cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PERBEDAAN PENGLIHATAN STEREOSKOPIS PADA PENDERITA ANISOMETROPIA RINGAN-SEDANG DAN BERAT Izzah Basyir S.; Paramastri Arintawati; Fanti Saktini
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.674 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14484

Abstract

Latar Belakangm : Anisometropia adalah salah satu kelainan refraksi terbanyak di dunia. Anisometropia dibagi menjadi 3 derajat yaitu ringan,sedang dan berat. Semakin berat derajat anisometropia semakin tinggi kemungkinan gangguan penglihatan yang mungkin terjadi. Salah satu gangguan tersebut adalah gangguan penglihatan stereoskopis.Tujuan : Menganalisis apakah terdapat perbedaan penglihatan stereoskopis pada penderita anisometropia ringan-sedang dan berat.Metode : Penelitian cross sectional dengan 2 kelompok penelitian yaitu penderita anisometropia ringan-sedang dan berat ini dilakukan di RSUP dr.Kariadi Semarang pada bulan Maret hingga Mei 2016 terhadap 28 subjek penelitian yang menderita anisometropia dengan berbagai derajat. Setelah dilakukan tes visus untuk mengklasifikasikan derajat anisometropia subjek selanjutnya dilakukan tes penglihatan stereoskopik dengan TNO stereotest.Hasil : Subjek penelitian yang menderita anisometropia ringan-sedang memiliki perbedaan rerata penglihatan stereoskopik yang lebih baik (81,43±58,159 detik busur) dibandingkan dengan kelompok yang menderita anisometropia berat (300±40,7 detik busur) dengan nilai p=0,000.Kesimpulan : Terdapat perbedaan penglihatan stereoskopik yang signifikan antara penderita anisometropia ringan-sedang dan berat.
HUBUNGAN ANTARA LAMA HIPERTENSI DAN GAMBARAN ELEKTROKARDIOGRAM HIPERTROFI VENTRIKEL KIRI DAN INFARK MIOKARD LAMA Almira Khansa; Dwi Lestari Partiningrum
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.323 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21198

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah salah satu masalah kesehatan utama di masyaratakat. Hipertensi juga merupakan faktro risiko pernyakit kardiovaskular dan  bertanggung jawab atas separuh dari mortalitas penyakit kardiovaskular. Hipertensi yang berlangsung kronis secara klasik dikaitkan dengan hipertrofi ventrikel kiri tipe konsentris. Peningkatan ketebalan dinding ventrikel kiri (VK) memungkinkan terjadinya normalisasi tekanan dinding VK terhadap peningkatan tekanan darah. Sementara itu, hipertensi berperan penting terhadap kejadian infark miokard. Hipertensi sistolik dan diastolik meningkatkan risiko infark miokard dan semakin tinggi tekanan, semakin besar risikonya. Data tentang hubungan antara durasi hipertensi dan prevalensi penyakit jantung hipertensi masih belum diketahui secara luas.Tujuan: Menganalisis hubungan antara lama hipertensi dan elektrokardiogram (EKG) HVKi dan infark miokard lama.Metode: penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan crossectional. 44 pasien hipertensi yang berobat di RSUP Dr.Kariadi dipilih secara consecutive sampling, kemudian dilakukan pemeriksaan EKG, catatan medis, dan anamnesis. Data yang dikumpulkan adalah lama hipertensi, hasil EKG, jenis kelamin, riwayat merokok, diabetes mellitus (DM), hiperurisemia, obesitas (Index massa tubuh/IMT), dislipidemia (profil lipid), dan hiperurisemia (serum asam urat). Diagnosis EKG HVKi menggunakan kriteria Cornell. Diagnosis EKG infark miokard lama menggunakan gambaran Q patologisHasil: dari 44 subyek penelitian diperoleh enam belas pasien (36,4%) memiliki gambaran EKG infark miokard lama dan tujuh (15,9%) pasien positif gambaran EKG HVKi. 21 (47,7%) subyek lainnya negatif gambaran EKG HVKi dan infark miokard lama. Uji Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat hubungan antara lama hipertensi dan gambaran EKG infark miokard lama (p=0,633). Uji Mann Whitney juga menunjukkan lama hipertensi tidak berhubungan dengan gambaran EKG HVKi (p = 0,584)Kesimpulan: dalam penelitian ini belum terbukti bahwa lama hipertensi mempengaruhi kejadian gambaran EKG infark miokard lama dan HVKi.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN TINGKAT SUGESTIBILITAS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN TAHUN PERTAMA Sandjaja, Alicia; Sarjana AS, Widodo; Jusup, Innawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.344 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18538

Abstract

Latar Belakang: Sugestibilitas adalah kemampuan seseorang untuk menerima atau mendapatkan sugesti. Tingkat sugestibilitas seseorang berhubungan dengan intensitas emosi. Kecemasan termasuk dalam gangguan emosi. Semakin tinggi intensitas kecemasan maka semakin tinggi tingkat sugestibilitasnya. Tingkat sugestibilitas yang tinggi dapat berguna untuk hipnoterapi kecemasan itu sendiri. Tingkat sugestibilitas diukur menggunakan Barber Suggestibility Scale (BSS). Tingkat kecemasan diukur menggunakan Zung Self-rating Anxiety Scale (ZSAS).Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat sugestibilitas pada mahasiswa kedokteran tahun pertama.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan teknik cross-sectional. Subjek dari penelitian diambil dari mahasiswa kedokteran Universitas Diponegoro angkatan 2015 (tahun pertama) berjumlah 132 mahasiswa. Setelah itu diuji menggunakan uji korelasi Somers’d.Hasil: Sebanyak 90 subjek (68, 18%) adalah perempuan dan 42 subjek (31,82%) adalah laki-laki. 2 subjek (1,52%) mengalami kecemasan ringan sedang dan 130 subjek (98,48%) normal atau tidak mengalami kecemasan. Sebesar 73 subjek (55,30%) masuk dalam kelompok tingkat sugestibilitas rendah, 53 subjek (40,15%) dengan tingkat sugestibilitas sedang, dan 6 subjek (4,55%) dengan tingkat sugestibilitas tinggi. Analisis hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat sugestibilitas pada mahasiswa kedokteran tahun pertama didapatkan nilai p=0,63 (p>0.05).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat sugestibilitas pada mahasiswa kedokteran tahun pertama.
HUBUNGAN PERKEMBANGAN KEMAMPUAN KOGNITIF ADAPTIF DENGAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) NONFORMAL Nizar Arif Lazuardi; Farid Agung Rahmadi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.228 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15560

Abstract

Latar Belakang : Kognitif adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, jadi merupakan tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan. Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan dan stimulasi pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.Tujuan : Mengetahui hubungan kemampuan kognitif adaptif pada anak yang memperoleh stimulus program pendidikan anak usia dini nonformal dan informal.Metode : Penelitian ini menggunakan metode belah lintang. Subjek penelitian adalah anak usia 2-3 tahun yang mendapatkan stimulasi di PAUD nonformal dan informal. Nilai kemampuan kognitif adaptif (CAT DQ) subjek penelitian diukur menggunakan kuesioner Capute Scales.Hasil : Didapatkan rerata CAT DQ pada pada subjek PAUD nonformal lebih tinggi daripada subjek PAUD informal. Pada subjek PAUD nonformal memiliki rerata nilai sebesar 101,1995±10,20396 sedangkan pada subjek PAUD informal memiliki rerata nilai sebesar 88,7207±9,01492 dengan hasil statistic terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,001) antara CAT DQ dengan status PAUD. Sedangkan pada uji statistik hubungan antara dua variabel tersebut terdapat hubungan yang bermakna dengan kekuatan koefisien korelasi sedang (r=0,584). Kesimpulan : Pada sampel anak yang mendapat stimulasi pendidikan di PAUD nonformal memiliki rerata nilai kemampuan kognitif adaptif yng lebih tinggi dibandingan rerata nilai kemampuan kognitif adaptif pada anak yang mendapat stimulasi pendidikan di PAUD informal.
KESESUAIAN TERMOMETER INFRAMERAH DENGAN TERMOMETER AIR RAKSA TERHADAP PENGUKURAN SUHU AKSILA PADA USIA DEWASA MUDA (18-22 TAHUN) Muhamad Wartono; Buwono Puruhito; Ari Adrianto
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.785 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21471

Abstract

Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, pengukuran suhu tubuh yang telah ada saat ini dalam pengaplikasiannya membutuhkan waktu yang relatif cepat dan nyaman. Pengaplikasian tersebut tidak lepas dari perkembangan teknologi saat ini sehingga muncul jenis termometer baru, yaitu termometer inframerah. Namun, dalam penggunaannya perlu adanya kesesuaian dengan termometer pendahulunya, yaitu termometer raksa. Berdasarkan penelitian sebelumnya, termometer inframerah telah dilakukan uji kesesuaian dengan termometer digital dan hasilnya masih menunjukkan batas kesalahan cukup besar. Oleh karena itu, termometer inframerah perlu dilakukan uji kesesuaian dengan termometer raksa.Tujuan Mengetahui kesesuaian tipe termometer inframerah dan termometer raksa terhadap pengukuran suhu aksila pada usia dewasa muda (18-22 tahun).Metode Penelitian cross sectional dilaksanakan di gedung B lantai 1 ruang BBDM di bulan Juni 2017 dengan sampel penelitian sebanyak 32 mahasiswa (n=32). Pengukuran suhu dilakukan sebanyak 3 kali untuk tiap termometer inframerah dan termometer raksa pada tiap sampel. Uji korelasi yang digunakan adalah uji Interclass Correlation Coefficient (ICC) for Absolute Agreementyang dianggap sangat baik apabila nilai ICC ≥ 0,8.Hasil Pada penelitian didapatkan nilai rerata suhu tubuh dengan menggunakan termometer inframerah dan termometer raksa sebesar 37,09 ± 0,470C dan 36,34 ± 0,410C. Hasil analisis menunjukkan rata‐rata kesepakatan antar rater sebesar 0,400 (40%) sedangkan untuk satu orang rater konsistensinya adalah 0,250 (25%) yang menunjukkan konsistensi kesesuaian antara kedua alat “kurang dari sedang” sesuai dengan interpretasi nilai ICC.Kesimpulan Terdapat ketidaksesuaian termometer raksa dengan termometer inframerah terhadap pengukuran suhu aksila pada usia dewasa muda (18-22 tahun).
PENGARUH PEMBERIAN MUSIK TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH DAN DENYUT NADI SEBELUM DAN SESUDAH ODONTEKTOMI PADA PASIEN GIGI IMPAKSI Dewi Sartika; Gunawan Wibisono; Natalia Dewi Wardani
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.915 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18561

Abstract

Latar Belakang:Gigi impaksi merupakan gigi yang gagal erupsi secara utuh pada posisi yang seharusnya. Odontektomi merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat gigi impaksi. Tindakan pembedahan dapat menimbulkan kelainan psikologis pada pasien seperti timbul kecemasan yang dapat memicu perubahan emosional sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut nadi. Musik merupakan salah satu metode non-farmakologis untuk memicu relaksasi yang aman dan murah. Mendengarkan musik dapat mengurangi kecemasan dan stres sehingga tubuh mengalami relaksasi yang mengakibatkan penurunan tekanan darah dan denyut nadi.Tujuan:Mengetahui pengaruh pemberian musik terhadap perubahan tekanan darah dan denyut nadi sebelum dan sesudah odontektomi.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan time series design. Subjek berjumlah 26 orang merupakan pasien odontektomi berusia 18–50 tahun di Rumah Sakit Nasional Diponegoro dan klinik gigi jejaring lainnya. Subjek diberi informed consent, mengisi identitas dan diberi terapi musik selama tindakan odontektomi berlangsung. Pemeriksaan tekanan darah dan denyut nadi dilakukan sebelum dan sesudah tindakan odontektomi. Analisis statistik menggunakan uji Shapiro-Wilk.Hasil:Terdapat penurunan tekanan darah dan denyut nadi pada pasien odontektomi yang diberi terapi musik instrumental. Uji beda t tidak berpasangan dan uji Wilcoxon menunjukan adanya perbedaan bermakna ( p<0,01 ).Kesimpulan:Pemberian musik instrumental berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan tekanan darah dan denyut nadi pada pasien odontektomi.
PENGARUH MADU KALIANDRA TERHADAP PENURUNAN SKOR GEJALA KLINIS PENDERITA RINITIS ALERGI PERSISTEN SEDANG BERAT PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO Adli Chairul Umam; Dwi Marliyawati; Kanti Yunika; Zulfikar Naftali
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.581 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25349

Abstract

Latar Belakang : Rinitis alergi merupakan kelainan akibat paparan alergen yang menyebabkan inflamasi mukosa hidung. Obat antihistamin biasanya digunakan sebagai penatalaksanaan awal pada rinitis alergi. Madu dipercaya memiliki bahan yang mengandung antialergi, antioksidan dan antiinflamasi. Pemberian antihistamin dan madu diharapkan dapat menurunkan skor gejala klinis rinitis alergi dibandingkan hanya dengan pemberian antihistamin. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian madu kaliandra terhadap penurunan skor gejala klinis pada penderita rinitis alergi persisten sedang berat. Metode : Penelitian ini merupakan true experimental dengan desain randomized control trial pretest-posttest design. Terdapat 40 sampel penelitian yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan yang diberi madu kaliandra 50 mg dan cetirizine 10 mg dan kelompok kontrol yang hanya diberi cetirizine 10 mg. Penilaian skor gejala klinis rinitis alergi dilakukan sebelum dan 2 minggu setelah diberi perlakuan, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok. Hasil : Pemberian madu kaliandra 50 mg dan cetirizine 10 mg per hari selama 2 minggu menurunkan skor gejala klinis rinitis alergi pada kelompok perlakuan (p=0,000) dan kelompok kontrol (p=0,000). Perbandingan skor gejala klinis rinitis alergi antara kedua kelompok menunjukkan adanya perbedaan bermakna (kelompok perlakuan p=0,000 dan kontrol p=0,003). Kesimpulan : Pemberian madu kaliandra dapat menurunkan skor gejala klinis pada penderita rinitis alergi persisten sedang berat.Kata Kunci : Rinitis alergi, skor gejala klinis, madu kaliandra, cetirizine.
HUBUNGAN TINGKAT STRES SESEORANG DENGAN PERUBAHAN INTENSITAS NYERI PUNGGUNG BAWAH (NPB) DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG Amalia Arumsari; Trianggoro Budi Sulistyo; YL. Aryoko Widodo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.974 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14220

Abstract

Latar Belakang : Nyeri Punggung Bawah adalah nyeri pada daerah punggung bawah yang dapat berkaitan dengan masalah tulang belakang dan organ atau jaringan disekitarnya. Data NPB di RSUP Dr. Kariadi Semarang meningkat dari tahun 2014-2015 (449 pasien-683 pasien). Faktor risiko terjadinya NPB salah satunya adalah faktor psikologi yaitu stres yang akan menyebabkan ketegangan otot yang berakibat terjadinya NPB.Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat stres dengan perubahan intensitas pasien NPB di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan rancangan retrospektif kohort. Sampel didapatkan dari data rekam medis di Poli Saraf RSUP Dr. Kariadi yang diperoleh dengan cara consecutive sampling dan didapatkan 43 penderita NPB. Pengumpulan data menggunakan dua skala: skala The Ardell Wellness Stress Test dan skala VAS. Analisis data menggunakan uji chi square dan uji Regresi Logistik.Hasil : Teradapat hubungan yang signifikan antara stres dengan perubahan intensitas NPB dengan nilai p sebesar 0,004. Tidak didapatkan hubungan antara umur, jenis kelamin, pekerjaan, lama kerja, lama sakit, pendidikan, riwayat penyakit, dan lama istirahat dengan intensitas NPB dengan nilai p masing - masing sebesar 0,604; 0,059; 0,231; 0,202; 0,451; 0,618; 0,308; dan 1,000.Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan intensitas NPB.
PERBANDINGAN PARAMETER FUNGSI PARU ATLET PUTRA CABANG OLAHRAGA INDIVIDU DAN BEREGU DI PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PELAJAR JAWA TENGAH (STUDI PADA CABANG OLAHRAGA TINJU DAN SEPAK TAKRAW) Muhammad Syamil Imtiyazi; Endang Kumaidah; Yosef Purwoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.929 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20666

Abstract

Latar Belakang : Latihan intensif dan terencana diprogramkan untuk meningkatkan kondisi fisik dan fisiologis seorang atlet. Kondisi fisik seorang atlet dapat dilihat dari nilai parameter fungsi paru. Untuk meningkatkan nilai parameter fungsi paru dibutuhkan pemilihan metode latihan yang tepat. Pemilihan metode latihan juga bergantung pada pre-dominant energy system suatu cabang olahraga. Cabang olahraga yang memiliki durasi pertandingan yang pendek (individu) lebih dominan menggunakan sistem energi anaerob, sementara cabang olahraga yang memiliki durasi pertandingan yang panjang (beregu) akan lebih dominan menggunakan sistem energi aerob. Dominansi penggunaan sistem energi sangat berpengaruh terhadap nilai parameter fungsi paru.Tujuan : Mengetahui perbandingan parameter fungsi paru atlet putra cabang olahraga Sepak Takraw dengan Tinju di PPLP Jawa Tengah.Metode : Observasional Analitik-deskriptif dengan desain cross-sectional. Besar subjek penelitian masing-masing 11 atlet putra cabang olahraga Sepak Takraw dan Tinju (N=22) dengan rentang usia 15-19 tahun. Data karakteristik subjek penelitian yang diukur berupa usia, tinggi badan, berat badan, dan lingkar dada. Nilai parameter fungsi paru yang diukur berupa VC, FVC, FEV1, dan PEF menggunakan spirometer terkomputerisasi (Spirometer Spirolab II). Uji statistik menggunakan Unpaired T Test. Hasil analisis akan disajikan berupa nilai rata-rata dan standar deviasi.Hasil : Rerata nilai VC atlet putra cabang olahraga Tinju 3,79 ± 0,31 L dan Sepak Takraw 3,18 ± 0,39 L. Rerata nilai FVC atlet putra cabang olahraga Tinju 3,62 ± 0,33 L dan Sepak Takraw 3,04 ± 0,44 L. Rerata nilai FEV1 atlet putra cabang olahraga Tinju 3,37 ± 0,24 L dan Sepak Takraw 3,01 ± 0,42 L. Rerata nilai PEF atlet putra cabang olahraga Tinju 7,58 ± 1,39 L dan Sepak Takraw 7,02 ± 1,27 L.Kesimpulan : Rerata nilai parameter fungsi paru atlet putra cabang olahraga Tinju lebih besar daripada atlet putra cabang olahraga Sepak Takraw di PPLP Jawa Tengah.
HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS PENYAKIT DENGAN KECENDERUNGAN KEJADIAN DEPRESI PADA PASIEN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (STUDI KASUS DI RSUP DR. KARIADI, SEMARANG) Risky Maulidah Hasanah; Setyo Gundhi Pramudo; Rakhma Yanti Hellmi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.979 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15914

Abstract

Latar Belakang : Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun yang kompleks ditandai oleh adanya autoantibodi terhadap inti sel dan melibatkan banyak sistem organ dalam tubuh. Manifestasi klinik dari LES bergantung organ yang terlibat, dapat melibatkan banyak organ dalam tubuh manusia dengan perjalanan klinis yang kompleks, sangat bervariasi, dan dapat ditandai oleh serangan akut, periode aktif, terkendali ataupun remisi. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan prevalensi depresi pada pasien LES adalah antara lain 11,5% - 47% dan menunjukkan kecenderungan depresi meningkat seiring dengan meningkatnya keparahan penyakit LES.Tujuan : Mengetahui gambaran mengenai kecenderungan kejadian depresi serta hubungannya dengan aktivitas penyakit LES di RSUP. dr. Kariadi, Semarang.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan jenis studi kasus belah lintang. Sampel penelitian adalah pasien LES yang berobat jalan di Rumah Sakit Dokter Kariadi periode Mei 2016. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Uji statistik menggunakan uji korelasi SpearmanHasil : Hubungan antara aktivitas penyakit LES dengan kecenderungan kejadian depresi adalah positif dengan kekuatan korelasi sangat lemah. Selain itu ditemukannya lima komponen paling berpengaruh terhadap kecenderungan kejadian depresi pada pasien LES yang berobat jalan di RSUP dr. Kariadi, SemarangSimpulan : Sebagian besar pasien LES (67%) memiliki tingkat aktivitas penyakit sedang, pasien LES yang mengalami depresi dalam jumlah kecil (23,3%) serta terdapat hubungan positif antara tingkat aktivitas penyakit dengan kecenderungan kejadian depresi dengan kekuatan korelasi yang sangat lemah dan tidak bermakna.

Page 40 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue