cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 659 Documents
Hubungan Aktivitas Sedentari Dan Kualitas Tidur Dengan Tingkat Konsentrasi Pelajar Di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta Yulianto, Elga Armelia; Irfan, Muhammad
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.658

Abstract

Latar Belakang: Gaya hidup sedentari dan kualitas tidur yang buruk semakin sering ditemukan pada pelajar dan diduga memengaruhi fungsi kognitif, khususnya konsentrasi belajar. Namun, hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang beragam. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan aktivitas sedentari dan kualitas tidur dengan tingkat konsentrasi pelajar. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada pelajar SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta menggunakan teknik purposive sampling. Aktivitas sedentari diukur dengan ASAQ, kualitas tidur dengan PSQI, dan konsentrasi dengan Grid Concentration Test. Analisis menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linier berganda. Hasil: Tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas sedentari dan konsentrasi (p = 0,513), maupun antara kualitas tidur dan konsentrasi (p = 0,249). Analisis regresi juga menunjukkan kedua variabel tidak berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi (p > 0,05). Kesimpulan: Secara simultan, aktivitas sedentari dan kualitas tidur tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat konsentrasi pelajar.
Interaksi Jenis Kelamin, Indeks Massa Tubuh, Perilaku Menetap (Sedentary Behavior) Terhadap Hipertensi Pada Lansia, Serta Dampaknya Pada Kualitas Hidup Safitri, Amanda Indah; Nurhayati, Ummy A’isyah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.659

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia dan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular apabila tidak dikendalikan dengan baik. Salah satu faktor resiko hipertensi adalah jenis kelamin, IMT, perilaku menetap serta hal tersebut berdampak pada kualitas hidup lansia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi jenis kelamin, indeks massa tubuh, perilaku menetap (sedentary behavior) terhadap risiko hipertensi lansia, serta dampaknya pada kualitas hidup. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan rancangan jenis studi observasional. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik korelasi. Subjek dalam penelitian ini adalah lansia dengan hipertensi di Dusun Gluntung Kidul dan Dusun Gumulan yang diambil secara consecutive sampling, dengan cara pengambilan data menggunakan kuisioner. Jumlah responden sebanyak 63 orang lansia hipertensi yang dilakukan pengukuran dan wawancara. Hasil: Hasil menunjukan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin, IMT terhadap hipertensi sedangkan perilaku menetap tidak memiliki hubungan signifikan terhadap hipertensi setelah di uji Chi-square dengan nilai (p>0,05). Uji Ordinal Logistik Regression menunjukan hanya jenis kelamin yang berhubungan terhadap hipertensi dengan nilai (p=0,001). Uji Multipel Linear Regression menunjukan hanya perilaku menetap yang berhubungan terhadap kualitas hidup dengan nilai (p=0,035). Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa jenis kelamin dan IMT berhubungan dengan hipertensi. Sementara itu, perilaku menetap tidak berhubungan dengan hipertensi, tetapi menjadi faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup lansia hipertensi.
Perbedaan Pengaruh Permainan Tradisional Congklak Dan Playdough Terhadap Fasilitasi Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun Lazina, Nabila Zahara; Wulandari, Rizky; Ariyanto, Andry
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.660

Abstract

Latar belakang : Anak usia dini berada pada masa emas dengan perkembangan motorik halus yang berlangsung pesat, terutama pada usia 5–6 tahun yang ditandai dengan kemampuan menulis, menggambar, dan menggunting sebagai kesiapan masuk sekolah. Stimulasi yang tepat diperlukan karena keterlambatan motorik halus dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari anak. Salah satu bentuk stimulasi yang dapat diberikan adalah play therapy melalui permainan tradisional congklak dan playdough. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan tradisional congklak dan playdough terhadap fasilitasi perkembangan motorik halus anak usia 5–6 tahun serta membandingkan perbedaan pengaruh antara kedua jenis permainan tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 38 anak usia 5–6 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok. Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan total 10 kali pertemuan. Pengukuran kemampuan motorik halus dilakukan menggunakan Bender Gestalt Test. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 26 Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji hipotesis 1 pada kelompok permainan tradisonal congklak diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05) dan pada kelompok playdough juga diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh latihan terhadap peningkatan motorik halus pada masing-masing kelompok. Selanjutnya, hasil uji perbedaan menggunakan independent sample t-test diperoleh nilai p = 0, 0.603 (p > 0,05), yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara permainan tardisional congklak dan playdough terhadap peningkatan kemampuan motorik halus. Kesimpulan: permainan tradisional congklak dan playdough sama-sama efektif dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 5–6 tahun, dengan tingkat efektivitas yang relatif sama. Permainan tersebut dapat digunakan sebagai alternatif stimulasi motorik halus pada anak usia dini.
Analisis Hubungan Risiko Sarkopenia Dengan Risiko Jatuh Pada Lansia Di Posyandu Lansia Anggrek VIII Dusun Genitem, Yogyakarta Azhari, Shafira Iffah; Norlinta, Siti Nadhir Ollin
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.662

Abstract

Penuaan menyebabkan penurunan massa dan kekuatan otot yang dapat meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan risiko sarkopenia dengan risiko jatuh pada lansia di Posyandu Lansia Anggrek VIII Dusun Genitem, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 101 responden yang dipilih secara purposive sampling. Risiko sarkopenia diukur menggunakan kuesioner SARC-F, kekuatan otot ekstremitas bawah menggunakan leg dynamometer, dan risiko jatuh menggunakan Timed Up and Go Test (TUGT). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar responden tidak berisiko sarkopenia (77,2%) dan memiliki risiko jatuh ringan (71,3%). Uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara risiko sarkopenia dan risiko jatuh (p=0,000) dengan koefisien korelasi 0,572 yang berarti kekuatan hubungan sedang dan arah positif. Semakin tinggi risiko sarkopenia, semakin besar risiko jatuh pada lansia. Keterbatasan penelitian ini adalah desain cross-sectional yang tidak dapat menjelaskan hubungan kausal serta keterbatasan lokasi pada satu posyandu. Disarankan dilakukan penelitian longitudinal dengan sampel lebih luas serta intervensi penguatan otot untuk mencegah risiko jatuh. Sarkopenia merupakan faktor penting yang perlu dideteksi dan dicegah sejak dini untuk mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup lansia.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Kanker Yang Menjalani Kemoterapi Di RS PKU Muhammadiyah Gamping Salsabila, Alice Alvina; Sriyati, Sriyati; Suprayitno, Edy
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.664

Abstract

Kemoterapi merupakan terapi sistemik untuk menghancurkan sel kanker, namun sering menimbulkan efek samping fisik dan psikologis yang berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Secara global, kanker masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua di dunia dengan angka kejadian yang terus meningkat. Di Indonesia, prevalensi kanker sebesar 1,2 per mil, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai wilayah dengan prevalensi tertinggi. Dalam kondisi tersebut, dukungan keluarga menjadi faktor penting yang dapat membantu pasien beradaptasi dengan dampak penyakit dan terapi. Dukungan emosional, informasional, penghargaan, dan instrumental dari keluarga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis serta mempertahankan kualitas hidup pasien selama menjalani kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain deskriptif kolerasional dan menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 66 pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi di RS PKU Muhammadiyah Gamping, dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui data primer melaluikuisioner yang diberikan kepada responden. Istrumen penelitian yaitu kuisioner dukungan keluarga dan kuisioner kualitas hidup pasien kanker dan telah teruji validitas dan reabilitasnya. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden (jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, skor dukungan keluarga, dan kualitas hidup pasien). Analisis bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pasien kanker. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah lansia akhir (37,9%), perempuan (75,8%), berpendidikan SD (30,3%), ibu rumah tangga (54,5%), dan menikah (74,2%). Sebagian besar menjalani kemoterapi 1–3 bulan (50,0%) serta memperoleh dukungan utama dari suami (47,0%). Hal ini menunjukkan peran keluarga sebagai sistem pendukung utama pasien di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Dukungan keluarga mayoritas berada pada kategori baik (92,4%), terutama dukungan instrumental (72,7%) dan informasi (71,2%), diikuti dukungan emosional dan penghargaan (62,1%). Kualitas hidup pasien sebagian besar berada pada kategori baik (87,9%). Uji Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup (p = 0,048; ρ = 0,249) dengan arah positif dan kekuatan lemah. Artinya, semakin baik dukungan keluarga, semakin baik kualitas hidup pasien. Disarankan agar tenaga kesehatan meningkatkan edukasi dan pelibatan keluarga dalam perawatan guna mendukung kualitas hidup pasien selama kemoterapi.
Academic Stress And Mental Health Among Medical Students: A Cross-Sectional Study Nurfadilah, Rika Putri; Sutejo, Sutejo; Mamnu’ah, Mamnu’ah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.665

Abstract

Mahasiswa kedokteran berada pada fase dewasa muda yang rentan terhadap tekanan perkembangan dan tuntutan akademik. Beban pendidikan kedokteran yang padat meningkatkan risiko stres akademik, dengan prevalensi global dilaporkan sebesar 30–94%, sementara di Indonesia 22,2% mahasiswa kedokteran mengalami gejala depresi dan 48,1% mengalami kecemasan. penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara stres akademik dan kesehatan mental pada mahasiswa kedokteran. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif korelasional menggunakan metode pendekatan studi cross-sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran, yang berjumlah sebanyak 99 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui kuesioner Google Form yang dibagikan kepada grup mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2024 dan 2025. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari kuesioner penilaian stress akademik dengan menggunakan instrumen Perceived Sources of Academic Stress dan Kuesioner Kesehatan Mental dengan menggunakan instrumen Mental Health Continuum–Short Form (MHC-SF). Penelitian dilaksanakan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 99 mahasiswa Fakultas Kedokteran, mayoritas mengalami stres akademik dalam kategori sedang, sedangkan sebagian kecil berada pada kategori berat. Pada variabel kesehatan mental, sebagian besar mahasiswa berada dalam kategori baik dan hanya sebagian kecil yang termasuk dalam kategori buruk. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara stres akademik dan kesehatan mental dengan nilai p < 0.001 (p < 0,05) dan koefisien korelasi r = 0.40–0.59. Nilai koefisien tersebut menunjukkan hubungan negatif dengan kekuatan sedang, yang berarti semakin tinggi tingkat stres akademik mahasiswa, maka semakin rendah tingkat kesehatan mentalnya. Temuan ini menegaskan bahwa stres akademik memiliki peran yang bermakna terhadap kondisi kesehatan mental mahasiswa kedokteran. Disarankan institusi memperkuat skrining dan program manajemen stres, serta mengoptimalkan layanan konseling. Penelitian selanjutnya perlu menggunakan desain longitudinal untuk hasil yang lebih komprehensif.
Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Kelemahan (Frailty) Pada Lansia Balgis, Balgis; Laksono, Tri; Ningrum, Tyas Sari Ratna
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.667

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan jumlah lansia seiring proses aging population berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan geriatri, salah satunya adalah kelemahan (frailty).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap kelemahan pada lansia di Posyandu Lansia Dahlia.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 119 lansia berusia ≥60 tahun yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire – Elderly (IPAQ-E) dan tingkat frailty diukur menggunakan Tilburg Frailty Indicator (TFI). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata total aktivitas fisik responden adalah 4722,70 MET-menit/minggu, dengan kategori rendah (17,6%), sedang (42,9%), dan tinggi (39,5%). Sebanyak 25,2% lansia tergolong frail dengan rata-rata skor TFI 3,24. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan kelemahan pada lansia (r = -0,122; p = 0,187). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik terhadap kelemahan pada lansia di Posyandu Lansia Dahlia. Meskipun secara teori aktivitas fisik berperan penting, pada populasi penelitian ini, faktor lain seperti penyakit kronis, status nutrisi, dan dukungan sosial diduga lebih dominan. Upaya promotif dan preventif perlu diintegrasikan dengan pendekatan holistik yang memperhatikan berbagai faktor risiko frailty untuk mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup lansia.
Hidroterapi Rendam Kaki Air Hangat Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi Ayu, Tarisa Sukma; Suprayitno, Edy; Candra, Diyah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.670

Abstract

Latar belakang : Hipertensi menjadi gangguan kesehatan yang dominan pada kalangan usia lanjut dan berperan signifikan dalam memicu tingginya risiko jantung dan pembuluh darah. Selain terapi farmakologis, intervensi non-farmakologis sederhana yang mudah diterapkan di komunitas diperlukan untuk membantu pengendalian tekanan darah. Salah satu pendekatan non-farmakologi yang dapat memberikan sensasi relaksasi dan memicu pelebaran pembuluh darah perifer adalah hidroterapi melalui perendaman kaki menggunakan air hangat. Tujuan : Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air hangat terhadap perubahan nilai tekanan darah pada kelompok lansia yang mengalami hipertensi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen tipe one-group pretest-posttest. Partisipannya berjumlah 45 orang lansia penderita hipertensi yang direkrut melalui metode total sampling di Posyandu Uswatun Hasanah. Intervensi yang diberikan adalah perendaman kaki dalam air hangat (suhu 38ºC-40ºC) selama tiga hari berturut-turut. Data tekanan darah dikumpulkan pada dua titik waktu menggunakan tensimeter digital yang terkalibrasi. Selanjutnya dilakukan analisis statistik non-parametrik dengan uji Wilcoxon yang digunakan untuk memancarkan perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil : Terdapat penurunan signifikan pada kedua parameter tekanan darah setelah intervensi. Rata-rata tekanan sistolik turun hingga 21.1 mmHg (dari 168.7 menjadi 147.6 mmHg), sementara tekanan diastolik berkurang 14.3 mmHg (dari 96.7 menjadi 82.4 mmHg). Hasil uji Wilcoxon memperkuat temuan ini dengan nilai p < 0.001 dan effect size yang besar (r = 0.87), yang mengindikasikan besarnya dampak intervensi. Kesimpulan : Terapi rendam kaki menggunakan air hangat memberikan efek positif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi. Pendekatan non-farmakologis ini berpotensi dikembangkan sebagai intervensi suportif yang mudah dilakukan, tidak membahayakan, serta sesuai untuk implementasi di tingkat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita TB Paru Di Puskesmas Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango Lahabu, Mohamad Nur Zulkifli Is.; Aminah, Tien
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.682

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius di Indonesia. Keberhasilan pengobatan TB sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) sesuai anjuran. Ketidakpatuhan dapat menghambat kesembuhan, meningkatkan risiko resistensi obat, dan menurunkan keberhasilan program pengendalian TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada penderita TB paru di Puskesmas Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango. Methods: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasinya adalah seluruh pasien TB Paru di Puskesmas Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango sejumlah 101 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling didapatkan sejumlah 64 responden. Variabel penelitia adalah tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga, kemudian variabel dependen adalah kepatuhan minum obat. Analisis statistik yang digunakan adalah regresi linier berganda. Result : Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum obat dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sedangkan dukungan keluarga tidak berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi 0,227 > 0,05. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,595 menunjukkan bahwa kedua variabel bersama-sama menjelaskan 59,5% variasi kepatuhan minum obat, sedangkan 40,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti efek samping obat, akses layanan kesehatan, hubungan dengan petugas kesehatan, dan stigma sosial. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pasien merupakan faktor utama dalam meningkatkan kepatuhan minum obat pada penderita TB paru. Conclusion: Pengetahuan sangat berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat, oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan dan pelibatan keluarga secara aktif dalam mendampingi pasien agar keberhasilan terapi TB dapat tercapai secara optimal.  
Support And Role of Husbands in Post-Mastectomy Patient Care: Literature Review Dewi, Tri Sejati Kartika; Warsiti, Warsiti; Purwati, Yuni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.685

Abstract

Background:Mastectomy for advanced breast cancer not only has physical but also significant psychological consequences for women. Changes in body image, feelings of loss, and limitations in activities often affect the harmony of household life, including the husband. In this situation, the husband plays the role of primary caregiver, providing support for his wife, but also faces stress, uncertainty, and psychological changes due to his wife's condition. Objective:To exploring the husband's experience as a caregiver for his wife in caring for her after a mastectomy.Methode:This literature review research method used databases, namely Pubmed, SINTA, Science Direct, Researchgate, Google Scholar. The keyword were post mastektomi, family support, husband support, body image, Quality of life. Data analysis used literature selection (PRISMA) with inclusion criteria of manuscripts that could be accesed in full text in the range of 2020-2025. Result:The results of the journal analysis show that the majority of studies look at the perspective of cancer survivors, with support from the family in general, not from the husband as the wife's caregiver after a mastectomy. Conclusion and suggestion:Most studies only look at the perspective of cancer survivors, and support is provided only by families in general, with no support from the husband's perspective.