cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Strategi Bertutur Fisioterapis Arni Chairul
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.2031

Abstract

This study aims to find out how to use the physiotherapist's speech strategy at RSU Haji Medan according to the theories of Brown and Levinson. This research uses a qualitative approach with the case study method while data obtained through observation and interviews. This research found that there are 2 speech strategies used by physiotherapists at RSU Haji Medan. First, on record with positive politeness strategy contained in request directive speech acts (100%), question directive speech acts (100%), requirements directive speech acts (100%), agreement directive speech acts (100%), advisories directive speech acts (71%). Second, bald-on record strategy contained in prohibition directive speech acts (100%) and advisories directive speech acts (29%).  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan strategi bertutur seorang fisioterapis di RSU Haji Medan menurut teori Brown dan Levinson. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, sedangkan data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif. Penelitian ini menemukan ada dua strategi bertutur yang digunakan oleh fisioterapis di RSU Haji Medan. Pertama, strategi bertutur terus terang dengan basa basi, berupa kesantunan positif yang terdapat dalam tindak tutur direktif permintaan (100%), tindak tutur direktif pertanyaan (100%), tindak tutur direktif persyaratan (100%), tindak tutur direktif persetujuan (100%), dan tindak tutur direktif nasihat (71%);. Kedua, strategi bertutur terus terang tanpa basa-basi hanya terdapat dalam tindak tutur direktif pelarangan (100%) dan tindak tutur direktif nasihat (29%).
Analisis Kontrastif Pasangan Kalimat Transitif-Intransitif Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang Puspa Mirani Kadir; Inu Isnaeni Sidiq; Cece Sobarna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6207

Abstract

In Japanese, the pairs of transitive- intransitive verbs are known as jidoushi/tadoushi (abbreviated as jita). There are approximately 1,256 or 22.6% of the total Japanese verbs inventory. This research aims to affirm Kageyama's (1998) formulation concerning the lexical concept structure (LCS) in transitive-intransitive paired verbs, jidoushi-tadoushi (hereinafter referred to as jita). Through this conceptual structure, jita can be contrastively compared with verbs in Indonesian language, revealing clear similarities and differences, both structurally and semantically. The theories used in this study include Hayatsu's (1995) theory, which reveals the structure and meaning of transitive-intransitive paired verbs; and Kaeyama’s (1998) theory, which proposes the lexical conceptual structure 'Lexical Conceptual Structure' (LCS) providing clarity in classifying Japanese verbs that can form stative/dynamic, possessive/processive, reflexive/non-reflexive, and unintentional/intentional verb pairs. Meanwhile, the transitive-intransitive theory in Indonesian language adopts the theories of Kridalaksana (2005) and Wijana (2021). The data was taken from Japanese sentences in Yoshimoto Banana's novel 'Kitchin' (2005) along with the novel translated into Indonesian, and supplemented by Asahi Shinbun newspaper for vocabulary that is not found in the novel. The research results show that, in Japanese, the transitive verbs form the intransitive verbs; while in Indonesian; intransitive verbs typically derive from transitive verbs. It is proven from the analyzed data, revealing that the semantic functions of possessiveness and intentionality, as well as the meaning of unintentional and intentional actions, associated with transitive verbs affixed with me(N)+kan and intransitive verbs affixed with ber-, closely align with the meanings of jita verb pairs in the Japanese. AbstrakVerba bahasa Jepang memiliki pasangan transitif-intransitif atau yang  biasa dikenal dengan jidoushi/tadoushi (jita) itu ada sekitar 1256 buah atau 22,6% dari keseluruhan verbanya. Tujuan penelitian ini merupakan penegasan rumusan Kageyama (1998) terhadap struktur konsep leksikal (LCS)  pada verba berpasangan transitif-intransitif  jidoushi-tadoushi (selanjutnya disingkat jita). Dengan struktur konsep ini jita dapat diperbandingkan secara kontrastif dengan verba dalam bahasa Indonesia sehingga muncul persamaan dan perbedaan yang jelas, baik secara struktur maupun semantik. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori Hayatsu (1995) yang mengungkapkan struktur dan makna transitif-intransitif verba berpasangan dan  struktur konseptual leksikal ‘Lexical Conceptual Structure’ (LCS) ancangan Kageyama (1998) yang memberikan ketegasan dalam pengelompokan verba berpasangan bahasa Jepang yang dapat membentuk verba statif/dinamis, posesif/prosesif, refleksif/nonreflektif, dan ketidaksengajaan/kesengajaan. Sementara itu, teori transitif-intransitif dalam bahasa Indonesia digunakan teori dari Kridalaksana (2005); Wijana (2021). Teknik pengumpulan data dengan cara menelaah kalimat bahasa Jepang yang terdapat dalam novel ‘Kitchin ‘ karya Yoshimoto Banana (2005) berikut terjemahannya disertai koran Asahi Shinbun untuk kosa-kata yang tidak ada dalam novel tersebut. Hasil penelitian ini pada hal yang khusus terjadi dalam bahasa Jepang adalah adanya proses terbentuknya verba transitif yang berasal dari verba intransitif, sedangkan dalam bahasa Indonesia verba intransitif umumnya terjadi dari transitif. Hal ini terungkap dari data yang telah dianalisis bahwa fungsi semantik possesive dan intentional serta makna  kesengajaan/tidak (unintentional and intentional) yang dimiliki verba transitif yang berafiks me(N)+kan dan verba intransitif berafiks ber-, sangat bersesuaian dengan makna verba berpasangan jita dalam bahasa Jepang.
Sistem Bilangan Beberapa Bahasa di Wilayah Papua, NTT, dan Maluku Utara Sri Winarti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 2 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v6i2.450

Abstract

This paper wishes to describe the numeral systems in the regions of Papua, East Nusa Tenggara (NTT) and North Maluku, namely Marind language (Papua), Tarfia language (Papua), Alor language (NTT), Adang language (NTT), Eastern Makian language (North Maluku) and Ternate language (North Maluku). This paper aims to determine the similarities and the differences among the six languages. This research uses a qualitative method. The result of this study is explaining that all those six languages have unique numeral systems, which differs from one regional language to other regional languages. Although they are different, the six languages also have similarities, that is they have cardinal numbers and the development of cardinal numbers. The lexical shapes used in the six languages in forming the numbers can be grouped into two, namely (1) the cardinal number and (2) the development of the cardinal number. The cardinal numbers in the six languages can be grouped into two parts, namely (1) languages that fall under the category of less-than-en cardinal number system and (2) the languages that fall under the category of ten cardinal numbers.  Abstrak Makalah ini mendeskripsikan sistem bilangan beberapa bahasa di wilayah Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku Utara, yaitu bahasa Marind (Papua), bahasa Tarfia (Papua), bahasa Alor (NTT), bahasa Adang (NTT), bahasa Makian Timur (Maluku Utara), dan bahasa Ternate (Maluku Utara). Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kesamaan dan perbedaan keenam bahasa-bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Temuan yang didapat dalam penelitian ini adalah bahwa keenam bahasa tersebut memiliki sistem bilangan yang khas, yang berbeda antara satu bahasa daerah dengan bahasa daerah lainnya. Walaupun berbeda, keenam bahasa-bahasa itu juga memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memiliki bilangan pokok dan pengembangan bilangan pokok. Bentuk leksikal yang digunakan pada keenam bahasa tersebut dalam membentuk bilangan-bilangan dapat dikelompokkan atas dua, yaitu (1) bilangan pokok dan (2) pengembangan bilangan pokok. Bilangan pokok pada keenam bahasa itu dapat dikelompokkan atas dua bagian, yaitu (1) bahasa-bahasa yang termasuk kategori sistem bilangan pokok yang kurang dari sepuluh dan (2) bahasa-bahasa yang termasuk kategori bilangan pokok sepuluh. 
Adverb in Indonesian I Dewa Putu Wijana
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2454

Abstract

This paper is intended to describe the forms and meanings of adverb in Indonesian. Adverbs are “words” that function to specify or locate the proposition expressed within the clause. By this concept, I limit my attention to merely what the so called “extra clausal adverbs”, a categorical concept along with noun, adjective, verb, etc. This concept is fundamentally differentiated from “adverbials”, elements of  clause structure along with subject, predicate, object, etc. By using data collected through introspective methods and some extracted from Intisari, and after analyzing them using distributional analysis followed by its continuation techniques (permutation, paraphrase, and comparison), the reasearch found that Indonesian adverbs are formally constructed at least by four kinds of morphological process, i.e. conversion, affixation, reduplication, and compounding. As far as the semantic roles are concerned, they can mainly be classified into four types, i.e adverbs of manner and state, adverbs of modality, adverbs  of frequency and quantity, adverbs of time. Finally, the differences that hold among Indonesian adverbs belong to the same semantic types might be related to  degree of formality, intensity, politeness, and style of the utturances. AbstrakMakalah ini bertujuan untuk memerikan bentuk dan makna adverbia dalam bahasa Indonesia. Adverbia adalah kata-kata yang berfungsi untuk mengkhususkan atau melokasikan proposisi yang diungkapkan oleh sebuah klausa. Dengan konsep ini, penulis membatasi perhatian pada apa yang selama ini disebut adverbia ekstra klausal, konsep kategori yang sepadan dengan nomina, adjektiva, verba, dsb. Konsep ini secara fundamental dibedakan dengan adverbial, elemen struktur  klausa yang sepadan dengan subjek, predikat, objek, dsb. Dengan data yang dikumpulkan melalui metode introspektif dan beberapa di antaranya dikumpulkan dari Majalah Intisari, dan setelah menganalisisnya dengan metode distribusional disertai dengan teknik lanjutannya (permutasi, parafrase, dan perbandingan), penelitian menemukan bahwa adverbia bahasa Indonesia sekurang-kurangnya dikonstruksi secara formal dengan proses konversi, afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Sementara itu berdasarkan peran semantisnya adverbia bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi adverbia cara dan keadaan, modalitas, keseringan dan kuantitas, dan waktu. Akhirnya adverbia-adverbia yang tergolong ke dalam tipe semantik yang sama memiliki perbedaan dalam hal tingkat keformalan, intensitas, kesantunan, dan ragam tuturan. 
Keterampilan Berpidato Mahasiswa dalam Bentuk Video Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek: Pendekatan Reflektif Ida Nuraeni; Sitti Harisah; Ali Karim; Nasim Taha; Alfi Sahrin
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7800

Abstract

Public speaking skills are a necessary communication skill for students in the 21st century. This research aims to investigate how public speaking skills of students in the form of videos at universities in Central Sulawesi through project-based learning. The purpose of this study is to describe students' public speaking skills developed in project-based learning. This research was conducted using a qualitative approach, namely descriptive qualitative method. The research data were speech videos uploaded through students' YouTube channels. The analysis technique used content analysis. The research results show three things. First, students have composed speech videos with an opening, content, and closing structure. Second, the language used in the speech videos has both formal and informal variations. Third, the students' appearance shows naturalness. AbstrakKeterampilan berpidato adalah salah satu kemampuan komunikasi yang dibutuhkan oleh siswa di abad 21. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah keterampilan berpidato mahasiswa yang disajikan dalam bentuk video di perguruan tinggi se-Sulawesi Tengah melalui pembelajaran berbasis proyek. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterampilan berpidato mahasiswa yang dikembangkan dalam pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian ini adalah video pidato yang diunggah melalui kanal youtube milik mahasiswa. Teknik analisis menggunakan analisis konten (isi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpidato mahasiswa yang disajikan dalam bentuk video terdiri atas tiga hal. Pertama, mahasiswa telah menyusun video pidato dengan struktur pembukaan, isi, dan penutup. Kedua, bahasa yang digunakan dalam video pidato memiliki ragam formal dan nonformal. Ketiga, penampilan mahasiswa menunjukkan kewajaran.
Konstruksi Kosubordinasi dalam Bahasa Indonesia (Persfektif Linguistik Fungsional) Miftahulkhairah Anwar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 1 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i1.947

Abstract

This paper attempts to present an explanation of the cosubordination construction of Indonesian language in the van Valine’s functionalism perspective. van Valine divides the clause relationship into three types: coordination, subordination, and cosubordination. Cosubordination is a series of sequential activities of a construction carried out by participants. This relationship resembles coordination, but cannot stand alone as a free clause because one clause is bound to another. This relationship produces semantic relations. The research method used in this study is descriptive qualitative method based on data resources from Kompas on January and March, 2018. Based on data searching, found several meaningful relations found in the cosubordinated construction of Indonesian language, namely the meaning of the purposive, phase, indirect discourse, jussive (command expression, request, or demand), propositional attitude, cognition, and indirect perception.  ABSTRAKTulisan ini akan menyajikan sebuah paparan tentang konstruksi kosubordinasi bahasa Indonesia dari sudut pandang fungsionalisme van Valin. van Valin membagi hubungan klausa ke dalam tiga jenis: koordinasi, subordinasi, dan kosubordinasi.  Kosubordinasi merupakan rangkaian aktivitas berurutan dari suatu konstruksi yang dilakukan oleh partisipan. Hubungan ini  menyerupai koordinasi, tetapi tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu klausa bebas karena klausa yang satu terikat  pada yang lain. Hubungan ini menghasilkan relasi semantik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan data yang bersumber dari  Kompas periode Januari dan Maret 2018. Berdasarkan penelusuran terhadap data, ditemukan beberapa relasi makna yang terdapat dalam konstruksi kosubordinasi bahasa Indonesia, yaitu relasi bermakna tujuan, fase, wacana tidak langsung, jussive (ekspresi perintah, permintaan, atau tuntutan),  penyikapan awal, kognisi, dan persepsi tidak langsung.
PEMBELAJARAN DWIBAHASA DI SEKOLAH DASAR: PELAKSANAAN, KENDALA, DAN HARAPAN Defina Defina; Krishandini Krishandini; Laksmi Arianti; Henny Krishnawati; Hesti Sulistyowati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v3i1.20

Abstract

Sekolah dasar (SD) di Indonesia, khususnya di Bogor, Jawa Barat, diberikan mata pelajaran pendidikan dua bahasa: Indonesia dan bahasa ibu atau daerah (bahasa Sunda). Akan tetapi, dari pengamatan sementara pengajaran dwibahasa menimbulkan berbagai kendala. Sehubungan dengan hal itu, tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan proses pembelajaran dwibahasa tersebut di sekolah dasar, 2) mendeskripsikan kendala yang dialami guru dalam proses pembelajaran, dan 3) mendeskripsikan harapan para guru mengenai kegiatan pembelajaran dwibahasa tersebut. Populasi penelitian ini adalah guru SD di Bogor. Sampel penelitian 47 guru kelas di enam SD di Bogor. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian adalah 1) untuk proses pengajaran: a) bahasa Indonesia dan bahasa Sunda di SD diajarkan oleh guru kelas, b) bahasa pengantar dalam pembelajaran bahasa Sunda tidak menggunakan bahasa tersebut, tetapi menggunakan bahasa Indonesia, c) sarana pembelajaran bahasa di SD kurang memadai dan hanya memiliki buku panduan, dan d) siswa lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran kedua bahasa itu; 2) kendala yang dihadapi guru adalah a) mereka tidak mendapatkan perhatian yang serius dari sekolah dan pemerintah, dalam upaya peningkatan kemampuan, b) guru yang mengajarkan bahasa Sunda masih kurang keterampilan berbahasa Sunda, dan c) keterampilan berbahasa Sunda guru yang mengajarkan bahasa Sunda masih kurang, khususnya guru yang tidak berbahasa ibu bahasa Sunda, 3) harapan mereka adanya perhatian serius dari pemerintah terhadap pembelajaran bahasa Sunda dan mata pelajaran ini tidak dihapus.
Bahasa Adang di Pulau Alor: Kajian Vitalitas Etnolinguistik NFN Inayatusshalihah; Miranti Sudarmaji
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2933

Abstract

Language use is a critical indicator for ethnolinguistic vitality. The greater the number of domains where a language used, the stronger a language. This study aims to examine the vitality of Adang language in Adang Buom, Teluk Mutiara District, Alor Regency based on indicator of language use. The Adang use is observed in five domains such as home, religion, transaction, education, government and health institution. Data are collected using questionaire and analyzed within ethnolinguistic vitality theory. This study finds that the number of Adang domains amongst Adang Buom community has decreased. Adang is used in conjuction with Indonesian (or Malay-alor), both in private and public domains. The young generation tends to use Indonesian (or Malay-Alor) in home domain. Based on the indicator of language use, Adang could be categorized as a language with dwindling domains. Trend in Indonesian usage amongst Adang community is motivated by communicative, economic, prestigious, and religious motivations.AbstrakPenggunaan bahasa dalam ranah merupakan indikator penting vitalitas etnolinguistik. Sebuah bahasa yang digunakan di ranah yang beragam akan memiliki daya hidup yang kuat. Kajian ini bertujuan untuk mengukur tingkat daya hidup bahasa Adang di Adang Buom, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor berdasarkan indikator penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa Adang dilihat dalam lima ranah, yaitu rumah, ibadah, transaksi, pendidikan, dan institusi pemerintahan dan kesehatan. Data kajian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan teori vitalitas etnolinguistik. Hasil kajian menunjukkan jumlah ranah penggunaan bahasa Adang dalam komunitas tutur Adang Buom mengalami penyusutan. Bahasa Adang digunakan bersamaan dengan penggunaan bahasa Indonesia (atau Melayu-Alor), baik di ranah yang bersifat pribadi maupun publik. Generasi muda cenderung menggunakan bahasa Indonesia (atau Melayu-Alor) di ranah rumah dengan keluarga. Dari indikator penggunaan bahasa, Adang dapat dikategorikan sebagai bahasa dengan ranah yang berkurang atau dwindling domains. Adanya kecenderungan penggunaan bahasa Indonesia di kalangan komunitas Adang didorong oleh motivasi komunikatif, ekonomi, prestisius, dan religius.
Bentuk dan Jenis Komunikasi Bernada Ujaran Kebencian (Studi Kasus Terhadap Postingan dan Komentar Pada Akun Instagram @Nyinyir_Update_Official) Agus Mulyanto; Aneu Nuraeni; Siska Mareti Maulani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6099

Abstract

Language is a very important communication tool for humans to interact. One of the tools used to communicate is social media. It is undeniable that at this time on social media there is often the use of language deviations such as hate speech. This research focuses on analyzing the forms and types of hate speech in posts and comments on the @nyinyir_update_official Instagram account. The approach used is a qualitative approach with descriptive methods. The data collection technique was carried out using reading and note-taking techniques. Data is obtained from comments on @nyinyir_update_official Instagram account posts that contain hate speech. The results of the study show that the hate or dislike response is the creative impetus for creative language expression. Creative in finding different ways to berate or blaspheme. The technique used is to use referents that are nuanced with negative meanings. The technique used is to use referents that are nuanced with negative meanings. There are nine types of referents used to express hatred, namely: (1) circumstances 32 utterances, (2) animals 13 utterances, (3) body parts 23 utterances, (4) objects 10 utterances, (5) activities 4 utterances, (6) spirits 6 utterances, (7) kinship 10 utterances, (8) profession 4 utterances, (9) exclamation 2 utterances. Judging from the form, the core of hatred is expressed in words, phrases, and clauses as follows: (1) words as many as 28 hate speeches, (2) phrases 35 hate speeches, and (3) clauses 37 hate speech data. AbstrakBahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia untuk berinteraksi. Salah satu sarana yang digunakan untuk berkomunikasi yaitu media sosial. Tidak dipungkiri pada masa ini di media sosial sering terjadi penggunaan penyimpangan berbahasa seperti ujaran kebencian. Penelitian ini berfokus pada analisis bentuk dan jenis ujaran kebencian pada postingan dan komentar di akun Instagram @nyinyir_update_official. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Data diperoleh dari komentar pada postingan akun instagram @nyinyir_update_official yang mengandung ujaran kebencian. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa respons benci atau tidak suka merupakan dorongan kreatif membuat ungkapan bahasa kreatif. Kreatif dalam menemukan berbagai cara mencaci atau menghina. Teknik yang digunakan adalah menggunakan referen yang bernuansa makna negatif. Ada sembilan jenis referen yang digunakan untuk mengungkapkan kebencian, yaitu: (1) keadaan 32 ujaran, (2) binatang 13 ujaran, (3) bagian tubuh 23 ujaran, (4) benda 10 ujaran, (5) aktivitas 4 ujaran, (6) makhluk halus 6 ujaran, (7) kekerabatan 10 ujaran, (8) profesi 4 ujaran, (9) seruan 2 ujaran. Dilihat dari bentuknya, inti kebencian itu diungkapkan dengan kata, frasa, dan klausa sebagai berikut: (1) kata sebanyak 28 ujaran kebencian, (2) frasa 35 ujaran kebencian, dan (3) klausa 37 data ujaran kebencian.
The Linguistic Vitality of Tatambaken: The Dynamics of Managing Oral Traditions as The Living Heritage of The Minahasa Community Jultje Rattu; Ivan Kaunang; Elvie Piri; Zulfa Zulfa
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.7023

Abstract

The Tatambaken oral tradition represents the sociocultural identity of the Minahasa people, embodying local wisdom. However, modernization threatens the intergenerational transmission of this tradition. This study aims to analyze the linguistic vitality of Tatambaken and the dynamics of its management as a living heritage. Using qualitative methods with an ethnolinguistic approach, data were collected through participant observation and in-depth interviews in several indigenous communities in Minahasa. The results indicate that the vitality of Tatambaken is at a "vulnerable" level, but it possesses resilience through the process of adapting its functions in traditional ceremonies and formal events. Management of this tradition requires synergy between natural inheritance within families and institutional revitalization by the local government. Abstrak Tradisi lisan Tatambaken mewakili identitas sosial budaya masyarakat Minahasa, yang mewujudkan kearifan lokal. Namun, modernisasi mengancam transmisi tradisi ini antar generasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis vitalitas linguistik Tatambaken dan dinamika pengelolaannya sebagai warisan hidup. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik, data dikumpulkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam di beberapa komunitas adat di Minahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitalitas Tatambaken berada pada tingkat "rentan", tetapi memiliki ketahanan melalui proses adaptasi fungsinya dalam upacara tradisional dan acara formal. Pengelolaan tradisi ini membutuhkan sinergi antara warisan alami dalam keluarga dan revitalisasi kelembagaan oleh pemerintah daerah.