cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Socia : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
ISSN : 18295797     EISSN : 25499475     DOI : 10.21831
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 224 Documents
Pengembangan profesionalisme guru IPS Akh. Syaiful Rijal
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 15, No 2 (2018): SOCIA: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.593 KB) | DOI: 10.21831/socia.v15i2.22677

Abstract

Profesionalisme guru dalam proses pendidikan merupakan salah satu kunci penting kesuksesan belajar siswa. pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. tulisan ini bertujuan untuk menemukan makna eksistensi pendidik atau guru bidang IPS yang profesional. Metode yang digunakan menggunakan bersifat anilisis deskriptif. Dari hasil kajian tersebut disimpulkan bahwa guru profesional adalah mereka yang telah memenuhi persyaratan, di antaranya, (1) Guru IPS harus berpegang teguh pada kode etik keguruan sebagai acuan dalam melakukan tugas dan fungsinya; (2) Guru IPS memiliki klien atau obyek layanan yang tetap seperti dokter dengan pasiennya, (3) Diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
Integrasi Organisasi Masyarakat Sipil (Civil Social Organization) di Lingkungan Sekolah Nur Endah Januarti *
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 10, No 1 (2013): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.861 KB) | DOI: 10.21831/socia.v10i1.5342

Abstract

Penelitian bertujuan memahami bentuk integrasi organisasi masyarakat sipil terkait dengan pendidikan kearifan lokal untuk memahami substansi, peran serta implementasinya di SD Sendangsari dan lingkungan Desa Sendangsari. Menggunakan metode kualitatif, pengumpulan data dengan observasi non partisipan, wawancara dan dokumentasi. Informan penelitian adalah guru, siswa dan karyawan SD Sendangsari; Dinas Pendidikan, masyarakat dan organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah. Analisis data menggunakan teknik interaktif (Interactive Model of Analysis) terdiri atas reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Organisasi Masyarakat memiliki peran membentuk sebuah interaksi antara pihak instansi pendidikan atau lembaga pendidikan untuk membangun komunikasi dengan kelompok, komunitas di masyarakat. Organisasi masyarakat tersebut berupa Paguyuban Kearifan Lokal Orang Tua Murid, Organisasi Pemuda Karang Taruna dan Sanggar Anak Bumi Tani. Wujud integrasi sosial organisasi masyarakat menjadikan sekolah memiliki fungsi  sebagai ruang partisipasi sosial, sarana pemberdayaan sosial organisasi masyarakat, dan sebagai ruang transformasi budaya. Kata kunci : organisasi masyarakat sipil, sekolah, integrasi.  
Etnis Tionghoa dan Arab di Banda, Maluku (Studi Tentang Integrasi Berdasarkan Kepentingan Ekonomi-Politik Melalui Pendekatan Ekologi Politik) Hartanto Rosojati
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 16, No 2 (2019): SOCIA: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.387 KB) | DOI: 10.21831/socia.v16i2.29062

Abstract

Tulisan ini mengargumentasikan tentang integrasi ekonomi-politik yang dilakukan etnis Tionghoa dan etnis Arab di Kepulauan Banda, Maluku. Integrasi merupakan praktik adaptif dari individu/kelompok dengan cara saling menghargai kebudayaan dan hubungan antarkelompok lain, serta kebudayaan dari masing-masing kelompok tidak merasa diancam. Meskipun demikian, interaksi dalam waktu yang panjang tersebut selalu memiliki konsekuensi lain, yaitu kepentingan ekonomi ataupun politik. Pada dasarnya ekonomi dan politik adalah hasil dari manifestasi interaksi masyarakat yang selalu didasari dari basis material. Ekonomi dan politik tidak berdiri secara tunggal, melainkan menjadi kesatuan yang merujuk pada bentuk power yang digunakan untuk melihat bagaimana bentuk pengorganisasian dilakukan dalam sebuah masyarakat. Untuk menjelaskan konteks ekonomi-politik, artikel ini menggunakan pendekatan ekologi politik. Hasilnya menunjukkan bahwa ada pengintegrasian melalui pembagian kekuasaan dalam ekonomi-politik dengan membagi sumberdaya ekologis yang ada di Banda yang dilakukan oleh etnis Tionghoa dan etnis Arab. Data dalam artikel ini diperoleh dari hasil observasi lapangan, penelitian lapangan, serta studi pustaka tentang Tionghoa, Arab, dan Banda. 
POTENSI KONFLIK DIBALIK MUNCULNYA KOMUNITAS BERPAGAR (GATED COMMUNITY) Grendi Hendrastomo *
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 9, No 1 (2012): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.283 KB) | DOI: 10.21831/socia.v11i1.3733

Abstract

Perkembangan masyarakat perkotaan mendorong pergeseran berbagai bentuk perilaku, kebiasaan dan budaya. Masyarakat kontemporer cenderung mengeser arah keterlibatan masyarakat menjadi semakin mandiri dan semakin individualis, termasuk didalamnya dalam pilihan untuk berkelompok. Ekslusivitas dan kesamaan stratifikasi mendorong sebagian orang untuk memilih tempat tinggal. Inilah yang mendorong kecenderungan munculnya perumahan-perumahan dari kategori elit sampai minimalis yang memberikan kesamaan kelompok sosial. Munculnya ke-lompok social berdasarkan pemilihan ruang yang sama disatu sisi disadari sebagai gaya hidup baru masyarakat kontemporer, tetapi di sisi lain menimbulkan potensi konflik yang berakar dari kesenjangan yang muncul antara komunitas berpagar dengan komunitas tradisional (kampung). Potensi konflik muncul akibat kesenjan-gan ekonomi, ketercerabutan interaksi social dengan masyarakat sekitar yang me-nimbulkan pertentangan, konflik hingga vandalisme. Gated community tidak bisa dihindarkan dari perkembangan kota, tetapi meminimalkan potensi konflik akibat segregasi sangat mungkin dilakukan. Kota kunci: konflik, komunitas berpagar, perkembangan masyarakat
Posisi IPS, Tantangan Masa Depan, dan Alternatif Baru Sardiman AM *
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 11, No 2 (2014): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.901 KB) | DOI: 10.21831/socia.v11i2.5299

Abstract

Berbicara soal pendidikan IPS di Indonesia memang menarik tetapi kadang juga melelahkan. Perdebatan panjang sejak tahun 1975 sampai sekarang belum mampu merumuskan hakikat pendidikan IPS di sekolah secara memuaskan, baik menyangkut substansi kajian maupun model pembelajarannya. Pada hal IPS di sekolah ini memiliki peran yang strategis dalam mengantarkan peserta didik untuk berlatih berpikir kritis dan kemampuan serta keterampilan untuk ikut berpartisipasi dalam memecahkan masalah sosial kebangsaan. Dengan demikian posisi pendidikan IPS di sekolah ini menjadi semakin strategis untuk masa-masa ke depan.Oleh karena itu, diperlukan pemikiran dan alternatif baru dalam pengembangan substansi kajian atau standar isi IPS di sekolah. Terutama untuk jenjang SMP dan yang sederajat. Kata kunci: hakikat IPS, memecahkan masalah, alternatif baru
Pengaruh Model Nested dan Webbed Terhadap Hasil Belajar IPS Terpadu SMP SEPTI KUNTARI; MUHSINATUN SIASAH MASRURI
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 13, No 1 (2016): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.775 KB) | DOI: 10.21831/socia.v13i1.9905

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS siswa yang menggunakan model pembelajaran nested dan model pembelajaran webbed. Penelitian eksperimen menggunakan  desain Randomized Posttest-Only Control Group Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling. Validasi instrumen dilakukan dengan validasi logis (expert judgement) dan validasi empiris melalui ujicoba untuk mengukur daya pembeda soal dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: rata-rata hasil belajar dengan menggunakan model nested dan dengan menggunakan model webbed dengan nilai t sebesar  0,314 0,05, artinya  tidak ada perbedaan yang signifikan. Dengan demikian hasil belajar dengan model nested maupun model webbed tidak berbeda secara signifikan.Kata Kunci : Pengaruh, Model Nested, Model Webbed 
Kecerdasan Tradisional dalam Mitigasi Bencana Erupsi pada Masyarakat Lereng Baratdaya Gunungapi Merapi Sriadi dkk
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 12, No 2 (2015): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3720.207 KB) | DOI: 10.21831/socia.v12i2.12240

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi berbagai bentuk kecerdasan tradisional dalam mitigasi bencana pada masyarakat lereng baratdaya Gunungapi Merapi dan menganalisis maknanya berdasarkan kajian geomorfologi, (2) mengetahui tingkat pemahaman masyarakat generasi muda mengenai kecerdasan tradisional dalam mitigasi bencana erupsi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-eksplanatif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, studi pustaka, dokumentasi, dan observasi. Analisis yang digunakan adalah kombinasi antara analisis deskriptif kualitatif dengan kuantitatif. Penaksiran makna dilakukan dengan pendekatan hermeneutika dan semiotika geomorfologi. Hasil penelitian ini telah menemukenali beberapa bentuk kecerdasan tradisional dalam mitigasi bencana pada masyarakat lereng baratdaya Gunungapi Merapi. Kecerdasan tradisional tersebut berbentuk semiotika kultural, semiotika faunal, semiotika vegetal, dan semiotika fisikal. Semiotika kultural berupa nasihat dan ajaran masyarakat, semiotika faunal berupa perilaku berbagai jenis hewan, semiotika vegetal berupa kondisi tumbuhan alami mupun budidaya, dan semiotika fisikal berupa tanda alam yang banyak terjadi sebelum erupsi. Pengetahuan generasi muda terhadap kecerdasan tradisional yang terdapat dalam masyarakat umumnya masih rendah.Kata kunci: Gunungapi Merapi, Kecerdasan Tradisional, Erupsi
Pemahaman Guru IPS Terhadap Pendekatan Saintifik dan Penilaian Autentik Dalam Kurikulum 2013 M. Samsul Hadi, Ishartiwi *
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 14, No 1 (2017): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.373 KB) | DOI: 10.21831/socia.v14i1.15950

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pemahaman guru IPS terhadap pendekatan saintifik dan penilaian autentik dalam Kurikulum 2013 yang meliputi: 1) pemahaman guru terhadap pendekatan saintifik yang terdiri atas: (a) konsep  pembelajaran dengan pendekatan saintifik, (b) tujuan pembelajaran pendekatan saintifik, (c) prinsip pendekatan saintifik, dan (d) langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik. 2) pemahaman guru terhadap penilaian autentik yang terdiri atas: (a) konsep penilaian autentik, (b) penilaian autentik dalam istrumen penilaian kompetensi sikap, (c) penilaian autentik dalam istrumen penilaian kompetensi pengetahuan dan, (d) penilaian autentik dalam istrumen penilaian kompetensi keterampilan.Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri se Kecamatan Praya Timur dengan subyek penelitiannya semua guru mata pelajaran IPS berjumlah 18 orang guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah, angket, wawancara observasi. Wawancara digunakan untuk mengetahui pemahaman terhadap pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan penilaian autentik. Sedangkan observasi digunakan untuk melihat pelaksanaan pendekatan saintifik dan penilaian autentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemahaman guru mata pelajaran IPS terhadap pendekatan saintifik pada kategori sangat sesuai sebanyak 3 guru, kategori sesuai sebanyak 11 guru, kategori tidak sesuai sebanyak 4 guru. Menunjukkan pemahaman guru terhadap pendekatan saintifik sebagian besar dipahami oleh guru. (2) pemahaman guru mata IPS terhadap penilaian autentik pada kategori sangat sesuai sebanyak 2 guru, kategori sesuai sebanyak 7 guru, kategori tidak sesui sebanyak 9 guru.Kata Kunci : Pemahaman, Kurikulum 2013, Pendekatan Saintifik. Penilaian Autentik
Peran Kultur Sekolah dalam Pengembangan Soft Skill Siswa di SMA Piri 1 Yogyakarta Pipit Aman
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 12, No 2 (2015): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/socia.v12i2.12241

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) realita kultur sekolah, (2) bentuk kultur sekolah, (3) penerapan prinsip demokrasi oleh kepala sekolah, (4) realita soft skill siswa, dan (5) Faktor pendukung pengembangan soft skill siswa; di SMA PIRI 1 Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan mengklasifikasikan, menginterpretasikan dan memverifikasi data dari lapangan. Hasil penelitian: (1) realita kultur sekolah nampak dari artifak-artifak yang ada yaitu slogan, peraturan, cerita, upacara, simbol, logo, dan gambar,2) bentuk kultur sekolah nampak dari pelaksanaan nilai-nilai islami, kerjasama saling menghargai dan saling mendukung, serta penegakan disiplin dan tanggungjawab,(3) kepala sekolah menerapkan prinsip demokrasi dalam pembagian tugas dan tanggungjawab,(4) Realita soft skill siswa dilihat pada kemampuan interpersonal dalam berhubungan dan berkerjasama, nampak pada kemampuan mengendalikan emosi, menerima nasehat, dan selalu berpikir positif,(5) faktor pendukung pengembangan soft skill siswa bersumber dari peraturan sekolah dan partisipasi warga sekolah.Kata kunci: Kultur Sekolah, Pengembangan, dan Soft Skill.
Determinan Pernikahan Usia Dini Di Indonesia Eny Widyawati dan Adi Cilik Pierewan *
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 14, No 1 (2017): SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/socia.v14i1.15890

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan pernikahan usia dini di Indonesia. Determinan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan variabel pendidikan responden, pendidikan pasangan, pendapatan, area tempat tinggal, agama, dan religiusitas. Kajian determinan pernikahan usia dini di Indonesia menggunakan metode kuantitatif dengan varian analisis data sekunder. Penelitian ini menggunakan data sekunder Indonesian Family Life Survey (IFLS) 5 pada tahun 2015. Teknik analisis menggunakan regresi linier berganda dengan R-Studio. Variabel penelitian ini menggunakan variabel dummy. Responden yang digunakan dipilih berdasarkan usia saat pertama kali menikah di bawah usia 21 tahun yang dikategorikan sebagai pernikahan usia dini. Responden penelitian ini ada 857 orang yang tersebar pada 13 provinsi yang ada di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel dummy pendidikan responden tingkat SD,  variabel dummy pendidikan pasangan yang Tidak Sekolah, variabel dummy pendidikan pasangan tingkat SD, pendapatan rendah, dan pendapatan menegah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pernikahan usia dini di Indonesia, sedangkan variabel religiusitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pernikahan usia dini di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa pernikahan usia dini rentan terjadi pada tingkat pendidikan responden yang rendah. Tingkat pendidikan pasangan yang Tidak Sekolah dan pendidikan pasangan tingkat SD memiliki hubungan dengan pernikahan usia dini di Indonesia. Pernikahan usia dini di Indonesia juga rentan terjadi terhadap responden yang memiliki pendapatan menengah ke bawah. Religiusitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pernikahan usia dini di Indonesia, artinya bahwa semakin religius akan berpengaruh untuk menurunkan pernikahan usia dini di Indonesia. Sedangkan dummy pendidikan responden tingkat SMA, dummy pendidikan pasangan tingkat SMA, dummy tingkat pendapatan tinggi, area tempat tinggal, dan agama tidak memiliki hubungan terhadap pernikahan usia dini di Indonesia. Kata Kunci: Determinan, Pernikahan Usia Dini , Indonesia