cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 659 Documents
Metode Fenomenologi: Pengalaman Keluarga Merawat Anggota Keluarga Dengan Gangguan Jiwa Di Wilayah Kerja Puskesmas Paminggir Khairatonnisa, Khairatonnisa; Ilmi, Bahrul; Muthmainnaah, Muthmainnaah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.408

Abstract

Di Indonesia, keluarga memegang peran sentral dan menjadi tulang punggung utama dalam perawatan anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Meskipun sistem layanan kesehatan modern terus berkembang, tanggung jawab ini sering kali diemban oleh keluarga dengan menanggung beban emosional dan fisik yang berat. Keterbatasan sumber daya, stigma masyarakat, dan kurangnya pemahaman yang mendalam tentang kondisi pasien menjadi tantangan besar. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa pengalaman keluarga dalam menghadapi situasi ini sangatlah kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif keluarga dalam menjalani proses perawatan anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Fokusnya adalah memahami bagaimana keluarga memaknai, menghadapi, dan beradaptasi dengan kondisi ini dari waktu ke waktu, serta mengidentifikasi tantangan dan strategi koping yang mereka gunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif. Partisipan berjumlah tujuh orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan catatan lapangan (field notes) untuk menangkap nuansa pengalaman partisipan secara utuh. Analisis data dilakukan menggunakan metode Colaizzi yang terdiri dari tujuh tahapan, dimulai dari transkripsi wawancara hingga identifikasi tema-tema yang esensial. Berdasarkan analisis, ditemukan enam tema utama. 1) Beban psikologis merawat keluarga gangguan jiwa, 2) Tantangan merawat keluarga dengan gangguan jiwa, 3) Dukungan sosial keluarga dalam perawatan, 4) stigma masyarakah, 5) Keterampilan keluarga merawat keluarga ganguan jiwa 6) Makna merawat anggota keluarga dengan ganguan jiwa.Temuan ini menegaskan perlunya integrasi perspektif holistik dalam praktik keperawatan, dengan mengedepankan pendekatan yang berpusat pada keluarga. Hasil penelitian ini juga menjadi landasan untuk mengembangkan intervensi yang berfokus pada keluarga, meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan terhadap kebutuhan keluarga, dan memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan dengan keluarga dalam sistem pelayanan yang lebih inklusif dan suportif.
Hubungan Persepsi Risiko Komplikasi Dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Pekanbaru Kota Zahara, Bintang; Zul’irfan, M.; Yanti, Sri; Yani, Emul
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.591

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian global dan nasional. Rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan dapat meningkatkan risiko komplikasi dan kegagalan terapi. Persepsi pasien terhadap risiko komplikasi diduga berperan dalam mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi risiko komplikasi dengan kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Pekanbaru Kota. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari–Februari 2026 dengan jumlah sampel sebanyak 52 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner persepsi risiko komplikasi TB yang terdiri dari 8 item pernyataan dan telah diuji validitas serta reliabilitas pada 15 responden. Hasil uji validitas menunjukkan seluruh item memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,514) dan hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,948. Kepatuhan pengobatan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi risiko komplikasi TB kategori tinggi sebanyak 29 responden (55,8%) dan kepatuhan pengobatan kategori rendah sebanyak 21 responden (40,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi risiko komplikasi TB dengan kepatuhan pengobatan pada pasien TB paru dengan nilai p = 0,002 (p < 0,05). Penelitian ini merekomendasikan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi mengenai risiko komplikasi TB guna meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis Paru Aisyah, Kuntum Rihadatul; Arneliwati, Arneliwati; Dewi, Ari Pristiana
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.656

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menempati peringkat kedua tertinggi setelah India dalam jumlah kasus baru dan kematian. Keberhasilan pengobatan sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan pasien mengenai penyakitnya serta kepatuhan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru yang menjalani pengobatan di Puskesmas Sidomulyo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 52 responden, diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan rumus slovin 10%. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan dan instrumen Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi setiap variabel. Hasil: Didapatkan hasil paling banyak responden berusia usia 19-35 tahun (dewasa awal) (44,2%), sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (55,8%), tingkat pendidikan paling banyak lulusan SMA (59,6%), memiliki pekerjaan yaitu wiraswasta (51,9%), mayoritas sudah menjalani pengobatan >2 bulan (73,1%), tingkat pengetahuan pada kategori cukup (53,8%), kepatuhan minum obat kategori tinggi (55,8%). Kesimpulan: Kesimpulan yang diambil bahwa Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Sidomulyo memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan kepatuhan minum obat tinggi terhadap pengobatan.
Hubungan Frailty Terhadap Gejala Depresi Pada Lansia Puspitasari, Najib Ayu; Laksono, Tri; Jannah, Suci Muqhodimatul
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.661

Abstract

Latar Belakang: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai permasalahan kesehatan, baik fisik maupun psikologis. Salah satu kondisi yang sering terjadi pada lansia adalah frailty, yang ditandai dengan penurunan fungsi, penurunan kekuatan, daya tahan. Kondisi frailty dapat meningkatkan kerentanan lansia terhadap berbagai masalah kesehatan, serta gejala depresi yang dapat memperburuk kualitas hidup lansia. Namun, hubungan antara frailty dan gejala depresi pada lansia masih perlu dikaji lebih lanjut, khususnya pada pelayanan kesehatan berbasis masyarakat seperti posyandu lansia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frailty dengan gejala depresi pada lansia di Posyandu Lansia Dahlia, Kramen, Godean, Sleman, Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah lansia yang aktif dan terdaftar di Posyandu Lansia Dahlia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 119 lansia yang memenuhi kriteria inklusi. Frailty diukur menggunakan Tilburg Frailty Indicator (TFI), sedangkan gejala depresi diukur menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS). Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori tidak frail (74,8%) dan tidak mengalami depresi (78,2%). Hasil uji korelasi Spearman’s rho menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara frailty dan gejala depresi pada lansia, dengan nilai koefisien korelasi r = 0,468 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Arah hubungan bersifat positif dengan kekuatan hubungan sedang, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat frailty pada lansia, maka semakin tinggi pula tingkat gejala depresi yang dialami. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara frailty dan gejala depresi pada lansia. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi frailty berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya gejala depresi pada lansia. Oleh karena itu, diperlukan upaya deteksi dini dan penanganan frailty serta kesehatan mental secara terpadu melalui pelayanan kesehatan lansia di masyarakat.
Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Seimbang Dan Berkualitas Dengan Status Gizi Bayi 6-12 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Batudaa Poiyo, Alit Caesar Apriyanto; Muhamad, Zuriati; Piola, Wiwi Susanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.663

Abstract

Status gizi bayi usia 6–12 bulan merupakan indikator penting kesehatan dan tumbuh kembang anak. Di wilayah kerja Puskesmas Batudaa, meskipun cakupan layanan kesehatan tinggi, prevalensi gizi kurang dan buruk masih ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) seimbang dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan. Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional dengan pendekatan kuantitatif analitik, Desain ini dipilih karena mampu menggambarkan hubungan antara variabel independen dan dependen secara simultan dalam satu waktu pengukuran, sehingga sesuai untuk mengidentifikasi keterkaitan praktik MP-ASI dengan status gizi bayi. Sampel berjumlah 46 bayi dipilih menggunakan teknik two stage cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 32,6% responden memiliki praktik pemberian MP-ASI baik, 34,8% sedang, dan 32,6% kurang. Status gizi bayi terdiri dari 47,8% normal, 45,7% kurang, dan 6,5% buruk. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara pemberian MP-ASI seimbang dengan status gizi bayi (p = 0,008). Disimpulkan bahwa kualitas MP-ASI seimbang berperan penting dalam menentukan status gizi bayi Temuan ini mengindikasikan bahwa bayi yang menerima MP-ASI dengan kualitas gizi seimbang cenderung memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan bayi dengan praktik pemberian MP-ASI yang kurang optimal. Diperlukan intervensi edukatif yang terfokus pada peningkatan kualitas MP-ASI di tingkat keluarga dan komunitas, Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat komunitas, dalam menyusun strategi edukasi gizi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Prokrastinasi Akademik, Kontrol Diri & Adiksi Gawai Pada Remaja SMP SintaDewi, Sri Ajeng; Bratajaya, Cicilia Nony Ayuningsih; Sartika, Aprilina; Padaallah, Ananda Patuh
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.671

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan perilaku menunda penyelesaian tugas akademik yang sering terjadi pada remaja dan dapat berdampak pada prestasi belajar. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, salah satunya adalah kontrol diri. Remaja dengan kontrol diri rendah cenderung sulit mengendalikan perilaku dan lebih mudah terdistraksi oleh aktivitas yang menyenangkan seperti penggunaan gawai. Selain itu, karakteristik individu seperti usia juga dapat mempengaruhi pola penggunaan gawai pada remaja. Penggunaan gawai yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan adiksi gawai yang berdampak pada aspek akademik, sosial, dan kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara prokrastinasi akademik dan kontrol diri dengan adiksi gawai pada remaja SMP di Cibitung. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan metode cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 92 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner prokrastinasi akademik, kuesioner kontrol diri, dan Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV). Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia remaja awal. Selain itu terdapat hubungan antara prokrastinasi akademik dengan adiksi gawai (p-value = 0,002) serta terdapat hubungan antara kontrol diri dengan adiksi gawai (p-value = 0,024). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa prokrastinasi akademik dan kontrol diri merupakan faktor yang berhubungan dengan adiksi gawai pada remaja.
Analisis Faktor Kecerdasan Emosional Terhadap Depresi Pada Remaja Pertengahan Usia 15-17 Tahun Di SMK Kesehatan Samarinda Burhanto, Burhanto; Fevrianti, Amalia
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.673

Abstract

Depresi memiliki prevalensi tertinggi di wilayah Asia Tenggara, mencapai 86,94 juta orang atau sekitar 27% dari total 322 juta individu. Di Indonesia, negara ini menempati posisi kelima dalam hal prevalensi depresi dengan angka 3,7%. Di Indonesia, angka kejadian depresi pada individu berusia 15 tahun ke atas tercatat sebesar 6,1%. Di Samarinda, prevalensi depresi di kalangan remaja sekolah menengah atas (berusia 14-19 tahun) mencapai 552 orang, dengan persentase 52,7%. Dari jumlah tersebut, prevalensi pada perempuan adalah 26,6%, sementara pada laki-laki adalah 26,1%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara antara kecerdasan emosional terhadap depresi pada remaja pertengahan usia 15-17 tahun di SMK Kesehatan Samarinda dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif untuk menggambarkan fenomena yang terjadi dalam suatu populasi tertentu melalui pendekatan metode cross-sectional. Hasil korelasi bivariate didapatkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh secara signifikan terhadap depresi pada remaja, dengan hasil koefisien korelasi sebesar -0,580 yang terdapat keeratan hubungan antara kecerdasan emosional dengan depresi yang kuat dengan alur yang negative semakin negative kecerdasan emosional maka depresi semakin meningkat.
Hubungan Stres Terhadap Kualitas Tidur Pada Keluarga Yang Merawat Penderita Kanker Payudara Nuraini, Sella; Huda, Nurul; Roni, Yunisman
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.675

Abstract

Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan utama dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga pada keluarga yang merawatnya. Keluarga memiliki peran penting dalam proses perawatan, namun tanggung jawab tersebut sering menimbulkan stres dan gangguan tidur yang dapat memengaruhi kemampuan mereka memberikan perawatan optimal. Namun, penelitian mengenai hubungan antara stres dan kualitas tidur pada keluarga yang merawat pasien kanker payudara di Indonesia masih terbatas, terutama di lingkungan rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur pada keluarga yang merawat penderita kanker payudara di rumah sakit. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 79 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Kriteria inklusi meliputi keluarga inti pasien berusia ≥18 tahun, memberikan perawatan langsung minimal 4 jam per hari, telah merawat pasien kanker payudara stadium III atau IV lebih dari satu bulan, dan bersedia menjadi responden. Data dikumpulkan menggunakan skala stres dan kuesioner kualitas tidur, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil menunjukkan 38 responden (48,1%) mengalami stres berat dan 51 responden (64,6%) memiliki kualitas tidur buruk, dengan hubungan signifikan antara stres dan kualitas tidur (p-value = 0,007 < 0,05). Semakin tinggi tingkat stres, semakin buruk kualitas tidur keluarga. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kualitas tidur pada keluarga yang merawat penderita kanker payudara
Penerapan Terapi Psikoreligius Untuk Mengurangi Resiko Perilaku Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia Cahyo, Faizal Dwi; Rahmawati, Arni Nur
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.678

Abstract

Latar Belakang: Kesehatan mental adalah suatu kondisi yang memungkinkan individu untuk tumbuh secara fisik, emosional, dan intelektual secara keseluruhan. Berbagai gangguan fisik dan mental menyebabkan penyakit mental. Skizofrenia adalah gangguan mental serius yang dialami oleh sekitar 24 juta orang, atau setara dengan 1 dari 300 populasi global. Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang memengaruhi berbagai area fungsi individu. Salah satu bentuk manifestasi klinis yang sering ditemukan pada individu dengan skizofrenia adalah risiko perilaku kekerasan (CVD). Pengobatan untuk pasien yang berisiko melakukan kekerasan dapat melibatkan pendekatan medis dan non-medis, seperti mengajarkan pasien untuk mengenali dan mengelola emosi mereka, termasuk melalui terapi psikoreligius. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi psikoreligius dalam mengurangi risiko perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Subjek penelitian adalah pasien skizofrenia dengan risiko perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo, Magelang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah format perawatan keperawatan psikiatri. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Kesimpulan: Hasil implementasi tiga hari didasarkan pada skor pretest dan posttest. Setelah tiga hari intervensi, pasien menunjukkan perubahan dalam pengendalian emosi. Hasil intervensi, yang melibatkan praktik dzikir (pembacaan doa) pada pasien yang berisiko melakukan perilaku kekerasan, cukup efektif, dan pengendalian amarah tercapai. Terapi spiritual dzikir dari penelitian ini menunjukkan bahwa pasien mampu mengulangi terapi secara mandiri dan berkelanjutan.
Hubungan Self Efficacy Dengan Illness Perception Pada Pasien Kanker Payudara Yang Sedang Menjalani Kemoterapi Di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Siahaan, Ira Syahputri; Huda, Nurul; Karim, Darwin
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.679

Abstract

Kanker merupakan suatu keadaan terjadinya mekanisme normal bahkan sel - sel kehilangan kendali kanker payudara merupakan salah satu penyebab tingginya akan kesakitan dan kematian didunia. Pasien kanker payudara biasanya banyak mengalami perubahan dalam dirinya dan kehidupan sehari-hari, meliputi; kondisi fisik, psikologis, sejak proses diagnosis hingga akhir hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self efficacy dan ilness perception pada pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterpi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik yang digunakan adalah purposive sampling dan sampel penelitian sebanyak 92 pasien di Poli Rawat Jalan Seruni RSUD Arifin Achmad. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Self Efficacy Scale Breast Cancer (SMSES-BC) untuk Self Efficacy dan Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ) untuk Illnes Perception. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,014, di mana nilai ini lebih kecil dari α (0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Self-Efficacy dan Illness Perception pada pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Pasien yang percaya pada kemampuannya untuk menjalani pengobatan cenderung memiliki pandangan yang lebih positif terhadap penyakitnya. Artinya, semakin tinggi efikasi diri pasien, semakin baik pula cara mereka memahami dan menangani penyakit sehingga pentingnya dukungan dan edukasi untuk meningkatkan efikasi diri pasien selama menjalani kemoterapi.