cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
DISTRIBUSI VERBA BERPREFIKS {N-} PADA BAHASA LAMPUNG DALAM KITAB KUNTARA RAJA NITI DAN BUKU AJAR: KAJIAN MORFOLOGI Farida Ariyani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v3i2.43

Abstract

Artikel ini membahas secara morfologis proses distribusi verba berprefiks {N-} pada verba bahasa Lampung dalam kitab Kuntara Raja Niti dan buku ajar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam pembahasannya, data yang berisi verba berprefiks {N-} yang ditemukan pada kitab Kuntara Raja Niti dan buku ajar dikumpulkan dan kemudian pendistribusiannya dianalisis secara morfologis. Pada penelitian ini ditemukan dua jenis pendistribusian bentuk verba berprefiks {N-}, yaitu berupa verba infleksional dan verba derivasional. Verba infleksional adalah bentukan verba yang berasal dari dasar yang juga berkategori verba. Sementara itu, verba derivasional adalah bentukan verba yang diperoleh dari dasar yang berkategori selain verba. Verba infleksional ini sangat produktif pada bahasa Lampung dan ditemukan pada seluruh verba berprefiks {N-}. Selain itu, ditemukan lima buah kategori pembentuk verba derivasional, yaitu nomina, adjektiva, adverbia, pronomina, dan numeralia yang diperoleh dari kitab Kuntara Raja Niti dan buku ajar.
Tindak Tanggapan dalam Gelar Wicara Video “Coklat Kita Humor Sufi” Lisda Muhammad 'Afiif; Retno Winarni; Muhammad Rohmadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.2116

Abstract

The purpose of this research is to describe the response action in Coklat Kita Humor Sufi entitled "The Wallet’s Health". The method used in this research is the descriptive qualitative method with content analysis. The data and data sources are in the form of words, phrases, or sentences found in the talk show video of Coklat Kita Humor Sufi. The data were collected by using the uninvolved conversation observation technique. The test of the validity of the data is using investigator triangulation. The analysis technique with three components, namely reduction, presentation, and data collection. The results of the data analysis found that the response strategies that occurred were (1) criticizing, (2) convincing, (3) sense of wonder, (4) agreeing, (5) clarifying, (6) blaming, (7) explaining, and (8) suggesting. The response strategy is dominated by direct explanation. AbstrakTujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tindak tanggapan dalam program Coklat Kita Humor Sufi yang berjudul “Kesehatan Dompet”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan analisis isi. Data dan sumber data berupa kata, frasa, atau kalimat yang ditemukan dalam program Coklat Kita Humor Sufi. Pengumpulan data menggunakan metode simak libat bebas cakap. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi penyidik. Teknik analisis yang digunakan adalah tiga komponen, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan data. Analisis data menghasilkan strategi tindak tanggapan yang terjadi yang berupa (1) mengkritik, (2) meyakinkan, (3) rasa heran, (4) menyetujui, (5) mengklarifikasi, (6) menyalahkan, (7) menjelaskan, dan (8) menyarankan. Strategi tanggapan yang dilakukan didominasi dengan menjelaskan secara langsung.
Pengaruh Model RADEC (Read, Answer, Discuss, Explain, Create) dan Motivasi Belajar Terhadap Keterampilan Menulis Teks Eksposisi Siswa As-syfa Rumaisya Fadil; Syahrul Ramadhan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6830

Abstract

Research into the impact of the RADEC model on expository text writing proficiency is crucial as it presents a comprehensive methodology linked to various steps, from reading to creating content. This study is expected to provide an understanding of the extent to which the RADEC model can be an answer to address writing proficiency issues. The objectives of this research are (1) to understand the effect of RADEC model and conventional model on exposition text writing proficiency; (2) to understand the effect of RADEC learning model on exposition text writing proficiency of students with high learning drive; (3) to understand the effect of RADEC model on writing proficiency of students with low drive; and (4) to understand the relationship between RADEC model and learning drive in influencing exposition text writing proficiency. This research applied experimental technique with quantitative methodology and the type was quasi experiment, and used 2x2 factorial design. The sample was taken by purposive sampling technique and obtained Class X E6 and X E5 as samples in this study. The results of hypothetical investigation and research show some significant results. First, there is an effect of proficiency in writing exposition texts for students taught using the RADEC model and proficiency in writing exposition texts for students taught using the conventional model.  Secondly, there is an effect of proficiency in writing exposition text for high learning motivation students taught using RADEC model and proficiency in writing exposition text for high learning motivation students taught using conventional model. Third, there is an effect of proficiency in writing exposition text for low learning motivation students taught with RADEC model and proficiency in writing exposition text for low learning motivation students taught with conventional model. Fourth, there is no interaction between RADEC learning model and learning motivation on the exposition text writing proficiency of Adabiah Padang high school grade X students because the FAB/Fcount is 1.81. Ftable at the significance level (α = 0.05) with dk for numerator = 1 (dbAB) and dk for denominator = 36 (n-ab) is 4.15. AbstrakPenelitian dampak model RADEC pada kemahiran menulis teks eksposisi krusial karena menyajikan metodologi komprehensif yang terkait dengan berbagai langkah, mulai dari membaca hingga membuat konten. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang sejauh mana model RADEC dapat menjadi jawaban untuk mengatasi masalah kemahiran menulis. Tujuan dari riset ini, yaitu (1) memahami pengaruh model RADEC dan model konvensional terhadap kemahiran menulis teks eksposisi; (2) memahami pengaruh model pembelajaran RADEC terhadap kemahiran menulis teks eksposisi murid yang berdorongan belajar tinggi; (3) memahami pengaruh model RADEC terhadap kemahiran menulis murid yang penguasaan dorongan rendah; dan (4) memahami hubungan model RADEC dengan dorongan belajar dalam memengaruhi kemahiran menulis teks eksposisi. Penelitian ini menerapkan teknik eksperimen dengan metodologi kuantitatif dan jenisnya adalah eksperimen semu (quasi experiment), serta menggunakan desain factorial 2x2. Sampel diambil dengan metode purposive sampling dan mendapatkan Kelas X E6 dan X E5 sebagai sampel. Hasil penyelidikan hipotesis dan penelitian menunjukkan beberapa hasil yang signifikan. Pertama, terdapat pengaruh kemahiran menulis teks eksposisi siswa yang diajar menggunakan model RADEC dan kemahiran menulis teks eksposisi yang diajar dengan menggunakan model konvensional.  Kedua, terdapat pengaruh kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa berdorongan belajar tinggi yang diajarkan dengan menggunakan model RADEC dan kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa yang berdorongan belajar tinggi yang diajarkan dengan menggunakan model konvensional. Ketiga, terdapat pengaruh kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa berdorongan belajar rendah yang diajarkan dengan model RADEC dan kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa berdorongan belajar rendah yang diajarkan dengan model konvensional. Keempat, tidak terjadi interaksi antara model pembelajaran RADEC dengan dorongan belajar terhadap kemahiran menulis teks eksposisi siswa kelas X SMA Adabiah Padang karena diperoleh FAB/ Fhitung sebesar 1,81. Ftabel pada taraf signifikansi (α = 0,05) dengan dk untuk pembilang = 1 (dbAB) dan dk untuk penyebut = 36 (n-ab) adalah 4,15.
Model ADLX dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Teks Iklan: Studi Fenomenologi di Jambi Renilda Pratiwi Yolandini; Urip Sulistiyo; Hary Soedarto Harjono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8507

Abstract

This study aims to describe and understand the experiences of teachers and students in implementing the Active Deep Learning eXperience (ADLX) model with the TERPADU approach to develop 21st-century literacy in advertisement text learning at integrated Islamic schools in Jambi Province. This study employed a qualitative approach with a phenomenological design. The research participants consisted of Indonesian language teachers and eighth-grade students selected through purposive sampling techniques. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing, while data validity was ensured through source and technique triangulation. The findings revealed that the implementation of the ADLX model encouraged students’ active engagement in advertisement text learning through collaborative, creative, and experience-based learning activities. The development of 21st-century literacy was reflected in students’ critical thinking, creativity, communication, and collaboration skills throughout the learning process. The use of digital media, group discussions, and digital advertisement projects contributed to creating a more interactive and contextual learning environment. In addition, the TERPADU approach strengthened students’ character values, responsibility, and cooperation during the learning activities. This study contributes to the development of experience-based Indonesian language learning and 21st-century literacy within the context of Islamic value-based education. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan memahami pengalaman guru dan siswa dalam penerapan model Active Deep Learning eXperience (ADLX) dengan pendekatan TERPADU untuk mengembangkan literasi abad ke-21 pada pembelajaran teks iklan di sekolah Islam terpadu Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Informan penelitian terdiri atas guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas VIII yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model ADLX mampu mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran teks iklan melalui aktivitas kolaboratif, kreatif, dan berbasis pengalaman belajar. Literasi abad ke-21 terlihat dari berkembangnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Penggunaan media digital, diskusi kelompok, dan proyek iklan digital membantu menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual. Selain itu, pendekatan TERPADU memberikan penguatan terhadap nilai karakter, tanggung jawab, dan kerja sama siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis pengalaman belajar dan literasi abad ke-21 dalam konteks pendidikan berbasis nilai keislaman.
ANALISIS PENGGUNAAN JUJU HYOUGEN 授受表現 DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Sri Iriantini
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v2i2.236

Abstract

Keberagaman struktur dalam bahasa Jepang membuat bahasa ini menjadi salah satu bahasa yang cukup sulit dipelajari oleh pembelajar asing. Unsur budaya yang sering tercermin dalam berbahasa sehari-hari pun menjadi salah satu sebab mengapa bahasa Jepang menjadi salah satu bahasa yang sulit untuk dipelajari. Misalnya dalam penggunaan struktur kalimat yang menggunakan giving receiving verbs ‘verba memberi menerima’ yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah verba yarimorai (juju doushi) yang terdiri dari verba yaru, ageru, kureru, morau, sashiageru, kudasaru, dan itadaku. Penggunaan verba yarimorai dalam suatu situasi ujar tertentu yang disebut dengan juju hyougen ini, digunakan untuk menyatakan adanya perpindahan barang atau jasa dari pembicara atau seseorang kepada orang lain, yang berhubungan erat dengan budaya masyarakat Jepang yang menganut konsep uchi – soto, yang sangat menjaga kehidupan sosialnya supaya tetap harmonis, sehingga dalam berbahasa pun mereka sangat menjaga supaya tidak menyakiti hati lawan bicara, dengan cara meninggikan lawan bicara, dan merendahkan diri sendiri. Selain itu, penggunaan verba yarimorai ini ada yang berkaitan dengan onkeisei ‘kebaikan’ untuk atau dari seseorang. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang baik supaya dapat memilih dengan tepat verba yarimorai yang digunakan sehingga aktivitas komunikasi pun dapat berjalan dengan lancar. Verba yarimorai ini dapat digunakan pula sebagai verba bantu yang melekat dengan verba lainnya sebagai hojo doushi, yang menambahkan makna kepada verba intinya, untuk menjelaskan pemberi dan penerima dalam kalimat tersebut.
Modalitas Epistemik sebagai Wujud Lingual Tuturan Berpagar Mahasiswa Multikultural di Surabaya Luluk Isani Kulup; Bambang Yulianto; Budinuryanta Yohanes
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4044

Abstract

The use of hedges in student speech varies greatly depending on the situation and conditions of use, both in casual situations and in formal situations, it is stated that the use of adequate hedges must take into account the context. The purpose of this study was to determine the epistemik modality as a form of lingual speech by multicultural students in Surabaya. Hedges are a group of words whose function is to communicate, the communication function of language cannot be used properly without context. One group of words in question is in the form of an epistemik modality. This study aims to describe the epistemik modality as a form of hedges in multicultural students. The approach used is qualitative. This approach is considered relevant because it emphasizes the natural role, uses descriptive data, and uses inductive means because it does not test hypotheses. The data in this study is the verbal speech of multicultural students. The data sources of this research are multicultural students from four universities in Surabaya. The data retrieval technique used is the listening, recording, engaging, proficient, and note-taking technique. Analysis of the data used is the technique of sorting, turning, and connecting. The results of this study indicate that the epistemik modalities used as a form of hedges by multicultural students are the modality of predictability, modality of possibility, and modality of necessity. AbstrakPenggunaan hedges dalam tuturan mahasiswa sangat bervariasi tergantung situasi dan kondisi penggunaannya, baik itu dalam situasi santai maupun dalam situasi resmi dinyatakan bahwa penggunaan hedges yang memadai harus mempertimbangkan konteks. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui modalitas epistemik sebagai wujud lingual tuturan berpagar mahasiswa multikultural di Surabaya. Hedges adalah sekelompok kata yang fungsinya untuk melakukan komunikasi, fungsi komunikasi bahasa tidak dapat digunakan dengan semestinya tanpa konteks. Sekelompok kata yang dimaksud salah satunya berupa modalitas epistemik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan modalitas epistemik sebagai wujud hedges pada mahasiswa multikultur. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Pendekatan ini dianggap relevan karena menonjolkan peran alami, menggunakan data deskriptif, dan menggunakan sarana induktif karena tidak menguji hipotesis. Data dalam penelitian adalah tuturan verbal mahasiswa multikultural. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa multikultural dari empat perguruan tinggi di Surabaya. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah teknik simak, rekam, libat, cakap, dan catat. Analisis data yang digunakan adalah teknik pilah, balik, dan hubung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modalitas epistemik digunakan sebagai wujud hedges oleh mahasiswa multikultural adalah modalitas keteramalan, modalitas kemungkinan, dan modalitas keharusan.
A Translation Analysis of Kahlil Gibran’s “The Broken Wings” to “Sayap-Sayap Patah” by Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq Tira Nur Fitria
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.4713

Abstract

This research analyzes the translation between two translators in translating Kahlil Gibran’s work entitled “The Broken Wings” into ‘Sayap-Sayap Patah”. This research is descriptive qualitative. The analysis shows that the two translators have different styles of translating. The first translator, Sapardi Djoko Damono, chose a more formal and direct style in his translation, while the second translator, M. Ruslan Shiddieq, tended to use a more expressive style and prioritized artistic impressions. Sapardi Djoko Damono maintained fidelity to the original text by translating it literally, while M. Ruslan Shiddieq carried out free interpretation and created more metaphorical and creative sentences. These differences in approach result in translations that have different nuances and expressions, reflecting the translator's style and preferences. Despite their differences, both translators, Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq, effectively convey the essence of Kahlil Gibran's "The Broken Wings" in Indonesian, albeit through distinct stylistic lenses. To be a proficient translator of literary works, one must possess a mastery of both the source and target languages, a deep understanding of literature, a keen sense of aesthetics, and a strong sense of literature. Literature with its emotional depth and linguistic beauty resonates deeply with readers Skilled translators like Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq bring forth its lyrical and profound qualities in their translations. Overall, the translation of literary works requires not only linguistic proficiency but also creative skill and cultural sensitivity. Each translator brings their unique style and approach, shaping the reader's experience of the translated work. As readers, we can appreciate and explore the diverse interpretations offered by different translations, enriching our understanding and enjoyment of literature in translation. AbstrakPenelitian ini menganalisis penerjemahan antara dua orang penerjemah dalam menerjemahkan karya Kahlil Gibran yang berjudul “The Broken Wings” ke dalam ‘Sayap-Sayap Patah’. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua penerjemah mempunyai gaya penerjemahan yang berbeda. Penerjemah pertama, Sapardi Djoko Damono, memilih gaya yang lebih formal dan langsung dalam penerjemahannya, sedangkan penerjemah kedua, M. Ruslan Shiddieq, cenderung menggunakan gaya yang lebih ekspresif dan mengutamakan kesan artistik. Sapardi Djoko Damono menjaga kesetiaan pada teks aslinya dengan menerjemahkannya secara harfiah, sedangkan M. Ruslan Shiddieq melakukan interpretasi bebas dan menciptakan kalimat yang lebih metaforis dan kreatif. Perbedaan pendekatan ini menghasilkan terjemahan yang mempunyai nuansa dan ekspresi berbeda yang mencerminkan gaya dan preferensi penerjemah. Meski berbeda, kedua penerjemah, Sapardi Djoko Damono dan M. Ruslan Shiddieq efektif menyampaikan esensi “Sayap Patah” karya Kahlil Gibran dalam bahasa Indonesia, meski melalui lensa stilistika yang berbeda. Untuk menjadi seorang penerjemah karya sastra yang mahir, seseorang harus memiliki penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran, pemahaman yang mendalam tentang sastra, rasa estetika yang tajam, dan rasa sastra yang kuat. Sastra dengan kedalaman emosional dan keindahan linguistiknya sangat disukai pembaca. Penerjemah terampil seperti Sapardi Djoko Damono dan M. Ruslan Shiddieq menonjolkan kualitas liris dan mendalam dalam terjemahannya. Secara keseluruhan, penerjemahan karya sastra tidak hanya memerlukan kemahiran linguistik tetapi juga keterampilan kreatif dan kepekaan budaya. Setiap penerjemah menghadirkan gaya dan pendekatan uniknya masing-masing, yang membentuk pengalaman pembaca terhadap karya terjemahan. Sebagai pembaca, kita dapat mengapresiasi dan mengeksplorasi beragam penafsiran yang ditawarkan oleh berbagai terjemahan sehingga memperkaya pemahaman dan kenikmatan kita terhadap karya sastra dalam terjemahan.
Ranah: Volume 7, Nomor 1, Juni 2018 Cover Depan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuturan Kebencian dalam Komentar Warganet Pada Akun Instagram @obrolanpolitik: Kajian Pragmatik Ida Nuraeni; Ni Luh Ria Harisanti; Haerani Maksum
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4198

Abstract

This article aims to describe the form of hate speech in netizen comments on the @obrolanpolitik Instagram account, and describe the function of hate speech in netizen comments on the @obrolanpolitik Instagram account. The approach used in this research is a qualitative approach and this type of research is descriptive qualitative. The data was obtained from the collection of utterances written by netizens in the IG account @obrolanpolitik. Data in the form of sentences containing hate speech were analyzed using pragmatic theory. The results show that hate speech can be grouped based on its form and function. Based on its form, hate speech is divided into 6, namely: (1) forms of humiliation, (2) forms of spreading false news, (3) forms of provocation, (4) forms of defamation, (5) forms of blasphemy, and (6) forms of incitement. Based on its function, hate speech is divided into 3, namely (1) the function of stating, (2) the function of commanding, and (3) the function of satirical. Hate speech forms are represented by lingual markers of words, phrases, and clauses. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tuturan kebencian dalam komentar warganet pada akun Instagram @obrolanpolitik, dan mendeskripsikan fungsi tuturan kebencian dalam komentar warganet pada akun Instagram @obrolanpolitik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari pengumpulan tuturan yang ditulis oleh warganet dalam akun IG @obrolanpolitik. Data berupa tuturan yang mengandung tuturan kebencian dianalisis menggunakan teori pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan kebencian dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk dan fungsinya. Berdasarkan bentuknya, tuturan kebencian terbagi menjadi 6, yaitu: (1) bentuk penghinaan, (2) bentuk penyebaran berita bohong, (3) bentuk provokasi, (4) bentuk pencemaran nama baik, (5) bentuk penistaan, dan (6) bentuk penghasutan. Berdasarkan fungsinya, tuturan kebencian terbagi menjadi 3, yaitu (1) fungsi menyatakan, (2) fungsi memerintah, dan (3) fungsi menyindir. Bentuk-bentuk tuturan kebencian direpresentasikan oleh penanda lingual kata, frasa, dan klausa. 
Penanda Gramatikal Sufiks Serapan Asing -at dalam Proses Pembentukan Kata Bahasa Indonesia Heru Pratikno; Bachrudin Musthafa; Diden Rosenda; Atsani Wulansari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.7328

Abstract

This study was conducted in order to prove the testing of foreign loanwords -at that entered the Indonesian language. These foreign loanwords will be distinguished which ones are included as suffixes or become final forms that are attached and cannot be separated from the root word. In addition, this study also aims to reveal the grammatical meaning and function of forming the categorization of the loanwords -at that are absorbed. The data for this study were obtained based on the online KBBI in the form of words with the final form -at. The list of research data in question includes some that are in the form of suffixes and non-suffixes. Then, the research object from the data will be traced based on its final form, namely -at. So, the data collection method in this study uses the observe and note technique. After that, the data and research objects will be analyzed using a qualitative descriptive method. The results of this study indicate that words ending in -at in Indonesian are absorbed from foreign languages. Some of these endings are in the form of suffixes and some are part of the word itself so that they cannot be separated from the word, but still have a connection with similar forms. Due to the small amount of data with the suffix -at found in the dictionary, the foreign loan suffix -at is included in the unproductive suffixes. The finding is that not all basic words can be attached to the suffixes of these words, but the suffix -at can only be attached to certain words. Abstrak Penelitian ini dilakukan dalam rangka membuktikan pengujian terhadap serapan asing -at yang masuk ke dalam bahasa Indonesia. Serapan asing tersebut akan dibedakan mana saja yang termasuk sebagai sufiks atau menjadi bentuk akhir yang melekat dan tidak dapat dipisahkan dari kata dasarnya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap makna grmatikal dan fungsi pembentuk kategorisasi dari serapan -at yang diserap. Data penelitian ini diperoleh berdasarkan KBBI online yang berupa kata dengan bentuk akhir -at. Daftar data penelitian yang dimaksud itu di antaranya ada yang berupa sufiks dan bukan sufiks. Kemudian, objek penelitian dari data tersebut akan ditelusuri berdasarkan bentuk akhirnya, yakni -at. Jadi, metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat. Setelah itu, data dan objek penelitian tersebut akan dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kata-kata yang berakhiran -at dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa asing. Akhiran tersebut ada yang berupa sufiks dan ada juga yang sebagai bagian dari kata itu sendiri sehingga tidak dapat dipisahkan dari kata tersebut, tetapi masih memiliki kaitan dengan bentuk yang miripnya. Karena sedikitnya data bersufiks -at yang ditemukan dalam kamus, sufiks serapan asing -at termasuk ke dalam sufiks yang tidak produktif. Temuannya adalah tidak semua kata dasar bisa menempel pada sufiks kata-kata tersebut, tetapi sufiks -at hanya bisa melekat pada kata-kata tertentu.