cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN VEGETASI TERHADAP SUHU PERMUKAAN DI WILAYAH KABUPATEN SEMARANG MENGGUNAKAN METODE PENGINDERAAN JAUH Setyo Adhi Nugroho; Arwan Putra Wijaya; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1499.461 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Semarang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang mana dalam pertumbuhan penduduk Kabupaten Semarang mengalami peningkatan tiap tahun seiring peningkatan pertumbuhan penduduk akan  mempengaruhi perubahan penggunaan lahan serta menurunnya ruang terbuka hijau dan yang paling penting mempengaruhi perubahan suhu permukaan di Kabupaten Semarang. Semakin berkurangnya ruang terbuka hijau untuk di wilayah perkotaan berpengaruh pada suhu permukaan di wilayah perkotaan, yang mana suhu berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup tidak terkecuali manusia. Dengan menggunankan metode penginderaan jauh ini dapat digunakan untuk menghitung perubahan luasan indeks vegetasi dan  suhu permukaan di Kabupaten Semarang pada tahun 1997, 2002, 2013 dan 2015Pada penelitian ini, analisis menggunakan citra satelit Landsat 5 tahun 1997, Landsat 7 tahun 2002, landsat 8 tahun 2013 dan 2015 serta menggunakan citra DEM SRTM untuk mengetahui suhu berdasarkan data ketinggian. Nilai suhu permukaan didapat dari pengolahan band termal citra satelit Landsat yang kemudian dikorelasikan dengan perubahan vegetasi menggunakan metode raster correlation.Hasil penelitian menunjukkan pada tahun 1997 dan 2002 kelas suhu permukaan yang mendominasi adalah kelas 29°C-31°C, namun kelas tersebut semakin berkurang pada tahun 2013, kelas yang mendominasi pada tahun 2013 kelas 32°C-34°C, Sedangkan hasil suhu menggunakan citra DEM SRTM kelas yang mendominasi adalah kelas 23°C-25°C. Hasil uji menggunakan metode raster correlation antara perubahan vegetasi terhadap suhu permukaan didapatkan nilai korelasi sebesar 46% antara tahun 2002 dengan 2013. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Suhu Permukaan, Vegetasi, DEM SRTM.  ABSTRACT                        Semarang district is a district in Central Java province in which the district's population growth has increased each year semarang  with the increase in population growth would affect land-use change and declining green open spaces and most importantly affects the surface temperature changes in the district of Semarang. Decreasing availability of green open space for urban effect on surface temperature in urban areas , where the temperature greatly affect the survival of living beings humans are no exception.Using remote sensing methods can be used to calculate changes in the area of vegetation index and surface temperature in Semarang district in 1997, 2002, 2013 and 2015.                    In this study, analysis using Landsat 5 satellite images of 1997, Landsat 7 satellite images of 2002, Landsat 8 satellite images of 2013 and 2015 as well as using DEM SRTM image to determine the temperature based on elevation data. Surface temperature values obtained from processing the thermal band of Landsat satellite images were then correlated with changes in vegetation using raster correlation.                    Results showed in 1997 and 2002 class surface temperature is dominated class of 29 ° C-31 ° C, but the class is on the wane in 2013, the dominant class in year 2013 class of 32 ° C-34 ° C, while the results of the temperature using DEM SRTM image of the dominant class is the class of 23 ° C-25 ° C. The test results using method raster correlation between changes in vegetation on the surface temperature obtained correlation value by 46% between 2002 to 2013. Key Words: Remote Sensing , Surface temperature , vegetation , DEM SRTM.*) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS PERUBAHAN LAJU EROSI PERIODE TAHUN 2013 DAN TAHUN 2018 BERBASIS DATA PENGINDRAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : DAS GARANG) Ahmad Shofiyul Huda; Arief Laila Nugraha; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.736 KB)

Abstract

ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang terletak di wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Semarang serta sebagian kecil Kabupaten Kendal. DAS Garang terletak tidak jauh dari pusat kegiatan manusia yang berjarak 2,2km dari pusat kota Semarang, berjarak 1,5km dari Ungaran sebagai ibukota dan sekitar 10 km dari pusat Kawasan Industri Kendal. DAS Garang merupakan salah satu DAS yang mengalami kerusakan lingkungan. Dampak adanya kerusakan lingkungan ini salah satunya adalah terjadinya erosi yang dapat mengakibatkan bencana banjir dan longsor. Pengelolaan DAS merupakan cara untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan. Kajian pemetaan daerah rawan erosi di dalam DAS merupakan salah satu langkah dasar yang diperlukan untuk pengelolaan DAS yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui laju erosi pada periode tahun 2013 dan tahun 2018 di area DAS Garang dan mengetahui faktor penyebab laju erosi. Metode yang digunakan  adalah Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) dengan menggunakan data curah hujan, Digital Elevation Model (DEM), data jenis tanah, citra landsat 8, dan data administrasi.Hasil dari analisis diperoleh laju erosi pada tahun 2013 yaitu sebesar 200,343 ton/ha/tahun dan laju erosi pada tahun 2018 sebesar 277,647 ton/ha/tahun. Faktor perubahan tutupan lahan memiliki pengaruh yang besar dibandingkan faktor perubahan curah hujan. Kata Kunci : DAS Garang, Erosi, Tutupan Lahan, RUSLE.  ABSTRACT The majority of the Garang watershed is located in the city of Semarang and the regency of Semarang and a small portion of the regency of Kendal. It is a watershed that is located not far from the center of human activity, such as the center of Semarang, which is 2.2 km away, Ungaran as the regency is 1.5 km, and about 10 km from the Kendal industrial center. Garang watershed is one of the watersheds that have experienced environmental damage. One of the impacts of environmental damage is erosion which can lead to floods and landslides. To anticipate the decline in environmental quality, a good watershed management is needed The study of mapping erosion-prone areas in watersheds is one of the basic steps needed for good watershed management. Therefore, this study intends to determine the rate of erosion that occurs from 2013 and 2018 in the Garang watershed area and know the factors that cause the rate of erosion. The method used is Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) using rainfall data, Digital Elevation Model (DEM), soil type data, Landsat 8 imagery, and administrative data. The results of the analysis the erosion rate in 2013 amounted to 200.343 tons / ha / year and in 2018 amounted to 277.647 tons / ha / year. Land cover change factor has a greater influence compared to other factors supporting erosion.
APLIKASI MAGNETOMETER DAN SIDE SCAN SONAR UNTUK PEMETAAN SEBARAN ANOMALI KEMAGNETAN DASAR LAUT (STUDI KASUS : PERAIRAN LOHGUNG, PALANG,TUBAN, JAWA TIMUR) Dwi Arini; Andri Suprayogi; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.197 KB)

Abstract

Medan magnet menyerupai suatu medan dari batang magnet yang sangat besar dan pusatnya berhimpitan dengan bumi serta mempunyai gaya tarik magnet yang melingkar. Hal ini menunjukkan bahwa  di seluruh permukaan bumi memiliki kuat medan magnet tersendiri. Pada perairan Lohgung, Palang, Tuban Jawa Timur merupakan daerah yang tersebar ranjau karena area tersebut merupakan bekas perang dunia ke-II. Untuk mendeteksi tingkat kemagnetan logam yang dimiliki tiap daerah perairan, maka dilakukan survei kemagnetan dengan menggunakan alat magnetometer dan side sca sonar,maka dilakukan survei kemagnetan logam serta penggambaran citra sehingga diperlukannyapembuatan peta logam sebaran anomali kemagnetan.Penelitian ini menggunakan software Oasis Montaj, MagMap, SonarWiz, dan C-Max untuk mengolah data kemagnetan dan image yang dihasilkan side scan sonar sehingga dapat mengetahui klasifikasi medan magnet, dan sumber anomali terdapat dibawah dasar laut atau disekitar perairan dari hasil image yang dihasilkan side scan sonar.Hasil yang diperoleh berupa peta sebaran anomali kemagnetan dasar laut dengan karakteristik sebaran anomali memiliki variasi intensitas magnet regional yang tidak sama dan menunjukkan adanya variasi pembentukkan dasar laut yang berbeda. Dari peta sebaran anomali kemagnetan yang didapat serta hasil validasi dari image side scansonar dan bantuan data imagesub bottom profiling yang menunjukkan posisi logam yang berbahaya dan telah dinetralisir sehingga dapat digunakan untuk kepentingan keselamatan navigasi serta kegiatan lain yang berhubungan dengan hidrografi.Kata kunci :     magnet, anomali kemagnetan, magnetometer, side scan sonar, peta sebaran anomali kemagnetandasar laut, keselamatan navigasi.
PENENTUAN NILAI EKONOMI KEBERADAAN DAN NILAI PENGGUNAAN LANGSUNG KAWASAN UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DAN PETA UTILITAS MENGGUNAKAN SIG (Studi Kasus : Kawasan KRKB Gembira Loka, Kota Yogyakarta) Fryda Arlina Mahardika; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.55 KB)

Abstract

ABSTRAK Yogyakarta adalah salah satu daerah istimewa di Indonesia yang terkenal secara nasional maupun internasional sebagai salah satu kota tujuan wisata andalan. Beragamnya jenis wisata yang disuguhkan menjadikan kesungguhan dalam kelestarian alam dan lingkungan untuk peningkatan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara di Yogyakarta. Salah satunya adalah Gembira Loka yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.  Berdasarkan hal  tersebut  maka  diperlukan  suatu  peta  Zona  Nilai  Ekonomi Kawasan  (ZNEK)  pada  lokasi ini untuk  mengetahui  nilai  ekonomi  dan  Willingness To Pay atau keinginan pengunjung untuk membayar dimana akan mempengaruhi nilai kemanfaatan lokasi wisata tersebut bagi  masyarakat dari adanya kawasan tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan regresi linear berganda kemudian perhitungan dengan perangkat lunak Maple 17 dengan menggunakan data TCM (Travel Cost Method) sebanyak 100 sampel untuk menentukan nilai penggunaan langsung (DUV) dan data CVM (Contingent Valuation Method) sebanyak 100 sampel untuk menentukan nilai keberadaan (EV) sehingga dapat digunakan untuk pembuatan Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Selanjutnya dilakukan survei toponimi untuk pembuatan Peta Utilitas.Berdasarkan pengolahan dan perhitungan data yang sudah dilakukan, diperoleh nilai ekonomi kawasan dengan nilai surplus konsumen sebesar 4.588.171,- dan nilai WTP sebesar Rp. 49.198,- untuk CVM sehingga diperoleh nilai ekonomi total Gembira Loka sebesar Rp. 7.629.736.883.720,-. Kata Kunci : Yogyakarta, Gembira Loka, Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Zona Nilai Ekonomi Kawasan ABSTRACT Yogyakarta is a special region in Indonesia which is worldwide famous as one of Indonesia’s best destination. The rich variety of tourism spots provides by Yogyakarta making protection of the nature and the enviroment itself become very important. One of them is the Gembira Loka which has a special attraction for the tourists who visit. . Thus, economic value area zone map (ZNEK) and analysis of willingness to pay value are strongly needed, which will shown the tourism spot effect to the society, especially the people in the tourism spot’s area. The method used in this research is done using multiple linear regression and calculation using software Maple 17 to gain direct use value  (DUV) by 100 sample  TCM (Travel Cost Method) and existence value (EV)  by 100 sample CVM (Contingent Valuation Method) so it can be used for making of economic value area zone map (ZNEK). And then, toponimi survey for making utiliy map. According to the analysis which have been done, the result of  the economic area value with consumer surplus is Rp. 4.588.171, - and the WTP is Rp. 49.198, - to CVM, thus the total economic value of  Gembiraloka  is Rp. 7.629.736.883.720, -. Keywords: Yogyakarta, Gembira Loka, Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Economic Value Area Zone
PEMBUATAN PROGRAM EKSTRAKSI DAN PENENTUAN POSISI SATELIT DARI FILE NAVIGATION RINEX VERSI 2.10 Vauzul Rahmat; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.786 KB)

Abstract

AbstrakDalam penentuan posisi dengan menggunakan GPS langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu menghitung posisi satelit selama pengamatan. Ketelitian suatu titik dalam sebuah survei GPS sangat dipengaruhi oleh ketelitian dari posisi satelit yang terekam pada saat pengamatan, semakin banyak satelit yang direkam maka semakin teliti posisi yang di dapat. Dalam survei menggunakan GPS, receiver GPS akan menerima informasi-informasi terkait satelit yang di amati itu sendiri. Informasi tersebut diberikan dalam berbentuk navigation message, isi dari navigation message itu biasanya terkait komponen orbit satelit (elemen kepler), dan komponen koreksi jam satelit. Untuk mendapatkan data navigation message dalam format baku kita dapat melakukan konversi data hasil pengukuran GPS ke dalam format RINEX versi 2.10. Dari format tersebut kita memperoleh data referensi waktu saat epoch dan koreksi waktu (Epoch, a0, a1, a2, dan Toe), data pertubasi satelit (Idot, Delta_N (∆n), Ωdot (Ω), CRS, CRC, CUS, CUC, CIC, dan CIS), dan data elemen kepler (Eccentricity (e), i0, Ω0, M0, ω, Sqrt_a (√a)), kemudian dibuat program penentuan posisi satelit GPS menggunakan bahasa visual basic. Hasilnya berupa program ekstraksi dan perhitungan posisi satelit, kemudian hasil perhitungan posisi satelit menggunakan program FMP 1.0 dibandingkan dengan precise ephemerides yang disediakan oleh IGS, hasil perbandingan menunjukkan program ini efektif digunakan untuk pengamatan dengan interval waktu 4 jam terhadap toc. Kata Kunci : RINEX, GPS, Broadcast Ephemerides, Visual Basic Abstract In positioning using the GPS the first step that we must do is calculating the satellite position during the observation. The precision of a point in a GPS survey is affected by the precision of the satellite position that recorded in the observation, the higher number of the satellite that is being recorded the more precise of the position can be. In surveying using GPS, GPS receiver will receive informations related to the satellite that is being observed.  These information is given in navigation message, and the content of the message usually related to the satellite orbit’s component (Kepler’s element) and time correction satellite’s component. To obtain the navigation message data in a standard format we can convert the measuring result of the GPS to the RINEX ver. 2.10 format. From the format we can get time reference data when epoch (Epoch, a0, a1, a2, and Toe), pertubation parameters satellite (Idot, Delta_N (∆n), Ωdot (Ω), CRS, CRC, CUS, CUC, CIC, and CIS), and keplerian parameters (Eccentricity (e), i0, Ω0, M0, ω, Sqrt_a (√a)), then from the data we made it into GPS satellite positioning program using visual basic language. The result is an extraction program and satellite position’s calculation, then the calculation’s result of satellite position using FMP 1.0 is being compared with the precise ephemerides provided by IGS, the result of the comparison shows that this program is effective to be used in observation with interval of 4 hours to toc Keywords : RINEX, GPS, Broadcast Ephemerides, Visual Basic
PEMBUATAN PETA JALUR PENDAKIAN GUNUNG LAWU Rian Yudhi Prasetyo; Andri Suprayogi; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.848 KB)

Abstract

Kegiatan mendaki gunung merupakan kegiatan dengan tingkat bahaya relatif tinggi. Para pendaki akan berjalan di hutan menghabiskan waktu yang cukup lama dengan kadar oksigen yang semakin tipis dan suhu yang sangat dingin bahkan bisa mencapai di bawah 0º Celcius. Para pendaki dapat tersesat, hilang dan meninggal di gunung karena kurangnya pengetahuan dan informasi tentang jalur pendakian yang mereka lalui. Pada jaman dahulu kegiatan pendakian gunung tidak sebanyak sekarang. Kegiatan pendakian hanya dilakukan kelompok atau komunitas tertentu saja seperti mahasiswa pecinta alam atau komunitas pecinta alam lainnya. Komunitas pecinta alam pada dasarnya sudah dibekali pengetahuan tentang pendakian, seperti perencanaan pendakian, bahaya dan cara mengatasi bahaya tersebut dalam pendakian sehingga bisa melakukan pendakian dengan lancar dan selamat. Tetapi saat ini kegiatan luar ruangan, terutama mendaki gunung merupakan kegiatan yang digemari banyak orang. Jumlah pendaki gunung semakin lama semakin bertambah, baik yang mempunyai pengetahuan tentang pendakian atau orang yang hanya ikut-ikutan dimana dia tidak memiliki pengetahuan dasar tentang mendaki gunung. Bahkan tidak jarang dijumpai pendaki yang mengabaikan standart keselamatan dalam pendakian. Berdasarkan hal tersebut, sehingga peneliti melakukan penelitian dengan pembuatan peta jalur pendakian gunung Lawu bertujuan untuk memberikan data spasial dan nonspasial yang berupa peta dan buku panduan mendaki gunung Lawu agar pendaki dapat mengetahui karakteristik masing-masing jalur pendakian dan membuat perencanaan pendakian yang baik sehingga meminimalisir bertambahnya korban jiwa di gunung. Pengumpulan data dilakukan dengan survei langsung ke 3 jalur pendakian baik data spasial maupun data nonspasial. Pengolahan data tersebut meliputi transformasi data kedalam format yang telah ditentukan dan penyesuaian data terhadap parameter – parameter yang digunakan serta proses penyajian data ke dalam bentuk peta fisik dan menganalisis tingkat kesulitan ke 3 jalur pendakian dari parameter yang didapat. Data hasil penelitian berupa data jarak, kelerengan, beda tinggi, waktu tempuh, dan ketersediaan sarana di jalur pendakian.
ANALISIS PENGGUNAAN SALURAN VISIBEL UNTUK ESTIMASI KANDUNGAN KLOROFIL DAUN PADI DENGAN CITRA HYMAP (Studi Kasus : Kabupaten Karawang, Jawa Barat) Grivina Yuliantika; Andri Suprayogi; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.72 KB)

Abstract

ABSTRAK Padi adalah tanaman pangan yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Komiditi penghasil padi terbesar adalah Kabupaten Karawang.Tanaman padi yang sehat adalah tanaman padi yang mempunyai jumlah klorofil lebih banyak dibandingkan tanaman padi yang tidak sehat. Pendeteksian kandungan klorofil secara cepat dan efisien dapat menggunakan metode penginderaan jauh. Beberapa metode dalam penginderaan jauh dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan klorofil daun padi.Beberapa indeks vegetasi yang digunakan dalam penelitian adalah indeks vegetasi GLI (Green Leaf Index)  dan NGRDI (Normalized Green Red Difference Index). Metode indeks vegetasi GLI dan NGRDI merupakan indeks vegetasi yang sensitif terhadap kehijauan daun, sehingga baik dalam penentuan klorofil daun padi. Dimana pada penelitian ini dianalisa metode mana yang mempunyai model terbaik dalam mengestimasi kandungan klorofil daun padi. Dan diperoleh kesimpulan bahwa GLI mempunyai pemodelan lebih baik dibandingkan metode NGRDI. Nilai koefisien determinasi (R2) GLI sebesar 0,6454 dan model yang diperoleh yaitu y= -62,248x+ 41,459.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indeks vegetasi GLI optimal pada panjang gelombang 455,5 nm, 592,1 nm, dan 699,4 nm dan NGRDI optimal pada panjang gelombang 532,1 nm dan 623,2 nm. Saluran visibel efektif apabila dibandingkan dengan pemodelan data citra Hyperspectral dengan menggunakan 20 titik sampel yang membuktikan bahwa Green Leaf Index (GLI) mampu memberikan nilai RMSE cukup baik yaitu sebesar 0,593 SPAD (Soil Plant Analysis Development)unit dan koefisien determinasi (R2) 0,785. Resolusi spektral yang digunakan untuk mendeteksi klorofil daun padi adalah 455,5–885,3 nm. Sehingga citra HyMap mampu mendeteksi klorofil  tanaman daun padi pada skala 1:10.000 dengan resolusi spasial 4,2 meter. Kata Kunci : HyMap,, GLI, kandungan klorofil, NGRDI  ABSTRACT Rice is the most important crops that benefit the Indonesian people's lives. The commodities largest of rice prodution is Karawang regency. The healthy rice crop is rice plants that have more than the amount of chlorophyll unhealthy rive plants. Detection ofchlorophyll content quicklyand efficiently using remote sensing methods. Some methods in remote sensing can be used to detect the chlorophyll content of rice leaves.Some vegetation index used in the study are GLI vegetation index (Green Leaf Index) and NGRDI (Red Green Normalized Difference Index). GLI vegetation index and NGRDI vegetation index are sensitive to greenish leaf, so they are good to determine rice leaf chlorophyll. In this study, we analyze which method has the best model to estimate rice leaf chlorophyll content. And we conclude that GLI has a better model than the NGRDI method. The coefficient of GLI’s determination (R2) is 0,6454 and the regretion models is y= -62,248x + 41,459.The results of this study indicate that GLI is optimal at a wavelength of 455,5 nm, 592,1 nm, and 699,4 nm and NGRDI is optimal at wavelength 532,1 nm and 623,2 nm. Visible band index effective when compared with Hyperspectral modeling image data by using 20 sample points that proved that GLI is able to give a pretty good RMSE value which is equal to 0,593 SPAD (Soil Plant Analysis Development) units and the coefficient of determination (R2) of 0,785. Spectral resolution, that is used to detect the rice leaf chlorophyll, is 455,5 to 885,3 nm. So the HyMap image is able to detect rice leaf chlorophyll on a scale of 1: 10.000 with a spatial resolution of 4,2 meters.Key Words :HyMap,GLI, Chlorophyll Content, NGRDI   *) Penulis Penanggung JawabABSTRAK Padi adalah tanaman pangan yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Komiditi penghasil padi terbesar adalah Kabupaten Karawang.Tanaman padi yang sehat adalah tanaman padi yang mempunyai jumlah klorofil lebih banyak dibandingkan tanaman padi yang tidak sehat. Pendeteksian kandungan klorofil secara cepat dan efisien dapat menggunakan metode penginderaan jauh. Beberapa metode dalam penginderaan jauh dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan klorofil daun padi.Beberapa indeks vegetasi yang digunakan dalam penelitian adalah indeks vegetasi GLI (Green Leaf Index)  dan NGRDI (Normalized Green Red Difference Index). Metode indeks vegetasi GLI dan NGRDI merupakan indeks vegetasi yang sensitif terhadap kehijauan daun, sehingga baik dalam penentuan klorofil daun padi. Dimana pada penelitian ini dianalisa metode mana yang mempunyai model terbaik dalam mengestimasi kandungan klorofil daun padi. Dan diperoleh kesimpulan bahwa GLI mempunyai pemodelan lebih baik dibandingkan metode NGRDI. Nilai koefisien determinasi (R2) GLI sebesar 0,6454 dan model yang diperoleh yaitu y= -62,248x+ 41,459.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indeks vegetasi GLI optimal pada panjang gelombang 455,5 nm, 592,1 nm, dan 699,4 nm dan NGRDI optimal pada panjang gelombang 532,1 nm dan 623,2 nm. Saluran visibel efektif apabila dibandingkan dengan pemodelan data citra Hyperspectral dengan menggunakan 20 titik sampel yang membuktikan bahwa Green Leaf Index (GLI) mampu memberikan nilai RMSE cukup baik yaitu sebesar 0,593 SPAD (Soil Plant Analysis Development)unit dan koefisien determinasi (R2) 0,785. Resolusi spektral yang digunakan untuk mendeteksi klorofil daun padi adalah 455,5–885,3 nm. Sehingga citra HyMap mampu mendeteksi klorofil  tanaman daun padi pada skala 1:10.000 dengan resolusi spasial 4,2 meter. Kata Kunci : HyMap,, GLI, kandungan klorofil, NGRDI  ABSTRACT Rice is the most important crops that benefit the Indonesian people's lives. The commodities largest of rice prodution is Karawang regency. The healthy rice crop is rice plants that have more than the amount of chlorophyll unhealthy rive plants. Detection ofchlorophyll content quicklyand efficiently using remote sensing methods. Some methods in remote sensing can be used to detect the chlorophyll content of rice leaves.Some vegetation index used in the study are GLI vegetation index (Green Leaf Index) and NGRDI (Red Green Normalized Difference Index). GLI vegetation index and NGRDI vegetation index are sensitive to greenish leaf, so they are good to determine rice leaf chlorophyll. In this study, we analyze which method has the best model to estimate rice leaf chlorophyll content. And we conclude that GLI has a better model than the NGRDI method. The coefficient of GLI’s determination (R2) is 0,6454 and the regretion models is y= -62,248x + 41,459.The results of this study indicate that GLI is optimal at a wavelength of 455,5 nm, 592,1 nm, and 699,4 nm and NGRDI is optimal at wavelength 532,1 nm and 623,2 nm. Visible band index effective when compared with Hyperspectral modeling image data by using 20 sample points that proved that GLI is able to give a pretty good RMSE value which is equal to 0,593 SPAD (Soil Plant Analysis Development) units and the coefficient of determination (R2) of 0,785. Spectral resolution, that is used to detect the rice leaf chlorophyll, is 455,5 to 885,3 nm. So the HyMap image is able to detect rice leaf chlorophyll on a scale of 1: 10.000 with a spatial resolution of 4,2 meters.Key Words :HyMap,GLI, Chlorophyll Content, NGRDI   *) Penulis Penanggung Jawab
Pembuatan Peta Potensi Curah Hujan Dengan Menggunakan Citra Satelit Mtsat Di Pulau Jawa Dian Ika Aryani; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.756 KB)

Abstract

Rain that occurs anytime make rainfall information become needed. Rainfall information is one of the important information and needed by almost all fields. Moreover for Java isle, the most populous isle in Indonesia, and with all sorts of activities .     This study aims to make rainfall information in rainfall maps by utilizing geostationary meteorological satellite’s data, MTSAT-1R. The making of rainfall map created by the brightness temperature values is recorded in the infrared channel-1 (IR1) on MTSAT satellite imagery. MTSAT image data used starting on May 1, 2013 until August 31, 2013 as many as 2.931 data set.     Research methods include 1) conversing PGM data format to ERS one, 2) correcting geometric or doing registration on coordinate system, 3) incorporating data in every hour into daily, 4) converting digital value number to brightness temperature values, 5) grouping brightness temperatures values into rainfall classification, 6) layouting rainfall map using ArcGIS, 7) making rainfall map animations, and 8) making the websites     Results obtained in the form of rainfall map. To support the cloud movements and see the potential rainfall area, this study also create animated rainfall maps. Then, the results of rainfall maps are displayed on a website so public can utilize them.Keywords : Map, rainfall, Brightness temperature, MTSAT-1R, Website
ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN METODE REGISTRASI ANTARA METODE KOMBINASI DAN METODE TRAVERSE DENGAN MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER DALAM PEMODELAN OBJEK 3 DIMENSI Alfred Boni Son Simbolon; Bambang Darmo Yuwono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.6 KB)

Abstract

ABSTRAK Pemodelan adalah suatu kegiatan untuk membentuk suatu objek dengan skala yang lebih kecil yang direpresentasikan dalam bentuk tiga dimensi. Perkembangan teknologi di bidang survei khususnya bidang pemodelan saat ini sudah berkembang dengan sangat pesat. Kehadiran Terrestrial Laser Scanner (TLS) memberikan solusi dalam pemodelan suatu objek. TLS biasanya digunakan untuk memodelkan suatu objek dengan bentuk yang rumit dan memerlukan ketelitian yang tinggi. Untuk membuat model tiga dimensi, perlu dilakukan penggabungan data dari beberapa hasil penyiaman, yang biasa disebut dengan registrasi.Dalam penelitian ini, pemodelan salah satu ikon Kota Semarang yaitu Tugu Muda dilakukan dengan menggunakan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanner. Proses akuisisi data dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi dan metode traverse untuk registrasi yang kemudian dilakukan perbandingan terhadap hasil ketelitian metode-metode tersebut. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan GPS Geodetik untuk mengetahui koordinat yang dijadikan sebagai referensi dalam pembuatan jaring poligon dalam metode traverse. Penulis menggunakan TLS Topcon GLS-2000 sebagai alat untuk melakukan pemindaian objek. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Scan Master untuk registrasi metode Traverse, Maptek I-Site Studio untuk metode kombinasi, dan Autodesk Remake untuk pemodelan. Model scan hasil registrasi kemudian dibandingkan jaraknya terhadap objek aslinya dengan menggunakan Total Station.Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa model 3 dimensi Tugu Muda dalam bentuk point cloud yang kemudian dimodelkan menjadi objek yang solid. Besar RMS registrasi dari masing-masing metode adalah 0,037 m untuk metode kombinasi dan 0,076 untuk metode traverse. Sedangkan besar RMS dari hasil perbandingan jarak dengan Total Station adalah sebesar ±0,0051827 m untuk metode kombinasi dan sebesar ±0,0052574 m untuk metode traverse.
APLIKASI PETA INTERAKTIF KABUPATEN BANYUMAS BERBASIS FLASH SEBAGAI MEDIA PROMOSI PARIWISATA Kindy Ibrahim Hari; Arief Laila Nugraha; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.164 KB)

Abstract

ABSTRAKPariwisata Kabupaten Banyumas merupakan salah satu potensi wisata di Indonesia yang perlu lebih diperkenalkan. Kabupaten Banyumas yang beriklim tropis basah memiliki banyak potensi wisata terutama dalam wisata alam dengan keindahan alam sebagai daya tariknya.Dengan hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan serta pendapatan daerah. Oleh karena itu dibutuhkan media promosi yang dapat menimbulkan minat wisatawan lokal maupun asing untuk mengunjungi pariwisata di Kabupaten Banyumas.Melalui survei lapangan dengan menggunakan GPS handheld, peta jaringan jalan serta data atribut objek wisata, maka dihasilkan peta sebaran objek wisata Kabupaten Banyumas. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam penelitian ini akan dibangun sebuah aplikasi peta interaktif berbasis flash,dengan menggunakan Adobe Flash untuk merancang desain dan tampilan aplikasi, serta bahasa pemrograman action script 2.0. Pemilihan peta flash mengingat dengan kemajuan teknologi yang semakin modern serta penggunaan media promosi yang unik dan menarik, maka kebutuhan peta digital meningkat, serta dengan tampilan yang dapat dibuat menarik, informatif, dan mudah digunakan.Aplikasi peta interaktif berbasis flash sebagai media promosi pariwisata Kabupaten Banyumas diharapkan dapat membantu wisatawan dalam mendapatkan informasi mengenai sebaran lokasi wisata di Kabupaten Banyumas, sehingga wisata di Kabupaten Banyumas menjadi salah satu tujuan utama bagi para calon wisatawan.Kata Kunci: Banyumas, Flash, Pariwisata dan Peta Interaktif ABSTRACTBanyumas tourism is one of the tourism potential in Indonesia that needs to be introduced. Banyumas wet tropical climate has a lot of tourism potential, especially in nature with the beauty of nature as attractiveness. It is expected to increase the number of tourists as well as local revenue. Therefore, it needs a media campaign that could lead to local and foreign tourists to visit the tourism in Banyumas. Through field surveys using GPS handheld, a road network map and attractions attribute data, then the resulting distribution map tourism of Banyumas. Based on this, so in this study will be designed a flash-based interactive map application, using Adobe Flash CS 6 to build the design and interface of applications, as well as the Action Script 2.0 for programming language. Flash recall election map with increasingly modern technological advances and the use of media promotion of the unique and interesting, the need for increased digital maps, as well as the appearance can be made attractive, informative and easy to use. Flash-based interactive map application as a medium to promote Banyumas Tourism is expected to help tourists in getting information on the distribution of tourist sites in Banyumas, so the tour in Banyumas has became one of the main goals for potential tourists.Keywords : Banyumas,  Flash, Interactive Map and Tourism  *) Penulis, Penanggungjawab

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue