cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
News Media Partiality Concerning LGBT Issues in Indonesia: A Hidden Agenda of The Jakarta Post and Jakarta Globe Meina Astria Utami
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.566

Abstract

This study is aimed at investigating the representation of LGBT in the Jakarta Post and Jakarta Globe and revealing hidden ideologies embedded in the representations. This study more specifically focuses on identifying how the two media deploy transitivity choices in reporting LGBT and gaining representational meanings from the transitivity choices. This study employs the qualitative method and transitivity analysis under the framework of Fairclough’s three-dimensional approach (1989). The study reveals that the Jakarta post tends to represent LGBT as a more passive participant in a way that certain circumstances shape them as a discriminated and intimidated group by several religious groups, society and government officials, therefore this position has caused Human Rights activists and several government officials to defend them. The media also depict LGBT as an acceptable identity and acknowledged phenomenon in Indonesia. On the other hand, Jakarta Globe tends to represent LGBT as a more active participant that they are given more space to express their sufferings and struggles that trigger them to claim their own rights through their active involvement in anti-LGBT discussions and the support provided by Human Rights activists. The findings suggest that the two media are struggling to promote democratic values in attempts to contribute to establishing LGBT acceptance in Indonesia (the Jakarta Post) and critiquing the discrimination as a means of ending intimidation against LGBT (Jakarta Globe). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan makna representasi dari pilihan transitivitas yang digunakan oleh laporan berita The Jakarta Post dan Jakarta Globe dalam mewartakan kasus LGBT dan mengungkapkanideologi yang mendasari representasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis transitivitas di bawah kerangka pendekatan tiga dimensi Fairclough (1989). Penelitian ini mengungkapkan bahwa The Jakarta Post cenderung merepresentasikan LGBT sebagai partisipan yang lebih pasif sehingga keadaan tertentu membentuk mereka sebagai kelompok yang terdiskriminasi dan terintimidasi oleh beberapa kelompok agama, masyarakat, dan pejabat pemerintah; dengan demikian, posisi ini menyebabkan aktivis HAM dan beberapa pejabat pemerintah membela mereka. Media juga menggambarkan LGBT sebagai identitas berterima dan fenomena yang diakui di Indonesia. Di sisi lain, Jakarta Globe cenderung merepresentasikan LGBT sebagai partisipan yang lebih aktif sehingga mereka diberikan ruang lebih untuk mengekspresikan penderitaan dan pergulatan mereka yang memicu mereka untuk mengklaim hak mereka melalui keterlibatan aktif dalam diskusi anti-LGBT dan dukungan yang diberikan oleh aktivis HAM. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua media berupaya mendorong nilai-nilai demokratis sebagai usaha untuk berkontribusi dalam menumbuhkan penerimaan terhadap LGBT di Indonesia (The Jakarta Post) dan mengkritik diskriminasi untuk menghentikan intimidasi terhadap LGBT (Jakarta Globe).
Penanda Publik Bahasa Kawi di Kota Probolinggo: Kajian Lanskap Linguistik Khilmi Mauliddian; Ika Nurhayani; Hamamah Hamamah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2716

Abstract

The purpose of this study is to determine the meaning and function of Kawi language in public signs in Probolinggo City. This research was a research that explored language data from aspects of monolingualism in the frame of the Linguistic Landscape. The problem formulation in this study was, how the meaning and function of Kawi language on public signs in Probolinggo City. The method in this study used a qualitative method with Landry and Bourhis's Linguistic Landscape theory approach. Data collection techniques in this study used tools such as a photo camera or qualitative audio and visual materials. However, data analysis techniques included data copy, data classification, and data translation. Data was collected in photos containing Kawi language writing on public signs. The results of this study indicated that there were 13 public signs that used Kawi language. Kawi language words in public signs had different meanings. AbstrakPenelitian penanda publik bahasa Kawi di Kota Probolinggo kajian lanskap linguistik ini meneliti penanda publik menggunakan bahasa Kawi yang tersebar di sepanjang ruas utama jalan raya kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui arti dan fungsi bahasa Kawi pada penanda publik di Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori lanskap Linguistik Landry dan Bourhis 1997. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat berupa kamera foto atau qualitative audio and visual materials. Data yang dihimpun berupa foto yang berisi tulisan bahasa Kawi pada penanda publik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 13 penanda publik yang menggunakan bahasa Kawi. Ke-13 penanda publik yaitu, nama kota, gang, penginapan, toko, koperasi, tempat kesehatan, tempat pendidikan, tempat pemberhentian angkutan umum, tempat olahraga, nama terminal, motto, nama gedung, nama militer. Kata-kata bahasa Kawi pada penanda publik masing-masing memiliki arti tersendiri. Namun, terkait fungsi, penanda publik tersebut memiliki fungsi sebagai identitas atau nama. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menggali data bahasa dari aspek monolingualisme dalam bingkai Lanskap Linguistik.
Durasi sebagai Pemarkah Akustik Prefiks [di-], [kə-] dan Preposisi [di], [kə] dalam Bahasa Indonesia Cahyo Yusuf; Yusup Irawan; Yanti Sariasih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8269

Abstract

This study aims to prove that duration can be a marker for [di] and [kə] as prefixes and prepositions. In addition, this study aims to find acoustic markers of duration in both grammatical categories. Recording data was obtained from the speech of ten participants. Data were analyzed using the inductive approach. Then, with the help of the Praat application, acoustic measurements were carried out in the waveform window and spectrogram in the constituents [di] and [kə] as prefixes and prepositions as well as the silence after them. The results show that duration can be a grammatical marker [di] and [kə] as prefixes and prepositions. The prefix markers [di] and [kə] are in the range of 50--100 milliseconds, while the preposition markers [di] and [kə] are in the range of 150--200 milliseconds. The marker for the duration of the silence between the prefix and the root word is in the range of 40-80 milliseconds. The marker for the duration of the silence between the preposition and the next word is in the range 100-150. Prefix markers are shorter than preposition markers. This research contributes to the description of Indonesian in suprasegmental aspects. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa durasi dapat menjadi pemarkah [di] dan [kə] sebagai prefiks dan preposisi. Selain itu, penelitian ini bertujuan menemukan pemarkah akustik durasi pada kedua kategori gramatika tersebut. Data rekaman diperoleh dari tuturan sepuluh partisipan. Data dianalisis dengan pendekatan induktif. Kemudian, dengan bantuan aplikasi Praat dilakukan pengukuran akustik pada jendela waveform dan spektrogram di konstituen [di] dan [kə] sebagai prefiks dan preposisi serta kesenyapan setelahnya. Hasil menunjukkan bahwa durasi dapat menjadi pemarkah gramatikal [di] dan [kə] sebagai prefiks dan preposisi. Pemarkah prefiks [di] dan [kə] berada di rentang 50--100 milidetik, sedangkan pemarkah preposisi [di] dan [kə] berada di rentang 150--200 milidetik. Pemarkah durasi kesenyapan di antara prefiks dan kata dasar berada para rentang 40--80 milidetik. Pemarkah durasi kesenyapan di antara preposisi dan kata selanjutnya berada di rentang 100--150. Pemarkah prefiks lebih pendek daripada pemarkah preposisi. Penelitian ini berkontribusi terhadap deskripsi bahasa Indonesia pada aspek suprasegmental.
Pemerolehan Kosakata Bahasa Korea Pada Pembelajar Dewasa Indonesia Amanda Vira Maharani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 2 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i2.962

Abstract

This study aims to find out the effects of Korean songs and videos on vocabulary size of adult Korean language learners through one-way communication. To collect the data, three respondents participated in a picture-naming task in Korean and questionnaire is used to know the frequency of the participants in listening to Korean songs and watching Korean videos. The result showed that acquiring vocabularies on adult learners is difficult because of motivation and age factors. All participants of this study have exposed to Korean content media for more than five years, yet none of them got a perfect score on vocabulary test, but they got different motivations for learning Korean. It can be concluded, the higher the motivation on learner is the better result the learner’s got. Korean vocabulary acquisition by listening to Korean songs and watching Korean videos is possible yet not easily acquired by adult learners. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lagu dan video Korea pada kosakata pembelajar Bahasa Korea dewasa melalui komunikasi satu arah. Untuk mengumpulkan data, tiga responden berpartisipasi dalam penamaan gambar dalam Bahasa Korea dan kuesioner digunakan untuk mengetahui frekuensi peserta dalam mendengarkan lagu Korea dan menonton video Korea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memperoleh kosakata pada pelajar dewasa sulit karena motivasi dan faktor usia. Semua peserta penelitian ini telah terpapar ke media berkonten Korea selama lebih dari lima tahun, namun tidak satupun dari mereka mendapat nilai sempurna pada tes kosakata, tetapi mereka mendapat motivasi yang berbeda untuk belajar Bahasa Korea. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi motivasi pada pelajar adalah hasil yang lebih baik pelajar dapatkan. Pemerolehan kosakata Bahasa Korea dengan mendengarkan lagu-lagu Korea dan menonton video Korea adalah mungkin namun tidak mudah diperoleh oleh pembelajar dewasa.
Pengaruh Podcast (Siniar) Youtube terhadap Peningkatan Keterampilan Berbicara Ummul Qura; Nini Ibrahim; Prima Gusti Yanti; Irwan Baadilla
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5147

Abstract

Currently, podcasts (Siniar) are programs that are very popular with the public, not students. Inside the program, there is a speaking activity which is a fundamental aspect for students. The problem that occurs in learning speaking skills is that conventional methods are still often used. Through the broadcast, it is hoped that learning activities will be more innovative and able to improve students' speaking skills. Thus, the purpose of the study was to see the effect of YouTube podcasts on students' speaking skills. The quantitative method applied in this research is quasi-experimental. The population used were all fourth-semester students of the Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UHAMKA. Determination of the sample with a non-probability sampling technique. The independent variable in this study is speaking skills, while the variable is the YouTube Podcast program. Data were collected through dissemination instruments in the form of questionnaires on Podcasts and speaking practice activities. The results showed that there was a constant regression coefficient score with a value of 0.296. This score means that if each student adds podcast activity, then speaking skills increase by 0.296. In other words, for every 1% increase in the value of the variable during podcast shows, the value of speaking skills increases by 0.296. Therefore, this study concludes that there is an effect between watching YouTube Podcasts on students' speaking skills. AbstrakSaat ini, podcast (siniar) menjadi acara yang banyak digemari oleh masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa. Di dalam siniar ada kegiatan berbicara yang merupakan aspek yang fundamental bagi mahasiswa. Masalah yang terjadi dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah masih seringnya metode konvensional digunakan. Melalui siniar, diharapkan kegiatan pembelajaran lebih inovatif dan mampu meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa. Dengan demikian, tujuan pada penelitian untuk melihat pengaruh podcast YouTube terhadap keterampilan berbicara mahasiswa. Metode kuantitatif yang diterapkan di penelitian ini adalah quasi eksperimen. Populasi yang digunakan adalah semua mahasiswa semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UHAMKA. Penentuan sampel dengan teknik nonprobability sampling. Variabel bebas pada penelitian ini adalah keterampilan berbicara, sedangkan variabel terikat yaitu acara Podcast YouTube. Data dikumpulkan melalui penyebaran instrumen berupa angket pada Podcast dan kegiatan praktik berbicara. Hasil penelitian menunjukkan terdapat konstanta skor koefisien regresi dengan nilai 0,296. Skor ini bermakna bahwa tiap-tiap mahasiswa melakukan penambahan aktivitas menonton acara podcast, maka keterampilan berbicara meningkat sebesar 0,296. Dengan kata lain, setiap penambahan sebesar 1% nilai variabel saat menonton acara podcast, maka nilai keterampilan berbicara bertambah sebesar 0,296. Oleh karena itu, simpulan penelitian ini yaitu ada pengaruh antara menonton acara Podcast YouTube terhadap keterampilan berbicara mahasiswa.
Makna Simbolik “Popene’e” Pada Prosesi Pernikahan Etnik Tialo di Kabupaten Parigi Moutong: Kajian Semiotik Arfan Fauzan; Yunidar Yunidar; Sukma Sukma
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8304

Abstract

The purpose of this research is to describe the forms of symbolic meaning and the functions of symbolic meaning in the "popene'e" wedding procession of the Tialo ethnic group. The research method used in this study is descriptive qualitative, with data collection techniques including observation, interviews, recording, note-taking, and documentation. As for the data analysis technique using Miles and Huberman's theory, it involves data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. Based on the research findings, the "Popene'e" procession consists of eight main stages: (1) welcoming the bride and groom; (2) peeling, splitting coconuts, cutting and splitting wood; (3) slicing banana leaves; (4) stepping on the tray; (5) bringing kitchen utensils and cooking bananas; (6) praying for well-being; (7) feeding each other; and (8) shaking hands. Meanwhile, the results related to the symbolic meaning in this procession are divided into two: verbal meaning (in the form of mantras/ganes) and nonverbal meaning (through tools and equipment). Overall, these symbols reflect the hope for responsibility, harmony, fertility, and protection in family life. The functions of this traditional procession include (1) communication; (2) knowledge and cultural inheritance; (3) mediation with ancestors and God; and (4) social participation. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk makna simbolik dan fungsi makna simbolik pada prosesi pernikahan “popene’e” Etnik Tialo. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, perekaman, pencatatan, dan dokumentasi. Adapun Teknik analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian bentuk prosesi “Popene’e” terdiri dari delapan tahapan utama: (1) monyambute nu pungantinge (menyambut pengantin); (2) monimbaluse, mombiase niuge kangkai mongkolge, mombiasi ayu (mengupas, membelah kelapa dan memotong, membelah kayu); (3) monesege longu pensae (mengiris daun pisang); (4) mongunjae baki (menginjak baki); (5) mongkoni alatu wahu jopa monjaane pensae (membawa alat dapur dan memasak pisang); (6) mondo’a salamate (doa selamat); (7) mepea’anane (saling menyuap); dan (8) mondasi (jabat tangan). Sedangkan hasil terkait makna simbolik dalam prosesi ini terbagi menjadi dua, yaitu makna verbal (berupa mantra/gane) dan makna nonverbal (melalui alat dan perlengkapan). Secara keseluruhan, simbol-simbol ini merefleksikan harapan akan tanggung jawab, kerukunan, kesuburan, dan perlindungan dalam kehidupan berumah tangga. Fungsi dari prosesi adat ini mencakup (1) fungsi komunikasi; (2) fungsi pengetahuan dan pewarisan budaya; (3) fungsi mediasi dengan leluhur dan Tuhan; serta (4) fungsi partisipasi sosial.
KONSTRUKSI PASIF DALAM BAHASA MANGGARAI: PASIF TANPA PEMARKAH VERBA PASIF Stephanus Mangga
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i2.29

Abstract

Obyek penelitian ini adalah tentang konstruksi pasif dalam bahasa Manggarai. Bahasa Manggarai merupakan salah satu bahasa daerah di bagian Barat Pulau Flores. Hal terpenting yang dibahas dalam penelitian ini adalah: bagaimana konstruksi pasif bahasa Manggarai dibentuk tanpa pengafiksasian verba? Sebagai hasil penelitian, dapat diringkaskan bahwa kendatipun secara morfologis bahasa Manggarai tidak memiliki bentuk basif, akan tetapi secara sintaksis bahasa Manggarai memiliki konstruksi pasif dalam klausa-klausanya. Apa yang secara sintaksis menandakan pasifitas dalam bahasa Manggarai adalah tata urut konstituen dan kehadiran frasa pelaku li/le/l. Frasa preposisional ini bersifat wajib ada dalam pemasifan bahasa Manggarai.
Strategi Akomodasi Komunikasi dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia Reza Amarta Prayoga; Dian Palupi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2525

Abstract

The ability of teachers and students in learning activities is greatly influenced by the communication between the two. To establish interactive communication between the two, to achieve learning objectives, language adjustment, or adaptation (accommodation) is carried out so that mutual learning occurs. There are strategies carried out by teacher-students, both consciously and unconsciously, to adapt (accommodation) language in learning activities. Writing this article aims to (a) describe the dominance of the use of communication accommodation strategies in classroom learning and (b) describe the reasons or factors that influence the use of communication accommodation strategies between teachers and students in classroom learning. The data sources of this research are teachers and students in Indonesian language learning activities in classes in three high schools in Jakarta. The research data is verbal and nonverbal speech in Indonesian language learning activities. This research method uses descriptive qualitative which relies on data in the form of interviews, observation notes, and audiovisual recordings of Indonesian language learning activities in three high schools in Jakarta. The results showed that three strategies, namely the management of discourse, emotional expression, and interpretability dominate the use of communication accommodation strategies by teachers and students. Simplifying messages and building self-confidence are the reasons or factors for the occurrence of communication accommodation strategies that are built in the language interactions of teachers and students in the classroom. AbstrakKemampuan guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh komunikasi antarkeduanya. Untuk menjalin komunikasi yang interaktif antarkeduanya dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, penyesuaian atau adaptasi (akomodasi) bahasa dilakukan. Tujuannya ialah terjadinya pembelajaran yang timbal balik. Ada strategi-strategi yang dilakukan oleh guru-siswa, baik secara sadar maupun tidak sadar, untuk melakukan adaptasi (akomodasi) bahasa dalam kegiatan pembelajaran. Penulisan artikel ini bertujuan untuk (a) mendeksripsikan dominasi penggunaan strategi akomodasi komunikasi dalam pembelajaran di kelas dan (b) mendeskripsikan alasan atau faktor yang memengaruhi penggunaan strategi akomodasi komunikasi antara guru dan siswa dalam pembelajaran di kelas. Sumber data penelitian ini berupa guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas pada tiga SMA di Jakarta. Data penelitiannya adalah tuturan verbal dan nonverbal dalam dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang mengandalkan data berupa hasil wawancara, catatan observasi, dan rekaman audiovisual kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di tiga SMA di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga strategi, yaitu pengelolaan wacana, emotional ekspresi, dan interpretabilitas mendominasi penggunaan strategi akomodasi komunikasi yang dilakukan guru dan siswa. Penyederhanaan pesan dan pembangunan kepercayaan diri menjadi alasan atau faktor terjadinya strategi akomodasi komunikasi yang dibangun dalam interaksi bahasa guru dan siswa di kelas.
Eksplorasi Media Pembelajaran Bahasa: Implikasi pada Siswa Setyawan Pujiono; Maman Suryaman; Sulis Triyono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.3773

Abstract

Learning media is one of the important factors determining the success of the language learning process. The media will facilitate the work of teachers in carrying out the transfer of knowledge to students. In this regard, this study aims to (1) describe the suitability of the use of media in planning (RPP) with the implementation of language learning in the classroom, and (2) describe students' responses to the use of language learning media. Indonesian language learning media in public junior high schools in Sleman Regency. Qualitative and quantitative descriptive is research methods. Qualitative methods are carried out through observation instruments, interviews, and document analysis. The quantitative method is carried out through a questionnaire instrument. The research population is teachers and students of public junior high schools in Sleman Regency. The sampling technique used purposive sampling with strata technique (high, medium, low). The data analysis technique was descriptive qualitative and quantitative. The results of the study show that: first, the use of instructional media in planning and implementation is not appropriate. The learning media used by the teacher during learning are visual, conventional, and audio visual media. Second, students' responses to the use of learning media are categorized as good. The use of learning multimedia by teachers serves to stimulate thoughts, feelings, attention, and motivate students to learn so that language learning becomes more meaningful. AbstrakMedia pembelajaran merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan proses pembelajaran bahasa. Media akan mempermudah kerja guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Terkait dengan hal itu, penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kesesuaian penggunaan media di perencanaan (RPP) dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa di kelas dan (2) mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran bahasa. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan melalui instrumen pengamatan, wawancara, dan analisis dokumen. Adapun metode kuantitatif dilakukan melalui instrumen angket. Populasi penelitian adalah guru dan siswa SMP Negeri di Kabupaten Sleman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan teknik strata (tinggi, sedang, dan rendah). Teknik analisis data dengan cara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, penggunaan media pembelajaran pada perencanaan dan pelaksanaan tidak sesuai. Media pembelajaran yang digunakan guru saat pembelajaran adalah media visual, konvensional, dan audio visual. Kedua, tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran berkategori baik. Penggunaan multimedia pembelajaran oleh guru berfungsi untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan memotivasi peserta didik untuk belajar sehingga pembelajaran bahasa menjadi lebih bermakna. 
Perbedaan Ekspresi Emosional Terjemahan Mesin dan Manusia: Studi Kasus Google Translate Retno Purwani Sari; Tatan Tawami; Nenden Rikma Dewi; Chepi Nur Albar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8528

Abstract

This study seeks to compare how machine translation (MT) and human translation (HT) convey emotional expressions in Dahl’s Matilda. The study discusses the limitation of neural-network machine translation, such as Google Translate, in fully capturing emotional nuance in literary texts although this technology has contributed significantly to improve translation speed and cross-linguistic accessibility. This study employs a descriptive qualitative with a comparative approach. Character-centered content analysis is applied to examine differences in linguistic accuracy and emotional nuance between MT and HT, translation produced by a professional human translator. The results show that the degree of success between MT and HT varies in preserving interpersonal effect, stylistic nuance, and emotional intensity. The tendency of MT to prioritize lexical and semantic fidelity often weakens expressions with emotional loaded, and reduces the naturalness of dialog. In contrast, HT potentially produces the stylistic dictions with a higher degree of functional equivalence in terms of tenor, mode, and interpersonal function although there may be minor emotional shift, such as the imagery softening, occur. Nevertheless, both MT and HT successfully maintain the ideational meaning and emotional development of Matilda’s characteristics. These findings suggest that the main limitation of MT is in its inability to reproduce the adequate emotional and stylistic dimension of literary texts. MT may serve as a useful translation tool, but human evaluation plays significantly in preserving emotional nuance and communicative depth in literary translation. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bagaimana terjemahan mesin (machine translation, MT) dan terjemahan manusia (human translation, HT) menyampaikan ekspresi emosional dalam novel Matilda karya Roald Dahl. Penelitian ini mendiskusikan keterbatasan sistem terjemahan mesin berbasis neural machine translation, seperti Google Translate, dalam menangkap nuansa emosional secara menyeluruh dalam teks karya sastra, meskipun teknologi ini telah meningkatkan kecepatan data dan aksesibilitas komunikasi lintas bahasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan komparatif. Teknik analisis konten yang difokuskan pada karakter Matilda (character-centered analysis), digunakan untuk mengkaji perbedaan akurasi linguistik dan nuansa emosional antara hasil terjemahan MT dan terjemahan penerjemah profesional, HT. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan tingkat keberhasilan MT dan HT dalam mempertahankan efek interpersonal, nuansa stilistika, dan intensitas emosional. Kecenderungan MT mempertahankan fidelitas leksikal dan semantik melemahkan ungkapan bermuatan emosional dan kealamian dialog. Sementara itu, pilihan diksi stilistik HT memungkinkan terjemahan mencapai ekuivalensi fungsional yang lebih tinggi dalam aspek tenor, mode, dan fungsi interpersonal meskipun pergeseran emosi minor seperti pelunakan pencitraan kerap terjadi. Namun, secara umum keduanya berhasil mempertahankan makna ideasional dan perkembangan emosi karakter Matilda. Temuan ini menunjukkan keterbatasan MT terletak pada reproduksi dimensi emosional dan stilistika yang menjadi ciri khas teks karya sastra. MT dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu awal, sedangkan evaluasi manusia tetap menjadi aspek penting untuk mempertahankan nuansa emosional dan kedalaman komunikasi dalam penerjemahan karya sastra.