cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
PENGEMBANGAN WEBGIS UNTUK INFORMASI KERENTANAN TERHADAP ANCAMAN BANJIR Frizani, Defanny Elsa; Nugraha, Arief Laila; Awwaluddin, Moehammad
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKecamatan Semarang Timur merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang yang termasuk dalam Bagian Wilayah Kota (BWK) I, yaitu wilayah dengan zona/kawasan perdagangan, permukiman, jasa pendidikan serta campuran. Hal ini menjadikan Kecamatan Semarang Timur memiliki pertumbuhan penduduk yang relatif padat. Pada saat musim penghujan, Kecamatan Semarang Timur tidak luput dari ancaman banjir. Karena kondisi wilayah kecamatan yang padat, kerugian dan kerusakan pada saat kejadian sangat rentan terjadi. Penelitian terkait pengembangan webgis untuk informasi kerentanan terhadap ancaman bencana banjir dapat digunakan dalam meminimalisir kerusakan/kerugian yang akan muncul dari bencana banjir. Penelitian ini memanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam menganalisis kajian kerentanan. Hasil analisis klasifikasi kerentanan terhadap bencana banjir di Kecamatan Semarang Timur yang mengacu pada Perka BNPB No.2 Tahun 2012 serta dilakukannya modifikasi pada beberapa parameter kerentanan, telah diperoleh tiga kelas yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Pengembangan aplikasi webgis untuk informasi kerentanan terhadap ancaman banjir ini menggunakan platform ArcGIS Online dan selanjutnya diberi nama Aplikasi Kesiapsiagaan Banjir. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur – fitur yang terdapat pada ArcGIS Online yang berfungsi sebagai penunjang aplikasi agar dapat memberikan informasi terkait kerentanan terhadap ancaman banjir sehingga lebih interaktif dan informatif sebagaimana tujuan dari pengembangan aplikasi ini sendiri. Pada aplikasi ini juga telah dilakukan uji program dan uji kegunaan.
PENENTUAN BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT PROVINSI BANTEN MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 Pratiwi Purba, Eleven Eleven; Sudarsono, Bambang; Awwaluddin, Moehammad
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKNegara Indonesia terdiri dari banyak provinsi yang semestinya dilakukan penentuan batas pengelolaan wilayah di laut karena hal tersebut sangat krusial, karena bisa mengakibatkan konflik antara daerah bersebelahan atau berhadapan dan konflik tumpang tindih kekuasaan. Undang – Undang Nomor 23 tahun 2014 menyatakan bahwa daerah berwenang dalam mengelola sumber daya nasional (sumberdaya buatan, sumberdaya alam, dan sumberdaya manusia) yang telah tersedia di wilayah lautnya serta memiliki tanggung jawab untuk memelihara kelestarian lingkungannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penentuan batas pengelolaan wilayah laut di Provinsi Banten dengan menggunakan metode kartometrik. Pemilihan Peta dasar yang digunakan sesuai dengan peta skala terbesar yang tersedia yaitu Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25.000 dan dibandingkan dengan Citra Landsat 8 tahun 2019 dengan mengaplikasikan metode Thresholding untuk menentukan daerah laut dan darat. Metode penarikan batas laut dilakukan dengan prinsip equidistance untuk wilayah bersebelahan, Median line untuk wilayah berhadapan yang kurang dari 24 mil laut, dan penarikan garis sejajar sejauh 12 mil laut untuk daerah yang tidak berhadapan ataupun bersebelahan.Hasil penelitian ini menjelaskan cara penentuan batas pengelolaan wilayah laut berdasarkan Permendagri No 141 tahun 2017 dengan menggunakan peta dasar RBI skala 25.000 dan Citra Landsat 8. Hasil luas pengelolaan wilayah laut Provinsi Banten menggunakan Peta dasar RBI seluas 1.133.670,545 Hektar dan penggunaan citra Landsat 8 seluas 1.132.829,005 Ha. Perbedaan luas antara dua peta dasar tersebut sebesar 841,539 Ha atau 0,07423%.Kata Kunci: Citra Landsat 8,  Equidistance, Kartometrik, Median Line, Thresholding  ABSTRACTThe state of Indonesia consists of many provinces where the boundaries of the management of areas at sea should be determined because this is very crucial, because it can lead to conflicts between adjacent or opposite areas and conflicts over overlapping powers. Law No. 23/2014 states that regions have the authority to manage national resources (artificial resources, natural resources and human resources) that are already available in their marine areas and have the responsibility to preserve their environment.Therefore, this study aims to determine the boundary determination of marine area management in Banten Province by using the kartometric method. The selection of the base map used is in accordance with the largest scale map available, namely the Indonesian Earth Map scale of 1: 25.000 and compared to the Landsat 8 imagery in 2019 by applying the Thresholding method to determine marine and land areas. The sea boundary drawing method is carried out with the principle of equidistance for adjacent areas, Median line for opposite areas less than 24 nautical miles, and parallel line drawing as far as 12 nautical miles for non-facing or adjacent areas.The results of this study explain how to determine the boundaries of marine area management based on Permendagri No. 141 of 2017 using a 25.000 scale RBI base map and Landsat 8 imagery.The results of the area of Banten Province management using the RBI base map covering an area of 1.133.670,545 hectares and using Landsat 8 imagery as large as 1.132.829,005 Ha. The area difference between the two base maps is 841,539 Ha or 0,07423%.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BODRI TERHADAP DEBIT PUNCAK MENGGUNAKAN METODE SOIL CONSERVATION SERVICE (SCS) Tisnasuci, Ilya Dewanti; Sukmono, Abdi; Hadi, firman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPertambahan penduduk yang terus melaju pesat seiring dengan berjalannya waktu mengakibatkan suatu daerah semakin berkembang. Perkembangan ini mengakibatkan kebutuhan lahan untuk industri dan kebutuhan perumahan meningkat pesat sehingga mengakibatkan berkurangnya persediaan lahan, air dan sumber daya lainnya. Perubahan tutupan lahan yang terjadi di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai akibat dari perkembangan kota merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi air larian, di mana perubahan besar air larian ini mempengaruhi besarnya debit puncak. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Fercher (2017) mengenai pemodelan dampak perubahan penggunaan lahan terhadap debit puncak di Lembah Urseren Pegunungan Alpen Swiss berkurangnya tutupan lahan vegetasi dapat menyebabkan meningkatnya debit puncak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap perubahan debit puncak di DAS Bodri. DAS Bodri merupakan DAS Prioritas berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 328/Menhut-II/2009 Tentang Penetapan DAS Prioritas. Metode yang digunakan adalah klasifikasi supervised untuk klasifikasi tutupan lahan dan overlay untuk pengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi dan metode Soil Conservation Services (SCS) untuk mengetahui besar debit puncak dengan mempertimbangkan parameter tutupan lahan, jenis tanah, curah hujan, dan kemiringan lahan. Regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh perubahan lahan terhadap perubahan debit puncak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan lahan paling besar terjadi pada tutupan lahan hutan yaitu berkurang sebesar 38,039 km2 dan tutupan lahan kelas lahan terbuka meningkat sebesar 28.442 km2. Perubahan debit puncak pada tahun 2016 dan 2020 sebesar 19,4m3/s. Pengaruh perubahan lahan terhadap perubahan debit puncak yaitu 54,9% sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan tutupan lahan berpengaruh terhadap perubahan debit puncak. Kata Kunci: DAS Bodri, Tutupan Lahan, Debit Puncak, Supervised, Soil Conservation Services (SCS). ABSTRACTThe population growth that goes rapidly over the time causing a growing area. This population development resulted in increase the need for land that used for industry and housing needs. It resulting in reduced supplies of land, water and other resources. Changes in land cover that occur in a watershed that caused by urban development are one of the factors that affect to the run-off water, where changes in the size of runoff water can affect the amount of peak discharge. Based on research conducted by Fercher (2017) on modeling the impact of land use change on peak discharge in the Urseren Valley of the Swiss Alps, reduced vegetation land cover can cause an increase in peak discharge. This research was conducted to determine the effect of land cover changes on peak discharge canges in the Bodri watershed. The Bodri Watershed is one of the priority watersheds based on the Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 328 / Menhut-II / 2009 concerning Determination of Priority Watershed..The method used is supervised classification for land cover classification and overlay to determine land cover changes and the Soil Conservation Services (SCS) method to determine the size of the peak discharge by considering some  parameters like land cover, soil type, rainfall, and land slope. Simple linear regression to determine the effect of land cover changes on peak discharge changes. The results showed that the largest land cover change occurred in forest land cover, which was reduced by 38.039 km2 and land cover for open land classes increased by 28,442 km2. The change in peak discharge in 2016 and 2020 was 19.4 m3/s. The effect of land cover changes in peak discharge is 54.9%, so it can be concluded that changes in land cover affect in peak discharge changes.
ANALISIS KETELITIAN POINT CLOUDS TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER (STUDI KASUS: DEKANAT LAMA FAKULTAS TEKNIK) Ramadhani, Sekar Melati; Prasetyo, Yudo; Bashit, Nurhadi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPoint clouds adalah kumpulan titik yang memiliki informasi koordinat X, Y, Z, biasa digunakan sebagai acuan 3 dimensi baik untuk pembuatan Digital Elevation Model (DEM), Digital Surface Model (DSM), modelling atau meshing. Teknologi untuk membuat model 3D dan mesh pada saat ini semakin berkembang, sehingga tuntutan pembuatan model 3D atau mesh semakin diperhatikan ketelitiannya. Ketelitian model 3D dan mesh bergantung pada ketelitian point clouds, semakin teliti point clouds, semakin teliti pula model 3D atau mesh yang dibuat, sehingga perlu adanya penelitian untuk mengetahui ketelitian point clouds. Akuisisi point clouds dapat dilakukan menggunakan beberapa metode yang memiliki karakteristik berbeda. Penelitian ini fokus untuk mengetahui kualitas dan ketelitian point clouds hasil akuisisi menggunakan TLS Leica BLK360 pada Gedung Dekanat lama fakultas teknik. Data TLS diregistrasi menggunakan metode cloud to cloud sehingga terbentuk point clouds Dekanat Lama Fakultas Teknik. Hasil penelitian ini dapat menunjukkan bahwa TLS memiliki ketelitian yang baik dengan RMSE jarak sebesar 0,025m dan RMSE ICP antara lain RMSEx 0,044m, RMSEy 0,027, RMSE 0,066 RMSExy 0,052 dan RMSExyz 0,084 m.
VISUALISASI MODEL 3D KAMPUS DEPARTEMEN TENIK GEODESI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO Tistariawan, Adji Chandra; Nugraha, Arief Laila; Sasmito, Bandi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPerkembanngan sistem informasi geografis (SIG) pada saat ini sudah berkembang dengan cepat. Muncul nya visualisasi 3D yang memungkinkan pengguna untuk melihat peta 3D yang dapat memudahkan pengguna dalam melihat menginterpretasikan tempat tersebut. Namun, model 3D berorientasi objek apabila divisualisasikan, maka model 3D hanya berbentuk satu kesatuan yang membatasi fungsi SIG dalam menyampaikan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model 3D Kampus Departemen Teknik Geodesi, rancang bangun 3D GIS. Maka dibutuhkannya metode Full level of Detail (FLoD’s) serta metode objek berorientasi entitas dalam pembuatan model 3D. Metode FLoD yang digunakan adalah kombinasi Outdoor Level of Detail 3 (OLoD3) dan Indoor Level of Detail 1 (ILoD1) untuk membangun model 3D menggunakan perangkat lunak SketchUp dan informasi yang dibangun ke dalam model 3D menggunakan perangkat lunak CityEngine. Hasil penelitian berupa model 3D yang telah dibangun baik luar ataupun dalam dapat divisualisasikan dengan baik dan sesuai metode FLoD dengan spesifikasi OLoD3 dan ILoD1 dan analisis uji geometri pada model 3D dengan hasil ketelitian ±0.016 m. Hasil uji geometri telah memenuhi pada standar akurasi relatif berupa panjang dimensi. Hasil rancang bangun model 3D yang telah dibangun dapat menunjukkan model 3D yang menampilkan informasi kepada pengguna, sehingga model 3D dapat diakses oleh pengguna adalah model 3D yang menampilkan informasi yang telah ditambahkan dengan metode objek berorientasi entitas.
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS JALAN, FASUM DAN FASOS TERHADAP HARGA TANAH MENGGUNAKAN RADIAL BASIS FUNCTION (STUDI KASUS: KELURAHAN UTAN KAYU SELATAN, JAKARTA TIMUR) Utama Giardi, Nahar Dito; Subiyanto, Sawitri; Firdaus, Hana Sugiastu
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMatraman merupakan salah satu kecamatan di Jakarta Timur yang memiliki posisi cukup strategis dimana paling dekat dengan Central Business District (CBD) Jakarta. Kedekatan posisi tersebut memiliki keuntungan tersendiri bagi Kecamatan Matraman salah satunya aksesibilitas terhadap CBD Jakarta. Kelurahan Utan Kayu Selatan merupakan salah satu contoh yang mengalami perkembangan pesat. Perkembangan sektor perekonomian terjadi salah satunya di Jalan Utan Kayu Raya sehingga berpotensi meningkatkan harga tanah di wilayah sekelilingnya. Potensi bisnis properti di Kelurahan Utan Kayu Selatan menjadi daya tarik tersendiri. Ketertarikan bisnis tersebut tidak terlepas dari faktor aksesibilitas, fasilitas umum dan fasilitas sosial. Model matematis dapat digunakan untuk pemetaan, pemantauan dan menjelaskan keterkaitan faktor-faktor tersebut terhadap harga tanah. Oleh sebab itu, model matematika dapat digunakan untuk membantu pihak-pihak yang terlibat dalam bisnis properti. Metode yang digunakan dalam mengestimasi harga tanah di kelurahan tersebut yaitu Radial Basis Function (RBF), dengan melihat hubungan jarak bidang tanah terhadap jalan, fasilitas umum dan fasilitas sosial. Pemodelan dilakukan berdasarkan sampel yang ditentukan pada harga tanah ZNT dan NJOP. Selanjutnya, perhitungan jarak dilakukan dengan network analysis. Hasilnya, faktor aksesibilitas, fasilitas umum dan fasilitas sosial pada model RBF harga ZNT mempengaruhi 61,82% sedangkan pada model RBF harga NJOP mempengaruhi 34,91%. Pengaruh setiap faktor dapat dilihat pada nilai statistik t dan untuk melihat besar kecilnya pengaruh dapat dilihat pada koefisien model dimana faktor aksesibilitas yang paling berpengaruh pada model harga ZNT adalah Jalan Utan Kayu Raya sedangkan pada model harga NJOP adalah Jalan Jenderal Ahmad Yani. Sedangkan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang paling berpengaruh pada model harga ZNT dan NJOP yaitu Universitas Negeri Jakarta dan Green Pramuka Square. Kata Kunci: Bisnis Properti, Harga Tanah, NJOP, RBF, Utan Kayu Selatan ABSTRACTMatraman is one of the sub-districts in East Jakarta which has a strategic position which is closest to the Central Business District (CBD) of Jakarta. Strategic position is an opportunity for Matraman District, one of which is accessibility to the Jakarta CBD. Utan Kayu Selatan is one example that is experiencing rapid development. One of the developments in the economic sector is Utan Kayu Raya Road, which has increased the land price in the surrounding area. The potential of the property business in Utan Kayu Selatan is an attraction. Business interest cannot be seperated from the  factors of accessibility, public and social facilities. Mathematical models can be used for mapping, explaining the relationship of these factors to land prices. Therefore, a mathematical model can be used to help the parties involved in the property business. In estimating the land price in the village, Radial Basis Function (RBF) method is used by looking at the relationship between the distance of land parcels to roads, public facilities and social facilities. Modeling is carried out based on a sample determined on the zone price and NJOP. Furthermore, the calculation of the distance is done by network analysis. As a result, the factor of accessibility, public facilities and social facilities in RBF model of zone price affecting 61.82% while in RBF model of NJOP price affects 34.91%. The effect of each factor can be seen in the statistical value and to see the size of the influence can be seen in the coefficient of the model where the most influential accessibility factor on the zone price model is Utan Kayu Raya Road while the NJOP price model is Jenderal Ahmad Yani Road. Meanwhile, public facilities and social facilities that have the most influence on the zone price and NJOP price model are Jakarta State University and Green Pramuka Square.
ANALISIS PEMODELAN 3 DIMENSI PADA METODE CLOSE RANGE PHOTOGRAMMETRY MENGGUNAKAN FREE AND OPEN SOURCE SOFTWARE Dinoto, Tjiong, Susilo; Prasetyo, Yudo; Bashit, Nurhadi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDewasa ini, pemodelan 3 dimensi (3D) memiliki peran penting dalam dokumentasi objek dalam bentuk digital. Hal ini erat diimplementasikan ke dalam teknologi rekonstruksi pada software.Salah satu alternatif adalah Free and Open Source Software (FOSS) fotogrametriyang menyediakan otomatisasi yang fleksibel dan dapat diakses secara mudah. Penelitian ini menggunakan FOSS MicMac untuk merekonstruksi objek dalam bentuk dense cloud.. Hasil akhir berupa model 3D digital dapat diperoleh melalui tahap post processing menggunakan CloudCompare. Hasil akhir penelitian menunjukan bahwa FOSS mampu merekonstruksi dan memodelkan objek. Hasil akhir model memiliki kesesuaian cukup baik dari segi bentuk dan warna. Nilai rata-rata selisih koordinat ICP pada model MicMac sebesar 8,519 mm. Nilai tersebut menunjukan bahwa model MicMac telah memenuhi standar ketelitian model < 1 cm sesuai dengan CIPA Heritgae Documentation.
ANALISIS PENENTUAN BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT PROVINSI BERCIRI KEPULAUAN DARI CITRA SENTINEL-1A (STUDI KASUS : PROVINSI KEP. BANGKA BELITUNG) Tri Astuti, Eka Dwi; Sabri, L.M; Awwaluddin, Moehammad
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKUndang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah merupakan undang-undang yang mengatur mengenai kewenangan suatu provinsi dalam pengelolaan sumber daya alam baik darat maupun laut. Jenis provinsi pada peraturan ini terbagi menjadi dua yaitu provinsi pada umumnya dan provinsi berciri kepulauan. Definisi provinsi berciri kepulauan adalah provinsi yang memiliki karakteristik secara geografis dengan wilayah lautan lebih luas dari daratan serta di dalamnya terdapat pulau-pulau yang membentuk gugusan pulau sehingga menjadi satu kesatuan geografis dan sosial budaya. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu yang berciri kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknis penegasan provinsi berciri kepulauan serta luas wilayah pengelolaan wilayah laut dari data dasar yang digunakan. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan pada Peta RBI skala 1:50.000 dan pada Citra Sentinel-1A dengan metode kartometrik. Penarikan batas pada citra, perlu dilakukan proses ekstraksi garis pantai yang sebelumnya dilakukan pengkoreksian citra. Perhitungan luas wilayah dilakukan dengan dua system koordinat yaitu UTM (Universal Transverse Mercator) dan Lambert Cylindrical Equal Area. Penarikan batas menggunakan tiga garis pangkal yaitu garis pangkal normal, lurus dan kepulauan. Hasil dari penelitian ini yaitu didapatkan luas wilayah laut Provinsi Bangka Belitung lebih besar dari wilayah daratnya. Perbandingan luas wilayah pada kedua data dengan sistem proyeksi Lambert Cylindrical Equal Area yaitu sebesar 0,09% untuk wilayah laut dan 0,02% untuk wilayah darat. Sementara itu, presentasi luas wilayah laut pada data Peta RBI 67,9% dan pada data Citra Sentinel-1A sebesar 67,6 % dari keseluruhan luas wilayah.
ANALISIS KESESUAIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI KECAMATAN NGALIYAN PASCA PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG-BATANG Amalia Tyo, Almaas Zain; Sudarsono, Bambang; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKota Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan dan pembangunan di Kota Semarang cukup signifikan menyebabkan banyak terjadinya perubahan penggunaan lahan yang berdampak terhadap pola ruang di Kota Semarang, salah satu diantaranya adalah pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang yang berada di  Kecamatan Ngaliyan. Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Ngaliyan menyebabkan terjadinya masalah dalam penataan ruangnya, dimana perubahan yang ada belum sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kesesuaian antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan keadaan yang ada di lapangan dengan membuat peta penggunaan lahan Kecamatan Ngaliyan penelitian tahun 2016 dan 2019 lalu melakukan digitasi on-screen melalui metode tumpang tindah (overlay) berdasarkan interpretasi Citra Worldview-2 tahun 2016, Foto Udara tahun 2018, dan Citra Spot-6 tahun 2019 yang hasilnya akan dianalisis perubahan dan kesesuaiannya terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) melalui Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian berupa analisis luas penggunaan lahan 2016 dan 2019 di Kecamatan Ngaliyan sebesar 4557,88 Ha. Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Ngaliyan 2016-2019  juga mengalami peningkatan dan penurunan, luasan penggunaan lahan paling banyak mengalami peningkatan yaitu kelas Campuran sebesar 68,03 Ha atau 1,49% dan luasan yang paling banyak mengalami penurunan yaitu kelas Pertanian Lahan Basah sebesar 19,56 Ha atau 0,43% dari total luas penggunaan lahan. Kesesuaian perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Ngaliyan pada tahun 2016 seluas 2617,37 Ha atau 57,43% dan pada tahun 2019 seluas 2677,92 Ha atau 58,75%. Sedangkan luas tidak sesuai pada tahun 2016 seluas 1940,51 Ha atau  42,457% dan tahun 2019 seluas 1879,96 Ha atau 41,25%. Dari hasil perbandingan kesesuaian perubahan penggunaan lahan didapatkan selisih luas penggunaan lahan di Kecamatan Ngaliyan tahun 2016-2019 yaitu sebesar ± 60,55 Ha dengan persentase ± 1,32%. Kata Kunci: Kota Semarang, Kesesuaian Perubahan Penggunaan Lahan, RTRW. ABSTRACTSemarang City is the capital city of Central Java Province. In the last few years, the development and development in Semarang City has been quite significant, causing many changes in land use that have an impact on spatial patterns in Semarang City, one of which is the construction of the Semarang-Batang Toll Road, which is located in Ngaliyan District. Changes in land use in Ngaliyan District have caused problems in spatial planning, where the changes are not in accordance with the established Regional Spatial Planning (RTRW). This study aims to see how the suitability of the Regional Spatial Plan (RTRW) with the existing conditions in the field by making land use maps of Ngaliyan District research in 2016 and 2019 then digitizing on-screen through the overlapping method based on the interpretation of Worldview imagery -2 of 2016, Aerial Photos of 2018, and Spot-6 Images of 2019 whose results will be analyzed for changes and their suitability to the Regional Spatial Plan (RTRW) through the Geographical Information System (GIS). The results of the research are in the form of a wide analysis of land use in 2016 and 2019 in Ngaliyan District, amounting to 4557.88 Ha. Changes in land use in Ngaliyan Subdistrict from 2016 to 2019 have also increased and decreased, the area of land use has increased the most, namely the Mixed class of 68.03 Ha or 1.49% and the area that has decreased the most is the Wetland Agriculture class of 19.56 Ha or 0.43% of the total land use area. The suitability of land use change in Ngaliyan District in 2016 was 2617.37 Ha or 57.43% and in 2019 it was 2677.92 Ha or 58.75%. Meanwhile, the inappropriate area in 2016 was 1940.51 Ha or 42.457% and in 2019 it was 1879.96 Ha or 41.25%. From the comparison of land use change suitability, it is found that the difference in land use area in Ngaliyan District 2016-2019 is ± 60.55 Ha with a percentage of  ± 1.32%.
VISUALISASI SECARA ONLINE RUANG TERBUKA HIJAU KECAMATAN SEMARANG TIMUR Nugrahanto, Prasetyo Odi; Awaluddin, Moehammad; Nugraha, Arief Laila
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah dan memiliki pembangunan infrastruktur serta kepadatan penduduk yang tinggi. Untuk mendukung tersediannya lingkungan ruang terbuka hijau Pemerintah Kota Semarang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2010 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai upaya menjaga kualitas lingkungan kota, dalam pertauran tersebut dirincikan sebaran rencana RTH ditingkat kecamatan. Terdapat 16 kecamatan di Kota Semarang, salah satunya adalah Kecamatan Semarang Timur yang memiliki kepadatan penduduk tergolong tinggi dengan kepadatan penduduk 9,687 jiwa/km2. Sepuluh tahun perda telah berlaku akan tetapi rencana yang ada pada perda belum diketahui perkembangannya. Penelitian ini menggunakan metode digitasi on screen dengan menggunakan citra WorldView-2 untuk mendapatkan luasan RTH di Kecamatan Semarang Timur. Hasil dari peta RTH kemudian divisualisasikan menggunakan webGIS untuk memberikan informasi yang lebih informatif kepada publik.  Visualisasi dari peta RTH Kecamatan Semarang Timur disajikan dalam bentuk ArcGIS webMap Application dengan menggunakan platform ArcGIS Online. Terdapat berbagai widget yang dapat digunakan oleh pengguna untuk berinteraksi dengan peta RTH yang telah dibuat. Terdapat sepuluh widget yang dapat digunakan oleh pengguna yaitu Perbesaran, Default Extent, Lokasi, Peta dasar, Layer, Legenda, Diagram, Pengukuran, Bantuan, Tentang. Untuk menyajikan informasi yang lebih informatif maka hasil dari RTH disajikan dalam bentuk ArcGIS StoryMap. Dalam ArcGIS StoryMap dapat menjelaskan lebih mendetail mengenai hasil dari penelitian. Didalamnya membahas beberapa topik yaitu Latar Belakang, Wilayah Studi Kasus, Ruang Terbuka Hijau, Data Penelitian, Hasil Analisis RTH, Peta Persebaran RTH, Peta Online, Kritik dan Saran. Uji Usability dilakukan untuk menunjukan suatu performa dari sistem webGIS yang telah dibuat. Hasil dari Uji Usability menunjukan bahwa dalam aspek Learnability bernilai 4,32. Dalam Efficiency bernilai 4,34. Dalam aspek Memorability bernilai 4,30. Dalam aspek Errors bernilai 4,26. Dalam aspek Satisfaction bernilai 4,34. Dari lima aspek tersebut didapatkan nilai rata – rata sebesar 4,31 sehingga performa webGIS sangat baik. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, Semarang Timur, webGIS ABSTRACTSemarang City is the capital of Central Java Province, has a high development infrastructure and population density. To support the availability of green open space environment, Semarang City Government Regional Regulation (Perda) Number 7 of 2010 concerning Green Open Space Management (RTH) as an effort to maintain the quality of the city environment. The regulation details the distribution of green open space plans at the sub-district level. There are 16 sub-districts in Semarang City, which one is East Semarang sub-District that has a high population density  with a population of 9,687 people / km2. It has been ten years since the perda has been in effect, but the progress of the existing perda is not yet known. This study used an on-screen digitization method using WorldView-2 imagery to obtain green open space area in East Semarang District. The results from the green open space map are visualized using webGIS to provide more informative to the public. The visualization of the green open space map for East Semarang District is presented in the a webMap using the ArcGIS Online platform. There are many widgets that can be used by users to interact with the RTH map that has been created. There are ten widgets that can be used by users, there are Magnification, Default Extent, Location, Base map, Layer, Legend, Diagram, Measurement, Help, and About. In order to provide more informative information, the results of the green open space are presented into ArcGIS StoryMap. In ArcGIS StoryMap can explain in more detail about the results of the research. There are several discussions in the ArcGIS StoryMap feature, there are background, case study areas, green open spaces, research data, green open space analysis results, green open space distribution maps, online maps, criticisms and suggestions. Usability test is conducted to show the performance of the webGIS system that has been created. The results of the Usability Test show that the Learnability aspect is 4.32. In Efficiency is 4.34. In the aspect of Memorability is 4.30. In the Errors aspect is 4.26. In the Satisfaction aspect is 4.34. From these five aspects, the average score is 4.31 so that webGIS performance is very good.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue