cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
PENGEMBANGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI PERSEBARAN KASUS COVID-19 DI KABUPATEN SUKOHARJO Mustaqim, Alfiyan; Nugraha, Arief Laila; Firdaus, Hana Sugiastu
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKCOVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh jenis virus corona yang baru diketahui saat terjadinya wabah di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019. Indonesia mengumumkan adanya pasien terkonfirmasi pertama pada tanggal 2 Maret 2020 di Depok, Jawa Barat dan meluas hingga ke daerah-daerah lain. Kabupaten Sukoharjo menetapkan status KLB setelah ditetapkannya satu pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 pada tanggal 23 Maret 2020. Penyebaran kasus semakin meluas, hingga pada 01 Juli 2020 mengalami peningkatan menjadi 93 kasus. Informasi persebaran kasus COVID-19 sangat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan diri dan lingkungan. Sebagai upaya penyebarluasan informasi kasus COVID-19, penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan aplikasi sistem informasi persebaran kasus COVID-19 di Kabupaten Sukoharjo. Persebaran kasus COVID-19 ditampilkan hingga tingkat desa/kelurahan dalam peta interaktif. Analisis persebaran kasus menunjukkan Kecamatan Grogol mempunyai kepadatan kasus tertinggi selama bulan Juli hingga September. Pengembangan aplikasi sistem informasi dengan menggunakan ArcGIS Dashboard dan ArcGIS WebApp Builder menghasilkan aplikasi yang menyediakan dua 2 (dua) halaman, yaitu dasbor kasus yang diperbarui setiap hari, dan webGIS yang menampilkan peta analisis persebaran kasus COVID-19 dengan fitur yang cukup lengkap. Uji usability yang telah dilakukan kepada pengguna menghasilkan penilaian yang sangat baik dengan nilai 4,19 dari 5,00. Hasil tersebut menunjukkan bahwa aplikasi ini cukup efisien, efektif dan memuaskan dalam menyampaikan informasi terkait kasus COVID-19 di Kabupaten Sukoharjo.
PEMETAAN PARAMETER SUHU PERMUKAAN LAUT DAN OKSIGEN TERLARUT DI PERAIRAN PULAU KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT-8 Ikhtifari, Muh. Nurshauma; Prasetyo, Yudo; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara memiliki wilayah yang sebagian besar terdiri dari laut dengan potensi sumber daya laut yang tinggi seperti sumber daya ikan karang, budidaya karamba jaring apung (KJA) ikan kerapu, usaha rumput laut dan potensi sumber daya lainnya. Pada pengelolaan budidaya keramba jaring apung, rumput laut dan lainnya perlu diperhatikan beberapa parameter yang mempengaruhi kualitas air laut seperti suhu permukaan laut dan oksigen terlarut. Suhu permukaan air laut dan oksigen terlarut mempunyai peranan penting sebagai penentu kualitas perairan, suhu permukaan air laut dan oksigen terlarut merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme di lautan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengolahan suhu permukaan laut pada musim peralihan 2 yang diambil pada tanggal 13 November 2018 didapatkan nilai bahwa sebaran suhu permukaan laut pada suhu 27,5 - 28,0 (oC) dengan luas 0,003 km2, suhu 28,0 - 28,5 (oC) dengan luas 6,072 km2, suhu 28,5 – 29,0 (oC) dengan luas 1,210 km2, suhu 29,0 – 29,5 (oC) dengan luas 1,582 km2, suhu 29,5 – 30,0 (oC) dengan luas 2,413 km2. Sedangkan musim Timur yang diambil pada tanggal 25 Agustus 2018 didapatkan nilai bahwa sebaran suhu 26,0 – 26,5 (oC) dengan luas 0,043 km2, suhu 26,5 – 27,0 dengan luas 11,237 km2. Oksigen terlarut dari penelitian ini pada musim peralihan 2 yang diambil pada tanggal 13 November 2018 didapatkan nilai sebaran 11,5 – 12 (mg/l) dengan luas 11,280 km2. Sedangkan musim Timur yang diambil pada tanggal 25 Agustus 2018 menunjukkan bahwa oksigen terlarut mempunyai sebaran 11,0 – 11,5 (mg/l) dengan luas 0,025 km2, oksigen terlarut 11,5 – 12,0 (mg/l) dengan luas 11,255 km2.Kata Kunci : Citra Landsat-8, Oksigen terlaut, Pulau Karimunjawa, Suhu permukaan lautABSTRACTKarimunjawa Islands, Jepara Regency has an area that mostly consists of seas with high potential marine resources such as reef fish resources, grouper floating net cage cultivation, seaweed business and other potential resources. In the cultivation of floating net cages, seaweed and others, several parameters that affect seawater quality need to be considered, such as sea surface temperature and dissolved oxygen. Sea surface temperature and dissolved oxygen have an important role in determining water quality, sea surface temperature and dissolved oxygen are very important factors for the life of organisms in the oceans.The results of this study indicate that the processing of sea surface temperature in the transition season 2 taken on November 13, 2018 obtained values that the distribution of sea surface temperature at temperatures 27.5 - 28.0 (oC) with area 0.003 km2, temperature 28.0 - 28.5 (oC) with area 6.072 km2, temperature 28.5 - 29.0 (oC) with area 1.210 km2, temperature 29.0 - 29.5 (oC) with area 1.582 km2, temperature of 29.5 - 30.0 (oC) with area 2.413 km2. While the East season taken on August 25, 2018, the value of temperature distribution is 26.0 - 26.5 (oC) with area 0.043 km2, temperature 26.5 - 27.0 with area 11.237 km2. Dissolved oxygen from this study in the transition season 2 taken on November 13, 2018 obtained a distribution value of 11.5 - 12 (mg / l) with area 11.280 km2. While the East season taken on August 25, 2018 shows that dissolved oxygen has a distribution of 11.0 - 11.5 (mg / l) with area 0.025 km2, dissolved oxygen 11.5 - 12.0 (mg / l) with area 11.255 km2.Keywords : Dissolved oxygen, Karimunjawa Island, Landsat-8 imageries, Sea surface temperature.
ANALISIS KERENTANAN DAERAH PESISIR KABUPATEN JEPARA MENGGUNAKAN COASTAL VULNERABILITY INDEX (CVI) Prathanazal, Naufal Maziakiko; Sasmito, Bandi; Sabri, LM
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Jepara merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan perairan dan menjadikanya sebagai daerah yang memiliki banyak pantai. Dengan banyaknya daerah pantai, wilayah Kabupaten Jepara cukup rawan dengan bencana alam seperti erosi, banjir, rob dll. Berkembangnya ilmu dan teknologi belakangan ini memungkinkan kita untuk dapat mengetahui tingkat kerentanan suatu pantai guna mengantisipasi terjadinya bencana alam. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk menilai kerentanan pantai menggunakan metode Coastal Vulnerability Index (CVI). Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan data penunjang untuk keperluan pelestarian lingkungan pantai dalam rangka mencegah, abrasi, dll. Selain itu, hasil studi bisa digunakan sebagai pengambilan keputusan dalam pembangunan di daerah pantai. Data yang digunakan pada penelitian ini antara lain data DEM BATNAS, data Significant Wave Height, data satelit altimetri Jason-3, data pasut stasiun BIG, dan studi lapangan untuk dapat mengenali jenis geomorfologi yang ada di daerah pesisir Jepara. Hasil pengolahan kemudian dilakukan perhitungan indeks kerentan menggunakan metode CVI dengan menggunakan sistem pembobotan. Hasil analisis kerentanan pantai menunjukan bahwa parameter geomorfologi merupakan parameter yang memiliki nilai bobot yang paling besar dan parameter  sea level rise memiliki nilai bobot yang paling rendah. Nilai indeks kerentanan di pesisir Jepara memiliki rentang nilai1,83 hingga 7,07 dengan nilai rata-rata sebesar 5,34 yang menunjukan tingkat kerentanan di daerah pesisir Jepara berada dalam kategori sedang. Kata Kunci: CVI, DSAS, Kerentanan, Pesisir ABSTRACT Jepara Regency is an area that is directly adjacent to the waters and makes it an area that has many beaches. With so many coastal areas, the Jepara Regency area is quite prone to natural disasters such as erosion, floods, rob etc. The development of science and technology lately allows us to be able to determine the level of vulnerability of a beach in anticipation of natural disasters. In this study, the method used to assess the vulnerability of the coast uses the Coastal Vulnerability Index (CVI) method. The results of the research can be used as supporting data for the purposes of preserving the coastal environment in order to prevent, abrasion, etc. In addition, the results of the study can be used as decision making in development in coastal areas. The data used in this study include DEM BATNAS data, Significant Wave Height data, Jason-3 altimetry satellite data, BIG station tide data, and field studies to be able to identify the types of geomorphology that exist in the coastal area of Jepara. The results of the processing are then carried out by calculating the index of vulnerability using the CVI method using a weighting system. The results of the coastal vulnerability analysis show that the geomorphological parameter is the parameter that has the greatest weight value and the sea level rise parameter has the lowest weight value. The value of the vulnerability index on the coast of Jepara has a value range of 1.83 to 7.07 with an average value of 5.34 which indicates that the level of vulnerability in the coastal area of Jepara is in the medium category.
ANALISIS LAHAN SAWAH TERGENANG BANJIR MENGGUNAKAN METODE CHANGE DETECTION DAN PPPM (PHENOLOGY AND PIXEL BASED PADDY RICE MAPPING) (STUDI KASUS: KABUPATEN DEMAK) Kasanah, Nikmatul; Bashit, nurhadi; Hadi, firman
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Demak merupakan wilayah yang kerap mengalami banjir saat musim hujan. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang terdampak bencana banjir. Bencana banjir dapat menyebabkan turunnya produksi padi secara signifikan. Kabupaten Demak mengalami kejadian banjir pada 9 Januari hingga 12 Januari 2020, banjir ini diakibatkan oleh jebolnya tanggul Sungai Tuntang. Lahan sawah padi yang tergenang banjir seluas 1.385 ha dan lamanya rendaman banjir menyebabkan puso seluas 631 ha di empat kecamatan pada Kabupaten Demak. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sebaran dan luasan lahan sawah yang terkena banjir dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. Kelebihan data dari citra penginderaan jauh adalah memiliki cakupan wilayah kajian yang luas dan keakuratan relatif tinggi serta pengerjaan memerlukan waktu relatif cepat. Sentinel-1 SAR GRD pada bulan Januari 2020 digunakan untuk pemetaan banjir pada Kabupaten Demak. Metode change detection dengan memanfaatkan data sebelum dan sesudah banjir digunakan untuk mengidentifikasi banjir. Pemetaan lahan sawah padi menggunakan data Seninel-2A time series serta algoritma PPPM (Phenology and Pixel Based Paddy Rice Mapping). Algoritma PPPM dibangun oleh hubungan indeks vegetasi EVI, NDVI, serta LSWI. Pemetaan lahan sawah puso (gagal panen) dilakukan dengan menggabungkan data banjir sawah dengan data penurunan indeks vegetasi untuk padi puso yaitu EVI  0,074. Hasil pengolahan banjir lahan sawah dengan menggunakan metode change detection dan algoritma PPPM diperoleh luas 1246,712 ha. Tingkat keakuratan kedua metode tersebut dalam memetakan banjir lahan sawah dengan membandingkan data validasi lapangan diperoleh overall accuracy 84,38%. Kombinasi data banjir lahan sawah dan data EVI puso mampu memetakan lahan sawah puso akibat banjir dengan luas sebesar 589,085 ha. Tingkat kesesuaian lahan sawah puso dengan data lapangan sebesar 84,38%.
ANALISIS PEMANFAATAN SATELLITE DERIVED BATHYMETRY CITRA SENTINEL-2A DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA LYZENGA DAN STUMPF (STUDI KASUS : PERAIRAN PELABUHAN MALAHAYATI, PROVINSI ACEH) Aji, Sentanu; Sukmono, Abdi; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIndonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas yang tentunya membutuhkan suatu manajemen dan pengambilan keputusan yang tepat agar dapat dimanfaatkan secara maksimal dan tepat yang dapat mendukung kemajuan Negara. Untuk mendukung hal tersebut, ketersediaan data batimetri yang merupakan data spasial kelautan pada Indonesia sangat dibutuhkan. Survei batimetri dengan menggunakan echosounder merupakan metode yang dapat menghasilkan data batimetri dengan kualitas yang baik, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama dan biaya operasional yang sangat besar. Satellite derived bathymetry adalah salah satu metode alternatif yang sedang dikembangkan untuk mendapatkan data batimetri dengan menggunakan sumber data yaitu citra satelit optis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil dari pemetaan batimetri dengan menggunakan metode satellite derived bathymetry. Penelitian ini menggunakan sumber data yaitu citra Sentinel-2A yang merupakan citra satelit optis dengan ketelitian spasial 10 meter. Pengolahan satellite derived bathymetry pada penelitian ini menggunakan algoritma Lyzenga dan Stumpf yang merupakan algoritma yang efektif digunakan dalam metode ini. Kedua algoritma tersebut dapat memetakan kedalaman laut dengan baik hingga kedalaman 20 meter. Metode algoritma Lyzenga menggunakan regresi multilinier dalam pengolahannya dan menghasilkan nilai R2 sebesar 0,923. Ketelitian pemetaan kedalaman laut yang didapatkan dari algoritma Lyzenga yaitu 1,888 meter. Sedangkan algoritma Stumpf menggunakan regresi linier dalam pengolahannya dan nilai R2 yang dihasilkan sebesar 0,882. Algoritma Stumpf memiliki ketelitian pemetaan kedalaman laut sebesar 2,019 meter.Kata Kunci: Satellite Derived Bathymetry, Sentinel-2A, Lyzenga, Stumpf. ABSTRACTIndonesia has a very large water area which of course requires a decision to be made that can be utilized optimally and accurately which can support the progress of the State. To support this, bathymetry data which is marine spatial data in Indonesia is needed. A bathymetric survey using echosounder is a method that can produce bathymetric data with good quality, but requires a long time and a very large operational cost. Satellite derived bathymetry is an alternative method that is being developed to obtain bathymetry data using a data source, namely optical satellite imagery. This study aims to analyze the results of bathymetry mapping using the bathymetric derived satellite method. This study uses source data, namely Sentinel-2A imagery which is an optical satellite image with a spatial accuracy of 10 meters. The bathymetry derived satellite processing in this study uses the Lyzenga and Stumpf algorithms which are the effective algorithms used in this method. Both algorithms can map the depth of the ocean well to a depth of 20 meters. The Lyzenga algorithm method uses multilinier regression in its processing and produces an R2 value of 0.923. The accuracy of the ocean depth obtained from the Lyzenga algorithm is 1.888 meters. While the Stumpf algorithm uses linear regression in its processing and the resulting R2 value is 0.882. The Stumpf algorithm has a depth mapping accuracy of 2.019 meters.
Analisis Hubungan Aksesibilitas, Fasilitas Umum, Fasilitas Sosial, dan Variabel Fisik Tanah Terhadap Harga Bidang Tanah di Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan Bagas S, Naldius; Sudarsono, Bambang; Firdaus, Hana Sugiastu
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKelurahan Harjosari I merupakan salah satu dari 7 kelurahan yang ada di Kecamatan Medan Amplas yang mengalami pertumbuhan yang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Pertumbuhan yang pesat di Kelurahan Hajosari I ini ditandai dengan banyaknya pembangunan perumahan baik didalam ataupun di sekitar Kelurahan Harjosari I yang juga mempengaruhi faktor ekonomi di daerah tersebut. Pesatnya pertumbuhan di Kelurahan Harjosari I mengakibatkan ketersedian lahan semakin terbatas yang berdampak terhadap meningkatnya harga tanah di daerah tersebut. Fakor sarana prasarana, faktor aksesibilitas, serta kondisi fisik tanah merupakan beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan harga suatu tanah. Namun belum diketahui apakah pernyataan ini secara akurat benar dan faktor apa yang paling berpengaruh terhadap harga tanah di kelurahan ini. Hal ini dapat diselesaikan dengan menggunakanpersamaan regresi linier berganda dengan memperhitungkan jarak dengan menggunakan data harga tanah pasar wajar, data NJOP sampel, dan data NJOP pembanding. Jarak yang digunakan adalah jarak bidang tanah terhadap fasilitas berdasarkan jaringan jalan. Melalui proses yang cukup panjang didapatkan hasil sebagai berikut faktor aksesibilitas, fasilitas umum dan sosial mempengaruhi harga tanah pasar wajar sebesar 22,8%, pada harga NJOP Sampel sebesar 61,8%, dan pada harga NJOP Pembanding sebesar 25,9%. Variabel yang paling mempengaruhi adalah Jalan Sisingamangaraja, Pasar Simpang Limun dan Madrasah Al-Washliyah pada harga tanah pasar wajar, Pasar Simpang Limun dan Kantor Kelurahan pada harga NJOP sampel, dan RSU Mitra Medika pada harga NJOP pembanding. Berdasarkan hasil yang didapatkan, fasilitas sosial, fasilitas umum dan aksesibilitas tidak selalu mempengaruhi harga tanah secara signifikan.
ANALISIS POLA DAN ARAH PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI WILAYAH AGLOMERASI PERKOTAAN YOGYAKARTA (APY) (STUDI KASUS: KABUPATEN SLEMAN) Valent, Caesara Geacesita; Subiyanto, Sawitri; Wahyuddin, Yasser
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKWilayah aglomerasi terbentuk karena adanya beragam pusat kegiatan yang dikelompokkan dalam satu lokasi tertentu. Menurut Teori Central Place adanya berbagai kegiatan pada suatu lokasi cenderung akan bergabung pada pusat wilayahnya. Contoh aglomerasi adalah aglomerasi permukiman, industri, perdagangan dan jasa dan lain – lain. Kota Yogyakarta dan wilayah di sekitarnya adalah salah satu bentuk aglomerasi permukiman akibat pertambahan penduduk. Menurut Rencana Pola Ruang Wilayah DIY, wilayah aglomerasi tersebut meliputi sebagian Kabupaten Sleman dan Bantul yang disebut dengan wilayah Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta (APY). Kabupaten Sleman sebagai bagian dari wilayah APY tentunya mengalami perkembangan wilayah permukiman. Hal ini menjadi daya tarik para pengembang maupun masyarakat individu untuk membangun rumah di atas lahan yang masih tersedia. Pembangunan wilayah permukiman menyebabkan terjadinya intensitas peningkatan penggunaan lahan, khususnya pola dan arah perkembangan pemukiman. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi perubahan penggunaan lahan pemukiman dengan mengoptimalkan Citra SPOT-6 2013 dan 2020. Kemudian dianalisis besar penggunaan lahan pemukiman dan pola persebaran pemukiman dengan metode Average Nearest Neighbor (ANN). Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis diketahui perubahan luas pemukiman pada wilayah APY di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan sebesar 471,55 Ha atau 4,98% dari 9467,16 Ha total luas penggunaan lahan. Perubahan lahan pemukiman terbesar terjadi di Kecamatan Ngemplak 79,63 Ha dengan perubahan penggunaan lahan kosong menjadi pemukiman sebesar 48,12 Ha dan lahan pertanian menjadi permukiman sebesar 31,76 Ha. Berdasarkan hasil pengolahan ANN pola permukiman didominasi dengan pola acak. Hal ini dipengaruhi oleh faktor topografi dan aksebilitas yang baik. Berdasarkan pendekatan Standard Deviational Ellipse (SDE) perkembangan permukiman menuju ke arah timur dengan nilai rotasi proyeksi 71o14’52,8” tahun 2013 dan 66o51’39,6” tahun 2020 yang mengarah pada Kecamatan Depok dan Kecamatan Ngemplak. Berdasarkan perhitungan Gravity Model dengan membandingkan jumlah penduduk dan jarak antara Kota Yogyakarta dengan Kecamatan di wilayah APY Sleman, hasilnya sesuai yaitu nilai interaksi wilayah yang terbesar terjadi di Kecamatan Depok sebesar 352,15.
ANALISIS PENGGUNAAN METODE THIESSEN POLYGON UNTUK PENENTUAN BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DENGAN PRINSIP SAMA JARAK Khofifatul Azizah; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, kondisi geografis Indonesia yang demikian perlu perhatian khusus terkait aturan penentuan batas pengelolaan wilayah laut untuk mencegah terjadinya sengketa. Pengukuran dan penentuan batas daerah di laut menurut Permendagri No. 141 Tahun 2017 Pasal 14 diukur dari garis pantai ke arah laut lepas paling jauh 12 mil laut dengan prinsip sama jarak yang dapat dilakukan dengan beberapa metode. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode titik berat segitiga dan metode Thiessen Polygon. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan pada peta dasar peta RBI skala 1:25.000 dan skala 1:50.000 dengan garis dasar yaitu garis dasar normal, garis dasar kepulauan, dan garis dasar penutup (penutup teluk dan penutup muara sungai). Hasil perbandingan batas pengelolaan wilayah laut antara kedua metode dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan titik salient (titik garis pantai yang menonjol) dan menggunakan ekstraksi keseluruhan garis pantai wilayah penelitian. Pembuktian metode Thiessen Polygon ini dilakukan berdasarkan pengujian sampel titik-titik sama jarak di 10 segmen penelitian dimana seluruhnya memenuhi prinsip sama jarak sehingga metode Thiessen Polygon dapat digunakan sebagai salah satu alternatif  metode dalam penarikan batas pengelolaan wilayah laut. Persentase perbandingan luas pengelolaan wilayah laut pada Segmen Gresik, Banyuasin, Ogan Komeng ilir, Banyuwangi dan Sumbawa Barat berturut-turut sebesar 6,212 %, 2,189%, 1,281%, 0,238 %, dan 0,111%. Kata Kunci: Batas Pengelolaan Wilayah Laut, RBI, Sama Jarak, Thiessen Polygon, Titik Berat Segitiga ABSTRACTIndonesia is the largest maritime and archipelagic country in the world, Indonesia's geographical conditions need special attention regarding the rules for determining the boundaries of the management of marine areas to prevent disputes. Measurement and determination of boundaries at sea according to Permendagri No. 141 of 2017 Article 14 is measured from the coastline to the offshore sea, no more than 12 nautical miles on the principle of equal distance which can be done by several methods. The method used in this research is the gravity triangle method and the Thiessen Polygon method. The determination of the boundaries of marine area management is carried out on the base map of the RBI map at a scale of 1: 25,000 and a scale of 1: 50,000 with the baseline, namely the normal baseline, archipelago baseline, and cover baseline (bay cover and river mouth cover). The results of the comparison of marine area management boundaries between the two methods are carried out in two ways, namely by using a salient point (prominent shoreline point) and using the extraction of the entire coastline of the study area. The proof of this Thiessen Polygon method is based on testing samples of equal-distance points in 10 research segments, all of which fulfill the equal distance principle, so that the Thiessen Polygon method can be used as an alternative method in drawing the boundaries of marine area management. The percentage comparison of marine area management in the Gresik, Banyuasin, Ogan Komeng Ilir, Banyuwangi and West Sumbawa segments is respectively 6.212%, 2.189%, 1.281%, 0.238%, and 0.111%.
EVALUASI PENERAPAN SISTEM SATU ARAH DI LINGKAR KEBUN RAYA BOGOR MENGGUNAKAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS DAN NETWORK ANALYST Muhammad Hanif Abdurrahman; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPemerintah Kota Bogor menerapkan kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) di Lingkar Kebun Raya Bogor (KRB) pada tahun 2016. Tujuan diberlakukannya SSA yaitu untuk kelancaran lalu lintas, mengatasi kemacetan, dan mengurangi angka kecelakaan lalu lintas di Kota Bogor. Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan penelitian untuk menilai kemacetan, waktu tempuh, dan titik kecelakaan yang terjadi pasca diterapkannya SSA. Metode AHP (Analitycal Hierachy Process) dapat digunakan untuk melihat ruas jalur SSA dengan kemacetan tertinggi. Analisis jaringan dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat membantu dalam menganalisis waktu tempuh dan rute perjalanan di jalur SSA untuk tahun 2015,2016, 2018, dan 2019. Pemetaan titik kecelakaan dapat mempermudah dalam melihat persebaran titik kecelakaan periode tahun 2017-2020. Hasil pengolahan AHP menunjukkan masih ditemukan titik kemacetan di jalur SSA, yaitu di Jl. Otto Iskandardinata. Waktu tempuh perjalanan menuju Pasar Anyar dan Lapangan Sempur bertambah ditahun 2019. Waktu tempuh menuju Pasar Anyar ditahun 2018 yaitu 4,3-4,8 menit, sedangkan ditahun 2019 menjadi 5,3-5,9 menit. Waktu tempuh menuju Lapangan Sempur ditahun 2018 yaitu 4,1-4,6 menit berubah ditahun 2019 menjadi 5,1-6,2 menit. Berdasarkan data kecelakaan tahun 2017-2020 di Jalur SSA, terjadi  peningkatan jumlah kejadian dan jumlah korban ditahun 2018 dan 2020. Berdasarkan nilai AEK dan BKA, Jl. Jalak Harupat 2 dan Jl. Otto Iskandardinata termasuk kedalam jalan yang rawan kecelakaan lalu lintas dibandingkan dengan ruas jalan SSA lainnya. Rute perjalanan menuju Pasar Anyar dan Lapangan Sempur melewati satu ruas jalan yang rawan, yaitu Jl. Otto Iskandardinata. Kata Kunci : AEK, AHP, BKA, SIG dan SSAABSTRACTThe Bogor City Government implemented a One-Way System (OWS) policy at the Bogor Botanical Gardens ring road in 2016. The aim of implementing the OWS is to accelerate traffic, overcome congestion, and reduce the number of traffic accidents in Bogor City. Based on this, research is needed to assess congestion, travel time, and the point of accidents that occur after the implementation of OWS. The AHP(Analitycal Hierachy Process) method can be used to see the OWS segment with the highest congestion. Network analysis in the Geographical Information System (GIS) can help in analyzing travel times and travel routes on the SSA route for 2015,2016, 2018, and 2019. Mapping of accident points can make it easier to see the distribution of accident points for the 2017-2020 period. The results of AHP processing show that congestion points are still found on the SSA route, namely on Jl. Otto Iskandardinata. The travel time  to Anyar Market and Sempur Field increased in 2019. The travel time to Anyar Market in 2018 was 4.3-4.8 minutes, while in 2019 it was 5.3-5.9 minutes. The travel time to Sempur Field in 2018 is 4.1-4.6 minutes, changing in 2019 to 5.1-6.2 minutes. Based on accident data for 2017-2020 on the SSA road, there has been an increase in the number of incidents and the number of victims in 2018 and 2020. Based on the EAN (Equivalent Accident Number) and UCL (Upper Control Limit) scores, Jl. Jalak Harupat 2 and Jl. Otto Iskandardinata is included in a road that is prone to traffic accidents compared to other SSA roads. The route to Anyar Market and Sempur Field passes through one vulnerable road section, namely Jl. Otto Iskandardinata.
ANALISIS ANCAMAN TERHADAP BENCANA BANJIR DAN TANAH LONGSOR PADA WILAYAH PERMUKIMAN DI KABUPATEN JEPARA Nella Wakhidatus Sholekhah; Arief Laila Nugraha; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJepara merupakan salah satu daerah yang rawan terjadi bencana pada rentang waktu bulan Januari 2019, yaitu telah terjadi sebesar 69 kejadian bencana. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara. Salah satu tindakan yang perlu dilakukan yaitu mitigasi bencana untuk mengurangi terjadinya risiko bencana baik dari segi penyadaran, pembangunan fisik, maupun dilakukan peningkatan dalam menghadapi suatu ancaman bencana dengan melakukan analisis mengenai ancaman suatu wilayah terhadap bencana-bencana yang akan terjadi (BNPB, 2012). Metode yang dapat digunakan dalam pengkajian adalah metode Sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu dengan dilakukannya scoring, pemboboton, tumpang tindih, dan analisis lain pada SIG. Pada ancaman bencana banjir penilaian dan pembobotn menggunakan acuan metode Atlas BMKG. Sedangkan bencana Tanah Longsor menggunakan acuan metode Permen PU No.22/PRT/M/2007. Proses pembuatan peta dilakukan secara tumpang tindih, penilaian dan pembobotan serta analisis SIG diproses menggunakan perangkat lunak ArcMap. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil pemetaan ancaman bencana dan ancaman bencana terhadap permukiman. Hasil analisis pemetaan ancaman banjir dengan tingkat ancaman aman sebebsar 3,23%, rendah sebesar 52,04%, menengah sebesar 44,37%, dan tinggi sebesar 0,36%. Sedangkan ancaman tanah longsor memiliki tingkat ancaman sangat rendah sebesar 3,2644%, rendah 64,2234%, sedang 31,8579%, dan tinggi sebesar 0,6543%. Berdasarkan hasil analisis pemetaan ancaman bencana banjir pada wilayah permukiman dengan tingkat ancaman rendah sebesar 0,31%, menengah sebesar 98,01%, dan tinggi sebesar 1,68%. Pemetaan ancaman bencana tanah longsor pada wilayah permukiman dengan tingkat ancaman sangat rendah sebesar 0,6%, rendah sebesar 47,5%, sedang sebesar 51,5%, dan tinggi sebesar 0,4%.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue