cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Volume 9, Nomor 2
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sifat Alami Gramatika Indonesia: Sistem Partikel Linguistik, Fungsi Penataan Konseptual, dan Representasi Kognitif Thafhan Muwaffaq; Arianty Visiaty
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.3039

Abstract

Our article aims to characterize the conceptual architecture of Indonesian grammar theoretically through a cognitive semantic approach. In its implementation, we applied introspective reflection on language data in the form of sentences that have been collected into a corpus. Applying the Conceptual Structuring System (Talmy, 2000b), we introspected the semantic function of grammar elements and their coherence with lexical elements that constitute sentences. We propose that conceptualization in the Indonesian language relies on the system of pairing and connecting morphemes, or what will be regarded here as linguistic particles. In other words, a sentence is a composition of complex particles that externalizes the organization of ideas, thoughts, or concepts as a predication construed into cognitive representations in the form of event schemas. Furthermore, the conceptual organization expressed as predication configures conceptual meaning with respect to spatiotemporal domains. This article sheds light on the cognitive architecture that conceptualizes Indonesian grammar, contributing to a deeper understanding of its structural characteristics and the experience of language meaning-making.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasikan arsitektur konseptual gramatika Indonesia secara teoretis melalui pendekatan semantik kognitif. Pada pelaksanaannya peneliti menerapkan refleksi introspektif atas data bahasa berupa kalimat yang telah dikumpulkan ke dalam korpus. Menerapkan Sistem Penataan Konseptual (Talmy, 2000b), peneliti mengintrospeksi fungsi semantik unsur gramatika dan kesinambungannya dengan unsur leksikal yang mengkonstitusikan kalimat. Peneliti memproposisikan konseptualisasi dalam bahasa Indonesia bertumpu pada sistem pemasangan dan penghubungan morfem atau apa yang akan disebut di sini sebagai partikel linguistik. Dalam kata lain, kalimat adalah susunan partikel kompleks yang mengeksternalisasikan organisasi ide, pikiran, atau konsep sebagai sebuah predikasi yang ditafsirkan ke dalam representasi kognitif berupa skema kejadian. Selanjutnya, organisasi konseptual yang dinyatakan sebagai predikasi mengkonfigurasi makna konseptual berdasarkan domain ruang dan waktu. Artikel ini mencerahkan arsitektur kognitif yang dikonseptualisasikan gramatika Indonesia, dalam cara yang mengkontribusikan pemahaman lebih dalam tentang karakteristik struktural dan pengalaman pemaknaan bahasa.
Exploring Linguistic Distinctions: A Comparative Analysis of Baduy and Priangan Sundanese Lexical Choice Sri Rahayu; Eri Kurniawan; Retty Isnendes; Ramadani Ramadani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8425

Abstract

This study aims to analyze lexical variation between Baduy and Priangan Sundanese and to explain how sociocultural factors shape lexical choices, language use, and speaker identity. A qualitative approach with a descriptive–comparative design was employed. Data were collected through observation, interviews, natural conversation recordings, and document analysis involving native speakers in Kanekes (Baduy) and the Priangan region (Bandung, Tasikmalaya, Garut, and Cianjur). The data were analyzed through data reduction, comparative data display, and lexical analysis using theoretical frameworks from contact linguistics and ecolinguistics to examine the influence of isolation, modernization, and language contact.The findings reveal that Baduy Sundanese preserves archaic vocabulary (e.g., kula, kakang), distinctive particles (mah, pan, teh), and specific semantic distinctions, such as the meaning of saung as a primary dwelling. In contrast, Priangan Sundanese reflects modernization and codification through the use of more standardized forms and stronger influence from Indonesian. Additional differences were observed in phonology (vowel lengthening), morphology (retention of traditional derivational forms), syntax (frequent subject/object omission), and levels of Indonesian interference. Sociocultural factors underlying these variations include the geographical isolation of the Baduy community, strong adherence to tradition, politeness norms, and the Priangan community’s openness to modern education and external contact. Overall, lexical choices function as markers of linguistic identity: the Baduy community demonstrates linguistic conservatism as a form of resistance to homogenization, whereas Priangan speakers exhibit adaptation to modernity. These findings contribute to studies on Sundanese variation, contact linguistics, and ecolinguistics, while supporting efforts to preserve endangered dialects. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi leksikal antara Bahasa Sunda Baduy dan Priangan serta menjelaskan pengaruh faktor sosiokultural terhadap pilihan leksikal, penggunaan bahasa, dan identitas penuturnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, perekaman percakapan alami, dan studi dokumen yang melibatkan penutur asli di Kanekes (Baduy) dan wilayah Priangan (Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Cianjur). Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data dalam tabel komparatif, serta analisis leksikal berbasis teori linguistik kontak dan ekolinguistik untuk menelusuri pengaruh isolasi, modernisasi, dan kontak bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Sunda Baduy mempertahankan kosakata arkais seperti kula dan kakang, partikel khas seperti mah, pan, dan teh, serta sejumlah perbedaan semantis, misalnya makna saung sebagai rumah utama. Sebaliknya, Bahasa Sunda Priangan memperlihatkan kecenderungan modernisasi dan kodifikasi melalui penggunaan bentuk baku serta dipengaruhi lebih kuat oleh Bahasa Indonesia. Ditemukan pula perbedaan fonologis (pemanjangan vokal), morfologis (penggunaan bentuk turunan tradisional), sintaksis (penghilangan subjek/objek), serta tingkat interferensi bahasa Indonesia yang berbeda antar kedua komunitas. Faktor sosiokultural yang memengaruhi variasi ini meliputi isolasi geografis Baduy, keterikatan pada tradisi, norma kesantunan, serta keterbukaan Priangan terhadap pendidikan modern dan interaksi eksternal. Secara keseluruhan, pilihan leksikal berfungsi sebagai penanda identitas: komunitas Baduy mempertahankan konservatisme linguistik sebagai bentuk resistensi terhadap homogenisasi, sedangkan komunitas Priangan menampilkan adaptasi terhadap modernitas. Temuan ini berkontribusi pada kajian variasi Sunda, linguistik kontak, dan ekolinguistik, sekaligus mendukung upaya pelestarian dialek yang terancam punah.
REPRESENTASI CALON PRESIDEN DAN CALON WAKIL PRESIDEN DALAM IKLAN POLITIK LUAR RUANG PARTAI DEMOKRAT Tri Sulityaningtyas
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v3i1.47

Abstract

Hiruk pikuk pemilu yang baru berlangsung membawa beberapa hal yang menarik. Salah satu hal yang layak untuk diteliti adalah iklan politik. Iklan politik merupakan sarana utama aktivitas politik dalam mendulang dukungan pemilih. Para tokoh politik berlomba-lomba menggunakan iklan sebagai media mencitrakan diri sebagai sosok pemimpin bangsa yang ideal sehingga laik untuk dipilih dalam pemilu. Di dalam iklan politik, bahasa menjadi media yang ampuh untuk menanamkan ideologi, mendapatkan, serta mempertahankan kekuasaan. Berbagai piranti kebahasaan dimanfaatkan untuk meraih simpati, menarik perhatian, membentuk persepsi, mengendalikan pikiran, perilaku, serta nilai yang dianut khalayak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana cara capres-cawapres dari partai Demokrat merepresentasikan dirinya dalam bahasa iklan politik pemilu di Indonesia. Selain itu, akan dikaji pula penggunaan manipulasi bahasa iklan demi meraih berbagai kepentingan politik. Dalam tulisan ini juga akan dibahas pola relasi antara capres-cawapres dan konstituen pemilih. Berdasarkan analisis, diperoleh hasil bahwa kandidat capres dan cawapres partai Demokrat direpresentasikan sebagai sosok yang bersih, selalu berjuang untuk rakyat, merupakan presiden pilihan, berkomitmen untuk membangun pemerintahan bersih, dan berkomitmen untuk membangun rakyat Indonesia.
Narasi Kebijakan dalam Komunikasi Pemerintah Pada Fase Awal Implementasi Program Makan Bergizi Gratis Salsabila Laily Tabayuni; Suwandi Sumartias; Rd. Funny Mustikasari Elita
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8518

Abstract

The study addresses three research questions: how MBG's policy narrative was designed and framed as a gradual policy; how language and terminology choices were used to manage public expectations; and how crisis communication was applied in responding to issues and incidents that emerged during the early implementation phase. This research employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through semi-structured in-depth interviews with 11 informants from the Presidential Communication Office (KKK) and the National Nutrition Agency (BGN), supplemented by observation and document analysis. Data analysis followed the interactive model of Miles et al. (2014) through data condensation, data display, and conclusion drawing, interpreted using framing theory, Situational Crisis Communication Theory (SCCT), and Image Restoration Theory. The findings reveal three key results. First, MBG's policy narrative was consistently framed as a long-term human capital investment through the "Golden Indonesia 2045" vision and the "golden generation children" narrative, shifting public discourse from fiscal concerns toward future benefits. Second, public expectation management was conducted through strategic terminology choices the use of "program commencement" instead of "grand launching" and the "trial phase" label positioned early obstacles as part of a gradual process rather than indicators of failure. Third, crisis responses followed a consistent pattern: implicit empathy expressed through state presence and action, fact-based clarification with layered verification, and publicly affirmed corrective measures. This study contributes to linguistic research by demonstrating that policy language and narrative function as strategic instruments that not only convey meaning but actively shape how the public understands, evaluates, and responds to public policy during its early implementation phase. Abstrak Penelitian ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan: bagaimana narasi kebijakan MBG dirancang dan dibingkai sebagai kebijakan bertahap; bagaimana pilihan bahasa dan terminologi digunakan untuk mengelola ekspektasi publik; serta bagaimana komunikasi krisis diterapkan dalam merespons isu dan insiden yang muncul pada fase awal implementasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan 11 informan dari Kantor Komunikasi Kepresidenan (KKK) dan Badan Gizi Nasional (BGN), dilengkapi dengan observasi dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles et al. (2014) melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, yang diinterpretasikan menggunakan kerangka teori framing, Situational Crisis Communication Theory (SCCT), dan Image Restoration Theory. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, narasi kebijakan MBG secara konsisten dibingkai sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia melalui kerangka "Indonesia Emas 2045" dan narasi "anak generasi emas", yang menggeser fokus dari perdebatan fiskal menuju manfaat masa depan. Kedua, pengelolaan ekspektasi publik dilakukan melalui pemilihan terminologi yang strategis penggunaan frasa "dimulainya program" dan label "uji coba" memosisikan kendala awal sebagai bagian dari proses bertahap, bukan indikator kegagalan. Ketiga, respons terhadap krisis mengikuti pola konsisten: empati yang beroperasi secara implisit melalui kehadiran negara, klarifikasi berbasis fakta dengan verifikasi berjenjang, dan tindakan korektif yang ditegaskan secara publik. Studi ini berkontribusi pada kajian linguistik dengan menunjukkan bahwa bahasa dan narasi kebijakan berfungsi sebagai instrumen strategis yang tidak sekadar menyampaikan makna, tetapi secara aktif membentuk cara publik memahami, menilai, dan merespons kebijakan publik pada fase implementasi awal.
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG PERATURAN KEBAHASAAN TERHADAP SIKAP BAHASA PENGUSAHA KULINER DI KABUPATEN PRINGSEWU Ratih Rahayu
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 1 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v6i1.260

Abstract

The purpose of this research is to describe the knowledge of culinary entrepreneurs in Pringsewu region about legislation relating to languages and the use of Indonesian and foreign languages, to explain the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region towards languages and the use of Indonesian and foreign languages, and to explain the influence of the knowledge of the legislation toward the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region. The result shows that the knowledge of culinary entrepreneurs in Pringsewu region about legislation relating to languages and the use of Indonesian, local and foreign languages can be considered low because almost all of the respondents have a limited knowledge of the legislation being asked in the questions;the language attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region can be considered good because the average value has reached 84.36%;the influenceof the knowledge of the legislation relating to languages toward the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region is not considered significant which is only 1%. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan  pengetahuan pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, menjelaskan sikap pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu terhadap bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, dan menjelaskan pengaruh pengetahuan tentang peraturan kebahasaan terhadap sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu. Hasil Penelitian menunjukkan pengetahuan pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia, daerah dan asing dapat dikategorikan kurang karena hampir semua responden tidak mengetahui peraturan perundang-undangan yang ditanyakan, sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu dapat dikategorikan baik karena nilai rata-ratanya sudah mencapai 84,36%, pengaruh pengetahuan mengenai peraturan kebahasaan terhadap sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu tidak signifikan karena hanya sebesar 1%.
Current Implementation and Future Prospects of Santi-Morf V.1.0 Prihantoro Prihantoro
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4189

Abstract

SANTI-Morf (Prihantoro, 2021) is a new morphological analyser for Indonesian. In SANTI-Morf annotation scheme (Prihantoro, 2019), morpheme tokens are linked to their annotations. The tokens are presented in their orthographic and citation forms to allow (allo)morph or morpheme-based searches. Users can also perform retrievals on the basis of formal and functional morphological criteria as SANTI-Morf tagset encodes the analyses of morphemes’ forms (e.g. roots, clitics, affix type) and functions (e.g. passive voice, active voice, adjective degrees, etc.). Currently, the scheme is implemented in Nooj (Silberztein, 2003), a linguistic development environment. It enables users to index and annotate Indonesian texts in their local PC, and later perform searches based on morphological criteria and or tokens defined by the SANTI-Morf scheme. AbstrakSANTI-Morf (Prihantoro, 2021) adalah sebuah program analisis morfologi terbaru untuk bahasa Indonesia. Dalam skema anotasi SANTI-morf (Prihantoro, A new tagset for morphological analysis of Indonesian, 2019), setiap token morfem terhubung dengan anotasinya. Token-token ini direpresentasikan dalam bentuk ortografis dan bentuk sitasi sehingga memungkinkan pengguna untuk melakukan penelusuran berbasis (alo)morf atau morfem. Selain itu, pengguna juga bisa melakukan penelusuran berbasiskan bentuk atau fungsi morfem. Ini karena tagset analitik yang digunakan di SANTI-morf mencakup bentuk (di antaranya: akar, klitik, jenis afiksasi) dan fungsi (di antaranya: aktif, pasif, derajat ajektiva). Saat ini, SANTI-morf diimplementasikan menggunakan NooJ (Silberztein, 2003), sebuah program pengembangan aplikasi linguistik. Pengguna dapat mengindeks dan menganotasi teks berbahasa Indonesia di komputer mereka, dan selanjutnya melakukan penelusuran menggunakan kriteria morfologi dan skema tokenisasi yang digunakan di skema anotasi SANTI-morf.
Studi Ketahanan Bahasa Mandobo Atas [AAX] dan Mandobo Bawah [BWP] Andreas Tricahyadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6547

Abstract

The Upper Mandobo [aax] and Lower Mandobo [bwp] languages, as minority languages, are vulnerable to extinct, especially if the government does not concern to promote the learning and use of the languages. On the other hand, Indonesian Language and South Papuan Malay are becoming stronger, because these languages are taught in schools and used in the daily life and economic transaction. Therefore, this paper would like to research the language vitality of Upper Mandobo and Lower Mandobo, that is exposed to those condition. The research method used Participatory Approach Method, with Wheel of Vitality as the survey tool, combined with EGIDS (Expanded Graded Intergenerational Disruption Scale). The data collection technique used purposive sampling and the analysis technique used qualitative approach. The research result, we found the vitality is decreasing to EGIDS 6b (endangered) for Upper Mandobo and EGIDS 7 (shifting) for Lower Mandobo. Follow up recommendations are language development for Upper Mandobo and language documentation for Lower Mandobo AbstrakBahasa Mandobo Atas [aax] dan Mandobo Bawah [bwp], sebagai bahasa minoritas, memiliki kerentanan untuk punah, terlebih tanpa adanya perhatian dari pemerintah untuk mempromosikan pembelajaran dan penggunannya. Sebaliknya, Bahasa Indonesia dan Melayu Papua Selatan menjadi makin kuat, sebab bahasa tersebut diajarkan di sekolah dan digunakan sehari-hari dan dalam transaksi ekonomi. Paper ini ditujukan untuk mengkaji kembali ketahanan bahasa Mandobo Atas dan Mandobo Bawah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan partisipatoris, dengan alat survei roda ketahanan bahasa yang dipadukan dengan EGIDS (Expanded Graded Intergenerational Disruption Scale). Teknik pengumpulan data menggunakan purpossive sampling dan teknik analisis menggunakan pendekatan kualitatif. Dari analisis hasil temuan, diperoleh bahwa terdapat penurunan ketahanan bahasa menjadi EGIDS 6b untuk Mandobo Atas dan EGIDS 7 untuk Mandobo Bawah. Rekomendasi untuk menindaklanjuti pemeliharaan bahasa tersebut adalah pengembangan bahasa untuk Mandobo Atas dan dokumentasi bahasa untuk Mandobo Bawah.
Teknik Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Achril Zalmansyah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i2.573

Abstract

The aims of the research is to improve the writing learning process and students’ achievement through Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) technique. The method of the research is qualitative descriptive by means of classroom action research. This research is conducted at SMP Negeri 3 Natar Lampung Selatan, and the object of the research is class VII/F. The research procedure consists of three cycles, namely planning, implementation, observation and reflection. The result of this research shows that (1) the lessons planned using CIRC technique are able to increase narrative writing ability and (2) learning process in improving writing ability through CIRC technique could increase students’ and teacher’s activity. The students’ activity in class VII/F scores 72,947 at the first cycle, scores 73,684 at the second and scores 76,71 at the third . Meanwhile, the teachers’ activity in learning scores 76 at first cycle, scores 79 at the second cycle and scores 82 at the third. Standard of study at the first cycle is 65%, 73,68% at the second cycle and 82% at the third. Score of narrative writing ability increases from the first cycle to second cycle, and the indicator is achieved at the third cycle. It is concluded that this technique could increase the students’ narrative writing ability. AbstrakKemampuan siswa dalam menulis narasi sangat rendah sehingga perlunya suatu teknik pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan ini. Oleh karena itu, teknik Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dapat digunakan sebagai salah satu solusi yang tepat untuk meningkatkan keterampilan ini. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif berupa penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Natar Lampung Selatan dengan objek penelitian siswa kelas VII/F. Prosedur penelitian ini dilaksanakan sebanyak tiga siklus, yaitu siklus perencanaan, tindakan dan obsevasi, dan refleksi. Hasil penelitiannya diperoleh (1) Rencana pelaksanaan pembelajaran melalui teknik CIRC dapat meningkatan kemampuan menulis narasi; (2) Proses pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan menulis dengan teknik CIRC dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru. Aktivitas siswa di kelas VII/F pada siklus satu mendapat skor 74,24; siklus dua mendapat skor 75,30; dan siklus tiga mendapat skor 81,014. Sementara itu, aktivitas guru dalam pembelajaran siklus satu mendapat skor 76, siklus dua 79, dan siklus tiga mendapat skor 82.  Ketuntasan belajar pada siklus satu 65%, siklus dua  73,68%, dan siklus tiga  81%. Nilai kemampuan menulis narasi  mengalami peningkatan dari siklus satu ke siklus dua, dan indikator tercapai pada siklus tiga. Simpulannya adalah teknik CIRC terbukti dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa.
Bentuk dan Makna Nama-Nama Dusun di Kecamatan Nelle Kabupaten Sikka Yosephus Dominikus Fernandez
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4604

Abstract

This study aims to describe the form, categorization, and meaning of the names of hamlets in the Nelle Subdistrict. The data in this study are the names of hamlets in Nelle Subdistrict, Sikka Regency. They were collected with the method of listening, recording and note-taking. The data is analyzed by using fixed comparison methods. The analysis of the data was presented with informal methods. The results of this study are as follows. The forms of the names of the hamlets consist of monomorphism and polymorphism. The names of the hamlets that include monomorphic are Enak, Detung, I, II, III, IV, Kode, Delang, Halat, Baluele, and Ritat. The hamlet’s name includes polymorphism, namely Koli Buluk, Tadabliro, Kloang Bola, Natar Lorong, Kloang Beit, Habipiret, and Keduwair. The categorization of the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict is divided into aspects of embodiment and aspects of society. Aspects of embodiment are divided into several parts, namely location, geography, plants, water forms, and combinations. The name of the hamlet in the aspect of society is divided again in the aspect of nicknames. The name of the hamlet in another aspect, namely the number. The meaning of the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict is divided into several types, such as lexical-grammatical, referential-nonrefferential, denotative-connotative, conceptual-associative, and word-terms. So, the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict has a peculiarity that can be seen from its form, categorization, and meaning. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk, kategorisasi, dan makna nama-nama dusun di Kecamatan Nelle. Data dalam penelitian ini adalah nama-nama dusun di Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka. Data dikumpulkan menggunakan metode simak dengan teknik simak libat cakap, dan teknik lanjutannya ialah teknik rekam dan teknik catat. Data dianalisis dengan menggunakan metode perbandingan tetap. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Bentuk nama-nama dusun terdiri atas monomorfemis dan polimorfemis. Nama-nama dusun yang termasuk monomorfemis adalah Enak, Detung, I, II, III, IV, Kode, Delang, Halat, Baluele, dan Ritat. Nama dusun yang termasuk polimorfemis, yakni Koli Buluk, Tadabliro, Kloang Bola, Natar Lorong, Kloang Beit, Habipiret, dan Keduwair. Kategorisasi nama dusun di Kecamatan Nelle terbagi atas aspek perwujudan dan aspek kemasyarakatan. Aspek perwujudan terbagi dalam beberapa bagian, yakni letak, geografis, tanaman, wujud air, dan kombinasi. Nama dusun dalam aspek kemasyarakatan terbagi lagi dalam aspek julukan. Nama dusun dalam aspek lain, yakni jumlah. Makna nama dusun di Kecamatan Nelle terbagi dalam beberapa jenis, seperti makna leksikal-gramatikal, referensial-nonreferensial, denotatif-konotatif, konseptual-asosiatif, dan kata-istilah. Jadi, nama dusun di Kecamatan Nelle memiliki kekhasan yang dapat dilihat dari bentuk, kategorisasi, dan maknanya.