muqaddimah, serta berbagai sumber ilmiah pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn Khaldun memandang pendidikan sebagai proses holistik yang bertujuan untuk membentuk individu yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral. Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, ia menekankan pentingnya keteladanan pemimpin, keadilan, tanggung jawab etis, serta pembinaan karakter yang luhur. Implikasi praktis dari penelitian ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam kontemporer dapat mengadopsi kerangka pemikiran Ibn Khaldun dengan memperkuat kepemimpinan berbasis nilai, mengintegrasikan pendidikan moral dalam tata kelola lembaga, serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyeimbangkan keunggulan intelektual dengan integritas moral. Dengan demikian, integrasi antara ilmu pengetahuan dan moralitas sebagaimana dirumuskan oleh Ibn Khaldun menjadi landasan penting dalam pengembangan model manajemen pendidikan Islam yang holistik dan berkelanjutan di era modern.

Page 3 of 3 | Total Record : 30