cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 659 Documents
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underreporting Dan Blaming Culture Pada Insiden Keselamatan Pasien: Scoping Review Raudha, Raudha; Bhakti, Wida Kuswida; Haryanto, Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.722

Abstract

Latar Belakang:Insiden keselamatan pasien memerlukan pelaporan sistematis guna mencegah kesalahan berulang. Namun, tingkat pelaporan global masih rendah akibat dominasi budaya menyalahkan di lingkungan klinis. Pemetaan faktor pendorong underreporting masih terbatas, khususnya di fasilitas kesehatan negara berkembang yang menghadapi keterbatasan sumber daya. Kondisi ini menghambat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan risiko kesalahan klinis yang dapat dihindari. Tujuan: Artikel ini bertujuan mengidentifikasi dan memetakan faktor yang mempengaruhi underreporting serta blaming culture dalam pelaporan insiden keselamatan pasien melalui pendekatan scoping review yang terstruktur.Metode:Kajian menerapkan kerangka kerja Arksey dan O’Malley dengan pedoman PRISMA-ScR. Penelusuran dilakukan pada Scopus, PubMed, dan Google Scholar periode 2015 hingga 2025. Tiga puluh delapan artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif-tematik berdasarkan domain organisasi, psikologis, sistem pelaporan, dan budaya keselamatan.Hasil: Underreporting dan budaya menyalahkan dipengaruhi empat domain utama, yakni hierarki kaku dan beban kerja tinggi, ketakutan sanksi serta persepsi ketidakbermanfaatan pelaporan, kompleksitas sistem pelaporan, dan absennya just culture berorientasi pembelajaran. Intervensi non-punitif, pelatihan kepemimpinan transformatif, dan penyederhanaan alur pelaporan terbukti meningkatkan kepatuhan pelaporan secara signifikan. Kesimpulan : Underreporting dan blaming culture bersifat multifaktorial serta saling memperkuat secara sistemik. Transformasi budaya keselamatan menuntut perubahan kebijakan institusional, penguatan prinsip keadilan, dan evaluasi berkelanjutan. Riset longitudinal dan adaptif konteks lokal sangat diperlukan untuk mengukur dampak intervensi terhadap perilaku pelaporan tenaga kesehatan secara komprehensif. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pengembangan strategi manajemen risiko yang lebih adaptif.
Gambaran Kejadian Agitasi Pada Pasien Dewasa Dan Anak Post General Anestesi Menggunakan Sevofluran Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen Pernandes, Aben; Suandika, Made; Handayani, Rahmaya Nova
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.647

Abstract

Agitasi masih terjadi pada pasien yang dilakukan anestesi umum dengan pemberian sevofluran. Agitasi pasca operasi sering terjadi pada anak yang menjalani anestesi dengan sevofluran, diduga akibat solubilitas sevofluran yang cenderung lebih rendah dibandingkan gas inhalasi lain. Pada hasil survei yang telah dilakukan di RSUD dr. Soedirman Kebumen dalam waktu tiga bulan terakhir Agustus, September dan Oktober, jumlah pasien dengan tindakan anestesi umum di RSUD dr. Soedirman Kebumen adalah sebanyak 125 pasien. Tujuan penelitian adalah untuk menilai perbedaan tingkat agitasi serta menganalisis apakah terdapat perbedaan dalam efek sevofluran terhadap agitasi pada kelompok usia yang berbeda. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain atau pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan 30 Juni 2024 sampai dengan publikasi pada bulan 10 September 2025. Pengambilan data diambil pada 10 Juni 2025 sampai 07 Juli 2025 di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD dr. Soedirman Kebumen. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua pasien yang dilakukan anestesi general dengan menggunakan sevofluran di RSUD dr. Soedirman Kebumen. Besar populasi 3 bulan terakhir adalah 125 pasien. Besar sampel yang diambil dihitung dengan menggunakan rumus dari Slovin, yaitu sebanyak 95 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah non random sampling. Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD dr. Soedirman Kebumen dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) Sebagian besar responden adalah laki-laki dan berusia dewasa awal atau remaja awal. Untuk kelompok balita dan anak-anak, mayoritas berasal dari anak-anak (72%). Sebagian besar pasien menjalani operasi dengan durasi lebih dari 60 menit, baik pada kelompok usia anak-anak, remaja, maupun dewasa, (2) Dari 25 pasien, 76% mengalami agitasi. Semua balita mengalami agitasi, sedangkan pada anak-anak, 12 dari 18 orang mengalaminya. Kejadian agitasi lebih tinggi pada laki-laki dan pasien dengan lama operasi > 60 menit, (3) Sebanyak 33.3% dari 33 remaja mengalami agitasi. Remaja awal lebih banyak mengalami agitasi dibanding remaja akhir. Laki-laki dan pasien dengan operasi > 60 menit juga menunjukkan kejadian agitasi lebih tinggi, (4)        Sebanyak 21.6% dari 37 pasien dewasa mengalami agitasi. Kejadian lebih banyak ditemukan pada dewasa awal, laki-laki, dan pasien dengan operasi > 60 menit, meskipun secara keseluruhan angkanya lebih rendah dibanding kelompok usia lebih muda.
Hubungan Status Gizi Dan Sarapan Pagi Terhadap Konsentrasi Belajar Pada Anak Usia Sekolah Dismawati, Dismawati; Herlina, Herlina; Dewi, Ari Pristiana
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.680

Abstract

Status gizi dan kebiasaan sarapan pagi memiliki peran penting dalam mendukung konsentrasi belajar pada anak usia sekolah. Konsentrasi yang rendah dapat menghambat kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran serta berdampak pada menurunnya prestasi akademik. Asupan gizi yang cukup berkontribusi terhadap optimalisasi fungsi otak, sedangkan sarapan pagi menyediakan energi yang dibutuhkan untuk menjalankan proses kognitif, terutama pada saat kegiatan belajar di pagi hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan kebiasaan sarapan pagi dengan konsentrasi belajar anak usia sekolah di SD Negeri 66 Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 50 siswa kelas VI yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) berdasarkan nilai Z-score yang disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin. Kebiasaan sarapan pagi diukur menggunakan kuesioner, sedangkan konsentrasi belajar dinilai menggunakan Grid Concentration Test. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 12 tahun (64,0%) dan berjenis kelamin perempuan (56,0%). Distribusi status gizi menunjukkan 42,0% gizi kurang, 42,0% gizi baik, dan 16,0% gizi lebih. Kebiasaan sarapan pagi menunjukkan 38,0% responden jarang sarapan, 32,0% tidak pernah sarapan, dan 30,0% selalu sarapan. Tingkat konsentrasi belajar terbagi menjadi kategori rendah (34,0%), sedang (34,0%), dan tinggi (32,0%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan konsentrasi belajar (p>0,05), namun terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan pagi dengan konsentrasi belajar (p<0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa status gizi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan konsentrasi belajar, sedangkan kebiasaan sarapan pagi memiliki hubungan yang signifikan dengan konsentrasi belajar pada anak usia sekolah. Temuan ini menunjukkan pentingnya pembiasaan sarapan pagi secara rutin dalam mendukung kesiapan belajar dan fungsi kognitif siswa di sekolah.
Hubungan Antara Tingkat Stres Dan Aktivitas Fisik Dengan Siklus Menstruasi Pada Siswi Di SMK Negeri 4 Malang Rahma, Charissa Aulia; Wahyusari, Shinta; Roesardhyati, Ratna
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.687

Abstract

Gangguan siklus menstruasi merupakan masalah  kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri, dengan prevalensi mencapai 45% secara global dan 13,7% di Indonesia, terutama pada tahun pertama menstruasi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stress dan aktivitas fisik dengan siklus menstruasi pada siswi SMK. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 86 siswi dipilih melalui stratified sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress dan siklus menstruasi (r = 0,039; p < 0,05). Sedangkan tingkat aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada siklus menstruasi (r = 0,328; p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat stress yang dialami remaja putri sangat perlu untuk diperhatikan.
Pengaruh Pemberian Terapi Akupresur Terhadap Penurunan Emesis Ibu Hamil Trimester I Hikmah, Raudatul; Dewi, Lina Nauriska; Eliyawati, Eliyawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.688

Abstract

Emesis gravidarum adalah gejala mual pada kehamilan trimester I yang terjadi pada pagi hari yang dialami oleh sekitar 70-80% wanita hamil dan merupakan fenomena yang sering terjadi pada umur kehamilan 5-12 minggu. Emesis gravidarum dapat dikurangi dengan terapi farmakologi dan terapi non-farmakologi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi akupresur terhadap penurunan emesis pada ibu hamil trimester I. Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperiment dengan pre test - post test design tanpa menggunakan group kontrol (without control group). Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kuesioner skala emesis dengan menggunakan PUQE-24 (Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea). Jumlah responden sebanyak 30 ibu hamil trimester I dengan teknik sampel purposive sampling. Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan menggunakan uji Chi-Square dan uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil Analisa data diperoleh hasil bahwa intensitas emesis menurun setelah diberikan intervensi dengan selisih rata-rata sebelum dan sesudah intervensi sebesar0.53. Hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai signifikasi 0.000 (p <0,05) Hal ini menunjukkan bahwa Ha diterima. Terapi akupresur tidak terbukti memberikan pengaruh terhadap kejadian emesis pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Mlandingan Kabupaten Situbondo (p-value <0,05).
Efektivitas Pemberian Rebusaan Air Daun Sirih Merah (Piper Crocatum) Terhadap Keputihan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Baja Halwa, Rahimah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.695

Abstract

Keputihan (flour albus) merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering terjadi pada remaja putri dan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti infeksi saluran kemih, gonore, hingga HIV/AIDS apabila tidak ditangani dengan baik. Salah satu alternatif penanganan non-farmakologis adalah penggunaan daun sirih merah yang memiliki kandungan antiseptik alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian rebusan air daun sirih merah terhadap keputihan pada remaja putri di wilayah kerja puskesmas Lubuk Baja Kota Batam. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretest posttest. Sampel penelitian berjumlah 15 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan pemberian rebusan air daun sirih merah dua kali sehari selama 7 hari. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 (<0,005), yang berarti terdapat pengaruh signifikan pemberian rebusan air daun sirih merah terhadap penurunan keputihan pada remaja putri. Kesimpulan penelitian ini adalah rebusan daun sirih merah efektif dalam menurunkan keputihan dan dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan non-farmakologis.
Hubungan Kualitas Tidur Dengan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Nurahmawati, Salma; Puspitasari, Elika
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.700

Abstract

Kualitas tidur yang buruk akibat beban akademik berpotensi mengganggu keteraturan siklus menstruasi mahasiswi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kualitas tidur dan siklus menstruasi pada mahasiswi Psikologi Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross-sectional terhadap 68 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki kualitas tidur buruk (72,1%) dan siklus menstruasi tidak teratur (57,4%). Analisis Chi-Square menghasilkan nilai p = 0,001 dengan koefisien korelasi 0,422. Simpulannya, terdapat hubungan signifikan berkategori sedang antara kualitas tidur dengan siklus menstruasi.
Hubungan Pengetahuan Dengan Kecemasan Ibu Tentang Efek Samping Imunisasi DPT Pada Bayi Usia 0-12 Bulan Di Wilayah Kelurahan Pahandut Seberang Aulia, Nor Hawa; Ensia, Maria Adelheid; Indriani, Indriani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.703

Abstract

Imunisasi DPT merupakan imunisasi dasar yang sangat penting untuk mencegah penyakit diphtheria, pertussis, dan tetanus pada bayi. Meskipun imunisasi ini terbukti efektif, kepatuhan ibu dalam memberikan imunisasi seringkali dipengaruhi oleh tingkat kecemasan mereka terkait efek samping, seperti demam, nyeri, atau reaksi lokal pada bekas suntikan. Tingkat pengetahuan ibu mengenai manfaat imunisasi dan penanganan efek samping diyakini berperan penting dalam menurunkan kecemasan serta meningkatkan kepatuhan imunisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan kecemasan terkait efek samping imunisasi DPT pada bayi usia 0–12 bulan di Wilayah Kelurahan Pahandut Seberang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif correlational. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 0–12 bulan sebanyak 289 orang. Sampel sebanyak 67 responden diambil menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan dan kuesioner kecemasan, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Analisis menunjukkan responden dengan pengetahuan baik 43,3%, cukup 38,8%, dan kurang 17,9%. Responden tanpa kecemasan 74,6%, kecemasan ringan dan sedang masing-masing 10,4%, serta kecemasan berat 4,5%. Uji Chi-Square menghasilkan p-value 0,000, menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dan kecemasan terkait efek samping imunisasi DPT. Tingkat pengetahuan ibu berhubungan signifikan dengan kecemasan terhadap efek samping imunisasi DPT pada bayi usia 0–12 bulan.
Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi Kelas VII SMP Negeri 3 Godean Rahmah, Rina Nur; Mahmudah, Nurul
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.704

Abstract

Masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri di Indonesia adalah kejadian keputihan, di mana perilaku kebersihan diri yang buruk menjadi faktor risiko utama terjadinya infeksi pada organ reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene dengan kejadian keputihan pada siswi kelas VII di SMP Negeri 3 Godean. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 54 responden yang diambil menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner personal hygiene dan kuesioner kejadian keputihan yang telah diuji validitasnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswi memiliki personal hygiene kategori baik (57,4%) dan sebagian besar mengalami keputihan kategori fisiologis (87%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,658, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan hubungan kuat antara personal hygiene dengan kejadian keputihan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik praktik personal hygiene yang dilakukan, maka semakin rendah risiko terjadinya keputihan patologis. Penelitian ini diharapkan dapat memotivasi siswi untuk senantiasa meningkatkan perilaku kebersihan diri guna menjaga kesehatan reproduksi mereka.
Hubungan Antenatal Colostrum Expression Dengan Onset Laktogenesis II Pada Ibu Post Sectio Cesarean Balindra, Fredlina Rossa; Taqiyya , Nadia; Ersianti, Yuninda Loviana
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.709

Abstract

Keterlambatan onset Laktogenesis II merupakan masalah yang sering terjadi pada ibu post sectio cesarean dan dapat mempengaruhi keberhasilan menyusui. Antenatal colostrum expression (ACE) merupakan salah satu intervensi yang dikembangkan untuk meningkatkan kesiapan laktasi sejak masa antenatal, namun efektivitasnya masih belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara antenatal colostrum expression dengan onset Laktogenesis II pada ibu post sectio cesarean. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional analitik retrospektif berbasis data rekam medis pada 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara antenatal colostrum expression dengan onset Laktogenesis II (p > 0,05), meskipun terdapat kecenderungan peningkatan peluang onset normal pada kelompok yang melakukan antenatal colostrum expression. Proses laktogenesis dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk metode persalinan, kondisi maternal, dan praktik menyusui postpartum. Keterbatasan penelitian ini meliputi ukuran sampel yang kecil dan desain retrospektif yang tidak memungkinkan pengendalian faktor perancu secara optimal. Disimpulkan bahwa antenatal colostrum expression belum dapat direkomendasikan sebagai intervensi rutin, namun dapat dipertimbangkan secara selektif dengan pengawasan tenaga kesehatan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif dalam mendukung keberhasilan laktasi terutama pada ibu yang mempunyai faktor risiko keterlambatan Laktogenesis II.