cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 591 Documents
Faktor Predisposisi Yang Mempengaruhi Financial Toxicity Pada Pasien Kanker Di RSUD Brigjen H. Hasan Basri Kandangan Novie Ahdiyat; Yati Afianti; Hiryadi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.330

Abstract

Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi beban biaya pengobatan yang sangat besar. Kondisi ini menimbulkan Financial toxicity, yaitu tekanan finansial akibat biaya perawatan kanker yang berdampak pada kualitas hidup, kepatuhan pengobatan, dan hasil klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor predisposisi yang memengaruhi Financial toxicity pada pasien kanker di RSUD Brigjen H. Hasan Basri Kandangan, sekaligus mengidentifikasi rata-rata tingkat Financial toxicity dan faktor yang paling dominan berpengaruh. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) dan teknik total sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner Comprehensive Score for Financial toxicity (COST), sedangkan analisis dilakukan melalui uji univariat, bivariat dengan korelasi Spearman, serta multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara Financial toxicity dengan pendapatan (p=0,000), tingkat pendidikan (p=0,002), dan metastasis (p=0,000). Rata-rata skor Financial toxicity responden berada pada kategori tinggi, menandakan besarnya beban finansial yang ditanggung pasien. Analisis regresi logistik menegaskan bahwa pendapatan merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi Financial toxicity. Temuan ini menjawab seluruh pertanyaan penelian tentang faktor predisposisi yang signifikan adalah pendapatan, pendidikan, dan metastasis; Rerata Financial toxicity berada pada kategori tinggi; dan Pendapatan menjadi determinan utama. Hasil ini menekankan pentingnya intervensi kebijakan, perluasan cakupan jaminan kesehatan, serta edukasi finansial bagi pasien berpenghasilan rendah untuk menekan dampak Financial toxicity dan meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.
Analisis Faktor Kinerja Perawat Dengan Kepuasan Pasien Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Pambalah Batung Patriyani; Yati Afianti; Hiryadi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.331

Abstract

Kepuasan pasien merupakan indikator penting mutu pelayanan rumah sakit sekaligus cerminan langsung dari kinerja perawat yang menjadi tenaga kesehatan dengan interaksi paling intensif. Di RSUD Pambalah Batung, nilai Indeks Kepuasan Masyarakat tahun 2023 sebesar 79,56 poin menunjukkan kategori “Baik”, namun masih terdapat kesenjangan mutu pada aspek kompetensi pelaksana. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kinerja perawat dengan kepuasan pasien rawat inap serta mengidentifikasi faktor kinerja yang paling dominan berpengaruh. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 138 pasien rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi. Kinerja perawat diukur melalui lima dimensi utama yaitu kualitas kerja, komunikasi, ketepatan waktu, kemampuan, dan inisiatif, sedangkan kepuasan pasien dinilai dengan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk menentukan faktor dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai kinerja perawat baik pada seluruh dimensi, dan sebagian besar pasien menyatakan puas terhadap pelayanan keperawatan (80,4%). Analisis statistik membuktikan bahwa semua dimensi kinerja berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien (p<0,05). Inisiatif perawat muncul sebagai faktor paling dominan dengan nilai Exp(B)=7,719 (CI 95%=2,477–24,054; p<0,001), yang berarti pasien delapan kali lebih berpeluang puas apabila dilayani oleh perawat dengan inisiatif tinggi. Temuan ini sejalan dengan Expectancy-Disconfirmation Theory dari Oliver yang menegaskan bahwa kepuasan timbul ketika pelayanan memenuhi atau melampaui harapan, serta memperkuat teori caring Jean Watson yang menekankan pentingnya empati, kepedulian, dan komunikasi terapeutik dalam membentuk pengalaman positif pasien. Dengan demikian, peningkatan mutu pelayanan keperawatan perlu diarahkan pada penguatan sikap proaktif, komunikasi empatik, dan perilaku caring, di samping kompetensi teknis, agar kepuasan pasien dapat semakin optimal.
Gambaran Pengetahuan Dan Kepatuhan Pasien Pra Operasi Dalam Menjalankan Puasa Fazri Saputra Rafi; Emiliani Elsi Jerau; Danang Tri Yudono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.332

Abstract

Puasa praoperasi sangat penting untuk mencegah komplikasi anestesi, terutama aspirasi. Ketidakpatuhan pasien terhadap instruksi ini meningkatkan risiko komplikasi selama dan setelah operasi. Penelitian ini bertujuan mengukur pengetahuan dan kepatuhan pasien praoperasi terhadap puasa di RSUD dr. Soedirman Kebumen, lalu memberikan rekomendasi untuk meningkatkan edukasi. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 133 responden dipilih melalui teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri atas 14 pertanyaan pengetahuan dan 10 pertanyaan kepatuhan. Penelitian ini menemukan pada puasa pra operasi bahwa 90 responden (67,7%) memiliki pengetahuan yang baik. Seluruh responden sebanyak 133 responden (100%) patuh terhadap instruksi puasa. Masih ada sebagian pasien yang pengetahuannya belum optimal, dipengaruhi oleh pendidikan dan usia. Diperlukan edukasi praoperasi yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman pasien, yang dapat menjadi acuan bagi rumah sakit.
Efektivitas Putih Telur Ayam Terhadap Penyembuhan Luka Perineum Ibu Nifas Di TPMB Jayanti Cikarang Utara Kabupaten Bekasi 2025 Marlina; Neneng Julianti; Ida Widaningsih; Deni Alamsah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.333

Abstract

Latar Belakang : Luka perineum pada ibu nifas pascapersalinan dapat menimbulkan nyeri dan risiko infeksi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh putih telur ayam terhadap penyembuhan luka perineum di TPMB Jayanti, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi Tahun 2025. Subyek dan Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan satu kelompok pretest–posttest. Lokasi penelitian adalah di TPMB Jayanti, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Populasi penelitian adalah seluruh ibu nifas dengan luka perineum, sedangkan sampel berjumlah 30 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen adalah pemberian putih telur ayam, sedangkan variabel dependen adalah tingkat penyembuhan luka perineum. Instrumen pengukuran menggunakan lembar observasi dengan skor REEDA (Redness, Edema, Ecchymosis, Discharge, Approximation). Analisis data dilakukan secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon signed-rank dengan tingkat signifikansi 95%.. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara skor REEDA sebelum dan sesudah pemberian putih telur ayam (Z = -5,396; p = 0,000). Nilai effect size yang dihitung dari hasil uji Wilcoxon adalah r = 0,70 (95% CI = 0,51–0,82; p = 0,000), yang termasuk kategori efek besar. Sebanyak 96,7% responden mengalami penyembuhan luka perineum secara normal (≤ 7 hari). Kesimpulan: Pemberian putih telur ayam terbukti berpengaruh signifikan dalam mempercepat penyembuhan luka perineum pada ibu nifas. Temuan ini mendukung pemanfaatan nutrisi sederhana berbasis protein hewani sebagai bagian dari upaya perawatan pascapersalinan.
Efektivitas Konseling MPASI Terhadap Pengetahuan Ibu Pada Bayi Usia 6–12 Bulan di Posyandu Karangsari Bekasi 2025 Marlinda; Neneng Julianti; Ida Widaningsih; Deni Alamsah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.334

Abstract

Latar Belakang: Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 6–12 bulan. MPASI harus diberikan sesuai waktu, jenis, tekstur, dan porsi yang dianjurkan agar dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi secara optimal. Namun, kenyataannya masih banyak ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai praktik pemberian MPASI, sehingga berisiko menimbulkan masalah gizi maupun hambatan tumbuh kembang anak. Upaya edukasi melalui konseling kesehatan di posyandu diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan ibu terkait pemberian MPASI yang benar. Tujuan: Menganalisis pengaruh konseling MPASI terhadap pengetahuan ibu dalam memberikan MPASI pada bayi usia 6–12 bulan. Subjek dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimen menggunakan pendekatan one- group pretest-posttest. Penelitian dilaksanakan di Posyandu Karang Sari 9, Cikarang Timur, pada tahun 2025 dengan jumlah responden sebanyak 30 ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan, dipilih melalui total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup berjumlah 20 item. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebelum diberikan konseling, sebagian besar responden memiliki pengetahuan dalam kategori cukup (46,6%) dan kurang (36,7%). Setelah konseling, terjadi peningkatan pengetahuan, dengan 66,7% responden berada pada kategori baik. Hasil analisis uji t menunjukkan rata-rata skor pengetahuan ibu meningkat dari 64,17 (SD = 13,651) pada pretest menjadi 84,17 (SD = 7,686) pada posttest, dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini membuktikan bahwa konseling MP- ASI berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang MP-ASI pada bayi usia 6–12 bulan di Posyandu Karang Sari tahun 2025. Kesimpulan: Konseling MPASI terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pemberian MPASI pada bayi usia 6–12 bulan. Intervensi ini dapat dijadikan strategi edukasi dalam program posyandu untuk mendukung praktik pemberian MPASI yang tepat.
Hubungan Dukungan Suami, Pengetahuan Dan Sikap Akseptor KB PUS Terhadap Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang Di Wilayah Kerja Puskesmas Minggir Helisa Layyinatusshyfa; Esitra Herfanda; Fathiyatur Rohmah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.335

Abstract

Angka penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Indonesia masih tergolong rendah, padahal metode ini lebih efektif dalam mencegah kehamilan jangka panjang, banyak akseptor KB PUS yang menghadapi kendala dalam memilih metode kontrasepsi. Beberapa di antaranya disebabkan oleh kurangnya dukungan dari suami, rendahnya tingkat pengetahuan, serta sikap yang kurang mendukung terhadap penggunaan kontrasepsi. Hal ini mengakibatkan rendahnya tingkat partisipasi PUS dalam program KB, yang pada gilirannya dapat memengaruhi keberhasilan program KB secara nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan suami, pengetahuan, dan sikap akseptor KB PUS terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang di wilayah kerja Puskesmas Minggir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 105 responden pasangan usia subur (PUS) yang dipilih secara acak. Variabel independen meliputi dukungan suami, pengetahuan, dan sikap ibu; sedangkan variabel dependen adalah pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang. Hasil penelitian ini sesuai uji statistik menggunakan chi-square sehingga menunjukkan bahwa mayoritas responden memilih metode non-MKJP (55,2%). Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan pemilihan MKJP (p-value = 0,000; OR = 8,951), pengetahuan ibu dengan pemilihan MKJP (p-value = 0,005; OR = 3,414), serta sikap ibu dengan pemilihan MKJP (p-value = 0,000; OR = 4,741). Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan suami, pengetahuan, dan sikap ibu memiliki pengaruh signifikan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan edukasi dan konseling kepada pasangan usia subur mengenai MKJP.
Hubungan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang ASI Eksklusif Dengan Produksi ASI Di Wilayah Kerja Puskesmas Turi Sleman Yogyakarta Syarah Khairunnisa Ramadhani; Fathiyatur Rohmah; Eny Fitriahadi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.336

Abstract

Produksi Air Susu Ibu (ASI) yang tidak optimal pada masa nifas menjadi masalah penting yang dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Rendahnya produksi ASI sering dipengaruhi oleh faktor pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI Eksklusif dan praktik menyusui yang benar. Data WHO tahun 2024 menunjukkan hanya 48% bayi usia di bawah enam bulan memperoleh ASI eksklusif, sedangkan cakupan di Indonesia sebesar 74,73%. Kabupaten Sleman memiliki cakupan tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 88,10%. Studi pendahuluan di Puskesmas Turi Sleman terdapat 2 ibu nifas memiliki pengetahuan baik, dan 3 ibu nifas memiliki pengetahuan cukup tentang ASI eksklusif, serta seluruhnya memiliki produksi ASI yang lancar. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan ibu nifas tentang ASI eksklusif dengan produksi ASI di wilayah kerja Puskesmas Turi Sleman. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 103 ibu nifas, dengan sampel 51 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen berupa kuesioner, dan analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu nifas tentang ASI eksklusif dengan produksi ASI, dengan nilai p value = 0,005 (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini terdapat Hubungan Pengetahuan Ibu Nifas tentang ASI Eksklusif dengan Produksi ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Turi Sleman. Disarankan kepada ibu nifas dapat meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya ASI eksklusif melalui layanan konseling, serta mengikuti penyuluhan atau konseling laktasi dan menerapkan praktik menyusui yang tepat agar produksi ASI tetap optimal.
Gambaran Kejadian Menggigil Pada Pasien Post Anestesi Spinal Di Ruang Instalasi Bedah Sentral RS Bhayangkara Ruwa Jurai Bandar Lampung A. Zulkifli; Danang Tri Yudono; Martyarini Budi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.337

Abstract

Menggigil merupakan komplikasi umum pasca anestesi spinal yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, peningkatan kebutuhan oksigen, dan risiko kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kejadian menggigil pada pasien post anestesi spinal berdasarkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), dan lama operasi. Desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di IBS RS Bhayangkara Ruwa Jurai Bandar Lampung pada April 2025 dengan 97 responden melalui teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi Crossley & Mahajan Shivering Scale. Hasil menunjukkan kejadian menggigil paling banyak terjadi pada pasien usia lanjut, perempuan, IMT rendah, dan durasi operasi 60 menit. Derajat menggigil terbanyak adalah derajat 1 dan 2. Faktor usia, jenis kelamin, IMT, dan lama operasi berpengaruh terhadap kejadian menggigil. Hasil ini dapat menjadi dasar penyusunan SOP penanganan menggigil di ruang operasi.
Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Sisa Makanan Dan Estimasi Biaya Pemborosan Makanan Pada Pasien Rawat Inap Kelas III Di RS Bhayangkara Tk.I Pusdokkes Polri Jakarta Tahun 2025 Rachmi Wijayanti; Lilis Lisnawati; Enrico Adhitya Rinaldi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.338

Abstract

Sisa makanan yang tidak dikonsumsi oleh pasien mengakibatkan kebutuhan gizi pasien tidak terpenuhi dan menyebabkan adanya biaya yang terbuang sehingga anggaran makanan jadi kurang efisiensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor – faktor yang berhubungan dengan sisa makanan dan Estimasi Biaya Pemborosan Makanan pada Pasien Rawat Inap Kelas III di RS Bhayangkara Tk.I Pusdokkes Polri Jakarta.. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional, melibatkan 370 responden pasien rawat inap kelas III melalui observasi sisa makanan dengan metode comstock dan pengisian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di RS Bhayangkara Tk.I Pusdokkes Polri Jakarta Tahun 2025 sebanyak 20,53%. Berdasarkan jenisnya, sisa makanan terdiri dari makanan pokok 26,37%, lauk hewani 18,25%, lauk nabati 20,93%, sayur 21,30%, buah 11,87% dan snack 9,25%, estimasi biaya pemborosan makanan pada pasien rawat inap kelas III sebanyak Rp. 18.068,54,- per orang per hari. Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik responden (usia dan pendidikan), penampilan makanan, rasa makanan, makanan dari luar rumah sakit terhadap sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III. Tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik responden (jenis kelamin), jenis diet dan sikap petugas terhadap sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rata- rata sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di RS Bhayangkara Tk.I Pusdokkes Polri Jakarta Tahun 2025 sebanyak 20,53% dengan sisa makanan terbanyak pada jenis makanan pokok dan sayur dengan estimasi biaya pemborosan diperkirakan mencapai adalah Rp. 84.867.932,38, dalam 1 bulan.
Hubungan Usia Dan Lama Operasi Dengan Kejadian Shivering Pada Pasien Pasca Spinal Anestesi (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara Bintang Ramadhan; Asmat Burhan; Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.339

Abstract

Pendahuluan: Shivering merupakan komplikasi umum pasca spinal anestesi yang dapat mengganggu kenyamanan pasien dan meningkatkan kebutuhan oksigen tubuh. Faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian shivering antara lain usia dan lama operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia dan lama operasi dengan derajat shivering pada pasien post spinal anestesi tindakan sectio caesarea. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 50 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling di RS Emanuel Banjarnegara. Data dikumpulkan melalui lembar observasi derajat shivering menurut kriteria Alfonsi dan dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden berusia 26–35 tahun (60%) dan menjalani operasi ≤ 60 menit (66%). Derajat shivering terbanyak adalah derajat 1 (40%). Hasil uji Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan derajat shivering (ρ = 0,470; p = 0,001), serta antara lama operasi dan derajat shivering (ρ = 0,546; p = 0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan lama operasi dengan derajat shivering pada pasien pasca spinal anestesi sectio caesarea. Pasien usia produktif dan dengan durasi operasi singkat cenderung mengalami shivering ringan atau tidak sama sekali.